My Sweet Maid

Disclaimer: Bandai

Rate: Teen

Genre: Romance/Drama

Pairing: TsubasaXAkari

WARNING: AU!, Typo, EYD tidak sesuai, dan kesalahan lainnya

Don't Like Don't Read

Hope You Like

Akari menidurkan Tsubasa diatas ranjang pribadinya. Akari merasa iba. Tanpa diminta, Akari berjalan menuju lemari pakaian Tsubasa dan membongkarnya. Akari mengeluarkan baju lengan panjang biru tua polos dan celana panjang dari dalam lemari. Akari menyodorkan pakaian tersebut pada Tsubasa.

"Ganti pakaianmu."
Tsubasa menggeleng lemah, "Tidak usah,"
"Nanti bisa masuk angin" Akari terus memaksa Tsubasa.
"Hn, dengan satu syarat"
Akari meminringkan kepalanya, Bingung.
"Aku mau kau yang menggantikan bajunya untukku"
1 detik

.

2 detik

.

3 detik

.

"APA?" teriak Akari keras. Tsubasa menutup kedua telingan dengan tangan. Akari menunduk. Wajahnya memerah.
"Ba-baiklah" Akari dengan cekatan melepas kancing pakaian Tsubasa.

(Akari POV)

Dengan perlahan aku melepas kancing baju pakaian Tsubasa lalu menggantinya dengan baju yang baru.
"Dengan celananya sekalian" ucap Tsubasa sambil menyeringai jahil
"A-apa?" ucapku terbata-bata dengan wajah memerah. Aku mulai membayngkan hal yang aneh-aneh.
"Aku hanya bercanda. Aku bisa menggantinya sendiri" balas Tsubasa.
"Aku akan membuatkanmu makanan," pamitku sambil membungkuk lalu keluar dari kamar. Aku menggeram dalam hati. Kesal.
'Bahkan dalam keadaan sakit dia sempat-sempatnya mengerjaiku. 'Sial'

xoxoxo

(Normal POV)

Akari berjalan menuju dapur. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa bahan makanan di dalam lemari pendingin.
'Hm… dari bahan-bahan yang tersisa mungkin aku bisa membuat bubur' pikir Akari dalam hati. Akari langsung mengambil bahan-bahan yang diperlukan dan mulai memasak.

Tsubasa masih tetap berbaring. Belum merasa terpikirkan untuk mengganti celananya yang basah. Ia mengandahkan kepalanya ke langit-langit kamarnya.
'Apa-apaan wajah memerahnya itu' Tsubasa menjambak rambutnya frustasi. Tsubasa berdiri, meraih sebuah celana di sampingnya dan menggantinya.

"Selesai…" seru Akari ketika selesai menuangkan bubur ayam buatannya di mangkuk.
"Hm, Dimana dia meletakkan kotak obat ya?" tanya Akari pada dirinya sendiri sambil mengelilingi dapur. Tak sengaja, matanya menangkap sebuah kotak obat yang terletak tidak jauh dari tempat Akari berdiri.
Akari langsung menyambar kotak obat tersebut lalu mengeluarkan sebotol obat penurun panas. Tak lupa termometer. Akari juga sudah menyiapkan sebaskom air dingin dan sapu tangan untuk mengompres Tsubasa. Akari membawa nampa ke kamar Tsubasa.

"Sumimasen," salam Akari ketika memasuki kamar Tsubasa. Dapat ia lihat, Tsubasa masih terbaring lemah di ranjangnya. Akari berjalan mendekat lalu duduk di pinggiran ranjang.
"Ini, cobalah untuk mengukur suhu tubuhmu" Akari menyodorkan sebuah termometer pada Tsubasa. Tsubasa menurut, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Akari menunggu sambil mengayunkan kakinya.

Tsubasa menepuk bahu Akari. Akari terkejut lalu menoleh. Tsubasa menyodorkan termometer pada Akari. Akari menerimanya dnegan senang hati.
'38 derajat?' kaget Akari dalam hati. Akari langsung meletakkan termometer di samping mangkuk bubur. Akari membasuh sapu tangan dengan air lalu menempelkannya di dahi Tsubasa. Tsubasa tersenyum tipis. Tipis sekali. Bahkan Akari sendiri tidak dapat melihatnya.
"Tsubasa-sama, Ayo makan. Aku sudah membuatkan bubur ayam untukmu"
"Aku tidak lapar," Tsubasa menoleh kepalanya mengarah ke jendela.
"Kruyuk~ Kruyuk~" terdengar suara aneh. Wajah Tsubasa memerah menaham malu. Akari tersenyum tipis.
"Dimakan ya, Aku suapi" Akari membantu duduk di ranjang sambil bersandar di bantal. Tsubasa masih terus menatap arah lain. Akari mengambil mangkuk berisikan bubur lalu menyendok satu suapan.
"Ini, Buka mulutnya" Akari sudah siap untuk menyuapi Tsubasa.

Dalam pikiran Tsubasa, Ia menerima suapan Akari. Ia sangat menginginkan itu. Tapi… hatinya berkata lain. Hatinya bersikeras untuk tetap mempertahankan ego-nya. Tsubasa menggeleng pelan, Ia memutuskan untuk… menerima suapan Akari.
Tsubasa membuka mulutnya lebar, membiarkan sendok berisi bubur itu memasuki kerongkongannya.

"Aku sudah kenyang" ucap Tsubasa sambil menoleh kearah lain.
"Tapi ini masih banyak"
"Aku sudah kenyang" ulang Tsubasa.
"Baiklah," Akari meletakkan mangkuk berisi bubur yang tinggal setengah.
Akari mengambil sapu tangan di dahi Tsubasa lalu menggantinya karena airnya sudah menghilang(?)
"Ini, di minum dulu obatnya" Akari menyodorkan satu tablet obat penurun panas. Tsubasa menerimanya lalu langsung memakannya. Tsubasa meneguk air putih hingga tinggal setengah gelas. Tsubasa mengembalikan gelas berisi air tersebut pada Akari. Akari meletakkan mangkuk bubur, obat, gelas dan termometer di nampan.
"Jika ada yang dibutuhkan, panggil saja. Tsubasa-sama" pamit Akari lalu kembali Tsubasa. Tsubasa hanya mengangguk pelan.

Akari berjalan menuju dapur sambil menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Akari mencoba untuk tidak menghiraukan bunyi berisik yang sejak tadi berasal dari jantungnya.

xoxoxo

Tsubasa memutuskan untuk tidur. Perlahan ia menutup kedua matanya. Ia bermimpi.

(Mimpi mode: ON)

"Tou-san, kita mau kemana?" tanya Tsubasa kecil kepada ayahnya yang sedang menyetir mobil
"Kita akan pergi ke tempat yang pasti kau akan suka" jawab sang ayah sambil menoleh kearah Tsubasa.
"Tou-san, AWAS" seru Tsubasa keras sambil menunjuk keluar jendela depan. Tou-san Tsubasa lansung kembali melihat jalan. Sebuah truck dengan kecepatan tinggi menerjang mobil yang ditumpangi Tsubasa dan keluarga kecilnya.
Tsubasa selamat. Namun, keduanya orang tuanya tidak terselamatkan oleh bencana maut tersebut.

(Mimpi mode: OFF)

Keringat bercucuran deras dari dahi Tsubasa. Tsubasa terlihat mengerang-erang memanggil kedua orang tuanya.
"Tou-san, Kaa-san" erang Tsubasa berkali-kali. Nafas Tsubasa kian memburu. Ia menggenggam erat sprei biru tempatnya tidur.

Akari merasa ada yang janggal. Entah itu apa. Setelah menuci piring, Akari memutuskan untuk memeriksa keadaan Tsubasa. Akari sedikit terkejut melihat pemuda itu kini tertidur dengan tidka nyaman. Akari langsung menghampiri Tsubasa.
"Tsubasa-sama… k-kau mimipi buruk?" tanya Akari pelan. Akari membelai rambut Tsubasa pelan. Namun, raut wajah Tsubasa masih terlihat gelisah. Setelah dianggap cukup tenang, Akari memutuskan kembali melanjutkan pekerjaan rumah.
GREB.
"Eh?"
Belum sempat Akari melangkahkan kakinya, tangannya telah ditarik oleh Tsubasa sehingga Akari terjatuh menimpa Tsubasa.
"Jangan… pergi…" lirih Tsubasa
Akari mendongak, Melihatkan Tsubasa yang menatapnya dalam.
"Temani… aku," lanjut Tsubasa lirih.
"Baiklah," Akari menuruti permintaan Tsubasa. Akari kini duduk di kursi yang berada di samping ranjang Tsubasa. Akari menggenggam tangan Tsubasa erat dan sekali-sekali membelai poni Tsubasa pelan. Setelah beberapa saat, Tsubasa kembali tertidur dengan lebih tenang. Wajahnya tak lagi terlihat tegang dan gelisah.
"Oyasuminasai, Tsubasa-sama" Akari tertidur disamping Tsubasa. Wajahnya terlelap sambil tersenyum tipis.

xoxoxo

"Urgh," perlahan Akari membuka matanya. Ia sedikit heran. Dimana ia sekarang? Bukannya kemarin ia tertidur di kamar Tsubasa? Akari mulai menjelajahi ruangan tersebut dengan kaki jenjangnya. Tak sengaja, matannya mengangkap sebuah koper pink tua tempat ia meletakkan barang-barang pribadinya. Akari yakin ia berada di kamar tempat ia menginap di rumah Tsubasa. Tapi… siapa yang memindahkan dia kemari?

"Oozora… kau tidak sekolah?" tanya seseorang yang diyakini Akari sebagai Tsubasa dari luar kamar. Akari mengandahkan kepalanya melihat jam dinding. Matanya membulat sempurna. Jarum jam menunjukkan pukul 06.30. Ia hampir terlambat.
"Eh i-iya" balas Akari lalu menyambar handuk dan keluar kamar. Akari kembali harus menemukan kamar mandi yang sampai hari ini tidak ia ketahui ada dimana.

Akari memutuskan untuk meminjam kamar mandi di kamar Tsubasa. Akari mengetuk pintu kamar Tsubasa pelan.
"Masuk,"
Akari membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar. Dapat ia lihat, Tsubasa tengah menyiapkan buku pelajaran. Akari berjalan mendekati Tsubasa smabil menunduk.
"Ehm… ano boleh aku meminjam kamar mandi kamarmu?" tanya Akari sambil memerah. Malu.
"Ya, boleh saja. Memang hanya ada satu kamar mandi di rumah ini. Dan itu terletak di kamarku. Tidak ada pilihan lain" jelas Tsubasa. Akari terkejut mengetahui fakta tentang kamar mandi di rumah semegah ini hanya ada satu kamar mandi dan itu hanya ada di kamar Tsubasa. Damn.

"Aku akan menunggumu di bawah" ucap Tsubasa sambil menyandang tas ranselnya.
"I-iya"
Tsubasa melenggang pergi, meninggalkan Akari sendirian di kamar ini. Akari masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam, Akari langsung melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia memutar kran shower dan mulai menjalankan ritual mandinya.

Setelah berpakaian dan menyisir rambut, Akari keluar dari kamar Tsubasa menuju dapur. Mungkin Tsubasa sudah menunggu untuk dibuatkan sarapan oleh Akari. Sesampainya di dapur, dugaan Akari salah. Tsubasa telah menikmati roti panggang dengan selai coklat di meja makan. Akari mengerjap matanya dua kali.
"Cepat habiskan sarapanmu. Nanti telat" peringat Tsubasa sambil menggigit roti panggangnya.
"I-iya," Akari langsung meyambar selembar roti dan mengolesinya dengan selai Strawberry.

"Ayo cepat! Kita hampir terlambat" seru Tsubasa yang sudah siap. Akari berlari menyusul.
"Nih, kuberi uang untuk naik kereta." ucap Tsubasa sambil menyodorkan sejumlah uang.
"Tsubasa-sama tidka mau mengantarku?" tanya Akari polos.
"Tidak. Nanti bisa terjadi skandal antara kau dan aku" jawab Tsubasa lalu berjalan menuju mobil miliknya.
Akari juga bergegas menuju stasiun agar tidak ketinggalan kereta terakhir menuju kawasan sekolahnya.

Stasiun. Di dalam kereta. Akari berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Ia memegang kedua lututnya. Ia lelah berlari agar tidak tertinggal kereta.
"Ini," seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan pada Akari. Akari mendongak.
"A-arigatou," ucap Akari sambil menerima sapu tangan dari cowo itu. Akari mengelap keringatnya.
"Ini," ketika akan mengembalikkan sapu tangannya, Cowo itu sudah turun di pemberhentian. Cowo itu melambaikan tangannya padanya sambil tersenyum. Akari dapat merasakan wajahnya sedikit memerah.

To Be Continue

A/N: Maaf lama update chapter dua ini, banyak masalah yang terjadi di dunia nyata. Maaf jika kurang memuaskan. Oh iya sebelumnya aku juga mau minta maaf tentang pengubahan nama Sena di cerita ini. Aku malah seenaknya mengganti nama kecil Sena yang seharusnya Sena menjadi Tsubasa. Ha-abis aku lebih suka nama kecilnya Tsubasa daripada Sena, lebih imut gitu(?) jika tidak suka dengan pengubahan yang aku lakukan silahkan tekan tombol "back" Oh iya, para senpai sekalian dan para pembaca jangan sungkan untuk memberi saran/kritik, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Untuk yang sudah review di chapter lalu, aku ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Apalgi yang sampai fav dan follow, aku ucapkan terima kasih banyak, Sampai jumpa di chapter berikutnya. Sekian^^