Black rabbit
.
.
2
.
.
Bolt melihat ke arah Himawari untuk kesekian kalinya, rasa takut mencengkram jantungnya setiap kali dia meninggalkan Himawari, apalagi setelah dia tau bahwa black rabbit adalah adiknya sendiri. "Hima, tolong diam di rumah sampai aku kembali" ucap Bolt.
Himawari menggelengkan kepalanya untuk pertanyaan yang sama yang diajukan Bolt lebih dari 5 kali hanya untuk meninggalkannya seperti biasa, suara helaan nafas itu kembali terdengar.
Klik! Suara pintu tertutup akhirnya terdengar. Selama 1 jam Himawari hanya duduk di depan meja dan memperbaiki bonekanya yang sedikit sobek dibagian sambungan lengannya. "Saatnya kita pergi, Kurama" ucap Himawari, nada suaranya terdengar datar dan dingin.
"Hari ini, targetnya berlian milik Shino itu. Aku harus berhati-hati padanya, ini akan sangat menegangkan" bibirnya berbicara sembari mengeluarkan sebuah jaket Hitam berhoodie telinga kelinci panjang. Himawari sangat suka kostum ini.
Tidak sulit belajar dari lingkungan paling cerdas untuk bisa bertahan hidup. Apartemen ini pun berisi para penjahat dari hampir semua kelas, mulai dari lantai setelah lantai apartemennya sampai basement.
Pembunuhan. Penculikan. Pencurian. Pemerasan. Himawari belajar dari penghuni apartemen ini. Tinggal memakaikan tangannya pelindung dan Himawari siap berangkat, dia baru memulai debutnya tahun ini sebagai pencuri dari para pencuri lainnya. Mengacaukan kota yang memang sudah kacau.
Mencuri seperti permainan petak umpet yang menegangkan. Kau tidak boleh ketahuan jika kau ingin menang dan Himawari ingin menang disetiap pencuriannya tanpa ketahuan.
Setelah menutup pintu apartemen, Himawari segera memanjat ke atas dan melihat distrik lama dari sana, rumah rentenir itu ada di bagian selatan, mencolok bersama rumah mewah lainnya. Sedikit peregangan Himawari lakukan sebelum aksi pencuriannya kali ini. "Ah anginnya sejuk"
Tubuh Himawari mulai berlari dan melompat di atas gedung-gedung yang berjejer hingga berakhir di gang menuju rumah Inojin. Himawari turun dengan melompati alat pendingin ruangan yang terpasang hampir disetiap jendela kamar. Langkahnya seperti seekor kucing. Halus dan tenang. Nyaris tak ada seorangpun yang terbangun karena gerakan Himawari.
Jalanan mulai ramai dengan bukanya kedai-kedai minuman, Himawari harus menyusuri jalan gelap, memasuki gang-gang kecil hingga sampai di rumah itu. "Satu, dua, tiga.. Lima?" hitung Himawari melihat penjaga di luar gerbang. Melewati mereka adalah hal yang mudah.
Para penjaga menyipitkan mata melihat sebuah truk mendekati gerbang masuk rumah. "Antaran seperti biasa" teriak si supir. Penjaga lain mulai memeriksa seluruh bagian truk tersebut. "Clear" lapor si pemeriksa.
Perlahan gerbang kokoh itu mulai terbuka dan truk itu masuk ke dalamnya. Himawari menjatuhkan tubuhnyadi bawah truk yang mulai melambat, tidak bergerak sampai mobil itu melintasi tubuhnya.
"Aku hanya punya waktu 30 menit untuk mengambil berlian itu" ucap Himawari mengaktifkan stopwatchnya.
Jauh di dalan sana, Shino sedang memeriksa beberapa berkas rentenirnya, pintu diketuk pelan, kemudian terbuka tanpa menunggu jawaban Shino.
"Uih, aku suka perpustakaan ini" kagum Himawari melihat deretan buku di dalam rak buku. "Tapi aku lebih tertarik pada berliannya" gumam Himawari lagi.
"Sudah lama aku menunggunmu" ucap Sebuah suara dari pintu masuk perpustakaan itu. Shino berdiri dengan tangan menempel di pinggangnya. "Black rabbit"
"Sepertinya aku ketahuan," bisik Himawari memakai maskernya, tubuhnya berbalik kemudian bersandar pada lemari buku. "Lantas permainan ini? Berakhir? Tidak, Himawari hanya ketahuan tapi tidak tertangkap." gumam Himawari dengan sangat pelan.
"Kau ingin berlian ini?" tunjuk Shino merogoh saku celananya, mata Himawari berkilat ingin segera mengambilnya. "Kita buktikan seberapa hebat Black rabbit" tantang Shino melempar berlian itu keatas tempat lampu.
Pandangan Himawari terpaku pada berlian diatas sana, tangannya segera menarik kursi namun dihalangi Shino. Kursi itu hampir terlempar jauh tapi Himawari segera menariknya lagi. Kakinya menyerang Shino berkali-kali.
Himawari tidak pernah menyangka kalau dia akan terpojok sampai seperti ini, apa Himawari kabur saja, diliriknya jendela di belakang Shino. Himawari melempar kursi yang dipegangnya sejak tadi kearah Shino kemudian meluncur di antara kedua kakinya.
"Cih, kau cerdik tapi tidak secepat itu kau pergi" ucap Shino menahan Kaki Himawari kemudian membantingnya ke lantai.
Ringisan terdengar dari mulut Himawari, dia belum berpengalaman dengan penjahat kelas kakap semacam Shino. "Ah menyenangkan sekali bisa bertarung seperti ini lagi" ucap Shino mengulurkan tangannya ke arah Himawari, "kau kalah. Lain kali kau bisa mencoba mencurinya lagi" tangan Shino bergerak diatas Hoodie Himawari.
"Kau lebih pendek dari yang aku bayangkan. Ah apa kau seorang perempuan?" tebak Shino. Matanya menangkap sikap Black rabbit yang langsung menegang. "Kau takut aku mengatakannya pada orang lain?"
Kepala Himawari mengangguk perlahan, bagaimana ini? Himawari harus bisa lari dari sini. "Apa kau tidak takut aku menusuk atau menembakmu?" tanya Himawari mengangkat kepalanya.
"Kau manis, jika kau membawanya. Pasti sudah kau gunakan sejak tadi" jawab Shino.
"Aku-"
"Sst ada yang masuk"
"Tuan Shino? Apa ada yang terjadi? Tuan?" tanya sebiah suara masuk ke ruang kerja yang masih terhubung ke ruang perpustakaan.
"Kau bisa pergi lewat jendela. Hati-hati tertangkap" bisik Shino dan kembali menepuk kepala Himawari.
Tubuh Himawari ambruk ke lantai, tidak mungkin! Himawari ketahuan! Apa yang harus Himawari lakukan selanjutnya? Dia mungkin terlihat baik. Tapi Himawari tidak yakin Shino akan dengan mudah melepaskannya. Bau mesiu menyeruak ke dalam hidung Himawari. Penciumannya cukup sensitif itu mengatakan kalau terjadi sesuatu di ruangan sebelah. Perlahan Himawari mengintip diantara celah pintu.
"Aku sudah membunuhnya" ucap Seorang pria masih berdiri dihadapan Shino. Tangannya segera membuang bantal yang melindungi sebuah pistol dari pandangn Himawari. Itu sebabnya Himawari tidak mendengar sebuah tembakan.
"Hey kau? Apa kau masih hidup?" bisik Himawari dari pintu saat matanya melihat tubuh Shino tergeletak di lantai. Pria berkostum butler itu segera pergi memberi Himawari waktu untuk mendekati Shino. "Hey kau masih hidup?" tanya Himawari lagi sembari mencolek pipi Shino dengan stik golf.
"Uhuk."
"Kau masih hidup, aku akan- tidak nanti aku ketahuan" ucap Himawari meracau, dia bingung antara menyelamatkan orang lain atau dirinya sendiri.
"Hahaha uhuk"
"Kenapa kau malah tertawa? Aduh kau malah batuk darah lagi" panik Himawari.
"Bisa kau bantu aku duduk diatas meja kerjaku?" pinta Shino.
Beberapa saat berlalu, Shino sedang menulis sesuatu di atas kertas dan menyerahkan sebuah amplop coklat besar kepada Himawari. "Aku yakinkan ini harganya lebih mahal dari berlian itu. Ini permintaan terakhirku sebelum mati"
"Hanya amplop ini? Apa isinya uang? Aku ingin benda berkilau itu" ucap Himawari membolak balik amplop itu.
"Kau pasti akan suka dengan itu semua," ucap Shino tersenyum. "Kau akan jadi orang yang harus menemukan si orang yang bersembunyi"
oOo
"Dengar black rabbit telah membunuh Shino" teriak seorang pria yang langsung masuk ke dalam bar Jiraiya.
Seketika bar yang sedang ramai berubah setenang kuburan, tatapan tidak percaya diarahkan pada si pria itu.
"Aku tidak berbohong," teriaknya lagi.
Inojin segera bergerak ke dekat kasir, sebelum terlambat dia harus mencegah Bolt- terlambat. Bolt sedang berdiri di dekat Hidan dengan wajah pucat pasi.
"Bolt, tenangkan dirimu" bisik Inojin mendorong tubuh Bolt ke dalam ruang ganti pegawai.
"Aku harus segera kembali ke rumah" ucap Bolt melonggarkan dasi kupu-kupunya, "aku sudah melarangnya keluar rumah, apa yang dia pikirkan huh" omel Bolt.
"Tenang Bolt. Kau tidak bisa pulang begitu saja." ucap Inojin mencegah Bolt melepaskan dasinya.
"Bagaimana aku bisa tenang?! Adikku baru saja di tuduh membunuh" kesal Bolt menghempaskan tangan Inojin.
"Aku bilang tenang! Aku akan menghubungi Mitsuki untuk mengecek adikmu" teriak Inojin. "Marah -marah seperti ini bisa membuat kulitku keriput" keluh Inojin. "Sana basuh wajahmu di toilet."
Bolt mengikuti saran Inojin pergi ke toilet dan membasuh wajahnya dengan air dingim. Pantulan wajahnya di cermin terlihat masih tegang. Dia tidak ingin Himawari terluka atau bahkan tergores sedikitpun. Bolt harus segera kembali, Inojin pasti sudah mendapat kabar dari Mitsuki.
"Sudah lebih baik?" tanya Inojin melihat Bolt.
Kepala Bolt mengangguk pelan.
"Mitsuki bilang adikmu baik-baik saja. "
Inojin dapat mendengar nafas kelegaan dari mulut Bolt, wajahnya yang tegang sedikit mengendur. "Nah kita harus kembali bekerja"
Sepanjang malam, meski Bolt tahu Himawari baik-baik saja dia tetap cemas bagaimana kalau ada yang mengetahui siapa black rabbit sesungguhnya? Bagaimana dia akan melindungi Himawari selanjutnya? Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi, dan Bolt harus selangkah di depan kemungkinan terburuk tersebut.
"Apa yang sedang kau fikirkan, Bolt?" tanya Hidan wajahnya berkerut. "Kau sakit?"
"Ah ti-tidak"
"Kalau begitu jangan hanya melamun saja di sana! Kerja! Kerja!" hardik Hidan dengan kesal. "Cih ada apa dengan tempat ini! Semuanya sangat memuakan"
Mitsuki menatap Himawari yang tertidur pulas di lantai. Tubuhnya melingkar dengan selimut tebal. Sudah hampir pukul 6 pagi dan tidak terjadi apapun atau lebih tepatnya tidak ada Siapapun yang mendobrak kamar apartemen Bolt.
"Kak Mitsuki, apa kakak sudah pulang?" tanya Himawari menggosok matanya perlahan dan mulai bangkit dari posisi tidurnya.
"Sebentar lagi," jawab Mitsuki melirik jam tangannya.
Suara pintu terbanting keras membuat keduanya dalam posisi siaga, siap berkelahi. Bolt dan Inojin muncul dari arah pintu.
"Selamat datang Kakak!" sambut Himawari segera mendekati Bolt. "Tenang saja aku sudah membereskan semuanya. Bukan aku yang membun-"
Suara nyaring telapak tangan Bolt di pipi Himawari terdengar, wajah Bolt terlihat marah dengan nafas pendek-pendek menahan luapan amarah yang siap meledak dari mulutnya.
Mitsuki dan Inojin ternganga melihat kejadian yang tidak pernah terpikirkan diotak mereka. Bo!t menampar pipi Himawari. "Apa kau tahu betapa cemas dan khawatirnya aku semalam hah? Setiap hari aku cemas meninggalkanmu sendirian. Apa kau tidak kasihan padaku? Egois!"
"Kakak..."
"Bagaimana kalau kau tertangkap? Bagaimana kalau kau, kalau kau mati?! Apa kau tidak merasakan kecemasan yang aku rasakan? Apalagi sejak aku tahu siapa black rabbit"
"Kakak aku sudah membereskannya, tenang saja"
Tangan Bolt tanpa sadar akan menampar Himawari lagi, Inojin segera menahan tangan Bolt dan Mitsuki menjauhkan Himawari dari jangkauan tangan Bolt.
"Apa kau mengerti kakakmu ini ketakutan! Kau milikku yang paling berharga! Kau tahu itukan!? Atau kau lupa?!"
Himawari melepaskan diri dari Mitsuki dan menerjang tubuh Bolt. Di peluknya tubuh besar itu dengan erat. "Kakak! Maafkan aku! Maaf!"
Inojin melepaskan tangan Bolt yang melepas. Suara tangis Himawari pecah saat Bolt memeluk dan membelai surainya juga. "Aku mohon jangan pernah lakukan itu lagi. Aku benar-benar takut kehilanganmu"
Suasana apatement Bolt masih terasa tegang. Bolt bersila dengan kepala Himawari di atas pahanya. Mitsuki dan Inojin duduk tak jauh dari Bolt. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Inojin.
"Tidak Inojin. Ini masalah kami berdua. Kalian akan tetap aman selama kalian menjaga jarak dari kami dan pura-pura tidak tahu apapun." ucap Bolt.
Mitsuki membuang wajahnya ke samping, Bolt selalu seperti ini. "Sudah terlambat membuang kami dari masalah ini. Kami sudah terlibat di dalamnya"
"Mitsuki benar. "
"Aku bermaksud menjauhkan kalian dari masalah."
"Kami menolak." ucap keduanya bersamaan.
"Apa kalian bodoh huh?" umpat Bolt kesal.
"Kami akan membantu semaksimal mungkin."
"Kakak, sebenarnya orang yang baru mati itu menitipkan amplop ini padaku" ucap Himawari mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya.
Pertemuan rahasia elit mafia
Tempat : unknown place.
"Aku tidak meyangka jubi akan mati dengan mudah" Ucap serang pria bertopeng. Di meja oval yang dia duduki terdapat 9 orang lainnya yang sama-sama memakai topeng. Sebuah kursi dengan warna keperakan, memang kosong karena pemiliknya baru saja meninggal tadi malam.
Suara riuh percakapan dengan desas desus sontak terdengar. "Lalu siapa yang akan menduduki silver chair?" tanya seorang anggota.
Silver chair adalah kursi pemimpin dari para elit mafia, tempat yang selalu rawan bahaya. Untuk mencapai puncak tertinggi dari distrik lama, yang memang distrik kriminal. Setiap seseorang naik ke silver chair maka orang lain akan memperebutkan topeng dari 9 kekuasaan itu, dan begitu seterusnya jika silver chair mengalami kekosongan atau 9 kekuasaan itu salah satu anggotanya mati. Kecuali satu.
9 orang itu adalah orang-orang yang berhasil menduduki puncak kekuasaan didistrik lama, namun masih belum mencapai titik puncak silver chair dimana hanya ada 1 orang yang berhak mendudukinya, julukan orang itu adalah Juubi yang mereka artikan satu dari sembilan. Topengnya berwarna coklat abu-abu dengan gambar mata merah menyala diikuti garis hitam dengan tomoe yang banyak.
"Aku rasa son goku akan memimpin selanjutnya" ucap pria bertopeng kokuo, berbentuk seperti kuda bertanduk berwarna putih dengan kantung mata berwarna merah.
"Apa kau ingat son masih di penjara? Hukumannya di perberat dengan adanya laporan investigasi detektif polisi itu" jawab saiken. Itu seperti siput yang berlendir.
"Sial" ucap si kokuo
"Bagaimana ini?" tanya orang bertopeng matatabi. Berbentuk seperti kucing berwarna biru hitam.
"Tenang! Kita akan memilih lagi siapa yang pantas menduduki silver chair sampai son goku keluar dari penjara" usul si topeng shukaku, berbentuk seperti monster pasir berwarna coklat muda keemasan
"Itu lebih baik" setuju si topeng isobu. wajahnya seperti monster danau berwarna batu.
Chomei menggangguk pelan, dia sebenarnya malas mengikuti rapat seperti ini. Topengnya berbentuk serangga.
"Aku akan mencalonkan Gyuki. Ada usulan lagi?" tanya kokuo. Gyuki adalah orang bertopeng gurita yang duduk diam sejak rapat dimulai.
Semua anggota terdiam kemudian saling mengangguk. Gyuki bukan calon yang buruk. Sebenarnya ada satu kursi lagi yang penghuninya hanya diam, memang dia bukanlah manusia, hanya sebagai penganti orang itu. Topengnya berbentuk rubah berwarna jingga denga tatapan tajam. Kekuasaan yang tidak bisa diambil oleh siapapun kecuali oleh pemiliknya dan darah yang mengalir dari keturunannya.
"Baiklah. Kita tetapkan-"
"Aku menolak!" Suara itu muncul dari pintu, jaket kelinci dilengkapi sebuah topeng berdiri angkuh. Bukan hanya satu, tapi ada 2 black rabbit yang berdiri dipintu masuk. "Aku menolak tuan-tuan"
Jelas suara itu membuat seua yang hadir dirapat itu terkejut, ruangan itu dilindungi oleh banyak pengawal, apalagi mereka semua masing – masing membawa pengawal
"Bagaimana kau masuk?" tanya si matatabi.
"Kau tidak punya hak dalam voting ini" ucap saiken.
Protes itu seperti suara nyamuk yang menganggu tapi Black rabbit abaikan, mereka berjalan masuk kemudian melompat keatas meja, kaki-kakinya lincah melewati berbagai benda diatas meja, kemudian dengan sengaja menjatuhkan diri keatas silver chair. "Apa katamu kakek? Hak. Aku tentu saja punya, mau lihat? Mau?" tanyanya mengabsen setiap mata yang tertuju padanya.
"Kau black rabbit, hanya bocah ingusan." Ucap si shukaku
"Yah maaf mengecewakanmu. Ini hakku" ucap black rabbit melempar sebuah amplop ke atas meja yang segera diperiksa anggota rapat mafia.
"Jubi sialan" umpat mereka.
"Bagaimana, apa kalian puas?" tanya black rabbit dengan sengaja menaruh kedua kakinya diatas meja, dia tahu benar bagaimana kekuatan silver chair sangat berpengaruh disini.
"Bocah!" geram si kakuo.
"Jangan dulu marah, apa kau tidak berfikir kalau aku tidak membuka dan mencopy semua yang ada disana?"
"Cih" umpat Si kakuo.
"Nah begitu baru baik. Jubi akan hilang untuk waktu yang cukup lama, aku tahu ini tidak baik karena membuat 16ias16ble 9 kalian menjadi berantakan karena itu keahlianku. Hehe" ucap Black rabbit. "Kita akan mulai dengan hal mendasar, siapa yang telah membunuh Jubi dan menyalahkan aku, black rabbit. Ckckck aku bukan pembunuh loh. Aku memang pencuri yang baru naik daun, baru saja mau mekar. Tega sekali kalian menyalahkan pencuri yang masih polos ini"
"Ini bukan dunia yang sama dengan dunia diluar sana, bocah" ucap si saiken.
"Tentu saja, aku tahu itu. Saiken-san. Makanya aku mau ada di sini. Tapi berkat tuan jubi aku 17ias langsung duduk di silver chair tanpa repot-repot berusaha"
Si saiken berdiri dari kursinya, "Aku tidak akan menerima keputusan jubi itu."
"Saiken-san. Apa kau mau aku menyebar semua informasi yang baru kau baca?"
"Bocah sepertimu 17ias apa?" tantang Saiken.
"Aku? Kau meremehkanku? Baiklah. Kita lihat siapa yang akan berlutut dahulu besok"
.
.
.
.
Tbc...
