Magnolia
Chapter 2
Language: Indonesian
Rating: T
Genre: Supernatural/Drama, slight Romance
Disclaimer: Naruto is NOT mine. Masashi Kishimoto owns it.
Summary: Untuk menerima sesuatu yang tidak lazim bagi manusia biasa, apakah itu artinya kau diberi anugerah atau… terkutuk?/AU/
"Blabla" normal talking
'Blabla' thinking
Suasana di sekolah yang sudah terbilang tua itu, sama sekali tidak menunjukkan perbedaan dari musim-musim tahun ajaran sebelumnya. Hari itu, dimana kegiatan belajar mengajar kembali dilaksanakan, setelah berakhirnya liburan musim panas.
Bangunan kokoh yang masih bergaya kuno, terlihat indah dari sebuah taman yang berada tepat di depannya. Sebuah air mancur dengan air bening, berhias patung seorang wanita yang tengah melambai, memberikan nuansa lama kota kecil tersebut.
Tepat di atas pintu depannya yang terbuat dari kayu kokoh, terpampanglah sebuah nama 'Magnolia' yang terukir indah pada dinding berwarna putih, yang sudah agak kusam. Namun, nama itu tetap saja masih sangat jelas terbaca, seakan ada seseorang yang rajin memolesnya dari waktu ke waktu.
Suara langkah kaki para murid yang memasuki bangunan kokoh dapat terdengar dimana-mana, tercampur dengan suara obrolan-obrolan ringan mereka. Masing-masing dari murid-murid itu menenteng sebuah tas hitam yang bentuknya hampir mirip dengan koper, bertuliskan nama 'Magnolia'.
Bentuknya saja yang mirip dengan koper, tapi tas mereka terbuat dari bahan kain. Beberapa dari mereka bahkan ada yang mendekap buku-buku tebal, lantaran tasnya tidak cukup menanggung semua bawaan mereka.
Sekolah swasta bernama Magnolia ini memang terkenal dengan kedisiplinan dan kematangan otak para siswanya. Jika kau melihat seorang murid laki-laki yang lebih pantas disebut preman, maka kau harus menyebut dia sebagai peraih nilai sempurna di Kompetisi Sains tahun lalu.
Seseorang yang kau sebut nerd atau apalah semacamnya itu, maka kau harus menyebutnya juga sebagai mantan kapten cheerleaders atau pemain futbol yang dulu sangat terkenal dengan kekuatannya di lapangan, sehingga menjatuhkan nilai-nilainya.
Tapi, di sekolah inilah mereka digodok. Seorang kepala sekolah bernama Nona Tsunade, yang terkenal dengan ketegasannya, akan segera membimbing, atau tidak segan-segan untuk melakukan ujian, apalagi hukuman.
Sangat jarang sekali ada murid yang sampai dua kali dipanggil masuk ke dalam kantornya, yang terkenal sunyi dan menyeramkan itu. Sebagian besar dari mereka bersumpah lebih baik mengeluarkan diri dari sekolah, daripada dipanggil dua kali ke ruangannya.
Sepertinya, pagi itu adalah awal yang sangat baik dan manis bagi seluruh pelajar di sekolah itu. Dengan tiba-tiba, suasana yang sedikit ramai itu serasa beku. Semuanya menutup mulut dengan serentak, tidak ada satu suara pun yang dapat terdengar, kecuali nafas yang sebisa mungkin mereka tahan.
Suara ketukan antara sepatu berhak tinggi yang berinteraksi dengan lantai berbatu itu dapat terdengar dari kejauhan. Beberapa lama, hingga akhirnya suara itu memasuki pintu utama sekolah.
Seorang pemuda berambut mangkuk berwarna hitam tampak gemetaran. Dasinya yang berwarna merah terlihat sedikit longgar. Hingga akhirnya, ia merasakan kalau pemilik sepatu hak tinggi itu berdiri tepat di depannya dan menatap tajam.
"Apa yang aku beritahukan padamu soal dasi, anak muda?" tanya sebuah suara feminin, dengan nada sedikit galak.
Pemuda itu menelan ludah. "Ti-tidak boleh sampai longgar, Nona," jawabnya dengan suara kecil dan gemetar.
Nona itu menghela nafasnya. "Dan apa yang kau tunggu, anak muda. Rapikan dasimu sekarang atau kau bersihkan seluruh WC yang ada disekolah ini! Lakukan!" teriaknya.
"Ba-baik, Nona."
Wanita yang berusia sekitar lima puluh tahunan itu lalu segera beranjak dari sana, meninggalkan pemuda tadi yang masih gemetaran di tempatnya. Beberapa dari mereka memandang iba.
Setelah yakin kalau wanita itu sudah menghilang, seseorang berambut hitam mendekat. "Rapikan dasimu, Rock Lee, dan kita ke kelas sekarang. Sekolah ini gila," katanya.
Seorang gadis berambut merah muda berjalan menelusuri koridor sekolah yang mulai sepi itu. Tangan kanannya menenteng sebuah tas hitam, sementara tangan kirinya membawa map berwarna biru tua.
Ia berjalan agak cepat, karena bel telah berbunyi sekitar dua menit yang lalu. Rambut merah mudanya digelung acak ke belakang, lantaran ia tidak mau repot-repot menyisir rapi rambut sebahunya itu.
Beberapa murid berlari ke arah yang sama dengannya. Inginnya ia juga ikut berlari, tapi apa daya. Sebagai anak baru, ia belum mengetahui dimana kelasnya berada. Jadilah ia harus menelusuri setiap koridor di sekolah besar itu.
Pandangannya meleng, ketika dilihatnya seorang tukang bersih-bersih, yang tengah berjongkok dan menyender pada dinding, di sebuah lorong agak gelap dari koridor utama.
Siapapun itu, sulit baginya untuk peduli, karena ia benar-benar harus mencapai kelasnya secepatnya. Atau…
Bruk!
Gadis itu terdorong ke belakang, setelah tabrakan yang cukup keras. Sesaat keseimbangannya goyah, dan harusnya ia terjatuh jika saja kilatan hitam di matanya itu tidak muncul.
Ia kembali memfokuskan pandangannya itu, dan menatap seseorang yang tadi menabraknya. Orang itu bertumpu sebentar pada lututnya sebelum kembali menegakkan tubuhnya.
"Ma-maafkan aku. Aku sedang telat, jadi terburu-buru," ujar gadis itu, dengan nada meminta maaf.
Seseorang yang ternyata seorang pemuda itu menganggukan kepalanya. "Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, sepertinya kau orang baru?" tanyanya.
Gadis itu mengangguk. Sesungguhnya ia merasakan tatapan yang menyelidik dari kedua bola mata onyx itu. Tapi, gadis itu mencoba membuang segala hal negatif. Setidaknya, pemuda kurang ajar bernama Suigetsu itu tidak tampak batang hidungnya lagi.
"Ya. Dan bisakah kau menunjukkan padaku ruang nomor…" gadis itu mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku jas sekolah. "Seratus lima puluh empat?"
Alis pemuda itu mengerut. "Kebetulan, itu juga kelasku. Ayo, sebelum kita terlambat."
"…jadi, kota terpendam Edinburg, selatan Bridge telah terbungkus misteri dan intrik selama ini. Dibuka pada tahun 1788, tetapi keberadannya hampir tidak diketahui. Hingga pada tahun 1985, kota tersebut ditemukan kembali…"
Cuap-cuap guru sejarah pagi itu dapat dibilang merupakan sebuah dongeng indah pengantar tidur, bagi segelintir siswa yang duduk di tengah sampai ke belakang. Bahkan, mereka yang duduk di barisan depan pun tidak segan-segan untuk memejamkan matanya.
Suasana kelas itu sunyi, tersisa bagi guru sejarah mereka yang bernama Yuuhi Kurenai, menyampaikan materi pelajaran pagi itu.
Walaupun sedari tadi ia berjalan menelusuri setiap lorong-lorong kecil di antara meja para murid, sekalipun ia tidak menegur atau membangunkan muridnya yang tengah tertidur di tengah pelajaran.
Jumlah murid di kelas itu sekitar tiga puluh orang. Setiap murid mendapatkan satu kursi dan meja, tanpa teman sebangku. Dalam artian, tidak ada meja yang berimpit menjadi satu.
"…diyakini oleh banyak orang, tempat tersebut menjadi saksi bisu bagi hidup dan matinya para orang bawah tanah. Apakah ada pertanyaan?" tanya wanita itu, sembari kembali ke tempat duduknya, yang terletak di depan kelas.
Sebuah jari telunjuk lentik terangkat. Beberapa murid lainnya mengalihkan perhatian mereka kearah si penunjuk, sementara sang guru memperhatikannya dengan seksama.
"Bagaimana dengan tragedi kota Salem?" tanyanya singkat, sebelum menurunkan acungan tangannya itu kembali.
Seorang pemuda yang memperhatikan dari sudut ruangan itu mengerutkan alisnya. Tatapannya menjadi lebih serius dalam memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, dan itu harus segera terpecahkan.
Guru sejarah itu mengangguk, dan kembali berdiri. Sebelum ia sempat menjawab, pintu kelas diketuk dan muncullah seorang wanita berambut hitam pendek.
Wanita itu tampak sedikit tergesa-gesa dan langsung menghampiri guru itu. Ia mendekatkan bibirnya pda telinga sang guru, sebelum membisikkan sesuatu yang membuat para siswa ingin sekali menguping pembicaraan mereka.
Ekspresi kaget terpampang di wajah sang guru, sebelum akhirnya wanita berambut pendek itu keluar kelas. "Maaf, Nona Haruno. Aku belum bisa menjawabnya sekarang, ada tugas lain yang harus kukerjakan."
Seorang murid perempuan lainnya angkat bicara. "Ada apa memangnya, Nyonya?" tanyanya.
Yuuhi Kurenai memandang anak didiknya sebentar. "Terjadi lagi pembunuhan di sekolah ini."
"Sekarang aku berpikir, mungkin dia ada hubungannya dengan pembunuhan ini," ujar Naruto yakin.
Neji memutar bola mata lavendernya. "Kecil kemungkinannya. Kau tidak ingat? Pembunuhan seperti ini sudah terjadi sebelum dia datang, Naruto."
Bocah berambut kuning itu mendengus. Dari kemarin, pendapatnya selalu saja dibilang tidak masuk akal atau kecil kemungkinannya. Ia menaruh tangan kenannya diatas meja, lalu menopang dagunya.
Dilihatnya Neji yang sedang membaca sebuah buku tebal, dan Sasuke yang menyender dan melipat dua tangannya di depan dada. Ia memperhatikan dalam diam. Terlihat ekspresi kebingungan yang mendalam di wajah salah satu sahabatnya itu.
Mereka bertiga sedang berada di perpustakaan. Jam belajar mengajar dihentikan sementara, berkaitan dengan kasus pembunuhan yang terjadi di awal hari masuk sekolah itu.
Suasana di dalam perpustakaan itu sunyi, kalaupun ada yang mengobrol, mereka lakukan dengan jalan berbisik. Karena, seorang penjaga perpustakaan yang bernama Mitarashi Anko akan langsung menendang bokongmu keluar, jika sekali kau membuat keributan.
Karpet merah gelap menutupi lantai itu. Rak-rak buku yang tinggi menjulang hampir menyentuh atap, menambah kesan menyeramkan jika tiba datangnya malam, ataupun ketika ada badai diluar. Jika tidak terlalu penting, mereka tidak ingin sekalipun bermalam di tempat seperti itu.
Terdapat sebuah kertas bertuliskan jenis buku yang ditempel pada rak. Setelah itu, buku yang berjenis sama akan dipilahkan kembali menurut pengarangnya, dan kembali dipilahkan lagi menurut abjad pertama dari judul bukunya.
Ketegasan dari Anko membuat pengaturan ini berjalan cukup lancar.
Naruto, yang tidak tahan akan rasa penasarannya akhirnya buka suara. "Hei Sasuke, apa yang kau pikirkan? Jangan pikirkan lebih jauh tentang anak baru itu, bisa-bisa kau jatuh cinta padanya," godanya.
Pemuda bermata onyx itu mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. "Malam ini benar-benar akan kulakukan. Aku bersumpah," ujarnya pelan.
Mata Naruto membelalak. "Lihat kan? Kau mulai terobsesi dengannya. Ada apa denganmu Sasuke?" tanya Naruto sedikit panik.
Sasuke mengerutkan alisnya lalu memandang aneh pada Naruto. "Bodoh. Maksudku, aku bersumpah akan melihat biografi sebenarnya dari gadis itu. Tingkahnya di kelas pagi ini… dan pertanyaannya…"
Neji yang semula tidak ikut bergabung dalam pembicaraan itu, kini mulai tertarik. Ia melipat ujung kertas yang paling atas itu untuk membuat tanda, dan menutupnya. Perhatiannya kini terfokus pada Sasuke.
"Dia ternyata satu kelas denganku. Dan ketika Nyonya Kurenai sedang menjelaskan tentang Edinburg, ia bertanya tentang tragedi kota Salem," jelas Sasuke.
Pemuda berambut hitam panjang itu memperhatikan dalam diam, sementara Naruto membiarkan mulutnya terbuka. "Kawan atau bukan, ia pasti ada sangkut pautnya dengan nenek moyang kita," komentar Naruto.
Sasuke menyeringai kecil. "Entah kenapa, tapi aku sependapat denganmu kali ini, Naruto," tambahnya.
Neji mengangguk setuju. Setelah yakin kalau Sasuke tidak memberikan informasi lainnya, ia kembali membuka buku tebal bersampul hitam polos tersebut, dan langsung tenggelam di dalamnya.
Sasuke kembali menyenderkan punggungnya. Matanya memperhatikan beberapa orang yang berlalu lalang di tempat itu. Tidak sedikit dari mereka yang membawa setumpuk tinggi buku sekaligus.
Yah, tidak sedikit, tapi seseorang yang tengah membawa setumpuk tinggi buku tebal tengah menangkap perhatiannya. Sosok yang ia kenal, berambut merah muda, dengan mata emeraldnya yang terkadang ramah, namun di saat tertentu dapat berubah dingin menusuk.
Gadis itu tengah membawa tumpukan buku itu, di antara para murid yang berlalu-lalang. Langkahnya agak goyah dan sedikit tidak mantap. Matanya mencari-cari sebuah meja kosong, dimana ia akan melahap habis tumpukan buku-buku tebal itu.
Sasuke memperhatikannya dalam diam. Dalam hatinya, ia ingin sekali lagi melihat kilatan mata pada pupil emerald itu. Keyakinannya terhadap kata-kata Naruto masih belum kukuh.
Lalu, dengan kilatan hitam di matanya sendiri, seorang murid berbadan besar berjalan mundur kearah gadis itu. Langkahnya yang sudah goyah, bertambah oleng dan tumpukan buku itu seharusnya sudah terlempar kemana-mana.
Tubuh gadis itu jatuh, dan Sasuke memfokuskan pandangannya kearah sepasang mata emerald yang tengah menyipit. Buku-buku itu jatuh ke tanah, hampir tanpa suara, seiring dengan kilatan hitam yang sama, dengan yang pernah ia lihat sebelumnya.
Sepasang mata onyx berulang kali membaca kata demi kata yang tertulis oleh tinta hitam yang sudah kuno. Tulisan itu terlihat jelas adalah tulisan tangan, dengan tinta yang sudah agak pudar seiring berjalannnya waktu.
Kertas tempat tertulisnya kalimat itu, sudah terlihat usang. Sobekan-sobekan kecil disana-sini menambah kesan tua pada kertas yang warnanya sudah tidak putih lagi.
Tepat di depan pemuda pemilik sepasang mata onyx itu, duduklah dua pemuda lainnya. Satu dari mereka turut membaca dalam posisi terbalik, sementara satunya lagi sudah menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangannya.
Setelah yakin kalau ia telah mendapatkan intinya, pemuda bermata onyx itu menangangkat wajahnya. Ia menghela nafas. "Lima, Neji. Disini tertulis, keturunan terakhir mereka adalah lima orang. Sedangkan, jika gadis itu adalah bagian dari kita, masih berjumlah empat orang."
Neji memejamkan matanya, menenggelamkan dirinya sendiri dalam pikiran. "Bagaimana kalau ternyata beberapa orang dari lima keturunan itu sudah mati?" tanyanya.
Sasuke mengangkat satu alisnya, dan menggeleng. "Tidak mungkin. Ini adalah surat yang didasarkan pada ramalan nenek moyang kita. Kau tahu? Orang dulu menyihir dengan bantuan jin. Sulit bagiku mengatakannya, tapi sebagian dari ramalan itu terbukti. Itulah sebabnya aku ingin…" kata-katanya tercekat, sementara tangan kanannya terkepal.
Pemuda bermata lavender itu mengangguk. "Iya. Aku mengerti Sasuke," katanya. "Jadi, sekarang apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku akan menyelinap ke ruang tata usaha dan membaca riwayat hidup gadis itu," jawabnya mantap, seraya bangkit dan mengambil jaket hitamnya dan sebuah senter kecil. "Kau ikut?"
Neji menggeleng pelan. "Aku ingin, tapi tugas essay Tuan Kakashi belum kuselesaikan. Maaf."
"Tak apa. Doakan saja aku agar terhindar dari nenek tua itu."
Pintu bertuliskan 'Ruang Tata Usaha' yang tertulis di atas papan berwarna putih telah nampak di depan wajahnya. Seberkas cahaya senter yang terarah pada tulisan itu, menambah keyakinan pada pemuda bermata onyx itu, bahwa ruangan inilah tujuannya.
Ruangan itu terbuka lebar untuknya dengan mudah. Tanpa kunci, ataupun perangkat pembobol pintu lainnya. Dengan itu, ia membawa tubuhnya masuk. Diinjaknya lantai berubin putih itu, setelah dibiarkannya pintu ruangan itu tertutup di belakangnya.
Matanya yang mulai dapat beradaptasi dengan kegelapan saat itu, kini mulai menerawang. Ia mengikuti jalan sempit di antara lemari-lemari. Mudah baginya untuk segera menemukan lemari tujuannya. Sebuah lemari besi, paling kecil, yang terletak paling ujung.
Ia berlutut di depannya, membuka lemari yang belum tertutup sepenuhnya itu. Alisnya mengangkat satu, tapi sedikitpun ia tidak menghiraukannya. Cahaya yang berasal dari senter yang terjepit diantara giginya itu menelusuri nama murid sekolah itu menurut abjad.
Ketika ditemukannya abjad 'S' dicarilah sebuah nama yang tengah bermain di kepalanya itu. Seringainya mengembang, ketika nama 'Sakura, Haruno' terlihat di antara berkas-berkas lainnya.
Segeralah ditariknya berkas itu, dan membukanya. "Ku temukan kau," katanya berbisik.
Pandangannya sedikit teralih ketika ditemukannya barisan yang tidak rapi pada abjad S yang agak ke belakang. Penasaran, ia coba memeriksa nama-nama siswa di sekitar barisan yang teracak itu. Rasa bingung menyelimutinya, ketika berkas berjudul namanya sendiri tidak ditemukan.
Suara langkah kaki yang terdengar agak jauh darinya membuatnya bergidik waspada. Sebelum ia sempat mengintip siapa pemilik langkah kaki itu, suara kekehan kecil terdengar.
"Tak kusangka kau juga akan menyelinap malam ini," ujar suara itu. "Sungguh beruntungnya aku dapat bertemu orang yang berkasnya ada ditanganku sekarang."
Sasuke mendelik tajam, kearah sosok yang berdiri di kegelapan. "Hn. Kuhargai kau yang datang malam-malam begini untuk menjelaskan isi berkasmu ini padaku," katanya tak mau kalah.
Sosok itu masih terpaku pada tempatnya. Sasuke menyimpulkan, mungkin inilah waktu yang tepat untuk menyudutkannya dan bertanya semua hal yang tengah mengganggunya.
Namun, sebelum ia sempat menggunakan kilatan mata itu, sehelai kertas menerjangnya. Sasuke hendak menghindar, tapi seolah dengan gerakan lambat, sisi kertas itu lebih cepat berinteraksi dengan pipinya. Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, sisi kertas itu mampu membuat sebuah luka besetan kecil memanjang.
Pemuda itu meringis perih, sementara mengembalikan lagi konsentrasinya. Dengan kehendaknya, kursi yang terletak sembarangan di sampingnya, bergerak maju menerjang sosok itu.
Kursi itu menerjang kegelapan, dan dengan keras menabrak sosok itu. Tidak ada tabrakan antara kursi dengan siapapun itu, tapi digantikan dengan tabrakan antara kursi dengan pintu kayu di belakangnya.
Sasuke menyeringai dalam gelap. Senter yang ia pegang hilang entah kemana, dan telah kehilangan cahayanya. Ia berjalan mendekati sosok yang tengah terduduk pada kursi, dan mencoba melepaskan tali yang seolah mengikatnya.
"Kau, tak bisa melepaskan tali yang kubuat?" tanya Sasuke, dengan nada mengejek.
Sosok itu mendengus. "Bodoh. Ini memang tali yang tidak bisa dilepaskan," balasnya.
Pemuda itu mengangkat bahunya. Ia berlutut di depan figur yang dikenalnya, yang tidak sengaja bertabrakan dengannya pagi tadi. Dengan suara yang pelan, namun jelas, ia bertanya.
"Katakan, apakah kau lawan, atau kawan?"
Sosok itu terkekeh. "Memang, kalau aku lawanmu, kau mau apa, hm?"
To Be Continued
A/N: ini chapter keduanya. maafkan saya kalo updatenya kelamaan.
special thanks untuk semua reviewers. (yang login ataupun yang enggak. maaf tidak bisa dibalas satu-persatu)
pokoknya, terima kasih ya udah baca...! :D
sign,
pick-a-doo
