Puber?


.

.

"Eunghh"

Suara desahan mama muda itu membangkitkan gairah seorang pemuda yang kini tengah menggagahinya.

"Ahh... Iyahhh... Ahhh.. Disanah, yeolieh" desahnya, begitu erotis.

Chanyeol terus menginvansi lubang ketat Oh Jongin. Seorang namja berparas cantik dengan body aduhainya yang terus menciptakan khayalan-khayalan kotor di kepalanya.

Plak..

Plak..

Plak..

Suara paha kokohnya yang beradu dengan selangkangan Jongin mengiringi desahan-desahan namja berkulit tan itu.

...

Chanyeol merunduk tepat di dada montok Jongin. Menggoda pucuk putingnya yang menegang parah dengan lidahnya yang nakal.

"Hisaplah, yeolih" pinta Jongin.

Dipersilahkan begitu tentu saja Chanyeol tidak menolak. Malahan ia langsung meraup dada itu dan merasakan manisnya susu di dada Jongin.

Sial, Beruntung sekali paman Oh. Pasti namja berkulit pucat itu sering meminta jatah setiap malam pada sang istri. Pantas paman Oh betah di rumah, istrinya saja menggairahkan begini. Pikir Chanyeol.

Chanyeol merasa gairahnya mendidih. Suara desahan bibi Oh benar-benar membuatnya tak bisa berpikir apapun selain nikmat.

Bibirnya tak berhenti menyesap cairan manis dari dada montok itu selama penisnya terus merudal lubang ketat ibu dua orang anak itu.

Seketika Chanyeol ingin berada di posisi Paman Oh. Atau kalau boleh Taeoh saja. Bayi chubby itu beruntung sekali bisa menyusu di dada Jongin setiap lapar. Ah, Chanyeol jadi iri.

...

"Wu Chanyeol" suara dingin nan menyeramkan itu memanggil namanya.

Chanyeol menoleh. Dan seketika wajahnya pucat.

Paman Oh masuk ke dalam kamar dengan sebuah ember dengan tampang yang makin lama terlihat seperti Mamanya.

Eh?

Apa?

Mamanya?

...


BYURRR...

Seketika mimpi indah itu lenyap begitu saja.

Chanyeol terpaksa bangun dan mendapati tubuhnya basah kuyup.

"dasar anak pemalas! Ayo bangun!" mamanya berdiri dengan sebuah ember di tangannya.

Wajah mama terlihat galak. Dan Chanyeol bergidik ngeri melihatnya.

"Mama, ini kan hari Sabtu" rengeknya.

Namun yeoja cantik itu tidak peduli. Sang mama malah memerintah dirinya untuk segera bangun. Setidaknya meski Chanyeol jarang mandi di pagi hari, mama meminta Chanyeol untuk turun dan menghabiskan sarapan yang ia buat.

Chanyeol hendak keluar dari selimutnya. Tapi gerakannya terhenti ketika tersadar apa yang terjadi dengan selangkangannya.

Gembungan...

Pftttt, payah...

Mengapa harus terbangun di pagi hari begini? Apalagi masih ada mamanya yang galak di kamarnya.

Melihat gerak-gerik aneh Chanyeol. Mama malah mengira Chanyeol mau tidur lagi.

Alhasil terjadilah tarik-menarik selimut yang dimenangkan Oleh mama. Ya, meski mama seorang wanita, mama ini kan kuat. Apalagi Chanyeol masih dalam. Keadaan antara sadar dan tidak.

"Pfftt" mama menahan tawa.

Chanyeol segera merapatkan selangkangannya yang masih terbungkus boxer.

"Anak mama sudah besar rupanya"

"Mama!" *malu-malu miaw

Jadi Chanyeol, apa yang akan kau jelaskan kali ini? =))

.

.

.


.

"Sayang"

Jongin yang sedang memasak di dapur menoleh.

Itu suaminya bersama putra kedua mereka yang sedang menangis dengan wajah memerah dan sembab.

"Taeoh haus sepertinya"

"ma, hiks"

Taeoh kecil meronta dari gendongan sang ayah. Tangannya direntangkan, seolah meminta mamanya untuk segera menggendong dirinya.

...

Cpkss..

Cpkss..

Bayi manis itu sangat menikmati asi yang keluar dari dada sang mama. Jejak airmata masih tersisa di pipiNya yang Chubby . Mebuat Taeoh nampak semakin menggemaskan di mata siapapun yang melihatnya.

"Hao, ayo dimakan dulu nasinya"

"Gak mau~~"

Terdengar langkah kaki kecil yang berlarian dari arah dapur. Jongin yakin, pasti sekarang Sehun sedang memaksa putra sulung mereka agar menghabiskan omlet buatan sang ayah.

"Pedasc, pa! Hao ga thuka"

Jongin yang sedang merebahksn tubuhnya di kasur lipat itu bisa melihat Haowen yang sedang menutup mulutnya, dan Suami tampannya yang tengah menyodorkan sendok Di depan pintu.

"ayo makan! Kalau tidak makan, Hao bisa sakit nanti"

"Ihh.. Tapi itu Pedasc, pa"

Kekehan kecil sang ibu membuat putra kecilnya itu berlari dan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang adik.

"Mama, Hao gak mau makan"

"Kenapa, hm?"

Sang ibu mengusap lembut pipi Haowen. Bocah replika Oh Sehun itu merenggut, dan berkata jika makanan yang dibuat papanya tidak enak.

Alhasil sang papa mendengus sebal dan berjalan bete ke arah dapur. Seorang papa kan memang tugasnya bukan di dapur, pikir Sehun.

Taeoh kecil berbalik badan ke arah sang kakak.. Menepuk pipi Haowen beberapa kali diiringi tawa. Kemudian berbalik ke arah sang ibu, seolah mengajak kakak sulungnya itu bermain petak umpet.

.

.

.

.


Apapun yang Jongdae lakukan. Pasti akan selalu membuat Yixing bergairah.

Suara Jongdae yang mendesah itu yang paling yixing suka. Apa ya? Pokoknya suka saja. Mirip Sora Aoi menurut Yixing, itu lho AKTRIS JAV favorit Yixing, hehehe..

"hmpp"

Jongdae berusa menahan desahannya ketika Yixing mengulum nipplenya. Kalau ada yang mengira mereka sering melakukan sesuatu yang lebih dari ciuman itu salah.

Mereka belum terlalu berani untuk adegan tusuk menusuk, hehehe.. Paling paling cuma cium, raba, dan emut. Kalau yang lainnya sih masih belum berani.

"Bisa dihentikan dulu tidak?"

Itu Chanyeol, dengan muka bete-nya. Dia kan niatnya mau main ke apartemen Yixing untuk lari dari pertemuan dengan teman-teman arisannya mama. Bukan malah menonton Ikeh-Ikeh kimochi secara live begini.

YIXING beranjak dari tubuh Jongdae. Menatap sengit ke arah Chanyeol. Baru kali ini dia menyesal sudah memberikan password apartemen pada teman jangkungnya itu.

"Mengganggu saja" gerutu Yixing.

Harusnya kan Yixing main di kamar. Bukan di ruang tengah. Di atas kasur lebih enak kan dibanding di atas sofa. Eh.. Eh.. Eh.. Tapi yang namanya nafsu sih main dimana saja juga oke*Lho

"Xing, Aku haus"

"Ambil sendiri saja!" Sahut Yixing. "Manja, biasanya juga ambil sendiri"

Chanyeol cengegesan dan beranjak ke dapur. Mengganggu orang yang sedang asyik itu memang paling menyenangkan. Melihat wajah ereksi gagal Yixing itu adalah hal yang paling Chanyeol sukai. Memang dasar teman kurang ajar.

"Hyung"

Yixing menoleh ke arah sofa. Mendekat dan mengukung tubuh Jongdae di bawahnya.

"mau diterusin tidak?"

Ia membiarkan Jongdae mengalungkan tangannya di lehernya.

"Ada Chanyeol di sini"

"Hm" Bibir duckpie ala Jongdae membuat Yixing tak kuat menahan diri untuk menciumnya.

Ia sengaja menjepit bibir Jongdae dengan jarinya. Membuat namja Kim itu mengomel.

"Berikan dia mainan saja. Dia juga tidak akan mengganggu" usul Jongdae.

'Betul juga' pikir Yixing.

"Dadaku sudah gatal minta dihisap lagi nih, hyung" Jongdae berkata, frontal sekali.


.

.

..

Tanggal merah..

Itu artinya libur..

Dan Chanyeol bisa melihat mamanya sedang membawakan sebuah hidangan tamu, entah untuk siapa Chanyeol pun juga nampak tidak peduli.

Ia malah kembali ke kamarnya. Dan membuka tirai jendela dan langsung mendapatkan pemandangannya yang begitu menggairahkan di ujung sana.

Ia kembali menutup tirai jendelanya, dan memutuskan mengintip dari celah tirai.

Di sana.. Tepatnya di seberang kamarnya adalah kamar suami istri Oh. Dimana saat ini Chanyeol melihat mama muda itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang menutupi tubuh mulusnya.

Seolah waktu diberi efek slowmotion. Chanyeol bisa melihat lekuk-lekuk naked itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tanpa sadar Chanyeol ngiler dibuatnya.

JONGIN memakai celana kain pendeknya begitu perlahan. Membuat Chanyeol sedikit kesal. Ia harap istri Dari Oh Sehun itu menunda acara memakai pakaiannya karena Chanyeol masih belum puas mengagumi lekuk tubuh sintal itu.

Tapi yang terjadi selanjutnya membuat Chanyeol kesal. Jangan tanya apa yang terjadi. Sebaiknya intip saja sendiri!

. ..

"Sayang, kau menggairahkan" bisik Sehun, seraya memeluk pinggang ramping sang istri.

"Se.. Sehun"

Namja itu terkekeh mendengarnya. Bibirnya tak mau ketinggalan untuk mengecupi tengkuk mulus sang istri yang yang kini baru saja selesai mandi. (Bahkan wangi citrus dari sabun cair yang digunakan istrinya saja masih sangat tercium)

"Eungh"

Jongin hanya bisa melenguh ketika Sehun terus-terusan menjilati tengkuk mulusnya. Lenguhannya semakin menjadi ketika Sehun mulai menggigiti kulit lehernya dan memberikan sebuah tanda di sana.

"Mama"

Kedua orangtua muda itu lantas saja terkejut mendapati si sulung berdiri di depan pintu dengan Kereta bayi berisi si bungsu.

Jongin memberikan lirikan tajam ke arah sang suami. Sehun cengegesan sambil menggaruk tengkuknya. Dasar, untung saja mereka hanya melihat dari sisi belakang.

Ia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Haowen memergoki adegan mesum mereka untuk yang kedua kalinya.

Yang pertama kali jangan di bahas. Jongin malu mengingatnya.

Taeoh menatap kedua orangtuanya begitu polos. Bibirnya terus mengulum binky baby kesayangannya selain puting sexy sang mama.

"Ada apa, babies?" sang ayah membantu si sulung mendorong kereta bayi berwarna biru dongker itu.

"Adik Taeoh Tadi bilang mi. Pascti adik Taeoh hauth" kata Haowen, dengan logatnya yang cadel.

Benar-benar Oh Sehun, batin sang mama. Tampannya, putihnya, cadelnya, huft.. Ganteng-ganteng cadel-_-

"Benarkah? Taeoh haus?" tanya sang mama. Seraya berjongkok di depan kereta bayi itu. Mengarah pada si bungsu yang tengah sibuk mengulum binky baby nya.

"Mi" Taeoh menyahut, tak jelas.

Lucu sekali, pikir Jongin.

"Mama kok gak pake bajU?" tanya Haowen. "Nanti thakit lho"

Sang ibu berbalik, ia hanya bisa terkekeh malu dengan penampilan half nakednya saat ini.

Haowen berjalan ke arah lemari. Mengambil sebuah kemeja berwarna merah secara asal.

"Ini, pake baju dulu, ma" titah Haowen. Seraya menyodorkan kemeja itu ke arah sang mama.

"Eoh?"

"Pfftt"

Sehun tertawa. Haowen kecil mulai memaksa.

Mama pasti thantik pake baju ini, batin Haowen, ngawur.

"Sayang, bajunya dipakai" bisik Sehun.

Jongin mendengus sebal. Anak sama ayah sama saja, pikirnya. Kan kalau anaknya yang meminta, Jongin tidak bisa menolak.

"Sayang, ini kan bajunya papa" kata Jongin, mencoba menjelaskan.

Seraya melirik ke arah sang suami yang kini tengah membawa putra bungsu mereka ke arah balkon.

"No!" Haowen menggeleng. "Hao mau lihat mama pakai ini"

Jongin mendengus pelan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan kemeja tersebut supaya Haowen berhenti memaksa yang nantinya pasti akan berubah menjadi rengekan manja.

...

"Chanyeol mana?"

"Ada di kamar"

Namja jangkung itu mengangguk, seolah mengerti apa yang terjadi pada putra semata wayangnya itu.

Chanyeol memang sering mengurung diri di dalam kamar. Seperti yang ia lakukan saat masih tinggal bersama dirinya dan istri keduanya.

"Masih sering di dalam kamar?"

"Namanya juga anak remaja. Wajar saja kan kalau dia lebih senang menyendiri" Sahut Kyungsoo. "Dia juga nanti keluar kalau lapar"

"Kau memasak untuknya?"

Kyungsoo mengangguk pelan. "Tentu saja. Sejak dia di sini aku dan Bibi Young selalu memasak agar dia tidak makan di luar terus"

Yifan bisa melihat jiwa keibuan di diri Kyungsoo yang lebih dari yang pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin yeoja workaholic itu hanya mencoba menjadi ibu yang baik, menebus dosa yang telah ia lakukan saat putra mereka masih sangat kecil.

"Ku rasa dia akan baik-baik saja selama tinggal denganmu" ujar Yifan. Dengan senyun tampannya.

Kyungsoo hanya tersenyum tipis. Dulu ia sama sekali tidak menyadari jika mantan suaminya ini adalah sosok yang tampan dan penuh wibawa seperti ini. Yah, meskipun Yifan punya sifat playboy. Dan mereka tidak pernah cocok satu sama lain sejak masih terikat pernikahan.

"Dia tidak pernah cocok dengan Junmyeon"

"Aku tahu" sahut Kyungsoo. "Chanyeol pernah bilang begitu saat dia masih SMP"

"Seharusnya dia bilang juga padaku" kata Yifan.

Membuat Kyungsoo menatap heran ke arah mantan suaminya itu. "Memangnya kenapa?"

Obrolan kali ini tidak ada nada keras atau suasana dingin yang selalu tercipta diantara mereka.

"Aku kan jadi tidak perlu menikah dengannya dan Chanyeol tidak harus pergi dari rumah"

"Kau terpaksa menikahinya?"

"Tentu saja tidak" sahut Yifan cepat. Tidak mau membuat Kyungsoo salah paham mengartikan ucapannya.

"Setidaknya aku harus membuat timing yang tepat. Seperti membuat mereka akrab satu sama lain"

"Mereka hanya tidak cocok saja. Bukan berarti Chanyeol membencinya" Kyungsoo menyahut.

Yifan berdehem pelan. Mantan istrinya terlihat begitu dewasa dan semakin cantik dengan dandanan seperti ini. Terlihat High class dan menunjukan pada dunia jika dia masih bisa bertahan seorang diri.

"Dia tak pernah meminta kita untuk rujuk kan?"

"Hah?"

Yifan merutuk pertanyaannya yang asal. Bagaimana bisa ia bertanya begitu? Harusnya kan dia tidak usah bertanya, ah.. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa dia bisa memberikan pertanyaan seperti itu.

"Oh kalau itu sih tidak pernah"

Pasti Chanyeol berpikir jika mereka memang lebih baik pisah saja daripada terus bertengkar. YIFAN berusaha berpikir positif.

"Tapi dia pernah memintaku untuk pulang ke rumah saat usianya 8 tahun"

Yifan tertawa kikuk. "Itu sama saja meminta kita untuk rujuk kan"

"Bedalah" Sahut Kyungsoo. "Dia kan memintaku untuk kembali ke rumah, bukan kembali padamu" tertawa pelan dan membuat Yifan ikut tertawa.


Baekhyun mengiriminya pesan seperti ini :

FROM : BAEKHYUN

Aku tidak sibuk hari ini. Nanti malam bisa jemput?

Chanyeol menarik napas pelan. Ia sedang bersandar di atas ranjangnya. Selama 1 jam lamanya ia di dalam kamar tanpa melakukan apapun.

Tapi ia pikir itu jauh lebih baik. Dibandingkan harus bertemu dengan ayahnya dan mendapatkan banyak pertanyaan yang amat sangat tidak relevan.

Cklek..

Chanyeol menoleh.

"Hey" sapa sang ayah.

Dia yakin pasti mamanya yang memberikan kunci kamar cadangan pada namja bergigi besar itu.

"papa sudah pulang?"

"Sudah" sahut Yifan. Namja itu berjalan memasuki kamar putranya. Mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri.

"Kyungsoo bilang Beberapa hari yang lalu kau membawa Baekhyun kemari"

"Begitulah"

"Dia sepertinya tidak tahu jika dia pacarmu"

Chanyeol mengucap syukur dalam hati. Kalau mama tahu, pasti bisa gawat.

"Kau main aman dengannya kan?"

"Tentu saja. Safety first tidak pernah lupa"

Yifan terkekeh. Matanya tak sengaja bertemu dengan sosok jangkung lain yang tengah sibuk menimang Bayi lucu di gendongannya.

"Oh Sehun" Yifan berseru, sambil melambaikan tangannya dari jendela kamar Putranya.

"Wah, Yifan hyung"

Itu kan Sehun, adik sepupunya dari pihak ibu. Dan itu, well, sepertinya anak bungsunya.

"Papa kenal paman Oh?"

"Tentu saja. Dia adik sepupu papa"

"Kok aku baru tahu sekarang sih"

Sang papa terkekeh mendengarnya. "kau saja tidak pernah tanya"

Yifan kembali melambaikan tangannya dan bertanya perihal keadaan keluarga Oh itu. Sehun menyahut keluarganya baik-baik saja dan sudah punya 2 orang anak sekarang.

"Kau tahu, Yeol? Sehun punya istri yang cantik sekai di rumahnya"

'Tentu saja aku tahu' batinnya.

Ya tentu tahu dong ya. Chanyeol saja sering dibuat ngiler melihat body bibi Oh. Body sintal penuh gairah itu seolah bisa roboh hanya karena tertiup angin saking lembutnya.

Papa terus berbicara soal keluarga Oh. Chanyeol tidak berminat, hanya saja ketika mendengar cerita tentang bibi Oh yang dulunya seorang penari membuat Chanyeol melongok. Sekarang dia tahu darimana body sexy itu berasal.

Dan sebuah ide pun muncul di otak Chanyeol ketika papanya berkata jika Chanyeol bisa meminta bantuan bibi Oh kalau ada kesulitan belajar. Bibi Oh orang yang pintar kata papa.

Mungkin dia bisa berpura-pura diajari gerakan tarian atau yah, minta diajari Pr matematika dan berujung menggrepe body sintal bibi Oh boleh juga.

Chanyeol tersenyum mesum...


.

.

.

END FOR THIS CHAPTER

.

.

.

A/N

Hey.. Thx udah nunggu ff ini. Well, kalo masih ada kesalahan aku minta maaf ya. Nulisnya sesuai yang ada di otak aja sih. Jadi ya hasilnya begini. Gatau jelek atau bagus. Yang penting bisa menghibur Hunkai shipper kan ya? Hehehe.. Ini hunkai shipper berkurang atau gimana? Kok makin lama makin sedikit sih yg baca. Cuma perasaan aku aja atau gimana? Oke.. Abaikan.. Yg penting ini dilanjut kan? Huehehe..

bukan cewe lho ya. Jadi jangan ada yg ngira doi cewe. Aku gak suka GS

dilanjut sesuai mood ya. Hehehe.. Kalo lagi mood nanti pasti update lagi.

3. Chanbaek nya banyakin dong? Entar deh.. Aku pikir pikir dulu. Liat situasi ya

4. ADEGAN NIPPLE! Bahahaha.. Ciyee yang ketagihan.