gak nyangka fic kemaren ada yang baca. berarti she membuangnya ke tempat yang tepat. tapi tiba-tiba she pengen ubah judulnya. since rasanya she gak bakal nemu ke mana jalan ceritanya kalo judulnya tetep kaya gitu. so, don't mind bout the title. the story is just the way i planned before. dan makasi buat lady spain yang dengan baik hatinya sudah mengirim review... *bungkuk-bungkuk*
well, ada temen she yang bilang author bego bikin pembaca bingung. jadi chap ini she coba buat jadi author sok tau. ^^
happy reading, then.
the best of both worlds by hannah montana
naruto by masashi kishimoto
Sasuke akhirnya sampai di rumah mewah yang selama ini ditinggalinya. Tenang, bukannya Sasuke jadi pembantu di situ. Dia memang tinggal di situ. Seperti halnya di kebanyakan fic, di fic ini Sasuke juga jadi orang kaya. Orang kaya. Bukan anak orang kaya.
Sasuke melihat ke kanan, kemudian ke kiri, sedang mencari sesuatu—atau seseorang.
Di ruang tamu rumah itu, tepatnya di sofa besar yang ada di depan TV, duduk seseorang dengan angkuhnya. Uchiha Itachi. Yang sudah dikenal oleh dunia fic ini sebagai manajer daripada Amaterasu. (ingat Amaterasu, kan?)
Sasuke melangkahkan kakinya menuju orang itu. Memang orang itu yang sedang dicarinya. Tanpa peringatan Sasuke langsung duduk di samping Itachi yang sedang menikmati infotainment favoritnya yang sedang menayangkan konser terakhir Amaterasu yang berakhir sukses dengan pengunjung membludak.
"Aniki," sapa Sasuke memastikan kalau pikiran orang di sampingnya dalam keadaan yang bisa terbagi.
"Hn," Sasuke menganggap itu sebagai 'ya.'
"Batalkan konser Amaterasu akhir minggu ini."
"Ha? Kau gila? Tiketnya sold out dan kau bilang batalkan? Apa yang harus kukatakan pada fans? Toru tiba-tiba merasa dia bukan vokalis Amaterasu? Atau Toru tiba-tiba kena pneumonia dan tidak bisa memaksakan diri untuk mengadakan konser?" Itachi sudah sepenuhnya mengabaikan TV nya ketika mengatakan ini.
Sasuke memasang tampang berpikir. "Sebenarnya aku belum punya alasan. Tapi pneumonia terdengar keren. Pakai itu saja."
Itachi jawdrop. Tidak menyangka kalau kata-katanya begitu menginspirasi.
Sasuke berdiri, berniat untuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Tunggu!"
Sasuke menoleh dengan panggilan Itachi.
"Amaterasu belum pernah membatalkan konser. Kenapa?"
"Naruto mengajakku kencan."
"Ha? Dia bahkan bukan pacarmu! Dia tidak lebih penting daripada konser Amaterasu!"
Itachi meneruskan marah-marahnya tapi Sasuke tidak mendengarkan dan malah langsung masuk dan mengunci kamarnya—takut Itachi akan mengikutinya dan melarangnya pergi malam minggu ini.
Sementara itu Itachi sedang meremas rambutnya seolah itu akan menghilangkan sakit kepala yang menderanya saat ini. Kalau Sasuke mengatakan ini sejak seminggu yang lalu atau kapanpun yang bukan hari ini, mungkin Itachi tidak akan sepusing ini. Dua hari menjelang konser dan dia mengatakan batalkan dengan begitu mudahnya? Itachi benar-benar bingung sekarang. Amaterasu belum pernah membatalkan konser sebelumnya. Hujan badai pun, asal ada fans yang berdiri di depan panggung—meskipun cuma satu—Amaterasu akan tetap menjalankan konsernya. Tapi sekarang? Hanya karena ajakan kencan dari seseorang yang bahkan bukan pacar Sasuke? Oh, mendadak Itachi sangat membenci Naruto.
Dan di ruangannya, Sasuke sedang memandang foto dirinya bersama Naruto di perayaan kelulusan SMP mereka. Dan dia ingat kalau ternyata mereka sudah bersahabat sudah sejak sangat lama. Sedikit banyak membuat Sasuke memikirkan kata-kata Itachi barusan. Tapi selama ini mereka baik-baik saja, kan? Jadi Sasuke mengabaikannya lagi.
Keesokan harinya,
Sasuke melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Sepi. Dia tidak ingat kapan terakhir kali kelasnya sesepi ini. Bahkan ketika semua orang pundung dengan derita hidupnya, pasti ada satu orang yang selalu membuat suasana menjadi cerah. Tapi sepertinya hari ini matahari pun malas bersinar. (Ini hanya perumpamaan karena faktanya cuaca sedang cerah.)
Sasuke berjalan menuju tempat duduknya. Seperti biasa Naruto belum datang. Yeah, dia selalu muncul di depan kelas ketika bel masukk berbunyi. Sasuke menghampiri Gaara, sang ketua kelas, yang saat ini sedang pundung juga, berniat untuk bertanya ada apakah gerangan.
"Gaara? Ada apa sih?"
Gaara menoleh, "Hn, ada kabar Amaterasu bakal batal konser. Kau tau semua anak di kelas ini fans mereka kecuali Naruto."
"Kau juga? Menyesalinya?"
"Amaterasu? Iya. Naruto? Tidak peduli." Kata Gaara yang kemudian kembali pada kegiatan pundungnya yang sempat terganggu. Sasuke hanya mampu sweatdrop.
Sebenarnya apa si hebatnya Amaterasu? Masa begitu mereka batal konser efeknya bisa sampai seperti ini? Band itu hanya beranggotakan dua lelaki tampan dan seorang yang tidak pernah mau menujukkan wajahnya. Band itu hanya punya satu vokalis yang suaranya mampu membuat siapapun lupa akan semua beban hidupnya. Band itu hanya punya satu drummer yang mengatur beat dengan begitu baiknya sehingga tidak pernah ada yang bisa berhenti mendengarkan di tengah lagu mereka karena bosan. Band itu hanya punya satu basis misterius yang, okay, pekerjaan orang misterius adalah membuat orang penasaran, dan itulah yang dilakukan basis ini. Membuat penggemarnya penasaran bagaimana betotan bassnya selalu membuat lagu-lagu band itu begitu terdengar sempurna. Sepertinya band itu memang keren.
Sasuke memilih tidak peduli dan kembali ke tempat duduknya. Bersamaan dengan seseorang yang dengan tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Kemudian melaksanakan aksi pundung seperti halnya temen-teman sekelasnya yang lain.
"Dobe?" Sasuke bingung. Yang benar saja pemilik rambut pirang di sampingnya adalah Naruto. Ini baru 15 menit sebelum bel masuk.
"Aku sedang sedih, teme. Jangan menggangguku."
Sasuke memandang Naruto dengan semakin serius.
"Dan jangan menatapku dengan tatapan aneh seperti itu. Salahkan Toru yang tiba-tiba kena pneumonia dan membatalkan konser." Kali ini Naruto hanya berbisik. Sadar kalau begitu ada yang mendengarnya mereka akan melakukan tarian kemenangan dengan heboh.
"Sebenarnya siapa yang banci? Orang yang dengan lantang mengatakan apa yang disukainya, atau orang yang mampu mengendalikan dirinya dengan hebat sampai orang-orang tidak tau apa yang disembunyikannya?" Sasuke langsung mendengus setelah mengatakan kalimat yang panjang itu.
Kalimat panjang yang membuat Naruto menghentikan sesaat kepundungannya. Hanya untuk melihat Sasuke yang saat ini memilih untuk melihat pemandangan di luar jendela.
"Aku bukan banci, teme!"
Sasuke menoleh mendapati Naruto yang masih menatapnya.
Sasuke mendekatkan mulutnya ke telinga Naruto dan berbisik, "Bukannya seharusnya kau merasa beruntung karena dia membatalkan konsernya di saat kau tidak bisa datang?"
"Tapi dia sedang sakit…," Naruto menundukkan wajahnya dan menunjukkan ekspresi sedih yang tak ingin dilihat oleh siapapun.
"Dia tidak apa-apa." Sasuke mengacak rambut berantakan Naruto dan menatap pria bermata biru itu dengan lembut.
Naruto menghilangkan ekspresi sedihnya. Dia tidak perlu bertanya dari mana Sasuke tau. Karena dari segelintir pemegang rahasia Sasuke, Naruto adalah salah satunya. Intinya, hanya Naruto yang tau kalau Itachi yang notabene adalah kakak kandung Sasuke masih sering pulang ke rumah Sasuke, tidak seperti katanya di infotainment.
Kenapa Itachi muncul di infotainment? Harus selalu ada yang mengumumkan jadwal manggung Amaterasu, kan? Semenjak personel Amaterasu tidak akan bisa ditemui selain saat konser dan beberapa infotainment yang tarafnya sudah begitulah. Cara yang efektif untuk terhindar dari gossip.
Beberapa saat kemudian, bel berbunyi. Guru yang berkewajiban pun memasuki kelas Sasuke dan Naruto. Tapi bukannya menjalankan kewajibannya, dia malah ikutan pundung di meja guru.
Sasuke curiga guru tersebut juga salah seorang fans Amaterasu yang kecewa karena kebatalan konser Amaterasu. Entah kenapa Sasuke jadi ingin pundung juga. Hanya saja dia tidak punya alasan yang memadai untuk itu. Toh, Naruto sudah mengajaknya kencan akhir minggu ini. apa yang kurang dari itu?
(skip karena malas—pundung semua)
Bahkan sampai perjalanan pulang pun, suasana di seluruh kota masih gelap. Matahari memang bersinar cerah, tapi semua orang yang berlalu lalang seakan membawa mendung pribadi mereka. Tidak ada seorang pun yang terlihat bahagia. Naruto yang tadi sudah agak tenang dengan kata-kata Sasuke pun kembali memasang mendung pribadinya.
"Aku akan mentraktirmu makan ramen kalau itu bisa membuatmu menyingkirkan mendung sialan itu!" teriak Sasuke frustasi ke arah Naruto.
Naruto menoleh. Tapi bukannya sumringah seperti yang seharusnya, Naruto hanya melihat Sasuke dengan tatapan kososng seolah jiwanya tidak berada di tempatnya.
Dan seolah itu belum mampu menimbulkan perasaan bersalah pada Sasuke, Naruto hanya kembali melihat arah jalannya tanpa menjawab teriakan Sasuke. Pertanda kalau dia benar-benar sedang galau saat ini.
Merasa Naruto mungkin saja tidak akan menyadari adanya bahaya dalam keadaan seperti itu, akhirnya Sasuke memutuskan untuk tetap mengikuti anak itu. Kembali ke arah rumahnya setelah yakin Naruto masuk kedalam rumah meski tanpa kata.
Oh, apakah hanya Sasuke yang senang dengan dibatalkannya konser Amaterasu? Akhirnya perasaan bersalah itu menyususp juga dalam hati Sasuke dalam perjalanan pulangnya. Menyadari betapa dia membuat banyak orang bersedih karena keputusannya yang seenaknya.
Sebelumnya Toru tidak pernah egois, kan?
"Aniki, ganti konsernya hari selasa. Tempat yang sama dan tiket yang dipakai adalah tiket untuk besok. Tanpa birokrasi tambahan. Katakan saja dokter sudah menemukan obat yang tepat untuk Toru jadi dia sudah bisa menyanyi lagi hari selasa nanti." Kata Sasuke begitu di menemukan Itachi sedang pundung di depan laptopnya.
Seketika ekspresi Itachi berubah cerah. Ditambah background kembang api di belakangnya jika mungkin. "Jadi kau benar-benar menyayangi fans mu, ya?" Itachi pun menghambur dan memeluk adik kesayayangannya—satu-satunya—itu.
tbc
jadi, toru bukan oc. tapi she harap reader tetep pura-pura gak tau.
soal pneumonia, inspired by deryck whibley yang bikin batal konser sum 41 di aussy. bukan berarti she bakal liat kalo gak dibatalin si. tapi tetep aja, rasanya gak seneng kalo tau idola lagi sakit. jadi kepundungan fic ini semata-mata karena she pundung begitu tau deryck sakit… *pundung lagi begitu sadar fic nya terlalu pundung*
umm, review?
