The Broken Hero
Disclaimer: Kakakku, Higuchi Tachibana membolehkan aku untuk memilikinya :D
Pairing: Natsume H. dan Mikan S.
Rated: T
Genre: Romance, Adventure
Annyeonghaseyo. Konnichiwa. Aku datang lagi, nih dengan chapter ke-2. Semoga gak typo deh. Dan pemberitahuan, pemberitahuan, tidak hanya ada Natsume-Mikan tapi Ruka-Hotaru dan Koko-Sumire kok. Pokoknya baca dan review! No flame! Arigatou. Kamsahamnida. :)
Non-Alice.
Mikan Natsume forever.
Oke guys, selamat membaca :D
Chapter 2
"Suasana Gakuen Alice, sekolah bergengsi sedunia, telah kembali seperti semula setelah penyerangan dahsyat atas mereka beberapa hari yang lalu oleh makhluk-makhluk tidak dikenal." Suara dari layar transparan di kelas sepuluh-dua yang telah terhubung oleh semua chip di Gakuen Alice bergema. Layar yang semula menunjukkan seorang penyiar yang memakai mantel bulu kini berganti menjadi lingkungan Gakuen Alice yang terlihat lebih mewah daripada sebelumnya dengan pepohonan yang tetap seperti dulu.
"Saat ini, murid-murid Gakuen Alice merenovasi sekolah mereka secara bersama-sama serta melakukan upacara kematian bagi murid-murid yang tewas saat itu. Tidak terlihat hal yang mencurigakan saat ini. Semua kegiatan pembelajaran berjalan seperti biasa. Namun, sebuah rumor tak disangka mulai menyebar. Mikan Sakura, salah satu anggota patroli tingkat tinggilah yang merancang semua kerusakan ini, dan keberadaannya yang tidak diketahui malah menguatkan rumor tersebut. Kini beberapa—"
Piip. Tsubasa mematikan layar touch screen itu dengan seketika. Ia hanya terdiam sebentar dan kemudian menatap kedua temannya. Yaitu Misaki dan Ruka yang kini sudah tidak dapat berkata apa-apa.
"Kau lihat teman-teman kita yang lain?" tanyanya dengan nada mengancam.
"Mereka sudah tidak akan datang kembali ke Gakuen Alice. Kebanyakan karena mreeka tidak mau berurusan dengan masalah ini. Namun Anna dan Nonoko, mereka tidak dapat dilacak pula keberadaannya dan kemungkinan besar, mereka sedang mencari Mikan. Usami, Yura, dan Mochiage, mereka masih tidak dapat dipercaya karena terakhir kali mereka ada dalam pertarungan akhir tahun, mereka membantu pihak musuh. Dan Koko," Misaki menelan ludahnya penuh dengan kegugupan saat menyebut nama itu, "ia hampir membunuh Mikan dan please Tsubasa, aku percaya sepenuhnya pada Mikan bahwa ia kabur bukan karena ingin melarikan diri. Aku sangat mengenalnya, dia bukan tipe orang yang seperti itu." Dan Misaki kembali menangis, untuk kesekian kalinya sejak Mikan menghilang.
"Aku tahu, Misaki." Tsubasa menunduk, seolah ia bisa merasakan apa yang Misaki rasakan saat ini, sungguh-sungguh merasa kehilangan seorang teman. Sahabat. Orang yang selalu ada dan siap di sampingnya.
"Aku…" Misaki berkata di sela-sela tangisnya, "aku hanya takut kalau ia tidak selamat dalam perjalanannya. Apapun yang terjadi, kegagalan apapun yang akan ia hadapi, aku hanya dapat berharap dia tetap hidup." Tsubasa mengusap pelan rambut panjang Misaki untuk menenangkannya. Tapi kenyataannya tangisan Misaki semakin keras, ia tidak pernah sesedih ini sebelumnya.
"Misaki, aku juga berharap begitu. Selama ini dia selalu memberikan banyak pengorbanan untukku sehingga aku… dapat kembali seperti semula," ujar Tsubasa seraya memandangi kakinya yang dulu hampir lumpuh karena racun buatan keluarga Kagura. Mikan juga pernah menyadarkannya kembali saat pertarungan akhir tahun saat ia dimanfaatkan oleh pihak musuh dengan posisinya sebagai 'yang terpilih'.
"Gakuen Alice tidak akan mau ikut campur dalam masalah ini. Yang ada, mereka malah memberikan informasi sebanyak-banyaknya tentang Mikan dan membiarkannya ditangkap oleh personil keamanan dunia, atau Death Hawks, atau… Mouri," ujar Ruka dengan pandangan nanar lurus ke depan. Tangannya berkeringat dingin ketika ia membayangkan hal itu terjadi. Dan sudah tentu, ia tidak mungkin membiarkannya sahabat terbaik sepanjang hidupnya diperalat.
"Tono sudah berusaha meyakinkan para Mysticalist dan Defensionist untuk membantu melindunginya dan kelihatannya… Narumi-sensei mengambil peran utama dalam hal ini. Posisi Tono sebagai anak dari ketua yayasan sangat membantu dalam hal ini. Gakuen Alice juga tidak akan membiarkan informasi tentang mereka diexpose secara besar-besaran. Keamanan sekolah kita akan semakin terancam lagipula. Jadi, lebih baik kita fokus pada kondisi Mikan disana," balas Tsubasa dengan yakin.
"Aku hanya berharap pada Natsume untuk saat ini." Ruka meraih handphonenya, kemudian mengecek barangkali ada message atau telepon yang memberitahukan kondisi Mikan namun hal itu sia-sia. Dan ia memasukkan handphonenya kembali ke dalam kantung celananya.
"Natsume? Maksudmu… pemimpin keluarga Hyuuga yang sempat hadir di pertarungan akhir tahun itu?" tanya Misaki. Ia kemudian mengusap air matanya yang masih tersisa.
Warna mata Ruka sekilas berubah warna saat Misaki menyebut-nyebut nama orang yang selalu dibencinya itu. "Natsume datang kesini?" tanyanya dengan nada tak percaya.
"Yeah…" Misaki tersenyum getir, "dia yang membawa Mikan ke ruang kesehatan. Dan dia meninggalkan Mikan sebelum mengingatkanku agar menjaganya dengan hati-hati. Dia laki-laki yang baik dan perhatian." Dan satu kalimat terakhir Misaki sukses membuat kedua laki-laki yang bersama dirinya sekarang ini tercengang tak percaya. Namun Ruka dengan cepat merespon dengan cara mendengus kesal dan kemudian memakai hoodie juga mengambil pistolnya. Ia pun berlari meninggalkan mereka berdua.
"Hei, Tsubasa, apa Ruka punya perasaan khusus pada Mikan?" tanya Misaki dengan nada jahil. Dan Tsubasa hanya tertawa mendengarnya, memecahkan suasana ketegangan yang semula terbentuk di ruangan itu.
-The Broken Hero-
Perempuan berambut brunette itu berjalan dengan susah payah. Mata hazelnya kini telah berubah warna menjadi perak. Kedua kakinya telah dipenuhi goresan senjata tajam dan tetes demi tetes darah yang semula mengalir kini telah mengering karena waktu yang cukup lama telah ditempuhnya. Kedua tangannya hanya bisa terkulai lemas. Sekilas dari luar ia sudah tidak dapat dikenali lagi. Penampilannya yang buruk saat itu, rambut brunette yang selalu menarik perhatian orang lain, membuat orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan pandangan kasihan atau lebih tepatnya 'merendahkan'.
Dia hanya bisa berjalan dengan pandangan dingin ke arah depan. Tidak peduli orang yang ditemuinya, orang yang ia kenal atau tidak. Ia bahkan tidak mempunyai tujuan akan kemana ia sekarang. Kini ia tidak lagi mempunyai kekuatan untuk membalas serangan apapun yang ditujukan padanya karena ia telah lelah fisik maupun batin. Hal ini bukan berarti menandakan bahwa ia lemah, namun karena ia sudah tak sanggup berfikir lagi mana yang harus ia dahulukan, keselamatan dirinya atau perasaannya. Perempuan itu telah kalah dari perempuan yang malah sebenarnya beribu-ribu kali lemah daripada dia. Dia telah kalah dari Luna.
Mikan berhenti berjalan setelah ia sampai di salah satu perempatan di kota Ladimir, sehingga membuatnya kembali diperhatikan orang lain. Namun ia berbelok ke arah kiri dan berjalan lurus hingga ia berhenti di sebuah mansion. Mansion yang terlihat tua dari luar. Mansion itu besar dan tidak ada yang tahu bahwa sejarah mansion itu telah mengalami tak terhitung perjuangan.
Mansion itu dibangun oleh pemimpin awal keluarga Yukihira, Shiki Yukihira, seorang lelaki yang dulu dikenal dengan berbagai perjuangannya mempertahankan kebenaran. Tak pernah sekalipun ia berpaling ke arah kegelapan dan dengan cara itulah ia mendidik semua keturunannya. Semua keluarga Yukihira telah dianggap menjadi dewa pertarungan, tak peduli baik itu laki-laki atau perempuan. Hal ini dibuktikan oleh setiap pertarungan yang selalu dimenangkan oleh mereka. Sejak umur 4 tahun, keturunan keluarga Yukihira selalu dilatih. Entah itu bela diri, pengendalian senjata tajam, panahan, bahkan senjata api. Latihan yang memiliki tingkat yang paling tinggi adalah pengendalian pedang. Pedang dianggap benda yang fleksibel, dan dapat membunuh siapapun. Dan itulah kehebatan keluarga Yukihira. Kemahiran mereka dalam bertarung membuat mereka dihormati keluarga-keluarga bangsawan. Dan membuat keluarga itu dipercaya sebagai saudara baik keluarga Hyuuga.
Mikan hanya bisa menatap mansion milik keluarganya dengan sedih. Kini mansion itu sudah bukan milik keluarganya lagi. Mansion itu sudah diberikan kepada keluarga Hyuuga. Dan itu semua membuat ibundanya menghilang dan sudah tentu bersama sang ayah. Namun bukan hal itu yang menarik perhatian Mikan untuk sekarang ini.
Mansion yang selalu dibanggakan keluarga Yukihira kini telah resmi menjadi kediaman pribadi sang pemimpin muda keluarga Hyuuga, Natsume Hyuuga. Dan Mikan dapat melihat bahwa laki-laki itu sedang ada di 'rumahnya' karena sebuah mobil baru saja memasuki gerbang mansion tersebut. Matanya memandang nanar mobil itu. Ia tidak tahu apakah salah atau tidak jika ia membenci semuanya yang berkaitan dengan laki-laki itu. Seorang laki-laki yang membentuk banyak kenangan di masa kecilnya. Kenangan baik, bahkan kenangan buruk, semuanya dapat dipastikan masih tersimpan rapi di dalam memori otak Mikan. Namun, Mikan telah memutuskan bahwa ia akan melupakan segala hal yang berhubungan dengan laki-laki berparas tampan itu. Tapi… akankah ia bisa? Akankah ia mampu menghilangkan segala ingatan akan orang yang selama ini menjadi satu-satunya yang ia percaya?
Mikan menghela nafas berat saat pertanyaan itu terngiang kembali di pikirannya. Ia kini mencoba berjalan kembali, entah kemana. Ia sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi disana. Hujan deras yang baru saja turun tidak menghalangi langkahnya. Ia berjalan, terseok-seok, dengan penampilan yang ia sudah tak perdulikan lagi. Melihat raut wajahnya, tidak ada yang dapat menebak apa sebenarnya yang ada di pikiran perempuan dingin ini. Yang jelas, ia menggenggam sesuatu yang berharga di tangan kanannya. Bukan barang mahal memang, tapi barang yang memiliki sejarah yang amat panjang. Barang yang tidak akan rela ia berikan pada siapapun. Barang yang telah menghancurkan segalanya dan barang yang akan memulai segalanya.
-The Broken Hero-
Gelap. Itulah satu kata yang dapat mendeskripsikan ruangan itu. Tidak ada cahaya sedikitpun disana. Kini, hening. Sunyi senyap. Suara-suara bisikan menghilang seketika. Seolah suara-suara itu takut akan ada yang dapat mendengar pembicaraan serius mereka. Kala itu, dapat terlihat dari balik jendela, bulan purnama sudah tak lagi tertutup awan, membuat sedikit ada penerangan. Suara raungan serigala bersahut-sahutan semakin terdengar jelas. Angin malam yang dingin menusuk kulit beberapa orang yang ada dalam ruangan tersebut. Namun, mereka sama sekali tidak takut akan itu.
Si pemimpin menyalakan dua belas lilin di sekitar mereka dan perlahan wajah mereka terlihat satu persatu. Dan mereka bukanlah para cenayang yang kemudian membaca mantra-mantra, tapi mereka mulai membicarakan sesuatu. Sesuatu inilah yang dirahasiakan karena salah-salah rahasia ini terbongkar, mereka dapat hancur selamanya.
"Gadis kutukan sedang bimbang. Aku yakin dia akan segera memilih perasaannya dibanding keselamatan dunia. Dan dengan ini dia tidak akan lagi dicap sebagai dewa pertarungan," ujar salah seorang di antara mereka.
"Kau terlalu yakin, Kitsu." Youichi kemudian tertawa meremehkan dan berkata kembali. "Gadis kutukan memang belum memutuskan pilihan. Tapi bukan berarti dia akan selamanya lemah. Untuk itu, kita harus membuat rencana lagi untuk mempercepat tujuan utama kita. Dan pertama-tama kita harus dapatkan dia."
Rei, si pemimpin, hanya bisa mendengus kesal saat mendengar adik sepupunya berkata seperti itu. "Youichi, kata-katamu benar, namun kita juga jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Kita tidak akan berbuat banyak sampai kita tahu lebih banyak masa lalunya," komentar laki-laki dengan bola mata berwarna kehijauan itu. (Peace! Author pengen warna mata Rei alias Persona, hijau. Karena… ehm, karena… author gak tau warna matanya Persona ToT #backtostory) Youichi menyetujuinya dengan cara mengangguk saja sampai dia kembali terlonjak tanpa alasan yang tidak diketahui. Mata dari salah satu putra kebanggaan Serio itu berkilat-kilat jahat. Dan dengan raut bengis dia berkata dengan penuh percaya diri,
"Koko, akan membuat rencana kita sempurna."
-The Broken Hero-
Sumire Shouda, atau yang akrab dipanggil Permy (Permy: Author! Kau panggil aku permy sekali lagi kubunuh kau!, Author: #likeIcare), berjalan menyusuri tengah kota Ladimir dengan menyandang tasnya di bahu, layaknya seperti seorang laki-laki. Namun rambutnya yang panjang dan sering dikuncir kuda itulah yang membedakan gendernya.
(Memang pada cerita asli, Sumire mempunyai rambut sebahu dan keriting, tapi di cerita ini kubuat beda. POOOF!)
Shouda adalah keluarga biasa di tengah padatnya kehidupan Russia. Biarpun begitu, mereka cukup dikenal di Ladimir sebagai salah satu pendukung pemerintah yang baik, karena paman Sumire adalah salah satu anggota parlemen. Keluarga Sumire sendiri adalah pemilik sebuah hotel yang sangat sering dikunjungi oleh wisatawan, di samping harganya yang tidak mahal, gedung dan pelayanan yang berkualitas adalah salah satu daya tariknya. Gadis itu sendiri, adalah seorang perempuan yang agak kasar. Dia tidak jarang terlibat dalam perkelahian di sekolah. Namun Sumire sebenarnya adalah perempuan yang ceria. Ia juga menyukai hal yang berbau perempuan terkadang. Ia sewaktu-waktu dapat menggosip untuk hal-hal yang tidak penting layaknya perempuan pada umumnya. Tapi sisi laki-laki Sumire tidak akan pernah hilang apalagi keluarga Shouda tidak ambil pusing akan hal itu.
Sumire bersenandung ria sebentar dan kemudian berbelok ke arah sebuah gang kecil, dimana ia biasa memotong jalan untuk sampai ke rumahnya. Jalan itu selalu sepi sebelumnya. Namun hari ini, ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Bau anyir yang ia definisikan sebagai bau darah menusuk indera penciumannya dan ia dapat menebak bahwa sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Sumire berlari ke arah sumber bau sampai langkahnya terhenti segera saat seseorang menghadangnya. Orang tersebut memakai goggle dan jaket hitam dengan pistol yang terarah tepat ke keningnya sehingga ia bergerak mundur. Mata hitamnya mengerjap-ngerjap kaget terlebih saat ia menyadari bahwa tidak hanya orang itu yang ada disana. Tiga orang dengan pakaian sama mengepung seorang gadis berambut panjang berwarna brunette. Gadis itu tidak terlihat dalam kondisi yang menguntungkan. Sumire dapat melihat dari pakaiannya yang telah terlumuri oleh darah dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Gadis dengan bola mata berwarna abu-abu itu sedang menatap ketiga orang yang mengepungnya dengan tatapan dingin. Dan dengan waktu kurang dari satu detik, tiga pasang kunai tergenggam di kedua tangannya. Salah satu dari orang-orang tersebut menyerang gadis itu dengan pedang kecil yang ia genggam.
"HENTIKAN!" teriak Sumire spontan. Dan dalam sekejap sebuah benda tajam menggores tangannya dan membuat ia terjatuh. Sumire menyerngit kesakitan. Ia kemudian melihat mata gadis itu berkilat-kilat penuh amarah. Sumire tahu, bukan gadis itu yang melukainya, tapi salah satu dari orang-orang jahat itu.
"Sudah kukatakan. Jangan buat aku marah!" Gadis itu meraih sebuah pedang berwarna perak dari kantung yang melekat di celana yang ia pakai dan segera menebas ketiga orang di depannya tanpa basa-basi. Ketiga orang itu tewas seketika dengan darah yang tidak berhenti mengalir dari tubuh mereka. Namun itu malah memunculkan seringai kecil dari bibir gadis itu. Pandangannya kini beralih pada orang yang tadi menodongkan pistolnya ke arah Sumire. Dan ia mengisyaratkan orang itu untuk pergi dengan sekali tatapan. Orang itu berlari tanpa berpikir apapun lagi. Sumire menatap kepergian orang itu dengan pandangan kebencian dan ia segera berbalik hanya untuk melihat, tubuh gadis itu telah tergeletak tidak berdaya.
To Be Continued.
Gimana? Gimana? Saran dan kritik yah, jangan lupa. Trims juga buat yang udah baca. I appreciate it :D
