Disclaimer © Tite kubo
(Bleach bukan punya saya)
.*.
Our Love
by
Ann
.*.
Peringatan : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s), Gaje (Silakan berpendapat sendiri),
Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...
selamat menikmati.
.*.
Bab II
Stupid Plan (?)
.*.
Rangkaian kata itu tak akan pernah kauucapkan, bukan?
Lalu mengapa kau tak suka ketika ada orang lain yang mengatakannya?
.*.
Ichigo berharap dirinya berada di dapur kediaman Kuchiki di Hampshire sekarang, menghangatkan diri dengan secangkir kopi hitam pekat dan biskuit madu yang baru selesai dipanggang buatan Mrs. Hunt, seorang kepala koki yang sudah bekerja pada keluarga Kuchiki bahkan sebelum Ichigo datang ke rumah itu. Mrs. Hunt akan meletakkan sepiring biskuit dan roti lapis tuna atau mentega, lalu memaksa Ichigo menghabiskan seluruh isi piring itu sampai perutnya kembung karena kekenyangan. Wanita itu berusaha keras menggemukkan Ichigo, namun sayangnya usaha keras dan segala omelannya tak kunjung menjadikan Ichigo gemuk, tapi Mrs. Hunt cukup berhasil membuatnya tinggi. Alih-alih menyesap kopi panas pahit favoritnya, Ichigo justru berderap di atas kuda betina putih untuk mencari keberadaan sang nona.
Dua hari ini Ichigo sudah berkejaran dengan waktu. Pertama saat ia mendapat kabar bahwa Rukia akan pergi ke pesta rumah Lady Crane tanpa didampingi kakak laki-lakinya, Byakuya, yang tengah berada di Paris untuk urusan bisnis. Dengan tergesa ditinggalkannya semua pekerjaan di Hampshire dan menaiki kereta menuju London. Lalu di pagi harinya, dua jam setelah ia mencapai kediaman Kuchiki di London, sekali lagi ia harus berlomba dengan waktu. Alasannya tetap sama, yakni seorang gadis yang sudah dikenalnya hampir di seluruh kehidupannya, Rukia Kuchiki. Namun, kali ini masalah yang ditimbulkan gadis itu berkali lipat lebih gawat dari masalah-masalah di masa lalu yang pernah melibatkannya. Ini bukan soal pergi berkuda atau memancing di malam hari yang sering mereka lakukan secara diam-diam, atau belajar naik pohon yang membuat tangan Rukia patah dan harus istirahat penuh selama tiga hari, atau menyelinap pergi bersama karavan gipsi selama seminggu penuh, yang membuat mereka berdua harus menghadapi kemurkaan Byakuya. Masalah kali ini akan menghancurkan hidup Rukia, yang berarti akan menghancurkan hidup Ichigo juga.
Berulang kali di sepanjang perjalanan Ichigo mengutuk kekeraskepalaan─kebodohan─Rukia. Rukia adalah gadis cerdas dengan pemikiran yang sangat logis. Gadis itu akan memikirkan segala aspek sebelum melakukan sesuatu, tetapi sepertinya London atau mungkin─bagian ini tak ingin Ichigo akui─pesona Mr. Abarai mengikis pemikiran logis Rukia. Membuat gadis itu mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya dengan cara yang paling gila. Rukia menaiki kereta bersama Renji Abarai menuju ke arah utara, melewati North Road, dan sudah jelas tujuan mereka memang Gretna Green, seperti yang dikatakan seorang pelayan pria─yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Abarai dan kusirnya sesaat sebelum kereta berangkat─kepada Ichigo. Gretna Green adalah sebuah desa di selatan Skotlandia yang terkenal sebagai tempat kawin lari. Desa itu biasanya didatangi oleh pasangan yang ingin menikah dengan cepat tanpa persetujuan dari keluarga. Abarai berencana menikahi Rukia di sana, dengan acara pernikahan kilat yang akan mempermalukan keluarga Kuchiki di seluruh London, bahkan mungkin di seluruh Inggris.
Pernikahan adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan benar, diputuskan melalui pemikiran matang dan dengan perundingan keluarga. Pernikahan bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa dan dalam waktu singkat, dan yang jelas tak boleh dilakukan di tempat yang tidak memiliki otoritas untuk melakukannya. Seharusnya Rukia memikirkan semua itu dengan baik, tetapi entah apa yang merasuki pikirannya sehingga gadis itu dapat melakukan tindakan tersebut tanpa pikir panjang. Mungkin keputusan bodoh itu diambil bukan karena ada yang merasuki pikirannya, tetapi karena ada yang mendorongnya, memojokkan Rukia hingga ke tepi jurang, dan akhirnya gadis itu memilih untuk melompat. Dan orang itu adalah Ichigo.
Rukia jelas marah kepada Ichigo karena ia tak mau mengakui perasaannya dan membiarkan pernikahan mengikat mereka selamanya. Rukia begitu marah dan sakit hati sehingga mengambil siapa saja yang bersedia untuk membawanya ke depan pendeta, kebetulan yang muncul di depannya adalah Renji Abarai yang dengan senang hati akan menjadikan Rukia istrinya. Tentu saja pria itu akan sangat bersedia, mengingat dirinya sudah mengejar Rukia selama berbulan-bulan. Pria bodoh itu sama sekali tidak memikirkan konsekuensi dari tindakannya.
"Sialan!" Umpatan itu Ichigo lontarkan bersamaan dengan derap kuda yang semakin mengencang.
.*.
Salju turun semakin lebat, membuat Ichigo hampir tak bisa melihat apa-apa dalam jarak lebih dari lima meter. Namun, ia memaksakan diri untuk bergerak, membelah salju yang memutih. Lima belas menit kemudian Ichigo menemukannya, lebih tepatnya menemukan kereta yang setengah badannya berada di selokan dengan satu roda yang patah. Jantung Ichigo terasa direnggut ketika ia menyadari pintu kereta telah menghilang, meninggalkan lubang besar yang memperlihatkan bagian dalam kereta yang kosong. Ichigo memacu kudanya mendekat sembari mencari-cari sosok mungil yang seharusnya duduk nyaman di dalam kereta.
Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja. Jika tidak aku akan ...
Ichigo bahkan tak tahu apa yang akan ia lakukan jika mendapati sesuatu yang buruk terjadi pada Rukia. Yang ia tahu adalah bahwa sekarang ia harus menemukan Rukia dalam keadaan baik-baik saja.
"Rukia!" Ia meneriakkan nama itu seperti orang gila, berharap mendapat sahutan. Namun yang terdengar hanya suara angin di telinganya.
"RUKIA!" Sekali lagi ia meneriakkan nama sang gadis. Ketakutan menelusup ke dalam rongga dadanya tanpa bisa Ichigo hentikan. Menyesakkan. Berbagai skenario buruk memasuki pikirannya, memperburuk keadaan diri yang tengah kalut.
"RUKIAAA!" Nama itu terlontar sekali lagi dari mulutnya. Ia hampir putus asa ketika sayup-sayup dirinya mendengar suara. Ichigo memutar kepalanya ke kanan dan kiri dengan cepat, mencari asal suara. Akhirnya ia menemukannya. Ichigo membawa kudanya mendekat, melompat turun bahkan sebelum kudanya benar-benar berhenti.
"Terima kasih, Tuhan." Ia memeluk tubuh mungil itu sembari mengucap rasa syukur berulang-ulang.
.*.
Rukia tidak berhalusinasi. Ia terlalu sadar untuk dapat bermimpi sekarang. Tubuh hangat yang memeluknya adalah nyata. Ichigo memang benar-benar datang untuknya.
"Apa yang terjadi?" Kehangatan itu menghilang saat Ichigo melepaskannya. Rukia merapatkan mantelnya, berusaha menghalau dingin yang menggigit. "Rukia?" Pria itu mencengkeram lengannya, sedikit mengguncang agar ia berbicara. Dengan terbata Rukia berusaha memberi penjelasan singkat, dibantu oleh sais kereta, sedang Renji masih bersandar di batang pohon dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Biarkan saja dia membeku." Ichigo berkata melalui rahangnya yang terkatup erat, matanya memandang pria berambut merah itu dengan jijik. Menurut Rukia Ichigo pasti akan meninju Renji, andai saja pria itu sadar. Tapi mungkin Ichigo akan menyimpan tinjunya untuk nanti.
Dengan mudah Ichigo memahami dan mengambil alih situasi. Ia memberi beberapa intruksi kepada sais kereta, yang mengangguk-angguk setuju.
"Ayo." Pria itu menarik Rukia.
"Ke mana?" Rukia memandangnya bingung. "Apa kita akan pulang?" Memikirkan mereka akan menunggang kuda dalam cuaca seburuk ini dengan jarak berjam-jam perjalanan membuat Rukia begidik.
"Di depan sana ada losmen, aku akan mengamankanmu di sana."
"Tapi bagaimana dengan Renji, dan sais itu, lalu kuda-kudanya?"
"Si bodoh itu akan baik-baik saja. Sayangnya dia tidak akan mati dengan mudah, atau Tuhan sengaja memberiku kesempatan untuk menghajarnya nanti." Rukia meringis, kata-kata itu jelas mengacu pada Renji. "Albert akan menjaganya serta kuda-kuda itu selama kita pergi ke losmen terdekat dan meminta bantuan."
Albert? Bahkan dalam waktu singkat Ichigo sudah berkenalan dengan sais kereta. Sungguh kemampuan yang tak akan bisa Rukia miliki.
"Sekarang waktunya pergi, kau butuh duduk di depan perapian dan semangkuk sup hangat." Sebelum Rukia dapat menjawab, Ichigo mengangkat tubuhnya dengan mudah dan menaikkannya ke atas pelana, kemudian berayun naik di belakangnya. Tangan-tangan besar Ichigo merapatkan kerah mantel Rukia di bagian leher, mengeratkan ikatannya, lalu lengan-lengan kokoh pria itu mengelilingi tubuhnya, memberinya kehangatan dalam udara dingin yang nyaris membekukan.
Menit-menit berlalu tanpa suara dari mereka berdua. Hanya langkah-langkah kuda dalam derap konstan berirama yang terdengar, bersama suara angin yang kembali menggila. Rukia tahu pria yang bersamanya kini sedang menahan amarah, sebab ia dapat mendengar gemeretak rahang yang menyatu. Ichigo memang seringkali marah, tetapi yang kali ini sepertinya lebih dari biasanya, dan Rukia tak tahu apakah ia bisa menghadapinya atau tidak. Yang jelas untuk menghadapi kemarahan pria itu, ia harus tahu apa yang menyebabkan kemarahan itu begitu besar. Well, ia memang melakukan kebodohan dengan bepergian di tengah hujan salju─yang menyebabkannya hampir berpindah ke alam lain─tetapi saat ia berangkat salju belum turun sama sekali, dan dirinya bukan ahli cuaca yang bisa menebak kapan hujan akan turun atau tidak. Kemarahan itu pasti berkaitan dengan rencana Renji, sayangnya Rukia tidak tahu secara penuh rencana kawan seperjalanannya itu. Jika tahu, mungkin ia bisa menebak.
"Tapi kita harus bergerak cepat, jika ingin membuatnya benar-benar kehilangan kesabaran."
Yah, sepertinya Renji cukup berhasil dengan rencananya itu. Hanya saja, sekarang Rukia sendirian untuk menghadapi kemarahan Ichigo, sementara orang yang mengusulkan rencana ini mungkin tengah larut dalam mimpinya─pingsan lebih tepatnya.
Desah tertahan keluar dari mulut Rukia, setidaknya Ichigo akan menunggu mereka sampai di tempat yang hangat sebelum meluapkan semua kemarahannya. Bisa lebih lama lagi jika Rukia bisa mengulur-ulur waktu.
.*.
Gambaran samar bangunan tampak melalui salju. Dengan lega, Ichigo memacu kudanya, dan tak lama mereka berderap melewati pintu gerbang batu dan memasuki halaman. Bangunan berlantai dua itu terlihat nyaman, jendela yang berkabut ditutupi tirai berenda putih, sementara asap putih yang menyambut membumbung dari setiap cerobong.
Ichigo berayun turun ketika melihat si pengurus kuda berlari-lari dari kandang, dan menurunkan Rukia. Dalam waktu singkat mereka sudah berada di dalam salah satu ruangan losmen itu. Setelah menempatkan Rukia di depan perapian yang hangat, memastikan ia menyesap setengah dari isi cangkir teh panas di tangannya yang nyaris membeku. Ichigo berhasil membuat Mr. Urahara, pemilik losmen, dan pengurus kudanya pergi untuk menjemput Renji dan sais kereta, serta membawa kuda dan koper-koper mereka. Ichigo menceritakan kisahnya kepada Mrs. Urahara, istri pemilik losmen yang cantik meski berkulit gelap dengan rambut berwarna hitam keunguan, sebuah kisah rekaan tentang dirinya dan sepupu-sepupunya─Rukia dan Renji─yang tengah dalam perjalanan ke kediaman Lady Crane untuk bergabung dalam pesta rumah sang Lady.
Rukia mengernyit mendengar kisah bualan itu, sempat membuka mulut untuk menyela, namun urung setelah melihat tatapan mengancam dari Ichigo. Kemudian ia semakin bisu saat Mrs. Urahara berkata, "Itu sangat melegakan, tentunya. Mr. Urahara dan aku tidak ingin menolak tamu, terutama di cuaca seperti ini, tapi kami juga tidak akan mendukung pasangan kawin lari yang menggunakan jalan ini."
Rukia mengerutkan dahi. "Kenapa pasangan kawin lari menggunakan jalan ini?"
"Astaga, Nak! Tentu kau pernah mendengar tentang Gretna Green? Semua pasangan kawin lari ingin ke North Road!"
"Tentu saja aku pernah mendengar tentang Gretna Green, tapi ini bukan─" Tatapan Rukia tertumbuk pada mata madu Ichigo, dan pria itu mengisyaratkan bahwa dirinya tahu tentang tujuan Rukia.
North Road? Rukia tidak pernah ingin menuju ke sana. Well, sebenarnya ia tak terlalu memikirkan tujuannya atau memerhatikan jalanan. Ketika berangkat ia sedang marah sehingga perhatiannya teralihkan. Ia sama sekali tidak memerhatikan bahwa kereta yang membawanya menyeberang ke North Road. Tapi kenapa Renji─
"Jika ingin mendapatkannya kau harus melakukan cara ekstrem, Rukia."
Klik! Semua kini menjadi jelas. Cara ekstrem yang dimaksud Renji adalah perjalanan untuk melakukan pernikahan kilat di Gretna Green. Ini memperjelas alasan dari kemarahan pria itu yang sampai ke ubun-ubun. Rencananya memang terlalu ekstrem tetapi ternyata ampuh juga. Satu hal yang pasti dari semua kekacauan yang terjadi ini adalah Ichigo peduli padanya, dan hanya butuh sedikit dorongan lagi untuk membuat pria itu mengakui perasaannya. Renji sudah melakukan bagiannya dengan baik, sekarang giliran Rukia memainkan peranannya.
"Miss, apa kau baik-baik saja?" Mrs. Urahara memandang Rukia dengan kekhawatiran khas seorang ibu.
Untuk sesaat rasanya Rukia ingin memeluk wanita itu dan menangis di pangkuannya, mengadukan semua ketidakadilan yang telah dilakukan Ichigo kepadanya. Tetapi ia menepis keinginan itu dan menjawab dengan sopan. "Entahlah. Aku hanya mengkhawatirkan tunanganku."
Kedua manusia lain di ruangan itu menatap dirinya, satu dengan sorot ingin tahu, dan seorang lagi dengan amarah yang menggelegak. Rukia ingin bertepuk tangan saat melihat mata madu Ichigo menggelap dan keningnya berkerut-kerut. Ah, ini akan berhasil. Entah bagaimana caranya Rukia tahu rencananya akan berhasil.
"Tunangan? Kau pergi bersama tunanganmu? Apakah dia─"
Rukia tersenyum tipis, matanya melirik Ichigo, ingin tahu bagaimana reaksinya. "Ya, orang yang sedang dijemput Mr. Urahara adalah tunanganku. Kami akan segera menikah, tetapi bukan di Gretna Green. Kakakku akan mengatur pernikahan kami sekembalinya dia dari Paris. Sebuah upacara yang sah." Senyumnya menjadi lebih lebar saat dilihatnya Ichigo bersidekap dan menatap tajam dirinya.
"Itu sangat menyenangkan, dan pastinya akan menjadi pesta yang besar." Mrs. Urahara berkata sembari memerhatikan pakaian yang dikenakan Rukia; mantel bulu cerpelai, sarung tangan dari bulu rusa yang lembut, dan gaun berbahan beledu. Jelas wanita itu tahu bahwa Rukia berasal dari keluarga yang berada.
"Sebenarnya tidak, Mrs. Urahara. Kami berencana mengadakan upacara sederhana di Hampshire, yang dihadiri keluarga dekat saja. Aku tidak terlalu menyukai pesta, ya kan, Ichi─maksudku Mr. Kurosaki?"
Ichigo tersentak. Terkejut karena tiba-tiba dilibatkan dalam obrolan. "Ya, kau memang tidak suka." Pria itu menjawab setelah beberapa saat, dengan mata yang masih mengarah ke Rukia.
"Kurasa hubungan kalian sangat dekat," ujar Mrs. Urahara.
"Hubungan yang pelik." Rukia mendengar Ichigo menggumam.
"Maaf?" tanya Mrs. Urahara yang tak dapat mendengar dengan jelas karena duduk cukup jauh dari Ichigo.
"Bukan apa-apa, Mrs. Urahara. Bukan apa-apa," kata Ichigo.
"Tetapi aku─"
"Dia bilang hubungan kami sangat dekat, bahkan seringkali orang salah mengira kami sebagai kekasih," sela Rukia.
"Kita tidak seperti itu," sergah Ichigo.
"Tentu saja kau akan membantah dengan tegas, seperti biasanya," sahut Rukia tak acuh. Ia tak punya waktu untuk sakit hati dengan ucapan Ichigo─paling tidak ia tidak akan memperlihatkan rasa sakit itu sekarang.
"Sebenarnya saat melihat kalian datang tadi, aku pun berpikiran seperti itu," ujar Mrs. Urahara.
Ichigo menatap Mrs. Urahara tanpa berkedip sementara Rukia tampak begitu tertarik. "Benarkah?" ujarnya antusias. "Apakah menurutmu kami seperti pasangan kekasih?"
Mrs. Urahara menggeleng pelan. Rukia sedikit kecewa, tetapi kalimat lanjutan wanita itu membuat wajahnya semerah apel matang. "Kalian terlihat seperti pasangan suami-istri."
Dari sudut matanya Rukia melihat Ichigo siap melontarkan tanggapan, beruntung suara keributan terdengar di halaman losmen. Mereka segera melangkah ke jendela. Sebuah kereta ditarik masuk. Mr. Uruhara yang terbalut pakaian hangat mengendalikan kuda di depan dengan Renji di sampingnya. Si pengurus kuda bersama sais kereta duduk di belakang bersama koper-koper, masing-masing memegangi tali kekang kuda kereta yang terpincang-pincang.
Jemari Ichigo mengepal saat melihat Renji, Rukia meraihnya dengan kedua tangan, membuka kepalan itu, sebuah isyarat agar kemarahan itu segera diredakan. "Please." Gadis itu berucap lirih.
Mrs. Urahara membuka pintu sementara Mr. Urahara membantu Renji turun dari kereta. Kaki Renji tertekuk saat turun dari kursinya, dan untunglah ada Mr. Urahara yang menangkapnya. Seandainya itu Ichigo, ia tidak akan repot-repot melakukannya.
"Bawa pemuda itu ke sini!" Mrs. Urahara memerintah. Suaminya dengan patuh mengangkat Renji dan menggendongnya masuk.
Mrs. Urahara terburu-buru membanting pintu menutup, menghalangi udara dingin. "Ya Tuhan, pemuda ini kelihatan beku!" Ia menyiapkan kursi di sebelah perapian. "Dan kepalanya! Astaga luka itu parah."
"Tidak separah yang terlihat, Nyonya." Renji berhasil memberi jawaban meski sambil meringis kesakitan. "Bisa kau memberiku sesuatu yang hangat? Aku kedinginan."
"Tentu!" Mrs. Urahara segera mengisi cangkir dengan teh dan memberikannya pada Renji.
"Terima kasih," ucap Renji setelah menghabiskan seluruh isi cangkir dan meminta cangkir kedua.
"Kau beruntung masih hidup," kata Ichigo dengan nada sinis yang memenuhi suaranya.
Di telinga Rukia itu terdengar seperti: "Beruntung aku masih bisa menghajarmu."
Kemudian pria itu beralih topik dengan menanyakan keadaan sais dan kuda-kuda kereta.
"Terlalu dipaksakan," Mr. Urahara menjawab. "Mereka akan baik-baik saja setelah istirahat dan diberi makanan yang tepat."
"Campuran kulit padi, barley, gandum, dan madu akan bagus untuk makanan kuda yang lelah. Akan mengembalikan stamina dengan cepat," kata Ichigo.
"Aku memikirkan campuran yang sama, Mr. ..."
"Kurosaki, namaku Ichigo Kurosaki, dan mereka adalah sepupuku, Rukia Kuchiki dan Renji Abarai." Ichigo memperkenalkan diri.
"Mereka berdua sepupumu?"
"Tunangan lebih tepatnya," Rukia menyela dengan segera.
"Kau tunangan Mr. Kurosaki?" Mr. Urahara menatap Rukia penuh minat. "Kuharap kalian tidak sedang menuju tempat itu. Kalau iya aku akan menendang kalian keluar dari sini."
Rukia memucat, dan Ichigo sudah siap dengan pembelaannya, tetapi Mrs. Urahara lebih cepat dari pria itu. "Kau salah, Suamiku. Miss Kuchiki adalah tunangan Mr. Abarai, Mr. Kurosaki hanyalah sepupunya, dan mereka sedang menuju tempat lain, rumah pedesaan Lady Crane─kalau aku tidak sala─tapi karena jalanan yang tertutup salju mereka salah berbelok dan malah masuk ke North Road. Mereka sama sekali tidak sedang menuju tempat itu. Lagipula ada dua pria dan satu wanita di sini, tidak mungkin mereka berencana pergi ke sana bertiga."
"Ah, begitu. Syukurlah," ujar Mr. Urahara sambil mempererat syal di sekeliling lehernya. "Baiklah, kalau begitu aku akan memeriksa kuda-kuda, dan memastikan barang-barang kalian di bawa masuk."
"Aku akan membantumu." Ichigo mengajukan diri. Terlihat jelas ia ingin segera keluar dari ruangan ini.
Pengurus losmen mengangguk. Mereka pergi, suara sepatu bot bergema di lorong berpadu dengan obrolan dengan suara pelan. Sebelum pintu tertutup sempurna Rukia sempat mendengar Mr. Urahara berkata, "Kukira dia tunanganmu." Yang dijawab Ichigo dengan ketus, "Tidak."
"Aku akan membuatkan pembalut kepala dari chamomile dan menyiapkan teh laudanum untuk Mr. Abarai," kata Mrs. Urahara, "Apa kaubisa mengurusnya sendiri selama aku pergi?"
Rukia mengangguk. Lalu Mrs. Urahara menghilang.
"Nah, Rukia, sejak kapan kita bertunangan?" tanya Renji geli. Dalam kondisinya yang cukup parah pria itu ternyata masih bisa bercanda.
Rukia bersedekap. Matanya menyipit ke arah Renji. "Aku hanya berimprovisasi, mencoba mengikuti alur yang kaubuat."
Renji meringis. "Dari kata-katamu, aku tahu kau sudah tahu rencanaku."
"Itu rencana bodoh, Renji!" omelnya. "Juga sangat berisiko. Bagaimana kalau─"
"Tapi berhasil, bukan? Dia mengejarmu sampai ke sini, itu membuktikan kalau dia peduli."
Senyum Rukia terbit saat mengingat reaksi Ichigo. "Dia memang selalu peduli padaku, hanya saja ..." Rukia mengangkat bahu.
"Dia jelas mencintaimu, dia cuma terlalu pengecut untuk mengakuinya," kata Renji. "Bisakah kau memberikanku teh lagi, Rukia? Dan biskuit itu, aku mulai lapar."
Rukia bergerak ke meja, menuangkan teh yang mulai dingin dan membawakan piring biskuit. "Apa sangat sakit?" tanyanya khawatir.
"Tak masalah." Renji mengambil satu biskuit dan mulai makan, menelannya dengan bantuan teh. "Justru aku yang harus bertanya, apa kau baik-baik saja?"
"Sebaik yang kaulihat," ujar Rukia, "Setidaknya di permukaan."
"Sebentar lagi kau akan baik luar-dalam," kata Renji.
Rukia memandangnya dengan bingung.
"Improvisasimu sangat bagus, Sayang. Kita tinggal membuat suasana lebih panas lagi."
Astaga! Lebih panas dari ini? Bisa-bisa Ichigo meledak. Tapi tak apa, biarlah kali ini ia─mereka─akan membuat Ichigo mengeluarkan asap dari kepalanya.
.*.
Bersambung ...
.*.
Review's review:
Tiwie ichiru
Hai, Tiwie, makasih dah mampir ya.
Yup. Ichigo jaim pake banget, terpaksa Rukia harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kejaimannya.
Eh? Kok Renjinya ditinju?
Udah lanjut nih, Sayang. Jangan lupa mampir lagi ya.
Baramjji
Maaf, itu salah ketik. Maksudnya madu bukan hijau.
Udah lanjut nih. Saya buat 3 fic western, tenang aja.
Makasih dah RnR ya.
Arya u dragneel
Salam, Arya. Makasih dah mampir di fanfik saya.
Yup. Saya juga suka, biasanya sih baca historical romance atau nonton film-film bersetting era victorian, kebanyakan yang genre-nya romance sih.
Guestguest
Halo, makasih dah RnR ya.
Yah, mau gimana lagi sekarang fanfik IR jarang yang bikin sih.
Iya, katanya Bleach bakal ada LA-nya. Saya nggak terlalu ngikutin perkembangannya sih, soalnya udah males. Wkwkwk ...
Permen Lemon
Namamu unik ya, salam kenal. Kayaknya ini kali pertama saya balas review kamu.
Saya ucapin terima kasih sudah mereview beberapa fanfik OS saya, maaf saya nggak bisa balas langsung di masing-masing fanfik, karena kamu review tanpa akun. Hehe ...
Makasih pujiannya, saya masih dalam tahap belajar (dan selamanya akan tetap begitu).
Ala disney ya? Maklumlah saya emang suka nonton film-film disney. :3
Ryuuki
Hai, Ryuuki. Makasih dah RnR ya.
Iya, malu tapi mau tuh dia.
Babon kan rada oon, makanya begono. :v
Udah diupdate nih, jangan lupa mampir lagi ya.
Makasih semangatnya.
.*.
Bab II update! Hola, Minna-san. Apa kabar? Senang bisa menyapa kalian lagi. Jangan bosan sama saya ya. Tapi kalau bosan, silakan arahkan kursor ke sudut kanan atas dan klik tombol silang (x).
Hum, di bab ini udah terlihat rencana Renji sebenarnya. Jadi, dia bener-bener niat membantu Rukia untuk membuat Ichigo mengakui cintanya. Tapi caranya terlalu nekad dan sedikit bodoh. Wkwkwk ...
Oke, sampai jumpa di bab berikutnya, kita akan lihat bagaimana Rukia membuat kepala Ichigo mengeluarkan asap karena marah, eh, cemburu. Terima kasih sudah membaca bab ini dan maaf apabila masih banyak kekurangan di dalamnya.
See ya,
Ann *-*
