"Oh? Lalu setelahnya?" tanya Fran datar sembari memasukkan sejumput nasi dengan sumpitnya.
Mammon mendengus mendengar balasan saudaranya. "Kalau kau tak niat mendengarkan, lebih baik kupendam saja ceritaku barusan," decihnya.
"Hee. Tapi aku sungguh-sungguh mendengarkannya. Yang daritadi tak mendengarkan ceritaku justru Mammon-san sendiri," bela si bungsu Dokuro dengan suara datarnya.
Pemuda violet itu mendecakkan lidahnya. "Memang apa yang kau temui di sekolah barumu, huh?" tanyanya setengah terpaksa.
"Oh, oh. Aku bertemu Vongola," jawab pemuda hijau itu tanpa dosa.
Mammon menghela napas untuk yang ke sekian kali. "Sekolahmu itu sebenarnya bermaksud membentuk tempat menuntut ilmu atau kebun binatang sih? Untuk apa memelihara kerang di lingkup sekolah?" gerutu si pemuda jelita.
"Bukan kerang sungguhan, Mammon-san, tapi Vongola. Itu semacam perkumpulan orang-orang aneh yang paling terkenal di sekolah," jelas Fran tanpa dosa. "Isinya ada Dame-Tsuna, Tako-head, Yakyuu baka, shibafu-atama, Hibari Kyouya, dan lainnya," lanjutnya tanpa peduli sang kakak pertama telah menepuk dahi.
"Orang aneh paling terkenal di sekolah, heh? Sama saja seperti Berandalan sialan itu—aneh tapi malah dikenal di kalangan murid-murid. Tolol," umpat sulung Dokuro itu untuk yang ke sekian kali seraya memutar bola mata cantiknya.
"Hee, Mammon-san terlihat kesal sekali padanya, santai saja," kata pemuda hijau itu sembari mengibaskan tangannya di udara.
"MANA BISA AKU SANTAI SETELAH DIA MEREBUT CIUMAN PERTAMAKU DAN CIUMAN KEDUAKU, HAH?!" bentak pemuda bertudung itu terbawa emosi. Meja makan sontak menjadi sasaran amarahnya, kedua tangannya menggebrak benda dari kayu itu hingga beberapa makanan yang tersaji di atasnya bergetar namun beruntung tak sampai tumpah—mana mau si sulung Dokuro itu mau membeli bahan makanan lagi dan membuat anak tengah keluarga Dokuro yang super kikuk itu memasak untuk yang kedua kali?
"Setidaknya dia tak sampai memperkosa Mammon-san," hibur si pemuda hijau dengan datar.
"ITU SUDAH KELEWAT SINTING TAHU!" semprot si pemuda violet masih dengan volume tinggi. "Dia sudah kelewat kurang ajar! Dia memang harus diberi pelajaran, misal di-skors dengan uang jajan yang disita selama masa skorsing untuk diberikan padaku sebagai ganti rugi, atau setidaknya—" kalimat menggebu-gebu si pemuda pemilik helaian rambut violet itu terhenti sejenak di udara, "—jangan bilang kau benar-benar tidak menyimak ceritaku tadi," tudingnya.
"Hee, aku mendengarkan kok. Benar kan, Chrome-neesan?" Pemuda berambut hijau itu kini menolehkan kepalanya pada satu-satunya perempuan yang ada di ruangan tempat mereka berkumpul untuk makan malam, meminta pembelaan.
Chrome menganggukkan kepalanya ragu-ragu. "A- aku tak menyangka hari pertama Mammon-san begitu berat…," komentarnya pelan.
Ada penyebab mengapa dua adiknya memanggilnya hanya dengan embel-embel '-san'. Jika memakai 'onii-san', wajah si pemuda violet—yang diakui dua saudaranya itu—terlalu manis untuk laki-laki, sementara jika menggunakan 'onee-san', yang ada wajahmu hanya akan menjadi papan target kotak susu stroberi kosong serta terkena tindak pemalakan sepihak yang dilabeli pencemaran gender asli.
Mammon memutar bola matanya kesal, bukan karena pada sikap adik perempuannya yang kelewat malu-malu atau pada nada datar yang selalu keluar dari si bungsu, tapi karena memori itu terus berulang tanpa henti di kepalanya. Tak tahan, ia mendecih lagi.
"Lebih baik aku pergi. Berada di sini dan bertukar cerita tak mempengaruhi mood-ku," desis pemuda cantik itu seraya bangkit dari bangkunya dan meninggalkan dua adiknya yang saling melempar pandangan, mengutarakan pendapat melalui tatapan.
"Mammon-san," pemuda hijau tadi—Dokuro Fran—mengangkat satu tangannya tanpa diduga, "semoga langgeng, ya."
—BUK!
Sebuah kotak susu stroberi kosong menghantam wajah Fran telak, membuat Chrome membekap mulutnya. Mammon melangkah cepat menuju dua saudaranya tersebut kemudian mencekik leher si pemuda hijau meski itu belum cukup kencang untuk membuat sang bungsu Dokuro dijemput maut.
"Apa maksudnya itu hah?!" geram Mammon kesal dengan sebuah perempatan yang muncul di kepalanya.
"Lho, kukira Mammon-san dengan pemuda-berandalan-Asia-sialan itu pacaran," jawab si bungsu tanpa beban.
"Bagian mana yang membuat kami terlihat pacaran, hah?!" geram Mammon dengan perempatan yang semakin membesar.
"Bagian ciumannya. Mana lagi coba?"
"APA PENCURIAN CIUMAN ITU TERLIHAT SEPERTI YANG DILAKUKAN SEPASANG KEKASIH HAH?!"
"M- menurutku cukup mirip," jawab Chrome tanpa diduga.
"Kau mau kucekik juga?!"
"Mammon-san tsundere—aduh, jangan mencekik terlalu keras, Mammon-san. Aku bisa mati."
"Terserah," putus Mammon menyerah. Ia melepaskan cengkramannya pada leher sang adik kemudian berjalan keluar ruang makan yang justru membuat kedua saudaranya itu kembali melempar pandangan.
"Ah, iya," pemuda cantik itu menghentikan langkahnya, menolehkan kepala pada dua saudaranya dan memberi tatapan maut yang cukup horror untuk diterima dua makhluk yang lebih muda darinya.
"Aku sudah mengambil sebagian uang dari tabungan kalian sebagai ganti membuatku tersasar di hari pertama dan membiarkanku bertemu dengan berandalan sialan itu," lanjut Mammon sembari mengacungkan dua buah kartu kredit yang kemudian dilempar dan mendarat dengan mulus di atas meja. Kakinya kembali membawanya naik ke kamar, membiarkan dua adiknya masih terpaku saking syoknya mendapati dua harta berharganya sudah dikuliti sang kakak.
"Tuh kan, Chrome-neesan. Harusnya setelah mengasingkan Mammon-san waktu itu, kita langsung sembunyikan saja harta karun milik kita."
Fran belum tahu kalau kakak sulungnya punya indra penciuman berlebih; mencium bau harta orang lain yang dapat menjadi sasaran empuk untuk dikuliti.
Title : Candu
Disclaimer : Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira
Pairing : FonMammon
Warning : HighSchool!AU, BL, OOC, typo yang terlewat mata, Bad!Fon, dan hal lainnya.
Selamat menikmati~
Chapter 1
Percuma Bersembunyi
Mammon berjalan mengendap-endap menuju sekolahnya, manik violet-nya terus mengawasi keadaan sekitarnya awas. Padahal ini hanya perjalanan biasa menuju SMA barunya di hari kedua, namun perasaannya begitu was was. Sekali lagi, si sulung Dokuro itu mendecih kala mengenang sosok berandalan Asia kemarin serta semua perlakuan sialannya itu. Awas saja dia!
"Mencari seseorang, Nona Dokuro?"
Pemuda yang mengenakan jaket dengan tudung gelap itu tersentak, dengan cepat ia membalikkan badan—yang justru sangat diharapkan si pemilik suara barusan. Namun, saat itu juga sebuah tangan kekar menutup jalan keluarnya lengkap dengan tubuh tegap nan atletis yang menghalanginya hingga membuat punggungnya berciuman dengan dinding di belakangnya. Dalam waktu sesingkat itu, si sulung Dokuro melayangkan tamparan pada si pemilik suara dengan harapan akan membuatnya dapat lari dari tempat itu. Namun yang namanya harapan tetap harapan, tangan kurus berjemari lentik itu ditangkap dengan sigap oleh si pemilik suara barusan.
"Ah, dilihat dari kelakuanmu ini, kau tengah mencariku, eh? Benar begitu, Nona?" tanya Fon tanpa mengubah nada elegan yang terdapat dalam setiap kata yang terlontar dari bibirnya.
Fon menyeringai begitu melihat pemuda cantik yang pernah dikiranya seorang wanita itu mengeraskan pandangannya lengkap dengan tatapan benci yang terpancar dari manik violet-nya yang menawan, tebakannya tepat—cukup tepat karena pastilah pemuda violet itu mengendap-endap agar tak dapat bertemu dengannya. Bibir ranum yang menggodanya itu mendecih keras.
"Mencarimu? Maaf saja, aku lebih memilih dua kecebong kecil yang tinggal satu atap denganku gratis daripada mencarimu," kata pemuda bertudung itu pedas.
"Oh? Kalau begitu untuk apa kau mengendap-endap hanya untuk pergi ke sekolah, hm? Bukankah itu artinya kau mencari ada tidaknya eksistensiku?" tanya berandalan berwajah oriental itu. Seringainya melebar kala mendapati decihan lain yang keluar dari bibir pemuda yang tengah didesaknya.
"Jangan khawatir, Dear. Aku juga mencarimu, kalau kau mau tahu." Pemuda berkepang itu mengangkat dagu Mammon, menambah letup-letup seringai buasnya.
"Brengsek! Lepaskan!" Mammon meronta tak suka. Kakinya berniat menendang sang senior, namun si pemuda berkepang itu lebih dulu mengantisipasinya dengan melakukan gerakan terkoordinasi sempurna—si sulung Dokuro itu baru ingat ia tengah berhadapan dengan ahli beladiri. Tangannya yang ditangkap si pemuda berkepang kini telah ditahan dengan bantuan dinding, lengkap dengan tubuhnya yang semakin dekat dengan si pemuda cantik.
"Apa kau memang selalu melawan ya, Nona?" tanya Fon sembari meluncurkan kekehannya tanpa bisa dicegah. Mammon mendecih untuk yang kesekian kali, kesal karena sampai hari ini pun ia sama sekali tak dapat melawan pemuda ini.
"Lepaskan aku, Senpai cabul sialan!" kata pemuda yang mengenakan jaket dengan tudung berwarna gelap itu. Ia masih mencoba melepaskan diri, berharap ada celah sedikit saja atau setidaknya tiba-tiba terjadi keajaiban di mana senior berandalan ini terkena serangan jantung mendadak atau apalah. Namun sebuah seringai predator yang terbentuk di bibir pemuda kelas dua itu justru malah memberitahu si pemuda jelita bahwa apa yang dilakukannya adalah sia-sia.
"Tidak masalah terus meronta, itu akan membuat semuanya terasa lebih manis…," Fon menjilat bibirnya sendiri sejenak, "…juga menarik, Dear."
"Hentikan panggilan menjijikkan sialanmu itu, Brengsek!" bentak sang pemuda violet kesal. Pagi-pagi dengan berbekal kewaspadaan penuh serta melewati berbagai titik jalan yang paling tersembunyi agar dapat menghindari makhluk ini sia-sia? Oh, sial. Apa tidak ada yang lebih buruk dari ini—
"Sedang apa kau di sini, Mammon?"
—Haha ha ha… ha ha…
Pemuda bertudung gelap itu menoleh ke samping kiri, menemukan seorang pemuda pirang dengan mata tertutup poni lengkap dengan sebuah tas yang tergenggam erat di tangannya. Oke, secara fisik mungkin dia lebih terlihat gila ketimbang si sulung Dokuro atau senior ahli beladiri ini, tapi sumpah Mammon tahu benar setidaknya pikiran pemuda pirang itu lebih normal ketimbang berandalan dengan wajah oriental ini.
"Well," pemuda dengan poni eksentrik itu mengangkat bahunya sembari membentuk seringai lebar di bibirnya, "aku tak tahu pagi-pagi kerjaanmu seperti ini, Mammon," katanya.
"I- ini bukan seperti yang kau kira, Bel!" sanggah Mammon buru-buru. "Senpai cabul brengsek ini yang melakukan hal sepihak tahu!"
"Hoo? 'Senpai', eh?" Pemuda pirang itu—Belphegor namanya—membeo ucapan si pemuda cantik masih dengan mempertahankan seringai lebarnya. "Aku tak tahu kau suka orang yang lebih tua, ushishishi~," lanjutnya sembari tertawa memuakkan.
"Siapa juga yang mau dengan—"
"—Oh? Kelihatannya kau cukup akrab dengan Nona Dokuro-ku." Fon memotong percakapan keduanya, melayangkan tatapan cukup tajam pada teman sekelas si sulung Dokuro itu dengan manik karamelnya.
"Wah, wah, langsung cemburu rupanya. Kau punya pacar yang agresif ternyata, Mammon," kekeh Bel.
"Brengsek! Sudah kubilang dia bukan pacarku!" sergah si pemuda jelita kesal.
"Ah, omong-omong, lebih baik kau cepat Mammon, pintu gerbang akan ditutup dalam beberapa menit lagi, ushishishi~." Pemuda pirang itu masih mempertahankan seringainya, membiarkan dua orang itu masih berada dalam posisi ambigu yang sepertinya tak begitu mengganggunya.
"Kalau begitu cepat bantu aku lepas dari Senpai cabul ini, dasar pangeran gagal!" geram si pemuda violet masih kesal.
"Pangeran tidak gagal tahu!"
"Ah, benar juga, sebentar lagi masuk, eh?" Fon melirik ke arah gerbang sekolah yang tak jauh dari tempat mereka berada. Seorang pemuda berambut cream dengan sebuah borgol yang diputar tanpa henti di jari telunjuknya. Manik sedingin esnya mendelik pada setiap murid yang masuk, seolah berkata 'cepat-lah-dasar-pemilik-langkah-selamban-siput'.
"Kalau sudah sadar, cepat lepaskan aku, Sialan!" bentak Mammon sembari kembali meronta.
Bibir pemuda berkepang itu membentuk seringai samar ala predatornya. Dengan cepat berandalan berwajah Asia itu membuat bibirnya dan bibir si pemuda cantik bermarga Dokuro tersebut bertemu dalam sebuah ciuman. Manik violet cerah itu membelalak tak percaya, berandalan Asia itu tak masalah mencium orang lain di hadapan Bel?
Ah, dia lupa kalau urat malu pemuda berambut hitam ini sudah putus.
Ciuman itu berlangsung lebih dari sepuluh detik, sebuah rekor ciuman terlama dari dua ciuman sebelumnya. Bel sendiri tampak tak bergerak sedikit pun dari posisinya, membiarkan dua makhluk sinting berstatus senior-junior itu menempelkan bibir mereka—tolong tambahkan Mammon yang telah melawan sekuat tenaga namun tetap tak berhasil, lagi pula sepertinya itu hanya ciuman sepihak dari si pemuda Asia. Fon melepaskan ciuman itu setelah cukup lama, membuat Mammon mengerjapkan mata. Pemuda bertudung gelap itu menyadari satu hal, mungkin saat ini lah seniornya itu tengah lengah, ia pasti bisa menamparnya kemudian menendangnya lagi, lalu menginjak-injak wajah si pemuda bermanik karamel ini. Jadi, Mammon mencoba memusatkan kekuatannya pada tangannya, lalu dengan cepat mencoba melepaskan tangan yang tengah dikunci Fon. Sialnya, rupanya pemuda berwajah Asia itu tak membiarkan dirinya lengah sama sekali, ia berhasil tidak melepaskan kunciannya dan membawa lagi tangan kurus itu merasakan dinding di belakangnya.
"Terlalu cepat sepuluh tahun untuk lepas dari kuncianku, Nona," kekeh Fon sembari menampakkan seringainya.
"Brengsek! Jangan melampiaskan hal memalukan seperti itu di hadapan orang! Aku berbeda denganmu yang urat malunya sudah putus!" hardik sang Dokuro kesal.
"Oh? Jadi kau ingin aku melakukannya tanpa seorang pun melihatnya? Manis sekali, Dear," goda berandalan itu dengan meloloskan sebuah kekehan.
"BUKAN ITU BRENGSEK, MUU!" sergah Mammon kelewat kesal. Ia hanya ingin ke sekolah dengan tenang, apa dosanya sampai bertemu dengan orang mesum pencuri ciuman semacam Fon sih?
Fon kembali terkekeh. "Aku melakukan apa yang kumau. Tidak peduli ada makhluk lain atau tidak, jika mereka tak mengganggu maka tak masalah," kata Fon.
"Aku tak peduli! Lepaskan aku atau aku akan terlambat!" Pemuda violet itu masih mencoba melawan.
Berandalan bersurai hitam itu memajukan wajahnya, membuat Mammon memundurkan wajahnya hingga bagian belakang kepalanya menyentuh dinding dingin. Namun Fon hanya diam, ia tak melakukan apa pun dan lebih tertarik menjajari wajahnya dengan pemuda mungil itu serta menatap keping cerah menawan si pemuda jelita.
"Jangan khawatir, Nona. Tadi aku hanya menagih morning kiss-ku saja. Kalau kau mau datang dengan sendirinya, aku juga tak perlu menguncimu seperti ini," kata senior berandalan itu tenang. "Tapi, jujur saja, bagian di mana kau terus melawan itu yang justru membuat semuanya lebih menarik sih," kekehnya. Fon melepaskan kunciannya, membiarkan juniornya itu mundur beberapa langkah darinya sembari melayangkan tatapan benci yang terpancar kuat dari manik yang senada helaian rambutnya. Tangannya yang lain menggenggam pergelangan tangan yang tadi sempat dikuncinya, giginya bergemeletuk penuh amarah yang justru tampak manis untuk dimainkan olehnya. Tanpa dosa ia melangkahkan kakinya keluar gang kecil itu, membiarkan Bel yang ada di mulut gang memberinya jalan.
"Ah, aku lupa," Fon menghentikan langkahnya, lalu menolehkan kepalanya dan memandangi kedua adik kelasnya. "Jika yang berjaga di depan gerbang itu memarahi kalian, katakan padanya 'ada berandalan berkepang sialan yang tengah bermain sebentar dengan murid baru Namimori High School', dia pasti mengerti," pesannya sebelum akhirnya kembali melangkah.
Mammon menggeram, tangannya ia genggam sekuat tenaga sebagai pelampiasan masih tak dapat membalas perlakuan sinting si berandalan.
"BRENGSEKKKK! LAIN KALI AKAN KUBUAT KAU MENYESAL!"
"Ushishishi~, hubunganmu dengan orang itu gila juga ya," goda Bel sembari menampakkan seringai chessire-nya.
"Muu, kau tahu apa Bel, kalau kau tak menghentikan guyonan sialan itu, akan kubuat uang sakumu kosong selama sebulan," ancam si sulung Dokuro sembari menolehkan kepalanya ke meja si pirang yang duduk di belakangnya sembari melayangkan tatapan kesal.
"Ushishishi~, maaf, aku hanya terkejut ada yang mau memacari rentenir sinting semacammu," kata pemilik poni eksentrik itu sembari mengangkat bahunya tak bersalah.
Bola mata violet cantik itu berputar bosan. "Terserah. Berhenti membuat jam kosong yang seperti surga ini menjadi neraka," kata pemuda bertudung gelap itu sembari membalikkan badannya dan memberi tanda dua garis di bawah jawabannya.
"Kau mengerjakannya, Mammon?" tanya Bel sembari menaruh wajahnya di bahu si pemuda, membiarkannya melihat jawaban dari soal yang Mammon kerjakan.
"Berisik. Kerjakan sendiri sana," suruh pemuda itu sinis. "Oh, dan singkirkan kepalamu. Bahuku berat," lanjutnya.
"Ushishi~, maafkan Pangeran kalau begitu," kata si pemuda pirang sembari menjauhkan wajahnya dan kembali duduk di bangkunya. "Tapi, yaah, dia cukup tahu diri membiarkan kita tak dimangsa hidup-hidup oleh Hibari Alaude. Apa hubungan pacarmu itu dengannya ya, sampai-sampai wajah Alaude jadi mengeras begitu. Tapi, sepertinya juga tak perlu diurusi mengingat kita sudah lolos dari maut. Kau tahu, adiknya saja sudah cukup mengerikan, bagaimana kakaknya atau kakak pertamanya?" Bel terus menyuarakan pendapatnya, meski ia tahu sepertinya Mammon tak akan tertarik lebih jauh dari topik yang diangkatnya.
"Adiknya?" Dugaan Mammon tak akan tertarik meleset jauh, terbukti dengan tangan si pemuda violet yang menghentikan pekerjaannya dan membalikkan badan, memberi tatapan lurus pada mata Bel yang tertutup poni dengan keping cerahnya.
"Ah, namanya Hibari Kyouya, kau tahu? Peranakan Hibari itu memang lebih ekstrim dibanding peranakan Sasagawa yang kesehariannya membuat penduduk kota bangun lebih pagi, ushishi~." Tawa itu kembali meluncur dari bibir pemuda berdarah kerajaan itu, membiarkan Mammon bernostalgia sejenak mendengar nama Hibari.
"Bukan kerang sungguhan, Mammon-san, tapi Vongola. Itu semacam perkumpulan orang-orang aneh yang paling terkenal di sekolah," jelas Fran tanpa dosa. "Isinya ada Dame-Tsuna, Tako-head, Yakyuu baka, shibafu-atama, Hibari Kyouya, dan lainnya."
"…Dame-Tsuna, Tako-head, Yakyuu baka, shibafu-atama, Hibari Kyouya…."
"Shit!" Mammon mengumpat sembari menepuk dahinya. "Adik bungsuku dalam bahaya, Bel. Pulang nanti sebaiknya aku menjemputnya," janji pemuda violet itu.
"Hee? Kau mau menjemput adikmu gratis?" goda pemuda pirang itu sembari melebarkan seringainya.
"Huh, dia akan kusuruh membelikanku selusin susu stroberi karena sudah menyelamatkannya dari peranakan Hibari atau apalah itu tahu," dengus si sulung Dokuro.
—TENG! TENG!
"Whoops, makan siang~. Niat berbagi bekal bersamaku, Mammy-chan?" tawar si pirang masih dengan mempertahankan seringainya.
"Tidak, terima kasih Bel," tolak Mammon tanpa basa-basi sembari berdiri. "Aku akan makan di tempat lain di mana berandalan kampung itu tak akan bisa menemukanku," katanya.
Bel paham apa maksudnya, jadi si pirang itu membiarkan Mammon berjalan keluar kelas, lengkap dengan membawa bekal buatan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga Dokuro bersamanya.
"Sampai nanti, Mammon," kata pemuda berponi eksentrik itu sembari melambaikan tangannya, meski pada akhirnya Mammon tak menanggapinya.
Mammon tak pernah menyangka duduk di atas dahan pohon kokoh dengan punggung yang menyentuh tubuh si pohon sembari menselonjorkan kakinya bak anak monyet yang tengah melepas lelah ternyata cukup menenangkan. Pemuda violet itu kembali menyedot susu stroberi kesukaannya dengan menggunakan sedotan, membiarkan angin yang datang menerpa wajahnya serta memainkan helaian rambut sebahunya yang menyembul dibalik tudung gelapnya.
Tanpa diduga, dari atas pohon tempatnya makan siang—bersembunyi—, turun seekor monyet kecil yang membuat si pemuda jelita menghentikan kegiatannya. Monyet itu tampak cukup bersahabat, lengkap dengan sebuah senyum yang menghiasi bibirnya. Si pemuda violet menjulurkan tangannya, bermaksud menjinakkan hewan berbulu itu. Namun ia lupa, bahwa monyet itu berbeda dengan burung yang berarti cara penjinakkannya pun juga berbeda.
Tak disangka, monyet berbulu putih itu melompat ke kepala si sulung Dokuro, membuat pemuda cantik itu terkejut dan berusaha menyingkirkan hewan itu dari kepalanya. Nyatanya, monyet tanpa nama itu malah melepas tudung gelap yang biasanya dipakai Mammon kemudian turun tanpa dosa dari pohon tersebut.
"Hei! Kembali kau, monyet sialan!" umpat Mammon seraya merubah posisi duduknya sambil memberi tatapan maut pada hewan itu.
Monyet itu tampak berhenti setelah menjauhi pohon tempat persembunyian Mammon, tak ada tanda-tanda ia akan beranjak pergi. Bagus, Mammon membutuhkan itu agar ia bisa menangkap pelaku kurang ajar itu lalu menjualnya ke kebun binatang atau setidaknya membuatnya menjadi lauk untuk nanti malam. Ha! Pembalasan darinya akan lebih keji dan keja—
"Sedang apa kau di sini, Lichi?"
—Ahaha ha ha… ha ha…
Si sulung Dokuro itu akan memaki diri jika ia tak kenal suara barusan—meski sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia ingin tak mengakui bahwa dirinya mengenal pemilik suara tersebut. Langkah kaki setenang angin menyusul setelahnya, membuat pemuda cantik itu sudah mencari tempat persembunyian sebelum akhirnya sadar ia tengah berada di atas dahan pohon, satu-satunya cara mendapat tempat persembunyian yang aman adalah dengan turun dari sini yang untuknya akan memakan waktu lebih dari sepuluh menit. Langkah tanpa suara bak daun berguguran itu terhenti kala ia mendapati seorang junior cantik yang tengah duduk di dahan kokoh sebuah pohon besar, bertanya-tanya apa mungkin murid Namimori High School itu ingin mencoba cosplay jadi monyet?
Tapi, itu semua kalah dengan pemikiran lain yang merasuki otaknya.
Seringai si pemuda dengan langkah tanpa suara terbentuk sempurna, membiarkan junior bersurai violet itu meneguk ludah.
"Apa yang kau lakukan di sana, hm, Nona Dokuro?" tanyanya.
"Aku menuntut pembalasan dendam pada monyet sialan itu dan aku mendengarmu memanggilnya dengan sebuah nama aneh—Ichi atau semacamnya," desis Mammon tak suka.
"Lichi," ralat Fon sembari membiarkan monyet berbulu putih itu naik dan duduk tenang di bahunya. "Well, pendengaranmu cukup buruk di atas sana, eh, Nona."
"Aku tak peduli siapa namanya!" sergah sulung Dokuro seraya menyembunyikan rasa malunya yang sedikit membuncah. Salah menyebut nama binatang, demi semesta! "Dan aku tak pernah menyangka perliharaanmu itu seekor monyet. Mimpi apa aku, pemilik dan peliharaannya berwajah mirip hingga tak bisa dibedakan," sindir pemuda itu pedas.
Berandalan berwajah oriental itu membiarkan bibirnya melebarkan seringainya. "Begitukah? Jika begitu, maka artinya kau lah pohon yang akan kupanjat, Nona," kekehnya. "Oh, dank au lebih terlihat cantik tanpa mengenakan tudung kepalamu itu, Dear."
"BRENGSEK!" umpat Mammon dengan amarah. Tangannya mengepal, membiarkan giginya bergemelutuk hingga menghasilkan suara.
"Oh, kau bilang kau ingin balas dendam pada monyet ini bukan, Nona?" tanya pemuda berambut hitam berkepang itu tanpa diduga. "Jika begitu bagaiman kalau kau turun dan melampiaskan dendammu di sini?"
"Bawa naik monyet itu dan akan kutinju dia bersamamu hingga jatuh dari sini," perintah pemuda jelita itu.
Fon kembali terkekeh. "Tidak ada seorang pun yang mau repot-repot naik hanya untuk melayani pembalasan dendam orang, yang ada orang itu lah yang akan ke mari untuk unjuk gigi," katanya.
"Atau," tak memberi Mammon kesempatan membalas, pemuda itu melanjutkan dengan seringai yang masih terpampang jelas di wajahnya, "kau sebenarnya tak bisa turun dari sana huh, Nona Dokuro-ku? Perlu aku untuk menangkapmu agar kau bisa turun dengan selamat?"
"Tidak, terima kasih sekali," tolak Mammon setengah jijik. "Jika diberi pilihan harus turun dengan mendarat dalam tangkapanmu atau jatuh dan mendarat dengan tidak mulus di tanah, aku lebih memilih jatuh sampai patah tulang kalau perlu agar tidak perlu ke sekolah dan tak bisa melihatmu lagi," lanjutnya dengan letup-letup api membara.
"Oh? Begitu?" Manik karamel Fon menggerling jahil. "Kalau begitu turunlah, Dear. Kita lihat apa kata-katamu itu benar atau tidak," tantangnya.
"Aku hanya berniat balas dendam pada monyet itu! Tidak lebih!" peringat si pemuda jelita sambil menunjuk seniornya itu tanpa ragu. Ia mencoba turun dengan sangat hati-hati, berpegangan pada tubuh pohon dengan Hibari Fon yang tengah menontonnya dengan sebuah seringai keji yang terbentuk di bibirnya hingga…
—Krek
"WAAAA—" Jeritan dari si pemuda cantik mewarnai tempat itu. Bukan salahnya tidak bisa melihat tempat kakinya berpijak ternyata terlalu rapuh untuk menopang pijakannya serta pegangannya pada badan pohon tak begitu kuat. Tubuh si sulung Dokuro itu meluncur bebas dari pohon itu dengan kecepatan tinggi dan ia sudah bersiap untuk mendarat di tanah dengan hasil patah tulang.
Mammon menutup matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya dikuasai rasa takut dan beranggapan rasa sakit itu pasti akan datang depat atau lambat. Namun yang ditunggu tak pernah tiba, sebaliknya, pemuda yang duduk di bangku pertama Namimori High School itu malah merasa ada hal lain yang—setidaknya—tidak cukup keras seperti tanah yang menangkapnya.
"Oh, astaga. Lihat ekspresimu itu, Nona. Satu sekolah pasti akan menganggapmu sebagai perempuan kalau melihat kau berekspresi seperti ini," kekeh sebuah suara. Mammon membuka matanya ragu, mendapati hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah wajah paling brengsek yang tengah menyeringai penuh kemenangan yang diaduk bersama kelicikan berada dalam jarak yang cukup dekat. Perlu waktu beberapa detik untuk si junior menyadari bahwa senpai berandalan ini lah yang membuatnya masih bisa selamat meski jatuh dari ketinggian yang terbilang cukup tinggi.
"L- LEPASKAN AKU, SENPAI CABUL SIALAN!" Mammon meronta hebat, tidak sadar bahwa seniornya itu mungkin memang sigap dalam menangkapnya, namun tidak memperkirakan rontaan si junior akan seperti ini.
—BRUKK!
Kali ini Mammon benar-benar merasakan punggungnya sakit, cukup persis dengan ketika ia ditarik turun ketika pertama mencoba memanjat gerbang sekolah SMA barunya. Matanya terpejam kuat, merasakan kepalanya terasa sakit di bagian belakang. Memberanikan diri, murid baru SMA Namimori itu membuka matanya, mendapati pemandangan yang lebih ajaib ketimbang kejadian di mana tubuhnya berada dalam dekapan si berandal Asia.
Fon tengah berada di atas si pemuda violet dengan kedua tangan yang berada diantara kepalanya untuk menahan agar tubuhnya tak menindih junior yang memiliki wajah jauh lebih cantik dari seorang wanita meski ia seorang pemuda.
Ada hening yang menyergap keduanya sejenak, mungkin untuk meredakan keterkejutan antar keduanya atau sekedar mengatur napas mereka yang tak beraturan akibat kejadian tak terduga barusan. Tapi, astaga demi semesta, manik karamel tajam itu beradu pandang dengan manik violet indah dalam satu garis khayal lurus dengan menyiratkan kekagetan yang sama dan… hal tak terjabarkan oleh otak mereka.
"Hee," butuh beberapa sekon hingga akhirnya Fon dapat menguasai keadaan, melupakan adu pandang mereka yang tak terduga sebelumnya. "Aku tak tahu kau bisa menggodaku juga, Nona," katanya sembari mengukir seringai predator.
Alarm di kepala Mammon berbunyi nyaring, menyadarkannya bahwa ia tengah dalam keadaan sangat genting. "Minggir dari atasku, Mesum!" bentaknya sembari menendang satu kakinya dengan perut sang ahli beladiri sebagai sasarannya. Namun, dengan sigap Fon menahannya dengan satu tangannya, membiarkan juniornya itu mengeraskan raut wajahnya dan membuat seringai liciknya semakin melebar.
"Well, kuakui kau tak buruk dalam menggodaku, Nona. Wajah kesal bercampur pasrahmu itu sungguh menggoda," kekeh berandal berkepang itu.
"Muu, aku tidak mungkin pasrah dalam waktu sesingkat ini!" sergah si sulung Dokuro sembari melayangkan tinjunya. Pemuda berambut hitam itu dengan mudah dapat menangkapnya dengan tangan yang tadi ia gunakan untuk menahan kaki junior yang berada di bawahnya, kaki si pemuda cantik ia tahan dengan kakinya.
"Apa dengan begini sudah cukup membuatmu jera, hm, Nona Dokuro-ku?" tanya Fon dengan seringai licik penuh kemenangan.
"Aku tak punya kesalahan apa pun, muu! Menyingkir dari atasku!" bentak Mammon untuk yang ke sekian kali.
"Kaupikir dengan bersembunyi di saat istirahat makan siang bukan kesalahan, hm?" Sebelah alis pemuda berandalan itu terangkat, lengkap dengan seringai yang masih awet terbentuk di bibirnya. "Aku mencarimu ke kelas dan yang kutemukan hanya anak pirang yang mengganggu pagi tadi."
"Bisakah kau menggunakan nama dengan benar?" tanya Mammon seraya mendecakkan lidahnya, tidak ia tidak Bel—semua mendapat julukan konyol dari pemuda ini. "Namanya Belphegor. Dan tentu saja kau bertemu dengannya karena dia sekelas denganku."
"Oh? Kau bahkan mengetahui namanya, eh?" Manik karamel itu menatap si junior dengan sebuah pandangan yang sulit dijabarkan—tajam, cemburu, dan hal lain yang menjadi satu.
"Bisakah kita mengakhiri pembicaraan nama sialan ini?" decak si pemuda jelita setengah frustasi.
"Untuk apa?" pancing Fon melemparkan umpan.
"Agar kau bisa menyingkir dari atasku dan aku bisa bebas dari hal sinting ini! Demi semesta! Urat malumu memang sudah putus atau kau memang tak punya sejak lahir?! Dalam posisi seperti ini siapa pun yang melihat pasti akan salah paham!" Mammon mengumpat dengan kecepatan dua kata dalam satu detik.
"Apa yang salah jika akan ada yang melihat?" ulang si pemilik manik karamel tak berdosa. Ia memajukan wajahnya, mendekatkannya dengan wajah cantik si pemuda jelita.
"Oi, oi, oi! Wajahmu terlalu dekat— mundurkan— BRENGSEK! MUNDURKAN WAJAH MONYETMU ITU, SIALAN!" Fon benar-benar menikmatinya kala ia merasakan nada ketakutan yang terlontar dari setiap umpatan Mammon yang diucapkan untuknya—hanya untuknya.
Sulung Dokuro itu memejamkan matanya erat, enggan mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya—meski sebagian otaknya sudah memproses yang akan terjadi adalah pertemuan dua benda lembab yang begitu kenyal. Hal yang janggal terjadi setelah beberapa detik terlewat, tak ada tanda-tanda akan adanya pertemuan bibir antar keduanya. Mengumpulkan keberanian, Mammon membuka sebelah matanya perlahan, mencoba tak memperlihatkan keterkejutan kala melihat wajah pemuda berkepang itu untuk yang ke sekian kali dalam sehari.
"Astaga, aku tak menyangka ekspresimu akan semenarik ini, Nona Dokuro." Sebuah tawa dengan nada setengah mengejek menggema di tempat itu setelah si pemuda violet membuka mata. Mammon tersadar, Fon tak lagi menindihnya, pemuda berandalan itu justru tengah duduk sembari menutup matanya dengan sebelah tangan. "Ekspresimu itu seakan benar-benar berharap aku akan menciummu saat itu juga. Demi semesta."
"S- siapa pun juga pasti akan langsung mengira begitu kalau keadaannya seperti barusan kan, muu!" bela Mammon sembari bangkit dari posisinya. Ada rona merah tipis di wajahnya, memperlihatkan malu yang bercampur marah yang dirasakannya.
"Tetap saja, Dear," Fon menolehkan kepalanya dan menatap pemuda yang duduk tak jauh darinya itu lengkap dengan sebuah seringai tipis, "tindakanmu itu memang sulit diprediksi, ya."
"Muu, maaf saja untuk yang itu, Keparat," desis murid kelas satu itu kesal.
"Tapi, tetap saja," Fon sengaja menggantung kalimat ini. "Bagaimana bisa kau mengingat nama anak pirang itu lebih daripada namaku?"
"Haaah? Oh, maaf saja, aku tak tertarik mengetahui nama panjang senpai cabul sepertimu," decak pemuda bersurai violet itu pedas.
"Dan aku ingin kau mengingatnya, Nona Dokuro-ku."
Tahu-tahu saja berandalan dengan ahli beladiri itu sudah membuat wajahnya berada dalam jarak terdekat dengan wajah pemuda yang diklaimnya sebagai mainannya semenjak kemarin. Membiarkan pemuda bertudung itu memundurkan tubuhnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya punggungnya bersentuhan dengan tubuh pohon yang tadi sempat menjadi tempatnya mengistirahatkan diri—ingatkan pemuda berkepang itu untuk selalu memojokkan mainannya ini jika ingin mendapat cara paling mudah untuk mendapatkan bibirnya yang semanis gulali.
"Camkan nama pemilikmu ini dalam otakmu itu, Nona." Suara Fon terdengar begitu menggoda, apalagi ia juga menurunkan volume suaranya hingga menjadi berbisik namun masih dapat didengar juniornya. Saliva Mammon turun dan membasahi kerongkongannya, seluruh tenaganya serasa habis hingga rasanya ia tak mampu melakukan perlawanan.
"Dengar, namaku—" sebuah seringai terlukis lagi di wajah si berandalan, bertepatan dengan wajahnya yang memasuki arena terdekat sekaligus terlarang bagi si pemuda jelita, "—Hibari Fon."
Kali ini tebakan si sulung Dokuro tak meleset, ia bisa merasakan benda lembab yang dingin menutup bibirnya sendiri. Sekarang Mammon sadar penuh kenapa Fon—Hibari Fon—menjadi berandalan yang cukup dikenal satu sekolah serta mempunyai jumlah pengikut—yang dalam kasus Mammon diberi julukan tikus—yang tidak sedikit; dia tidak punya urat malu—atau memang sudah tak punya sejak dilahirkan ke dunia—dan dia… super nekat.
Fon melepaskan tautan bibir mereka tak lama setelahnya, memandangi pemuda di hadapannya yang sedari tadi tak memakai tudung gelapnya—ingatkan padanya untuk berterima kasih pada Lichi nanti. "Well, kau sudah menjadi anak manis dengan tidak melawan, hm, Dear?" kekeh sang senior sembari membentuk bibirnya sebuah seringai.
—PLAK!
Tepat sasaran. Mammon memang sudah bermaksud melayangkan tamparan sadis itu ke pipi si berandalan sejak tadi, sepertinya nanti dia harus membuang uang pergi ke dokter untuk ditanyai apa ia menderita penyakit tertentu yang membuatnya tak bisa melawan meski itu minimal menendangnya saja.
"MATI SAJA SANA, HIBARI FON!" bentak pemuda bermanik violet itu keras. Pancaran benci meletup-letup keluar dari matanya, benih dendam mulai tertanam di dadanya. Ia dengan cepat berdiri, kemudian pergi dari sana sembari mengenakan tudung kepalanya yang tadi ia abaikan. Fon masih terdiam, bukannya terpaku, namun ia hanya menikmati lima kata yang tadi diucapkan juniornya dengan keras, membuat seringai tipis kembali terbentuk di bibirnya.
Mammon masih berjalan dengan langkah lebar-lebar penuh amarah ke kelasnya, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian dikarenakan aura hitam yang menguar begitu pekat dari tubuhnya.
"Senpai cabul sialan itu! Awas saja, akan kubuat dia mampus suatu hari nanti!" janji pemuda itu yang terus diulang-ulang bak mantra ampuh.
"Camkan nama pemilikmu ini dalam otakmu itu, Nona."
'Huh, apanya yang harus dicamkan? Berani benar berandalan sialan itu mengatakannya,' umpatnya dalam nurani tanpa adanya tanda-tanda perubahan suasana hati.
"Dengar, namaku—" jeda sejenak, "—Hibari Fon."
'Huh, apa bagusnya dengan nama Hibari—'
Kali ini kakak pertama dengan marga Dokuro itu menghentikan langkah serta mantra yang sedari tadi terucap berulang-ulang dari mulutnya. Ia menepuk dahinya sembari mendesahkan napas panjang tanda frustasi beruntun, kejadian satu hari ini saja sudah membuat kepalanya pening, demi seluruh dunia!
"Tapi, yaah, dia cukup tahu diri membiarkan kita tak dimangsa hidup-hidup oleh Hibari Alaude. Apa hubungan pacarmu itu dengannya ya, sampai-sampai wajah Alaude jadi mengeras begitu. Tapi, sepertinya juga tak perlu diurusi mengingat kita sudah lolos dari maut. Kau tahu, adiknya saja sudah cukup mengerikan, bagaimana kakaknya atau kakak pertamanya?"
"Ah, namanya Hibari Kyouya, kau tahu? Peranakan Hibari itu memang lebih ekstrim dibanding peranakan Sasagawa yang kesehariannya membuat penduduk kota bangun lebih pagi, ushishi~."
"Astaga, jadi Hibari Fon itu kakak pertama peranakan Hibari?"
Sudah terlambat menyadari semua yang telah disusun takdir dengan rapi, Mammon.
Setelah memberanikan diri selama beberapa lama di depan mesin minuman otomatis, Mammon akhirnya mampu merelakan sepersekian uang—yang sebenarnya tak seberapa mengingat ia sudah menguliti harta dua adiknya—ke dalam mesin dan menekan tombol di bawah kotak susu stroberi kesukaannya. Bunyi benda berat yang jatuh terdengar tak lama, membuat pemuda cantik itu sedikit berjongkok sejenak untuk mengambil minumannya sebelum akhirnya berdiri dan segera membasahi kerongkongannya yang kering dengan air berwarna merah muda itu.
Kejadian-kejadian random yang terjadi hari ini pasti bisa menjadi topik yang menguasai meja makan saat makan malam nanti, meski sebenarnya ia tak berniat menceritakannya. Dua adiknya itu harus dijauhkan dari cerita berandalan-keparat-berwajah-oriental yang seenak jiwa mencuri bibir orang yang diklaimnya sebagai mainannya.
Oh Tuhan, kalau ini ada dalam shoujo manga ini mungkin cukup bisa terjadi.
Perjalanan Mammon menjemput dua adiknya ke sekolah benar-benar ia tepati, toh tempatnya juga tak terlalu jauh sehingga tak akan menghabiskan ongkos yang akan menambah pengeluarannya hari ini. Pemuda cantik itu mengambil ponselnya, menekan sebuah tombol dan mendapati sekarang masih pukul satu siang, lalu mengingat dua saudaranya itu pulang sekitar satu jam lagi. Mengapa para guru rapat di saat yang seperti ini sih?
Lelah berjalan, pemuda itu menjelajahi jalanan yang tengah dilaluinya. Sebuah kursi taman panjang berwarna coklat ditangkap matanya, dan tanpa berkomentar ia langsung mengarahkan kakinya ke sana masih dengan sambil meneguk susu stroberi yang baru dibelinya. Baru saja mendudukkan bokongnya di kursi panjang itu dengan mulus, telinganya menangkap suara yang sama—mendudukkan bokong di kursi—di sebelahnya. Menghabisi penasaran, ia menoleh—yang kebetulan juga dilakukan orang di sebelahnya—dan…
….Hei, rasanya topi fedora itu bukan tren di Jepang, kan?
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : MET MALEM SEMUANYAAAA~~~~ /o/ maap nih update malem-malem, abisan saya juga udah greget buatnya XD Btw, maaf lama banget hiks, saya selaku perwakilan akun collab dan penanggung jawab chapter ini, Profe Fest, baru aja selese UTS dua minggu plus dikasih pr berlimpah dari guru. Oh Tuhan, apa tak ada joki yang mau ngerjain pr saya? /sayadikepret.
Gimana Candu chapter pertama ini? Puas nggak? Btw, saya juga nggak nyangka bakal ngetik words-nya sepanjang ini, semoga kalian betah bacanya ya._. Yosh, chapter selanjutnya bakal dikerjain sama Harukaze Maulida-san, dinanti ya~ XD Oh, oh. Kalau ada yang mau ditanyain, langsung aja tanya di kotak ripiu ya XD Terima kasih bagi yang sudah mem-fav serta follow FF ini! Dinanti ya~~~! XD
Balasan Ripiu Anonim:
Hikage Natsu: Hai, terima kasih sudah berkenan memberi review! Harem!Mammon cewek apa cowok? Well, saya sugestikan untuk melihat warning yang menyatakan ini BL, dengan kata lain Mammon di sini cowok :]] /petir Levi nyamber/ Haduh, Fon kan disini cintanya sama Mammon :"D nanti kalo mas Reborn dilema mending dia sama saya aja /sayaditembakmati /plak. Review lagi ya!
kuro neko: SUDAH DILANJUTKAN! /saya kibar bendera perjuangan/ /apa. Nah, muka kalem kan berpotensi lebih tinggi jadi berandalan liar mas :"D /BUKAN /kenatendangankelangit. WAHAHAHAHA! KOK AKU NGAKAK KAMU KIBAR BENDERA PERJUANGAN FONMAMMON HAHAHHAA! /dibuang. Tenang, anak SMA kan nggak bunuh orang, mereka masih polos lihat darah :" /lhaterusberandalannya /sayadikepret. Review lagi ya~! XD
Yang lain jangan lupa review ya! Review, fav, dan lainnya akan selalu kami nanti! Pokoknya penuhin aja nih kotak ripiu, kami ikhlas lahir batin /apa /sayakenakepretMaulida. Doain nggak ada halangan buat nerusin FF ini ya XD Sampai bertemu lagi di chapter selanjutnya~!
-Salam-
Profe Maulida [Profe Fest and Harukaze Maulida]
