Disclaimer

Naruto belong

Masashi Kishimoto

Sasuke U. X Sakura H.

Warning : Ooc, typo, Eyd ngalor-ngidul dan teman-temannya.

Story : JJ Cassi.

.

.

.

.

.

"Kalau menurutku Ino, kau harus memilih diantara mereka, tidak mungkinkan kau akan memacari keduanya? " Sakura sedang merapikan masker bengkoang di wajahnya, Ino duduk di kasur Sakura, kepalanya Ia tundukkan di kedua kakinya yang Ia tekuk, di sebelahnya Hinata berbaring sambil memainkan ponselnya. Saat ini mereka sedang menginap di rumah Sakura.

"Sebenarnya mana yang Ino-chan cintai? Jelaskan pada keduanya supaya masalahnya bisa terselesaikan. " ujar Hinata yang sekarang sudah duduk dan menepuk-nepuk punggung Ino.

"Tapi masalahnya, Sai-kun sudah memutuskanku ketika kejadian di atap. Memang salahku juga karena sempat terlarut dalam ciuman sesaat bersama Shikamaru tapi aku sadar bahwa hatiku hanyalah untuk Sai-kun, " Ino menangis sesenggukkan.

"Aku tidak menyangka padamu Pig, kau benar-benar melakukannya dengan Shikamaru. Kau tau? Aku bahkan memarahi orang-orang yang membuat dan menempel foto kalian yang tertempel di mading, oh, astaga! " Sakura menepuk jidatnya sendiri kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.

"Ino-chan yang sabar ya, jelaskan yang sebenarnya dengan pelan kepada mereka berdua. "

"Aku tidak pernah melihat sikap Sai-kun yang seperti itu dan, aku juga tidak yakin dia akan mendengarkanku. " Ino memeluk Hinata di sebelahnya.

Cklek'

Sakura keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya. Menghampiri sahabatnya yang tengah berpelukan, Sakura juga ikut memeluk membuat Ino berjengit.

"Hei bodoh! Elap dulu wajahmu dengan handuk! " semprot Ino kepada Sakura karena saat Sakura memeluknya pipinya yang baru saja Ia cuci menempel pada pipi Ino, sontak Ino berjengit karena merasa dingin. Sakura hanya nyengir, Hinata meraih handuk di leher Sakura kemudian mengusapkannya pada wajah Sakura yang disambut dengan senyum manis Sakura.

Drt drt drt,

Ponsel Sakura bergetar, Sakura segera meraihnya di meja samping tempat tidur. Ada 1 pesan dari Sasuke,

From : Sasuke-kun.

Kau sedang apa? Sudah makan?

Seketika wajah Sakura sumringah dan membalas pesannya dengan cepat.

To : Sasuke-kun.

Aku habis cuci muka, iya aku sudah makan. Bagaimana denganmu?

"Sakura-chan, sedang apa? " tanya Hinata yang dari tadi memperhatikan Sakura yang cengar-cengir sendiri sembari membalas pesan.

"Membalas pesan, " jawab Sakura tanpa menatap Hinata dan masih sibuk membalas pesan dari Sasuke.

"Dari siapa? " tanya Hinata lagi,

"Sasuke-kun ... pangeran berkuda putihku, " sambar Ino menirukan gaya Sakura ketika memuji Sasuke membuat Sakura meliriknya sinis.

"Oh. Ayo kita tidur, ini sudah malam. " Hinata meletakkan ponselnya di samping tempat tidurnya kemudian menarik selimut dan membaringkan tubuhnya.

"Ha'i. " Ino mengikutinya, sementara Sakura masih asik berdiri memainkan ponselnya.

"Kalau Sakura-chan sudah selesai, lebih baik Sakura-chan langsung tidur. " gumam Hinata. Sakura meliriknya kemudian mengangguk.

Melihat kedua temannya sudah berbaring, Sakura meletakkan handuknya di kursi kemudian ikut berbaring di kasur namun tangannya masih aktif membalas pesan dari Sasuke. Gadis bersurai merah muda itu sangat suka jika Sasuke memperhatikannya seperti tadi, bertanya apakah kau sudah makan? Atau 'cepat makan, nanti kau sakit. Apa mau kusuapi? ' 'Kyaaa! ' innernya selalu berteriak saat mengetahui Sasuke selalu memperhatikannya, melakukan hal-hal yang membuatnya merasa nyaman bersamanya. Mereka mengobrol lewat sms hingga larut sampai Sakura jatuh tertidur.

.

.

.

.

.

Paginya mereka sudah siap untuk berangkat bersama menuju kampus. Mereka berangkat menaiki kereta, Sakura sudah mengirimi sms pada Sasuke bahwa hari ini Sasuke tak usah menjemputnya karena Sakura akan berangkat bersama Ino dan Hinata. Mengingat Sasuke membuat Sakura tersenyum geli. Pagi tadi ketika Ia akan mandi Ia melihat ponselnya berkelip-kelip, Sakura meraihnya dan membacanya. Senyumnya langsung tersemat begitu mengetahui sms dari Sasuke yang isinya, From : Sasuke-kun.

Sakura kau tidur? Yasudah oyasumi, aku menyayangimu :)

Itu adalah sms Sasuke tadi malam yang baru Sakura buka, karena Ia ketiduran. Sakura memeluk ponselnya dan mengecupi berkali-kali. "Aku juga menyayangimu Sasuke-kun, "

"Hei! "

"Akh! " lamunan Sakura buyar karena Ino menyenggolnya.

"Sudah sampai, ayo! " Sakura mengangguk kemudian mereka turun dari kereta.

Konoha University sudah banyak didatangi oleh mahasiwa/mahasiswi untuk menuntuk ilmu. Seperti halnya Sakura, Ino, dan Hinata mereka memasuki gedung Konoha University. Dari jauh Sakura melihat Sasuke di parkiran duduk manis di motornya dengan buku yang sedang di bacanya.

"Sasuke-kun! " Sakura melambaikan tangannya kepada Sasuke yang dibalas dengan lambaian dan senyuman dari Sasuke. Membuat Ino memutar bola matanya bosan.

"Hinata-chan! " Naruto berlari menghampiri Hinata.

"Geez, kalian membuatku iri. " guman Ino kemudian berjalan mendahului mereka.

"Hah? " Sakura, Naruto, dan Hinata hanya melongo.

"Sakura, " Panggilan dari Sasuke membuat Sakura kembali menatap kekasihnya yang menyuruhnya mendatanginya. Sakura mengangguk, melirik Naruto dan Hinata yang sedang mengobrol kemudian berjalan menghampiri Sasuke.

"Sasuke-kun baru datang? " tanya Sakura begitu sampai di tempat Sasuke,

Sasuke melihat jam hitam yang melingkar di tangannya, "Sekitar 20mnit yang lalu, " kemudian menatap Sakura, "Apa tidurmu nyenyak semalam? Sepertinya kau ketiduran semalam. " Sakura mengangguk kemudian tersenyum.

"Tidurku sangat nyenyak. Bahkan pagi tadi hatiku berbunga-bunga saat mendapat pesan dari seseorang bahwa dia menyayangiku. " jawab Sakura dengan senyum manisnya.

"Itu aku, " Sasuke mengusap surai merah muda Sakura. Sakura tersenyum kemudian memegang tangan Sasuke. "Maaf aku ketiduran semalam dan baru membuka pesanmu tadi pagi, " Sasuke tersenyum kemudian mengangguk.

Pemuda yang selalu aktif di semua kegiatan kampus itu berdiri dan meraih tangan Sakura, "Ayo, kuantar kau sampai kelas. " Sakura mengangguk antusias kemudian memeluk lengan Sasuke berjalan bersama.

.

.

.

Kelas Sasuke selesai lebih awal sementara Sakura masih ada kelas dan akan selesai sebentar lagi, begitu pesan yang Sasuke dapat dari Sakura, jadi Sasuke menunggunya di kantin.

"Hei, Teme ... " tepukan di bahu dari Naruto membuat Sasuke mendongak melihat Naruto duduk di depannya dan langsung menyambar minumannya.

"Kau tidak kencan dengan Hinata? " tanya Sasuke yang melihat Naruto sendiri, biasanya kekasihnya selalu di sampingnya apalagi kelas mereka selesai lebih awal.

"Hinata-chan sendang memfoto copy tugas dari Kurenai-sensei. " Sasuke mengangguk kemudian memainkan ponselnya.

"Oi Sasuke! " Sasuke menatap orang yang memanggilnya begitupun dengan Naruto.

Brak!

"Lihat apa yang telah gadis pinkymu lakukan padaku! " teriak Kiba yang menghampiri meja Sasuke dan menggebraknya. Sasuke dan Naruto memperhatikan Kiba. Rambut acak-acakan, muka hitam, baju praktiknya kotor dan kalau boleh dibilang penampilannya compang-camping.

"Pfttt, bwahahaha ... " Narutolah yang pertama kali tertawa melihat penampilan Kiba.

"Kiba, lihat penampilanmu sekarang, " Naruto tertawa memegangi perutnya, Sasuke tertawa pelan. Kiba menatapnya sinis, hidungnya kembang-kempis menahan emosi.

"Ada apa? " tanya Sasuke yang masih tertawa kecil.

"Gadis pinkymu itu mengacaukan praktik kimiaku! Dia memasukkan asal cairan kimia menyebabkan ruang Lab meledak dan mengenaiku! " adu Kiba.

.

Hening

.

"Bwahahaha, " Naruto kembali tertawa mendengar pengaduan Kiba.

"Kau jangan tertawa Naruto, kekasihmu juga terlibat! " Kiba menatap Naruto sengit pemuda bersurai pirang jabrik itu seketika terdiam.

"Apa?! "

"Heh, kekasihmu juga ikut mencampurkan cairan-cairan kimiaku bersama gadis pinky itu. Dan Sasuke! " pandangannya pindah ke arah Sasuke.

"Gadis pinkymu itu juga dengan seenak jidatnya membuang sebelah sepatuku! Lihat! " Kiba memperllihatkan sebelah kakinya yang tidak memakai sepatu.

"Bwahahah, " Naruto tertawa lagi tapi tidak sekeras tadi, begitu juga dengan Sasuke.

"Dia tidak akan melakukannya kalau tidak ada sesuatu, " Sasuke memasukkan ponselnya ke saku celananya.

"Heh! Aku hanya bertanya 'Bagian tubuh Sasuke mana yang kausukai? ' dia menjawab bi- hmmptt, " ucapan Kiba terputus karena bekapan dari Sakura.

"Kiba, jangan bicara aneh-aneh. Awas kau! " ancam Sakura pelan, sementara Hinata dengan santainya duduk di sebelah Naruto.

"Hei bodoh! Ini semua gara-gara kau dan Hinata! " Kiba mengapit leher Sakura dengan lengannya.

"Sasuke-kun, dia menyakitiku. " adu Sakura dengan suara yang dibuat-buat seakan merasa kesakitan.

"Kiba, lepaskan tanganmu dari kekasihku! " Sasuke berdiri dan menarik Sakura agar lepas dari Kiba.

"Geez, awas kau! " Kiba pergi mencari sepatunya yang dibuang Sakura.

.

.

.

"Jangan usil lagi, " gumam Sasuke pada Sakura. Saat ini mereka berada di parkiran dan menuntun motor Sasuke.

"Apa? " Sakura tidak mengerti.

"Kiba. Jangan usil padanya, " Sakura memutar bola matanya bosan. "Haish! Dia menyebalkan aku benci padanya! " sungut Sakura.

"Jangan begitu, kau juga usil. Kiba bilang kau dan Hinata meledakkan ruang lab. " Sakura terdiam dan mengalihkan wajahnya agar tidak melihat Sasuke.

"Hinata duluan yang mulai, " ucap Sakura pelan.

"Dan kau mengikutinya? " sambung Sasuke. Sakura kembali terdiam. Ya, memang iya juga salah, Ia dan Hinata salah karena menganggu Kiba di ruang Lab. Itu karena rasa penasaran Hinata yang melihat cairan yang mengeluarkan asap dan asal mencampurkannya, awalnya sih tidak apa-apa malah mengasikkan, Sakura yang melihatnya juga ikut mencampurkan mumpung Kiba di toilet. Karena keasikkan mencampur cairan yang mengeluarkan asap, tiba-tiba tabung yang berisi cairan semakin banyak mengeluarkan asap, Sakura dan Hinata yang melihatnya jadi panik dan lari keluar, saat mereka keluar Kiba masuk dan jadilah, BOM!

Ruang lab meledak. Bukan ledakkan besar, tapi ledakan kecil biasa, Kiba keluar dengan kondisi compang-camping.

"Lalu, kenapa kau membuang sepatunya? " Sasuke menaiki motornya dan menjalankan mesinnya.

"Dia menyebalkan. Kiba selalu mengatakan bahwa aku tidak pantas menjadi kekasih Sasuke-kun. Aku marah dan kesal jadi kubuang saja sepatunya. "

"Memang benar ya? Kalau aku tidak pantas jadi kekasih Sasuke-kun, " lanjut Sakura.

"Jangan didengarkan. Nyatanya aku sekarang kekasihmu. " Sasuke mengusap pipi Sakura. Sakura meraih tangan Sasuke yang berada di pipinya kemudian menciumnya. "Aku sebal jika Kiba berkata seperti itu, " lirih Sakura.

"Sudahlah, dia hanya iri melihat kedekatan kita. Ayo naik! " Sasuke menarik pelan tangan Sakura untuk menaiki motornya, Sakura menurut.

Sasuke sudah siap untuk menjalankan motornya namun Ia urungkan karena melihat Gaara yang berdiri di depannya.

"Bisakah aku berbicara dengannya? " Sasuke mengikuti arah pandang Gaara yang mengarah pada Sakura di belakangnya, sementara gadis bersurai pink itu terlihat terkejut.

Sasuke mengangguk, "Oh, tentu. " Sasuke mengisyaratkan Sakura untuk turun dari boncengannya. Sakura turun kemudian menatap Sasuke, "Aku akan menunggumu di sini, pergilah, " gumam Sasuke, seulas senyum dari Sasuke membuat jantung Sakura yang sempat berdetak dengan cepat kini mulai teratur. Sakura melangkah menghampiri Gaara. Mereka berbicara agak jauh dari Sasuke.

Dari tempatnya, Sasuke memperhatikan Sakura dan Gaara meski tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Terlihat raut wajah Sakura yang berubah-ubah. Menunduk, khawatir, takut dan ada seperti tatapan seseorang yang menunjukan kerinduan diantara keduanya.

Drt drt drt,

Ponsel Sasuke bergetar dan Ia langsung mengangkatnya yang di sambut dengan suara cempreng dari siapa lagi kalau bukan Naruto.

"Sasuke! " Sasuke menjauhkan ponselnya dari telinganya.

"Kau belum membayar minumannya ya? " lanjut Naruto lagi di seberang telepon. Sasuke mengeryit kemudian mengingat.

"Heheheh, gomene aku lupa. " jawabnya enteng dengan kekehan.

"Dasar! Aku sudah membayarnya tadi, "

"Hn. Arigatou, "

"Yasudah, aku hanya mengatakan ini saja. "

Pip. Dan sambunganpun terputus, Sasuke melongo menatap layar ponselnya.

"Si baka Dobe menghubungiku hanya untuk ini saja? Hah, dasar. " Sasuke tertawa sarkatik.

"Sudah selesai? " Sasuke berjengit dan menolehkan kepalanya kebelakang. Sakura sudah duduk manis di boncengannya.

"Urusanmu dan Gaara sudah selesai? " tanya balik Sasuke. Sakura mengangguk.

"Oh, " Sasuke memasukkan ponselnya di dalam tas dan menjalankan motornya mengantar Sakura pulang.

.

.

.

.

.

Sakura turun dari motor Sasuke setelah sampai di depan rumahnya. Melepas helm dan memberikannya pada Sasuke.

"Apa Ayah dan Ibumu sudah pulang dari luar kota? " tanya Sasuke.

Sakura menggeleng, "2 hari lagi Ayah dan Ibuku pulang, " Sasuke melirik rumah Sakura yang masih gelap, kemudian menatap Sakura. Sudah 2 minggu Ayah dan Ibu Sakura pergi ke luar kota untuk urusan bisnisnya, sehingga mengharuskan Sakura tinggal sendiri di rumah. Kadang Sasuke juga menemaninya, tapi karena kesibukannya yang aktif diberbagai organisasi di kampusnya Ia tidak setiap hari menemani Sakura. Khawatir, tentu saja Sasuke khawatir melihat Sakura sendirian di rumah, tapi Sasuke selalu meminta Sakura agar mengajak Ino dan Hinata untuk menemaninya selama Ia tidak bisa menemani.

"Hati-hati di rumah, jangan kemana-mana. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Maaf aku tidak bisa menemanimu karena Tou-san ingin bertemu dengannku, " ujar Sasuke yang masih menatap Sakura lembut. Sakura tersenyum kemudian mengangguk.

"Daijobou, aku mengerti. Sasuke-kun juga hati-hati ya pulangnya, " Sakura mengelus lengan Sasuke. "Tidak usah khawatirkan aku, aku bisa jaga diriku sendiri. Aku akan menghubungimu jika terjadi apa-apa, " Sasuke tersenyum kemudian memegang tangan Sakura. "Aa. "

"Kalau begitu aku pergi ya, " melepaskan tangan Sakura, Sasuke menghidupkan motornya.

"Ha'i. " Sakura melambaikan tangannya. Motor Sasuke melaju meninggalkan rumah Sakura. Menghela napas, Sakura memasuki rumahnya.

Malamnya Sakura hanya berguling-guling dikasur. Bosan. Ya, Ia sangat bosan tidak ada yang bisa Ia lakukan setelah makan malamnya tadi dan sempat menonton tv Sakura kembali ke kamar. Berulang kali Sakura mengecek ponselnya, Sasuke tidak mengiriminya pesan. Sakura maklum karena Sasuke pasti sedang bersama ayahnya jadi Sakura tidak mau mengganggu.

"Tapi aku ingin Sasuke-kun mengirimiku pesan! " rancau Sakura. Kini Sakura hanya memandang ponselnya yang sepi, sesepi pemakaman. Tidak ada yang mengiriminya pesan bahkan pesan dari 2 sahabatnyapun tidak nampak. Ingin keluar tapi bingung pergi dengan siapa?

"Arghh! " Sakura melempar ponselnya ke bantal dan menjatuhkan dirinya di kasur. Meraih guling di dekatnya dan Ia peluk.

Tring'

Mendengar ada pesan yang masuk dari ponselnya senyum Sakura merekah, "Sasuke-kun, " riangnya. Sakura segera bangun dan meraih ponselnya.

Dahinya mengeryit melihat nomor tidak dikenal mengiriminya pesan. Sakura membukanya.

From : 082XXXXXXXXX

Ini aku.

Singkat dan padat. Sakura bertambah bingung ketika si pengirim tidak menyebutkan nama. Sakura membalasnya.

To : 082XXXXXXXXX

Ya?

Selang beberapa menit ponselnya bergetar ada panggilan masuk dari orang yang mengirimi pesan. Dengan ragu-ragu Sakura mengangkatnya.

"Moshi-moshi? "

"Hn. "

Sakura terdiam mendengar suara bariton di seberang ponselnya. Sakura ingin mematikannya namun suara di seberang telponnya menginterupsinya.

"Jangan dimatikan! " jantung Sakura berdegub kencang, Ia tau siapa yang menelponnya. Sabaku Gaara, ya Gaara yang menelponnya Ia sangat mengenali suaranya.

"Aku ... mohon. " Sakura semakin sulit bernapas kala si penelepon memohon agar jangan mematikan sambungan telepon.

" ... "

" ... "

" ... "

"Aku merindukanmu. " mata Sakura melebar mendengarnya.

"Sakura? "

Sakura masih diam.

"Sakura bicaralah, " Sakura menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, matanya memanas, dengan tangan bergetar Ia mematikan ponselnya. Menangis. Gadis bersurai pink pendek itu menangis dalam diam, memegang erat ponselnya.

.

.

.

.

.

Hujan deras mengguyur kota Konoha, menyulitkan Sasuke untuk mengendarai mobilnya. Pertemuannya dengan Ayahnya beberapa menit yang lalu ternyata menemani sang ayah, Fugaku bertemu dengan kliennya untuk urusan bisnis. Tentu saja Sasuke senang karena Ia jadi punya banyak pengalaman dari cerita yang Ia dengar dari rekan Ayahnya yang sama-sama sukses. Tadinya Sasuke ingin mengirimi Sakura pesan setelah menemani ayahnya, namun sayang ponselnya mati karena Ia lupa mengisinya.

Ckit! Duar!

Sasuke segera mengerem mobilnya mendadak, di depan ada kecelakaan mobil. 'Di tengah hujan yang lebat dan petir yang menyambar patutnya kita mesti berhati-hati jika sedang mengendarai di jalan yang licin seperti ini, ' Sasuke menasehati dirinya sendiri.

Begitu mobil di depannya menyingkir, Sasuke menjalankan mobilnya dengan hati-hati. Ia sempat melirik si korban yang masih terkapar dan beberapa orang mengerubuminya, ada yang memaki orang yang menabraknya langsung lari. 'Sepertinya tabrak lari, ' pikirnya.

Sasuke menghentikan mobilnya, matanya memicing menatap si korban yang ternyata perempuan bersurai pirang panjang. 'Sepertinya aku mengenalnya, '

Sasuke keluar dari mobilnya dan menghampiri si korban. Matanya sukses melebar mengetahui bahwa si korban adalah temannya.

"Ino! Astaga! " Sasuke menepuk-nepuk pipi Ino. Sasuke terkejut, ternyata korban kecelakaan itu ialah Ino.

"Apa kau mengenalnya tuan? " tanya orang disekitarnya.

"Ya. Dia temanku. "

"Orang yang menabraknya langsung melarikan diri, " sambung orang di sebelahnya.

"Tolong bantu aku, akan kubawa dia ke rumah sakit. " Sasuke membopong Ino dibantu orang-orang membawanya ke mobil Sasuke.

"Terima kasih. " Setelah meletakkan Ino di mobilnya, Sasuke segera membawanya ke rumah sakit.

.

.

.

.

.

Tbc

desypramitha26 : makasih sudah review, ini sudah lanjut ^^

Suket alang alang : ini sudah lanjut ya ^^

Mantika mochi : iya makasih sarannya, sudah saya perbaiki. Kalo ada salah lagi bilang aja ngga papa, nanti saya perbaiki ^^

Ehem ... fic ini responnya dikit ya :( padahal aku suka nulis fic ini dari semua fic aku. Karena buat aku review dari kalian sangat berarti.

Ngga papa wis, kan selera orang beda-beda ada yang suka ada yg ngga :D

Yasudah karena sudah terlanjur nulis fic ini jadi, ini spesial buat kalian yg suka sama fic ini ^^

By: JJ Cassi