DAUN DAUN BERGUGURAN


Original Character by Masashi Kishimoto

Original Story by Cristine MT


Daun-daun berguguran yang menyedihkan terseok-seok udara bertebaran tak tentu arah, ingin hidup tak mampu mati tidak sanggup.


Warning ! Tiap naskah bisa memengaruhi sedikit-banyak gaya berpikirmu untuk sementara. Tidak dianjurkan membaca dalam keadaan emosi negatif (sedih dan marah) atau sedang dalam suasana hati yang ekstrem.


Chapter 2 : Penjelasan Masa Lalu


Samar ia dengar Hanabi tertawa kecil dan Tsunade mengikutinya. "Aku juga sangat suka wajah cantiknya jika sedang melamun," sangat pelan suara Hanabi melemah.

Wanita baya berambut pirang di sebelah Hanabi, tersenyum lembut, "Hanabi juga sangat cantik, bedanya kau cantik pada semua waktu,"

Terkekeh, "Aku tak menyangka kalau kecantikan Kakak terkalahkan,"

Tsunade mengambil alat suntik dan melempar pandangan kea rah Hanabi, 'Tolong berikan tanganmu' maka Hanabi mengulurkan tangan mungilnya. "Hanabi mau dengar kabar menyenangkan?"

Meski nampak kesadarannya hilang sedikit, raut penasaran tetap menghiasi wajahnya, "Apa, Ibu?"

"Menurut Ibu, Hanabi akan menjadi anak yang paling beruntung, karena akan segera bertemu Papa dan Mama," Air mata di ujung kelopaknya, ia menghindari tatapan langsung dari sang gadis kecil dengan memalingkan wajahnya dan mengedipkan kelopaknya beberapa kali. "Dia sudah sangat rindu pada Hanabi, tapi kalau Dia masih bisa menahan rindu pada Hanabi, kau harus tetap di sini,"

"Kalau benar begitu, aku minta Ibu Tsunade selalu menemani Kakak, ya? Jangan sampai dia kesepian,"

Hinata merunduk, bibirnya bergetar dan matanya mengatup kencang. Ia biarkan air matanya menetes untuk kata-kata Hanabi yang mejurus, ia terisak tertahan.

"Karena kalau Kakak sudah menangis, ia akan seperti anak bayi, menangis lamaaaa sekali,"

Bahunya bergetar hebat, ia mengusap pipinya entah dirinya terkekeh atau menangis seperti yang dikatakan Hanabi, layaknya anak bayi. Hinata tidak pernah menduga Hanabi berkata seperti itu, artinya ia sangat memerhatikan Hinata, tentunya ia terkejut Hanabi memiliki pikiran yang melebihi anak sebayanya.

"Hanabi sangat menyayanginya?"

Gadis itu mengintip dari balik sedikit celah yang terbuka, dapat ia lihat Hanabi mengangguk lemah.

"Kalau Hanabi punya kesempatan untuk meminta satu permintaan dan secara ajaib dapat dikabulkan, apa yang Hanabi minta?"

"Aku…akan meminta agar Kakak sekolah dengan tenang-" napasnya mulai terengah-engah, sedang Tsunade langsung memasangkan oksigen untuk membantu si gadis kecil bernapas. "-jangan lagi diganggu oleh teman-temannya yang jahat…"

Tsunade mengangguk-angguk lemah dengan mengusap air mata yang ada di ujung matanya.

"…aku sangat menyayangi…Kakak."

Lama setelah Hinata menangis dalam diam, ia meringkuk tenggelam dalam kesedihannya. Ia tak akan dapat membayangkan bagaimana terpuruknya ia kalau-kalau Hanabi tidak lagi di dekatnya. Hanya Hanabi yang ia punya, hanya dia teman hidupnya yang paling berharga dan tidak dapat ditukar dengan apapun!

"Kalau kau butuh uang, kau bisa jadi pelacur murahan lagi!" Amethyst itu menyalang begitu lebar kala kalimat gila itu berputar dalam tempurungnya barusan. Napasnya menderu dan jantungnya berdegup sangat cepat.

Kepalanya yang sakit ia angkat dari tumpuan lengannya, ia tersadar dari mimpi buruknya tadi. Ralat, bukan mimpi, melainkan kejadian yang membuatnya trauma yang sangat ia takuti. Matanya ia buka, sehingga dapat melihat ke sekeliling dan ia baru ingat bahwa sepulang kuliah ia menemani Hanabi di Rumah Sakit. Ia melirik pergelangan tangannya, jam tangan mungil pemberian Hanabi menunjukan angka sepuluh sekarang.

Ia juga tak menduga sudah empat jam terlelap dengan posisi terduduk di samping tempat tidur Hanabi pula mengenggam tangannya sedari tadi. Hinata menatap lama wajah pucat Hanabi yang kepalanya tertutup rapat dengan wajah terhalangi alat bantu oksigen.

Hinata menarik napas panjang dan tersenyum lembut melihat Adiknya masih bertahan. Kemudian ia mengecupnya berulang-ulang, berharap Hanabi tertawa riang dan memeluk Hinata. Namun tidak pada saat ini, nyatanya, Hanabi tetap terlelap dengan damai.

Dering ponsel membuat Hinata melepas genggamannya pada telapak tangan Hanabi, ia meraih ponselnya dan membaca telah ada dua pesan belum terbaca.

Pesan Pertama

Hinata, bagaimana keadaan Hanabi? Apa operasinya berjalan baik-baik saja? Maaf aku baru sempat membalasmu, Nak, keadaan toko baik-baik saja, dan banyak pelanggan yang sepertinya merindukanmu. Menurutku, mereka tahu persis mana kue buatanmu atau orang lain. Oh ya, berulang kali Mirai menanyakan dirimu, dia rindu padamu. Jaga dirimu baik-baik, dear. Jangan lupa makan, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang sudah lalu. Aku menyayangimu.

"Bibi Kurenai," gumam Hinata, ia terenyum kecil. Gadis itu membaca ulang pesan untuknya dan terkekeh. Terima kasih, bibi balasnya. Meski tidak menuliskan kata-kata yang banyak dan penuh sajak, semua orang tahu yang mana yang tulus dan pura-pura, kan?

Pesan Kedua

Hai, Hinata aku Naruto Uzumaki, aku ingin mengucap terima kasih sekali lagi berkat kau, hasil jepretanku disenangi oleh kakakku Itachi Uchiha. Maka itu, kami mengundangmu untuk makan malam dan membicarakan tentang seni dan pemotretan untuk bulan depan. Mohon responmu,

Alis Hinata bertaut, pria itu, Naruto Uzumaki yang memiliki manik biru secerah langit, berulang kali kemarin mengucap terima kasih padanya. Bukan, bukan tentang Naruto, tapi tentang apa yang ia baca barusan. Dia memang mencari banyak teman, tapi tidak untuk saat ini apalagi untuk pemotretan dan lainnya. Ia berpikir, akan jadi pemicu masalah kalau-kalau orang tahu siapa Hinata. Ditambah lagi, ia tidak bisa untuk berpergian, bahkan ia memutuskan untuk tidak ke toko dulu sampai Hanabi membaik.

Hanabi, kapan kau membuka mata? Ujarnya dalam hati, sementara ia mencoba untuk menutup kembali kelopaknya, kembali beristirahat berharap hari esok berjalan dengan baik-baik saja.


"Tidak apa-apa, Nona Tsunade, aku akan di sini sampai Hanabi membaik dan dapat kembali ke rumah,"

Tsunade menatap lembut dua bola mata Hinata. Meski Tsunade Senju dikenal sebagai orang yang sangat tegas dan galak, ia tetaplah wanita yang baik hati. Tidak dapat ia bendung empatinya terhadap si Yatim Hyuga bersaudara apalagi melihat kerja keras Hinata. Demikian Hinata dan Hanabi yang tidak mudah menyerah, Tsunade akan berusaha pula. "Belumkah kau percaya padaku, Hinata?"

Gadis itu menggeleng tanda tidak setuju, "Aku hanya ingin terus berada di dekat Hanabi, Nona,"

"Hinata," Wanita itu menyengkram bahu gadis di depannya, dan menatapnya lebih dalam berusaha memberi tahu sesuatu yang ada dalam hatinya, "Kau harus pergi kuliah, biar Hanabi aku yang perhatikan. Aku tidak akan memintamu tiga kali, Hinata, dengar, kau sudah seperti anakku sendiri…"

Hinata merunduk.

Bukan ia mau kabur dari intimidasi Tsunade, tapi dia menyembunyikan air mata yang mendesak keluar. Ia malu, jika harus menangis terus di depan wanita itu.

"…hei, tatap mataku, Hinata,"

Gadis itu mengadah, melihat Tsunade dengan mata yang jauh lebih berkaca-kaca sehingga meneteslah air mata Tsunade dan mengenai pipinya. "Aku mengerti betul maksud Anda, Nona," tak bisa ia sangkal lagi air matanya, Hinata menangis dengan beberapa isakan. "Anda berisikeras membiarkan aku kuliah, agar aku terus menempuh pendidikan, bukan menunggui Hanabi dengan tanpa berbuat apa-apa, sehingga penantianku terhadap Hanabi akan sia-sia…karena Adikku-"

"Cukup, nak, bukan itu yang kumaksud!" Tsunade memeluk erat tubuh Hinata dan menangis mendekap jiwanya yang rapuh. Entah apa yang Tuhan inginkan dari gadis ini, tetapi Tsunade percaya, bahwa Hinata akan menjadi sesuatu saksi nyata kekuasaan Tuhan atas manusia.

Meski apa yang dikatakan Hinata adalah apa yang ada di pikiran Tsunade, wanita itu tetap terpukul karena pengutaraan dari mulut Hinata langsung jauh lebih menyakitkan.

"Satu yang aku harapkan darimu, nak," deruan napas Tsunade mereda, ia melepaskan pagutannya dan menangkup wajah Hinata, "Jangan berhenti dari pendidikan yang kau impikan, teruslah berjalan!"


"Hai, Nona Hinata," terkejut karena tiba-tiba ada seorang pria di sebelahnya, ia terbelalak sebentar. "Eh? Maaf membuatmu kaget,"

Naruto Uzumaki?

Pria itu tersenyum, "Apa kau membaca pesanku?"

"I-iya, aku baca, dan maaf tidak kubalas karena kupikir sudah larut,"

Ia terkekeh sebentar, "Aku yang harus meminta maaf karena tidak tahu diri mengirimi orang pesan padahal sudah larut," ujarnya, "Yah, aku menyalahgunakan ponsel untuk yang kesekian kalinya,"

Hinata berpikir sebentar, sepertinya sesuatu akan terjadi. Ia lupa kalau semalam Naruto mengajaknya makan malam bersama blabla Uchiha, Hinata tidak ingat persis siapa namanya. Ia harus memikirkan cara supaya ia bisa menghindar dari ajakan Naruto.

"Kakakku sudah menyiapkan hidangan dan mengundang kakakku yang lainnya menghadiri makan malam ini, maaf kalau tidak resmi karena kami masih muda,"

Gadis itu cemas. Bagaimana ia bisa menolak kalau semua sudah disiapkan seperti yang telah dijabarkan oleh Naruto? Hinata paling tidak siap mendengar kekecewaan orang-orang terhadap dirinya.

"Nah, Nona Hinata, mari ikutlah denganku,"

Gadis itu menghela napas, ia mengangguk dan mengikuti langkah Naruto menuju parkiran dan berangkat ke sebuah tempat dengan mobilnya.

Hinata Hyuga bersama dengan Naruto memasuki sebuah mansion mewah dengan tulisan kepunyaan NARA di depan dan di tiap sisi tembok mansion. Ia memerhatikan dengan saksama namun tidak terlalu mencolok, bahwa tempat ini sangat memanjakan mata dengan desain forest dan beberapa kepala hewan sebagai hiasan ditemani lukisan-lukisan bersejarah membuat mansion ini nampak seperti 'peninggalan' dari Kerajaan masa lalu.

Kaki Naruto berbelok, mengangguk dan tersenyum menyahuti para pelayan dan membuka pintu besar di depannya kemudian masuk diikuti Hinata.

Keduanya memasuki ruangan yang sepertinya acara jamuan makan malam mereka. Terdapat meja besar berbentuk oval dengan makanan mewah terhidang. Ada pula tiga orang pria dan satu wanita di sana dan wanita itu adalah-Temari Nara juga diundang?-Temari salah satu seorang yang Hinata kenal.

"Halo selamat datang, Nona Hinata," sambut si satu-satunya wanita berambut pirang dengan mata hijau menawan bertemu dengan mata sang tamu. "Silakan duduk,"

Mendapat perlakuan sangat sopan membuat Hinata sontak memanas pipinya. Jantungnya berdegup dan keringat dengan sempurna meluncur dari pelipisnya, "J-jangan panggil aku 'Nona', Nona Temari Nara,"

Ruangan itu menjadi sepi termasuk Naruto yang kini mendudukan dirinya di dekat Hinata menelan liurnya. Ia melirik seorang pemuda berambut raven dengan tatapan 'mati-lah-kau' dan yang ditatap seakan membalas 'kau-lebih-dulu-bodoh'

Sementara wanita yang mulanya menyapa Hinata tiba-tiba menggeram setelah ia terkejut mendengar namanya disebut oleh Hinata, "Siapa yang menuliskan namaku dengan nama Shikamaru, hah!?"

"Aku hanya menyetujui ketika Naruto mengatakan idenya," seorang berambut hitam yang rambutnya diikat tinggi ke atas menyahuti, Itu 'kan Shikamaru Nara?

Temari mengintimidasi Naruto yang kini terkekeh pilu.

"Dan itu memang benar," si pemuda berambut raven akhirnya mengaku.

Berharap dapat meninju wajah Naruto yang kini menunjukan raut meminta maaf dan seolah berkata 'he-he-he-aku-hanya-bercanda' lalu menyeburkan kepala pirangnya ke dalam laut penuh Hiu, Temari terpaksa mengurungkan niatnya setelah Itachi Uchiha-yang tertua dari generasi terakhir Uchiha-Senju-Uzumaki-Nara bersaudara berdeham dan membuka mulut, "Naruto, Sasuke minta maaf pada Temari," katanya, "Lalu Temari jangan kekanakan," sangat bijaksana dan tenang, pikir Hinata.

"Kenapa harus aku yang minta maaf?-Temari maafkan aku," Sasuke mendengus. Lalu kepalanya diusap berulang-ulang oleh Temari dengan cekikikan, "Tentu saja, Adik manis,"

"Kakak, aku meminta maaf," ujar Naruto dengan memelankan suaranya, berharap Temari mendengar lalu mengusap kepalanya seperti yang ia lakukan pada Sasuke.

"Baiklah," nyatanya ia mengurungkan niatnya untuk meninju Naruto malahan sekarang ia cubit kedua pipinya.

Shikamaru Nara menopangkan dagu dengan tangannya dan menguap sebelum berkata, "Aku berani bertaruh, setelah kuberikan buku panduan Universitas pada Temari pasti ia akan menghajar kalian bertiga,"

"Apa maksudmu?"

Ditanya demikian, Shikamaru menggeledah laci meja di belakang kursinya ia memberikannya pada Temari dengan sedikit tenaga-ia lempar.

Iris hijau Temari bergerak ke kanan dan ke kiri setelah ia membuka laman perkenalan dirinya dan kelopak matanya membelalak sempurna, "Aku tidak pernah bercanda sampai separah ini, dasar!" Wanita itu menggeram dan mencekik Itachi Uchiha tokoh di balik desain seluruh Universitas ini. Sedangkan Itachi menunjukan raut ketakutan yang nampak sangat lucu. Tidak cocok dengan wajah tenangnya. "Kalau sampai Bibi Kushina melihat ini, aku pasti dihajarnya, bodoh!"

"Tidak! Ibu tidak marah, kok!" setidaknya, pengutaraan Naruto membuat Temari tenang sedikit dari deruan napasnya, "Ia malah tertawa dan menunjukan pada Ayah dan tertawa lagi,"

Kali ini, wajahnya memerah malu. Rasanya asap mengepul keluar dari telinganya dan pipinya terbakar habis.

"Sudahlah, hanya bercanda jangan kau ambil serius,"

Temari mendengar ucapan Shikamaru, mendengus lalu duduk di sebelahnya dan mulai mengipasi dirinya dengan kipas kecil yang entah dari mana ia ambil.

Sedangkan Itachi dan Naruto menahan tawanya hingga pipinya mengembung.

Hinata yang sedikit terkejut melihat kelakuan mereka kemudian tersenyum hampir tertawa. Bagaimana tidak? Semua sangat berbanding terbalik dengan penampilan dan citra mereka. Apalagi Itachi Uchiha, ternyata sifatnya sangat kekanakan dan sangat jahil. Temari yang ternyata tidak memiliki nama Nara juga sangat Tsundere.

Sikap mereka, membuat Hinata merasa nyaman dan semakin ingin mengetahui pribadi mereka lebih dalam.

Untuk yang terakhir kalinya, Temari menghela napas setelah ia menutup kipas kecil di tangannya lalu menatap Hinata, "Oke, Hinata perkenalkan aku Temari dari Negri Angin," ujarnya, ia menunjuk pria berambut hitam yang dikuncir ke atas, "Dia Shikamaru Nara," lalu menunjuk bergiliran, "Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki," wanita itu kemudian menunjuk Itachi, "Dia Itachi Uchiha, pemimpin dari pemain inti,"

Pemain inti? Entahlah, mungkin Hinata akan mengetahuinya segera atau malah Hinata mengucapkan terima kasih dan tidak ingin repot-repot mengetahui semua cerita keluarga besar ini.

"Silakan makan terlebih dahulu, sambil kita akan membahas rencana selanjutnya,"

"Huh, kenapa tidak dari tadi, perutku sudah kelaparan,"

Perempatan muncul di dahi Temari dan segera saja ia melempar gelas ke arah Naruto tetapi lagi-lagi gagal karena Hinata bertanya, "M-maaf, rencana apa?"

Temari tersenyum singkat, "Silakan makan dulu,"

Hinata Hyuga, masih saja merundukan kepalanya, memikirikan apa yang tadi dikatakan lebih tepatnya ditawarkan oleh Temari dan dipaksa oleh Naruto tepatnya Itachi. Mereka menjadikan gadis itu ikon dan model perusahaan desain yang ditekuni oleh keluarga besar itu.

Menurut Itachi, Hinata adalah seorang yang langka dengan kedua bola mata amethyst yang jarang dimiliki gadis-gadis jaman sekarang. Itachi juga mengungkapkan bahwa wajah dan tubuhnya sangat sesuai dengan apa yang diminta. Hinata adalah orang yang sangat pas dan ideal.

Untuk kali ini, mereka cukup berterima kasih dengan Naruto, oke lupakan itu.

Gadis berambut indigo itu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Memikirkan adik yang harus ia perhatikan terus-menerus, waktu kuliah yang sangat menyita kesempatan untuk menemui Hanabi, belum lagi toko yang sampai saat ini masih belum sempat ia jamah. Ditambah lagi pekerjaan mendesak yang sangat diharapkan oleh keluarga aneh itu? Ia buntu sekarang.

"Maaf, kau baik-baik saja, Nona?"

Gadis itu melirik Naruto di sebelahnya, yang sedang menyetir. Ia mengangguk dan tersenyum, "Aku baik-baik saja,"

Naruto mengangguk pula. "Kemana tujuan kita? Maksudku, kemana aku harus mengantarmu?"

Hinata menyerah, akhirnya ia mengaku untuk diantarkan ke rumah sakit. Gadis itu inginnya tidak ada yang tahu bahwa saat ini ia sedang mengalami situasi rumit. Agak lelah ia sampai saat ini jangan sampai kepalanya pecah karena ia terus berpikir mencari alasan kemana ia akan pergi. Lagipula ia harus cepat-cepat sampai ke rumah sakit karena sekarang sudah cukup larut.

Pria pirang disebelahnya, mengangguk.

Lama tidak berbicara lagi semenjak ada di jalan tol, akhirnya Naruto menyadari sesuatu, ia menoleh menatap Hinata, "Ke rumah sakit? Artinya kau sedang menemani seseorang?"

"Eh?" nyatanya, gadis itu mengangguk.

Naruto Uzumaki, menatap gadis itu lama. Kelamaan tatapannya melemah dan ia kembali pada atensi antero jalan di bawah langit malam. Ia baru menyadarinya.

Kemurungan Hinata, penolakannya dan jawabannya yang seakan terpaksa, tidak, memang terpaksa, ia baru menyadari semuanya. Hinata memiliki satu masalah penting dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

Tetapi Naruto mengacau. Ia dengan tidak tahu diri meminta tanpa tahu apa-apa.

"Aku meminta maaf," dengan alasan yang jelas harus meminta maaf, tetapi mulutnya meluncurkan kalimat itu dengan sendirinya. Aku sangat merasa bersalah itu pikirnya. Perasaan gelisah melanda dirinya. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya dan tubuhnya mulai gemetaran pelan. Gawat!

"T-tidak pelru meminta maaf," Hinata mengangkat kepalanya dan tersenyum. Tetapi ia memekik tertahan setelah melihat Naruto agak sedikit tidak biasa. Keringatnya mengucur dan napasnya agak kacau. "A-anda baik-baik saja?"

Berusaha mencairkan suasana, Naruto tersenyum dan mengangguk sebisa kepalanya bergerak. Merasa sangat tidak nyaman dengan perasaan yang sedang melandanya, ia menepi sejenak dan menarik napas dalam-dalam agar ia sedikit tenang.

"Kita…berhenti sebentar ya?"

Hinata mengangguk pelan mendengar suaranya yang terengah. Gadis itu menyiapkan keberaniannya untuk menatap kedua bola mata milik bungsu Uzumaki itu sambil berharap bahwa prasangkanya salah dan apa yang dia pikirkan sama sekali tidak benar. Hinata sedikit terkejut karena Naruto memalingkan wajahnya.

Hinata mengerti. Pria itu sepertinya tidak ingin orang lain tahu, ia berusaha menyembunyikannya.

Perlahan napas Naruto tidak lagi menderu sejak kehangatan menjalari telapak tangannya. Malah tangan dinginnya ia eratkan, mencari-cari kehangatan yang ia perlukan untuk mendamaikan hatinya.

Sadar akan sesuatu, pria itu menoleh pelan dan melihat Hinata yang kini sedang menggenggam tangannya. Sempat ia menarik tangannya, tetapi Hinata menghentikan dengan tangan lainnya, ia menatap lembut Naruto. "Tidak apa-apa," bisiknya pelan.

Naruto menghela napas panjang dan ia memejamkan matanya sejenak. Lalu ia membuka matanya yang sekarang nampak lebih cerah bagi Hinata. "Terima kasih," ujarnya. Pagutan tangan mereka terlepas.

Pria itu membenarkan dirinya terduduk dan mengusap dahinya dengan sapu tangan yang ia bawa. "Maafkan aku juga untuk yang tadi," lajutnya, "Itu…menjijikan."

Hinata menggeleng, "Kita hanya perlu berjuang sedikit untuk mengubah sesuatu," ucapnya.

Lama Naruto menatap Hinata, ia berpikir. Biasanya orang lain langsung panik dan menyemprot Naruto dengan hujaman kutukan setelah ia demikian. Atau malah ada yang bersumpah serapah untuk tidak lagi mendekatinya. "Kau sudah tahu, rupanya,"

Gadis itu terdiam.

"Aku…pecandu narkoba," katanya pelan dengan mata kosong yang kelamaan seperti memudar. Seperti kekelaman yang ia kubur dalam-dalam dan sekarang kesedihannya ia bongkar. Tidak terlalu kaget Hinata, tapi ia agak sedikit tidak percaya bahwa pria pirang ceria yang baik hati menurutnya, ternyata adalah apa yang diakui Naruto. "Mulanya tidak begini," ia melihat sebentar mata Hinata lalu tersenyum kecut, "Tapi aku kehilangan seseorang yang sama berharganya dengan Orang tuaku dan si bodoh Sasuke dan Shikamaru, aku kecewa pada diriku apalagi seperti yang kau lihat kecemasanku memiliki efek yang sangat berlebihan, aku hampir mati saat itu,"

Kehilangan seseorang yang berharga…ya?

"Kesedihanku tidak bisa dihentikan siapa pun, aku buntu. Aku memutuskan untuk membeli obat penenang terus –menerus agar setidaknya aku tidak mati karena kekurangan jam tidur. Obat penenang itu, obat yang membuatku terus-menerus menggunakannya hingga satu bulan yang lalu aku memutuskan untuk melepaskannya."

Hinata merunduk. Ternyata, banyak orang yang memiliki masa lalu kelam bahkan hampir tidak pernah terlihat dalam dirinya yang baru. Ketika Naruto sudah memutuskan untuk berhenti, bekas pada dirinya sama sekali bersih. Yang gadis itu pikir adalah…masihkah ada bekas pada diriku?

"Maaf Nona, aku mengacau lagi, harusnya Anda harus cepat-cepat–kemana ? Oh ya, rumah sakit."

"Aku sangat mengerti, "

Pria itu tersenyum, sedikit kecut tapi Hinata tahu itu tulus, kemudian ia mengangguk dan berkata, "Terima kasih," sebelum mereka benar-benar menuju rumah sakit.


Pagi itu Hinata benar-benar terkejut melihat Naruto sudah di pintu kamar Hanabi. Pria itu membawa bunga yang ia letakan di sebelah tempat berbaringnya Hanabi lalu memberi Hinata sesuatu, "Makanlah, lalu kita berangkat,"

"T-tidak, maksudku, mau apa Anda kemari, bukan, kenapa Anda repot-repot kemari?"

Naruto tersenyum dan mendudukan dirinya di sebelah Hinata, "Aku tidak memiliki alasan," katanya, "Aku merasa bersalah, dan yeah memang aku mutlak salah. Itu sebabnya aku bicara pada Itachi dan dia mengerti bahwa Anda tidak lagi harus memenuhi permintaannya,

"Dan kerena aku merasa bersalah, aku ingin melakukan sesuatu untukmu sampai kurasa cukup menghilangkan rasa bersalahku,"

Hinata tersenyum pula, baiknya ia memberi seseorang kesempatan untuk mencoba. Ia setuju.

Untuk yang kedua kalinya, Hinata melihat Naruto mengusap kepala Hanabi.

Tiap orang membuat kesalahan dan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Tiap-tiap ranting menentukan pilihannya sendiri akan terus menghasilkan buah dan kelopak-kelopak yang indah, atau menyerah dan tidak pernah bertumbuh. Yah, mereka memiliki pilihan, meski mutlak cuaca tidak pernah dapat dipilih. Hanya dapat berbuat sedikit usaha untuk kelangsungan hidup, yaitu bertahan;

Kau tidak mengerti maksudku?

Mungkin kau masih dalam proses pertumbuhan.

Dalam cuaca yang masih stabil.

Akan ada saatnya cuaca panas dan musim gugur dalam kehidupan manusia. Beku pada musim dingin dan bahagia saat musim semi. Siapa yang tahu? Bahwa sebeneranya ada pelangi setelah guyuran hujan. Entahlah, kau harus melakukan sedikit usaha dalam persiapan menyambut musim-musim dalam hidupmu.

Aku tidak pernah berharap lebih dari musim semiku, aku hanya ingin Hanabi membuka matanya, menggantikan daun-daunku yang telah berguguran.


To be continue

Thanks for your cooperation to not start a war

oke aku mulai berlebihan

My apologies I've been rambling, but I have to answer all the reviews.

Sie Na Kyoto : rating M di sini untuk mature content tapi bukan untuk seks tapi untuk kata-kata, karakter dan pengalaman yang bisa mengacaukan jiwa yang labil. Yah, aku harusnya ga pantas bilang 17/18 tahun ke atas, karena nyatanya harus manusia yang sudah matang yang dapat mengerti. Entah atas dasar apa aku nulis ini.

Guest (I) Dear, you have to login first, and thanks for your support. Here, the second chapter.

NaruhinaBorusara : terima kasih, sweetheart, aku juga penasaran siapa cowok itu. Dan, ini chapter duanya

Betelgeuse Bellatrix : Aku harus copy dan paste namamu ke sini, well, namanya rumit. Yeay! I'm back! Thank you for awaiting, dear. Ini dilanjut as I promised, Glad to hear you like this fiction, oh iya, many thanks for your tears, dear.. But don't cry anymore ..

Guest (II) Dear, you have to login first, glad to hear you like this fiction. Ini sudah ditingkatkan, jadi chapter 2

Adios : Dear, you have to login first, this is fanfiction, of course, aku juga sangat ga sanggup bacanya.. tragis

Real Guset : I guess you are the king of Guest members, you are too real! Here the second chapter, hope you more excited and more curious alias kepo. Sweetheart, aku tidak bisa memohon kamu login dulu ya.

Durarawr : Dear, you have to login first. Explode! Thanks for your statement! Penulisan yang indah, padahal aku ga bener-bener yakin. Aku harap Hinata terus begitu-begituan sama Naruto.. Hanabi, listen to this auntie, you have to keep fighting! Ini chapter-yang-mudah-mudahan-bisa-dibilang- kilatnya, dear!

androt fivers : I cannot write five thousand words in two days, dear ..

Neng275 : Thank you for your attendance, sweetheart .

Riri : Dear, you have to login first. Yah aku pikirjuga begitu. Aku juga ga akan sanggup bacanya ..

Rere : Dear, reviewmu sebenernya udah masuk just wait a moment .. you have to login, ya?

Difasya : tafasya, okay, you have to login first, dear. Aku juga lesu..

Thank you, silent reader. I ready to kick your ass.

oke saya berlebihan lagi