Lee Hyun Soo membuka matanya dengan malas. Suara manis Sungjong yang membangunkannya membuatnya jengkel bukan main.

"Hyunsoo hyung… Ayo bangun…" Ucap Sungjong lembut sambil mengguncangkan bahu Hyunsoo.

"Mengapa kau datang sepagi ini ke rumahku, hah?" Tanya Hyunsoo jengkel.

"Aku disuruh oleh manager untuk memangilmu latihan hari ini, selain itu…" Sungjong menunduk, Hyunsoo bisa melihat pipinya memerah.

"Apa?"

"Tidak apa-apa, ayo bangun, hyung. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."

"Kau sudah seperti ibuku saja."

Sungjong membalas perkataan Hyunsoo tadi dengan senyuman manisnya, kemudian ia keluar dari kamar Hyunsoo.

Hyunsoo bangun dari kasurnya, sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi tadi malam. Perkenalannya dengan Zikasa yang diawali ketika ia memegang erat tangan Hyunsoo saat ia menyanyi, Hyunsoo yang duduk bersebelahan di kereta sambil bersandar di bahu Zikasa, sampai merasakan nyamannya pelukan Zikasa saat Hyunsoo memeluknya. Semua itu membuat Hyunsoo tidak bisa berhenti memikirkan Zikasa.

"Hyunsoo hyung…" teriakan manis Sungjong yang memanggil Hyunsoo membuatnya kembali merasa jengkel.

Karena Sungjong sudah melakukan banyak untuknya, mau tak mau Hyunsoo harus mengikuti keinginan Sungjong.

2 Jam kemudian, Hyunsoo sudah berada di tempatnya biasa berlatih, bersama ketujuh member Infinite lain tentunya. Jujur, Hyunsoo benci jadwal kegiatannya, mungkin member lain ada yang setuju dengannya karena mereka jarang diberi waktu senggang. Tiap hari selalu latihan atau manggung atau mengisi talkshow, yang kesemuanya membuat Hyunsoo kesal.

Anehnya, hari ini Hyunsoo merasa lebih bersemangat dari biasanya. Ia bahkan bisa menghafal gerakan dance barunya lebih cepat daripada Hoya. Infinite memang sedang mempromosikan lagu 'Destiny'. Karena itu, pemilik perusahaan menginginkan agar lagu tersebut dibuat versi remix-nya dan menginginkan tambahan pada dance-nya supaya lagu tersebut semakin laku.

Sementara itu di lain tempat, Zikasa sedang dibuat gila oleh soal-soal ulangan fisikanya. Bagaimana tidak, semalam dia malah pergi menonton konser Infinite dan bukannya belajar dirumah. Tapi dia merasa beruntung. Bagaimana tidak, ulangan seandainya dapat nilai jelek, masih bisa melakukan perbaikan. Tapi, kalau dia tidak menonton konser Infinite semalam, ia tidak akan bisa bertemu dengan Hyunsoo oppa dan mendapat syal serta pelukan darinya.

Jam menunjukkan pukul 14.25 yang berarti 5 menit lagi ujian selesai. Zikasa masih harus menjawab 10 soal, yang berarti sekarang sudah saatnya bagi Zikasa untuk melakukan hal yang biasa dilakukannya pada saat seperti sekarang ini. Menjawab menggunakan insting.

Kuliah sudah bubar sekarang, Zikasa sedang berjalan keluar dari kampusnya ketika ia mendapat pesan singkat dari… Hyunsoo oppa! Dengan semangat Zikasa membuka pesan itu, dan membacanya, disitu tertulis Kau bebas malam ini? Dengan perasaan kaget sekaligus senang, Zikasa membalas pesan itu, Iya, aku bebas malam ini, ada apa? Sambil menunggu balasan, Zikasa berjalan menuju halte bis untuk pulang. Kemudian handphonenya berdering dan Zikasa mengeceknya, Aku ingin ditemani ke tempat Ice Skating malam ini, kau mau menemaniku? Zikasa senang bukan main. Ia berjalan memasuki bus sambil mengetikkan balasan untuk Hyunsoo di handphonenya. Tentu saja, aku harus menunggu dimana? Kemudian Zikasa duduk di salah satu kursi didalam bus tersebut.

Hyunsoo sedang makan siang bersama Sungjong dan L, kakak kembarnya ketika ia mendapat balasan pesan singkat dari Zikasa. Tentu saja, aku harus menunggu dimana? Hyunsoo membacanya sambil tersenyum sendiri. Kemudian menuliskan Di tempat Ice Skating yang dekat kampusmu, aku menunggumu disana jam 7 lalu mengirimkannya. Setelah mengirimnya, Hyunsoo melanjutkan makannya sambil tersenyum senang.

"L hyung, apa yang salah dengan adikmu?" Sungjong bertanya pada L.

"Mana ku tahu." L menjawab dengan malas.

"Kau kan, saudara kembarnya… Masa tidak tahu?"

L mengangkat kedua bahunya. "Tanyakan saja padanya." Ucap L sambil kembali melanjutkan makannya.

"Mmm…baiklah," Sungjong menatap Hyunsoo yang duduk didepannya "Hyunsoo hyung, kau melihat video Sunggyu hyung yang sedang mandi lagi? Tak biasanya kau seperti ini."

"Untuk apa aku melihatnya?" Hyunsoo berusaha mendatarkan ekspresinya.

"Mengaku saja deh, kau kan…"

"Aku tidak seperti kakakku tahu!" Hyunsoo memotong perkataan Sungjong.

"Mengapa aku diikutsertakan?" L memprotes.

"Eh, L hyung… kau kan…"

"UDAH DEH! Aku jadi pengen muntah." Ucap Hyunsoo sambil melangkah terburu-buru ke kamar mandi.

"Aku apa?" Tanya L pada Sungjong yang duduk disebelahnya.

"Lupakan, aku cuma curiga pada Hyunsoo hyung." Balas Sungjong.

18.55, Hyunsoo sedang menunggu Zikasa ditempat mereka sepakat bertemu. Hyunsoo sudah tak sabar lagi ingin melihat wajah super-imut-dan-manisnya Zikasa. Ia jadi ingat ketika tertidur di pangkuan Zikasa ketika kereta yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti, lalu wajah Zikasa yang sangat dekat dengan wajah Hyunsoo ketika ia dibangunkan oleh Zikasa.

"Hyunsoo oppa?" suara seseorang memanggil Hyunsoo dari belakangnya.

Hyunsoo memutar badannya, dan mendapati Zikasa sedang berdiri disitu. Ia mengenakan sweater putih yang membuat Hyunsoo ingin memeluknya, ia juga mengenakan celana dengan rok pendek di kakinya. Aku beruntung bertemu dengannya, batin Hyunsoo.

"Eh, Hyunsoo oppa? Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Zikasa.

Hyunsoo langsung mengalihkan pandangannya. "Aku tidak ngeliatin kamu, kok."

"Mmm…main Ice Skatingnya jadi, nggak?"

"Tentu saja jadi, ayo." Hyunsoo menggandeng tangan Zikasa dan masuk kedalam.

Didalam, Hyunsoo langsung membeli tiket untuk dua orang, memasang perlengkapan untuk Ice Skating, dan…menunggu Zikasa yang tidak kunjung selesai memasang sepatu skate-nya.

"Kamu lama banget, bisa nggak sih?" Tanya Hyunsoo.

"Mmm…maaf… susah banget pakainya."

"Aku bantu deh." Hyunsoo membantu memasangkan sepatunya. Setelah terpasang, ia langsung menggandeng tangan Zikasa lagi dan masuk ke area skating.

"Sudah pernah main ini sebelumnya?" Tanya Hyunsoo sambil meluncur pelan di sebelah Zikasa yang memegang erat tangan Hyunsoo.

"Mmm…ini pertama kali aku main ini." Jawab Zikasa dengan agak gemetar.

"Oh…begitu…" Hyunsoo lalu melepaskan tangannya dari Zikasa, dan meluncur menjauh.

"Oppaaa!" Zikasa berteriak memanggil Hyunsoo.

"Dadahh…tangkap aku kalau bisa." Hyunsoo berhenti, kemudian berbalik dan melambaikan tangannya pada Zikasa.

"Ah, oppa menyebalkan," gumam Zikasa. Ia pun akhirnya bersusah payah menjaga keseimbangannya supaya bisa meluncur dan tidak jatuh.

"Lama sekali… aku tinggal lagi kalau kau tidak cepat sampai ke sini!" Hyunsoo kembali menggoda Zikasa.

"Jangan kemana-mana dong! Aku kan, baru pertama kali." Kata Zikasa yang berjarak 20 meter dari Hyunsoo. Ia masih berusaha menjaga keseimbangannya supaya tidak jatuh.

"Ayo…sedikit lagi…"

Zikasa kian mendekat, ia menjulurkan tangannya kepada Hyunsoo dan seperti yang Zikasa harapkan, Hyunsoo menangkap kedua tangan Zikasa.

"Ah, sampai juga akhirnya." Kata Hyunsoo pelan.

"Oppa menyebalkan." Gerutu Zikasa.

"Hehe, tapi akhirnya kau bisa, kan?"

"Iya sih, tapi tetap saja…"

Hyunsoo tertawa kecil, kemudian merangkul Zikasa.

"Aku minta maaf, sekarang jalannya barengan deh." Ucap Hyunsoo sambil meluncur perlahan.

Zikasa merona, dia akhirnya mengikuti Hyunsoo yang meluncur pelan sambil merangkul pundaknya.

"Hyunsoo oppa?"

"Iya?" Hyunsoo menatap kearah wajah Zikasa.

"Apa…apa tidak apa-apa kalau kita seperti ini?"

"Tidak apa-apa kok, memang apa yang kau takutkan?"

"Bagaimana kalau ada yang mengenali mu?"

"Aku kan, jago menyamar, tidak mungkin ketahuan. Tidak usah pikirin itu lagi deh."

"Mmm…baiklah. Tapi apa Hyunsoo oppa senang melakukan ini bersamaku?"

"Tentu saja, mengapa tidak? Aku menyukaimu."

Wajah Zikasa memerah, ia menjadi gugup setengah mati. "A…aku…"

Karena gugup, Zikasa tiba-tiba terpeleset dan terjatuh ke belakang. Karena kaget, ia pun ikut menarik Hyunsoo jatuh bersamanya.

"Eh?" Hyunsoo kaget, ia membuka mata dan mendapati badannya menimpa badan Zikasa.

"Hyunsoo oppa, maafkan aku karena menarikmu ikut jatuh...tapi, bisakah kau berdiri? Berat nih."

"Oh…iya, maafkan aku." Hyunsoo lalu bangkit, kemudian menawarkan tangannya kepada Zikasa.

"Eh, makasih." Zikasa mengambil tangan Hyunsoo, kemudian bangkit. Karena Hyunsoo menarik terlalu kencang, Zikasa kembali kehilangan keseimbangan dan jatuh kearah Hyunsoo.

"Aduh." Hyunsoo menangkap Zikasa, tapi karena belum siap, ia juga kehilangan keseimbangan dan jatuh kebelakang bersama Zikasa yang menimpanya.

Mereka diam untuk sesaat, Zikasa mengangkat wajahnya yang berada di dada Hyunsoo. "Ahhhh maafkan aku, oppa! Aku memang ceroboh." Kemudian ia berusaha bangkit.

"Tak apa, aku yang salah, aku tadi menarikmu terlalu kencang."

Zikasa sudah berdiri, Hyunsoo sedang berusaha bangkit.

"Aduh, oppa…aku sudah capek, badanku juga sudah pada sakit gara-gara jatuh tadi, dan…aku lapar."

"Baiklah, kita selesai mainnya, ayo." Hyunsoo menggandeng tangan Zikasa dan keluar dari tempat Ice Skating.

"Mau makan dimana?" Tanya Hyunsoo yang sedang berjalan sambil menggandeng tangan Zikasa.

"Aku ingin ramen, kamu mau nggak?"

"Boleh, tempatnya dimana?"

"Aku tunjukkin deh, deket kok." Zikasa kemudian berjalan kearah tempat makan ramen.

5 menit kemudian, mereka sudah sampai ke tempat yang ditunjukkan Zikasa.

"Ayo masuk!" Zikasa menarik Hyunsoo masuk ke dalam. Hyunsoo hanya mengikuti sambil tersenyum.

Mereka kemudian duduk, memesan makanan dan sambil menunggu, mereka mengobrol lagi.

"Eh…Hyunsoo oppa…aku belum menyelesaikan kalimatku tadi."

"Yang mana?"

"Waktu aku ingin bilang, tapi malah kepeleset terus jatuh."

"Oh, itu…memang kamu mau bilang apa?"

Zikasa merona, "A…aku…aku juga menyukaimu, Hyunsoo oppa." Dia tiba-tiba menundukkan kepalanya.

Hyunsoo menatapnya, lalu memegang dagu Zikasa dan menaikkan wajahnya.

"Kenapa harus malu? Toh aku juga menyukaimu." Hyunsoo tersenyum, lalu mencubit pipi Zikasa. Zikasa yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa diam sambil merasakan kenaikan suhu pada wajahnya.

Tak lama, makanan yang mereka pesan pun tiba. Mereka pun mulai makan.

"Hei, kamu lapar sekali, ya? Cepat begitu makannya." Kata Hyunsoo sambil memandangi Zikasa yang sedang makan.

"Eh? Memangnya kenapa?" Tanya Zikasa sambil mengunyah makanan, kedua pipinya membesar karena ia memasukkan begitu banyak ramen kedalam mulutnya.

"Pelan-pelan saja, makan juga jangan sambil bicara, kalo tersedak gimana?" Hyunsoo mulai tidak tahan dengan kedua pipi Zikasa, ia pun mencubitnya lagi.

Zikasa hanya mengangguk, ia makan lebih perlahan sesuai dengan saran Hyunsoo.

Hyunsoo pun ikut makan, 10 menit berlalu, mereka sudah menghabiskan makanan mereka dan berjalan pulang bersama.

"Hyunsoo oppa…"

"Iya?" Hyunsoo menoleh pada Zikasa.

"Kakiku terasa berat…sedangkan rumahku masih jauh."

"Kalau begitu, naik bus saja."

"Ng…kalo naik bus, nunggunya lama. Terus kalau macet, nanti aku telat pulangnya."

Hyunsoo merasa sifat tsundere Zikasa sedang kumat, ia pun tersenyum geli.

"Baiklah." Hyunsoo berjongkok di depan Zikasa, "Ayo naik."

Yes! Batin Zikasa dalam hati. Ia pun melingkarkan tangannya di leher Hyunsoo dan Hyunsoo menggendongnya.

"Kamu ternyata berat." Ucap Hyunsoo jujur.

"Jangan bicarakan itu, deh. Nggak sopan tau." Zikasa memeluk Hyunsoo lebih erat.

"Duh, kalo gini, aku bakal mati gabisa napas."

Zikasa tertawa kecil, "Iyadeh…" Ia pun melonggarkan pegangannya.

Sekitar 20 menit Hyunsoo berjalan sambil menggendong Zikasa, mereka akhirnya sampai di depan rumah Zikasa.

"Hei, turun, kita sudah sampai."

Tak ada jawaban.

"Zika? Zikasa? Jangan tidur di punggungku."

Tetap tak ada jawaban.

"Sialnya aku." Gumam Hyunsoo. Ia pun melangkah masuk ke rumah Zikasa lalu mengetuk pintu rumahnya.

Seorang wanita dari dalam membuka pintu, "Iya, siapa ya?" dua detik kemudian, ia melihat kebelakang Hyunsoo.

"Eh? Zikasa?"

"Dia habis bermain Ice Skating denganku dan 2 teman kami yang lain, aku teman kampusnya. Eh, Anda ibunya?"

"Iya, saya ibunya. Maafkan aku, dia memang selalu menyusahkan. Kamu boleh membawanya kedalam." Ibu Zikasa masuk kedalam, Hyunsoo mengikutinya.

"Terimakasih ya, sudah mengantarkan Zikasa pulang." Ucap Ibu Zikasa sambil mengantarkan Hyunsoo keluar rumah.

"Eh, bukan apa-apa kok. Saya pamit pulang, Bu."

"Iya, iya… Hati-hati ya…"

"Iya." Hyunsoo pun melangkahkan kakinya ke rumahnya yang tidak jauh dari situ.