Title : RPM (Radians per Minutes)

Pairing : KrisTao, HunTao,

Genre : Romance, Drama

Rated : T

Inspired by NU'EST's song, I'm Bad and Rainbow's song Black Swan

A/N : Huwa~~~~~ lama nggak ngepost dan sekali ngepost malah FF yang ini. Maafkan author yang PHP ini~ Author bener-bener minta maaf belum bisa apdet ISHTAR. Beberapa waktu lalu author mengalami writers block dan serius, author nggak bisa nulis apapun selain satu kata yang ambigu dan habis itu dihapus lagi.

Tapi, yah, inilah RPM Chapter kedua~~ #heboh

Sori kalo lebih panjang A/N daripada FFnya #digiles

Silakan dinikmati

.

RADIANS PER MINUTES

Semua orang punya rahasia. Tentu saja dengan Oh Sehun. Menjadi CEO di perusahaan keluarganya membuatnya membutuhkan hal lain yang menjadi pelampiasannya. Mimpi yang terhenti, cita-cita yang terkubur.

Melukis.

Beberapa hari belalu semenjak terakhir kali ia menggoreskan pensil dan kuasnya. Dan di sinilah ia sekarang, duduk dengan kanvas di hadapannya. Tangannya menggoreskan ujung pensil menghasilkan garis tegas wajah.

Sejak awal ia melukis, hanya satu yang menjadi objeknya. Huang Zi Tao. Gadis itu selalu sempurna baginya. Selalu menjadi tujuan utama seorang Oh Sehun.

.

"Sehun-a, kau tahu?"

Sehun diam tak menjawab. Matanya fokus pada kanvas di depannya. Tangannya sibuk menyempurnakan sketsa yang telah ia buat.

"Aku suka melihatmu melukis seperti ini! Sangat keren!"

Maka sejak detik itu, Sehun bersumpah ia akan terus melukis, apapun yang terjadi. Untuk membuat Tao melihatnya, menyukainya, mencintainya.

.

Sehun masih belum beranjak dari duduknya, tangannya masih terus menggoreskan pensilnya. Entah kenapa keringatnya bercucuran, padahal mesin pendingin disetel pada suhu terendah.

Ruangan itu memang kecil. Tak ada yang tahu keberadaan ruangan itu kecuali Sehun dan Tao. Ruangan di balik rak-rak buku di perpustakaan pribadi Sehun. Ruangan kecil dengan lantai kayu yang beraroma wangi, dindingnya yang dilapisi cat biru langit. Hampir seluruh sudutnya dipenuhi lukisan-lukisan karya Sehun. Lukisan Zi Tao.

.

"Sehun-a, apa kau tak bosan?"

"Apa?" Sehun berpura-pura tidak tahu.

"Menjadikan aku model lukisanmu."

"Tentu saja aku bosan, wajahmu benar-benar jelek, kau tahu!"

Tao mengangguk-anggukkan kepalanya. "Karena itu! Kenapa kau membuatku menjadi modelmu?"

"Karena aku menyukaimu!"

.

Bagaimana Tao berputar dengan sempurna. Bagimana Tao menikmati makanannya. Bagimana Tao tersenyum. Bagiamana Tao tertawa. Bagaimana Tao serius. Bagaimana Tao marah. Bagaimana Tao menangis. Bagaimana Tao menari.

Semuanya terlukiskan dengan sempurna di atas kanvas. Oleh goresan sempurna pensil dan kuas Oh Sehun.

.

"Tao, kalung itu….kau mendapatkannya dari mana?" Sehun menunjuk kalung yang dikenakan di leher jenjang gadis itu.

"Eoh? Ini? Entahlah, lupa. Sepertinya seseorang pernah memberikannya padaku tak terlalu ingat. Kenapa?"

"Tidak. Kau suka bintang?"

Tao mengangguk. "Eum. Sejak dulu!"

.

Oh Sehun mendapatkan Tao bukan tanpa perjuangan. Tidak mudah meyakinkan gadis itu menjadikannya kekasihnya. Butuh perujuangan yang melibatkan seluruh jiwa raganya. Karena itulah Oh Sehun tak akan melepaskannya dengan mudah.

Ada alasan, mengapa ia membawa Wu Yi Fan masuk ke dalam kehidupan mereka. Ia harus memastikan sesuatu.

.

.

.

.

Tao bangun dari tidurnya dengan gerutuan, ia berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju pintu rumahnya. Tanpa melihat intercom, ia tahu Sehun datang. Dan itu artinya dia harus masak pagi ini. Benar saja, Sehun berdiri di depan pintu dengan senyuman dan kabut tipis yang mengepul dari mulutnya.

"Hey, sleepy head! Are you hungry?" Sehun mengacak rambut Tao yang masih berantakan. Kemudian menerobos masuk ke dalam.

"Aku bahkan belum menggosok gigiku!" gadis itu menyipitkan matanya, membiarkan pintu menutup dan terkunci dengan otomatis.

"Tenang saja, pekerjaanku bisa menunggu!" pria tinggi itu duduk dengan nyaman di sofa berwarna pastel yang ada di ruangan itu.

Tao menguap, berjalan menuju kamar mandi untuk menggosok giginya. Beberapa menit kemudian ia telah berdiri di dapur. Piama birunya masih belum ditanggalkan. Celemek pink pastel menutupi bagian depan piamanya. Rambut panjangnya dikuncir sekenanya, mengakibatkan anak rambutnya masih mencuat di sana-sini.

"Kau keberatan kalau aku hanya membuat sandwich?" Tao membungkukkan badannya di depan pintu lemari pendingin.

"I don't mind it!" Sehun berseru diantara suara televisi yang menyiarkan berita pagi.

Tao meraih roti tawar, telur, dan beberapa selada dari rak. Ia memanaskan wajan dan menggoreng telur itu.

"Bagaimana dengan kopi?"Sehun berjalan menghampiri gadis itu di dapur.

"Tenang saja Mr. Oh, kekasihmu yang cantik ini akan menyiapkan semuanya. Kau cukup duduk dan mendengarkan penyiar itu mengoceh." Tao menunjuk ke arah televisi yang menyala menampilkan seorang wanita dengan potongan rambut seleher dan tampang yang kaku tengah berbicara dengan tempo dan intonasi teratur.

Sehun mencium kening gadis itu kemudian kembali ke tempatnya tadi. Ia mengabaikan televisinya dan mengeluarkan ponselnya, mengecek email yang baru ia terima dan belum sempat ia lihat.

Beberapa saat kemudian, Tao muncul dengan piring yang penuh potongan sandwich yang terlihat menggiurkan. Dan secangkir kopi hitam kental yang sangat disukai Sehun.

"Kau tahu? Sandwich, kopi hitam, dan kau. Perfect combination!" Sehun melahap potongan sandwich pertamanya.

.

.

.

.

Tao berdiri dengan tegang, seluruh persendiannya terasa kaku. Sementara Wu Yi Fan sibuk memilah-milah kertas-kertas berisikan partitur di sudut ruangan yang dikelilingi kaca besar. Tao memilih untukdiam, ia melakukan pemanasan sama kakunya dengan caranya berdiri.

Gadis itu menghembuskan napas begitu pemanasannya selesai. Ia mendudukkan tubuhnya di lantai kayu, meluruskan kaki-kakinya. Senandung kecil mulai menyibukkan mulut gadis Fan masih sibuk dengan partiturnya. Tao hendak mengajaknya berbicara, tapi ia takut mengganggunya.

"Apa kau di sini hanya untuk pemanasan dan bersenandung?" Sarkasme dari mulut Yi Fan yang tajam menghentikan senandung gadis itu.

Gadis itu menatap Yi Fan dengan tajam, seolah jika ia bisa membunuh melalui tatapan mata maka ia sedang membunuhnya sekarang. "Tuan pianis yang terhormat, aku ingin jujur mengenai beberapa hal sekarang," Tao melipat lengannya di depan dadanya.

"Pertama, aku tidak ingin berada di sini, aku di sini karena teman bodohmu yang memaksaku."

Yi Fan mengangkat sebelah alisnya.

"Kedua, aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah!" gadis itu menghembuskan napas dengan perlahan.

"Ketiga, aku membencimu."

Yi Fan tertawa mendengar penuturan yang gadis itu bilang kejujuran. Ia tertawa lepas, teramat sangat lepas, terutama ketika ia mendengar kalimat yang kedua dan ketiga.

"Apa bedanya kedua dan ketiga?" pria muda itu masih terkekeh geli.

Tao diam tak menjawab, melainkan menatap dengan menantang pada pria itu.

Yi Fan mengedikkan bahunya, "well, terserah kau saja, menyukai atau membenci itu sama saja, kau peduli padaku. Jadi jika kau membenciku, aku akan menganggap bahwa kau menyukaiku."

Mendengar apa yang Yi Fan katakan, Tao hampir saja meledak marah, tapi ia menahannya. Andai saja ia benar-benar meledakkan amarahnya, mungkin saja ia akan menerjang pria itu, meninju hidungnya hingga patah. Namun tentu saja itu hanya sekedar 'andai saja'.

Yi Fan keluar berjalan keluar ruangan dengan smirk yang terpasang di wajah tampannya. Perlahan, menutup pintu ruangan itu kemudian berdiri menyandarkan tubuh tinggi semampainya. Tangannya menarik keluar foto lusuh dari saku celana jeansnya.

Dua buah kalung bintang.

"Woah, aku tak menyangka. Itu benar-benar kau."

"Aku menemukanmu kembali, Huang Zi Tao."

.

.

Keknya udah ketebak nih jalan ceritanya :v haha sengaja sih, soalnya udah buntu *padahal udah diem selama berbulan-bulan* Well, maafin author yah #puppyeyes