Wau, ternyata fic ini responsnya hangat juga ya! :D Saya ingin berterima kasih untuk semua yang sudah mau mereview fic ini! ;D
Saya lupa ngasih tau kalian, Shin Azuna di chapter sebelumnya itu OC punya PriscallDaiya, temen saya yang keren abiz! Special thanks buat PriscallDaiya yang sudah membuat saya jatuh cinta pada anime KuroBas! :)
Chapter yang kali ini tentang Kagami berusaha ngelamar kakaknya Kuroko, Hinako! (buat yang udah baca fic saya yang lain 'Love for the Wild Tiger', pasti tau si Hinako ini kaya gimana!) Saya harap kalian semua menikmati chapter ini!
Disclaimer: KuroBas itu punya Fujimaki Tadatoshi-sensei! Kalau Kagami itu punya Hinako! *diinjek-injek readers*
"DASAR BAKA TAIGAAAAAA!"
Teriakan itu membahana di seluruh penjuru lapangan basket. Membuat beberapa orang yang sedang bermain basket menghentikan aktifitas mereka sejenak untuk melihat pasangan yang sedang bertengkar di ujung lapangan itu.
PLAK
Tangan sang perempuan melayang, dan menampar wajah kekasihnya dengan keras.
"ITTAI! Hina-hime dengarkan aku dulu-"
"Dengarkan kau dulu APA?! Dari tadi kau mengacuhkanku terus! Apa sih masalahmu sebenarnya hah?!" bentak Hinako.
Kagami terdiam, masih sambil mengusap-ngusap pipinya yang memerah.
"Hime..." Hinako mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan Kagami.
"Sudahlah," kata Hinako sambil menenangkan dirinya, "kalau kau tidak mau menceritakan apa masalahmu sebenarnya sampai kau mengacuhkanku, terserah. Akan kuberikan kau waktu. Selama itu, jangan bicara padaku dulu."
Hinako membereskan barang-barangnya dan meninggalkan lapangan itu.
Tapi semua orang di sana bisa melihat aliran air mata di pipi kakak Kuroko itu sebelum ia menghilang dari pandangan.
Selama beberapa saat, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun.
"Sebenarnya... ada apa di antara kalian?" Aomine adalah orang pertama yang memecahkan keheningan itu.
Kagami masih diam, matanya menatap ke arah Hinako pulang tadi dengan pandangan nanar.
"Hmm... ternyata benar... menurut oha-asa, keberuntungan Leo hari ini memang buruk," komentar Midorima sambil memegang lucky itemnya hari itu, sebuah boneka teddy bear berukuran kecil.
"Diam kau Midorima! Ini tidak ada hubungannya dengan oha-asa atau segala tetek bengek yang kau sebut keberuntungan itu!" bentak Kagami.
"Apa kau bilang?!" tanya Midorima marah, tidak terima acara kesayangannya itu dijelek-jelekkan.
"Nee-san marah seperti itu pada Kagami-kun karena Kagami-kun mengacuhkannya selama beberapa hari ini, Aomine-kun, Midorima-kun," jelas Kuroko.
"EH?!" seru Aomine kaget, "kenapa?"
"Aku tidak tahu," jawab Kuroko kalem.
"Nyam.. nyam... kalau Hinakochin kuberikan maibou apa moodnya akan jauh lebih bagus ya?" gumam Murasakibara sambil mengunyah maibou rasa jambu.
"Tentu saja tidak Murasakibara," kata Kagami sweatdrop.
"Kagami-kun, sebenarnya apa yang membuatmu mengacuhkan nee-san?" tanya Kuroko.
Mendengar pertanyaan itu muka Kagami memerah.
"? Kagami-kun?"
"E-Etto... jadi begini, a-aku kan ingin me-melamar Hina-hime..."
Tapi Kagami tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena ia langsung dibanjiri dengan pertanyaan.
"WOOHH?! BENERAN?!"
"Serius? Akhirnya kau punya keberanian untuk melakukannya!"
"Kapan kau akan melamar nee-san?"
"Nyam nyam... kapan kau akan menikahinya?"
"Hieee! Beruntung sekali kau Kagamicchi! Kapan ya aku akan melamar Sayucchi~?"
"...oi..." Kagami sweatdrop melihat teman-temannya yang kelewat senang. Heran, mereka seperti mendengar kabar bahwa ia baru saja memenangkan lotere sebesar satu juta yen saja!
"OI! DENGARKAN AKU DULU!" teriakan Kagami membuat semuanya kembali diam.
"Jadi begini," Kagami menghela napas, "aku ingin melamar Hina-hime. Masalahnya setiap kali aku menatapnya aku malah merasa gugup. Dan mukaku langsung memerah. Kalau begini caranya bagaimana aku bisa melamarnya?! Aku pasti akan terlihat bodoh dan dia akan menertawakanku!" jerit Kagami frustasi.
Mendengar penjelasan Kagami itu, semuanya berpandangan satu sama lain.
"Hmm... kalau menurutku sebodoh apapun perbuatanmu, Hinako tetap akan menerima lamaranmu, Bakagami," kata Aomine.
"Kau itu sebenarnya berniat menghiburku atau mengejekku sih?" tanya Kagami jengkel.
"Dua-duanya," jawab Aomine membuat Kagami sweatdrop.
"Aominecchi benar, -ssu! Hinakocchi pasti akan menerima lamaranmu, -ssu!" sahut Kise.
"Diamlah Kise, semua perkataanmu tidak akan membuatku lebih baik," kata Kagami pedas.
"Kagamicchi hidoi desu~!" rengek Kise sambil menangis.
"Kalau kau membawa lucky itemmu pasti Hinako-san akan menerimamu, nanodayo."
"Tidak ada hubungannya Midorima/Midorimacchi/Midorima-chin/Midorima-kun..." sahut semuanya, membuat mantan pemain Shuutoku itu mendecak kesal.
"Kalau menurutku lebih baik kau minta maaf dulu pada nee-san atas perbuatanmu beberapa hari ini Kagami-kun," saran Kuroko.
"Kau kan lihat sendiri Hinako nee-san tidak suka diacuhkan seperti itu tanpa sebab. Lebih baik kau minta maaf dulu, baru kau jelaskan alasannya," saran Kuroko.
Kagami terdiam.
"Itu saran yang bagus, tapi..." yang lain menunggu lanjutan perkataan Kagami yang menggantung.
"Apa?"
"Bagaimana aku bisa minta maaf pada Hina-hime?! Dia sendiri yang bilang 'jangan bicara padaku dulu'!"
Hening sejenak.
"Ah... iya..." yang lainnya mengangguk pelan, "benar juga ya..."
Kagami harus menahan dirinya untuk tidak memukul kepalanya sendiri karena kebodohan teman-temannya yang terkadang bisa lebih parah dibandingkan kebodohannya.
Malam itu, Kagami merasa ia harus memohon pada kami-sama atau apa pun itu yang berkuasa di surga sana supaya Hinako tidak benar-benar mengacuhkannya ketika ia mengirimkan BBM untuk pacarnya itu.
Hina-hime...
SEND
Kagami menunggu, menunggu dan menunggu. Tapi 10 menit sudah berlalu, dan bahkan tidak ada tanda-tanda Hinako membaca BBM yang dikirimkannya.
'Ck, ini semua salahku. Hina-hime, kumohon jawablah!' pikir Kagami kalut.
Tapi tepat sebelum Kagami menyerah dan berniat untuk mematikan ponselnya, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya.
PING
Kagami buru-buru membuka BBMnya.
Apa?
Pemuda itu harus menahan keinginannya untuk meloncat-loncat bahagia dan buru-buru mengetik balasan untuk Hinako.
Bagaimana kabarmu?
SEND
Baik.
Kau masih marah? ketik Kagami.
SEND
Tidak.
'Kau bohong, kau masih marah,' pikir Kagami sweatdrop. Karena biasanya kalau ia mengirim BBM untuk pacarnya itu, Hinako pasti akan menjawabnya dengan jawaban yang sangat panjang.
Kalau ia hanya menjawab dengan sepotong kata saja, artinya ia sedang dalam mood yang tidak bagus. SANGAT tidak bagus.
Maafkan aku hime, karena aku mengacuhkanmu. Sebenarnya aku punya alasannya...
SEND
Alasan apa? Kalau kau sudah tidak menyukaiku lagi begitu? Bicaralah dengan terus terang, jangan berbelit-belit seperti ini.
Kagami terbelalak membaca BBM Hinako.
EH?! Bukan begitu, aku masih mencintaimu Hina-hime! balas Kagami buru-buru.
Lalu apa?
"Er... karena aku ingin melamarmu tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakannya...? Ah, tapi mana mungkin aku mengatakannya padamu!" kata Kagami pada dirinya sendiri.
Akan kuberitahu besok. Kau mau kencan denganku di pantai tidak? Di sana aku akan mengatakan alasannya padamu.
Beberapa detik kemudian jawaban Hinako yang sangat panjang menghantam notifikasi BBM Kagami.
PANTAI?! YA, AKU MAU! Apa saja yang harus ku bawa? Apa aku harus membawa makanan? Apa yang kita akan lakukan di sana?! Lalu...
Kagami tertawa melihat jawaban Hinako yang kembali panjang. Salah satu tempat kesukaan Hinako adalah pantai, dan itulah sebabnya Kagami berencana untuk melamar perempuan yang sudah merebut hatinya itu di sana.
Hinako membongkar lemari pakaiannya, dan dengan panik mencari baju yang dia anggap nyaman untuk dipakai ke pantai.
"Tidak, tidak, jangan yang ini. Bukan, itu pilihan yang buruk..." gumam Hinako, membandingkan sundress berwarna putih dengan baju berlengan pendek berwarna biru laut.
"Nee-san."
"GYAA! OTOUTO! Jangan mengagetkanku seperti itu!" pekik Hinako kaget ketika Kuroko tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
Kuroko menelengkan kepalanya bingung, "tapi aku sudah ada di sini sedari tadi."
Hinako menyipitkan matanya pada Kuroko, tapi tidak bilang apa-apa. Ia kembali melanjutkan mencari baju yang pas untuk kencannya dengan Kagami.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai nee-san mencari-cari baju seperti dunia mau kiamat saja?" tanya Kuroko.
Wajah Hinako memerah. Sambil cemberut, ia mengangkat T-shirt tipis berwarna hitam polos.
"...Taiga-kun mengajakku untuk kencan..."
"Benarkah?" tanya Kuroko walau ia sudah tahu ini pasti akan terjadi, "akhirnya ia punya keberanian juga untuk melakukannya..."
"Hah?"
"Tidak, bukan apa-apa," jawab Kuroko cepat. Kalau sampai Kuroko mengatakan niat Kagami yang sebenarnya, pemuda berambut baby blue itu yakin Kagami pasti akan marah padanya.
Hinako kembali melanjutkan pencariannya.
"Baiklah... ini cocok," gumam Hinako sambil memandang baju pilihannya. T-shirt tipis berwarna biru malam dan celana pendek berwarna ungu.
"Ne, otouto. Menurutmu ini cocok tidak untuk kencan dengan Taiga-kun?" tanya Hinako pada adiknya.
Kuroko hanya mengangguk.
"Yosh! Sekarang tinggal menemui Taiga-kun..." gumam Hinako sambil mengenakan pakaian pilihannya.
Kagami sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia menolak untuk memalingkan wajahnya dari pemandangan di hadapannya. Kekasihnya yang hari ini tampak lebih cantik itu kini ada di depannya.
Pemuda itu pun harus berusaha keras untuk menahan darah yang mengancam untuk keluar dari hidungnya ketika Hinako tersenyum manis padanya.
"Hei," sapa Hinako malu-malu. Maklum, itu adalah kali pertama ia mengenakan baju yang agak girly, "bagaimana penampilanku?"
"Kau... cantik," puji Kagami. Semburat merah tipis menghiasi wajahnya.
Pipi Hinako bersemu merah ketika mendengar pujian dari Kagami itu. Ah, Hinako, apa kau tidak tahu betapa Kagami ingin mencubit pipimu sekarang karena keimutanmu itu.
"Ayo," ajak Kagami sambil menggenggam tangan Hinako dan membawanya ke pantai.
Hinako menjerit senang ketika air laut yang dingin menghantam kakinya. Gadis itu pun kemudian mulai berlari-lari kecil di pesisir pantai itu.
"Taiga-kun! Jangan diam saja di sana, ayo!"
Kagami hanya tersenyum saja melihat pacarnya yang hiperaktif itu. Kalau Hinako sudah berurusan dengan pantai, sifatnya akan berubah menjadi seperti anak kecil yang baru saja diajak orang tuanya ke Disneyland.
Tapi ia mengajak kekasihnya itu ke sini bukan untuk bersenang-senang! Ia berencana untuk melamar Hinako di sini nanti malam.
'Kami-sama... tolong berikan aku kekuatan untuk melamarnya!' kata-kata itu terus diucapkan berulang-ulang di dalam benak Kagami. Raut wajahnya sudah mulai memucat.
"Taiga-kun?" Kagami terlonjak kaget karena tiba-tiba Hinako sudah ada di depannya. Ya ampun, kadang-kadang Misdirection Hinako -walau tidak sekuat Kuroko- bisa membuat orang lain jantungan juga.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hinako sambil mengusap pipi Kagami. Wajah pemuda itu pun sedikit memerah.
"Aku tidak apa-apa," Kagami menggenggam tangan Hinako yang masih menyentuh pipinya. Diciumnya telapak tangan gadis itu, "kau tidak usah khawatir Hina-hime."
Hinako tersenyum lembut pada lelaki yang sudah merebut hatinya itu, "kalau begitu jangan diam di sini saja! Ayo ikut denganku!"
Kagami pun tidak bisa berbuat apa-apa selain tertawa ketika pacarnya yang enerjik itu mendorongnya menuju ke pesisir pantai itu.
"Hina-hime, bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?" tanya Kagami serius. Hinako sedikit terkejut melihat wajah Kagami. Biasanya pacarnya ini hampir tidak pernah menunjukkan raut wajah seserius itu.
"Ada apa?" tanya Hinako khawatir.
Lama Kagami tidak menjawab. Ia hanya memandangi matahari yang sudah mulai terbenam. Sungguh, ia pasti akan menikmati pemandangan ini kalau saja jantungnya tidak berdetak dua kali-tidak, SEPULUH kali malahan!- lebih cepat dari biasanya.
"A-Aku menyayangimu Hina-hime..."
Mata Hinako sedikit membulat mendengar itu.
"Aku menyayangimu juga Taiga-kun," jawab Hinako. Ada apa ini? Kenapa raut wajahnya seperti itu? Hinako benar-benar mulai khawatir sekarang.
Meskipun Hinako duduk dengan posisi punggungnya bersender di dada bidang Kagami, tapi ia masih bisa merasakan Kagami merogoh sesuatu dari kantong celananya.
Dan detik berikutnya, di hadapan gadis itu, sebuah kotak yang terbuka disodorkan di hadapannya. Dan di dalamnya, cincin kecil bertahtakan batu ruby menunggu untuk dipakai oleh calon istri Kagami itu.
Mulut Hinako menganga lebar. Kedua tangannya menutup mulutnya, menegaskan keterkejutan gadis itu.
"Hina-hime... m-m-maukah kau menjadi i-i-istriku...?" Kagami mengucapkannya dengan sangat pelan, dan Hinako pasti tidak akan mendengarnya, andai saja suasananya tidak setenang ini.
Perlahan-lahan, Hinako menengok ke belakang, dan mendapati Kagami sedang menunduk, keringat dingin mengalir turun dari wajahnya. Meskipun Kagami menunduk, tapi itu tetap tidak mencegah Hinako untuk melihat wajah Kagami yang semerah kepiting rebus.
Mata Hinako berkaca-kaca dan bibirnya mulai bergetar.
"Baka..."
Kagami mengangkat kepalanya. Hinako sekarang sudah duduk menghadapnya, wajahnya tertunduk. Tapi bukan itu yang membuat Kagami khawatir. Nada suara Hinako yang dingin itulah yang membuat segala benak dan pikiran Kagami menjadi kalut.
Oh Kami-sama! Dia pasti akan menolakku! Sepertinya sia-sia saja, aku memang bukan orang yang pantas untuknya...!
"TENTU SAJA AKU MAU, BAKAGAMI!"
Hening sejenak.
Kagami melongo, menunjukkan raut wajahnya yang bodoh, sementara dada Hinako sudah kembang-kempis, matanya sudah berkaca-kaca, dan wajahnya sudah sangat merah.
"E-Eh...?" pikiran Kagami masih belum sinkron dengan kenyataan yang ada di depannya.
"Kau itu... benar-benar bodoh..." Hinako sudah mulai menangis, membuat Kagami langsung panik.
"H-Hina-hime...!"
"Kau itu bodoh sekali!" seru Hinako sambil mengusap air matanya, "kau tidak perlu menanyakan hal itu padaku! Tentu saja aku mau menjadi istrimu, baka!"
Dan dengan itu, Hinako memeluk Kagami, dan membiarkan air matanya berjatuhan di pundak suaminya itu.
Kagami masih terkejut, tapi perlahan-lahan senyuman lega merekah di wajahnya. Dipeluknya tubuh Hinako dengan erat.
"Arigato gozaimasu, Hina-hime. Arigato karena sudah menerimaku..."
Hinako tidak menjawab, masih sibuk menangis sambil menggumamkan kata-kata, "baka, baka, baka, aku mau, aku mau..."
Kagami melepaskan pelukannya, dan dengan lembut mengangkat dagu Hinako.
"Mulai sekarang, kau adalah istriku. Milikku. Dan yang terpenting adalah... pendamping hidupku. Mulai sekarang namamu bukan lagi Kuroko Hinako, tetapi Kagami Hinako," kata Kagami lembut.
Hinako tersenyum, wajahnya masih penuh dengan air mata bahagianya.
"Aku mencintaimu, Kagami Hinako."
Jawaban yang didapat Kagami dari istrinya itu hanyalah sebuah ciuman di bibirnya.
END
Saya minta maaf karena saya lama sekali updatenyaa! m(_ _)m
Saya udah bikin vote tentang cerita ini, kalian bisa lihat di profil saya. Pertanyaannya: "menurut kalian, setelah Kagami, kalian mau saya bikin love storynya siapa dulu?" Vote sebanyak-banyaknya ya! (readers: ga mau. author: jahat~~ ;_;)
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Sayonara,
Kuroko-Hinako
26/02/2015
