Disclaimer: Hetalia-Axis Power adalah milik Hidekaz Himaruya, saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfiksi ini.

Peringatan: percobaan pertama menulis sho-ai, SHO-AI, FrUK

Summary: France, England dan manis-pahit sejarah. FrUK drabble-ish. Sho-ai.


Entente Cordiale


"A-asal kau tahu, Francis, aku melakukan ini bukan karena aku peduli kepadamu atau semacamnya, mengerti?"

Ia bisa melihat lengan yang dipakai Arthur untuk memegang (mencengkeram, lebih tepatnya) pena bergetar.

"Aku tahu."

"Ini supaya kita tidak terseret kepada masalah Ivan dan Kiku, kau tahu?"

Merah perlahan naik dari leher ke wajah pucatnya.

"Oui, Arthur, aku tahu."

"D-dan ini hanya untuk berjaga-jaga jika Ludwig, Roderich dan Elizaveta benar-benar gila suatu hari nanti dan membuatmu menjadi target—bukan berarti aku khawatir jika kau dijadikan target—maksudku, tentu saja aku akan menikmati setiap kali Ludwig menghajarmu, aku tidak akan menangis jika tulang-tulangmu dipatahkan Kraut—"

"Arthur, kita akan membentuk aliansi. Ya atau tidak?"

"Tentu saja 'ya', Git!" Arthur menjawab spontan, sedikit terlalu bersemangat dari yang ia harapkan. Ia segera menyadari kesalahannya, dan merona semakin parah.

Francis mati-matian menahan seringai. "Kalau begitu tanda tangani dokumennya."

Dan Arthur meledak. "Kau pikir apa yang sedang aku lakukan saat ini, eh, orang berengsek tukang makan siput?"

"Oui, bien. Tetapi mon cher, sejak kapan namamu berubah menjadi République Français?"

"Eh, apa maksudmu, katak rebus?" Arthur melihat pekerjaannya, mendapati jika ia membubuhkan tanda tangan di kolom yang seharusnya untuk diisi Francis. "Fuck!"

Francis terkekeh. "Kau pikir kita masih punya salinannya? Karena aku tidak mau menyandang nama yang tidak belle seperti United Kingdom of Great Britain and Ireland!"

"Tutup mulut, Francis, tutup mulut!"


Bicara


"Arthur, berapa jumlah empat dikali empat?"

"Enam belas …."

Francis meringis, jawaban Arthur semakin kemari semakin terdengar seperti gumaman, dan terowongan bawah tanah yang sedang ia telusuri menggelap dan menggelap. Fakta bahwa Arthur semakin melumpuh di punggungnya tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Ia bisa merasakan cairan hangat merembes melewati seragam ke bagian pinggang kirinya. Luka di perut Arthur terbuka lagi.

Mérdé!

"Ah, tres bien." Francis memaksa suaranya agar tetap terdengar cerah. "Satu pertanyaan lagi."

Arthur beringsut di gendongannya. "Kenapa kau terus menanyaiku, katak sialan? Kau tahu aku tidak suka mendengarmu bicara, terlebih lagi bertanya." Jika Arthur merasa jengkel, Francis tidak merasakannya.

"Jawab saja, mon cher." Dan terus bicara denganku. "Kau tahu? Tanganku berada sangat dekat dengan pantatmu sekarang, jika kau tidak melakukan sesuatu—"

"Baik!" Arthur mendesis. Francis bisa membayangkan berbagai skenario pembunuhan yang Arthur rancang dalam kepalanya jika ia tidak sedang terluka saat ini. "Mari bermain tanya-jawab lagi, Big Brother France."

Francis tersenyum. "Apa yang kausuka dari Belgia?"

"Huh?" Arthur bernapas di lehernya. "Matanya, dan dadanya dan pinggulnya—"

"Maksudku bukan Belgia yang itu." Francis memutar bola mata. "Maksudku adalah seperti ketika seseorang menyukai Inggris karena Thames, atau Perancis karena Seine."

Arthur berpikir sejenak. "Cokelat," katanya.

Dapat. Jawaban itu cukup bagi Francis. "Kalau begitu aku akan membawakanmu cokelat Belgia banyak-banyak setelah berhasil keluar dari terowongan ini." Dengan membawamu ke tenda Palang Merah terlebih dahulu. "Aku berjanji."

Tidak ada respon seketika dari Arthur. Francis mengira jika ia tak sadarkan diri lagi. Tetapi kemudian ia mendengar dengusan.

"Katak tolol, aku tidak akan mati, kau tidak perlu menjanjikan apa pun."

Benarkah? Tidak ada yang bisa memberi jaminan itu kepadanya. Tidak setelah melihat apa yang terjadi kepada Roma dan Germania, tidak setelah melihat apa yang ia lakukan kepada Kekaisaran Suci Roma—

"Tetapi cokelat memang terdengar menggoda." Arthur mengeratkan lingkaran lengannya di leher Francis. "Aku bisa makan berton-ton dari mereka setelah kita keluar dari terowongan ini, dan melemparkan berton-ton yang lain ke wajah Ludwig dan membalas apa yang terjadi di Somme. Bocah kemarin sore perlu diberi pelajaran karena berani mencari gara-gara dengan the Almighty British Empire." Arthur tertawa. "Apa aku terdengar seperti akan mati, francey-pants?"

Francis menutup mata. Ya, Arthur di gendongannya memang penuh memar dan berdarah, tetapi ia masih belum kalah, apalagi mati.

"Non," jawabnya.

"Bagus. Sekarang tutup mulut dan berhenti mengajakku bicara dan biarkan aku tidur barang sejenak dan—BOLLOCKS! BERHENTI MERABA BOKONGKU, SIALAN!"

Francis menyeringai. Ya, Arthur belum mati.


Apiun


Setiap baris dan bait In Flanders Field terngiang di benaknya.

Satu tahun berlalu semenjak Perang Besar berakhir, namun kenangan tentang darah dan lumpur dan bau kuat mesiu di udara masih terlalu segar di ingatannya. Mimpi buruk masih mendatangi malam-malamnya seperti wabah, tangis wanita yang kehilangan suami dan putera-putera mereka masih terdengar seperti mantra, membekukannya ketika terjaga.

Karenanya ia menjatuhkan denda besar-besaran kepada Ludwig, dan memastikan jika pernikahan Roderich dan Elizaveta berakhir saat itu juga. Para biang masalah harus membayar hasil perbuatan mereka, mahal.

Francis bukan orang baik, apalagi pemaaf.

Walaupun begitu, di sini, di antara Apiun-Apiun merah yang menumbuhi tanah pemakaman jenazah tentara-tentara Sekutu di Ypres, Francis berharap jika ia masih memiliki kebaikan dalam dirinya.

Arthur punya pemikiran lain, ia telah menyerah mencari kebaikan dalam dirinya sejak lama.

Aku tidak mengharapkan apa pun dari siapa pun, Francis. Jika aku bukan orang baik, maka itulah diriku.

Tetapi Arthur tidak tahu jika Francis melihatnya diam-diam menitikkan air mata ketika malam, sepanjang rentang waktu antara 1914 dan 1918, mengingat setiap prajuritnya yang gugur walau hanya sejenak, sebelum mengeras kembali menjadi dirinya; sang personifikasi Britania Raya di medan perang. Atau ketika ia melihat Arthur di dalam tenda prajurit, berbisik kepada Matthew atau Jack atau James yang tertidur di pangkuannya, dengan hati-hati mengusap kotoran atau darah kering di wajah mereka dengan kain basah sambil meminta maaf berulang-ulang, berkata jika ia tidak layak mendapatkan kesetiaan mereka.

Jika Arthur tidak bisa melihat kebaikan dalam dirinya, maka Francis akan melakukannya untuknya.

"Apa kau tahu jika baris pertama 'In Flanders Field' diubah sebelum dicetak?"

Larut dalam pikirannya, Francis tidak melihat Arthur menyeberangi padang Apiun dan meninggalkan Matthew sendirian di antara deretan salib kayu.

"Non, jadi yang kita tahu saat ini adalah versi yang berbeda, begitu?"

Arthur menggeleng. "Hanya diubah satu kata saja." Ia menarik napas, kemudian berdeklamasi, "In Flanders Field the Poppies grow, begitulah McCrae pertama menulisnya."

Keduanya jatuh dalam keheningan yang menenangkan.

"Matthew adalah yang paling pertama membaca puisi itu, McCrae ada di bawah komandonya. Kau tahu bagaimana ia ketika itu?" tanya Arthur setelahnya.

Lagi-lagi Francis menggeleng.

"Anak malang, mungkin ia akan bernasib lebih baik jika tidak jatuh ke tanganku. Saudaranya jelas-jelas setuju dengan pemikiranku." Arthur tertawa pahit. "Mungkin seharusnya dulu kau tidak usah menyerahkannya kepadaku, Francis."

Francis mendengus. "Jika aku tidak menyerahkannya kepadamu, dia tidak akan menjadi Matthew yang sekarang."

Arthur menatapnya lekat.

"Anak itu rela mati untukmu, Arthur."

Ia dan Arthur melihat Matthew melambaikan tangan kepada mereka, tersenyum manis ketika bunga-bunga Apiun berayun diterpa angin.

"Aku tahu," Arthur berbisik. "Dan itu adalah penyesalan terbesarku."

Francis menariknya ke dalam pelukan.


Catatan:

Jack (Kirkland): nama headcanon untuk Australia

James (Kirkland): nama headcanon untuk New Zealand

History talk with Kaleng:

Entente Cordiale: tentu saja merujuk kepada satu seri perjanjian yang ditandatangani oleh United Kingdom of Great Britain and Ireland (ketika itu Republik Irlandia masih satu kesatuan dengan Britania Raya) dan French Republic pada tanggal 8 April 1904, mengakhiri rivalitas kedua negara yang telah berlangsung selama berabad-abad, juga menandai awal aliansi melawan German dan Austro-Hungarian Empire. Selain itu, dengan aliansi ini kedua negara mencoba menghindari konflik yang terjadi antara Kekaisaran Rusia dan Jepang (UK beraliansi dengan Jepang, dan Perancis dengan Rusia). 8 April 2014 kemarin adalah tepat 100 tahun peringatan Entente Cordiale. Dan fangirls menetapkan 8 April sebagai FrUK Day. Hohoho / oy

Bicara: PD I. Ada banyak terowongan bawah tanah yang dibangun dan menghubungkan Perancis dan Belgia, bahkan langsung ke Jerman. Arthur ingin menuntut balas atas kekalahan telak pasukan Inggris diBattle of Somme. Inggris kehilangan banyak prajurit di pertarungan awal PD I, sementara Perancis bernasib lebih beruntung karena berhasil menahan serangan Angkatan Darat Jerman di perbatasan dengan Belgia.

Apiun: Opium. Bunga Poppy. Bunga Apiun dipakai sebagai simbolisme pengorbanan prajurit-prajurit Sekutu di PD I, terutama di UK dan Canada, juga negara-negara anggota Commonwealth yang terlibat di PD I. Istilah yang terkenal adalah Remembrance Poppy. Apiun merah artifisial sering dipakai (disematkan di baju) oleh figur publik dan sosok yang sering muncul di televisi ketika peringatan Remembrance Day/Poppy Day (di Amerika Serikat: Veteran Day). Walaupun begitu tradisi ini menjadi kontroversi di Irlandia dan Irlandia Utara sehubungan dengan Irish Revolution yang terjadi bersamaan dengan PD I. Simbolisme Apiun berdasarkan kepada puisi berjudul In Flanders Field (puisinya saya sertakan di akhir catatan) yang dikarang John McCrae, seorang letnan Angkatan Darat dan ahli medis asal Canada yang melihat bunga Apiun dengan cepat menumbuhi makam para prajurit yang gugur di Ypres, Belgia, pada tahun 1915 setelah Second Battle of Ypres. Remembrance Day diperingati setiap tanggal 11 November.

Yap, pada akhirnya harus buat satu chapter lagi baru bisa dibilang finish hohoho. Chapter terakhir akan membahas PD II dan (mungkin) peristiwa di masa sekarang. Gak akan janjiin cepet-cepet ah takutnya malah ngaret lagi ohonhonhon ….

Yang sudah baca sampai sini, makasih ya!

Adieu!

Kaleng


In Flanders Field

(by John McCrae)

.

In Flanders fields the poppies blow,

Between the crosses, row and row,

That mark our place; and in the sky,

The larks, still bravely singing, fly,

Scarce heard amid the guns below.

.

We are the Dead. Short days ago,

We lived, felt dawn, saw sunset glow,

Loved and were loved, and now we lie,

In Flanders field.

.

Take up our quarrel with the foe:

To you from failing hands we throw,

The torch; be yours to hold high.

If ye break faith with us who die,

We shall not sleep, though the poppies grow

In Flanders field.