.
.
.
SEQUEL
Part 1 of (?)
.
.
.
Jongin melihatnya.
Ini memang sengaja.
Jongin tahu ketika Baekhyun berada di balkon kamar sebelah, satu-satunya kamar yang memiliki balkon di dorm ini—kamar yang ditempati Baekhyun, Joonmyeon dan Sehun—dengan siluetnya yang menatap ke kamarnya. Melalui jendela, di mana Jongin menemukan Baekhyun yang menatap ke dalam kamar, Jongin mendapati tatapan Baekhyun jatuh pada Chanyeol yang sedang memanggil-manggil nama Kyungsoo secara random sembari menusuk-nusukkan jarinya di pipi Kyungsoo
Tentu saja Jongin tahu apa yang dirasakan Baekhyun. Tak jauh beda dengan perasaannya yang seolah tercabik melihat dua sejoli itu. Abaikan jika Kyungsoo mengerang frustasi akibat merasa terganggu dan tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Chanyeol, apapun jika mereka berdekatan saja, semua terasa sama. Selalu merasa menyakitkan, tapi Jongin tidak tahu apakah ia yang paling tersakiti atau Baekhyun yang sedang menatap kedua sejoli itu dengan tatapan sendunya.
Suara Chanyeol menghilang, dan dalam tidur pura-puranya Jongin mengernyit. Sedikit bersembunyi di balik selimutnya, Jongin mengintip ketika ia mendapati pergerakan Chanyeol terhenti. Jongin tidak tahu apa yang membuat Chanyeol seperti membeku begitu saja, karena yang dapat dilihat Jongin hanyalah punggung lebar Chanyeol. Ketika Jongin mencoba melihat Baekhyun, posisi Baekhyun tetap sama. Tak ada yang berubah, baik tempatnya maupun tatapannya.
Keheningan itu terpecah ketika tubuh Chanyeol bergerak untuk bangkit dari duduknya di sisi ranjang Kyungsoo, kaki Chanyeol tergerak untuk melangkah ke arah pintu kamar, dan suara pintu berderit memasuki indra pendengaran Jongin. Jongin menghela nafas, melirik sekali ke arah Baekhyun yang kini sudah tak lagi menatap kamar ini, dan Jongin menyingkap selimutnya. Sejenak tatapan Jongin menerawang, memikirkan jalan cintanya sendiri dengan namja mungil yang terbaring di ranjang sebrangnya, memikirkan apa yang sebenarnya benar-benar Baekhyun pikirkan...
Pemikiran itu membuat Jongin bangkit dari kasurnya. Ia melangkah menuju ranjang yang ditiduri Kyungsoo, menatap namja yang sudah terlelap itu dalam-dalam. Tangannya tergerak untung mengusap puncak kepala Kyungsoo, dan ia merundukkan badanya untuk mencium kening Kyungsoo yang tertutupi poni itu. Kemudian ia beranjak dari tempatnya untuk keluar dari kamar.
Tak lagi menoleh ke belakang, bahkan ketika Kyungsoo membuka matanya tepat setelah pintu tertutup kembali.
.
.
.
Suasana gelap menyambut mata Jongin begitu keluar kamarnya. Sumber penerangan yang tersisa hanyalah cahaya televisi yang menampakkan game entah apa itu, sepertinya tidak sempat dimatikan oleh Joonmyeon dan Sehun yang nampaknya sudah terkapar sambil menggenggam stik Play Station. Dengan cahaya yang tersisa itu, Jongin mencoba melihat jam yang tergantung di ruang tengah ini. Jam setengah dua belas malam.
Kaki Jongin bergerak, melangkah mendekati pintu kamar Baekhyun, Joonmyeon dan Sehun yang tertutup itu. Sesampainya di hadapan pintu itu, tangan kanan Jongin terangkat untuk menyentuh kenop pintu. Ia ingin memutar kenop itu dan membuk pintu, tapi Jongin tiba-tiba merasa ragu sendiri.
Dalam diam, Jongin mencoba menebak-nebak apa yang tengah dilakukan Baekhyun di dalam. Apakah Chanyeol ada di dalam juga?
Jongin memaksakan diri untung mengenyahkan rasa ragunya jauh-jauh, dan ia menekan kenop itu perlahan lalu membuka pintunya secara perlahan tanpa suara. Setelah mengepaskan celah yang tepat untuk mengintip tanpa ketahuan, Jongin mengedarkan tatapannya ke dalam ruangan.
Pemandangan pertama yang Jongin temukan adalah punggung Chanyeol yang berada di pagar balkon. Jongin mencoba menajamkan matanya, dan Jongin bisa menemukan Baekhyun berada di depan tubuh Chanyeol, membelakangi Chanyeol, tapi tubuh mungil itu berada di dalam kungkungan tubuh Chanyeol.
Kali ini Jongin mencoba menajamkan pendengarannya. Apalagi dengan suara hujan itu, cukup untuk mengaburkan apa yang diucapkan Chanyeol atau Baekhyun. Dan samar-samar, Jongin bisa mendengar suara.
"Aku... tidak apa-apa."
Jongin tahu suara tadi. Ini suara Baekhyun. Tapi, tidak apa-apa kenapa? Ada apa?
Di balkon sana, Chanyeol menyentuh pinggang Baekhyun dan memutar tubuh Baekhyun sehingga tubuh Baekhyun berhadapan dengan Chanyeol. Dengan suasana gelap yang diterangi pemandangan Seoul dari luar balkon, Jongin mengandalkan penerangan minim itu dan Jongin meyakinkan dirinya jika Baekhyun sedang mendongak ke arah Chanyeol, dan Jongin seratus persen yakin jika Chanyeol juga sedang menatap Baekhyun meski Jongin hanya bisa melihat punggung Chanyeol dari sudut matanya.
"Kau yakin kau tidak apa-apa?"
Suaranya semakin samar, sedikit demi sedikit Jongin menyadari bahwa tadi suara Chanyeol. Terdengar melebur dengan suara hujan, hampir tak terdengar. Mungkin tadi Chanyeol sedang berbisik.
Jongin tidak tahu apa yang dilakukan Baekhyun di balik punggung Chanyeol. Chanyeol terlalu tinggi dan Baekhyun hampir tak nampak dari tempat Jongin berdiri. Tapi kepala Chanyeol bergerak, semakin mendekati... kepala Baekhyun. Dan begitu kepala Chanyeol berhenti bergerak, Jongin tahu bahwa bibir Chanyeol sudah menyentuh bibir Baekhyun.
Tubuh Jongin meremang di tempatnya. Jongin mencoba mengerjapkan matanya, mencoba berpikir apa ia sedang halusinasi atau efek dari dirinya yang mulai megantuk—tapi tidak, Jongin tidak mengantuk sama sekali meski ini mendekati tengah malam. Dan memang ini semua nyata, sangat nyata ketika Chanyeol mencium Baekhyun.
Kenapa Chanyeol mencium Baekhyun?
Itu satu-satunya pertanyaan terbesar yang terputar di otak Jongin. Setahu Jongin, mereka belum berpacaran. Tentu belum, Jongin yakin itu, mengingat Baekhyun pernah bercerita jika Chanyeol sedang menggantung perasaannya. Jongin tidak tahu bagaimana Chanyeol menggantung perasaan Baekhyun, yang Jongin pikir mungkin itu tidak terlalu berlebihan.
Tapi ternyata salah. Chanyeol menggantung perasaan Baekhyun sampai seperti ini. Dengan cara semengerikan ini. Jongin tentu tahu bagaimana rasanya digantung, tapi tidak semenyakitkan ini. Jongin tentu pernah menggantung perasaan orang lain, tapi tidak sejahat ini.
Chanyeol... benar-benar keterlaluan.
Tanpa sadar Jongin meremas kenop pintu semakin kuat. Dadanya berdenyut menyakitkan membayangkan perasaan Baekhyun. Rasa kasihan dan iba langsung membanjiri tubuh Jongin. Matanya menatap kalut ke arah Baekhyun yang sedikit nampak dari balik tubuh Chanyeol, sedang memejamkan matanya yang nampaknya menikmati sentuhan Chanyeol di bibirnya.
Jongin melihat tubuh Chanyeol bergerak, mendekati kasur dengan tangannya yang membimbing Baekhyun, tanpa melepaskan ciuman mereka. Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun di atas ranjang, dan Chanyeol menindihnya. Ciuman Chanyeol terlepas, dan Jongin menahan nafasnya. Ia mulai positive thinking jika mungkin sampai di sini saja, tidak lebih. Maksud Jongin adalah—sudah terlewat dari kata cukup untuk menyakiti Baekhyun lebih dalam, kan?
Tapi, tunggu.
Kepala Chanyeol mulai bergerak mendekati leher Baekhyun lalu mengecup, dan membuat tanda kepemilikan di sana. Jongin terpengarah. Dan ketika Chanyeol mulai merambat semakin ke bawah... lalu semua terjadi begitu saja. Mereka bersetubuh, dan Jongin membeku di tempatnya. Jongin tidak bermaksud mesum untuk mengintip mereka yang bersetubuh tapi Jongin tercengang dengan bagaimana Chanyeol menyakiti Baekhyun sebegitu jahatnya dan Baekhyun yang pasrah-pasrah diperlakukan kurang ajar dengan Chanyeol.
Atau mungkin karena cinta, membuat Baekhyun hanya bisa diam. Ya, mungkin.
Tapi, abaikan dengan desahan mereka berdua, Jongin bisa mendengar di setiap gerakannya Chanyeol mengucapkan sebuah kalimat; aku merindukanmu.
Apa maksudnya...?
Selepas mereka bersetubuh, Baekhyun berbaring, menghadap dinding yang bersebelahan persis dengan pintu. Baekhyun membelakangi Chanyeol, dan Jongin bisa melihat tatapan mata Baekhyun yang penuh akan rasa sakit. Tatapan Jongin beralih ke arah Chanyeol yang sedang menyelimuti tubuh mereka dengan selimut sebatas bahu, kemudian Chanyeol berbaring dengan menghadap ke tubuh Baekhyun. Di dalam selimut, sesuatu bergerak, yang bisa Jongin simpulkan jika itu pergerakan tangan Chanyeol yang memeluk pinggang Baekhyun.
"Aku menyayangimu, Baekhyun." Jongin membeku di tempatnya mendengar pengucapan itu, hanya mampu menatap dari tempat persembunyiannya bagaimana Chanyeol mencium bahu Baekhyun. Tatapan Jongin kembali terarah ke Baekhyun, di mana Baekhyun menatap kosong dan setetes air mata menjatuhi pipi Baekhyun, mengalir melewati pangkal hidung Baekhyun dan jatuh membasahi bantal yang ditiduri Baekhyun.
Jongin tersentak pelan ketika tatapan Baekhyun jatuh ke arahnya. Pupil mata Jongin membesar, begitu pula dengan Baekhyun. Ia dan Baekhyun bertatapan sejenak, dengan Jongin yang menatap Baekhyun penuh akan rasa iba. Dari tatapannya, Jongin mencoba menyampaikan perkataannya. Kau tidak apa-apa?
Mata Baekhyun menatap Jongin seolah berkata bahwa, he's fine. Tapi Jongin tahu itu munafik, kemunafikan seorang Byun Baekhyun. Jongin menggelengkan kepalanya pelan, memilih menutup pintu dan membalikkan tubuhnya membelakangi pintu. Tubuh Jongin tersandar ke pintu kamar di mana Baekhyun dan Chanyeol berada, berusaha tidak sampai mendorong pintu hingga terbuka, dan Jongin menghela nafasnya yang terasa bergetar.
Hanya menatap Baekhyun yang diperlakukan seperti itu saja sudah membuat Jongin begitu... entahlah. Jongin hanya berpikir betapa kuatnya Baekhyun, dan Jongin sangat tahu jika ia yang berada di posisi Baekhyun, ia mungkin sudah mati bunuh diri atau apapun itu. Ia pasti sudah menyerah, sangat menyerah. Semua pemandangan tadi juga sudah sangat membuktikan, bahwa rasa sakit yang Jongin alami karena mencintai Kyungsoo tidak ada apa-apanya dibandingkan semua rasa sakit yang Baekhyun rasakan ketika mencintai Chanyeol.
Dan Jongin tidak sadar bahwa air mata sudah mengalir di wajahnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Saya comeback setelah saya mencoba menjernihkan pikiraaan~~~~
Maaf banget kemaren banyak yang protes kenapa saya nistain ChanBaek wkwkwk muupin yawww. Saya sendiri juga bingung kenapa saya bisa sekejam itu buat nistain ChanBaek di saat saya lagi galau wkwkwk. :v
Dan saya bener-bener marah kenapa saya ga bisa pendirian sama pemikiran saya sebelumnya buat ga bikin sequel *dihajar*
Abis...gimana...saya emang gabisa nistain ChanBaek sejahat itu wkwkwk.
Saya lagi mencoba mikir gimana ending yang bagus buat fanfic ini. Bagusan happy apa sad ending. Saya sih mencoba buat ga sad sad banget lah, kalo perlu happy sekalian endingnya. Tapi namanya otak manusia(?)pasti bisa ada perubahan kan ya wkwk. Apapun hasilnya nanti, yang jelas saya bakal buat ga segantung yang dulu huehue.
Sebenernya buat part yang ini saya kepengennya lebih dari ini, cuma saya mikirnya kan di part ini itu semuanya dari sudut pandang Jongin, kalo misalnya saya gabung sama sudut pandangnya Baekhyun ntar malah jadinya jelek, Jadi, ini dulu aja yaaa hehehe.
Kalo reviewnya mendukung, ntar saya bakal ngelanjutin sequel inii.
Buat yang kemaren minta sequel, tanggung jawab loh, review lagi yaaa.
.
.
.
.
.
xoxo,
baekfrappe.
