Minggu itu Jungkook mendapatkan cobaan berat dari senior ditempatnya bekerja. Menggerutu pun tidak akan menyelesaikan kegundahan hatinya. Maka saat si Park Jimin mengajaknya mampir ke club langganan si bocah asal Busan Itu dia menyetujuinya.
Jungkook pikir dia hanya akan minum wine lalu setelah dua gelas dia akan pulang, tapi siapa sangka seorang pria tampan menghadang jalannya. Saat itu, dia yakin bahwa dia masih sadar walaupun langkahnya sempoyongan akibat wine yang Ia minum tapi dia masih cukup sadar, Itu pemikiran Jungkook.
Lelaki itu memiliki proporsi wajah yang mengagumkan, hidung yang runcing, mata yang tajam menyorot dengan dagu yang tegas memberikan kesan dingin pada Jungkook yang saat itu tidak mabuk(ini persepsinya sendiri) bahwa bagaimana seorang Dewa dapat turun kebumi.
"Tapi dewa bisa mabuk, ya? "cicitnya kecil.
Lelaki itu berjalan pelahan kearahnya. Membuat Jungkook terkesiap, cepat-cepat menyingkir tapi sepertinya lelaki itu memang sengaja berjalan kearahnya membuat Jungkook yang menempelkan diri kearah tembok seketika kaku dengan mulut mengangga dan wajah memerah.
Dia benar-benar tampan, serunya dalam hati sembari menelan ludah susah payah saat lelaki itu berdiri tepat didepannya dengan wajah mereka yang hanya berjarak lima sentimeter.
"T-tuan... "susah payah, tapi sepertinya lelaki tersebut tidak menghiraukan.
"Layani aku malam ini... "Suaranya tegas sekali juga dalam, Jungkook hanya mampu mematung saat deru nafas itu mengenai pinggir tengkuknya. Kembali, menelan salivanya susah payah.
Sial.
Jungkook yang hendak mendorong lelaki dengan tangan kanannya malah mendapatkan sebuah genggaman erat, lelaki itu menarik tangannya kuat. Membuatnya mengikuti langkah sang lelaki tanpa protes.
Jungkookie, kamu bilang kamu tidak mabuk...?
Jungkook sudah mengalami hal-hal tidak masuk akal dalam dua puluh satu tahun hidupnya, bagaimana Ibu nya yang menikah lagi dengan lelaki yang hampir memiliki umur yang sama dengannya saat kelas dua SMA, yang entah sekarang keduanya berada dimana.
Atau, saat Mantan kekasih nya. Eumm, baiklah katakan lah cinta bertepuk sebelah tangan nya itu menolak cinta suci nya dan berkata ingin fokus Ujian Jaksa, yang malah Ia temui sehari setelahnya mengandeng sahabatnya berjalan dengan lugas dihadapannya yang saat itu baru saja mengambil kaleng kopi dari mesin minuman.
Ujian Jaksa katanya??
Jungkook mendengus kala itu, tapi toh tetap acuh karena dia itu kuat. Hidupnya sudah sangat menyedihkan, dia tidak perlu menangisi lelaki seperti itu bukan. Jadi dia hanya mendekat kearah sang lelaki lalu melemparkan kaleng kopi tersebut ke kepala sang lelaki yang langsung mengaduh kesakitan menimbulkan keributan kecil ditaman tersebut.
"Upsss,Maaf hyung.. Aku tidak sengaja... Aku terlalu terburu-buru untuk ikut ujian jaksa... " Setelahnya Jungkook hanya pergi dan tidak menoleh sama sekali. Padahal lelaki tersebut bersunggut-sunggut menyumpah serapahinya.
Atau saat, si Park Jimin yang sudah menjadi sahabatnya selama empat tahunnya mendadak menjadi orang paling sensitif didunia hanya karena istrinya yang hamil dua bulan.
"Kata Dokter--"
"Berhenti membual Park Jimin!!! Kau saja yang terlalu mengada-ada, Jika Yoongi Hyung yang menangis karena film Doraemon itu wajar, dia ibu hamil. Kau? Memang dasar cengeng Bodo... "
Lalu hening.
Hingga Jimin menatapnya dengan wajah berkaca-kaca, Jungkook mendengus lalu menepuk pundaknya.
"Mianhae hyung... "Katanya. Jimin meneteskan airmata lalu mereka berpelukan. Tidak, Jimin yang menariknya kedalam pelukkan.
Tapi, bukankah Yoongi Hyung yang hamil. Jungkook masih memikirkannya.
Dan situasi sekaranglah yang paling tidak masuk akal, dimana Jungkook dengan suka rela mendongakkan wajahnya agar lelaki yang bahkan dia tidak tahu asal, nama dan juga nomor teleponnya ini memberikan sengatan lewat gigitan-gigitan kecil di kulit putih lehernya.
Pakai mereka berserakan dilantai, mengunakan selimut hanya untuk menutupi kulit dari dinginnya pendingin ruangan. Tapi mereka panas, keringat mengucur dari kedua tubuh polos itu.
Jungkook yang terengah dan lelaki yang mengeram nikmat.
"Ahkkkk... "Dan sebuah benda panjang yang tegang memasuki lubangnya tanpa aba-aba.
Air mata menetes tapi tubuhnya mengejang nikmat.
Terkutuklah, terkutuklah pria hebat itu.
Jungkook mengalungkan tangan rampingnya ditekuk sang lelaki yang masih terus memberikan tanda keunggulan disekitar dadanya. Menekan tengkuk itu meminta lebih, tidak lupa gerakkan maju mundur mereka lakukan untuk mencapai nikmat.
Begitu terus, hingga akhirnya Puncak yang ditunggu tiba.
Cairnya keluar hingga merembes, Jungkook terengah dengan wajah memerah dengan bibir terbuka mencoba meraih udara sebanyak-banyaknya. Masih tetap mengalungkan tangannya manis dibelakang leher lelaki itu.
Sedangkan sang lelaki, benar-benar menatapnya memuja.
"Hebat, Ma cherie... Hebat, Indah sekali kamu.. "Katanya, suaranya begitu datar membuat Jungkook yang masih terengah bergidik. Lalu usapan dikening diberikan kepada Jungkook.
Walau sedetik tapi Jungkook dapat melihat, lelaki itu tersenyum.
-WAY-
Jungkook itu pembawa sial, ah.. baik ganti katanya jadi lebih halus,Jungkook itu ceroboh. Terkadang apa yang Ia lakukan masih salah atau sesuatu yang Ia lakukan hanya berakhir sia-sia. Dia lelaki yang menjunjung harga diri detik ini, tapi detik berikutnya bisa jadi pengemis maaf.
Keras kepala, tapi juga tahu diri. Dia hanya staff biasa dikantor yang kebetulan menerimanya bekerja selama kurang lebih satu tahun dua bulan itu belakangan ini.
Hidupnya memang datar terlepas dari makian beberapa senior karena kesalahannya dalam bekerja, juga omelan Yoongi Hyung tentang bagaimana bersikap menjadi Uke manis agar mendapat Seme tampan seperti Jimin.
Percaya? sewaktu Yoongi Hyung berkata seperti itu, Jungkook buru-buru berlari kekamar mandi lalu memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan dirumah tersebut.
Tampan, katanya? Jimin itu pendek dan terlalu puitis. Dia tidak suka. Tapi tidak apa, karena Yoongi Hyung selalu benar, kecuali kalau kalian mau mendengarkan ceramahnya tentang bagaimana bisa Jimin Ia bilang tampan.
Baik,lupakan tentang si pendek.
Tidak bisa disalahkan memang jika Ia bahkan lupa membawa dompet disaat hal itulah yang paling dibutuhkan saat ini, jadi bagaimana membayar biaya chek up jika tidak membawa uang sepeserpun.
Omong-omong dia tadi naik mobil sendiri kemarin, jadi dengan angkuh dia menelpon Jimin Hyung nya untuk meminta bantuan.
Tapi apa yang didapat sekarang Ialah, Yoongi yang menatapnya tajam sekaligus mengerutu tidak jelas.
"Apa yang kau fikirkan, Jeon Jungkook? "Jungkook telak diam, bagaimana mau menjelaskannya.
Sedangkan Jimin yang berdiri sambil mengendong bayi berumur empat bulan bernama Park Daniel disudut kiri didekat tempat ruangan dokter yang baru saja Jungkook lewati memandangnya takut.
Bagaimana jika Jungkook memberitahu Yoongi bahwa mereka pergi ke club bersama malam itu. Malam yang membuat Jungkook memiliki kondisi seperti ini.
Mati sudah nyawaku, begitulah pikiran Jimin saat ini.
Jungkook menatap Jimin yang menatapnya memelas. Mendengus, lalu kembali menatap Yoongi yang wajahnya memerah menahan marah.
"Hyung, aku sudah besar... "keluhnya, Yoongi menggeleng kecil lalu memukul kepalanya sadis.
"Apa alasanmu masuk akal? Karena sudah besar kau bisa keluar masuk club malam dan hamil seperti ini, begitu maksudmu Jeon? "Yoongi masih terus menatapnya marah.
"Bukan begitu maksudku, Hyung... --"
"Ah... molla.. molla.. Sekarang beritahu aku siapa ayahnya!! "
Jungkook menghela nafas, mungkin ini memang takdirnya.
Lalu kita bisa dengar suara teriakan Yoongi yang menyerukan nama Jungkook marah serta bunyi dentuman dentuman kecil juga teriakan minta ampun Jungkook.
-KJ-
Jungkook memasuki flat miliknya setelah habis dicaci maki oleh Yoongi dengan lemas, pikirannya menjalar kesana kemari. Pertanyaan-pertanyaan menghampiri hatinya yang polos tak terjamah.
Bagaimana dengan bayi nya?
Ayah bayi yang Ia kandung?
Bahkan, Bagaimana hidupnya setelah ini?
Hingga Ia teringat kembali dengan potongan kecil kertas yang pagi setelah malam panas itu terselip dibawah ponselnya. Jungkook berlari kecil kearah nakas tempat tidurnya. Menarik laci itu keluar lalu menemukan secarik kertas yang Ia cari.
Nomor telepon sang pria.
Waktu itu Jungkook terbangun tanpa lelaki itu disampingnya dan juga secarik kertas dengan beberapa kumpulan nomor yang Ia yakini nomor lelaki panas tersebut. Jungkook mengatispasi ,jadi dia menyimpan nomor tersebut.
Meraih ponselnya lalu mulai menekan nomor-nomor tersebut di keypad. Menghirup nafas sebelum akhirnya menempelkan ponselnya ke telinga.
Dua kali nada tunggu hingga akhirnya diangkat.
"hallo? " suaranya tegas, sama seperti suara yang Jungkook ingat malam itu. Membuat pipinya bersemu merah.
Entah karena apa.
"Ha-Hallo... aku.. eumm... Ini... aku... bisa... --" kenapaa? Jungkook otaknya tidak bisa memproses dengan cepat. Hilang yang ada hanya gugup.
"Bicara yang jelas, maaf... "
"Ini aku... "Sesuatu yang akhirnya Jungkook katakan dengan susah payah.
"Ye? Ya kau siapa? "
"Aku... "Lama sekali, Jungkook bingung harus berkata apa.
"Hei, apa kamu orang iseng? Jika iya aku akan menut--"
Jeon Jungkook... Aku Jeon Jungkook, bisa kita bertemu aku ingin membicarakan sesuatu denganmu... "
"Ah, maaf tapi aku tidak bertemu dengan orang asing! "Setelahnya telepon ditutup.
Bolehkah Jungkook mengumpat sekarang?
Menangispun bukan pilihan.
T.B.C
Part satu come... Eaaaa, gimanaaa karena banyak yang minta Mpreg ku Kasih kepada kaleannnn...
Jangan lupaaaaa review, kalau ga yaaaa...
Aku sayang kalian, terimakasih yang udah mendoakan untuk tetap sehat. Aku juga mau kalian tetap jaga stamina.
Btw, yang jarang up beberapa jam yang lalu up. Kayanya itu bibir abis dimainin yah sampe agak bengkak gitu. Borongan lagi Upnya kudu gimana aku nangis nih...
Love you...
Candnim, adiknya Seokjin.
