Kau yang berdiri dibawah rintik hujan
Sedang apa?
Kenapa kau tertunduk?
Kau yang berdiri dibawah rintik hujan
Sedang apa?
Kenapa mengepalkan tangan?
Kau yang berdiri dibawah rintik hujan
Sedang apa?
Tegapkanlah kepalamu,
Hujan pasti akan segera reda
Sekali lagi . .
Tegapkanlah kepalamu,
Karena hujan bukanlah tempat persembunyian air mata
Tegapkanlah kepalamu,
Buktikan kepada mendung yang mengudara,
Bahwa hujan, pasti akan segera reda.
a fic by belivixx
STRONGER
Disclaimer always Masashi Kishimoto
.
.
"Kelihatannya lezat. Bolehkah kami mencicipi sedikit Hinata-hime?"
"Ino. Hentikan, jangan terus-terusan menggoda Hinata. Lihatkan, pipinya merona lagi."
Gelak tawa riuh terdengar bergema dilorong itu. Kelompok kecil remaja putri yang berjalan memasuki area sekolah mereka. Masih terlalu pagi sebenarnya, tapi apa boleh buat jika nama tertera di jadwal piket kelas?
"S-Sakura-chan?"
"Ya Hinata?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Shikamaru-kun?"
Derit pintu loker terdengar ngilu sangat pertanyaan itu terlontarkan. Gadis emerald itu membenarkan posisi kacamata yang bertengger dihidung mancungnya. "Berjalan lancar. Ya kelihatannya seperti itulah."
"Aku bukan tipe perempuan yang akan bergelanyut manja di lengan seorang pemuda dengan mengemis belas kasih. Dan seperti yang kalian tau, Shikamaru pun bukan tipe pemuda kasmaran seperti kebanyakan orang. Sejauh ini, semua baik-baik saja."
"Menurutku si jidat jujur Hinata. Well, kalau kalian ingin tau bahwa aku dan Sai juga dalam aliran 'baik-baik saja'." Ino menimpali sembari menyisir untaian emas rambutnya.
"Tak ada yang bertanya tentang hubungan publik sepertimu pig." Ejek Sakura mantap.
"Heh jidat, tolong diam saja ya. Kita memiliki cara masing-masing."
Tawa kembali terdengar diantara mereka, gurauan yang setiap hari terjadi walau dalam kelompok kecil sekalipun. Pertengkaran atau ejekan adalah hal yang lumrah terjadi. Tak ada yang sakit atau menyakiti.
Semua netral, tanpa kubu.
"Nah Hinata. Selamat hari jadi ya dengan si pantat ayam. Lakukanlah apa yang terbaik menurut kalian berdua, kami ikut bahagia." Sakura memegang pundak Hinata disusul oleh Ino.
"Hmm, Arigato."
.
.
Waktu untuk pulang telah berlalu sekitar 30 menit yang lalu, berbagai jenis kendaraan telah berlalu lalang melewati gerbang KIHS. Dari yang biasa sampai yang luar biasa. Berbagai salam perpisahan pun silih berganti terucap diantara mereka.
Tapi gadis itu, masih setia duduk dilapangan basket ditemani semilir angin musim gugur dengan hawa dingin bersamanya.
Sudah setengah jam ia menunggu, menunggu sesuai janji yang ia tulis dalam bento kemarin.
"Besok, Lapangan basket, Pulang sekolah."
Entah setan apa yang merasukinya sehingga ia berani menulis pesan itu pada tamu yang dinanti. Helaian indigo terjalin dan disampirkan dibahunya, menambah kesan imut pada dirinya. Ia sudah bersiap, karena keyakinan telah ia dapat.
Apakah dia akan datang?
"Hinata."
Ketika suara itu memanggil namanya, lega pun menjalar dihati.
"Sasuke-kun." Hinata bangkit dan tersenyum pada tamu yang dinanti.
Kotak coklat yang sedari tadi ia pegang kini ia sodorkan kepada tamu yang bernama Sasuke itu.
"Apa ini?" onyx itu menyipit tajam.
"T-Tolong terima ini Sasuke-kun."
"Berhentilah memberikanku sesuatu Hinata. Itu membuatku merasa hina."
"E-eh?" Hinata menatap heran pada pemuda raven itu. Hina? Maksudnya apa? Wajar bukan jika sepasang kekasih saling memberi hadiah? Wajar bukan?
"Jujur saja, aku jarang memberimu hadiah. Sedangkan kau hampir setiap saat memberikanku sesuatu. Itu membuatku merasa seperti pecundang. Dengar Hinata, kita setara. Jadi jangan lakukan hal-hal yang membuatku seperti tak mampu melakukan apapun."
DEG
"T-Tapi . ."
"Sudahlah. Ayo kuantar pulang."
Sasuke pun menarik tangan Hinata, membuat kotak itu terjatuh.
Tak ada waktu untuk memungutnya, terlalu takut.
Hinata terlalu takut untuk mencicit meminta kembali.
Pasti kue itu hancur,
Ah, mungkin nanti ia akan membuat lagi.
Apapun, asal perasaan ini tersampaikan.
Agar Sasuke-kun tahu, bahwa Hyuuga Hinata telah memantapkan hati.
Memantapkan hati, untuk bertahan pada satu hati.
.
.
"Tuan, ada kiriman untuk anda."
"Hn, letak saja."
"Baiklah, saya permisi."
Cucuran air menetes diujung ravennya. Satu jam lebih berada dikolam renang dirasa cukup untuk menghilangkan beban stress diotaknya. Setelah mengganti pakaian, bungsu Uchiha itupun kembali ke kolam renang untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Shion?"
"Halo Sasuke."
"Sedang apa kau disini? Siapa yang mengizinkanmu masuk?"
"Apapun yang kumau Sasuke, kau ingat itu? Masuk kesini adalah hal yang mudah."
Sasuke menyerngit tak suka. "Apa tujuanmu kemari?"
"Wah, tenang Sasuke. Jangan terburu-buru." Kekeh Shion.
"Aku tidak punya waktu untukmu. Pergilah, kau tau dimana pintunya." Sasuke pun berbalik pergi setelah mengambil ponselnya.
"Tunggu dulu Uchiha Sasuke, Kau tidak boleh mengabaikanku begitu."
Sasuke tak menghiraukannya, ia lanjut menaiki tangga.
"Aku dengar kau memiliki mainan baru. Hyuuga eh?" dengan sedikit berteriak, gadis itu berhasil membuat langkah Sasuke terhenti.
"Bukan urusanmu. Dan kau, jangan berani menyebut namanya sedikitpun." Satu kalimat mantap, keluar langsung dari mulut bungsu Uchiha itu karena mendengar singgungan terhadap Hyuuga yang dimaksud.
"Kenapa? Kenapa aku tak boleh menyebut namanya? Berbeda kasta? Kurasa kita semua setara. Atau karena dia mainanmu yang rapuh? Sejak kapan Uchiha Sasuke memiliki belas kasih?" Shion menyunggingkan sebuah senyum miring.
SKAK!
"Berhenti dan keluarlah, kau tak tahu apa-apa."
"Tak tahu? Oh baiklah, kalau begitu 'happy anniversary Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata. Untuk 4 bulan yang telah kalian lalui, kuucapkan selamat." Dan dengan berakhirnya kalimat itu, Shion pun berlalu melewati Sasuke yang kini mematung.
Tunggu, dari mana dia tahu? Anniv?
Pemuda itupun mangambil langkah cepat saat ia teringat bahwa tadi ia memiliki sebuah paket. Dari mana Shion tahu bahwa hari ini adalah tanggal jadiannya dengan Hinata? Apakah paket itu ada hubungannya?
Paket itu berada diatas meja dekat kolam renang, dan Shion baru saja meninggalkan tempat itu. Mungkinkah?
"Sial."
Sebuah kotak tampak telah terbuka diatas meja itu, pemuda itu segera meraih dan melihat isi kotak itu. Sebuah kue. Sederhana namun menggugah selera.
Brownis.
Kesukaan Sasuke.
Semua orang tahu bahwa Sasuke tidak menyukai makanan manis, tapi yang ini beda. Ini buatan Hinata. Satu-satunya makanan manis yang tidak pahit ketika berada dilidah Sasuke. Maka dari itu, ia masukkan kedalam daftar list makanan kesukaannya.
Paduan rasa yang sangat pas dilidah. Tidak terlalu manis, namun tidak menghilangkan nikmat rasa brownis pada umumnya. Takaran coklat dan gula yang pas. Sasuke berani makan lebih untuk itu.
"Sial."
"Sial."
Tangan pemuda itu meremas sebuah surat yang datang bersamaan dengan paket tadi. Tulisan tangan tertanda Hyuuga Hinata,
To : Sasuke
Aku tak tahu nomor ponselmu, kau tahu itu.
Aku tak memiliki media sosial, kau pun tahu itu.
Aku minta maaf jika aku membuatmu merasa tidak enak tadi, sungguh aku minta maaf.
Tak ada niat sedikitpun untuk membuatmu merasa hina Sasuke-pun. Tulus dari hatiku, aku hanya ingin memberimu apa yang terbesit dibenakku saat itu.
Aku memberimu, agar kau tahu bahwa aku menyayangimu.
Anggaplah itu caraku untuk menunjukkannya, walau aku tahu bahwa mungkin caraku tak cocok untukmu.
Tapi hanya itu caraku untuk menunjukkan sayang, karena aku tak memiliki keberanian seperti gadis-gadis lain yang selalu lebih baik dariku.
Aku juga minta maaf atas ketidaksempurnaan ini.
Dan juga atas kiriman ini, sebenarnya inilah yang ingin kuberi saat disekolah tadi.
Kuenya jatuh, maaf aku teledor. Aku sangat sedih tidak bisa melihatmu menikmati kue itu, padahal segala ekspresimu begitu berarti bagiku.
Tapi sudahlah, aku harap kau menyukai kue yang sekarang.
Happy our anniversary, Sasuke-kun.
.
.
Tuesday, 13 September 08.15pm
"M-maaf, tadi Lee menelponku sangat tiba-tiba."
"Hn."
"Kita mau kemana Sasuke-kun?"
Pertanyaan itu terpendam oleh udara, tak ada jawaban dari yang ditanya. Desakan pun tak akan keluar tuk menuntut jawab, keheningan pun selalu jadi penyelimut mereka.
Setengah jam dalam perjalanan, mobil itupun berhenti disebuah tanah lapang. Rumput hijau terhampar luas sepanjang mata memandang. Hamparan bintang pun menjadi latar untuk itu.
"Ini dimana Sasuke-kun?"
"Turunlah."
Gadis indigo berbalut dress hijau selutut itu pun turun melangkahkan kakinya untuk menjajah lebih jauh tanah lapang itu. Semilir angin musim gugur berhembus begitu menusuk saat malam hari, namun tak menghentikan langkah gadis itu untuk menikmati hamparan bintang diatasnya.
"Indah."
Satu kata yang terlontar, namun cukup untuk menggambarkan segalanya.
"Kemarilah Hinata."
Sasuke mengulurkan tangannya, mengajak gadis itu untuk mengikutinya ke suatu tempat. Tanpa basa-basi Hinata pun menyambutnya. Membiarkan tangan kekar itu membimbingnya kemana pun ia mau. Karena memang, Hinata telah memantapkan hati.
Sampailah mereka pada sebuah bangku yang terletak disudut tanah lapang ini. Hinata baru menyadari bahwa bangku itu berada disana. Sungguh terpencil hingga dia baru menyadarinya. Walaupun begitu, bangku itu kelihatan sangat nyaman dengan lampu taman yang menyinari. Walau temaram, setidaknya cukup untuk bisa melihat wajahnya.
Wajahnya yang tegas, datar tanpa ekspresi, senyumnya yang hanya berwujud garis, tulang rahangnya yang membuatnya sangat cool. Uchiha Sasuke, Sasuke-nya.
Miliknya? Pantaskah ia berkata begitu?
Padahal dirinya yang jauh dari kata sempurna ini.
Yang bahkan membuat Sasuke merasa hina.
Pantaskah?
"S-Sas-suke-kun? A-akuu . ."
"Berapa kali harus kukatakan, bicaralah tanpa terbata Hinata."
Nah, pantaskah?
"Maaf." Mengalihkan pandangan menjadi satu-satunya pilihan saat ini bagi Hinata. Biarlah ucapannya tertahan dulu. Sampai keberaniannya untuk bicara terkumpul nanti.
"Duduklah." Ucap Sasuke sambil menepuk bangku disampingnya, mengisyaratkan Hinata agar duduk disitu. Tanpa ba-bi-bu Hinata pun menuruti.
"Pegang ini." pemuda itu memberikan sebuah kotak pada Hinata, tampak seperti kotak bekal.
"Apa ini Sasuke-kun?"
"Buka saja." Kening gadis itu mengerut heran, untuk apa Sasuke memberinya kue yang tadi siang diberikannya kepada Sasuke? Dengan maksud apa? Mengembalikannya? Apakah Sasuke tidak suka? Benarkah?
Hinata menatap Sasuke takut-takut, perasaan sedih menjalar seketika dihatinya, rasanya seperti sebuah tangan mempermainkan jantungmu.
"S-Sasuke-kun tidak suka ya?" bulir air mata jatuh turut serta dengan terlontarnya pertanyaan tersebut.
"Bodoh."
"Hiks, Hiks, a-ap-pa?"
"Bodoh, untuk apa kau menangis?" tangan kekar itu mengangkat dagu kecil Hinata, membuat iris lavendernya berhadapan dengan onyx pemuda tersebut. Sedangkan tangan kekar lainnya, bergerak menghapus air mata yang mengalir. Begitu pelan, sehingga membuat iris lavender itu terpejam.
"B-benarkan? Sasuke-kun tidak suka?" tangan mungil Hinata menggenggam tangan kekar Sasuke yang berada dipipinya.
"Aku ingin memakannya bersamamu. Agar kau bisa melihat ekspresiku yang kau maksud itu hime no baka." Sasuke mencubit kecil pipi chubby itu.
"Berhentilah, jangan cengeng terus. Ayo suapi aku."
Butuh beberapa detik bagi Hinata untuk mengerti ucapan Sasuke, namun setelahnya senyum selalu terpatri diwajahnya saat menghabiskan malam itu dengan pemuda Uchiha tersebut. Memang keheningan yang selalu mendominasi, tapi cukuplah jika hanya mereka berdua yang merasakan. Biarkan cinta mengalir diantaranya, yang Hinata harap benar-benar cinta seperti yang dirasakannya.
Bukan sekedar fatamorgana,
Melainkan cinta yang sesungguhnya.
.
.
"Hinata."
"Ada apa Tousan?"
"Ayah akan pindah ke Amerika. Apakah kau akan ikut? Hanabi bersamaku."
" . . ."
Bagaikan tersambar petir, gemuruh menerpa hatinya. Ayah dan adiknya akan pindah ke Amerika? Neji-nii saja belum kembali dari London. Ikut? Bagaimana dengan Sasuke?
"Itu benar nee-chan. Namun yah, kau tahu aku masih ada pertandingan baseball dalam minggu ini. Sedangkan Tousan akan berangkat dua hari lagi, terserah padamu kau ingin berangkat dengan siapa. Itupun jika kau ingin ikut." Hanabi berucap tanpa mengalihkan tatapannya dari soal-soal yang sedari tadi digelutinya. Namun Hinata tahu, adiknya itu berkata serius.
"K-kenapa mendadak?"
"Tidak bermaksud apapun. Hanya saja, susah jika ayah harus terus bolak-balik. Lagipula, Neji bilang dia juga akan melanjutkan sekolahnya di Amerika. Jadi ayah pikir, lebih baik pindah saja."
Hinata meremas rajutannya, bimbang dirasa begitu kentara dihatinya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan Hinata. Dan itu semua terserah padamu." Hyuuga Hiashi memegang pundak putri sulungnya tersebut. Walau ia tak berperan sebagai ayah yang 'sebenarnya' pada anak-anaknya. Namun, untuk hal yang mecolok tersebut tentu Hiashi paham betul dengan apa yang ada dipikiran Hinata.
"Ayah akan mengurus berkas-berkas. Katakan secepatnya pilihanmu."
Hyuuga Hiashi berlalu meninggalkan dua putrinya diruang keluarga Hyuuga yang amat luas. Pilihan yang diberikannya terasa begitu berat bagi Hinata. Apa yang harus dipilihnya? Ikut bersama keluarga atau justru memilih untuk tetap tinggal?
Jujur, Hinata tak kuasa untuk berpisah dari keluarganya. Orang-orang yang selalu peduli dengan keadaannya, yang selalu memberikannya tempat untuk pulang dan berlindung, juga sumber dari kehangatan yang selama ini ia dapat.
Hinata sangat mengerti dengan sebuah rasa saat seseorang yang amat dekat denganmu meninggalkanmu. Sangat mengerti, setelah 10 tahun berlalu.
Hyuuga Hikari yang pergi meninggalkan keluarga Hyuuga-nya untuk selamanya. Pergi dan tak akan pernah kembali.
Sangat sakit, dan perasaan itu mampu menyelimuti hatimu berminggu lamanya. Bukan berminggu, bahkan sampai saat ini Hinata masih dapat mengingat dengan jelas kesakitan yang begitu kentara tersebut.
Namun, untuk saat ini. Suatu hal lain yang bahkan dalam kategori baru dikehidupan gadis itu. Seorang pemuda yang bahkan masih hitungan bulan hadir dalam hidupnya, mimpinya, pikirannya. Dan dengan kurun waktu singkat itu, pemuda tersebut mampu menguasai seluruh dirinya.
Mengobrak-abrik hatinya.
Mengotak-atik, bagai sebuah puzzle.
Pemuda Uchiha yang juga telah merebut hatinya, membuatnya jatuh kedalam lubang, yang banyak dikatakan orang sebagai cinta. Hinata tahu dirinya lemah dan maka dari itu ia sangat menyayangi dan mecintai pemuda itu karena dialah yang membuat Hinata bangkit.
Yang mengajarkan Hinata untuk lebih mencintai dirinya sendiri.
Yang mengajarkan Hinata untuk lebih kuat berdiri dengan kedua kakinya, bahkan untuk menegakkan wajahnya, juga untuk tidak terbata.
Yang mengajarkan arti keberanian, pada diri seorang Hyuuga Hinata yang pemalu.
Juga memberikan perasaan yang selama ini belum pernah Hinata rasakan pada siapapun selama kurang lebih 18 tahun lamanya.
Tak lupa pula, sumber kehangatan baru bagi dirinya.
Sanggupkah Hinata menetapkan pilihan?
.
.
TBC
Author's note : Hai minna-san!^^
Sekali lagi saya harap anda-anda semua membaca dengan baik apa yang saya tulis dalam chapter ini. karena saya mengakui, saya belum bisa untuk menyalurkan isi kepala saya pada sebuah tulisan. Dan juga, ingat-ingat cerita dichap sebelumnya agar nyambung.
Btw, kalau ada yang bingung sama waktunya, jadi gini . .
Dichap sebelumnya kan tertera Sasuke nelp seseorang, nah dichap ini dijelaskan tujuan Sasuke nelp orang tersebut. Jreng~!
Nah, see you next chapter~
