~Balasan Review~

hatsune Cherry : untuk yang pertama mungkin iya, tapi kalau udah hamil Shera pastiin sasuke tanggung jawab nikahin Sakura kok~

Eunike Yuen : Ohhh...gomenne~ Iia Shera perbaiki lagi kedepannya...
Thx banget buat kritiknya ya, semoga chapter selanjutnya ga ada kealahan seperti ini lagi ya~

White moon Uchiha : wah~ benarkah?! Really? jinja~?!
he he syukur deh kalo gtu..ikutin terus ya~

erica christy 77 : Ok deh, nanti Shera kasih selipan lemon SaiIno~ :3

Evol Lovekai : Shera juga suka sama Kai~
Oke~ xD

hima sakusa-chan : Hay juga Hima~ iyya dong pastinya~
Dia itu orang jahaaaat deh pokoknya~

Brown cinnamon : kilat seperti biaa dong~ :3

Hikari Matsushita : iia nih~ Fic collab pertama~
Sayang banget NejiTen ga ada...tp kayaknya Neji ntar muncul (sebentar) deh.
Settingnya setengah asli, cuma ada beberapa yang mungkin diubah (menyesuaikan cerita)
Tapi di sini keluarga Uchiha masih utuh, justru Clan haruno yang udah abis. Sisanya tinggal Sakura.

~Enjoy Reading~


"(REALLY) MISSION IMPOSSIBLE"

.

.


Scene 2 : Sharing Soul

(Adegan kedua: Berbagi Jiwa)


.

.

Enjoy Reading

.

.

Pagi ini penduduk Konoha nampak sangat sibuk. Ada yang menyapu halamannya, memotongi rumput, mengecat ulang rumah mereka, setidaknya tak terlihat ada seorang pun yang sedang menganggur.

"Arigatou, bibi~" Sakura menerima secontong es krim yang baru saja dibelinya.

Suhu udara yang sudah mulai memanas ini menandakan pergantian musim akan segera tiba. Dan karena hal itulah penduduk segera bersiap menyambut datangnya musim itu.

"Oishiii~" Sakura terlihat menikmati es krim yang baru saja dibelinya.

Ino memberi tahunya bahwa ada rasa baru yang ditawarkan oleh bibi penjual es krim Konoha, yaitu rasa kesukaan Sakura. Cherry. Mendengar hal itu segera saja Sakura melesat untuk mencicipi rasa manis nan asam itu.

Sambil menikmati es krimnya, ia berjalan berkeliling desa. Menikmati setiap sudut desa yang dikelilingi oleh warna hijau segar dan aroma pohon yang basah. Sakura memutuskan untuk berjalan menjelajahi hutan.

Suasana di dalam hutan memanglah sangat menyejukkan. Udara yang menerpa kulit mengandung banyak oksigen, sehingga sejuk dapat terasa. Sakura segera menghabiskan es krimnya dan bergegas menuju sungai.

"Wuaaaahh~"

Decap kagum Sakura, aliran air yang damai dan suaranya yang bergemericik membuat hati menjadi damai.

"Kurasa tak ada siapapun~"

Sakura menengokkan kepalanya ke kanan dan kekiri, memastikan tak ada seorang pun yang berada di sekitarnya.

Syut.

Pakaiannya terhempas dari tubuhnya sendiri. Sebelum udara panas menyelimuti kulit telanjangnya, ia menenggelamkan dirinya ke dalam jernihnya kolam itu.

"Fuah~"

Menyenangkan rasanya bisa bermain-main di air pada musim panas seperti ini. Ikan-ikan kecil yang tinggal di dalamnya pun tak terlihat terganggu dengan kehadiran Sakura. Seakan melihat kehidupan air lebih dekat, Sakura menyukainya.

Grusak.

Namun keadaan membuatnya menghentikan aktivitas itu. Sakura menoleh, mencari tersangka yang membuat suara itu. Dengan refleks tangannya pun berusaha mengamankan daerah-daerah terlarangnya.

"Siapa di sana?!" Sakura memekik.

Tak ada jawaban muncul. Sakura mengerutkan dahinya, ia segera meraih pakaian yang dilemparnya itu. Dan saat itu pula sebuah tangan mengagetkannya.

"Dor."

Sosok itu berucap. Raut pucat terlihat jelas di air muka Sakura.

Sakura bangkit, "INO-PIGGYYY~!"

"Pfftt~ Kau kaget, kau kaget." Ino hanya berusaha menahan tawanya melihat gelagat Sakura. "Kau pikir apa yang kau lakukan tengah hari seperti ini di sini?"

"Apa? Aku hanya menyegarkan diri." Sakura memakai kembali pakaiannya. "Dan tolonglah Ino, kebiasaan burukmu itu sudah sangat meresahkanku selama ini."

"Ha ha. Selama ini seharusnya kau sudah menyesuaikan diri."

"Aish~ Aku tak habis pikir, bagaimana bisa Sai tahan bersamamu ya?"

"Aku juga tak habis pikir, bagaimana bisa kau tak menyadari pesonaku ya?"

"Cih~"

Daun berguguran seiring angin yang menerpanya. Langit terlihat bersinar terang menyambut datangnya awal udara panas. Suhu akan meningkat hingga mencapai puncaknya. Semangat yang berkobar akan mengawali musim ini.

-ooOoo-

"Tsunade-sama, apa misi ini benar-benar harus dilakukan olehnya?" Shizune mengecek kembali berkas yang dipegangnya. "Bahkan walaupun harus, setidaknya tak dilakukan sendirian."

Guratan cat kuku menghiasi jemari lentik sang Hokage muda ini. 'Muda' bukan berarti umurnya, tapi penampilannya. Ia berprinsip, meski menjadi Hokage dan bertambah umur sekalipun. Ia tak mau kehilangan 'ke-kece-an'nya.

Sang Hokage mendongak, "Shizune, sudah berapa lama aku menjadi Hokage?"

Sebelum menjawab, Shizune kenal betul nada bicara ini. Ia hanya bisa menelan ludahnya.

"Musim panas ini genap 5 tahun."

"Sudah berapa lama kau mengenalku?"

"Sejak aku masuk ke akademi."

"Sudah berapa lama kau bersamaku?"

"Sejak aku lulus akademi."

BRAK.

Jantung Shizune hampir saja meloncat keluar dari tempurungnya. Hokage ini senang sekali memberikan kejutan-kejutan seenak udelnya. Kali ini meja kerja itu menjadi korbannya.

"Apa masih ada yang perlu ditanyakan, Shi-zu-ne?"

"Ti-tidak."

-ooOoo-

Desiran suara angin dan hewan malam terdengar di sana. Iringan musik jangkrik dan sinar sayu sang rembulan. Kelamnya malam itu mengingatkannya pada seseorang yang tak diketahui keberadaannya kini.

Sakura menempatkan dirinya duduk di jendela, menikmati opera langit malam yang dilihatnya. Secangkir coklat panas pun menjadi teman duduknya. Dalam kesendirian malam dimana ia merindukan dirinya.

Sakura menatap cangkir itu, "Kehangatan ini… apakah kau juga merasakannya?"

Jemari lentik Sakura memainkan lingkaran cangkir itu. Menggores setiap bagian yang disentuhnya. Entah mengapa bahkan saat mengecap manisnya coklat, lidahnya sama sekali tak bergairah.

"Sasuke~" namanya pun terdesah di bibir mungilnya. "Dimana kau sekarang?"

Seminggu genap ia tak melihat lelaki itu. Keangkuhannya membuat sebesit kerinduan menggrogoti hati Sakura.

Siapapun tahu mereka saling mencintai, lantas mengapa masih saja mereka membiarkan ego menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka sendiri.

Ingatan Sakura kembali menjelajahi waktu. Tepat ketika seluruh keluarganya masih utuh. Saat itu adalah musim panas, sama seperti sekarang ini. Clan Haruno dan Uchiha mengadakan piknik malam bersama di puncak bukit Konoha.

Meminum secangkir teh mawar manis yang diiringi bincangan. Masih berbekas sekali di ingatannya saat dimana ia mendengar bahwa Uchiha dan Haruno merencanakan penjodohan. Rasanya menyenangkan mendengar hal itu terwujud, hingga itu menjadi impian Sakura kecil kita.

Sakura menyeduh kembali coklat panasnya, "Manisnya kenangan waktu itu~"

Ia mengalihkan perhatiannya ke langit berbintang.

"Kurasa memang harus ada yang memulai."

Sakura bangkit, ia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. Diambilnya jaket merah kesayangannya itu. Warnanya sudah mulai pudar, rajutannya pun sudah tak teratur lagi, tapi bagaimanapun seseorang yang memberikannya membuatnya tak bisa melepaskan jaket itu.

Sakura melesat melewati rumah-rumah. Ia berniat menemui Hokage, karena ia satu-satunya yang mengetahui dimana pemuda yang dirindukannya—Sasuke—sekarang.

Tap.

Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan Hokage, nyaris tangannya meraih gagang pintu itu kalau seseorang tak menginterupsinya.

"Sebaiknya kau tak mencoba membukanya, Sakura-chan." Suara itu berucap.

Sakura menoleh, "Shizune-san? Memangnya kenapa?" tanyanya bingung.

Shizune hanya menyeringai menanggapinya, dan iapun berlalu perlahan.

"Kau sudah cukup dewasa untuk mengetahui hubungan pria-wanita kan?"

Butuh waktu sepersekian detik untuk Sakura mencerna maksud dari ucapan sekertaris Hokage itu. Namun mukanya yang memerah menandakan ia mengerti maksudnya.

'Benar-benar Hokage itu~' rutuknya sambil mengikuti langkah Shizune.

-ooOoo-

Menyesal. Sungguh Sakura menyesal telah termakan jebakan Shizune. Awalnya ia memang sengaja menghindari dirinya dari ruang Hokage—karena Shizune yang memperingatkannya. Tahunya malah kejadian di sini jauh lebih melelahkan.

Sakura menegadah, "Shizune-san…"

"Sakura-san, kalau kau tak segera menyelesaikannya maka jam kerjaku bisa bertambah."

Sakura hanya bisa mendesah panjang. Kini ia kembali berkutat dengan kertas-kertas bertumpuk yang harus disusunnya menjadi beberapa bagian. Salahkan Sasuke, yang menyebabkan rasa penasaran akan keberadaannya.

"Setidaknya berilah aku petunjuk~" Sakura merajuk.

Shizune kembali menatap Sakura, "Hmm… hujan."

Sakura refleks melihat ke luar jendela, ia mengerutkan dahinya. Hujan darimana? Langit secerah berbintang seperti itu, udara juga panas. Sakura kembali menatap kesal ke arah wanita paruh baya itu.

Shizune terkekeh, "Itu clue untukmu yang sudah berusaha."

'Hujan?' ulangnya dalam hati.

Sambil meneruskan pekerjaan dadakan(?)nya, Sakura memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan hujan.

'Payung? Jas hujan? Katak? Air? Mendung? Dingin? Desa hujan…' batinnya mengeja.

Ting.

Sepertinya kini Sakura sudah mendapatkan jawabannya. Ia bangkit dari kursinya dan menghadap Shizune. Shizune yang sedang menyeduh teh tradisionalnya terlihat tak bereaksi.

"Apa…itu artinya… Kirigakure?" ujar Sakura menerka. "Sasuke sedang menjalankan misi ke Kirigakure, kan? Misi apa yang sebenarnya sedang dijalaninya? Kenapa beberapa hari ini ia tak juga kembali…?"

Diburu pertanyaan introgasi dari Sakura, Shizune hanya diam menyelesaikan teh-nya. Beberapa saat pun ia meletakkan cangkir teh itu di atas mejanya.

"Sakura-san, kau ini benar-benar menyukai Sasuke-kun ya…?"

Ucapan Shizune disambut dengan blushing-an raut wajah Sakura. Refleks pun kakinya mundur beberapa langkah.

Shizune mendengus, "Kau ini memang manis, Sakura-chan~" sahutnya dengan tawa. "Sasuke memang sedang berada di Kirigakure, tapi mengenai misi yang dilakukannya aku sendiri pun tak tahu."

"Em… arigatou, Shizune-san."

Sakura segera melesat pergi dari ruangan itu. Memang niatnya ingin menjemput Sasuke, tapi ini sudah sangat larut untuk keluar dari desa. Lagi pula, ia tak tahu bahaya apa yang sedang mengincarnya… lagi.

Sementara itu Shizune mendesah melihatnya, "Dasar anak muda…"

-ooOoo-

SAKURA POV

Pernah kau berpikir untuk bertukar jiwa dengan seseorang?

Pernah kau menginginkannya?

Suara nyaring itu menggusarkan tidurku. Membuatku berkeringat dingin hingga membasahi sebagian pakaian yang kupakai. Aku mencoba menggerakan tubuhku mencari kenyamanan, namun bukannya yang kuharapkan… yang kurasa malah pegal menggerayangi tubuhku.

"Engh~"

Aku pun membuka mata, aku ingin tahu apa yang membuatku segusar ini. Dan apa yang sekiranya menggelitik rambutku dan mendesah tak jelas di telingaku.

Saat kubuka mata, cahaya pekat menyapaku. Setidaknya hal pertama yang kutahu adalah bahwa ini sinar terang pagi—sedikit siang. Aku mencoba menarik tanganku untuk mengucek kelopak mataku yang gatal. Sekali lagi tanganku tertahan—entah oleh apa.

Aku mengerjapkan mataku. Kulihat jemari-jemari lentik membelai kepua pipiku dan turun hingga ke bahu. Aku mengalihkan mataku, kulihat sepasang tangan mulus juga sedang meraba dadaku. Saat itu pula aku menyadari bahwa—

"APA?!"

Aku sedang dikelilingi oleh wanita-wanita yang tak kukenal.

"Tunggu! Apa yang kalian lakukan?!" pekikku kencang.

Aku juga menyadari satu hal lagi, alasan mengapa aku tak bisa menggerakan tubuhku… adalah karena sekarang tubuhku terikat kuat di atas kursi. Mungkin alasan lainnya mengapa tubuhku ngilu juga karena wanita-wanita menor ini menggerayangiku, bahkan sesekali mereka merambat naik ke atasku.

Aku mengerang, "HEY!"

Seingatku semalam aku tertidur nyenyak di atas kasur nyamanku bersama dengan hangatnya kamarku. Seingatku juga aku tak memiliki syndrome berjalan sambil tidur. Setidaknya bila aku memilikinya, aku lebih memilih menyelinap ke kamar Sasuke atau paling tidak ke kamar lelaki tampan.

Buat apa juga aku pergi ke tempat penuh wanita sexy seperti ini?! Oh…Kami-sama, aku cukup puas dengan diriku sendiri!

"Sasuke-kun~"

Sasuke? Mana? Mana Sasuke?! Salah satu wanita bar-bar ini mendesahkan nama lelaki-ku! Aku yakin dia pasti ada di sini!

"Mana?! Mana Sasuke! Berikan Sasuke kepadaku!" erangku sambil mencoba melepaskan diri.

Kaget menghampiriku saat seorang wanita dengan rambut merahnya naik ke pangkuanku. Hey! Yang benar saja, aku ini wanita—sebenarnya masih gadis—normal. Aku nggak 'doyan' dengan wanita sepertimu.

"Kau ini bicara apa, Sasuke-kun~" jemari lentik itu meraba daguku. Mendekatkan dirinya menuju pundakku dan menurunkan pakaianku.

"Hey! EnngghhH~" desahanku tak terelakkan. "Hentikan! Aku ini…en… wanita normal!"

Kami-sama…masa iya aku akan kehilangan keperawananku seperti ini? Tragis sekali… T.T

"Hi hi hi. Kau ini lucu sekali, Sasuke-kun~" kekeh geli wanita itu. "Kau bilang kalau kau ini wanita? Mana ada wanita dengan postur tubuh sekekar ini~"

Sret.

Pakaianku—yang berbentuk mirip kimono—terbuka bebas oleh tangan wanita merah itu. Aku membulatkan mata. Oh tidak… setelah situasi yang sungguh—tahu sendiri lah—itu, kini dadaku hilang? Rata tak berbekas dengan bentukan atletis khas laki-laki.

"Woooowww~~"

Aku membulatkan mata, 'Apa?!'

Sret.

Aku tak memikirkan darimana datangnya kekuatan sebesar ini untuk membuka tali yang mengekangku. Yang kupikirkan adalah kenapa tubuhku bisa 'kelaki-lakian' seperti ini?!

'Apa yang terjadi…?' batinku bertanya.

Rasanya aku tahu bentuk tubuh dan aksen ini. Aku yakin 100% ini bukan tangan mungilku yang manis, tapi tangan ini bergerak sesuai dengan kehendakku. Apa yang sebenarnya terjadi?!

"Sasuke-kun~ kenapa?" wanita merah itu mulai mendekatiku kembali.

Sasuke? Apakah itu berarti… tubuh ini…

"Karin! Jangan memonopolinya seperti itu!"

"Kau jangan egois dong~ Aku kan juga mau main-main dengan pemuda tampan itu~"

"Sttt~ Diam, kalian! Aku yang akan memimpin, kalian pasti dapat jatah jadi tenang saja."

Suara berisik wanita-wanita ini sungguh membuatku muak. Dengan kekuatan—yang dimiliki tubuh Sasuke—ini aku dengan mudah menyingkirkan tubuh mereka dan melesat keluar dari ruangan itu. Tapi seketika tubuhku tertahan.

"Sasuke-kun~" wanita merah—yang kudengar bernama Karin—kembali meraba dada bidangku. Sebenarnya bagi wanita cukup menyesakkan juga menyebut dada sendiri 'bidang'.

"Tunggu, nona. Sebenarnya bisakah kau jelaskan terlebih dahulu dimana aku sekarang?" aku berusaha sesabar mungkin menghadapinya.

"Kyaaa~" bukannya menjawab malah teriak, merepotkan.

Eh, sepertinya sifatku juga ikut ketuker ya?

"Aku akan memberitahumu kalau kau menciumku~" dengan sekali dorongan tubuhku kembali terduduk di kursi awal, dan Karin kembali menempatkan dirinya duduk di pangkuanku.

"Kyaa~ Aku juga mau~"

"Sasuke-kun~ aku juga~"

"Sasuke~"

"Lihat aku~ Sasuke~ Sasuke~"

"Kyaaa~ Sasuke~ sentuh aku juga~ Sasu~"

Kini tak hanya Karin yang mulai menggodaku, tapi wanita-wanita lainnya ikut berbondong-bondong datang menghampiriku. Melihat mereka seperti karnivora yang hendak memakan daging segar, membuatku merinding juga.

Astaga. Siapa yang tahan menerima siksaan batin seperti ini? Benar-benar seperti raja harem Sasuke ini. Hanya dengan modal ketampanannya saja sudah banyak wanita yang terjaring.

Andai kata aku ini lelaki tulen, nafsuku mungkin sudah tak bisa ditahan lagi. Melihat wanita-wanita—yang kuakui memang cantik—ini terus-terusan mendesahkan nama 'Sasuke'.

Kulitku bergidik merasakan dada mereka menghimpit kedua lenganku, bibir mereka mencumbu leherku, jemari mereka meraba kakiku. Sungguh, aku tak habis pikir, bagaimana bisa wanita terlihat serendah ini.

"Engh~ Sasu~ sentuh aku kumohon~"

"Sasu~ engh~ eennnnh~ ahh~"

"Sasuke~ aaah~ au au~ aaahh~"

"Saaaasss~ enghh~! Aahh~"

Dengan seenak udelnya mereka 'mengorek' kesenangan sendiri sambil menggumamkan kata 'Sasuke' berulang kali. Membayangkan seakan mereka sedang bercumbu denganku—tubuhku, lebih tepatnya.

Wanita memang mengerikan kalau sudah seperti ini. Bagiku yang 'asli'nya memang benar wanita tulen ini mengatakan hal seperti itu berarti memang benar mengerikan dalam arti sesungguhnya.

Tapi kalau sudah sampai seperti ini, berarti aku harus memikirkan suatu cara yang membuat wanita ini bicara dengan tubuh lelakiku. Hal yang harus kupikirkan adalah titik lemah wanita.

Perlahan akupun mendekat, "Aku akan memberikan yang lebih setelah kau memberitahukannya." Bisikku tepat di telinganya.

Blush.

Bisa kulihat dengan jelas raut muka merah dari seorang wanita. Aku mau bilang apa? Tak ada komentar untuk itu.

"Ba…baiklah." Jawabnya gugup. "Tapi setidaknya berilah aku ciuman dulu~"

Kami-sama—sungguh—berikan aku izinmu untuk membantai wanita ini!

Aku tak mengerti bagaimana bisa Sasuke berada di tempat seperti itu—dengan wanita-wanita bohay itu, tapi yang lebih tak kumengerti adalah bagaimana bisa aku berada dalam tubuh Sasuke?

Apa benar memang ada jurus perpindahan tubuh?

Tapi siapa yang menggunakannya?

Aish~ Semakin dipikirkan semakin membuatku tak mengerti.

Kini yang bisa kulakukan adalah menjauh sejauh mungkin dari tempat itu. Hingga tanpa sadar kaki jenjangku melangkah menuju sebuah tempat sepi di sela-sela pepohonan. Nafasku terengah—tak terelakkan lagi—mengingat aku telah menggunakan banyak tenaga dan chakra untuk melarikan diri.

Sekali lagi yang kulakukan adalah mengamati tubuh baru(?)ku. Otot yang kekar dan urat yang kencang. Gerak refleks yang cepat, dan rasanya menggunakan gaya rambut pantat ayam syle kebanggaannya.

"Jadi ini rasanya jadi laki-laki?"

Aku bangkit dari dudukku. Kuakui, tubuh ini sangat sempurna. Aku bisa merasakan aliran chakra yang besar mengalir melalui nadiku. Proses pemulihannya pun cukup cepat, karenanya rasa lelah mulai menghilang perlahan dari tubuhku—atau mungkin tubuhnya—sekarang.

Aku melesat naik ke atas pohon. Menyenangkan rasanya menggunakan kekuatan sehebat ini.

"Kau siapa?"

Sebuah suara terdengar menyeru, aku pun menoleh. Sosok lelaki dengan postur yang cukup bagus dan bidikan mata yang tajam menatapku. Aku terdiam. Mungkinkah dia teman Sasuke? Sepertinya ia mengenal Sasuke, tapi kenapa ia bertanya begitu…?

'Ah!' pekikku dalam hati. 'Mungkinkah aku ketahuan…?'

Di saat seperti ini yang kupikir benar untuk kulakukan adalah… besikap cool.

Ya. Sasuke selalu memasang tatapan seperti ini saat ia menatap orang lain. Tatapan tenang seakan tak ada apapun yang terjadi meski ia sedang berada dalam posisi sulit sekalipun. Ketenangannya membuat tegang musuh, sehingga ia bisa mencari kelemahannya.

Tapi meski tubuh ini milik sang Uchiha berbakat itu, tetap saja 'isi'nya aku. Seorang gadis yang tak tahu harus apa melawan musuh yang menganggap diriku ini orang lain.

Aku mendongak, "Kau sendiri siapa?"

Kerlingan mata pemuda itu sempat membuatku ngeri, tapi untung saja tubuh ini bisa dengan mudah kuatur untuk tak mengeluarkan mimiknya.

Bukannya menjawab, pemuda itu mendekat ke arahku. Naluri 'Sakura'ku ingin saja menjauh darinya, tapi tubuh 'Sasuke' tak menginginkan hal yang sama. Yang kubisa hanyalah mencoba mempertahankan benteng yang kubuat.

"Apa?!" seruku tanpa habis pikir.

Set.

Tangan kekar itu mendekat menuju wajahku. Sungguh apakah pemuda ini homo?! 100% arah tujuan tangan itu adalah pipiku, yang naluri 'Sakura'ku rasa adalah dia ingin membelai(?)ku!

PLAK.

Seperti yang pernah kubilang sebelumnya, gerak refleks tubuh ini sangat cepat. Padahal aku hanya baru berpikir untuk menghindari tangan itu, tapi tubuh ini sudah menampiknya begitu saja.

Aku kembali memasang tampang kaku-ku. Sungguh jujur saja, daguku serasa pegal menggunakan mimic ini. Tapi pemilik tubuh ini sering sekali menggunakannya.

Pemuda merah itu menyeringai, "Kau memang benar-benar keturunan Uchiha."

Aku hanya bisa mengerutkan dahiku. Sebenarnya siapa pemuda ini? Senyumnya terlihat licik, tapi sepersekian detik kemudian wajahnya kembali memasang tampang datar. Seperti Sasuke yang pikirannya tak bisa kubaca, apakah ini teknik terbaru untuk mengelabuhi musuh…?

"Mungkin karena kejadian semalam kau jadi melupakanku, aku—Sabaku Gaara—adalah orang yang menawarkan misi ini kepadamu." Pemuda itu melangkah mundur dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

'Benar-benar kebiasaan lelaki jaman sekarang seperti itu ya…?'

"Bisa jadi aku memang lupa. Lalu sebenarnya misi apa yang sedang kulakukan ini?"

Gaara terdiam sejenak, "Kau benar-benar lupa? Atau kau sedang mengujiku?" ia mendengus. "Tapi ya sudahlah, biar kujelaskan lagi. Misi utamamu memang telah selesai, tapi—semalam sebelum kau sempat kembali ke Konoha—segerombolan perampok menyerangmu."

Aku mengangguk, dan tanpa sadar bahkan aku menggumamkan kata 'oh' yang sama sekali tak masuk dalam kategori cool versi Sasuke.

Dengan otak jeniusku aku mencoba menerka, "Misiku itu berhubungan dengan perampok yang menyerangku bukan?"

"Sepertinya kau mulai ingat." Pemuda itu menyodorkan tangannya. "Lalu mana permata yang kuminta? Jangan bilang kau gagal dengan misi kecil ini, Uchiha?"

Aku hampir saja mengutuk pemuda ini karena menyunggingkan tatapan meremehkannya kepadaku. Tapi aku sendiri juga tak tahu mengenai sub-mission itu, beruntunglah aku bertukar tubuh dengan Sasuke jadi aku bisa menyamarkan sikapku agar tak terlihat mencurigakan.

Sebuah permata biru kutemukan di saku Sasuke, aku bernafas lega. Dengan segera kuberikan permata itu kepada Gaara. Gaara sendiri nampak diam menerimanya, aku sempat berpikir apakah itu bukan permata yang dimaksud.

"Uchiha Sasuke." Pemuda itu menggenggam erat permata yang kuberikan. "Sepertinya kau memiliki kekuatan yang menarik."

Dheg.

Rasanya sesuatu menggelitikku seketika. Aku meloncat naik ke atas pohon, saat itu juga aku sadar bahwa di sekitar tempatku berada segepok pasir membeku. Mataku membulat, dan dapat kurasakan aliran chakraku meningkat kilat.

"Sudah kuduga~" Gaara melesat menggunakan pasirnya. "Mata legendaries itu—yang hanya dimiliki sang Clan Uchiha terakhir—Sasuke Uchiha."

SRAK.

Dapat kurasakan pasir-pasirnya datang memburuku. Menyerangku tanpa henti, tapi anehnya dari apa yang kulihat. Semua gerakan pasir itu bisa kubaca. Apakah benar ini kekuatan legendaries Uchiha? Sekuat inikah Sasuke?

CRAK.

Gumpalan pasir Gaara berhasil mengenai kaki kiriku. Melambungkanku ke langit dan bersiap menujamku ke bumi. Sekali lagi aku bisa membacanya dengan mudah. Ditambah lagi elemen listrikku bisa kugunakan untuk memperlunak permukaan tanah.

Bunyi hempasan keras mengiringi jatuhnya tubuhku. Tak lupa juga kuberikan tatapan terbaikku untuk menjaga imej Sasuke pada musuhnya.

Tunggu. Aku tak bisa begini terus di sini. Aku harus kembali ke Konoha dalam keadaan selamat dan mengembalikan tubuh ini kepada pemiliknya.

Bahkan kemungkinan terburuk yang bisa kubayangkan adalah bahwa tubuhku juga sedang di'otak-atik' oleh Sasuke.

"Tunggu, Gaara-san." Sahutku menengahi. "Aku tak tahu kenapa kau menyerangku, tapi bisakah kau menyerangku setelah aku kembali nanti. Ah, maksudku 'kembali' yang benar-benar kembali. Ah… gimana ya…"

Gawat, kalau begini aku bisa dibunuh Sasuke karena menghancurkan imej-nya. Oh Kami-sama… kenapa sih harus terjadi padaku seperti ini?

Tanpa pikir panjang lagi aku meninggalkan pemuda itu.

SAKURA POV-END

-ooOoo-

Konoha terlihat sangat indah dimata onyx pemuda—dimana ada Sakura di dalamnya. Itu semua karena perjalanan yang dilaluinya untuk sampai ke gerbang masuk Konoha bukanlah perkara yang mudah.

Sakura—di dalam tubuh Sasuke—berjalan gontai menuju rumahnya. Perjalanan dari Kirigakure ke Konoha ternyata memerlukan tenaga yang cukup banyak. Jaraknya tak sedekat yang dibayangkan Sakura ketika melihatnya di peta.

"Hah hah~"

Warna senja sore sudah mulai menghiasi langit. Tanpa pikir panjang—ia hanya ingin kembali ke kamarnya dimana ia terakhir kali merasakan damainya kasur dan bantal empuknya.

Angin bertiup kencang, memberikan kabar akan bahaya yang semakin mendekat. Salah satunya berada tak jauh darinya. Mengintai mangsanya sejak awal, hanya menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan rencana selanjutnya.

Dengan langkah kakunya akhirnya sampai juga ia di kamarnya.

Bruk.

Tak butuh waktu untuknya berpikir lagi, ia segera menghempaskan dirinya di atas ranjang dan memejamkan matanya.

Padahal hari belum berganti malam, dan ia tak melalukan banyak hal. Tapi ternyata menyesuaikan diri menggunakan apa yang bukan tubuhmu cukup menyita tenaga juga.

-ooOoo-

Pagi untuk kedua kalinya membangunkan Sakura. Matanya menolak untuk terbuka, tapi sinar tak berpihak padanya. Terpaksa ia pun bangkit terduduk.

Ia menggumam, "Emm…" pandangannya beredar ke segala ruangan itu.

Ruangan yang sama seperti yang ditidurinya semalam. Ia bangun menghadap cermin besar di kamarnya, sosok gadis mungil dengan rambut merah muda panjangnya yang terurai membuatnya bingung sejenak.

"Apa yang kemarin itu mimpi?"

Berpikir mengenai situasinya, memang keadaan seperti sedia kala sebelum ia berada di dalam tubuh Sasuke. Memang bisa jadi semua adalah mimpinya saja, tapi masa iya mimpi terasa begitu nyata?

Bahkan Sakura pun masih bisa merasakan wanita-wanita yang 'menggerayangi'nya itu dan desahan mereka.

"Merinding saja~"

Sakura berbalik, ia terdiam melihat mejanya terlihat berantakan. Ia mengerutkan dahinya, seingatnya ia tak pernah meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Pencuri kah?

Memastikan akan semua itu, Sakura membereskan mejanya kembali. Kemudian ia menemukan secarik kertas yang ditulis tinta. 100% kasat mata terlihat seperti surat ancaman.

"Apa ini?"

Sakura membukanya perlahan, ia sempat terkekeh menyadari tulisan siapa ini. Satu-satunya orang yang menulis menggunakan kuas hanyalah Sasuke—itu karena ia malas mencari polpen atau spidol, sedangkan yang selalu tersedia di kantongnya adalah kuas kerja.

HA-RU-NO SA-KU-RA

Kurasa kau sudah cukup puas bermain dengan tubuhku, heh?!
Sampai ikut campur dalam misiku juga?!
Dengar ya, aku tak akan melepaskanmu begitu saja. Lihat dan nantikan pembalasanku!

Ps. Nona Haruno, semalam kau SANGAT manis, hingga aku tak bisa berhenti untuk tak MENGGIGITmu. Gomen.

Surat itu ditulis dengan bentuk chiler dimana tulisannya meleber menyerupai darah. Sakura saja sampai meneguk ludah mendengarnya.

Tapi, tunggu.

Apa itu di kalimat terakhirnya. Kenapa Sasuke seakan menekankan kata 'sangat' dan 'menggigit'. Lagi pula apa juga artinya dengan 'menggigit'?

Dheg.

Kertas surat itu terjatuh begitu saja ke lantai. Sakura kembali berlari menuju cermin besarnya. Dibukanya kaos putih yang dipakai dan menyibakkan rambutnya.

"Ini…"

Seperti yang diduganya, bercak-bercak kemerahan full memenuhi leher jenjangnya. Warna kulitnya yang seputih salju dan rona merah itu terlihat begitu kontras. Wajahnya merah padam, ia menarik nafas bersiap untuk melepaskan jeritannya.

"SASUKEEEEEEE BAAKAAAAAAAA~!"


-TBC-


Nah nah nah..
Apa kah reaksi kaliaannn...?
(Q~Q)

Give me review~ (wajib lho!)

Keep Trying my Best!
Shera.