Wah. Saya senang sekali karena banyak *pede banget* yang suka fic ini! Hehehe. Jadi pengin nyengir terus. (:

Hmmm, kalo saja nggak ada test yang menyebalkan ini, saya pasti bisa lebih cepat lagi updatenya! Mari kita semua keluarkan buku ancaman kita buat ngehajar guru-guru S**T itu dan yang bikin-bikin soal keparat itu!! Ayo bersatu di GERAKAN MURID MENOLAK ULANGAN yang baru saja didirikan hari ini, detik ini, oleh saya: RisaLoveHiru *kidding, nggak ada tuh grup kayak begitu. Tapi kalo ada yang bikin saya join ya? o.O*

Ngomong-ngomong, saya mau basa-basi dikit, terutama buat yang udah ripyu fic saya! Thanks berat yahhh. (:

Gekkou Kitsu : balesannya sudah saya kirim lewat massage ya? Baca di sana. Hihihi. xD

machi13shield : pangerannya yah jelas dongg.. Hiruma! Hehehe. Saya kan fans berat HiruMamo! Ibu perinya juga ada kok. Ditunggu saja yah kelanjutannya! ^^

YohNa –Nyu- : iya nih, stres sama ujian gaje ini. Waaa. Syukur biologi, kimia sama matematik'ku nggak remidi. Sampai iya, STRES! Tapi sudah pasti fisika remidi *sembunyi ke pojokan, stres* T.T Makasih yah sudah ketawa buat fic ini! Tapi hati-hati, jangan sampai rahangmu lepas *?* Waaa.. ternyata ada Agon Haterz di sini. Hahaa. Aku juga nggak terlalu suka dia sih!? Tapi gak ada tuh ceritanya dia mati. Aku tuh author yang baek, nggak bakal dia mati.. paling juga SENGSARA SAMPE MAU MATI. Hahaha. Xp

Chian30ne : kekekeke.. soal itu ditunggu saja.. kekekeke.. sudah direncanakan kok! xD

Akarichanmaleslogin&lagingetik : hahaha. Kalo saya tiru semua cerita Disney, bisa-bisa dikomplain sama yang punya. Xp

milky-return : iya ya, kasian.. *padahal saya yang bikin dia hidup begitu menggenaskan* hahaha. xD

Ruki_ya : Iya dong *bocor-bocor dikit* hehehe. Thanks udah suka! (:

Akuma-nyo! : hahaha. Thanks yah udah ripyu. Jelas itu Pangerannya Hiruma. Kan aku ngefans sama Hiruma?? Jauuuh lebih ngefans daripada Yamato! Hahaha. Sabar yah updatenya, inget aku masih ujian.. Kamu juga kan?? Mari kita berjuang!!! (:

KuroShiro6yh : waaa… jangan sampe mati Shi-chan!!! *lebay* Iya nih, stres ujian.. Sesat emang ujian tuh!! *ngedumel nggak jelas* Hahaha.. Gara-gara kamu ngomong, aku juga ikut-ikutan jijik neh mikirinnya!! *padahal aku yang mutusin Agon, eh Igin pakai gaun* Thanks sampai difav..!! Gyaaa~ _

Okeee. Sudah selesai saya basa-basinya. Sekaranggg.. kembali ke dunia CINDERELLA! (Eyeshield 21 version)

Syuttt. *tirai kembali dibuka*

***

Hell Fairy

Wahai seluruh rakyatku, terutama gadis-gadis yang cantik jelita *cailaaa*.

Hari Minggu nanti, aku akan mengadakan pesta dansa di Istana, dan akan dihadiri oleh seluruh gadis yang ada di kerajaan ini. Bersiaplah. Dandan secantik-cantiknya, karena pada hari itu aku akan mencari pasangan hidupku, yang akan menemaniku sampai tua kelak. Acara mungkin akan berlangsung hingga pagi. Yah, siapkanlah diri kalian masing-masing.

Pangeran

………..

Mamori berpikir keras. Bagaimana dia bisa ikut pesta dansa itu?? BAGAIMANA??? Saat Mamori tengah mencari jalan agar dirinya bisa ikut ke pesta dansa, Igin malah asyik membicarakan soal gaun yang sudah lama dia taksir di toko dekat pasar *lho? Miskin juga ternyata* Bibi pun memutuskan hari itu juga mereka akan keliling toko-toko untuk mencari gaun baru buat Igin. Kirita sih dilupakan, karena keduanya sepakat Kirita tidak mungkin menarik minat Pangeran. Selain itu juga.. proses membuat bajunya Kirita lama banget. Belum lagi ngukurnya, yang tiap jam berubah terus. Gimana nggak? Makan melulu kerjaannya.

"Kirita, kamu diam di rumah ya. Awasi tuh si Mamori, jangan-jangan ntar barang kita diloakin lagi." perintah Bibi. Mamori yang mendengarnya pun sangat sakit hati. Dia mah nggak mau barang-barang rongsokan Bibinya. Dia cuma mau pergi dari rumah terkutuk ini!!!

Tapi kali ini dia nggak bisa mengutuk Bibinya dulu. Soalnya dia harus bermanis-manis ria *memangnya gula?* supaya dikasih pergi juga. Walau nggak pergi pakai gaun yang mewah kayak Igin, setidaknya Mamori bisa lihat wajah si Pangeran yang misterius itu. Itu saja sudah cukup.

"Ma, mau kemana? Mau ke restoran? Kirita ikut dong." Kirita merajuk. Bibi menghembuskan nafas kesal. Heran sendiri kok bisa punya anak kayak begini. Padahal dirinya sendiri nggak serakus Kirita. Dapat gen rakus darimana tuh? Masa dulu aku sempat nikah sama babi, sih? pikir Bibi dalam hati.

"Mama mau cari gaun buat Igin! Udah kamu nggak usah bawel lagi! Mama mau berangkat!" Bibi meraih dompet, mantel dan segala keperluannya buat pergi. Igin mengikutinya.

"Eh.. ano.. Bibi!" Mamori memberanikan diri membuka mulut. Dan dia segera menyesali keputusannya. Seluruh keluarganya yang terkutuk itu menoleh, menatapnya dengan tatapan benci. Kalau Igin sih jelas, kayak lagi ngelihat sampah.

Tanggung. Mamori terpaksa melanjutkan omongannya.

"Itu.. aku boleh ikut?" tanyanya ragu-ragu. Bibi mengangkat alis.

"Apa? Ikut ke toko? Mimpi!" bentaknya sadis. Mamori mengkeret.

"Bukan.. ikut ke pesta dansa maksudku.." tambahnya seraya menelan ludah. Mamori menatap yang lainnya penuh harap. Igin langsung tertawa keras-keras.

"Heh! Sampah kayak kamu emang ada yang mau? Mimpiii! Pikir pakai otak! Kamu tuh cuma bisa dipakai bersih-bersih doang, tau!" kata Igin. Bibi tertawa mendengarnya. Kirita sih cuek bebek. Dia kriyak-kriyuk makan kerupuk di sofa yang udah melesak sampai lantai saking beratnya menanggung beban Kirita.

Sadis banget omongannya Igin. Mamori benar-benar mau menangis! Tapi harus ditahan. Sabar.. nanti saja nangisnya di kamar.. sabarrr…

"Udah ah! Sana bersihin kamarku! Jangan sampai kotor, setitik debu pun nggak boleh ada!! Awas kalau sampai nggak bersih!!!" ancam Igin. "Ayo Ma, kita berangkat! Ntar keburu tokonya tutup."

"Iya, ayo!" Bibi meraih tasnya dan berjalan keluar bersama Igin. Kirita melambaikan tangan sebesar pancinya. "Dahhh. Inget bawa steak pulang!"

Begitu mereka menghilang dan Kirita *tetep* sibuk makan, Mamori langsung berlari ke kamarnya di loteng. Tidak dihiraukannya tugas yang diberikan Igin kepadanya. Mamori bahkan tidak berpikir apa akibatnya jika tidak membersihkan kamar Igin. Dia bisa tidak diberi makan lagi selama seminggu. Mungkin bisa sebulan. Hanya saja, kali ini dia sungguh sakit hati. Kata-kata Igin tepat menusuknya.

Satu hal saja yang ingin dilakukan Mamori. Yaitu, meraup bantalnya dan menangis sepuasnya di sana *kasihan*.

***

Sehari sebelum pesta dansa berlangsung..

"Mamori!! Cepat setrika gaun baruku!!" perintah Igin. Mamori yang sudah kelaparan setengah mati—baru-baru ini dia lupa bersihin kamar Igin gara-gara nangis di kamar, dan sebagai hukumannya dia nggak makan lagi. KASIHAN—dengan sekuat tenaga melangkahkan kakinya ke tiang jemuran dan langsung terpesona dengan gaun Igin.

Gaunnya sangat.. sempurna. Roknya mengembang dengan sangat bagus sekali dan dengan renda-renda yang ada di pinggirnya, gaun itu sangat cakep sekali! Warnanya juga bagus.. Pink.. *LHO??? AGON?? Ups. Di sini dia IGIN. Nggak masalah!!*

Mamori merasa tambah sedih. Sudah nggak pergi, nggak makan pula! Perutnya keroncongan sekali. Semoga Igin pergi bareng Kirita, jadi dia bisa bikin sesuatu di rumah.. Mungkin makanan yang sangat dicintai seluruh bangsa? INDOMIE??

Dia meraih gaun itu dengan sangat hati-hati—kali ini dia tidak ingin diomeli Igin—dan menyetrikanya lebih hati-hati lagi. Pokoknya Mamori berusaha keras agar hasilnya sempurna. Dia setengah bangga saat menyerahkan gaun itu pada Igin. Tapi Igin tidak peduli, itu hasil kerja keras Mamori atau apa. Dia malah komentar, "Benerin kancingnya! Copot itu, sampah!"

Mamori mendecak, kesal. Kayak Igin bisa nyetrika aja loh! Atau masang kancing! Jelas-jelas dia bisanya cuma dandan. Oke, dia anak emasnya dewa tapi dewa emang sebegitunya sampai kasih dia bakat jahit??

Sambil menahan dongkol, Mamori menjahitkan gaun Igin. Igin menerimanya tanpa berkomentar apa-apa lagi. Wajahnya sudah sangat mengomentari sekali. Pasti dia mikir, "Sampah megang gaunku. Sialan. Harus pake parfum banyak-banyak!"

Dengan pasrah Mamori mengamati Igin berdandan—Mamori ditugaskan ngambil ini-itu, misalnya lipstick atau apa, atau megangin rambut Igin yang mau ditata—ingin sekali dia meraih konde yang ada di atas meja rias dan menusuknya ke kepala Igin. Sekedar ide gila akibat menahan stres selama ini tinggal sama Igin.

Dua jam kemudian *oke, lama. Tapi itulah DANDAN* Igin selesai juga mendandani dirinya sendiri. Jangan ditanya bagaimana penampilan Igin. Ganteng sekali—eh, maksud author cantiiik sekali! Mamori mengeluh dalam hati. Pangeran pasti kepicut juga sama penampilan Igin. Sapa sih yang tahan kalau udah dideketin atau deket sama Igin? Dia memang.. uhmm.. mempesona.

*Tunggu sebentar. Author perlu ke WC dulu buat muntah. HOEKK.*

Kirita sendiri juga mempesona. Tapi dalam artian lain. Silahkan membayangkan pria besar yang dipaksa ganti kelamin cewek sama author, mengenakan gaun pas badan *saking gendutnya* yang kayaknya sudah mau robek, memakai berbagai riasan wajah kayak eyeshadow, lipstick, bedak, blush-on, tetapi di atas semua itu inilah ciri-ciri Kurita yang tidak mungkin dihilangkan author: MAKAN.

Yeah. Riasannya jadi hancur karena Kirita ngemil snack terus. Mana camilannya itu snack kering pula. Remahannya jadi pada nempel semua. Tapi seperti kata Bibi yang sudah putus asa kepada Kirita yang kerjanya makan terus, "Ooh. Gaya dandan yang baru. Glitter dari remahan snack."

Kirita mengira itu adalah pujian. Dia semakin bersemangat makan.

Mamori lantas berpikir : apa jadinya keluarga ini nanti?

Mereka semuanya akhirnya siap berangkat ke pesta dansa. Bibi benar-benar berupaya membuat Igin cantik, karena tak hanya gaunnya yang baru, tapi juga sepatu, tas, bahkan gelang dan kalungnya juga baru. Dan pastinya.. mahal.

Tak ada yang mengucapkan salam perpisahan atau apa. Mereka dengan cueknya menuju pintu dan berangkat. Ups. Tiba-tiba Bibi kembali sih, tapi itu juga cuma buat kasih tau Mamori bersihin kamar mandi.

Mamori menatap sedih ke istana yang berdiri kokoh di antara bukit-bukit yang permai. Dia ingin sekali ke sana. Oke, dia tidak punya gaun. Dan.. dia tidak secantik Igin *menurut Mamori. Author pribadi bilang dia manis*

Air mata Mamori pun menetes. Dan karena kebiasaannya, dia nangis pasti di kamar. Di sanalah dia menumpahkan seluruh kesedihannya di benda yang sama sekali tak tau menahu kejadian yang terjadi: BANTAL.

"Oooh.. bantal.. kenapa nasibku begini jelek?? Kapan aku bisa bebas dari keluargaku yang jahat ini??" isak Mamori. Namanya juga bantal, tak ada yang menyahuti pertanyaan Mamori.

"Hiks.. hiks. Apa tidak ada yang bisa membantuku?" tanya Mamori lagi. Dan.. hening lagi. Mamori kembali merasakan air matanya menetes.

"Huhuhu.."

Tring. Tring.

"?" Mamori mengangkat wajahnya. Dia melihat sinar yang sangat menyilaukan.

Samar-samar dia melihat, ada dua orang yang mendekatinya dan mereka dilatarbelakangi cahaya yang sangat menyilaukan. Sampai mata Mamori menyipit sampai batas terakhir *lebay lagi*. Salah satunya seperti memakai sepatu yang beroda.. dan satunya lagi memakai plester di hidungnya?

Mamori menyipitkan mata. Silau..

To be continued

***

Hahaha! Chap dua saya post juga. xD

Rnr plis? *silahkan tebak siapa dua orang itu!!! Yang paling pertama tau dapet hadiah dari saya yaitu: ucapan terima kasih dan selamat.. hehehe*

(: (: