Wahh.. ternyata ada juga yang minat fanfic gaje macem gini.. aku terharu :" makasih yang udah baca, yang udah review makasih /sungkem/

O iya, jangan terlalu berharap ini ada adegan begituannya, aku sendiri masih ambigu siapa yang bakal jadi uke klo begini ._. Oke?

.

.

WARNING! Baca dulu untuk mengantisipasi kebingungan/?

Berhubung ini tukeran tubuh pasti bakal ada yang bertanya-tanya "ini yang dimaksud Mingyu yang mana ya? Wonwoo yang mana ya? Kok bingung?"

Nah untuk menghindari pertanyaan seperti itu jadi aku mau kasih tau..

Tiap keluar

Wonwoo / Mingyu = yang dimaksud itu jiwa Wonwoo yang ada di tubuh Mingyu dan sebaliknya

'Wonwoo' / 'Mingyu' = artinya mereka lagi pura-pura normal/tidak tertukar

Ngerti kan? Ngerti dong..

.

Happy Reading~

.

-Author POV-

"HAHH?! Mana mungkin?!" Tidak hanya berteriak Wonwoo juga menggebrak meja di depannya.

Mereka -Mingyu, Wonwoo, Jihoon- sekarang berada di apartemen Mingyu. Mereka ingin membicarakan bagaimana kedepannya dengan keadaan seperti itu.

Jihoon menghela napas, dia sudah tau jika seperti ini jadinya. "Wonwoo, dengar, ini yang terbaik untukmu."

"Tapi bagaimana dengan orang tuaku? Mana mungkin mereka mengizinkanku tinggal bersama orang lain? Mereka overprotective padaku."

"Yang akan meminta izin aku, jadi tenang saja."

Wonwoo melirik Mingyu yang sibuk dengan gelas kopinya. Benar juga, yang akan meminta izin nanti Mingyu. Pada akhirnya Wonwoo hanya bisa menghela napas, dia sudah pasrah. Mungkin kapan-kapan Wonwoo akan melakukan penelitian tentang alat untuk memindahkan jiwa, supaya dia bisa kembali hidup normal.

Mingyu menaruh gelasnya dan mentandarkan punggungnya. "Kau belum mandi kan? Mau kumandikan?"

"HAH?!" Wonwoo dan Jihoon berteriak.

"Kau takut melihat tubuh itu kan? Itu tubuhku, aku sudah biasa melihatnya."

Wonwoo menunduk sambil meremat ujung pakaiannya. Jika diperhatikan, wajahnya memerah sampai telinga.

"Tapi aku malu!"

Mingyu mengerutkan kening, Jihoon juga, mereka gagal paham dengan Wonwoo. Mandi sendiri takut, dimandikan malu.

"Jadi tidak ingin mandi?" Kali ini Jihoon yang bertanya.

Sekarang gantian Wonwoo yang diam, dia bingung sendiri kalau seperti ini. Sementara Mingyu dan Jihoon gemas sendiri melihat Wonwoo menggigiti bibir bawahnya.

"Aku.. aku akan mandi sendiri." Mingyu dan Jihoon malah tidak yakin ketika melihat Wonwoo hampir menangis. Ini hanya mandi, Wonwoo sudah 18 tahun tapi tidak berani mandi.

"Yakin?" Mingyu memastikan. "Hyung bisa minta Jihoon untuk memandikan."

"Hah?!" Kali ini Jihoon yang berteriak. Meski Mingyu adalah sepupunya, tapi dari kecil Jihoon belum pernah mandi dengan laki-laki hitam itu.

Jihoon tersentak kecil ketika ponsel di sakunya berdering.

"Halo, Seungcheol hyung? Baiklah, aku akan sampai di sana dalam tiga menit, aku sedang di apartemen Mingyu."

Tidak usah diberitahu pun Wonwoo paham Jihoon tidak bisa. Sekali lagi dia memantapkan hatinya. "Aku akan mandi sendiri."

. . .

Setelah Jihoon meninggalkan apartemen Mingyu tadi Wonwoo langsung menuju kamar mandi. Sejak masuk ke kamar mandi, Wonwoo terus menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha agar bisa berpikir positif.

'Aku dan Mingyu sama-sama pria, jadi tidak masalah jika aku melihat tubuhnya. Lagipula tubuh kami tidak jauh berbeda bentuknya.'

Dengan perlahan Wonwoo melepas kancing piyama yang dia kenakan. Setelah terlepas semua, dia melemparkannya ke keranjang pakaian kotor yang ada di pojok kamar mandi.

Wonwoo berbalik dan menghadap cermin, entah kenapa dia menyesal melakukannya.

Wonwoo mengumpat dalam hati. 'Sial, tubuhnya sangat seksi.'

Dia dapat melihat kulit kecokelatan dengan otot-otot yang terbentuk sempurna di sana.

'Sial sial sial..'

Sudah tidak terhitung Wonwoo menggelengkan kepalanya hari ini. "Aku tidak mungkin 'mengeras' hanya karena melihat tubuhku yang sekarang kan?"

'Hilangkan pikiran kotor dari kepalamu Jeon Wonwoo. Mungkin setelah ini aku bisa mencoba melihat film biru supaya aku lebih terbiasa dengan tubuh pria lain.'

Pada akhirnya Wonwoo memilih membelakangi cermin, setelahnya baru dia tarik turun celana panjang yang dipakainya, menyisakan celana dalam berwarna navi.

"Sial pangkat empat! Apa yang sekarang kulihat? Mataku tidak suci lagi! AHHH.. aku benar-benar bisa gila jika seperti ini."

. . .

Sudah empat puluh lima menit Mingyu menunggu Wonwoo keluar dari kamar mandi. Dia jadi khawatir dengan apa yang dilakukan Wonwoo di dalam sana, kenapa lama sekali, dia laki-laki kan?

Jika boleh jujur, sebenarnya Mingyu sudah melihat seluruh lekuk tubuhnya yang sekarang. Tubuh asli Jeon Wonwoo tidak kalah seksi dengan tubuh wanita, bahkan lebih. Dan sayangnya Mingyu sudah melakukan hal tidak senonoh dengan tubuh Wonwoo tadi pagi.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Wonwoo yang keluar dengan handuk yang menutupi daerah privatnya.

"Apa yang hyung lakukan di dalam? Kenapa lama sekali?"

"Luluran," singkat, padat, menusuk. Wonwoo baru saja mengatai tubuh tan seksinya. Mingyu bahkan tidak punya lulur.

"Ini pakaianku, pakailah. Jika mencariku ada di depan televisi."

-Wonwoo POV-

Selesai mengganti pakaian aku keluar dari kamar menuju ruang tengah. Di sana sudah ada Mingyu yang sedang sibuk dengan buku-bukunya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

"Buku apa itu?"

Mingyu menoleh padaku sesaat lalu kembali fokus pada bukunya.

"Entahlah, aku juga tidak yakin. Ini buku peninggalan nenekku. Aku menemukannya ketika pulang ke rumah ibuku."

Aku mengerutkan kening. Kulirik sedikit isi buku itu, tapi aku sama sekali tidak mengerti tulisannya. Itu bukan bahasa Korea.

"Apa itu sejenis buku takhayul?"

"Buku takhayul?" Mingyu balik bertanya.

Aku mengangguk. "Benda yang bisa terbang hanya dengan menggerakkan tongkat misalnya. Itu takhayul."

Kulihat Mingyu menutup bukunya lalu menghadapku. "Hyung bilang itu takhayul? Lalu pertukaran tubuh kita ini juga takhayul? Ini nyata, Hyung, nyata."

Aku terdiam, bisa kurasakan Mingyu menatap tajam padaku. Aku mencoba menghiraukannya. Bukankah hal-hal seperti ini tidak nyata? Tapi apa yang terjadi padaku ini nyata. Aku tidak ingin percaya, pasti ada cara lain untuk memindahkan jiwa seperti ini. Tapi ini tidak masuk akal sama sekali.

Tiba-tiba kurasakan Mingyu mendorongku hingga terbaring di sofa. Dia berada di atasku. Ini terasa aneh, melihat wajahku sendiri tepat berada di atasku, aku seperti sedang bercermin.

"Tidak hanya hal nyata yang bisa dilihat, hyung hanya belum pernah melihat hal-hal tidak terlihat itu."

"Seandainya itu nyata pun aku tidak ingin melihatnya."

Aku memalingkan wajahku, dari sudut mataku bisa kulihat Mingyu tersenyum meremehkan. "Hyung takut kan?"

Aku benar-benar ingin menonjok wajahku sendiri. Seumur-umur aku belum pernah mengeluarkan ekspresi menjijikkan seperti itu. "Aku tidak takut pada hal yang bahkan tidak ada sama sekali."

"Kalau begitu buktikan!"

Belum sempat aku memberikan respon apapun Mingyu sudah menciumku tepat di bibir. Mataku membola. Ciuman pertamaku. Jika ada orang lain yang melihat pasti mereka akan berpikir aku yang agresif.

Aku mencoba mendorong Mingyu menjauh tapi sia-sia. Dia malah mengeratkan cengkeramannya di bahuku. Ini salah, seharusnya aku memberikan ciuman pertamaku pada orang yang kucintai.

-Author POV-

Mingyu menutup matanya dan mulai melumat bibir dibawahnya. Rasanya aneh, dia berciuman dengan bibirnya sendiri. Tapi entahlah, Mingyu menikmati ini. Bisa dia rasakan Wonwoo juga mulai menutup matanya. Tubuh laki-laki dibawahnya mulai melemas, tidak ada lagi pemberontakan.

Bruukk~

Mingyu langsung melepas ciumannya ketika menyadari ada orang lain yang datang. Di sana ada Seokmin yang berdiri mematung dengan ekspresi bodohnya dan juga kantung belanjaannya yang jatuh berserakan.

Mingyu bangkit dari atas Wonwoo dan berdiri untuk membenarkan pakaiannya yang agak berantakan. "Ada apa?"

Seokmin gugup luar biasa. Dia takut juga sebenarnya. Ternyata ada juga orang yang bisa menjadikan 'Mingyu' sebagai bottom. Seokmin berpikir jika orang itu pasti sangat tangguh. "A. ahh.. aku mencari 'Kim Mingyu' untuk memberikan bahan makanan dari ibunya."

"Uhh.." Wonwoo memegangi kepalanya yang tiba-tiba pening setelah ciuman tadi. Dia mencoba untuk bangun dan duduk.

"Eoh.. 'Mingyu', ibumu menitipkan bahan makanan padaku. Aku akan meletakkannya di dapur," ujar Seokmin pada Wonwoo.

Wonwoo yang masih memegangi kepalanya mengerutkan dahi, Mingyu juga. Kesimpulannya Seokmin belum tahu mereka bertukar. Mingyu yang sadar terlebih dahulu langsung menarik hidung Wonwoo.

"Ahh.. iya, letakkan saja di sana, akan kubereskan nanti."

Dengan gemetar Seokmin membereskan belanjaan yang tercecer tadi dan meletakkannya di meja dapur.

"'Mingyu' aku pergi, jika ingin melakukan sesuatu pastikan pintu apartemenmu terkunci." Dan setelah itu Seokmin benar-benar keluar dari apartemen Mingyu.

Dengan sedikit terhuyung Wonwoo berdiri dan berjalan menuju pintu masuk apartemen. "Ayo ke rumahku."

Mingyu diam sebentar baru menjawab, "untuk apa? Hyung ingin aku melamarmu?"

Wonwoo memutar bola matanya malas, dia juga mendengus kasar. "Kau bilang aku harus tinggal di sini?"

"Hyung, seharusnya aku yang harus tinggal di sini. Ini kan sekarang rumahmu," Mingyu mengoreksi.

Wonwoo malah jadi bingung sendiri. Benar juga sih. Sekarang dia berada di tubuh Mingyu jadi secara tidak langsung rumah ini sekarang miliknya. Tapi kan tetap saja Mingyu yang asli yang memilikinya.

"Baiklah terserah, cepat kita pergi ke rumahku. Aku ingin segera kembali ke tubuhku sendiri."

. . .

Rumah keluarga Wonwoo tidak terlalu besar. Pekarangannya lumayan luas dengan beberapa jenis tanaman tumbuh di sana. Suasananya tenang meskipun masih di wilayah kota.

"Ayo masuk."

Wonwoo mempesrsilahkan Mingyu memasuki rumahnya. Sepi, tidak ada orang. Hari sudah menjelang sore tapi belum ada lampu di rumah itu yang dihidupkan.

"Di mana orangtuamu?" Tanya Mingyu.

"Mereka masih bekerja. Biasanya di rumah sekitar jam 8." Mingyu hanya mengangguk.

Mereka berdua berjalan menuju kamar Wonwoo di lantai atas. Pintu kayu bercat putih, terlihat paling berbeda mengingat semua pintu di rumah itu hanya di pernis biasa.

Wonwoo menarik sebuah koper dari bawah tempat tidurnya dan meletakkannya di atas kasur. Dia mengambil beberapa setel pakaiannya dari lemari dan memasukkannya ke koper.

"Hyung, aku ingin mandi."

"Kamar mandi ada tepat di sebelah kiri kamarku, kau tidak lupa kan?" jawab Wonwoo sambil masih menata barang-barangnya.

Mingyu yang sedang memilih pakaian berdehem pelan. "Sebenarnya aku mandi di ruang klub basket tadi pagi."

"Kau merusak imejku di sekolah Kim Mingyu."

"Kau juga sama, Hyung. Kau bahkan ke sekolah menggunakan piyama." Dan dengan santainya Mingyu meninggalkan Wonwoo dengan dahi berkedut menahan emosi.

Setelah selesai dengan barang-barangnya, Wonwoo merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menutup matanya. Dia lelah, fisik dan pikirannya, semuanya. Wonwoo bingung dengan semua ini.

Wonwoo menghela napas berat dan membuka matanya. Seketika jantungnya hampir berhenti. Tepat di atasnya ada wajah seorang wanita berambut panjang, berkulit putih dan sangat pucat, bahkan hampir membiru. Darah segar masih tampak mengalir dari kepalanya.

"AAA~"

Buru-buru Wonwoo menutup matanya lagi dan bergegas keluar dari kamarnya. Dia berlari menuju kamar mandi menyusul Mingyu.

Sementara itu Mingyu yang masih penuh dengan busa sabun bingung sendiri. Wonwoo tiba-tiba masuk ke kamar mandi dengan berteriak, wajah memucat dan langsung memeluknya.

"Mingyu.. Mingyu.. selamatkan aku.." Wonwoo meracau berulang-ulang sambil terus membenamkan wajahnya di ceruk leher Mingyu.

"Hyung, kau kenapa?"

"Di sana.. di sana.. di kamarku.."

Karena tidak mengerti apa yang diucapkan Wonwoo, Mingyu menjauhkan wajah Wonwoo dari lehernya. "Hyung, tarik napas, keluarkan. Tenanglah."

Wonwoo kini mulai bisa mengendalikan dirinya. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Mingyu pun masih menunggu Wonwoo sampai benar-benar tenang.

"Sudah?" Wonwoo mengangguk. "Sekarang katakan ada apa."

"Tadi.. di kamarku.. wanita.. berdarah.. aku.."

"Hyung!"

Wonwoo diam seketika, dia terkejut, tubuhnya bergetar ketakutan, matanya kini malah berkaca-kaca. Melihat Wonwoo seperti itu membuat Mingyu dirundung rasa bersalah. Dia sama sekali tidak berniat membentak Wonwoo. Tapi ternyata kenyataannya berbeda dengan ekspektasi.

"Hyung, maafkan aku, aku tidak berniat membentakmu," sesal Mingyu.

Wonwoo menggelengkan kepalanya yang tertunduk, tatapan matanya mengarah ke bawah, dan dia baru sadar jika Mingyu tidak memakai baju sama sekali.

"GYAA~" Sontak saja Wonwoo melepaskan pelukannya dari Mingyu dan berbalik membelakanginya.

"Hyung, kau itu kenapa?"

Seharusnya Wonwoo tidak seperti ini, tubuh Mingyu sekarang adalah tubuhnya yang dulu. Seharusnya Wonwoo tidak terkejut ataupun malu, bahkan merasa ternoda(?). Dulu dia sudah sering melihat tubuh itu. Tapi kenapa?

"Hyung?"

Mingyu yang ingin mendekati Wonwoo langsung berhenti mendengar teriakan laki-laki itu, "Cepat selesaikan mandimu, aku akan menunggu di sini!"

Tanpa bertanya lagi Mingyu segera melaksanakan perintah Wonwoo. Setelah selesai dengan mandinya, Mingyu memakai pakaian yang tadi dia tarik dari lemari pakaian Wonwoo.

"Sudah hyung."

Wonwoo berbalik menghadap Mingyu, dia menghela napas lega melihat Mingyu sudah benar-benar selesai.

"Jadi ada apa tadi?" Mingyu bertanya lagi alasan Wonwoo tiba-tiba datang berteriak dan memeluknya tadi.

"Kenapa? Kenapa?!"

Mingyu bingung lagi, Wonwoo masih seperti itu, tidak bisa mengatakannya dengan jelas.

"Apanya yang kenapa?"

"Kenapa aku melihat perempuan berdarah di depan mataku?!"

Napas Wonwoo terengah-engah setelah mengatakan itu, keringat dingin mulai menuruni dahinya. Tatapan matanya tertuju ke arah Mingyu, tapi tidak fokus.

Mingyu malah ber-oh ria mendengar jawaban Wonwoo. Tak lama kemudian dia tersenyum miring. Wonwoo yang melihat senyuman itu mulai jengkel lagi. Tidak suka jika wajahnya mengeluarkan ekspresi menjijikkan seperti itu.

"Jadi kau benar-benar melihatnya?" Wonwoo mengangguk, malas mengeluarkan suara.

Mingyu pun menggenggam tangan Wonwoo dan menariknya keluar dari kamar mandi. "Kalau begitu ayo kita lihat lagi."

"Kim Mingyu! Berhenti! Aku tidak mau." Wonwoo terus memberontak mencoba melepaskan genggaman tangan Mingyu. Tapi sayangnya tidak berhasil. Entah sejak kapan tubuhnya yang dulu punya kekuatan sebesar ini.

Mereka sampai di depan pintu kamar Wonwoo yang tidak tertutup. Mingyu berada di depan dan Wonwoo bersembunyi di belakangnya.

"Jadi yang mana yang hyung lihat?" Tanya Mingyu.

"Yang mana?" Wonwoo mengulangi pertanyaan Mingyu. Memangnya ada berapa? Kann hanya satu yang dilihat Wonwoo tadi.

Mingyu mengangguk. Wonwoo yang bingung pun ikut melihat ke dalam kamarnya. Dan seketika itu pula Wonwoo pingsan di tempat.

"WONWOO HYUNG!"

TBC

.

.

.

Saatnya bales review pembaca sekalian.. ehhmm..

Chan-min Aku yang nulis juga bingung ._. Mau masukin horror, tapi sebenernya bukan horror, jadi kumasukin fantasy, tapi kayaknya juga bukan fantasy /apadong? Iya ini school life

aylopyu Sayangnya udah diapa-apain :'v

straxberrympos nah aku juga sempet kepikiran gitu, masa iya mingyu diukein ._.

Arlequeen Kim Sebenernya banyak kok genre macem gini. makasih udah koreksi. yg rumah sama sekolah itu ternyata kelewat belum diedit, tapi udah diganti kok :D

restypw Di chap ini udah diperjelas ya, yg mana mingyu yg mana wonu..

MissCarat Awalnya aku juga bingung mau jadiin mingyu apa, antara penyihir sama pesulap. dan berakhir jadi pesulap, eh ga juga sih, di chap depan(mungkin) bakal dijelasin, ditunggu yahh..

11234dong Kapan2 diceritain asal mulanya, tapi ga tau kapan, tunngu aja :'v

equuleusblack gimana ya? Sempet kepikiran tapi masih abu abu. Ada saran gimana mereka bisa tukeran?

980218 Chwe Mungkin, bisa jadi begitu '-' Mingyu yg dijebol /bayangin xD

alwaysmeanie Entah ini nanti ada begituannya ga aku belum tahu, ini dimasukin rate M karena banyak adegan yang nyerempet kesitu.. jadi jangan terlalu berharap yahh.. :'v

Maaf ya ga semua review kebales, aku bingung mau bales gimana soalnya '-'

.

.

Satu lagi..

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN..

Maafkan saya sebagai author fanfic ga mutu klo banyak salah ya, maafin author yang nistain para cast..

Wonu : lu gue maafin klo gue jadi top

Author : takdirmu jadi bottom nak..

Aming : dimaafin klo di fanfic ini ada enaenanya sama wonu hyung

Author : ga janji ming, ga janji, authornya masih polos

Readers : polos polos pantatmu!

Oke, abaikan ini..

.

.

Satu lagi.. satu lagi.. /banyak amat woy!

Fanfic ini juga di post di wattpad, jadi klo ada yang suka main ke sana mampir ke akunku /ngapain?/ ya ga papa sih, main gitu walaupun isinya juga baru satu..

Oke makasih semuanya..