Mengejar Cinta
.
Mingyu x Wonwoo
Meanie
.
.
Yaoi; BoyxBoy; BL
Rated : T
Length : Oneshoot
.
.
Disclaimer :
Tokoh milik Tuhan YME, agensi dan orang tua mereka. Aku hanya meminjam nama mereka. Cerita dan alur berasal dari pemikiran aku.
Ini merupakan cerita sekuel Kucing Hitam.
.
.
Selamat membaca!
Sejak pertemuan pertamanya dengan Wonwoo sore itu, Mingyu tidak pernah menyerah mendekati Wonwoo. Hamper setiap hari ia meluangkan waktunya ke perpustakaan hanya untuk bertemu Wonwoo –ia tahu perpustakaan adalah tempat favorit Wonwoo saat mereka berdua bercerita sore itu.
Walaupun setiap hari datang ke perpustakaan, namun Wonwoo tidak setiap hari pula berada di perpustakaan. Bisa jadi waktu pertemuan mereka yang selalu tidak bertepatan, karena Mingyu sering mendapat kelas di pagi hari. Sedangkan Wonwoo lebih sering siang hari. Selain itu, Wonwoo mahasiswa semester lima yang tentunya lebih sibuk ketimbang Mingyu.
Tapi itu tak menyurutkan semangat Mingyu untuk mendekati Wonwoo. Apapun akan ia lakukan. Sekalipun merebut hati Wonwoo apabila pemuda putih itu menyukai Jun.
Pada Jumat sore saat hujan deras Mingyu tidak sengaja melihat Wonwoo berdiri di bawah gapura Selamat Datang depan universitasnya. Pemuda putih itu tampak kesal dan sesekali melirik arloji di tangan kirinya. Gerak-geriknya terlihat gelisah.
Mingyu mendekatinya, menepuk bahunya pelan yang malah membuat Wonwoo berjengit kaget. Detik berikutnya seulas senyum manis mengembang di wajahnya. "Mingyu? Belum pulang?" Tanya Wonwoo.
"Ah belum. Tadi teman-temanku mengajak makan siang di kantin." Jawabnya. Kemudian ia menatap Wonwoo dari atas sampai bawah. Wonwoo memakai hoodie putih yang tampak kebesaran. "Bajumu basah, sunbae?" Tanya Mingyu sambil memegang lengan Wonwoo.
Wonwoo melihat sekilas tubuhnya. "Iya. tadi aku berlari menerobos hujan kemari. Aku lupa bawa paying hari ini."
Mingyu melepas ranselnya, membuka ranselnya dan mengambil sebuah payung dari dalam. "Kebetulan aku bawa paying. Mau pulang bersama?"
Wonwoo menggeleng sopan. "Terima kasih. Asramaku berada dekat sini, aku bisa menunggu hujannya reda."
"Tapi bajumu basah, sunbae. Tidak baik dingin-dingin begini menggunakan baju basah. Aku antar kau sampai asramamu." Ujar Mingyu sedikit memaksa. "Dan aku tidak menerima penolakan."
Wonwoo tersenyum manis. "Terima kasih, Mingyu-ssi. Kau baik sekali."
Akhirnya mereka berdua berpayungan menuju asrama Wonwoo. Selama perjalanan mereka berbincang-bincang banyak hal, termasuk kepergian Wonwoo dari kampong halamannya di Changwon demi menuntut ilmu. Ia bilang asrama yang ia tempati sekarang berisi mahasiswa-mahasiswa dari luar Seoul dan Korea.
Tak terasa keduanya telah sampai di depan sebuah rumah besar yang letaknya cukup strategis untuk mahasiswa seperti Wonwoo. Di sekitar asrama itu terdapat beberapa rumah makan, sebuah minimarket, sekolah menengah pertama dan perumahan warga. Mingyu mengantarkan Wonwoo sampai di depan pintu asrama.
"Sekali lagi terima kasih, Mingyu-ssi. Kapan-kapan ingatkan aku untuk mentraktirmu makan siang sebagai pengganti hari ini." Ucap Wonwoo.
"Dengan senang hati. Aku tunggu besok sore." Mingyu tersenyum lebar.
Mingyu berbalik menuju gebang depan asrama. Ia melambai sejenak kepada Wonwoo –yang kemudian dibalas oleh Wonwoo- dan berjalan untuk mencari halte terdekat.
Hari demi hari Mingyu dan Wonwoo semakin dekat. Mereka sering bertemu di perpustakaan atau taman universitas. Terkadang jadwal kuliah dan tugas-tugas Mingyu yang menumpuk menjadi penghambat pertemuan mereka. Walaupun begitu mereka tetap berkomunikasi.
Suatu hari di siang hari yang panas, Mingyu berjalan dari gedung utama universitas menuju perpustakaan. Ia tergopoh-gopoh membawa beberapa dokumen dan buku-buku referensi yang ia pinjam.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika matanya tidak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenali bersama seorang pemuda pirang. Keduanya terlihat terlibat dalam perbincangan serius. Pemuda pirang yang ia ketahui bernama Jun itu meraih lengan Wonwoo, pemuda di hadapannya. Tangannya menggenggam lengan Wonwoo dan tatapannya lurus ke mata Wonwoo. Mingyu yang melihatnya merasa cemburu. Ia segera bersembunyi di balik pohon besar untuk menguping pembicaraan mereka.
"Jadilah pacarku, Wonwoo-ya." Ucap Jun. Mingyu membeliakkan matanya, hamper saja ia menjatuhkan bawaannya.
Hening, Wonwoo tidak menjawab apapun. Mingyu sedikit melongokkan kepalanya, melihat Wonwoo yang sedang menunduk dalam. Beberapa detik setelahnya, pemuda berkulit putih itu mendongak, menatap lurus-lurus kea rah Jun.
"Maafkan aku, Jun." ucapnya lembut. "Bukankah kau juga menyukai Minghao? Sepertinya kalian saling menyukai, terlebih perasaanmu kepadanya lebih daripada kepadaku."
"Tapi, Wonwoo-ya aku—"
"Tidak bisa. Jangan jadi egois, Jun. Jangan bohong dengan perasaanmu. Aku tahu kau lebih menyukai Minghao." Wonwoo mendenguskan napasnya berat, dadanya terasa sesak. "Kejarlah, Minghao. Ikuti kata hatimu, jangan lawan. Kau mengatakan hal ini karena kau ingin melupakan Minghao kan?"
Jun melepas genggamannya dari lengan Wonwoo. Ia menatap Wonwoo dalam-dalam, lalu perlahan merengkuh tubuh kurus itu ke dalam dekapannya. "Terima kasih. Kau memang teman baikku."
Mingyu yang berdiri di balik pohon hanya terdiam. Apakah ini kesempatan yang diberikan Tuhan? Wonwoo menolak cinta Jun, karena Jun juga menyukai orang lain. Lelaki brengsek! Pikir Mingyu.
Mingyu memberanikan diri menampakkan dirinya dari balik pohon. Ia terkejut ketika melihat Wonwoo menunduk, bahunya bergetar dan terdengar isakan pelan. Mingyu langsung tahu kalau pemuda itu sedang menangis. Ia mendekati Wonwoo perlahan, lalu menepuk bahunya.
"Kenapa menangis?" Tanya Mingyu.
Cepat-cepat Wonwoo menghapus aliran air dari matanya. "A-ah.. ti-tidak kok. Siapa juga yang menangis. Hahaha." Ucapnya dengan tawa dipaksakan.
"Kau menangis." Mingyu mengulurkan tangannya ke pipi Wonwoo, membelainya tepat di aliran air mata tadi. "Hidungmu merah, matamu bengkak, nafasmu terengah-engah. Sangat menandakan ciri-ciri orang menangis."
Wonwoo memandang kea rah lain, ke akar pohon besar yang menjalar kemana-mana. Mingyu sedikit menundukkan wajahnya. "Ceritakan padaku. Apa kau punya masalah?"
Wonwoo tersenyum tipis. "Aku hanya sedang bingung dengan perasaanku."
Mingyu ikut tersenyum melihat Wonwoo tersenyum. Ia mengusap rambut Wonwoo secara acak, lalu tersenyum lebar –lebih tepatnya nyengir. "Kalau begitu ayo ke perpustakaan. Habis itu kita beli es krim. Siapa tahu hatimu akan membaik."
Wonwoo terdiam melihat Mingyu yang begitu kekanakkan namun bersikap dewasa di waktu bersamaan. Laki-laki tinggi di hadapannya ini sebenarnya penyebab dari kebingungan perasaan Wonwoo. Setiap melihat Mingyu yang tersenyum bodoh atau cemberut membuat Wonwoo merasa hangat.
Sesuatu yang aneh muncul dalam hati Wonwoo. Ia merasa pernah bertemu dengan Mingyu. Tapi ia seratus persen yakin seumur hidupnya belum pernah bertemu Mingyu. Atau mungkin saja mereka pernah terjalin di masa lampau? Apa mereka pernah memiliki hubungan special di masa lampai (sebelum mereka yang sekarang lahir)?
Mingyu meraih tangan Wonwoo, menggenggamnya erat-erat. "Ayo! Tunggu apalagi. Keburu malam tiba." Ajaknya sambil sedikit menarik tangan Wonwoo.
Perasaan hangat semakin membara ketika tangan mereka bertautan.
"Meow~ meow~"
Wonwoo dan Mingyu langsung menghentikan langkah mereka. Wonwoo menengok ke kanan dan kiri, mencari sumber suara itu. sedangkan Mingyu hanya menatap Wonwoo penuh Tanya.
"Ada ap—" mulutnya langsung dibungkam oleh Wonwoo dengan jari telunjuknya.
"Kau dengar itu. suara kucing!" kata Wonwoo. Wonwoo mendekati suara itu perlahan-lahan, hingga sampai di dekat tong sampah. Ia melihat seekor kucing hitam dengan mata keemasan meringkuk kedinginan di sana. Tubuhnya kotor dan terlihat kurus.
Wonwoo mengangkat tubuh kucing itu tanpa ada rasa jijik. Tangannya mengelus punggung kucing itu. "Mingyu, lihat!" serunya. Mingyu mendekati Wonwoo, menatap kucing hitam itu yang terlihat nyaman dalam dekapan Wonwoo.
"Kau mau merawatnya?" Tanya Mingyu tepat dengan dugaan Wonwoo.
"Entahlah. Aku merasa kasihan dengan kucing ini. Tubuhnya kurus sekali. Sebenarnya aku ingin memeliharanya, tapi ibu asramaku melarang siapa saja membawa hewan ke dalam asramanya. Ia alergi anjing dan kucing." Kata Wonwoo sambil tangannya mengelus kepala si kucing.
"Kau mau memelihara kucing hitam? Setahuku dari mitos orang-orang jaman dahulu, kucing hitam kan pembawa sial."
"Jangan bilang begitu!" sentak Wonwoo sambil memukul lengan Mingyu. "Itu hanya mitos. Bagiku semua kucing sama saja. Mereka lucu, menggemaskan dan bukan pembawa sial. Mereka saja yang memiliki kesialan terlalu banyak sampai-sampai tega menyalahkan kucing tak berdosa seperti ini."
Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, iya. Ngomong-ngomong mau kau apakan kucing ini?"
"Boleh aku pinjam kamar mandi rumahmu untuk memandikannya?"
Setelah satu jam berusaha keras memandikan kucing liar hitam ini, akhirnya mereka bertiga (termasuk si kucing) keluar dari kamar mandi. Wonwoo membalutkan handuk ke tubuh si kucing, menggosok-gosokkan ke tubuh kucing itu.
"Enaknya diberi nama apa ya?" ucap Wonwoo. Ia menatap Mingyu yang sedang sibuk membereskan kamarnya akibat kekacauan bersama kucing tadi. "Gyu."
Mingyu menoleh, merasa namanya terpanggil. "Ya, hyung?"
Wonwoo menggeleng. "Tidak, tidak. Nama kucing ini Gyu."
"Kok?"
Wonwoo tersenyum geli. "Setiap kali aku melihat kucing ini, aku jadi teringat kau. Kalian sama-sama hitam sih." Lalu tertawa terbahak.
Mingyu merasa tidak terima langsung membalas, "Ya! Aku tidak hitam! Hanya saja kurang putih!"
Kemudian mereka terdiam cukup lama. Wonwoo yang sibuk memainkan si kucing dan Mingyu yang memerhatikan Wonwoo tanpa berkedip. Senyum merekah di bibir Mingyu.
"Mingyu-ya, tadi Jun menyatakan perasaannya padaku." Kata Wonwoo tiba-tiba. "Jun bilang dia ingin aku menjadi pacarnya. Tapi, aku menolaknya. Aku bilang padanya bahwa perasaannya padaku itu hanya sebuah pelampiasan pelarian dia dari Minghao. Aku tahu dia masih mencintai Minghao."
Mingyu mendengarkan dengan seksama, tanpa ada niatan menyela omongan Wonwoo.
"Sejujurnya aku telah menyukai dia sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi, semua itu perlahan memudar, tergantikan dengan perasaan lain." Wonwoo mendongak, menatap mata Mingyu lekat-lekat. Seolah sedetik saja Mingyu mengalihkan matanya, Wonwoo akan terbenam dalam tanah yang membelah. "Aku menyukai orang lain."
Seketika jantung Mingyu terasa berdebar-debar. Tatapan mata itu menyiratkan kalau Wonwoo memohon sesuatu kepada Mingyu. Mingyu bisa menebak arti dari tatapan itu, tatapan yang meminta penjelasan dan pengakuan dari Mingyu.
"Aku manyukaimu, hyung." Ucap Mingyu pelan.
"Apa?"
"Aku menyukaimu, hyung!" ulang Mingyu lebih keras. Wonwoo terdiam, memberikan waktu bagi Mingyu untuk menjelaskan.
"Sejak pertama bertemu, aku merasa ada dorongan aneh dalam hatiku. Seakan aku pernah bertemu denganmu dahulu kala. Tapi aku yakin seumur hidupku belum pernah bertemu denganmu. Aku mengira itu hanya perasaan biasa. Tapi akhir-akhir ini aku sering merasa déjà vu. Aku mulai yakin kalau kita berdua sepertinya pernah bertemu di masa lampau dan menjalin hubungan."
Mingyu tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menatap Wonwoo, dan Wonwoo menatap balik, memberi isyarat untuk melanjutkan pengakuan Mingyu.
"Tuhan sepetinya memberiku kesempatan kedua. Mungkin di masa lalu kita terpisahkan oleh suatu hal atau bisa saja dulu aku tidak mendapatkanmu. Yang jelas perasaanku terasa kuat. Aku benar-benar menyukaimu dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang telah Tuhan berikan."
Wonwoo meletakkan Gyu ke atas karpet, beranjak berdiri lalu mendekati Mingyu. Kini ia sudah berdiri di hadapan Mingyu. "Aku juga merasakan hal yang sama." Ucapnya pelan. "Aku bersyukur kalau misalnya Tuhan memberi kita kesempatan kedua. Karena sejujurnya aku juga menyukaimu."
Wonwoo sedikit berjinjit, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Mingyu, lalu mendaratkan bibirnya di bibir Mingyu. Mengecupnya selama tiga detik lalu melepasnya. Mingyu terlihat terkejut di tempatnya berdiri. Namun, ia segera tersadar. Tangannya meraih tubuh Wonwoo, memeluknya erat. Wajahnya ia dekatkan kembali ke wajah Wonwoo. Perlahan bibir keduanya kembali bertaut dalam ciuman yang lebih dalam disbanding tadi.
"Aku mencintaimu, hyung." Bisiknya di telinga Wonwoo, sambil memeluknya seerat mungkin.
"Aku juga mencintaimu."
Tanpa mereka sadari, Gyu si kucing hitam itu mengeong senang dengan wajah sumringah. Ia memandangi kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu, lalu mengeong lebih keras.
.
.
.
OMAKE
"Mingyu-ya!" seru Wonwoo di depan rumah Mingyu. Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki terburu-buru. Pintu terbuka lebar, menampilkan Mingyu yang memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan. Wajahnya terlihat senang.
"Lihat apa yang aku bawa!" Wonwoo mengangkat sebuah tas besar. Mingyu mengerutkan alisnya bingung. Mengerti dengan kebingungan Mingyu, Wonwoo membuka tas yang membungkus benda itu. sebuah kandang kucing.
"Kau membawa kucing putihmu kemari?" Mingyu menunjuk kandang kucing yang berisi seekor kucing putih.
"Yup! Oh iya, Gyu masih ada di rumahmu kan? Kau merawatnya dengan baik kan?" Mingyu hanya mengangguk-anggukan kepalanya menjawab serentetan pertanyaan Wonwoo.
Lalu Wonwoo tersenyum lebar. "Baiklah, ucapkan selamat datang kepada Wonu! Aku akan mengawinkan kucingku dengan kucing hitammu itu."
"Maksudnya Gyu?!" pekik Mingyu.
"Tentu saja. Memangnya kau mau Wonu ku kawinkan denganmu?"
Mingyu tersenyum nakal. "Kalau begitu kita kawinnya kapan, hyung? Kucing saja sudah mau kawin, masa kita belum."
Wonwoo memukul lengan Mingyu gemas. "Ya! Mesum!"
END
Cuap cuap penulis!
Akhirnya aku bisa menuruti permintaan pembaca. Pada minta sekuel sih hehehe…
Btw aku berterim kasih banget sama kalian yang mau memberikan review, saran dan kritik. Ngomong-ngomong ada yang review-nya puanjaaaaang banget. Aku sampai ngakak terpingkal-pingkal membawa review-mu XD
Banyak yang respon ternyata dengan FF dadakan ini. Padahal idenya dadakan hehehe…
Maafkan aku untuk sekuelnya yang terasa hambar dan kurang menarik. Lebaran kemarin aku tidak sempat buat, makanya baru sekarang. Maafkan penulis yang rasanya agak mageran menulis FF ini (sekuel ini). Karena sejujurnya aku gak kepikiran buat sekuel. Eh ternyata permintaan sekuelnya meledak.
Btw GET WELL SOON untuk pacarku tersayang, JEON WONWOO! Ya ampun, di comeback kali ini ia tidak muncul di stage. Aku menangis lhoo~ hiks hiks. Lagunya bagus banget! Pokoknya AJU NICE sekali! Beat up nya aku suka, dance-nya juga 'anu' banget.
TERUS DUKUNG SEVENTEEN YA CARAT-deul!
Arigatou gozaimasu! Gamsahamnida!
