Hai minna-sannn…

Gomen, Natsu telat update! Habis, Natsu sibuk banget, dengan urusan dunia nyata *halah…*selain itu, Natsu juga punya banyak hutang fict… jadi ngetik fic ini susah bener! *malah curhat*

Yosh! makasih buat para readers yang nge-review chapter sebelumnya… XD

Natsu seneng banget dengan komentar-komentar para readers! ^^v

Buat para reviewer yang login, Natsu udah bales lewat PM! Silahkan cek inbox masing-masing…^^

Dan buat yang gak login, balasannya ada akhir cerita yah!

Well, tanpa basa basi, basu, base, dan baso lagi, selamat membaca… ^^b

.

Cerita sebelumnya :

"Ku―Kuroro! Lepaskan aku!" tegas Kurapika namun sedikit bergetar.

"Memangnya kenapa kalau aku memeluk tubuh orang yang kusuka?" ucap Kuroro enteng.

BLUSSSHHH!

Kurapika langsung membatu di tempat mendengar pernyataan Kuroro. "A―apa maksudmu?" tanyanya dengan nada gemetaran.

"Jangan sok bodoh! AKU MENYUKAIMU!" tegas Kuroro semakin memper-erat pelukannya.

"Lepaskan…" ucap Kurapika berusaha melepaskan dirinya dari pelukan sang ketua Ryodan.

*o*o*

Perasaan apa ini?

Apakah ini cinta?

Tidak mungkin.

*o*o*

"Ohya, Kurapika, sebenarnya… Ryodan…"

Kurapika langsung terkejut mendengar kata 'Ryodan' yang keluar dari mulut Gon. Dia langsung menatap tajam Gon, menunggu kelanjutan kalimat dari sang Gon.

.

Chapter 2 : I love You

.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Tittle : My Lovely Kuruta

Story by : Natsu Hiru chan

Rated : T

Genre : Romance

Pairing : KuroKura (atau KUROPIKA mungkin?)

Warning : abal, gaje, OOC, norak, jelek, typo bertebaran bagai debu di kamar author, pokoknya ancur deh!

Summary : Rahasia terbesar Kurapika diketahui oleh Kuroro karena suatu kejadian di suatu malam. Apa yang akan Kuroro lakukan? Apakah dia akan membalas dendam pada Kurapika yang telah melilitkan rantai di jantungnya?

.

.

.

.

Don't like, don't read…

.

Terlihat empat orang, saat ini sedang berlari sekencang-kencangnya menuju suatu tempat. Salah satunya adalah seorang pemuda yang memakai tuxedo biru, dengan kacamata bundarnya. Rambutnya berwarna hitam pekat.

Seorang lagi, berambut jabrik, berwarna hitam pula, yang mengenakan baju hitam, dengan celana pendek berwarna biru. Tampangnya terlihat begitu lugu dan polos. Di sampingnya terlihat seorang berambut silver berantakan, menggunakan T-shirt kuning, dengan celana merah marun pendek.

Dan, seorang lagi, yang berlari paling depan, yakni seorang yang mempunyai rambut pirang pendek, dengan baju biru. Dan memakai anting. Matanya terlihat berwarna merah bagaikan api.

"Hai Kurapika! Kau jangan buru-buru! Kalau sampai kita berpisah, itu akan sangat berbahaya!" teriak pemuda, yang berkacamata dari belakang.

'Leorio benar… tapi, kenapa Ryodan beraksi kembali? Bukan 'kah aku sudah melilitkan rantai di jantung Kuroro agar dia tidak bisa membocorkan semuanya pada anggota Ryodan? Atau… Kuroro berhasil melepaskan dirinya dari rantai tersebut? Sial…' gerutu Kurapika dalam hati. Kurapika menggertakkan giginya begitu kuat, sehingga di sudut bibirnya menetes cairan kental merah, yang sewarna dengan matanya saat ini.

"Teman-teman, kalian pergilah ke tempat Ryodan, aku akan pergi ke suatu tempat! Nanti kalian aku telpon!" ucap Kurapika seraya berlari, ke arah yang berlawanan.

"Kurapika!" panggil ketiga temannya, namun tidak diubris oleh Kurapika. Kurapika hanya terus berlari.

Sementara itu, di tempat lain,

"Hn, apa tidak apa-apa kita bergerak tanpa perintah dari bos?" tanya seorang gadis bertubuh keci, yang memakai kacamata.

"Tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi! Sejak kejadian seminggu yang lalu, bos tidak pernah kelihatan lagi. Jika hanya diam, Ryodan akan berakhir. Jadi kita harus secepatnya bergerak, dan memilih ataupun mencari, ketua yang baru…" jawab seorang pemuda yang mengenakan masker.

"Franklin benar, tapi siapa?" tanya sorang pemuda polos, berambut coklat.

"Bagaimana kalau Machi, dia 'kan yang paling dekat dengan bos, setelah Pakunoda." Usul Phinx.

"Ah, aku?" tanya Machi menunjuk dirinya sendiri.

"Atau, kau saja! Nobunaga!" usul Shalnark.

"Hn, enak saja! Aku tidak mau! Atau, bagaimana kalau Franklin?"

" Aku tidak mau!"

Perdebatan itu pun terus berlanjut tanpa ada habisnya.

.

Sementara itu,

Terlihat Kurapika sedang berlari secepat yang ia bisa. Kini cairan-cairang bening mulai menumpuk di pelupuk matanya. Dia gertakkan giginya. Setiap detik, larinya semakin cepat saja.

Kurapika pun mengeluarkan rantainya yang berbentuk seperti bola. Dia biarkan rantainya tergantung, sampai rantai tersebut bergerak sendiri. "Utara…" gumam Kurapika, langsung bergegas lari ke arah yang tadi ia gumamkan.

Larinya terhenti begitu ia sampai di tempat yang seperti pembuangan sampah. Mata sapphire-nya membulat ketika melihat seseorang, yang kini sedang terduduk di puncak tumpukan sampah yang paling tinggi.

Kurapika melangkahkan kakinya yang bergetar sedikit demi sedikit.

"Sungguh kehormatan bisa menerima tamu yang sangat manis ini," ucap orang itu, tanpa menoleh ke arah Kurapika.

"Aku ingin bicara serius denganmu, Kuroro…" tegas Kurapika namun dengan nada sedikit bergetar.

Takut? Tegang? Gugup? Canggung? Itu yang dirasakan Kurapika saat ini. Bagaimana tidak? Pemuda yang saat ini berada tepat di depan matanya, adalah pemuda yang ia dendami. Tidak hanya itu, pemuda itulah, yang telah… menyatakan cintanya… pada Kurapika kemarin…―Kuroro Lucifer―

Kuroro lalu turun, dengan melompat ke arah Kurapika. Kini mereka saling berhadapan dengan jarak kurang lebih 1 meter.

Merasa jarak mereka terlalu dekat, Kurapika lalu mundur beberapa langkah. Kuroro terlihat menahan tawanya, melihat tingkah Kurapika yang begitu sensitif.

"Pembicaraan serius eh? Bukankah kemarin sudah?" goda Kuroro dengan wajah innocent-nya.

"Aku serius!"

Kuroro lalu menghela nafas panjang. "Kau itu galak sekali padaku! Yah, memangnya kau mau bicara apa?"

"Ryodan… kembali bergerak…" mata Kuroro sedikit membulat mendengar perkataan Kurapika. "Apa maksudmu?" tanya Kuroro tak mengerti.

"Dua hari yang lalu, terjadi mebantaian di kota. Salah satu saksi mata mengatakan bahwa diantara mereka salah satunya memegang pedang, dan satu lagi gadis bertubuh kecil, bekacamata, dan memegang alat seperti penyedot debu… itu pasti Ryodan 'kan?" tegas Kurapika.

'Nobunaga dan Shizuku…' batin Kuroro.

"Katakan! Apakah mereka bergerak, dibawah perintahmu?" tanya Kurapika. Terdengar bunyi rantainya yang sedari tadi bergerak, menandakan bahwa saat ini dia sedang bersiaga.

Kuroro lalu tertawa kecil, "sebenarnya aku belum begitu paham maksudmu. Tapi, bukankah kita ada perjanjian?" ucap Kuroro enteng.

"Aku tahu tapi… aku masih ragu…" kata Kurapika menunduk ke bawah.

Kurapika tersentak kaget ketika merasakan pipi mulusnya disentuh oleh seseorang, yang tidak lain adalah Kuroro. Kurapika lalu menengok ke atas, menatap Kuroro yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan seolah berkata 'lepaskan! Apa maumu?'

"Kau masih bimbang…" ucap Kuroro dengan wajah datar.

Kurapika langsung menepis tangan Kuroro, "bimbang? Apa maksudmu?" ucap Kurapika langsung membelakangi Kuroro.

"Kau tidak tahu perasaanmu yang sesungguhnya… aku tahu itu… kau bahkan tidak tahu, jalan apa yang akan kau ambil… kau bagaikan serigala yang kehilangan kawanannya. Serigala itu terlihat kuat, bahkan ketika ia bersedih, dia masih tetap terlihat kuat dan ganas, meskipun dia kehilangan teman-temannya…"

"Apa yang kau tahu soal diriku?" ketus Kurapika.

"Segalanya…"

Perkataan Kuroro yang terakhir sukses membuat rona merah di wajahnya. Kurapika langsung menoleh ke arah Kuroro. "A―apa maksudmu?" tanya Kurapika terbata.

"Tidak… aku berbohong… mana mungkin aku tahu segalanya darimu, bahkan warna pakaian dalam yang saat ini kau pakai?"

DWAAGGHH…

Pukulan Kurapika sukses mendarat di pipi Kuroro. "Huh! Tidak ada gunanya bicara padamu!" ujar Kurapika seraya hendak meninggalkan Kuroro.

Namun, Kuroro langsung menarik tangan Kurapika. "Tunggu…"

"Apa maumu?"

"Kumohon, beri aku kesempatan…"

"Kesempatan apa lagi yang kau mau? Kau mau minta kesempatan, setelah kau membuang semua kesempatan dalam hidupku? Cih! lancang sekali kau!" ujar Kurapika dengan nada meremehkan.

"Kurapika! Tolong dengarkan aku!"

Kurapika langsung menepis tangan Kuroro, dan segera bergegas lari, menjauhi Kuroro.

"AKU MENCINTAIMU KURAPIKA! SANGAT MENCINTAIMU! RASA CINTAKU JAUH LEBIH BESAR DARI RASA DENDAMMU PADAKU! AKU TIDAK PEDULI KAU MAU MEMBENCIKU! TAPI AKU MENCINTAIMU!" teriak Kuroro dengan sedikit rona pink tipis di pipinya.

Kurapika hanya terus berlari sambil memejamkan matanya erat-erat, dan menutup kedua telinganya dengan tangan. 'Bodoh…'

~MY LOVELY KURUTA GIRL~

Sementara itu, di sebuah gang, terlihat sekelompok orang yang saling berhadapan.

Killua, Gon, dan Leorio, saat ini sedang berhadapan dengan empat orang anggota Ryodan lainnya. Yaitu Nobunaga, Machi, Shizuku, dan Shalnark.

"K―kau 'kan, yang waktu itu…" gumam Gon tak percaya sambil menunjuk-nunjuk Shizuku. Shizuku hanya menatap Gon tanpa ekspresi. "Senang bertemu kembali dengan anda…" ucapnya sambil sedikit membungkuk.

"E―eh? Iya! Sama-sama!" ucap Gon dengan polosnya. Killua dan Leorio hanya ber-sweat drop-ria melihat tingkah Gon yang begitu polos sepolos-polosnya.

"Tak kusangka, ternyata kalian satu kelompok, bersama si pengguna rantai itu…" ujar Nobunaga mulai memegangi pedangnya, membuat Gon, Killua, dan Leorio bersiap siaga.

"Kami bukan kelompok! Tapi kami TEMAN!" kesal Gon. Semua yang ada di situ terkejut mendengar perkataan Gon, termasik Leorio dan Killua.

"Teman huh? Bocah yang menarik…" ucap Nobunaga sambil menyeringai.

Maka Nobunaga langsung maju dan menyerang, disusul oleh teman-teman lainnya. Pertarungan yang tidak seimbang itu pun berlangsung cukup sengit, antara Ryodan, dan Gon dkk.

.

Gon, Killua dan Leorio saat ini sedang terluka parah. Bagaimana tidak? Mereka baru saja melawan empat anggota sekaligus, padahal mereka hanya bertiga saja.

"Hn… aku akui, kalian adalah lawan yang tangguh…" puji Nobunaga.

"Mereka memang tangguh…" sebuah suara, menyedarkan ke-tujuh orang yang ada disitu. Mereka sontak menoleh ke arah sumber suara.

Terlihat seorang berambut pirang, dengan mata berwarna merah seperti api. Kurapika.

Cring… cring…

Rantai di tangan Kurapika mulai berbunyi, menandakan bahwa dia akan segera beraksi. Ke empat Ryodan pun juga mulai mengambil kuda-kuda waspada. Tentu saja, mengingat mereka tahu bahwa Kurapika ini adalah si 'pengguna rantai' yang dulunya telah membunuh dua orang anggota Ryodan, Ubogin dan Pakunoda.

"Kurapika!" teriak Gon, Leorio dan Killua. Mereka mencoba untuk menghentikan Kurapika, tapi apa daya, berdiri saja mereka sudah tidak senggup.

"Hm, ternyata si pengguna rantai ini adalah seorang gadis yang manis…" puji Shalnark.

"AKU INI LAKI-LAKI!" bentak Kurapika kesal.

"APA?" teriak Shalnark tak percaya.

"Aku… akan membunuh kalinan semua…"

Tangan Kurapika mulai terangkat, bersiap untuk menyerang.

Grabb…

Kurapika merasakan seseorang memegang tangannya dari belakang. Ke empat Ryodan, dan ketiga teman Kurapika tersebut terkejut bukan main melihat siapa yang memegang tangan si pirang. Kurapika pun menoleh ke belakang.

Mata sapphire-nya membulat sempurna, "Kuroro?" gumam Kurapika terkejut.

"Hentikan semua ini…" ucap Kuroro datar.

"BOSS?" teriak ke empat Ryodan terkejut bukan main.

"Hn, lama tak berjumpa…"

~MY LOVELY KURUTA GIRL~

Kurapika's pov

Aku sedang terduduk di bukit kecil yang indah. Rumput-rumput yang seharusnya berwarna hijau, kini berwarna seperti orange akibat pengaruh dari cahaya sang surya yang siap tergantikan oleh cehaya bulan.

Ku duduk menikmati matahari yang besar itu, menantikannya untuk tenggelam.

Tenang…

Indah…

Namun, sedari tadi jantungku tidak bisa berdetak dengan normal kali ini. Hatiku merasa gugup. Keringat entah karena apa terus keluar di dahiku. Kenapa? Alasannya adalah karena pria yang saat ini terduduk di sampingku, menemaniku untuk melihat sunset yang indah tersebut.

Kuroro Lucifer…

Yah, tadi, ketika Kuroro datang dan menghentikan pertarungan kami. Kuroro menjelaskan sesuatu pada ke empat Ryodan itu, yang tentu saja tidak terdengar olehku, Gon, Killua, dan Leorio. Setelah itu, ke empat Ryodan itu pergi, dan meninggalkan kami ber lima.

Kuroro pun mendekati kami ber-empat. Lalu ia mengajakku ke suatu tempat. Seenaknya saja dia menarik tanganku waktu itu. "Ini untuk balas budi," begitu lah katanya. Mau apa lagi? Itu memang kenyataan! Bahwa, Kuroro telah menolongku dan teman-temanku. Aku juga tidak terlalu yakin bisa mengalahkan Ryodan sendirian.

'Kau mau membawaku kemana?'

'Memangnya setiap sore kau kemana?'

'Setiap sore?'

Dan, disinilah aku… bersama Kuroro, orang yang paling kubenci, terjebak dalam kecanggungan, yang diselimuti oleh warna orange…

Tak jarang aku sedikit melirik ke arahnya, melihat apa yang sedari tadi ia lakukan. Kulihat mata onix-nya menatap jauh ke sang surya. Perasaanku, atau memang benar, mata itu… tertampang jelas bahwa Kuroro sedang kesepian…

Kuterhipnotis lebih jauh lagi dalam mata Kuroro, membuatku tak sadar behwa ternyata sedari tadi aku terus saja memperhatikannya tanpa berkedip sedikitpun.

"Kenapa kau memperhatikanku?" tanyanya tanpa menoleh, bahkan melirik kepadaku.

Aku langsung sadar. Langsung saja kupalingkan wajahku yang merona merah ini. "Si―siapa yang memperhatikanmu? Dasar GR!" elakku masih memalingkan wajahku.

"Hn? Yang benar…? Terus, kenapa wajahmu memerah begitu?"

"Memerah? Siapa yang memerah? I―ini pengaruh dari matahari tahu! Atau, matamu yang sudah rabun!"

Kuroro hanya tersenyum kecil lalu kembali memandang matahari yang siap untuk tenggelam. Kupegang kedua pipiku dengan lembut, ahh… rasanya panas sekali! Apa benar wajahku saat ini memerah? Ugghhh! Menyebalkan!

"Waaaahh! Sudah mulai tenggelam!" ujarku bersemangat ketika melihat matahari tersebut turun sedikit demi sedikit.

Mulai sedikit gelap…

Mulai gelap…

Kurasakan tangan kekar dan besar langsung meraihku. Dan membawaku kepelukannya. Aku terkejut bukan main. Tapi… rasanya hangat sekali…

Entah sadar atau tidak, kubalas pelukan orang yang memelukku itu. Kurasakan air mataku menetes di dadanya yang kekar. Semakin lama air mataku semakin banyak. Aku pun semakin menanamkan wajahku di dada orang itu. Dan…

Menangis…

Malam itu, adalah malam dimana dua insan merasakan kasih sayang satu sama lain. Kasih sayang itu menyatu dalam sebuah pelukan hangat, yang mengalahkan dinginnya malam…

~MY LOVELY KURUTA GIRL~

Kubuka mataku yang terasa berat ini, memperlihatkan kristal sapphire-ku yang sebiru samudra.

Ketika kubuka mataku, aku baru sadar bahwa saat ini aku sedang terbaring di atas tempat tidur king size. Ku geliatkan tubuhku, melawan rasa kantukku. Kuberusaha mengembalikkan kesadaranku sepenuhnya.

Aku pun membangunkan tubuhku, dan mengucek pelan mataku. Mata yang baru sajaj kukucek ini membulat sempurna ketika menyadari bahwa saat ini aku sedang tidak berada di apartementku.

Ruangan ini… terlalu asing bagiku. Ruangannya luas, dengan nuansa mewah, cat krem, berkolaborasi dengan benda-benda mewah yang tersusun rapi.

'Apa ini… Hotel?' pikirku.

Mataku semakin membulat saja ketika menyadari saat ini aku hanya mengenakan baju dalam dan celana dalam saja! 'A—apa yang terjadiiii?' gumamku mulai panik.

"Ungghh…" suara lenguhan dari seseorang mulai terdengar, menyadarkaku dari kepanikanku. Maka kumenoleh ke arah sumber suara.

Mataku membulat, jantungku berdegup kencang, wajahku langsung memerah, keringat dingin mulai menetes di pelipisku, ketika melihat KURORO saat ini sedang tertidur dengan pulasnya di ranjang yang sama denganku! Selain itu, kulihat di bertelanjang dada, dan aku tidak tahu bagaimana kondisi tubuhnya yang lain, karena tertutup oleh selimut.

"G—GYAAAAAAAAA!"

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

Ahahahahaha… akhirnya chapter 2 selesai dah… =_=/

Natsu lega banget…!

Aih! Chapter kali ini gimana? Abal? GaJe? Norak? OOC? Pastinya kan…!

Yosh, mari kita membalas review reviewer yang gak login… ^^

Whitypearl :

Hyyyaaa… makasih udah RnR… makasih juga udah ngasih Natsu pujian2 kayak gitu… natsu jadi malu… *sembunyi dibelakang paman Togashi.

Ya! Akhir.x ada yang sependapat dngan Natsu kalo Kurapika tuh CEWEK! *meluk Pearl-chan* pkok.x makasih yaaahh…

Ahahaha… Natsu pikir, segitu ajah!

Well, mohon kritik, saran, konkrit, dan komentar para readers... flame juga boleh!

Natsu bakan menerimanya dengan senang hatiii… ^^

Akhir kata, REVIEW please… *puppy eyes*

~ARIGATOU~

.

NATSU HIRU CHAN