Sekali lagii..
maapkan saiaaaaa !!
kayaknya saya emang lebih cocok jadi pembaca aja daripada penulis cerita, hahaha.
ide udah banyak banget tapi kok susah banget ya buat di tulis?
pembaca : woi jgn banyak bacot!
euw, muup2... oke deh, selamat membaca!
Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto , Itazura na kiss punya Kaoru Tada, Irie Naoki punya saya!! XD
Kiss Kiss Kiss!
based on Itazura na kiss
by M4yura
Chapter 2 :
- First day-
"Pagi Sakura-chaaaan! ayo sarapan!" terdengar suara Mikoto menggema di dalam rumah, memanggil Sakura yang masih ada di lantai atas. Tangannya menyusun piring-piring di meja dengan cekatan.
"I, iya bibi... Aduh!" jawab Sakura sembari menuruni tangga dengan terburu-buru, terdengar bunyi 'grasak-grusuk'. Sudah bisa di tebak, Sakura nyaris terjatuh.
"Ya ampun Sakura-chan hati-hati!" Mikoto membantu Sakura berdiri agar ia tidak mencium lantai di pagi hari.
"Err.. i, iya bibi.. terimakasih!".
"Sama-sama, Sakura-chan! Aduh senangnya punya anak perempuan!". Mikoto langsung memeluk tubuh Sakura erat-erat.
"He..hee..."
'Aduuh... ngga nyangka banget bisa serumah sama Sasuke... Hhh.. tapi sepertinya yang menerimaku di rumah ini hanya bibi dan paman saja... Terlihat dari kejadian tadi malam... huh...'
-
-Flasback-
-
" Ayo Sakura, beri salam dulu." ucap ayah Sakura.
"A.. Salam kenal aku Haruno Sakura..."
Sakura menundukkan tubuhnya dalam-dalam. 'Setidaknya ada keberuntungan hari ini' pikirnya. Namun pemikiran itu berubah saat ia menengadahkan kepalanya. Ia terperangah. Matanya melebar. Mulutnya menganga tak percaya. Oh, memang benar. Ini hari tersialnya. Di hadapannya kini terlihat seorang lelaki yang baru saja menolaknya mentah-mentah. Ia tak percaya. Mengapa lelaki itu ada di sini? Buru-buru Sakura melihat papan yang bertuliskan nama keluarga di depan rumah itu. Ia membacanya.
"U... Uchiha...!?"
'Sial.'
-
"Ada apa Sakura?" tanya Ayah Sakura terheran-heran melihat tingkah laku putrinya.
"A...ah... tidak apa-apa, hehe" Sakura menjawab dengan senyum terpaksa sembari menundukkan kepalanya lagi, pandangannya tertuju ke lantai rumah Uchiha yang menjadi pelampiasan rasa kesal dan malunya.
'Ba.. bagaimana mungkin!! Aku akan serumah dengan orang yang baru saja menolakku tadi! Ah sudahlah, siapa tahu dia tidak ingat aku, orang seperti dia, pasti yang melamarnya jadi pacar banyak, tidak mungkin hanya aku saja, kan?'.
-
Sakura menengadahkan wajahnya untuk melihat Sasuke, memastikan bahwa yang ada di depannya itu benar-benar Sasuke. Saat itu pula, pandangan mereka bertemu. Sasuke tersenyum licik. Seolah-olah ia mengejek Sakura.
'Gawat, sepertinya dia ingat padaku!! Aduuuuhhh gimana niiihhhh!!'
"Sakura-chan? Kenapa diam? Tidak enak badan?" tanya Mikoto dengan wajah cemas.
"Ti...tidak kok! A... aku tidak apa-apa, sungguh!"
"Oh, ya sudah, ayo masuk. Kalian pasti belum makan, iya kan?" Mikoto bertanya sambil membatu Shige dan Sakura membawa barang-barangnya ke dalam rumah.
"Kakak, bantu dong, jangan melihat saja!" Mikoto memberikan tas kepada Sasuke.
"Ini mau di taruh dimana?" tanya Sasuke dingin.
"Kamar Itachi, mulai saat ini kamu tidur sama Itachi, Sasuke."
"Hn. Aku duluan ke kamar saja." jawab Sasuke singkat. Ia menjatuhkan tas yang tadi diberikan Mikoto padanya.
"Hei kakak! Ah maaf ya, dia tidak sopan."
"Tidak apa-apa Mikoto-chan, biar aku angkat barangku sendiri. Oh, harus aku taruh dimana barang-barangku?" jawab Shige sembari mengambil tas-tas berisi barang bawaannya.
"Di kamar dekat ruang keluarga itu." Mikoto menunjukkan kamar Shige.
"Oh, terimakasih."
-
-
"Nah Sakura-chan, mulai saat ini, di sini adalah kamarmu!"
Mikoto membuka pintu kamar berwarna putih bersih itu, dan mempersilakan Sakura masuk.
"Ayo Sakura-chan, masuk dulu. Maaf ya kamarnya masih berantakan, habis dadakan sekali, kalau tahu Sakura-chan akan tinggal di sini aku pasti sudah mendekorasi ulang kamar ini..."
"Ah bibi, diperbolehkan tinggal disini saja aku sudah sangat bersyukur. Jika tidak ada bibi, mungkin aku akan berhenti sekolah untuk membantu ayah."
"Sakura-chan baik sekaliiii!! Aku jadi terharu... Oh ya, ngomong-ngomong Sakura-chan sekolah dimana?"
"Emm.. Konoha Gakuen..."
"Astaga! Berarti sama dengan kakak!! Sakura-chan kenal kakak sebelumnya?"
"Err... dia sangat terkenal di sekolah, hampir tidak ada yang tidak mengenal dia, termasuk aku. Penggemarnya pun sangat banyak, begitulah, haha." jawab Sakura dengan senyum yang ia paksakan. Ia teringat kejadian tadi yang begitu menyakiti hatinya dan menjatuhkan harga dirinya. 'Huh, Ibunya baik begini, kok anaknya bisa seperti itu sih?'
"Ah, apakah Sakura-chan juga suka dengan kakak??" tanya Mikoto berharap.
"HAH?! i...itu... tidak! Tidak kok bibi!" wajah Sakura memerah, tas yang ia jinjing sedari tadi, terjatuh.
"Oooh... hehehehe..." Mikoto tersenyum kecil melihat reaksi Sakura. Ia memperhatikan 'salah tingkahnya' Sakura. 'Lucu sekali reaksinya', pikir Mikoto. Lalu, terdengar suara anak kecil yang memanggil Mikoto.
"Ibuuuuuu..."
"Ah, sepertinya Itachi sudah pulang, Sakura, kamu mau istirahat atau ikut ke ruang keluarga?"
"A... aku ikut saja, tidak enak, masa baru datang langsung tidur, hehe."
"Oke."
-
"Itachi, mulai saat ini kamu tidur sama kakak, ya!"
Mata Itachi membelalak. Ia langsung berteriak.
"Kok begitu bu??"
"Kamarmu di tempati Sakura-chan. Ayo beri salam, mulai saat ini ia akan tinggal di sini, karena rumahnya terbakar." Mikoto yang duduk di samping Itachi, langsung mendorong tubuh Itachi condong ke arah Sakura. Namun Itachi menolak untuk memberi salam. Ia memperhatikan Sakura dengan seksama. Tatapan sinis ia layangkan. Lalu, ia tersenyum licik. 'Kelihatannya orang ini bodoh'.
"Ehm, Sakura namamu kan? Berapa umurmu?"
"16 tahun... ada apa?" Sakura menjawab dengan senyum manisnya.
"Oh, seumuran kakak. Kalau begitu... kau pasti bisa menjawab ini!" Itachi merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah buku kumpulan soal. Kemudian menyodorkannya ke depan Sakura.
"Tolong kerjakan yang ini dong... hanya soal matematika anak SD kok." pinta Itachi sambil memberikan pensil. Itachi tersenyum.
"Ah... i.. ini sih gampang... Aku pasti bisa, kan aku anak SMA, hehe." Sakura mengambil pensil dari tangan Itachi, dan mulai membaca soal itu. Sakura membatu.
'HAH? Pelajaran anak SD seperti ini? Ini maksudnya apa? Duh gimana nih!'
Sakura panik. Kemudian ia menenangkan dirinya dalam hati.
'Ah, pede aja deh! dia kan anak SD, mungkin dibohongi sedikit ia akan percaya! Ayo Sakura, demi harga diri seorang anak SMA!'
"Oooh, ini pasti begini caranya, hohoohho..." Sakura memperlihatkan corat-coret asal-asalannya kepada Itachi. Itachi menahan tawa.
"Hmmmph... Hahahahaha... Kau yakin kau anak SMA? Sepertinya otakmu lebih rendah dari anak SD. Itu salah semua tahu, hahahaha! Bodoh. Kau tidak pantas menempati kamarku!" ejek Itachi. Setelah puas mengerjai Sakura, ia langsung berlari dan mencibir ke arah Sakura.
"Itachi! Tidak boleh seperti itu! Hei! Tunggu!" nasihat Mikoto. Lalu ia mengejar Itachi yang berlari.
"..."
Sakura terdiam. Ingin rasanya ia memukul anak itu, jika ia tidak ingat kalau dirinya hanya menumpang, tidak lebih. Yah, yang menerima dirinya disini mungkin hanya bibi saja.
'Hari ini, memang hari tersial di seumur hidupku...'
-
-Flashback end-
-
"Hn, pagi-pagi sudah berisik." gerutu Sasuke. Ia menuruni tangga dan langsung duduk di meja makan, melahap sarapannya hari ini.
"Kakak! Jangan begitu, tadi Sakura-chan hampir jatuh tahu!"
"Memang dianya saja yang bodoh."
"Kakak!"
"Eeh, sudahlah bibi, tidak apa-apa kok. Aku sarapan dulu ya."
Sakura duduk di depan Sasuke. Ia mengambil sarapan dan mulai melahapnya. Saat itu, Itachi turun dan mengambil tempat duduk di samping Sasuke. Ia menatap sinis ke arah Sakura. Sakura hanya menunduk, menerima tatapan sinis dari anak itu. Mikoto yang melihat suasana dingin di antara mereka, langsung mencairkan suasana.
"Ah, Kakak dan Sakura-chan kan satu sekolah, berangkatnya sama-sama ya!"
"Lho, aku gimana bu? Aku mau berangkat bareng kakak!" gerutu Itachi sambil menggembungkan kedua pipinya dan bertolak pinggang.
"Kamu sama ibu saja. Sudah-sudah, kakak, Sakura-chan, cepat pergi, nanti terlambat!" Mikoto memeluk Itachi agar ia tidak ikut pergi bersama Sasuke dan Sakura. Itachi tak sempat mengelak.
"Tidak mauuu! Aku mau sama kakaak!! Kakak tidak boleh pergi dengan orang bodooh!!" Itachi berusaha melepaskan pelukan ibunya yang menahannya agar tidak pergi, namun sayang usahanya sia-sia. Tenaga ibunya lebih besar daripada Itachi.
"Kakak, Sakura-chan! Cepat pergi sekolah, sudah mulai siang! Jaga Sakura-chan ya kakak!"
"Hn." Sasuke mempercepat langkahnya keluar rumah, meninggalkan Sakura.
"Eh tunggu! Aku pergi dulu ya bibi!" Sakura buru-buru menyamakan langkah Sasuke.
"Tidaaakkk!! Huaaaaaaaaa!! Kakakk tunggu!!" Itachi mengerang dan menangis sekencang-kencangnya.
"Hati-hati yaa!" pesan Mikoto sambil melambai-lambaikan sebelah tangannya.
BLAM.
Pintu rumah pun tertutup. Itachi masih berusaha pergi, namun masih di tahan oleh ibunya. Mikoto tersenyum. Lalu ia berkata kepada Itachi;
"Itachi, kamu jangan ganggu mereka berdua!"
-
"Sasuke tunggu aku!"
Sakura berlari, berusaha menyamakan langkahnya dengan Sasuke. Namun Sasuke tidak peduli, ia terus berjalan dengan langkah cepatnya. Sampai di stasiun, barulah Sasuke bersuara.
"Hei, kau jangan dekat-dekat denganku. Jangan mengikutiku."
"Hmp, kau itu genius tapi bodoh juga ya, sudah tahu kita ini satu sekolah! " gerutu Sakura. Ia buru-buru mengambil tiket kereta, lalu masuk ke dalam kereta yang sangat penuh sesak itu.
'Aduh. Ramai sekali... Aku sampai susah bernapas... umph, rasanya ada yang menarik-narik tasku. '
Sakura melihat ke arah tasnya. Ada seseorang yang berusaha menarik-narik tasnya. Pada saat itu, kereta berhenti di stasiun berikutnya, orang itu memanfaatkan keramaian kereta dengan keluar dari kereta sambil menarik tas Sakura. Sakura melihat Sasuke dengan wajah memelas, berharap Sasuke melihat ke arahnya dan menolongnya. Namun, Sasuke tidak melihatnya, sampai pada akhirnya ia kehilangan tasnya. Sakura meringis.
"Taskuuuuuuuuuuuuuuu!! " Sakura baru berteriak saat pegangannya lepas dari tasnya. Orang-orang di sekitarnya langsung menengok, namun karena kesibukan masing-masing, mereka tidak sempat menolong dan langsung mengalihkan pandangan mereka. Sia-sia jika dikejar pun, pencopet itu sudah jauh.
Sasuke hanya menengok ke arah Sakura. Lalu ia kembali membaca bukunya.
'Sasuke bodoh, tidak punya perasaan!'
-
"Hei tunggu, Sasuke Uchiha!"
"Sudah kubilang, jangan dekat-dekat denganku."
"Hei rambut ayam! Kau tidak punya perasaan ya? Tasku hilang! Kau bahkan tidak membantuku!"
"Itu sih kau saja yang bodoh. Berteriak saat tasmu sudah hilang. Dasar b.o.d.o.h." Sasuke mengatakan hal itu sambil berlalu.
JEGERR.
Sakura membatu. Hatinya bergemuruh. Bila dipikir, omongan Sasuke ada benarnya. Itu memang kesalahannya. Tapi cara penyampaian Sasuke begitu menyakiti hati Sakura.
'Hhh... Hatinya memang dingin sekali. Dasar Sasuke sial. Aku benci kamu!!'
Kemudian Sakura menuju kelasnya dengan langkah gontai.
-
"Sakura? Kau tidak apa-apa?! Kau tinggal dimana??"
"Tasmu dimana?"
Sesampainya di kelas, Sakura langsung di hujani pertanyaan-pertanyaan dari dua sahabat kentalnya, Tenten dan Temari. Sakura duduk dan mulai menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Aku tidak apa-apa... Sekarang aku tinggal di rumah kenalan ayahku.. lalu, tasku... huaaaa..."
"Ada apa Sakura?" tanya Tenten dengan wajah cemas. Ia mengelus punggung sahabatnya itu. Berusaha menenangkan Sakura.
"Kecurian?" tanya Temari singkat.
"Iyaa... aduh bodohnya aku... Ini juga gara-gara si Uchiha itu tidak mau menolongku!! Dia malah bilang aku bodoh!! Aku benci dia!!"
"Wah-wah, jadi kau tadi satu kereta ya? Dia memang berhati dingin sih. " kata Temari.
"Ah!! Pokoknya aku akan membalasnya!! Hahaha, aku akan mengalahkannya nanti saat ujian umum! " Sakura berdiri dan bertolak pinggang. Kedua sahabatnya terdiam. Memandang Sakura dengan tatapan tak percaya.
"Sakura... kau..." Tenten menatap Sakura dengan seksama. Begitu pun dengan Temari.
"Sakura..."
"Eh? Ahahaha, kalian pasti mendukungku kan?" jawab Sakura dengan percaya diri.
"..."
Hening sesaat. Tiba-tiba sebuah suara menggelegar memecah keheningan.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!" Temari tertawa sekencang-kencangnya, terlalu kencang sehingga dapat membuat pendengaran orang yang mendengarnya menjadi 'bagus'.
"Hihihihi..." sementara itu, Tenten tertawa cekikikan, masih berusaha menjaga perasaan Sakura.
"Lho? Kok?" Sakura memasang wajah linglung. Ia menggaruk-garukkan belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sakuraaaa... ya ampun, Sasuke tuh genius... Ahahahaha... Satu sekolah aja nggak ada yang bisa ngalahin dia! ahahahah..." jawab Temari akan kebingungan Sakura.
"Ka... kalau gitu, aku pasti bisa masuk 100 besar deh!! Enak aja Sasuke si rambut ayam itu bilang aku bodoh!"
"Hahaha... ya udah, selamat berusaha ya, ahahahaha..." kata Temari.
"Semangat Sakura! Harus bekerja sangat keras!" semangat Tenten.
"YOSH!"
-
-
'Lihat saja, Sasuke. Kau tidak bisa memanggilku bodoh lagi nanti!'
TBC
Gyaaa... maaf lagi.. saya nulisnya pas lagi error nih... hiks hiks... maaf kalo ngga seru... alurnya juga di lambatin dulu..
Eniwei, thx to all reviewers! Review kalian bener2 berharga!
Thx to Blackpappilon atas sarannya, juga sasunaru's anatomy alias oke, tapi udah terlanjur pake nama Shige untuk ayah Sakura, gapapa yah hehehe...
Oh ya, di sini saya menjadikan Itachi sebagai adik Sasuke, nggak ada yang keberatan kan??
Skali lagi, makasihh buat yang review, kasi saran, masukan, pendapat, flame skalipun gapapa asal bukan cuma untuk mengejek aja.
Jangan bosan mereview yah
Ja ne XD
.M4yura.
