hai! Mikasa kembali dengan fic. ini!

yow...saatnya bales review~~


- for Shira Nagisa Rire

iya nih, seleranya...iew..*ditabok Len*

L. Rayina: halah...kamu kan suka pairing Gakupo x Len x Kaito, idih...1 uke di keroyok 2 seme, uke nya Len lagi...iew...

Mikasa: *blushing* RAYINA! JANGAN BUKA AIBKU! dan...JANGAN MEMBUATKU KUMAT!

betewe, makasih atas pujiannya

ehehehe...ini udah lanjut kok

dan Mikasa gak nganggep flame kok, kalok menurut Mikasa flame itu meng-kritik dengan bahasa yang kasar :3, tapi ini enggak :D

terima kasih sudah me-review!


- for hikari-lenlen

eh...mati lampu?oh...no O_O

ini udah update kok

terima kasih sudah mau me-review!


- for Kurayami Nea

udah lanjut kok

makasih udah me-review


- for Yami no Ryou

ini udah lanjut, makasih udah review, fave sama alert!


- for Arrow-chan3

Len gak bunuh Rin kok, cuma neror doang

ini udah lanjut kok

makasih udah review :3


so, kita mulai aja


Desclaimer: Vocaloid bukan punya Mikasa, kecuali Mikasa berani beli perusahaannya

Warning: Typo, gaje, Shounen-ai, OOC, OOT, de el el

.

.

.

.

.

Enjoy and Happy Reading! :D


Rin POV

Hari ini waktunya pelajaran dari Gakupo-sensei, hei! Jangan kalian pikir aku ini lancang ya! Gakupo-sensei sendiri yang menyuruh ku dan murid lainnya memanggilnya dengan sebutan Gakupo-sensei. Katanya juga sih Gakupo-sensei adalah murid Voca HighSchool angkatan 1928, dan apa mungkin…Gakupo-sensei adalah orang yang di maksud dalam tulisan darah itu!? Ti-tidak…tidak mungkin…

Aku lupa bilang…kelasku dipindah sementara…karena di kelasku diadakan pemeriksaan…haahh…tapi gapapa, kelas ini sama nyamanya kok…aku tetap bisa melihat halaman belakang…tapi…jangan sampai aku ketemu sama hantu pria pirang itu…hiihh…tapi…aku juga curiga…apa Luka mati karena hantu itu ya? Ah…udah…jadi serem sendiri mikirnya

Aku melihat keluar jendela…pemandangannya masih normal…pohon sakura yang bermekaran…bangku taman yang terlihat indah…dan…what…bayangan pria pirang tadi…ohh oke…ini udah gak normal, aku pun langsung menghadap papan tulis.

"bayangan apa tadi?". Gumamku

Karena penasaran aku pun melihat kembali keluar jendela…dan pemandangan-nya berbeda dari yang aku lihat…pemandangan ini sungguh menyeramkan…

Langit menjadi merah…dan matahari menjadi berwarna hitam(Mikasa: whuat!? Sejak kapan matahari warnanya hitam!?), pohon Sakura menjadi pohon kayu yang ambruk dan melapuk, serta kursi taman yang sudah patah menjadi dua, aku melihatnya lagi…hantu pria pirang itu…menyeringai sambil membawa pisau berkarat.

Aku mulai ketakutan…aku gak bisa fokus ke pelajaran Gakupo-sensei…sontak aku langsung memegangi kepalaku. Akupun mendengar suara…

"aku akan membunuh semuanya…"

a-apa? Membunuh semuanya? Kenapa?

"hatiku sakit…aku ingin melampiaskan rasa sakit ini ke kalian semua…"

Ku-kumohon jangan…jangan membunuh nyawa orang yang gak terlibat dalam kasusmu…

"korban kedua…Lenka Kagamine…nee-chanku yang paling baik ini akan pergi…"

Lenka Kagamine…Lenka Kagamine-sensei akan dibunuh!? Tapi…kenapa…?

"aku akan menghancurkan semuanya…bunuh…bunuh…Lenka Kagamine…"

"TIDAAAKKKK!"

Tanpa sadar…aku pun berteriak…aku gelagapan…apa yang akan kukakatan pada Gakupo-sensei? Semua murid melihatku.

"Kagamisaku-san? Ada apa?". Tanya Gakupo-sensei

"a-aku…aku…dihantui…sensei…maaf…aku melamun di tengah pelajaran anda…". ucapku sambil membungkukkan badan

"kau tidak melamun Kagamisaku-san…aku tahu…kau sedang di terror…". Ucap Gakupo-sensei

Tunggu…bagaimana sensei tahu? Ini sudah tidak masuk akal! Aku sudah bingung dengan kejadian ini.

"sensei…bagaimana-"

"baiklah kita lanjutkan pelajarannya". Sial…Gakupo-sensei memotong pertanyaanku


SKIP TIME!

Istirahat

"Gakupo-sensei!". Teriakku

"ada apa Kagamisaku-san?". Ucap Gakupo-sensei kebingungan

"sensei…gawat…korban selanjutnya adalah….Lenka Kagamine-sensei!". Ucapku dengan nada ketakutan

"a-apa!? Bagaimana kamu tahu?". Ucap Gakupo-sensei panik

"aku mendengarnya suaranya mengatakan 'korban kedua…Lenka Kagamine…nee-chanku yang paling baik ini akan pergi…' Begitu sensei…sebaiknya sensei hari ini jangan pulang dulu…jaga Lenka-sensei…". ucapku ketakutan

"ba-baiklah…terima kasih atas infonya…". ucap Gakupo-sensei lalu berlari tergesa-gesa

Aku hanya menghela nafas lega, setidaknya mungkin tidak ada lagi korban setelah ini…

"kau pikir dengan kau bilang ke Gakupo maka Lenka-nee chan akan selamat? Hahaha…tidak…aku akan selangkah lebih cepat dari Gakupo…"

a-apa!? G-gawat…ini tidak bisa dibiarkan…aku hanya berdoa…agar Lenka-sensei selamat…


Another place

Normal POV

Di tempat itu…pria berambut ungu itu tergesa-gesa, berlari menemui pria berambut biru ocean.

"KAITO! Gawat! Ini gawat!". Ucap pria berambut ungu itu

"ada apa Gakupo?". Ucap pria yang dipanggil Kaito

"korban selanjutnya…Lenka…". ucap pria yang dipanggil Gakupo itu

"APA!? Lenka?! Kenapa?! Lenka kan…kakak Len sendiri…". ucap Kaito cemas

"aku juga tidak tahu…lebih baik aku pulang malam hari ini…". Ucap Gakupo

"aku serahkan ini semua kepadamu Gakupo…". ucap Kaito

"baiklah…". Gakupo mengangguk

Suara itu…datang lagi…

"Gakupo…Kaito…jangan harap kalian bisa melindungi Lenka-neechan…aku akan membunuh semuanya…"

"Len! Hentikan semua ini! Aku tidak mau ada korban berjatuhan lagi!". Teriak Kaito

"hidup kalian takkan tenang…sampai kapanpun!"

"Len!"

Sosok itu muncul lagi, pria berambut pirang dengan muka yang hancur, kulit putih pucat seperti mayat, tangan kirinya putus dan tangan kanannya memegang pisau berkarat, hantu itu memakai pakaian Voca HighSchool pria. Dia menyeringai dan menangis…

"Gakupo…Kaito…Aishiteru wa…". ucapnya sambil menangis, bukan air bening yang dikeluarkan. Namun cairan merah yang keluar dari matanya…DARAH…ya…pria pirang ini menangis DARAH…

"aishiteru mo…Len…kumohon jangan lakukan ini…". ucap Kaito

"gomen ne…kalian membuat hatiku sakit…". sosok hantu pirang itu menghilang

"LEN!"


SKIP TIME!

Pulang sekolah

Lenka POV

Semua murid sudah pulang, hanya tinggal aku dan beberapa guru yang ada di sini. Yap, aku adalah guru di Voca HighSchool ini, lebih tepatnya guru fisika. Jika ada yang bilang aku murid Voca HighSchool angkatan 1928…itu benar. Hampir semua guru disini adalah murid angkatan 1928.

Kenapa aku belum pulang? aku mempunyai berkas dokumen yang belum aku tandatangani, lalu menilai ulangan murid-murid…jadi aku akan pulang malam hari ini.

"haahh…"

Aku menghela nafas berat…sudah banyak korban yang berjatuhan di sekolah ini. Tadi pagi, Luka Megurine, murid kelas 10-10 mati di kelasnya sendiri. jangan kira aku tidak tahu, semua guru tahu akan kasus itu, bahkan dijadikan topik pembicaraan di ruang guru.

Aku tahu penyebabnya apa…Len…ya…adikku…dia bunuh diri, tapi aku tidak bisa menyalahkan Gakupo dan Kaito. Len…adikku tercinta…kenapa kau pergi secepat ini?dan kenapa arwahmu penasaran dan haus darah seperti ini?

"sudahlah Lenka…berhenti menyesali sesuatu…sekarang selesaikan tugasmu dan pulang!".

Dan aku pun mulai bekerja, mendatangani dokumen-dokumen yang menumpuk. Menilai ulangan murid-murid. Sampai Gakupo-kun datang

"Lenka-san…".

"oh…Gakupo-kun…kukira siapa…ada apa?". Tanyaku, aku sedikit menoleh padanya, setelah itu fokus ke dokumenku

"tidak…tidak ada...mau aku buatkan teh atau kopi?". Tawarnya

"ah…jadi merepotkan…tapi...yasudahlah…aku mau kopi saja…". Ucapku lembut

"yasudah…tunggu disini…". Gakupo pun meninggalkanku

Belum ada 5 menit, suasana menjadi hening dan mencekam. Aku akui jika sekolah ini sudah malam maka akan menjadi sangat menyeramkan. Karena ada beberapa tempat yang tidak diberi penerangan, katanya sih…untuk menghemat biaya. Karena ada beberapa ruangan yang menggunakan AC.

Matahari semakin tenggelam, dan kini sosok bulanlah yang terlihat malam ini. Bulan purnama yang terlihat menerangi malam ini, sekilas aku sedikit takut…tapi…aku harus menyelesaikan dokumen ini, jika tidak aku bisa dipecat. Menjadi guru di sekolah ini merupakan impianku sejak dulu, apa karena Len maka aku akan meninggalkan dokumen ini? Tidak…lagipula…Len kan adikku, mana mungkin dia membunuh kakaknya sendiri.

Satu persatu dokumen telah selesai…kini…aku mengoreksi ulangan murid-murid. Disaat itulah aku mendengar suara…

"nee-chan…Lenka-neechan…tolong aku…"

Aku mengenal suara itu…suara yang bertahun-tahun lamanya tidak aku dengarkan…suaranya yang lembut itu…

"Len?"

"nee-chan…tolong aku…onegai…".

"Len…kau…dimana?". aku pun berdiri dari kursiku…

Aku pun mulai berjalan meninggalkan ruang guru, berjalan menuju asal suara itu. Aku penasaran…masih dapatkah aku bertemu dengan Len?

"nee-chan…tolong aku…onegai…". suara itu makin jelas

Aku semakin mempercepat jalanku, sesekali melihat keadaan sekeliling, bodoh…untuk apa aku mengikuti suara itu…ingin rasanya aku kembali ke ruang guru. Tapi…jalanan semakin gelap, susah untuk mencari ruang guru. Jadi aku hanya bisa berjalan mencari asal suara itu…aku penasaran…

"kemarilah nee-chan…aku butuh bantuanmu…". suara itu datang lagi

Apakah aku harus mengikuti suara itu? Atau…kembali?


Di ruang guru

Gakupo POV

Aku harap Lenka masih ada di ruang guru, aku tak mau ada korban yang berjatuhan lagi…

"Lenka-san…ini kopi-nya…Lenka-san?". Nihil…Lenka tidak ada, ini gawat

Aku pun meletakkan secangkir kopi itu di dekat meja guru Lenka, dan berlari mencari Lenka…


Back to Lenka place

Lenka POV

"disini nee-chan…masuklah…"

"Len? Kau dimana?". Ucapku

Aku melihat sekeliling, mencari asal suara…di malam yang gelap gulita ini…aku mencari asal suara itu. Aku bingung…apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku masih bingung.

Satu-persatu aku lihat…tempat yang remang-remang ini…ya…aku berada di koridor…salah satu tempat yang tidak di beri penerangan, hanya cahaya bulanlah yang menerangi koridor itu.

"disini neechan…masuklah"

Aku menemukan sebuah pintu…karena aku penasaran aku pun memasuki pintu itu…ternyata kamar mandi pria, aahh…aku tak peduli, toh ga ada orang kan? Aku pun melihat sekeliling kamar mandi pria itu, mencari asal suara itu.

"hiks…tolong…onegai…"

Suara itu…Len…dia menangis…aku pun mencari sosok Len…ketemu…dia sedang terduduk, mata biru shappire-nya yang indah, rambut pirangnya bagaikan emas menutupi rambutnya, kulit putih pucat seperti boneka porselen, dan…seragam Voca High School pria yang masih diapakainya. dia hantu? Aku berpikir dia adalah malaikat! Namun…matanya sembab, seperti habis menangis, raut wajahnya menampakkan kesedihan yang teramat dalam.

"nee-chan…onegai…tolong aku…hiks". Len…dia menangis

"apa yang bisa nee-chan bantu Len?". Ucapku sambil menepuk pundaknya

"aku ingin…membunuh nee-chan…". A-apa!?

Tiba-tiba wajahnya yang bersih itu berubah menjadi wajah yang hancur, pergelangan tangan kirinya menjadi putus dan tangan kanannya memegang pisau yang berkarat, aku tahu…itu adalah pisau yang digunakan untuk memotong pergelangan tangannya dulu.

"d-doushite? Apa salah nee-chan Len?". Aku berusaha untuk tidak berteriak

"salah nee-chan? Tidak ada…aku hanya ingin melampiaskan rasa sakit ini…sakit yang bersemayam di hatiku ini...harus kupelampiaskan...". ucap Len sambil menodongkan pisaunya kearahku, untung saja aku masih bisa menghindar

Aku tidak mengerti, apa salahku? Kenapa Len sangat ingin membunuhku? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatnya terluka?(Mikasa: wuh! dasar Amnesia permanen!)

Aku pun berpikir panjang, dan akhirnya, aku mengerti…pasti sakit jika cinta-nya tak terbalaskan begitu…aku pun hanya tersenyum pasrah dan menatap wajah hancur Len, aku menatap wajah itu lama…aku pun dapat melihat wajah aslinya yang bersih , cantik, dan mulus itu walau cuma sekilas.

"Len…jika kau ingin membunuh nee-chan…lakukanlah…tapi…kuharap kau cepat tenang…jangan melibatkan orang yang tidak bersalah dalam masalahmu…". ucapku, kuharap Len bisa mengerti

"maaf nee-chan…aku masih belum bisa tenang sekarang…tapi aku yakin….suatu saat pasti aku bisa tenang…". ucap Len sambil tersenyum, walau wajahnya hancur aku masih bisa melihatnya tersenyum

JLEB

Len menusukkan pisaunya ke jantungku, aku merasakan sakit yang pedih sesaat. Setelah itu aku tersenyum…dan menutup mataku. Aku tidak merasakan apapun sekarang, tenang, dan serasa melayang. Dengan kata lain…aku mati…

.

.

.

.

Aku kini bisa melihat jasad-ku yang hancur lebur dimana-mana, kepalaku yang ditancapkan di salah satu keran air, darah yang bercipratan kemana-mana.

Aku juga melihat wajah asli Len, sama seperti dulu, wajahnya yang cantik untuk seorang pria (shota), kulitnya yang seputih boneka porselen, mata biru shappire-nya yang indah bagai permata. Dia melihatku…dan…tersenyum tulus…lalu mengatakan sesuatu.

"aku pasti akan menyusul…nee-chan…gomen…". ucapnya Lembut, suaranya lembut-nya yang sekian tahun lama-nya tak aku dengarkan

"aku akan menunggumu di alam sana…Len…cepatlah menyusul nee-chan…". itulah kata terakhirku

Perlahan…aku memiliki sayap di punggungku, lalu sayap itu mengembang dan mulai mengepak. Lalu aku terbang menuju….tempat yang lebih tenang…selamat tinggal dunia…dan…Len…


Gakupo place

Gakupo POV

Aku sedang mencari Lenka, aku takut terjadi apa-apa dengan Lenka. Aku sudah memasuki seluruh ruangan…kecuali satu…kamar mandi pria, aku mulai masuk kedalam pintu kamar mandi pria tersebut…dan…apa yang ku lihat?

Potongan tubuh Lenka yang terpisah-pisah, dan kepala Lenka yang ditancapkan di salah satu keran air, aku melihatnya. Sosok pirang itu, sosok yang tak asing itu, dia menghadap ke arah bulan, rambut pirangnya yang indah itu disinari oleh beningnya cahaya bulan.

"Len…". gumamku

"sudah datang? Kau terlambat Gaku-chan…". dia masih tak menoleh ke arahku

"Len…kau membunuh kakakmu sendiri?". tanya Gakupo

"hantu tak membeda-beda kan mana yang akan dibunuh…walau itu adalah kakaknya sendiri…". dia menoleh ke arahku

Wajah hancurnya terlihat kembali, pergelangan tangan kiri-nya yang putus, dan pisau yang dibawanya terdapat bercak darah yang menetes, aku yakin itu adalah darah Lenka.

"kau mau menulis apa lagi? Dengan darah nyawa orang tak terlibat denganmu?". Tanya ku

"entahlah…aku juga bingung…khukhukhu…". jawabnya dengan sedikit tawa psikopat

"sudahlah Len...berhenti membunuh orang-orang...aku lelah melihat orang-orang terdekatku mati begitu saja karenamu!". Ucap Gakuo tegas

Yak, Luka Megurine adalah anak dari sahabat Gakupo, Luki Megurine. Dan sedangkan Lenka adalah temannya ketika ada tugas OSIS dulu. Dan kini? Mati ditangan Len dengan mudahnya.

Len menutup matanya sejenak, kemudian mata shapire-nya berubah menjadi berwarna merah darah. Menatap Gakupo dengan horror, tajam, dan menakutkan.

"KAU TIDAK TAHU APA-APA GAKUPO! DIAMLAH!". Bentak Len, raut wajahnya terlihat marah

Gakupo terdiam, Gakupo sama sekali tidak takut dengan hantu yang kini berada di hadapannya. Karena...hantu itu adalah laki-laki yang dicintainya, namun karena masalah gender Gakupo menolak Len.

"Luki...dulu Luki pernah membully-ku, apakah kau tahu itu? Hahaha...bodoh kau Len, mana mungkin Gaku-chan tahu itu? Makanya, aku membunuh anaknya, supaya dia tahu betapa sakitnya aku ketika dibully...". Uca Len mengatai diri sendiri sambil menjendul kepalanya, darah yang ada di tangan Len...membekas dirambutnya

Gakupo tersentak, ia sama sekali tak tahu akan hal itu, Kemudian Len berucap kembali.

"Lenka-nee chan ya? Dulu, sebelum nee-chan kecelakaan dan Amnesia permanen, nee-chan pernah mengurungku di gudang dan tidak memberiku makan selama sehari...apakah kau tahu akan hal itu? Hmm?". Ucap Len

Gakupo membelalakkan matanya, dia betul-betul tidak tahu kalau Lenka sebelum Amnesia kejamnya bukan main seperti itu.

"masih banyak lho...orang yang membuat-ku menjadi seperti ini...". ucap Len

"lalu...bagaimana dengan Rin Kagamisaku? Kenapa kau menerornya?". Tanya Gakupo

"oh...gadis pirang itu ya? Aku hanya memberinya petunjuk, dia bukanlah keturunan dari orang-orang yang menyakitiku...jadi aku takkan membunuhunya". jelas Len

"Len...kumohon...jangan jadi orang pendendam seperti ini...". ucap Gakupo

"hah...sebaiknya kau pulang Gakupo, hari sudah larut malam, tugasmu telah gagal kau lakukan...". ucap Len lalu menghilang begitu saja

"TU-TUNGGU! LEN!". Ucap Gakupo


Esok harinya

"WAAAA! MAYAT SIAPA INI!?". Ucap Piko Utatane

Guru-guru dan muris-murid lainnya mendatangi kamar mandi pria itu, darah berciratan dimana-mana, potongan-potongan tubuh seorang guru (Lenka) terpisah secara acak. Sungguh menyeramkan...

Semua guru menutup mulutnya yang menganga itu dengan tangan mereka masing-masing, sedangkan murid yang perempuan itu menjerit histeris.

"Kagamine-sensei...ini...mustahil...". gumam Miku

"Lenka Kagamine-sensei...". gumam Rin

Sedangkan dua sensei itu hanya memasang raut wajah menyesal.

"aku terlambat...". ucap sensei itu

"tak apa, mungkin kita bisa menyelamatkan korban lainnya". Ucap sensei yang lainnya

.

.

.

.

.

bersambung


yow! kembali bersama Mikasa!

hee...ternyata banyak juga yang ingin aku melanjutkan fic. ini

L. Rayina: geer mu loh gede (geer mu loh besar)

Mikasa: hee! jangan pakai kata-kata keseharianku! dasar gak kreatif!

L. Rayina: *pura-pura gak denger*

ee...hehehe...aku update cepet soalnya Chapter 2 udah selesai dari dulu, jadi tinggal mengubah kata-kata.

baiklah, Mikasa gak maksa ente-ente pada buat review

boleh review kritik dan saran asal jangan FLAME! BRO! DON'T FLAME!

oke sampai jupa di chapter selanjutnya!