Tell Me About Happiness and About Love


Genre: Romance/Hurt-Comfort/Tragedy

Rated: T

Warning: Pshycology, Self-Injury, OOC(as always), Typoo's, AU, DLDR, dll

Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto

Tell Me About Happiness and About Love©Yara Aresha


Chapter 1


Menjelang musim gugur, langit kota Tokyo seringkali tampak kelabu. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 13.15. Tampaknya sebentar lagi hujan akan turun. Uchiha Sasuke menatap langit dengan pandangan kosong dari balik jendela kamar di gedung apartement mewah yang ia tempati, laki-laki berusia 17 tahun itu tidak pernah menyukai hujan.

Gelapnya langit membuatnya cemas, gelisah dan kembali mengingat memori lamanya yang ingin ia hapus dari dalam benaknya. Ia kemudian beranjak ke arah laci yang ada di samping kasur king size-nya, membuka laci itu dan mengambil sebuah pisau lipat di dalam sana. Setelah itu, ia meringkuk di bawah lantai yang beralasan karpet beludru merah.

"Arghh…" rintihan demi rintihan mengalun merdu dari mulut siswa kelas 2 SMU itu saat ujung pisau lipat yang tajam sedikit demi sedikit menggores tangannya―untuk yang kesekian kalinya. Darah segar mengalir, menetesi baju putihnya yang sedari pulang sekolah tidak ia ganti. Membuatnya yang semula putih bersih menjadi kotor oleh darah. Ia sama sekali tidak peduli. Entah bagaimana jadinya jika ia melakukan hal itu terus menerus, mungkin tangannya akan terluka parah dan ia akan mengalami pendarahan yang hebat. Namun, tentu saja seberapa besar rasa sukanya ia menyiksa dirinya sendiri, akal sehatnya masih berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak akan menyakiti dirinya sampai terluka parah, mungkin. Siapa yang tahu, jika setan telah berkuasa.

Baginya, menimbulkan rasa sakit pada tubuhnya adalah kesenangan tersendiri. Mengeluarkan erangan kesakitan saat tangannya tersayat, merintih menahan sakit saat pisau itu menusuk kulitnya yang mulus, ia sama sekali tidak peduli. Karena sekali lagi ini adalah hal yang menyenangkan untukknya.

Bukan hanya kali ini saja ia dengan sengaja melukai dirinya sendiri seperti ini. Sejak hari 'itu', beberapa tahun silam. Saat kejadian 'itu' tubuhnya menjadikan rasa sakit yang ia rasakan menjadi candu. Sakit itu berubah menjadi suatu kenikmatan. Bukan tanpa alasan pula ia melakukan hal itu, hanya orang gila yang melakukan hal itu tanpa nalarnya. Meskipun ia tahu betul bahwa ia tidak jauh berbeda dengan orang-orang gila diluar sana, namun tentu saja ia berbeda. Akalnya masih berjalan, ia pun masih sanggup mempertahankan predikat siswa terpandai di sekolahnya, ia masih sanggup mempertahankan eksistensi dirinya yang diluar dikenal sebagai seorang jenius.

Setiap perbuatan pasti ada alasannya, bukan? Dan alasannya melakukan semua itu adalah―

.

.

.

Ting tong... Ting tong...

Bel apartement bernomor 201 itu berbunyi, membuat kegiatan sang empunya terinterupsi. Ia mendecak kesal karena kenikmatannya terhentikan sementara. Ia simpan pisau lipat yang sudah ia bersihkan itu kembali ke dalam laci dan ia menyempatkan dirinya untuk menjilat aliran darah di lengannya. Ia bangkit dan melihat keluar apartement menggunakan CCTV yang ia pasang di kamarnya. Terkejut melihat siapa yang datang, ia berniat mengurungkan niatnya untuk membukakan pintu. Namun lagi-lagi bel berbunyi dengan lancangnya, kali ini diikuti dengan pukulan-pukulan yang lumayan keras. Oh, ayolah itu apartement mahal. Kau tidak seharusnya merusak property itu kan tuan?

"Sial, kenapa dia datang kesini?" rutuk laki-laki berambut raven dengan model yang tidak lazim itu, "sebentar, kau mau merusak pintu apartement-ku hah?" teriaknya.

"Makanya cepat buka pintunya! Jangan pura-pura sembunyi, dasar menyebalkan." balas suara laki-laki diluar sana dengan teriakannya juga.

"Ck, tunggu!"

Sasuke berjalan dengan gontai, raut kesal tercetak dengan jelas di wajah tampannya.

Cklek

Pintu pun terbuka, menampakkan seorang laki-laki dengan kedua tangannya yang ia lipat diatas dada. Menatap sang pemilik apartement dengan sengit dan bosan.

"Kau melakukannya lagi eh Teme?" tuding laki-laki yang tak kalah tampan dengan si pemilik apartement seraya membenarkan letak kacamata tanpa frame-nya yang hampir 4 tahun menemaninya itu. Sang pemilik apartement atau laki-laki bernama Sasuke itu tersenyum sinis, "kau tahu aku dengan baik Naruto," jawabnya.

"Yah, sampai kau mati baru kau akan merasa puas?" Balas laki-laki bernama Naruto malas, ia langkahkan kakinya memasuki apartement mewah itu dan duduk tanpa permisi diatas sofa. Sasuke mengikutinya dari belakang dan ikut duduk di sisi sofa yang lainnya.

"Aku tidak akan mati dengan cara menjijikkan seperti itu Dobe."

"Yayaya... Kau harusnya mengikuti saranku Sasuke, kita harus bertemu dengan psikiater. Aku khawatir 'penyakitmu' itu membuatmu lebih menderita dari ini, lihat kalau aku tidak datang mungkin pergelangan tanganmu sudah putus dan kau mati sia-sia di apartement-mu sendiri." Ucap Naruto dengan tatapan horror.

"Aku tahu Naruto, tapi mungkin aku bisa mati jika aku tidak menyakiti diriku sendiri seperti ini. Kau tahu bagiku ini seperti sumber kehidupan, dan aku benci akan kenyataan ini. Ini semua gara-gara tua bangka brengsek itu."

"Aku mengerti, tapi tidak ada salahnya jika mencoba jalan ini kan? Aku hanya ingin kau kembali normal seperti dulu, tidak seperti ini." Sasuke nampak mepertimbangkan ajakan Naruto, sahabatnya.

Namikaze Naruto sahabat Uchiha Sasuke dari sejak di dalam kandungan, itulah yang Naruto katakan kepada hampir semua orang yang menanyakan apa hubungannya dengan Sasuke. Naruto merupakan anak dari perdana menteri Jepang.

Kedua orangtua Naruto dan Sasuke merupakan kerabat dekat, sudah sejak kandungan Naruto dan Sasuke saling diperkenalkan oleh kedua orangtuanya. Mereka selalu bersama hingga menginjak dewasa, orangtua Naruto pun tidak perlu berpikir panjang untuk memanjakan Sasuke dan menampung Sasuke jika Sasuke mengalami kesusahan. Apalagi sekarang Sasuke hanya tinggal sendirian, kedua orangtuanya sudah lama meninggal.

"Dobe, tebak hari ini ada kejadian apa di sekolahku?" ucap Sasuke yang baru saja kembali dari arah dapur dengan dua cangkir teh madu ditangannya.

"Hm? Apa? Kau ditembak cewek lagi? Benarkan?" balas Naruto seraya mengambil teh madu yang diberikan Sasuke, "thanks," sambungnya.

"Hn, dan kau tahu siapa orangnya?" Naruto menautkan alisnya, "hey, jangan bilang kalau orangnya itu―"

"Hn, dia orangnya. Tentu saja aku menolaknya. Menolaknya dengan tidak bermoral," katanya memotong ucapan Naruto.

"Great Teme... Kau menolaknya lagi. Dia itu cewek yang kau taksir sudah hampir selama 7 tahun dan kau semudah itu menolaknya dengan kata-kata yang kau bilang tidak bermoral? Aku tidak habis pikir." Balas Naruto, raut wajahnya mendadak tampak kesal.

"8 tahun Naruto, kau tahu benar apa alasanku menolaknya bukan? Aku benar-benar muak dengan diriku sendiri Naruto. Aku lelah hidup seperti ini."

"Tak ada pilihan lain, secepatnya kita harus menemui seorang psikiater Sasuke." Sasuke hanya menundukkan kepalanya.

"Tenanglah, semua pasti bisa diatasi." Naruto tersenyum dan menepuk pundak Sasuke.

.

.

.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Malam kembali menyapa dengan udara yang terasa begitu dingin. Malam ini adalah malam terdingin di penghujung musim panas. Hujan yang turun sejak siang tadi kini hanya menyisakan genang-genangan di atas permukaan tanah. Haruno Sakura mengancingkan cardigan rajutnya yang berwarna hijau tosca cerah, agar tubuhnya terasa lebih hangat. Ia baru saja menjejakkan kakinya di halaman depan rumahnya. Memarkir sepedanya dengan sembarangan dan melangkah masuk ke dalam rumah bergaya tradisional Jepang itu. Ia berjalan lesu di atas lantai tatami yang terasa hangat itu, menyusuri kotak demi kotak. Hanya satu yang ada dipikirannya saat ini, ia ingin cepat sampai di kamar tidurnya. Ia melangkah tanpa suara, tidak ingin mengganggu anggota keluarganya yang mungkin sudah tertidur. Untung saja ia membawa kunci cadangan. Saat itu jam menunjukkan pukul 23.15 waktu setempat, ia harap semuanya sudah tertidur pulas. Ia lewati ruangan gelap yang mendominasi rumahnya, tak berniat menyalakan saklar. Namun, baru saja ia menginjakkan kakinya di pijakan tangga pertama, ruangan itu menjadi terang dan membuat penglihatannya sedikit terganggu.

"Sakura, darimana saja kamu?" ucap seorang wanita berusia 23 tahunan itu dengan suara kecil.

"Er... Kakak, maaf aku tadi terlalu asyik di rumah teman dan lupa pulang." Balas Sakura.

"Kau membuat ayah dan ibu cemas, untung aku pulang cepat. Tadi aku katakan kalau kau menginap dirumah temanmu, kamu ini kenapa tidak memberi kabar sih?"

"Maaf kak, aku ceritakan nanti. Aku lelah, ngantuk. Terimakasih juga sudah membantuku kak, malam!"

"Ck, anak itu..."

.

.

.

Sakura melanjutkan perjalanannya menuju kamar. Ia terdiam di depan pintu kamar itu. Entah sedang memikirkan apa, lalu setelah terdiam beberapa menit ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.

"Sampai rumah aku malah ingin menangis lagi. Harusnya tadi aku diam ditempat Ino saja, huhu."

Sejak 2 tahun yang lalu ada seorang laki-laki yang menarik perhatian Sakura. Dia bernama Uchiha Sasuke. Sejak pertemuan pertamanya dengan pemilik iris onyx itu, Sakura sudah menaruh hati padanya, berulangkali ia mengatakan perasaan suka padanya, meskipun mereka tidak begitu akrab, hasilnya selalu sama, penolakkan! Sasuke sangat sulit untuk didekati. Padahal Sakura merupakan orang yang sangat mudah bergaul dengan siapapun. Tapi rasanya Sasuke memberinya tebing yang sangat tebal yang sulit untuk dilampaui.

Ia sedikit terganggu dengan angin malam yang berhembus cukup kencang, menyapu rambut panjang gadis yang tengah patah hati itu, rupanya jendela kamarnya tidak tutup. Ia bangkit dari tidurnya, menikmati pemandangan malam di balkon kamar yang cukup besar itu. Kemudian, matanya menyipit saat pandangannya menangkap sesuatu yang sangat ia kenali dengan jelas, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan memekik tertahan, "Sasuke-kun?"

.

.

.

to be continued


AN: Moshi-moshi... ^^ terimakasih untuk yang mereview sebelumnya. Sekedar info dan menjawab pertanyaan dari Silla-san, cerita ini pernah saya publish di lapak tetangga. Dengan chara original saya. Tapi saya lupa pasword untuk akun itu... Lama ga di buka, dan memutuskan untuk membuat Naruto Versionnya saja T^Ta *geplak* jadi ini bukan plagiatisme atau semacamnya XDa untuk yang log-in saya balas via PM ya... Terimakasih atas dukungannya ^^a satu lagi, alesan Sasuke kaya gitu akan dijelaskan di chapter mendatang.

untuk sasusaku kira, Silla dan lilianne : Terimakasih ya ^^ self-injury bisa juga di sebut masokis, cuma kalo masokis menurut literatur yang saya baca lebih ke kelainan sexual.. :Da