ast:
Cho Kyuhyun (F)
Choi Siwon (M)
Pair: WonKyu
Support cast: Leeteuk, Shindong
Warning: OOC, Typo(s), GS.
Genre: Romance
Rated: T
Siwon P.O.V
Way Back Into Love
I've been living with a shadow overhead
I've been sleeping with a cloud above my bed
I've been lonely for so long
Trapped in the past, I just can't seem to move on
Aku tidak lagi mengenal akan sebuah rasa bernama cinta, setidaknya sebelum kedua orang tuaku meninggal dibunuh oleh kakak dari ummaku dan adikku terbunuh dalam sebuah insiden kecelakaan yang juga direncanakan oleh orang yang sama.
Aku tidak lagi menampakkan sebuah senyum tulus di bibirku, setidaknya sebelum semua kebahagiaanku terenggut secara beruntun di usiaku yang masih terbilang cukup muda, 10 tahun.
Aku tidak lagi merasakan sebuah kasih sayang tulus, setidaknya sebelum seluruh keluarga meninggalkanku seorang diri. Yang ada di dekatku hanyalah orang-orang yang selalu menampakkan kepalsuan demi harta, dan popularitas yang kumiliki.
Aku tidak lagi memandang dengan pandangan hangat dan bersinar seperti dulu, saat seluruh keceriaan dan kebahagiaan itu masih ada dalam kehidupan masa kecilku yang memang harusnya masih diisi dengan hal-hal yang menyenangkan, bukan oleh berita kematian keluarganya, kepalsuan kasih sayang, dan perjuangan untuk hidup mandiri di negeri orang.
Dan inilah aku sekarang.
Seorang Choi Siwon, artis dan pianis tenar dengan kesibukan yang padat dan tentu saja, penghasilan yang tidak dapat dikatakan sedikit.
Seorang publik figur yang selalu tersenyum palsu di depan orang-orang dan media. Seorang yang menurut mereka selalu bersikap ramah dan hangat meskipun itu hanyalah topeng belaka.
Inilah aku yang berubah dan masih terbayang oleh masa lalu. Yang selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dengan tujuan meminimalisir waktu untuk mengingat masa lalunya. Untuk meminimalisir bersosialisasi dan berurusan dengan orang lain.
Aku sebenarnya tak pernah peduli, entah apa yang mereka pikirkan, mereka lakukan, atau yang lainnya. Dan aku tak pernah tertarik dengan itu semua. Ya, mungkin sebelum hari itu. Hari dimana aku menemukan sosok yang entah sok tidak peduli, berpura-pura peduli, atau memang benar-benar peduli.
.
.
I've been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I've been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind
Kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal di jam sibuk-sibuk seperti ini. Syuting dilakukan sore nanti, mencari scene sunset di sebuah pantai. Jadi, disinilah aku sekarang, di gereja terdekat dengan rumahku.
Kupilih tempat duduk di deretan kursi panjang di bagian tengah dengan memilih posisi berada paling pinggir kanan. Kupanjatkan doa, mencoba agar tidak terganggu dengan sikap orang yang berlalu lalang, yang selalu menatapku lama terlebih dahulu atau berbisik-bisik.
Hah, apakah mereka tidak pernah melihat seorang artis atau orang terkenal datang ke gereja untuk berdoa?
Aku semakin menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahku agar tak dikenali orang. Aku merutuk dalam hati ketika seseorang duduk di kursi yang sama denganku, hanya saja ia berada di pinggir paling kiri. Ia langsung duduk dan berdoa, tanpa menoleh atau melirik ke arahku terlebih dahulu.
Selesai berdoa, kulirik orang itu.
Cantik.
Gadis berambut panjang bergelombang itu tampak sangat cantik dengan dress putih dirangkap blazzer babyblue. Rambutnya yang sebagian dibiarkan terurai sedikit menutupi pipi putih pucatnya yang cubby. Bibirnya berwarna merah dan oh! jangan lupakan dengan bulu mata lentik itu.
Aku buru-buru kembali ke posisi awalku ketika melihat gadis itu sudah selesai berdoa. Ia memandang ke depan sesaat, tersenyum simpul sebelum akhirnya bangkit berdiri dan keluar.
"Kyuhyun-shi, itu, bukankah Choi Siwon yang duduk di sampingmu tadi? Artis terkenal itu kan?" aku bisa mendengar seseorang menyapanya tak jauh di belakangku.
"Ah, ne,"
"Kau tidak ingin menyapanya?"
Aku tak mendengar jawaban gadis itu atas pertanyaan tadi. Yang kudengar berikutnya justru pertanyaan gadis itu mengenai usaha yang tengah orang itu lakukan dan mereka larut dalam pembicaraan akrab itu sambil sesekali menyapa orang yang lewat.
Aku mengenalnya, bukan, aku mengetahuinya. Ya, karena kami memang tidak pernah berkenalan secara formal. Aku tahu tentangnya dari manajerku, Shindong Hyung, yang terkadang bertemu dengannya ketika mengambilkan barang atau berkunjung untuk mengurusku rumahku. Katanya ia gadis yang ceria, selalu tersenyum, dan rambah pada semua orang, semuanya kecuali aku. Ia bisa saja tiba-tiba mengobrol dan cepat akrab dengan orang, termasuk dengan manajerku, dan lagi-lagi itu selain aku.
Aku beranjak dari kursi, berbalik ke belakang, menemukannya masih berbincang dengan salah seorang penjual mainan anak-anak di sekitar gereja. Aku terus memandangnya hingga tanpa kusadari seorang anak yang tengah membawa es krim menabrakku.
"Aa! Mianhae, Hyung!"
"Tak apa, kembalilah bermain," anak itu membungkukkan badannya sebelum akhirnya kembali ke teman-temannya.
"Itu, bukankah Choi Siwon?" lagi-lagi aku mendengar bisik itu ketika tengah membersihkan jinsku yang kotor.
"Pakailah," seseorang mengulurkan sebuah saputangan babyblue. Kudongakkan wajahku dan aku menemukannya. Aku menerima saputangan itu dan ia segera berbalik pergi, tanpa memberiku waktu untuk mengucapkan terima kasih, bahkan ia pergi tanpa senyum.
Tuhan, mungkin aku sudah terlalu lelah dengan semua orang yang memperhatikanku setiap saat...
Tapi, bolehkah aku meminta jika ia pun juga akan memperhatikanku?
.
.
All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
Kususuri jalanan dengan sedikit tergesa setelah memastikan celanaku tidak kotor dan sapu tangan itu sudah kucuci dengan kran air di gereja tadi.
"Hyung!" aku berbalik, cukup terkejut menemukan banyak anak berlari ke arahku.
"Ne?"
"Nah, teman-teman, dia hyung yang tadi tidak sengaja kutabrak," seorang yang kukenali sebagai penabarakku tadi itu mengarahkan telunjukkanya padaku.
"Wah, Hyung artis terkenal Choi Siwon itu kan?! Boleh minta tanda tangannnya tidak, Hyung?"
"Hyung, aku juga minta!"
"Hyung,...," dan aku hanya tersenyum paksa mendengar rengekan-rengekan anak-anak itu. Aku berlutut mencoba menyamanyakan tinggiku dengan mereka dan melayani permintaan dan pertanyaan mereka yang semakin lama semakin aneh saja. Lama-lama, aku kewalahan juga.
"Karam!" seorang anak kecil berlari menjauh melewatiku ketika seseorang memanggilnya. Aku tak memperhatikannya karena rengekan dari anak-anak di depanku.
"Teman-teman, ada kue!" dan seketika itu juga anak-anak di depanku menghilang, berlari melewatiku, mencoba mengejar sesuatu apa yang tadi diteriakkan, kue.
Kue?
Aku berbalik, mendapati Karam tengah dikejar-kejar temannya karena ingin merebut kue yang terlihat berukuran cukup besar di tangannya. Dan, gadis itu ada disana. Cho Kyuhyun, dengan posisi membelakangiku karena tengah memandang anak-anak itu.
"Kuenya jangan sampai jatuh!" ia berteriak di tengah-tengah kegiatan tertawanya dan dibalas dengan teriakan terima kasih dari anak-anak itu.
Setelah beberapa saat ia berbalik, melihatku. Bibirnya tersenyum, "Kau tidak ingin membuat Shindong Oppa menunggu terlalu lama di depan rumahmu kan?".
Dan gadis itu segera pergi mendahuluiku.
Terima kasih, Tuhan...
.
.
I've been watching but the stars refuse to shine
I've been searching but I just don't see the signs
I know that it's out there
There's got to be something for my soul somewhere
Lagi-lagi aku melihat bintang, dengan pandangan menerawang yang sebenarnya lebih tepat disebut menyedihkan, kebiasaanku setiap malam setelah pulang ke apartemen. Memandangi bintang-bintang seperti mengunjungi keluargaku karena umma dulu pernah mengatakan bahwa orang yang meninggal, mereka akan berubah menjadi bintang. Dan aku –hingga saat ini- masih saja mempercayainya. Ah, mungkin lebih tepatnya, memaksa logikaku untuk menerimanya karena hanya merekalah yang kumiliki. Hanya bintang-bintang itulah -yang kuanggap sebagai penjelmaan dari keluargaku- yang kumiliki sekarang.
Tanpa sengaja mataku memandang ke depan, melihat kamar apartemen seberang, kamar gadis itu, gelap. Tentu saja, ini sudah lewat tengah malam. Apakah aku mengharapkannya masih terjaga? Jika iya, untuk apa? Mengharapkannya menikmati permainanku malam ini?
Hah, apa yang baru saja kau pikirkan Choi Siwon... Kau mulai jatuh cinta pada gadis itu?
Tidak ingin memikirkannya lebih lanjut, aku bangkit masuk ke dalam. Sepertinya 'Dream A Little Dream Of Me' bukanlah awalan yang buruk untuk permainan malam ini.
.
.
Lagi-lagi alunan lagi yang harusnya ceria ini terdengar menyedihkan. Entah sudah berapa judul yang kuhabiskan malam ini, semuanya lagu ceria, tapi entah kenapa selalu terdengar menyedihkan begitu kumainkan.
Aku beranjak, baru sadar bahwa lampu beranda belum kumatikan seperti biasa. Bahkan pintu yang biasa kututup pun entah kenapa kubiarkan terbuka dari tadi.
Baru saja hendak kututup pintu itu ketika manik obsidianku menemukan sepasang caramel coklat tengah memandangiku.
Gadis itu tengah di berandanya mengenakan piyama yang dibungkus jaket!
.
.
I've been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night
I could use some direction
And I'm open to your suggestions
Mungkin aku memang harus menuruti Shindong Hyung untuk mulai bersosialisasi. Ya, sepertinya manajerku itu sudah tidak tahan mendengar nada-nada menyedihkan dari permainanku setiap ia menginap.
Jadi, disinilah aku sekarang, di depan gereja. Berniat masuk setelah memastikan bahwa sekarang adalah jam dimana gadis itu biasanya ke gereja. Aku berniat mengembalikan saputangannya sekaligus, -ehem- mencoba bersosialisasi. Yah, setidaknya dengan orang-orang di sekitar apartemen.
Baru saja aku hendak melangkah, kakiku sudah kaku melihat pemandangan di depan mataku. Cepat-cepat kusembunyikan tubuhku dibalik pohon sebelum mereka –gadis itu dan seorang namja- menyadari kehadiranku.
Dari jarak yang lumayan dekat ini dapat kulihat gadis itu tertawa, tersenyum bahagia di bibir dan matanya. Rasanya aku sudah lama sekali tidak tertawa selepas itu.
.
.
Aku mengakhiri permainanku yang mulai lebih awal dengan 'Passing By'. Hari ini moodku sedikit tidak baik. Well, sebenarnya moodku sendiri juga jarang sekali baik. Tapi rencanaku tadi yang batal membuat moodku tambah buruk. Apalagi setelah kejadian di gereja tadi, Kyuhyun menghabiskan waktunya seharian bersama namja itu.
Aku melirik ke beranda kamarnya, gelap. Apakah ia sudah tidur? Atau justru belum kembali? Tak sengaja mataku menangkap sesuatu yang mencolok di teras aparteman Kyuhyun. Seseorang dibalut dengan jaket putih, terlihat mencolok di tengah kegelapan.
Tunggu, itu Kyuhyun kan? Sedang apa ia malam-malam begini menunggu di luar?
.
.
Aku masih memandangi wajah damai di sampingku. Untunglah akal pikiranku masih berjalan sehingga aku sempat menyambar selembar selimut ketika memutuskan untuk keluar rumah secepatnya. Dan selimut itu kini telah melingkar di tubuh Kyuhyun yang sejak aku datang sudah terlelap.
"Hhhmmmm...," aku terkejut mendengar gumaman Kyuhyun. Aku menghadapkan tubuhku ke arahnya, tubuh mungil itu sepertinya sangat pas untuk dipeluk. Baru saja pikiranku itu kuhapus, tanpa sadar tanganku sudah membawa tubuh itu ke pelukanku. Ternyata benar, gadis ini benar-benar mungil dan sangat nyaman, satu hal yang jarang sekali kurasakan.
"Oppa...," aku terhenyak mendengar igauan gadis ini. Peluh mulai menghias wajah cantik itu, kuraba dahinya, ia sepertinya sedikit demam.
"Sssstttt...," aku semakin mengeratkan pelukanku ketika kurasakan ia menggeliat kedinginan. Kubelai lembut rambutnya untuk menenangkannya.
Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan di luar? Menunggu namja tadi siang? Aku mengeratkan jaket yang kugunakan, suhu udara semakin menurun, angin pun semakin kencang. Dan ini sudah hampir setengah satu malam, demamnya akan semakin parah jika ia di luar. Setelah cukup meyakinkan ia terlelap, aku menggendongnya bridal style dengan perlahan agar ia tidak terbangun.
"Siwon-shi?" sebuah suara menginterupsiku ketika aku akan memutar kenop pintu apartemen Kyuhyun.
.
.
"Baringkan saja di kamarnya, aku akan menyiapkan kompres," Leeteuk Hyung -begitulah ia memintaku memanggilnya setelah kami berkenalan singkat tadi- menunjuk sebuah pintu yang aku yakini adalah kamar Kyuhyun.
Kunaiki satu persatu anak tangga, berhenti sesaat ketika kurasakan Kyuhyun sedikit menggeliat. Dan seperti tersengat listrik, rasa hangat itu menyebar begitu saja begitu kurasakan kepalanya bersandar di dadaku. Aku sadar, jantungku berdetak lebih kencang. Aku mencoba tidak mempedulikan hal itu dan segera melanjutkan langkah.
Aku sedikit kagum pada kamar Kyuhyun yang amat rapi dan didominasi warna babyblue. Wangi vanilla langsung merasuk indra penciumanku ketika aku masuk. Kurebahkan tubuh mungil itu diranjangnya.
Kuselimuti tubuhnya yang langsung bersembunyi di balik lapisan selimut tebal, sepertinya ia memang benar-benar kedinginan. Kutarik selimut itu hingga sebatas dadanya. Tanpa sadar, wajahnya terlihat amat dekat.
CUP
Cukup shock mengetahui bibirku sudah mendarat di dahinya. Lagi-lagi, tubuhku bergerak lebih cepat dari akal pikirku. Meskipun kecupan tadi kilat, tapi itu cukup untuk membuat bibirku ikut panas merasakan panas di dahinya juga.
"Ah, maaf sudah merepotkanmu Siwon," suara Leeteuk menyadarkanku dari lamunan.
"Kalau begitu aku langsung pulang, Hyung. Selamat malam," aku menjauh dari ranjang.
"Siwon?" aku berbalik ketika Leeteuk memanggilku. "Sering-seringlah main kesini kalau kau kesepian. Aku cukup senang melihat orang-orang disekitar sini, termasuk dirimu, peduli pada Kyuhyun. Sayang sekali aku hanya punya dua hari disini, lusa kami sudah harus pindah,"
"Lusa? Pindah?" mataku membulat.
"Ya, rencananya lusa aku akan membawa Kyuhyun pindah ke Jepang. Kami sekeluarga sudah memutuskan untuk pindah kesana,"
"..."
"Siwon?"
"..."
"Siwon, kau baik-baik saja?" aku tersadar dari lamunanku ketika Leeteuk melambaikan tangannya di depan wajahku.
"Ah, ne. Aku baik-baik saja, Hyung. Kalau begitu aku pamit. Selamat malam, Hyung," dan aku keluar dari kamar itu dengan langkah yang berat.
.
.
There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation
Lagi-lagi aku harus kehilangan. Keluargaku dan kini, Kyuhyun. Belum lama aku memutuskan untuk mencoba mengenalnya lebih jauh, kini justru ia yang akan pergi jauh.
"Siwon, kau baik-baik saja?" aku memandang Shindong yang mengulurkan sebotol air mineral.
"Aku baik...,"
"Tidak, jangan membohongiku. Dari wajahmu saja sudah kelihatan bahwa kau tidak baik-baik saja,"
Aku hanya menghela napas, "Kau punya saran?"
"Saran apa? Kau belum bercerita apapun padaku," Shindong meraih kursi terdekat dan duduk di hadapanku.
"Aku...," bibirku berhenti ketika aku baru sadar, apa yang harus aku ceritakan? Tentang Kyuhyun? Tentang rasa tertariknya pada gadis itu? Tentang kabar Kyuhyun akan pindah ke Jepang besok?
Harus darimana ia memulai ceritanya jika ia saja tidak tahu sejak kapan gadis itu mencuri hatinya. Sejak tadi malam? Sejak caramel coklat itu memandangnya dari beranda? Ataukah sejak pertemuan di gereja itu?
Tanpa sadar mataku melihat jam tangan, pukul 3 siang?
"Aish!" aku mengacak rambut, baru sadar bahwa waktu yang kumiliki semakin menipis. Aku beranjak, hendak pergi sebelum waktu yang kumiliki terbuang percuma.
"Yak! Siwon, kemana?! Kita harus berangkat ke lokasi shooting di bukit perbatasan sekarang!" Shindong berteriak, cukup kesal juga melihat artisnya itu tiba-tiba batal bercerita dan justru meninggalkannya yang sudah berbaik hati untuk mendengar ceritanya.
"Shit!" aku melempar botol air mineral kosong di tanganku, baru sadar bahwa setelah ini masih ada take.
.
.
"Cut! Ulang!" aku lagi-lagi mengacak rambutku frustasi. Dalam karirku, baru kali ini aku diminta mengulang adegan lebih dari 5 kali. Dan parahnya, itu semua karena kesalahanku, konsentrasiku masih terpecah dengan kenyataan bahwa besok Kyuhyun berangkat ke Jepang.
"Siwon, kemari!" Park Sooman, sang sutradara, memanggilku mendekat sebelum penata rias mendekatiku untuk membenarkan tatanan rambut yang kuacak tadi.
Beberapa orang di sekitarku sedikit menyingkir. Mereka sepertinya menyadari bahwa suasana hatiku sedang tidak 'baik-baik saja' seperti jawabanku setiap ditanya.
"Kau kenapa? Berkali-kali kita bekerjasama dan berkali-kali aku melihat aktingmu tapi baru kali ini kau kelihatan kacau," Sooman mengulurkan secangkir teh.
"Biarkan aku istirahat 5 menit, Hyung,", aku menghempaskan tubuhku ke kursi kosong sebelahnya, memejamkan mataku sejenak untuk menghapus bayang Kyuhyun, tapi percuma.
"Kau juga mengatakan itu saat melakukan kesalahan yang ketiga. Ayolah Siwon, aku sudah mengenalmu sejak kau masuk dunia ini. Ini bukan masalah biasa,"
"Kau tidak akan mengizinkanku pulang sekarang kan, Hyung?"
"Tentu saja tidak. Ini sudah malam dan jalan menuju kota tidaklah gampang, apalagi kau lihat sendiri di luar tengah hujan deras,"
"Kalau kau tidak bisa memberikan izinnnya, cukup berikan aku 5 menit untuk istirahat dan kita lanjutkan," ucapku tegas. Berikutnya, sutradara itu sudah memberikan serentetan instruksi kepada staffnya.
5 menit kemudian aku beranjak dan kembali. Memperpanjang waktu shooting hanya akan menipiskan kesempatanku untuk bertemu Kyuhyun meskipun sebenarnya itu sudah tipis. Shooting kali ini mengambil tempat di sebuah villa di sebuah bukit dekat perbatasan provinsi. Cukup jauh juga dari kota mengingat butuh waktu 3 jam untuk menjangkau tempat ini.
Esok, jika shooting dapat diselesaikan siang itu juga, kami akan kembali pukul 2, itu berarti paling cepat aku akan tiba di rumah pukul 5. Dan mau tak mau aku harus mengikuti jadwal ini karena lawan mainku sempat masuk rumah sakit yang membuat shooting ditunda sehingga sekarang kami dikejar deadline hari penayangan yang sudah semakin dekat.
TBC
I'm back! #hening..
Masih ada yang ingat cerita ini? Kira-kira Siwon berhasil enggak ya ketemu Kyuhyun?
#reader: thor, di chap 1 udah ketahuan!
Huufftt... akhirnya, selesai juga liburan 3 minggu yang bikin saya terpaksa absen dari ffn dan kembali menjadi SR. Semoga hari ini saya bisa nglunasin utang review untuk ff author-author yang lain sehingga biar cepet dilanjut juga, jadinya saya juga gak dibikin penasaran.. hhehehe...
Dan akhirnya selesai juga buat versi SIWON POV. Jauh dari rancangan cerita awal waktu bikin ONLY HOPE. So, I am sorry make you wait so long.. #bungkukin badan
Oh ya, Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya! :)
Saatnya balas review! :D
irmawaks gak jadian, kenal secara formal aja belum... Mungkin di chap ini akan lebih jelas, terutama perasaan Siwon ke Kyu...
ratnasparkyu sama samudera hindia dalaman mana? #plak. Sedalam cinta Siwon buat Kyuhyun, ya? #eh
rikha-chan Sequel? Hhhmm, mianhae, sepertinya gak ada sequel, but hope you enjoy this chap :)
FiWonKyu0201 waduh, mana obat diabetes #panik. Waduh –lagi-, saya dimodusin nih... wkwkwk... But, so sorry... I can't write the sequel..
Choihyun93 hhhmmm, masa lalu dan depannya Wonkyu ya? Enggak terlalu berpengaruh sih kecuali masa lalu Siwon sudah sekilas diceritakan di atas.. Masa depan? Hhhmmm... ini modus sequel juga nih, wkwkwk
Achan Sequel, mianhae, untuk cerita ini sepertinya enggak bisa... Gimana kalo next ff? #ngrayu nyodorin mawar putih hasil nyuri dari buketnya Kyu
Shin min hyo iya dong, Siwon kan akan melakukan apapun untuk Kyuhyun :D
Kayla Wonkyu Disini Kyuhyun sempat berniat untuk melepas Siwon, waktu dia pindah Jepang. Eh, taunya Siwon yang gak bisa melepas Kyuhyun... Hahaha #ketawa nisata
evil kyu Entah kenapa baru inget salah satu episode BBF, bulan dan bintang juga. Sepertinya akhir-akhir ini jadi selalu kepikiran 2 hal itu gara" 'Talking to The Moon'nya Bruno :D Ini moment wonkyu di bagian akhir sudah ditambahi dibanding chap sebelumnya...
anin arlunerz Hhhmmm... sepertinya saya harus siap-siap nyiapin side ff buat ngrayu kamu review nih :D
.WKS Wah, kamu bisa baca pikiran saya :D Entah kenapa udah terlanjur ngetik dengan POV orang pertama, jadi terpaksa dibedakan POVnya, belum terbiasa mengetik dengan POV campuran kalo mau bahas lebih dalam dalam ke perasaan charanya...
Augesteca kamu juga bisa baca pikiran saya! Enjoy this :)
Makasih buat semua readers, utamanya yang udah nyempetin review.. :)
Review kalian bener" bikin semangat nulis kembali bangkit meski habis itu harus nguras inspirasi buat cari jalan cerita biar dapat feelnya dan nyambung sama chap sebelumnya. Yahh, meskipun chapter ini waktu ngerjainnya agak kurang dapat feelnya, soalnya juga lagi ngetik ff baru... #promo bocoran
Dan sebenarnya saya juga sedang dilema untuk next ff . Karena jujur, saya sebenarnya suka semua couple dimana Kyu sbg uke. So, I can't predict will it be Wonkyu or other couple...
Tapi, saya berharap readers enggak bosan dengan ff saya ini ataupun besok...
At last, karena saya dimodusin, saya gantian modusin ya?
Kalau review-nya nyampe 20, saya update cepet.. So, review please... :)
