Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Warning! OOT, AU, Typo dan segala kerusakan lainnya ada disini. Mohon dimaklumi?!

Don't like Don't read. Ok, happy reading!

oo

ooo

Sakura mengunyah dengan sebal coklat terakhir yang ia punya. Dari sekian makanan yang ia miliki, gadis musim semi itu lebih memilih coklat sebagai pelampiasan kekesalannya. Benar nggak sih, kalau makan coklat tuh punya efek menenangkan? Tapi kok nggak pengaruh apa-apa pada Sakura meski udah lebih tiga bungkus ia melahapnya. Alih-alih tenang, gigi Sakura jadi linu gara-gara makan itu coklat.

Bayangin saja, sejak kepulangannya siang tadi, saat ini rumah Sakura sudah penuh tamu datang dengan tuxedo dan gaun malam yang super ngejreng, super panjang, dan super segalanya. Terus didepan pintu masuk, terbentang spanduk super besar yang bertuliskan "Happy Engaged"

Dan apa mungkin, jika pertunangan ini diadakan karena ada hubungan bisnis? Ayolaahhhh, ini sudah abad keberapa coba, masih jamannya gitu pertunangan secara sepihak? Good, sepertinya Sakura bakal jadi Siti Nurbaya dijaman modern seperti ini.

Sakura terus mengerucutkan bibirnya kesal. Apa nggak ada salah satu orangpun dirumahnya ini yang ngerti akan perasaannya apa. Dia baru saja pulang dari sekolah, dan sekarang dia harus melaksanakan pertunangan secara tiba-tiba.

Sedikit melirik ibunya yang lagi mendandani dirinya dengan tajam, gadis bersurai pink itu mendengus kesal dan menghela napas berat beberapa kali.

" Yang akan ditunangkan denganmu itu bukan sembarangan lho, Saki. Kamu pasti suka" celetuk Mebuki mulai memuji anak yang bermaga Uchiha tersebut.

Sakura mengangguk sekilas dan bergumam "hmmmm..."

ooo

oo

ooo

Sakura P.O.V

...

Aku benci kalau harus mengatakan kalau aku bakal ngadain pesta upacara pertunangan. Tau tunangannya saja nggak. Rasanya aku pengen banget lari dari sini dan pergi sejauh-jauhnya. Mikirin siapa yang bakal jadi tunanganku saja sudah ngebuat kepalaku pusing tujuh keliling dan hampir pecah. Dan firasatku mengatakan kalau dia bakal jadi sumber malapetaka buatku. Buktinya, acara belum dimulai aku sudah ngerasaiin jika pernapasanku mulai sesak. Aku ngeirik ibu yang lagi asyik menghias rambutku, sedikit berdehem, akhirnya aku mencoba bicara sama Kaa-san ku yang cantik ini.

"Kaa-san, bajunya sempit nih. Sakura nggak bisa napas." keluhku tertahan. Tapi apa yang dilakukan oleh ibuku, dia mencubit pinggangku dan mengatakan "jangan mengeluh". Heeeiiiii... apa ia sudah nggak sayang lagi padaku? aku ini anaknya bukan sih. Masa anak satu-satunya yang sedang kesesakan karena baju yang sempit gini malah dicubit. Yang benar saja!

Aku melirik Kaa-san sedikit iri. Ibuku itu hanya menggunakan kurotomesode, kimono paling formal dan sederhana untuk wanita yang sudah menikah. Sekaliin nggak semeriah dan nggak terlalu mencolok untuk si tuan tamu, tapi kimono yang dikenakannya itu cocok banget dengan kulit ibu yang putih. Dan dibandingkan dengan penampilanku, aku haru mengenakan gaun selutut berwarna biru tanpa lengan, rambut sebahuku dibiarkan tergerai dengan sebuah pita berwarna merah muda menghiasinya. Entah dari siapa pita itu, kayaknya sih aku nggak pernah punya pita yang seperti itu didalam laci kamarku. Ohhh... Dan jangan lupakan dandananku yang kelewat Wah! Kebayang nggak sih kalau aku sangat menderita.

"Ayo, sepertinya ini sudah waktunya untuk turun kebawah" Kaa-san menarikku keluar dengan senyum terlebar yang dimilikinya.

"Hmmm..." aku menghela napas berat. Yasudahlah, dijalanin saja. Siapa tahu anak dari dari Uchiha tersebut mirip Lee min hoo atau Kim Bum.

"Apa dia sekeren yang Kaa-san katakan? aku kan nggak tahu keren dari versinya Kaa-san gimana" Ibuku berbalik cepat menatapku, "kenapa?" aku mengernyit heran.

"Kamu akan tahu sendiri, Saki" ucabnya bijak.

ooo

oo

ooo

Normal P.O.V

.

Sakura menatap kepenjuru rumahnya dengan tatapan terkejut dan luar biasa. Gadis emerald itu menggigit bibir bawahnya malu, sepertinya gadis dari keluarga Haruno tersebut mengalami sindrom akut saat ngeliat beberapa tamu undangan yang lagi menatap dirinya penuh kagum. Iris hijau beningnya mengelilingi semua tamu tanpa terkecuali, sampai ia mendapati sesosok laki-laki yang sanggup membuatnya bersusah payah nelen air liurnya sendiri. Dia masih terpesona, maksudnya shock berat, saat menatap laki-laki yang memiliki rambut yang jabrik kebelakanh dan berpostur tinggi tegap disana.

"Apa dia?" gumam Sakura pelan.

"Ya" balas Mebuki

"Yang pake jas hitam dan bunga mawar itu kan?" tanya Sakura memastikan

Mebiku mengangguk, "tentu"

"Maksudku yang berdiri didekat ayah, kan?" Mebuki mengangguk lagi sebagai jawaban atas pertanyaan dari putrinya tersebut.

Sumpah, seketika itu pula Sakura hampir saja pingsan dibuatnya.

Oh My Goooooddd! Sakura nyaris saja menitihkan air matanya. Ternyata selerah ayahnya itu sangat luar biasa. Laki-laki itu bahkan ngelebihi Lee min hoo dan Kim Bum. Bahkan kata keren saja sudah melekat kedirinya. Bener nggak nih kalau itu pemuda yang bakal jadi tunangan Sakura nantinya? dia bener-bener tampan pangkat sepangkat-pangkatnya. Kalau kayak gini ceritanya, Sakura beneran ikhlas kalau musti tunangan sama dia.

"Dia tampan kan, Saki?"

Sakura mengangguk pelan tanpa sadar. Semua orang juga pada taulah kalau itu pemuda sangat tampan dan perfeckto. Nggak bakal ada satu orangpun yang bakal bilang kalau dia itu jelek, kalaupun ada, pasti matanya katarak.

.

Mebuki mendorong Sakura maju. Berdiri berhadapan dengan lelaki yang ngggak dikenalnya sama sekali. Jujut, Sakura sangat grogi sama situasi yang kayak begini. Beneran deh, dia sangat tampan. Kulitnya saja bright, khas orang jepang asli tanpa gabungan dari kloning dari barat. Hidungnya mancung, matanya tajam, badannya tegap tinggi, daannn... gaya rambutnya doang yang bikin Sakura mengernyitkan alisnya dalam. Ilfeellllllll. Tahu pantat ayam? nha itu gaya rambut pemuda tersebut.

Lelaki itu menatap Sakura yang saat ini tepat dihadapannya. Begitu Sakura menyadari dia sedang ditatap, apa yang dilakukan pemuda tersebut, dia membuang muka!

Heeeiii! Sepertinya Sakura bakal nyabut ketampanan laki-laki itu mulai sekarang begitu liat lagaknya yang shok minta ampun tersebut.

Sakura mendengus kesal melihatnya saat dia tersenyum meremehkan kearah Sakura. "Lagaknya sengak banget" pikir Sakura geram.

Kemudian Sakura melirik Mebuki sekilas, tapi saat melihat Kaa-sannya, ia malah mendapati lototan tajam darinya.

Sakura mengernyit binggung, "Kenapa sih?" gerutu Sakura dalam hati.

"Ternyata kamu lemot juga ya"

Sontak Sakura menoleh begitu dengar perkataan barusan. Alisnya terangkat, dia tersinggung? Sudah pasti kan. Apa alasan baginya ngatain Sakura lemot kaya gitu? Ampuuuunnn... ini orang kenal saja nggak, langsung nyolot kayak gitu.

"Maksudmu apa, Heeeehhh?" ucap Sakura dengan notasi yang lumayan tinggi.

"Sayang, kamu ngapain sih. Sasuke sudah menunggu tanganmu" Sakura nggak bisa menahan diri untuk tidak menoleh kearah ibunya yang menatapnya cemas. Bahkan berpasang-pasang mata menatapnya penuh tanya. Sakura menatap ibunya binggung dengan alis mengkerut, ia hampir saja membuka mulutnya jika tak ada seseorang yang menarik lengannya kuat.

"Apa-apaan sih?" Sakura menepis tangan Sasuke kasar.

"Sayang, ini pertunanganmu. Jangan melakukan tindakan yang ceroboh" kali ini Kizashi angkat bicara.

"Eh? memangnya sudah dimulai?" tanya Sakura binggung. Gadis dengan surai merah muda tersebut melirik beberapa orang yang mulai berbisik.

Sakura tersenyum kaku, nggak tahu harus bagaimana bersikap. Dia hanya bisa menatap ayah dan ibunya bergantian sambil menggumamkan kata maaf. Setelah itu ia terperanjat menatap Sasuke yang menyambar lengan Sakura kembali dengan umpatan sinis yang diberikan padanya, "dasar bodoh".

Dan dalam hitungan detik, cincin sudah melingkar indah dijari Sakura dan Sasuke.

Speechless, rasanya dunia Sakura berputar dengan sssangat cepat. Masih sedikit linglung, Sakura bahkan masih terpaku dengan apa yang barusan terjadi. Hingga Sasuke menarik dirinya tepat disampingnya dan tepukan meriah yang ia dengar membuatnya tersadar dengan kondisinya barusan. Sakura tak berkomentar apapun. Kageettt! Nyaris saja Sakura akan menyikut perut Sasuke kalau nggak ingat ada di depan banyak orang.

Setelah peristiwa memalukan itu berakhir, akhirnya Sakura bisa bersikap normal alias nggak gugup. Sakura megambil semangkok es krim ujuran jumbo disana. Setelah mendapatkan ucapan selamat dari tamu undangan, apalagi dari rekan-rekan kolega ayahnya yang begitu banyak, gadis dengan manik emerald tersebut tersenyum puas. Bahkan dia nggak peduli sama beberapa orang yang menatapnya. Saat ini, yang dibutuhkan Sakura hanya nenangin diri setelah mendapat ceramah dari ibunya. Bukan salah Sakura sih kalau dia melamun pas acara dimulai, ia juga nggak pernah setuju tuh dengan adanya pertunangan ini. Tapi yang perlu digaris bawahi oleh Sakura adalah, lelaki yang menjadi tunangannya itu memang tampan meski bicaranya agak kaku dan pedas. Dan, apalagi saat itu Sasuke juga udah nolongin dia. Sakura bahkan nggak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau Sasuke juga ikutan diam tanpa ngelakuin apa-apa. Bener-bener nggak bisa dibayangin. Well, Sakura berhutang budi pada Sasuke.

.

Sakura melihat Sasuke berdiam diri diantara para tamu yang sedang mengantri untuk mengambil sub. Lelaki itu tetap diam nggak terlalu merespon begitu para gadis mulai menyapanya atau mencuri perhatian darinya. Akhirnya Sakura melangkah dan mendekatiny Sasuke, gadis merah jambu itu benar-benar dibuat penasaran dengan pemuda itu. Sebenarnya laki-laki macam apa sih dia?

~oOo~

Sakura P.O.V

..

Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan setengah hati. Tau deh kenapa aku merasa malas untuk ke sekolah dan pengen banget bolos. Saat aku sampai digerbang, aku langsung tercekat begitu melihat siapa yang berdiri dibdepan pintu gerbang. Dan persaannku semakin was-was melihat tampang sangar seorang pemuda yang menjadi kekasihku. Bahkan dia lebih mengerikan dibandingkan dengan Gai-sensei. Sensei teraneh, terunik, tergila, terkonyol dan ter... ter... lainnya. Jantungku langsung mencelos saat dia mendekatiku dengan memamerkan deretan gigi-gigi miliknya. Aku nggak mungkin berbalik arah, kan? Apalagi dia sudah melihatku. Lagian aku juga nggak bisa gerak saking lemasnya. Sepertinya hal inilah yang membuatku malas ke sekolah.

Saat dia, -Suigetsu berada tepat didepanku, aku hanya mampu mengucapkan kalimat yang nggak biasanya aku ucapkan, "Ohayou Suigetsu, kok kamu nggak masuk kelas?" Sahutku basa-basi. Aku langsung bergidik ngeri saat aku liat raut mukanya. Sepertinya dia sedang marah. " Kamu kenapa si?" sambungku lagi karena dia nggak kunjung jawab pertanyaanku.

Meskipun baru sebulan lebih dikit kami jadian, tapi aku sudah lumayan ngerti dengan setiap ekspresi wajahnya, dan raut mukanya yang kayak kepeting rebus itu ngebuat kakiku lumer seperti es krim. Dia tetap diam nggak ngerespon perkataan yang kulontarkan padanya. Tapi tiba-tiba saja dia langsung mencekal lenganku erat dan kemudian menarikku ke pojok parkiran. Suasana disana langsung membuatku merinding, bahkan bulu tengkukku berdiri. Sepiii! bener-bener sepi.

"Semalam kamu kemana? Dimana, dan dengan siapa?" aku ternganga. Aku mesti jawab apa coba? Nggak mungkin kan kalau aku ngejawab aku telah bertunangan sama Sasuke? Bisa mampus aku!?

"Kamu denger pertanyaanku, kan?" tanyanya lagi, dengan sedikit membentak.

"I-itu... aku, a-aanuuu... Hmmm..." aku tergagap, nggak bisa ngasih alasan yang super hebat. Kadang aku heran, apa gunanya punyab jidat lebar kalau nggak bisa digunain disaat genting kayak gini coba.

"Ngapain kamu semalam?" Bentak Suigetsu ketus. Sumpah, demi apapun, aku nggak tau musti jawak ke' gimana lagi. Dan, ini cowok demen banget interogasi sampe segitunya sih.

"Sebenarnya a-aku semalem i-itu, a-aanu..." tuh kan, aku gagap lagi. Sumpah mendinga ak nggak masuk sekolah kalau gini. Aku beneran berharap ada seseorang yang datang nolongin aku. Aku menoleh kekanan, ohwwww... Disana ada warga pasifik yang lagi asyik berbisik memandang kearah ku. Dan, mataku langsung melotot begitu tahu ada seseorang yang sssaaangat aku kenal berada di gerombilan warga pasifik.

Sasuke!

Ini nggak mungkin. Sejak kapan dia bersekolah di KHS? mataku juga nggak mungkin salah liat kan?! dia memang Sasuke, cuma dia yang punya model rambut kaya si bokong ayam didunia ini.

Saat pikiranku tertuju pada sosok Sasuke, tiba-tiba Suigetsu mendorongku merapat ketembok, "Aduuhhh!" aku mendesis kesekatin. Apa lagi sih ini?

Dia menatapku tajam. Wajahnya didekatkan kearahku sehingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang memburu.

"Kenapa, nggak bisa jawab?" ujar Suigetsu dengan nada mengintimidasi. Dia bahkan mengangkat sebelah tangan kananku kasar.

"S-sakit!"

"Ini apa? Kamu mau ngejelasin sendiri atau perlu kupaksa, haaaahhh?!"

Noo! Bego! Tolol! Oh my god, kenapa aku bisa lupa sama cincin sialan iniiii!

"i-ini cincin" jawabku. Karena nggak tahu lagi mesti jawab apa. otakku terlalu pusing untuk memikirkan jawabannya.

Suigetsu menatapku marah, matanya berkilat dan aku nggak sanggup menatapnya. Yang aku tahu, tangannya mengerpal kuat dan kemudian meninju dinding. Sumpah, aku nggak bisa ngebayanginvgimana kepalaku yang kena hantamannya. Kalau seperti ini terus, aku bisa mati muda.

Pllaaaakkkk!

Eh? aku merabah pipi kiriku. Perih, panas, dan terasa sakit. Heeiii... tega bener dia!? Aku menatap Suigetsu yang masih syock dengan tindakannya barusan. Dia menatapku, mencoba menyentuh pipi kiriku tapi langsung aku tepis. Sepertinya ia merasa bersalah.

"K-kamuu?" dan entah kenapa aku langsung menitihkan air mata dan berlalu pergi ninggalin Suigetsu yang terus berteriak nyebut namaku berulang-ulang kali.

.

TBC

.

.

.

Haloo... Saya kembali lagi ^o^. Terima kasih sangat bagi kalian yang sudah meninggalkan jejak di Chap kemarin. Saya benar-benar merasa senang ada yang mau membacanya. Jadi, apakah saya terlambat mengUpdate Fict ini? Semoga tidak ya ==".

Dan, ini nama-nama yang sudah mendukungku. Aku ucapan terima kasih yang telah meninggalkan jejak kemaren.

Febri Feven,, imahkakoeni,, Eysha 'CherryBlossom,, Haruka,, Guest,, Arufi,, adam. ,, Haruku Yamada,, ,, IchikaZiaro,, Hini Ucb,, Kumada Chiyu.

Oke, see you the next chap, Minna ^8^

Arigatou.

Feb,,03,,2014. Lamongan-jawa timur.