Just a Feeling
LEON FANFICTION
.
.
.
Jung Taekwoon
Cha Hakyeon
.
.
.
.
Jung Eunji as Taekwoon's best friend
Han Sanghyuk as Jung Sanghyuk
and other members
.
.
.
.
Terjemahan, dengan judul sama.
Part 2
.
.
"Aku tahu. Maafkan aku, ternyata hal ini memakan waktu lebih lama dari yang ku kira." Taekwoon meletakkan telfonnya diantara bahu dan telinganya sambil menempatkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Hyuk ada di ruang tidurnya sendiri untuk sesi tidur siang panjangnya. Waktu istirahat yang lumayan untuk Taekwoon, dan dia merasa cukup. "Tidak seperti aku tidak bekerja sama sekali kan? Aku sudah mengirim semua pekerjaanku sesuai jadwal, jadi,,," jangan katakan tidak bisa. Duniaku sedang terbalik keseluruhan, dan aku butuh waktu untuk memperbaikinya. Okay?
"Aku tahu, hyung. Aku faham." Kim Wonshik, atasannya-atau temannya, saat sedang tidak berada dikantor- suaranya terdengar tenang. "Ketika aku dan Jaehwan memutuskan untuk mengadopsi bayi yang juga baru lahir, aku mengambil cuti kantor hampir sebulan, dan kembali kekantor seperti zombie ingat?"
Tentu Taekwoon ingat. Dia tidak mengatakan bahwa Wonshik tidak memahaminya. Hanya saja dia tidak sendiri. Dia punya hampir seluruh keluarganya disisinya, ibu mertua yang tinggal dengannya. Tidak ingin mengingat bahwa pemuda brengsek yang sangat beruntung itu masih bisa menikmati tidur-tidur malamnya. Apalagi, Wonshik punya Jaehwan. "Aku tahu, aku sedang mencoba menemukan baby sitter. Aku bersumpah."
"Apakah kau sudah mencoba perusahaan kemarin? Mereka menemukan baby sitter untuk kami dalam dua hari,,,"
"Iya, aku—" Tangisan Hyuk yang terdengan dari baby monitor memotong kalimat Taekwoon, mencoba berdiri, lalu tak meninggalkan percakapan sambil mengambil botol dari penghangat di dapur. "Aku masih sibuk memilih, dan lainnya. Tapi aku sudah menemukan beberapa kandidat," yang itu bohong, tentunya. Taekwoon sedang sibuk dengan satu orang, Hakyeon. Dengan mencoba menelfon semua keluarga yang pernah diurus oleh Hakyeon. Dan sepertinya, Hakyeon memang tampak profesional seperti yang terlihat.
"Ya Tuhan. Itu bayinya?" Wonshik tertawa di telfonnya. "Dia terdengar seperti sirene pemadam kebararan."
Taekwoon memutar bola matanya. Setiap orang dikantor tetap membujuknya untuk membawa bayinya kesana suatu hari. "Ceritakan padaku," Taekwoon meletakkan botol susunya diantara karet pinggul celana trainingnya, telfon diantara bahu dan telinga, lalu mengangkat Hyuk. Taekwoon mengingatkan dirinya tentang tempat duduk kecil untuk dibeli, Sanghyuk tumbuh terlalu cepat. "Bukan apa-apa, dia hanya lapar. Kau harus mendengarnya menangis ditengah malam saat dia sakit perut juga,"
Hyuk masih belum menghentikan tangisnya, dan Taekwoon masih ingin menyiksa telinga Wonshik lewat telfon, sebelum akhirnya berpindah dan menenangkan bayi laki-laki itu. Setelah Sanghyuk tenang, Taekwoon berkata ,"Beri aku waktu hingga Senin okay? Aku akan menemukan seseorang untuk membantuku lalu kembali bekerja, okay?"
Dengan senyum dibibir Wonshik berkata,"Aku tak ingin memecatmu hyung, aku hanya ingin kau keluar dari sangkarmu dan mengingatkanmu kalau kau tida bisa selamanya bekerja dari rumah, setidaknya tidak penuh waktu. Cuma itu."
"Pesan diterima," Taekwoon bernafas lega, bersyukur dengan kelonggaran yang didapatkannya. Lebih bersyukur lagi memiliki atasan yang sangat memahaminya. "Terima kasih, bocah"
"Tak masalah," sahut Wonshik enteng ,"Segera kembali kesini ketika kau bisa. Untuk kehidupanmu sendiri tentunya, dan jangan lupa untuk membawa bocahmu suatu hari kesini. Para gadis sudah gatal ingin melihatmu menggendong bayi,"
Dengan lega, Taekwoon berjanji akan segera kembali dan mengakhiri panggilannya. Dia punya waktu enam hari untuk menemukan baby sitter yang bisa dia percaya. Dia melihat tiga orang selain Hakyeon. Mereka semua berkualitas. Mereka semua bagus. Dia tidak meliahat salah satupun dari mereka pemakai narkoba, ataupun pedo,, atau semua hal yang selalu Taekwoon khawatirkan. List kekhawatirannya lebih panjang daripada lengannya.
Pada akhirnya Taekwoon merasa hanya Hakyeon yang terlihat sangat,,, nyata. Yang lain nampak memakai topeng mereka saat interview. Sedang Hakyeon? Taekwoon dapat melihat tatapan dan perilakunya sama dengan apa yang sebenarnya. Dia terlihat asli dan Taekwoon merasa tenang bersamanya. Dia juga berpikir mungkin Eunji akan menyukai idenya tentang baby sitter laki-laki untuk anaknya. Dia selalu mengatakan kepada Taekwoon untuk segera mencari teman laki-laki. Teman dalam artian lain tentunya.
Taekwoon menatap Hyuk,"Ibumu sangat lucu," botol susunya tinggal separuh, lalu Taekwoon membawa Hyuk ke bahunya, untuk bersendawa. Tanpa sadar melakukan apa yang Hakyeon sarankan. "Dan untuk catatan, ibumu pasti payah dalam hal ini juga," dia tersenyum. Membayangkan Eunji dengan ikat rambut berantakan dan mata yang selalu tampak lelah, karena keluar semalaman. "Tapi dia pasti akan sangat mencintaimu,"
Hyuk melepaskan sebuah sendawa kecil dan sekali isakan sebagai tanggapan ucapan Taekwoon, Taekwoon mencium satu sisi kepalanya lembut. Hingga saat itu Taekwoon masih belum merasakan cintanya untuk Hyuk. Hyuk hanya sebuah pekerjaan untuknya, sebagai ganti pelindungnya, sesuatu yang harus dilakukannya, sesuatu yang harus dilakukannya untuk Eunji. Sekarang? Saat dia meletakkan Hyuk dilengannya dan meminumkannya sisa susunya, Taekwoon akhirnya menyadarinya. Dia melihat ke mata Hyuk, dan menyadari dengan seluruh keterkejutannya, kalau dia sudah menyerahkan segalanya untuk bayi mungil itu.
"Kita akan membuat semua berjalan sebagaimana seharusnya, kan?" lalu mencium pipi Hyuk. "Aku mencintamu, bocah" bisik Taekwoon seperti sebuah pernyataan cinta, yang secara rahasia diungkapkannya.
Ketika Taekwoon menutup mata, dia bisa melihat Eunji tersenyum dihadapanya.
Hyuk nampak menempel pada Taekwoon dengan gendongan bayi aneh yang dibelinya di pasar. Benda itu terikat sekenanya, tapi Taekwoon tak peduli. Hyuk terlihat menyukainya, dan Taekwoon bisa bergerak dengan bebas tanpa meninggalkan Hyuk dimanapun. Dia bisa memberesi seisi apartemen, merakit kursi baru Hyuk, mengganti meja, dan mencuci seluruh pakaian kotornya dengan Hyuk bergelung senang didadanya. Jika dia menemukan hal itu seminggu lalu mungkin Taekwoon akan melupakan ide tentang baby sitter dan membawa Hyuk bekerja.
Tapi, Taekwoon malah menelfon Hakyeon untuk interview lain dan menerimanya.
"Ini Cuma—"
"Masa percobaan," Hakyeon menyahutnya sambil tertawa, "Kau sudah mengatakannya berkali-kali,"
"Benar," Taekwoon melihat satu koper dan ransel bawaannya,"Ini semua barangmu?"
"Untuk sekarang," Hakyeon membenahi rambutnya yang jatuh disekitar mata hazelnya,"jika kau memutuskan untuk benar-benar menerimaku, akan ku bawa sisanya."
Beralasan. Tapi pintar. "Baik, terdengar seperti rencana," dia berbalik ke aah apartemennya. "Ruanganmu disini," Taekwoon melewati kamar mandi lalu membuka pintunya,"Kamar mandi," katanya, lalu melangkah kedalam. "Handuknya disebelah sini, sampo dan apapun yang kau tak bawa,"
Hakyeon mengangguk, "Sudah kupersiapkan, tenang saja"
"Baik,"Taekwoon lalu kembali ke ruang tengah. "Air panasnya bisa menipu, jadi kau jangan langsung masuk kedalam bak,"
"Dicatat," Hakyeon tersenyum. "Aku akan berhati-hati. Aku janji."
Taekwoon berpindah lagi dan masuk kedalam kamar tidur Hakyeon. "Tidak terlalu besar, kau tahu tapi ya kau lihat tempat tidurnya terlihat nyaman. Jika terlalu keras atau bagaimana katakan padaku, akan kuganti."
Hakyeon menjatuhkan ranselnya kesalah satu sudut kamar," aku yakin, akan baik-baik saja. Aku pintar beradaptasi."
"Baik. Maksudku. Aku bahkan bisa tidur diatas batu, jadi aku tidak bisa melihat bagaimana tempat tidur yang bagus," bahkan beberapa hari ini Taekwoon terbiasa tidur sambil berdiri, tapi Taekwoon tak mengatakannya. Setelah beberapa lama terdiam, Hakyeon lalu menatap pada Taekwoon. Akhirnya Taekwoon membuka mulut lagi, "Apa kau bersama seseorang sekarang?" lalu merasakan pipinya menghangat karena malu.
Hakyeon tak bisa menahan tawanya. Lalu memberikan tatapan menggoda.
"Aku tidak sedang dalam hubungan sekarang. Dan aku tidak senang dengan hubungan satu malam, tapi aku yakin maksudmu adalah 'Jangan bawa laki-laki atau permpuan kesini', aku benar?"
"Iya, maaf. Mungkin seharusnya aku sudah memberitahumu sejak kemarin."
Mengangkat bahu, Hakyeon menyahut, "ini urusan pribadiku lagipula, jadi tak apa." Dia menghela nafanya sambil menatap kesekeliling ruangan. "Selama aku dapat hari libur, hari Minggu sudah sangat cukup untuk urusan keluargaku, tapi jika kau tak keberatan aku bisa membawa Hyuk bersama."
Taekwoon memeluk Hyuk semakin ketat, tanpa berfikir lama. Dengan overprotektif, seakan Hakyeon ingin benar-benar membawanya. "Jadi, uh, kita kembali ke percakapan awal,"
Diam kembali menyelimuti mereka. Dan Taekwoon melihat Hakyeon hampir memberinya ceramah panjang. Namun, sambil menghela nafas Hakyeon tersenyum. "baik, bagaimana jika kau memberikan bayinya, Hyuk padaku ketika kau harus berberes untuk pekerjaanmu di hari senin?"
Dia benar, kan? Namun, Taekwoon malah semakin mendekatkan Hyuk kedadanya, "Sebenarnya aku harus ke kantor,"
Wajah Hakyeon terangkat, "Sempurna, Hyuk dan aku bisa tinggal disini dan mengenal satu sama lain ketika kau mengerjakan urusanmu,"
"Tidak, maksudku aku akan membawa hyuk, dan kau bisa dirumah. Membiarkanmu bersiap-siap dan lainnya,"
Taekwoon bisa melihat Hakyeon sedang berjuang dengan kesabarannya.
"Jung Taekwoon," Hakyeon menghela satu nafas panjang lagi,"Jika kita ingin melihat bagaimana sesungguhnya hal ini akan bekerja, kau harus meninggalakannya denganku oke? Kau harus percaya padaku untuk melakukannya, kau tahu itu, kan?" ketika Taekwoon mengangguk dan memberi sedikit dengusan, Hakyeon melanjutkan,"Hari pertamamu kembali kepekerjaan mungkin saat yang tepat untuk itu kan?"
Dia tidak yakin, tapi Taekwoon pikir nada suara Hakyeon seperti seorang trainer yang sedang meyakinkan seorang yang akan melompat dari ketinggian untuk bungee jump. "Iya, aku tahu itu, tapi,,"
"Ini saat yang tepat oke,"
Hakyeon berhasil meyakinkannya, "Baik," dengan berat, Taekwoon melepas ikatan gendongannya lalu memberikan Hyuk dengan hati-hati pada Hakyeon,"aku akan kembali pukul tujuh, atau delapan,"
Hakyeon mengangkat Hyuk hingga ke dadanya, lalu mencium puncak kepalanya. "Iya, dia akan baik-baik saja hingga jam itu,"
"Kau sudah makan?"
"Belum, dan tidak," sahut Taekwoon.
Hakyeon mengambil nafas panjang hingga menerpa rambut halus Hyuk, Taekwoon ingin mengambil Hyuk lagi.
"Kapan terakhir Hyuk minum susu?" Taekwoon berjalan ke arah ruang tamu, dan Hakyeon menyusul,"sekitar satu jam lalu," dia mengambil kuncinya di saku belakangnya. "Ada satu botol lagi didalam penghangat. Kau tau cara menggunakannya.?" Hakyeon mengangguk sebagai jawaban saat Taekwoon berjalan kepintu. "Butuh sesuatu?"
"Aku baik, tapi beli satu kursi getar untuk Hyuk," ketika bicara Hakyeon mengambil selimut, "Dan beberapa mainan, dengan warna hitam-putih jika mereka punya, dan kaca lembut," Hakyeon mulai menyelonjorkan kakinya, "Kami akan melakukan sedikit tummy time, ketika kau pergi," Dia meletakkan Hyuk diatas selimut dan membuatnya tengkurap.
Tummy time? Taekwoon tak pernah mencoba yang satu itu. Dia melihat Hyuk berusaha mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya, hampir berhasil sebelum terjatuh, dengan kaki kecilnya menendang-nendang lucu. Taekwoon bahkan belum keluar dari pintu, tapi dia merasa sudah akan merindukannya. "Aku akan kembali secepatnya,"
Tepat saat Taekwoon sampai dikantor, Hakyeon mengiriminya foto Hyuk. Dengan bibir yang melengkung sedikit, dan hampir tersenyum, tapi Taekwoon suka ekspresi itu. Hyuk terlihat bangga dengan dirinya bisa tenang untuk beberapa lama. Fotonya diikuti pesan.
Kami baik-baik saja disini! Nikmati waktumu diluar rumah. 😊
Benar, Taekwoon harus membuat pekerjaannya cepat selesai.
Tapi sialnya, ketika sampai di toko peralatan bayi yang sangat besar, ada terlalu banyak pilihan mainan dihadapannya. Taekwoon mengambil mainan hitam-putih yang pertama dilihatnya, memasukkannya langsung kedalam keranjang, tapi kemudian dia pikir lebih baik untuk mengirim foto kepada Hakyeon.
Seperti ini?
Hakyeon membalasnya dengan cepat.
Lihat catatan batasan usianya dikotak dan pastikan bebas phtalate. Dan jika bisa yang tidak dari China.
Bukankah segalanya dari China? Hampir semuanya. Setelah hampir satu setengah jam Taekwoon menemukan tiga barang yang pas dengan uangnya. Dua diantaranya bahkan dibuat di Korea. Kursi getar akhirnya terpilih setelah balas pesan lain. Karena ada hampir tigapuluhan pilihan disana.
Taklama kemudian Taekwoon selesai dengan belanjaannya.
Dan oh, ngomong-ngomong ambil beberapa buku untuk Hyuk! Atau kau punya beberapa simpanan yang aku tidak tahu?
Sebelum keluar dari tempat parkir, Taekwoon menelfon untuk memesan dua pizza, satu dengan keju dan satu lengkap. Hakyeon bisa memilih salah satu, atau keduanya.
Saat masuk kedalam rumah dengan membawa dua plastik belanjaan, Taekwoon mendengar Hyuk menangis dari lantai atas. Taekwoon langsung menjatuhkan semua bawaannya. Walaupun tidak bermaksud menerjang masuk seperti Hulk, tapi Taekwoon benar-benar tak bisa menghentikan dirinya.
Hakyeon terloncat sedikit melihat Taekwoon masuk dengan wajah panik, "Dia baik," ucap Hakyeon lembut, masih bisa didengar diantara tangisan Hyuk. "Dia sudah minum susu, dan ganti baju,"
Taekwoon lalu menutup pintu dibelakang mereka, "Iya, aku tahu" dia berjalan lalu meraih Hyuk, "Kata dokter dia akan begini sampai beberapa bulan,"
"Aku tahu itu juga," Hakyeon tersenyum dan meraih tas belanjaan sebelum duduk di sofa. Dia mengambil kursi kecilnya dari dalam tas belanjaan dan mulai merangkainya. Dia melihat Taekwoon ketika meletakkan selimut diatas kursinya. "Aku akan mencuci penutupnya di pagi, untuk sementara pakai selimut tak apa," Hakyeon berdiri dan meraih Hyuk. "Kita lihat, apa dia menyukainya,"
Sekarang bukan saatnya, menurut Tekwoon. Hyuk tidak menyukai apapun, mulai senja hingga tengah malam. Dia akan tetap menangis. Tapi terserah. Hakyeon langsung bisa menyadarinya. Dia melihat Hakyeon meletakkan Hyuk ke atas kursi getar barunya, kaki kecilnya ditata, dan jemarinya menggenggam. "Kupikir dia tidak terlalu peduli dengan kursi barunya," Taekwoon hampir mengambil Hyuk kembali, hingga Hakyeon menekan tombol di bawah kursi, dan kursinya mulai bergetar. Hyuk langsung terdiam dan tenang. bibirnya terangkat sedikit, dan ketika Hakyeon menyentuh bibirnya dengan dotnya, Hyuk menerimanya dengan senang.
Tekwoon terkejut, walau akhirnya tertawa. "Terlihat seperti trik sulap," Dia menatap Hyuk, wajahnya terlihat bahagia. Kaki kecilnya bahkan mulai rileks.
Hakyeon terlihat bangga dengan dirinya sendiri, lalu berkata, "Aku masih punya trik sulap lain,"
Taekwoon menatap Hakyeon, berusaha tidak menebak trik apa yang dimiliki Hakyeon. Mata mereka bertemu untuk sepersekian detik, lalu Taekwoon terjengit sedikit mendengar suara ketukan pintu, "Pizzanya datang," Gumammnya sambil berjalan ke arah pintu.
Hari Minggu berjalan dengan lancar. Hakyeon pergi pagi-pagi dan tidak pulang hingga hampir malam. Taekwoon pergi dengan Hyuk di dalam kereta dorongnya. Mereka pergi ke supermarket. Dia mengirim pesan pada Hakyeon, bahan-bahan makanan yang diinginkannya, untuk makan siang, atau yang lain, tapi hanya itu kontak mereka hari itu.
Hyuk sudah mulai dengan kebiasaanya disaat Hakyeon tiba dirumah. Taekwoon sudah mencoba kursi ajaibnya, tapi tidak bekerja seperti malamnya.
"Ingin kugantikan sebentar?" Hakyeon bertanya ketik sampai dipintu.
"Tidak, aku baik. Dia sudah bosan dengan kuris ajaibnya sepertinya."
Hakyeon lalu mematikannya. "Mungkin akan bekerja lagi besok, sudah mencoba mesin penyedotnya?"
"Tidak, kemarin aku mencobanya dan merusaknya. Aku tidak mau merusak yang baru lagi,"
Hakyeon melihat speaker box dibelakang Taekwoon, "Musik?"
Taekwoon mengangguk, dan hampir menggigit lidahnya," Sudah mencoba Mozart dan sebagainya, tapi dia membencinya,"
"Sudah coba Park Hyo Shin... ? Atau,,," Hakyeon mmenggigit bibirnya nampak berpikir dalam, "Mungkin Sherry Jung?"
Trot. Eunji seringkali mendengarkannya. "Belum, tapi..." dia membuka ponselnya dan memberikannya pada Hakyeon. "Mungkin sesuatu dari situ,"
Setelah "Red Pepper" terdengar dari speaker, tangisan Hyuk terhenti. Isakannya masih tersisa di bahu Taekwoon dan kemudian Hyuk mulai mengangkat kepalanya. Musiknya tidak terlalu keras, karena waktunya, tapi cukup berhasil. "Bagaimana kau tahu?"
Hakyeon mengangkat bahunya dan memberi Taekwoon senyuman. "Just a Feeling,"
Ketika Taekwoon terdiam dengan mata memandang langit luar yang mulai menggelap. Hakyeon berjalan mendekatinya.
"Sherry Jung adalah kesukaan Eunji," ucap Taekwoon lirih, masih menebak-nebak bagaimana Hakyeon bisa tahu. Itu terlihat tebakan yang terlalu tepat.
Hakeon menunduk untuk mengambil kaos kaki yang terjebak diantara sofa, "Jika dia mendengarkannya selama hamil, bayi sudah bisa mendengarkan sejak bulan keempatnya." Dia berdiri lagi dan memasukkan kaos kaki kedalam keranjang baju kotor yang dibawanya. "Mungkin itulah kenapa dia menyukainya,"
Taewkoon menghela nafas di atas puncak kepala Hyuk. "Ya, mungkin." Dia mencoba untuk tidak memikirkan tentang Eunji, bagaimana caranya tertawa-tawa bahagia mendengar lagu kesukaannya diputar di radio, caranya dia bernyanyi sepanjang lagu dengan keras, dan mengajak Taekwoon untuk bernyanyi bersamanya. God, dia terasa sangat... hidup. Terasa sangat salah saat taekwoon menyadari dia tidak berada di sampingnya. Dia pasti akan sangat senang jika tahu Hyuk juga menyukai penyanyi kesukaannya. "Sungguh menyebalkan," bisiknya pada Hyuk. Bayi itu meletakkan kepalanya lagi, seakan setuju dengan ucapan Taekwoon.
Ya, ini menyebalkan. Tapi kita harus bagaimana lagi?
Taekwoon mencipum pipi Hyuk dan mengusap halus punggungnya ketika hakyeon berjalan ke ruang cuci.
Keluar dari pintu rumah di senin pagi menjadi sebuah tantangan. Bukan karena sesuatu yang penting, atau karena rengekan Hyuk.
Taekwoon hanya tak ingin pergi.
Hakyeon sudah akan dengan cerahnya bangun pagi-pagi dengan Hyuk yang sudah ada dipelukannya ketika Taekwoon masuk kamar mandi. Ketika dia mencoba untuk memberi susu pada Hyuk, maka Hakyeon akan mengomelinya karena dia hampir terlambat dan berkata dia yang akan mengurus semuanya.
Ketika Taekwoon masih berdiri didepan pintu, berucap lirih pada Hyuk bahwa dia akan sampai dirumah pukul enam, Hakyeon mengingatkan tentang waktu dan berucap mereka akan baik-baik saja. Taekwoon tidak pergi sebelum Hakyeon berjanji akan mengiriminya pesan sepanjang hari, juga foto.
Itu menggelikan. Bayinya tidak akan melakukan banyak hal, hanya tidur dan menangis. Sekarang ketika Taekwoon sedang bekerja, Hyuk mau apa? Mulai bicara dan jalan-jalan siang?
Ketika dia sampai dikantor, pikirannya terlalu kemana-mana. Dia tidak berpikir tentang sesuatu yang dia tinggalkan. Ketika dia memarkirkan mobilnya, dia menghitung didalam hati. Jika Hakyeon benar-benar pergi dengan membawa Hyuk, mungkin ini sudah ada diperjalanannya ke China. Atau Thailand? Mungkin dia sudah ada dibandara sekarang dan menuju ke entah sisi dunia mana. Atau, dia bisa saja menjatuhkan Hyuk. Dia bisa saja,,, Ya Tuhan, dia tak bisa memikirkan apapun yang mungkin Hakyeon sudah lakukan sekarang.
Taekwoon berjalan melewati pintu masuk seperti tanpa nyawa.
Tiffany terlihat kaget ketika dia masuk, "You look like hell,"
Kata-katanya hanya terlewat begitu saja. Baru beberapa langkah masuk gedung kantornya Taekwoon ingin menelfon Wonshik dan mengatakan dia akan bekerja dari rumah atau bolos. Dia akan menelfon Hakyeon dan mengecek, lalu akan langsung pulang tanpa mengatakan dia sudah di jalan.
Ketika tidak mendapatkan respon, Tiffany mencoba lagi, "Taek? Segalanya baik-baik saja?"
"Huh?" Taekwoon menemukan ponselnya di dalam tas lalu akan mencari nomer Hakyeon, namun ada pesan yang dikirim dengan foto. Hyuk terlelap di keranjangnya.
Dia sudah sarapan, kubacakan buku, dan dia tidur. Berhenti khawatir. 😊
Apa Hakyeon pembaca pikiran?
"Maaf, Tiff, hanya,,," dia menengadah dari ponselnya, melihat ekspresinya, dan menjatuhkan dirinya dikursi seberang resepsionis.
"Sudah merindukannya?" senyum hangatnya mengingatkan Taekwoon bahwa dia baru saja melahirkan beberapa bulan sebelumnya.
"Iya, itu juga" Taekwoon menyandarkan tubuhnya. "Aku hanya kepikiran—"
"Bagaimana jika baby sitternya gila, bagaimana jika kebakarang, bagaimana jika—"
"Tuhan, aku bahkan tidak berpikir tentang api!" Taekwoon hampir mengambil ponselnya lagi, hampir menelfon, tapi berhenti saat Tiffany tertawa.
"Kau punya banyak kekhawatiran, sudah kulewati"
"Begitukah?"
"Apa telapak tanganmu berkeringat? Sedikit pusing? Jantung berdetak?"
Sudah lebih baik. Tapi.. "Sedikit banyak."
"Begitulah," dia mengangguk, lalu tersenyum. "Ini menyebalkan, tapi kau akan melewatinya,"
Benarkah?
Tiffany bangun dari tempatnya lalu mendekat pada Taekwoon. "Sudah dapat fotonya?"
"Baru hampir seratus."
Setelah Tiffany tersenyum sambil mengomentari foto-foto Hyuk di ponselnya, dia merasa lebih baik. Setidaknya dia tidak jadi berlari pulang kerumah dan membunuh baby sitternya.
Tertidur di meja mugkin bukan hal yang bagus jika ketahuan boss kebanyakan, tetapi Wonshik bukan boss kebanyakan. Taekwoon terbangun dengan aroma kopi yang tercium di hidungnya, Wonshik memberikan satu gelas kopi lengkap dengan uapnya.
"Bangun, putri tidur. Kau punya klien dalam dua puluh menit,"
Taekwoon mengerjapkan matanya dan menegakkan tubuhnya. "Oh, shit. Maaf," Dia mengucek mata kantuknya lalu mengecek ponselnya. Ada pesan lain dari Hakyeon.
Dia terlihat bagus dengan warna hijau, kan?
Fotonya menunjukkan Hyuk dengan sepasang piyama warna hijau mint, dan senyuman. Taekwoon menunjukkan fotonya pada Wonshik.
"Little Heartbreaker," ucapnya sambil tersenyum menggoda sebelum duduk berseberangan dengan Taekwoon. "Kau tak apa bekerja di lapangan?"
"Apa yang harus kulakukan?"
Wonshik mengangkat bahunya, "Memasang koneksi baru dan mengawasi pengambilan beberapa barang."
"Boleh pulang setelah kukerjakan?" dia berharap Wonshik tahu kalau dia sedang bercanda, tapi yah, tidak juga sebenarnya.
Dengan tawa, Wonshik mengangguk. "Iya, pemalas, pulanglah,"
Taekwoon mengambil satu sesapan panjang dari kopi yang dibawakan Wonshik, kemudian tertawa kecil. "Ku tebak sekarag bukan waktunya untuk minta kenaikan gaji,"
"Selalu susah untuk minta itu." Wonshik menyandar dan menatap Taekwoon dengan tatapan lebih serius dari pada sebelumnya, "Serius, sekarang kau punya anak dan lainnya, kau mungkin untuk menaikkan gajimu. Aku punya penasihat keuangan yang kau bisa ajak ngobrol. Dia membuat para gadis berhemat, dan membagi pengeluaran bulananku,"
Bagus. Ini tidak hanya tentang kehidupan mereka hingga Hyuk berusia delapan belas, tapi juga tentang masa depan dan lainnya. Apalagi jika dia sudah tidak bisa bersamanya. Hal bagus. "Ya, aku belum berpikir tentang itu juga,"
"Akan ku tinggalkan kartu namanya dimejamu," Saat mereka berdua berdiri, Taekwoon tersenyum ke arah Wonshik. Hal jarang. "Terima kasih boss,"
Klien yang dihadapi Taekwoon ternyata lebih menyebalkan dari yang dibayangkan. Apa yang dia minta dan apa yang diberitahukan Wonshik sangatlah berbeda. Masalahnya bukan pada hardware, atau koneksinya. Tapi bagaimana pegawai-pegawai dari perusahaan itu berhasil membuat kesal Taekwoon. Dia sudah menyadarinya, tapi dia tidak tahu akan makan waktu yang sangat lama. Bagian paling menyebalkannya, dia harus pulang lebih akhir dari yang dibayangkannya.
Hyuk ada digendongan Hakyeon saat Taekwoon sampai dipintu. Meja makan sudah rapi dengan makan malam lengkap, rumah bersih, dan Hyuk tampak segar setelah mandi. Hati Taekwoon menciut. Dia sangat suka saat mandi. "Maaf, aku telat."
Hakyeon melirik jam di dinding dapur. "Kau tiga menit lebih awal..."
"Aku kira aku bisa pulang satu jam lebih awal, jadi aku bilang aku pulang telat," Taekwoon memotong jarak antara mereka, lalu meraih Hyuk. "Bagaimana hari ini?" tanyanya lirih di telinga Hyuk sebelum mencium pipinya. Ketegangan yang dialami seharian serasa meluruh saat Hyuk merapat pada bahunya. "Aku merindukanmu, bocah,"
"Makan malam siap, jika kau juga," Hakyeon berbalik menatap mereka berdua lalu memasang ekspresi lembut, "Dia baik-baik saja hari ini, Dad. Kami jalan-jalan disekitar blok, dan waktu membaca buku. Lalu mandi."
Dad. Huh. Sudah hampir dua bulan dan Taekwoon tak pernah menyebut dirinya ayah. "Aku bukan ayahnya yang sebenarnya," dia tak sadar, betapa menyakitkannya jika mengakuinya dengan jelas. Selama beberapa interview dengan beberapa baby sitter, mungkin semuanya menganggapnya ayah Hyuk dan Taekwoon tak berniat menyalahkan mereka. Tapi tak peduli apapun yang ditulis di akta kelahiran, dia tahu dia tetap bukan keluarga Hyuk.
Hakyeon menatap Taekwoon tajam saat meletakkan satu mengkuk nasi untuk Taekwoon. "Jangan ayahku mendengarmu berkata seperti itu. Kalian harus bertemu, tetap saja."
"Kau diadopsi?" Taekwoon mengambil botol susu Hyuk yang sudah hangat.
"Tidak, tapi satu adik perempuan, dan satu adik laki-lakiku." Hakyeon mengulurkan kain sendawa Hyuk dan duduk. Ayam panggang, nasi hangat, kimchi. Sempurna. "Baru-baru ini Namjoo memukul seorang dari kelasnya karena menyebut kami keluarga palsunya,"
Taekwoon menatap Hyuk yang sedang menikmati makan malamnya, "Dia pantas mendapatkannya,"
Hakyeon terlihat terharu, "Setuju. Tapi sayangnya hal seperti itu tidak bekerja dilingkungan yang sopan," Ketika dia menyiapkan makanan Hakyeon menambakan, "Kau tak faham maksudku," dia menunggu Taekwoon menatapnya sebelum melanjutkan, "Hanya karena kau bukan ayah kandungnya, bukan berarti kau bukan ayahnya. Kau yang terbangun untuknya setiap malam, mengganti popoknya, memberinya makan, mencintainya. Kau sudah menjadi ayahnya, sadar atau tidak,"
Hal seperti itu mungkin tak pernah muncul dipikiran kacau Taekwoon mungkin. Tapi cukup menenangkannya. Seorang ayah memang selalu tahu apa yang harus dilakukannya kan? "Bagaimana kedengarannya, Hyuk?" tanyanya sambil mengusap hidung Hyuk dengan ujung jarinya. "Ayah panggilan yang bagus, kan?" Hyuk menendang-nendang dengan kaki kecilnya. "Kuanggap itu jawaban iya,"
Setelah Hyuk menghabiskan botolnya, makan malam Taekwoon sudah mendingin, tapi tak apa. Dia makan dengan Hyuk berada dipangkuannya.
Hakyeon berdiri dengan mangkuknya yang sudah kosong dan meletakkannya di wastafel. "Aku bisa membawanya, dan kau bisa meneruskan makan malammu,"
"Aku baik-baik saja. Tugasmu selesai, bersantailah." Taekwoon bersikeras akan menggendong Hyuk semalaman. Dia sudah sangat merindukannya seharian.
"Baik," Hakyeon mulai membersihkan apa yang ada dimeja makan, kecuali milik Taekwoon dan mulai membersihkan dapur. Dia berhenti sebentar lalu menatap Taekwoon. "Coba untuk mengingatnya, bagian dari mengurusnya adalah dengan mengurus dirimu sendiri, okay?"
Taekwoon mengangguk. Dia tahu apa yang dikatakan Hakyeon adalah benar. "Baiklah,"
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Taekwoon menyelesaikan makan malamnya dan membawa peralatan makannya ke dapur. Dia tak bisa menahan dirinya untuk menatap Hakyeon ketika mendekat ke arah tempat cuci.
Hakyeon punya pantat yang bagus, tak perlu diragukan.
Kemudian dia merasa dirinya nampak seperti pervert, berpikir begitu tentang baby sitternya. Menggendong Hyuk sambil berfikir seperti itu, Taekwoon harus mencuci pikirannya juga. "Hey, Bagaimana skil mengemudimu?"
"Yah," Hakyeon mendongak saat senyum jahat main-mainnya nampak dibibirnya. "Aku biasanya menyetir dengan kedua lututku, jadi aku bisa berkendara sambil mengirim pesan, mungkin sesekali aku harus menabrak sisi jalan, tapi selama ini aku baik-baik saja,"
Taekwoon tak bisa menahan tawanya. "Aku anggap kau bercanda,"
Hakyeon memutar matanya, "Aku tidak pernah kena tilang,"
"Sungguh? Setiap pasti pernah kena, karena menyerobot lampu merah atau kecepatan terlalu tinggi," Taekwoon tentu sering mendapatkannya.
Hakyeon mengangkat bahunya sebelum membilas piring lain. "Ayah dan ibuku berkata akan membayar pajak mobilku selama aku tak membuat masalah. Aku belajar untuk menjadi pengemudi yang sangat berhati-hati."
"Orang tua yang pintar. Aku bertaruh kalian semua sangat aman dijalanan,"
Hakyeon menggelengkan kepalanya saat mengambil satu mangkuk. "Adik perempuanku sangat mengerikan dijalan. Untungnya, dia selalu naik bus kemanapun dia pergi,"
Taekwoon menambahkan sedikit sabun cuci untuk Hakyeon. "Setidaknya dia tahu batasnya,"
"Itu dia," Hakyeon mengeringkan tangannya dan bersandar saat Taekwoon mulai mencuci alat makannya, "Alasan kenapa kau penasaran dengan skill mengendaraku?"
Oh, benar. Taekwoon punya alasan kan? "Setiap orang di tempat kerjaku ingin bertemu dengan Hyuk. Aku berpikir bagaimana pendapatmu tentang membawanya di hari Jum'at untuk kunjungan singkat?"
Oke. Sial. Senyum cerah di wajah Hakyeon nampaknya cukup untuk menyinari beberapa blok rumahnya.
Hakyeon membenahi rambut yang menutupi sebagian matanya, "Yah, kupikir aku bisa menyelipkannya di jadwal sibuk kita."
Taekwoon mengangguk lalu mengayunkan Hyuk dilengannya. "Ingin melihat tempat kerja ayah, nak?" Hyuk tak memberinya jawaban jelas, tapi tendangan kakinya seritme dengan langkah Taekwoon yang membawanya ke ruang tamu. Mereka terdiam sebentar di atas sofa, Taekwoon menatap Hyuk, lalu menggelitik telapak kaki mungilnya.
Ketika Hakyeon berjalan ke ruang tamu, Taekwoon memberinya satu senyuman. Ini baru beberapa hari, dan dia sudah terbiasa dengan kehadirannya, terbiasa dengan segala bantuannya. Dia mulai mempercayainya. Pulang ke rumah dan mendapati Hyuk bahagia juga terurus adalah hal yang paling diinginkannya. "Kupikir kau mulai bisa memindahkan barang-barangmu minggu depan."
Hakyeon menatapnya, tapi tak menyahut.
"Jika kau nyaman, maksduku. Tak apa untukmu?"
"Ya, sungguh tak apa," Hakyeon menggigit bibirnya agar tidak tersenyum terlalu lebar. "Ibu berkata untuk mengundangmu dan Hyuk untuk makan malam keluarga di hari minggu. Tak ada tekanan, tapi terbuka jika kau ingin."
Taekwoon memikirkan hal itu sejenak. Dia suka dengan ide melihat darimana Hakyeon berasal. Tapi disisi lain, pertemuan keluarga nampaknya terlalu pribadi. Mereka belum sedekat itu. "Aku pikir lain kali, tapi terima kasih dengan undangannya,"
Mengangguk atas jawaban Taekwoon, lalu berkata "Aku sudah punya perasaan kalau kau akan menjawab seperti itu, tapi ini undangan terbuka,"
"Terima kasih, aku sangat mengapresiasinya," Taekwoon tersenyum padanya dan menarik Hyuk lebih dekat. Dia menatapnya beberapa saat. Jam tujuh lebih sepuluh menit. "Hey, dia tidak menangis."
Seperti diingatkan, Hyuk mengangkat lengannya lalu mulai merengek. Taekwoon mencoba menenangkanya dan mengusap punggungnya, tapi terlambat. Hyuk sudah mulai menangis dengan telapak tangan menggenggam erat.
Hakyeon memutar matanya, menggoda. "Kau memang sial,"
tbc.
Fast update.
karena timing lagi pas. Jadi semangat menerjemah.
Comment, like, atau bahkan kritik masih diterima.
