THE LAST SCENE

Plum Peach

Sasuke dan Naruto. Dua 'main character' dari seri film terlaris seorang mangaka terkenal Masashi Kishimoto–sensei yang akan ditamatkan dua chapter lagi! Memulai syuting adegan terakhir mereka, di panggung terakhir… / Lalu, di akhir cerita…? /BAD_SUMMARY&STORY_ALWAYS!/ Pairing: Always_SasuNaru


[2nd Chapter :: SAYONARA, TEME!]

Kalau aku masih punya "waktu" lebih lama lagi… Aku hanya berharap bisa berada di sisimu, bersama mu selalu. Egois kah?

Aku bukannya menyuruhmu untuk mengatakan "Sayonara" kepada dirinya, tapi aku ingin mengatakan padamu kata–kata yang seharusnya kau ucapkan; "SAy You lOve NAruto afteR All!"

–—karena itu adalah SAYONARA versi mu, Baka Teme!

.

.


[The Final Valley :: The Last Day]

Setelah beberapa hari terakhir semuanya disibukkan dengan kegiatan persiapan ringan, akhirnya mereka kembali tampak serius dalam menjalani syuting kali ini. Ya, karena ini adalah 'panggung' terakhir mereka—–

"Jutsu itu adalah jutsu yang benar-benar membuktikan kesepian atas dirimu!" ucap seorang Uchiha Sasuke, begitu menghayati perannya, tanpa menyadari bisikan kecil dari seorang pemuda bersurai pirang cerah di hadapannya yang tampak termenung, cemberut lebih tepatnya.

'Kalau kau tau aku kesepian, kenapa kau tidak ke sini dan langsung memelukku, Teme!?' –—batin Naruto, mendadak Out Of Topic di tengah syuting yang sedang berlangsung sekarang ini.

Tanpa disadarinya Sasuke yang berada dalam mode Susano'o sempurna tiba–tiba saja menyerangnya hingga bunshin miliknya yang sedang dalam mode Kurama terlempar.

Kedua pemuda itupun akhirnya kembali bertarung dan menghancurkan setting yang telah dibuat susah–payah oleh para kru selama hampir seminggu terakhir dengan serius!

Syuting masih terus berlanjut hingga pada babak berikutnya, sebelum akhirnya kedua pemuda itu dipersilahkan untuk meninggalkan stage, beristirahat sejenak.

Keadaan di sekeliling pemuda raven itu kembali seperti hari–hari sebelumnya, ramai, dimana hampir semua wanita yang berada di lokasi take pengambilan gambar hari itu langsung mengerubunginya tanpa memberinya celah untuk bernafas sedikitpun. Beberapa diantaranya terlihat cukup sedih, begitu memberikan bungkusan, hadiah perpisahan mereka, pada sang Uchiha yang sedikitnya mau menerima dan berterimakasih pada mereka sebelum mejauh dari panggung, tampak seperti sedang kebingungan mencari sesuatu, –—atau lebih tepatnya seseorang.

.

"Nee, Naruto—– Apa kau sedang bertengkar dengan Sasuke–kun?" suara Sakura terdengar setengah berbisik, bersamaan dengan dirinya yang tampak mulai sedikit membungkuk di hadapan pemuda bersurai pirang yang memilih untuk duduk sendirian, memojokkan diri, bersembunyi dari keramaian yang disebabkan oleh seorang Teme yang tampak seperti seekor ayam kebingungan di seberang sana.

"…"

"Hmm… Mungkin aku tak seharusnya mengatakan hal itu padamu kalau aku tahu akan begini akhirnya—–" lanjut gadis bersurai merah muda itu, terdengar cukup menyesal, begitu merasa tidak ada respon yang berarti dari pemuda di hadapannya itu.

"Hei… Kau tahu? Sasuke–kun benar–benar tak ingin melihatmu bersedih seperti ini, itulah alasannya kenapa dia tak mau mengatakannya langsung padamu…" ucap Sakura lagi, mencoba menyemangati, "Jadi bersemangatlah seperti biasanya! SHANAROO!" lanjutnya, sebelum gadis itu pergi berlalu dari hadapan sang blonde, begitu melihat Sasuke sudah agak menjauh dari tempat mereka berada.

–—sunyi.

.

"Ha–hah— begitukah?" gumam Naruto pada akhirnya, tak jelas, seketika berdiri dari posisi duduknya, sebelum melemaskan tangannya yang terasa sedikit kaku. "Yosh! Kalau benar begitu, kali ini akan ku katakan semuanya pada si Teme itu!" ucapnya lagi, sembari tersenyum, mulai bersemangat lagi.

.

.


Plum Peach

Itcha Meguri S.A. Honokaa Sagami

Present

A SasuNaru Fanfiction for Naruto Birthday's

THE LAST SCENE

Disclaimer: NARUTO (manga/anime/chara) ©Masashi Kishimoto–sensei

Genre: Drama, Friendship(?), Humor!Garing, Romance!Picisan and other…

Rating: T

Pairing: Always_SasuNaru4ever

––– WARNING –––

Summary yang kagak nyambung dengan cerita yang tidak jelas, Shonen-ai or Yaoi kah? (Slash! Pokoknya Boys love! Yay!), AU, OC plus OOC, Semi!CANON(?), Kosa-kata absurd(?!), Typo(s) bergentayangan? and OTHER WARN because this is my 8th fiction~

Cerita ini hanya berisikan kosa kata absurd penulis yang memang ndak punya ide menarik dan berakhir dengan kebingungan mau buat apalagi selain cerita ndak mutu seperti ini karena penulis terlalu suka menggunakan EYD+2P (Ejaan Yang Diinginkan+Pemikiran ala Penulis) yang baik dan benar~

Satu lagi fic absurd dari seorang Itcha Meguri yang benar–benar galau karena cerita NARUTO pada akhirnya akan berubah(?) jadi STRAIGHT?

/author langsung banting stir ke Hurt/Comfort style/

––– WARNING –––

NOT LIKE MY STORY? PLEASE DON'T READ FOR SAFETY~

BUT "THANKS" TO ALL OF YOU THAT WANNA READ AND LIKE THIS STORY

PLEASE DON'T BLAME THE CHARA/ PAIRING/ OTHER IN ORIGINAL MANGA 'CAUSE THIS WORST FIC OF MINE ^_^


GOODBYE, TEME!

Setelah beribu–ribu hari yang kita lewati bersama

Bagaimana aku bisa mengatakan "Selamat Tinggal!" begitu saja padamu, Baka?!

Lagipula– bukan "SAYONARA" yang itu yang ingin ku ucapkan padamu!

.

.

Hiruk–pikuk orang yang berlalu di sekitar ruang tunggu khusus yang ada di Narita International Airport tidak hanya membuat seorang Uchiha Sasuke merasa risih lagi, tapi dia benar–benar bingung bukan kepalang!

Yaa… Bagaimana tidak bingung? Hampir semua wartawan yang tau akan rencana keberangkatan pemuda bersurai raven itu ke London hari ini benar–benar mengejarnya sejak pulang dari tempat syuting sore tadi. Ditambah kenyataannya dia sama sekali belum sempat bertemu dengan seseorang yang sejak beberapa hari terakhir ini terkesan menghindarinya, seseorang yang sangat penting baginya saat ini –—Uzumaki Naruto.

.

"Sasuke–kun! Sebelah sini!"

Satu seruan terdengar memecah hiruk–pikuk para wartawan yang tampak berlarian ke sana–sini hanya untuk mencari sosok yang memanggil nama salah satu actor istimewa dengan bayaran tertinggi itu. Segera saja mereka menyorotkan lensa kamera ke arah sosok seorang gadis bertudung dan berkacamata tebal di sebelah pintu keluar, mengejarnya tanpa mengetahui jika sang Uchiha masih menyamar di balik kerumunan orang biasa dalam ruangan itu.

'Nice one, Sakura!'–—batin Sasuke, lelah, sedikit bersyukur karena akhirnya dia bisa terlepas dari kejaran para wartawan yang terus–menerus mengekorinya. Sepertinya dia benar–benar 'berhutang' banyak pada gadis itu atas semua usahanya, atau tidak sama sekali. Mungkin?

Sedikit bernafas lega, Sasuke mulai menyandarkan punggungnya pada dinding dingin bercat putih di belakangnya. Mendapati barang–barangnya sudah dibawa oleh para kru lainnya tadi, sempat membuat bebannya terasa agak lebih ringan, hilang kewaspadaan lebih tepatnya.

Pemuda bermata onyx itupun bahkan tampaknya masih belum menyadari keberadaan seseorang yang entah sejak kapan memperhatikan dirinya dari balik pintu darurat yang ada di sebelahnya. Sedikit tersenyum licik, sosok itupun akhirnya menarik sang raven menuju tangga darurat di balik pintu itu.

.

[Narita International Airport :: Tangga Darurat]

Suasana yang gelap ditambah lagi udara yang pengap dimana tangga darurat itu berada sangatlah mengganggu sang Uchiha bungsu yang tampak masih belum bisa melawan dari dekapan seseorang yang baru saja 'menculiknya'. Yak! Dia baru saja diculik oleh seseorang!

Dengan sedikit usaha ekstra, pemuda bersurai raven itupun mencoba membalik keadaan, berputar cepat, lalu beralih mendekap sosok yang sejak tadi mencoba membawa dirinya entah kemana, semakin menaiki tangga darurat itu.

.

"Hmphmhh~ puah! Apa–apaan kau, Teme!" seruan protes terdengar menggema, berirama khas, terdengar sangat familiar di telinga Sasuke yang masih mendekap sosok pelaku 'penculikan' yang mulai memberontak dalam pelukannya itu.

"Hn? Kau itu yang 'apaapa'eits? Naruto?!" suara baritone sang Uchiha terdengar heran, sedikit membuat alisnya saling bertautan, sebelum akhirnya pemuda raven itu membalik sosok yang ada dalam dekapannya itu agar sejajar dengan tatapan manik onyx miliknya yang sempat memicing, tajam.

"Kau benar–benar Naruto?" tanyanya lagi, masih memastikan bahwa sosok di hadapannya itu adalah orang yang paling ingin ditemuinya sekarang ini.

"Hmph— kau pikir siapa lagi yang berani memanggil seorang Uchiha Sasuke dengan panggilan 'Teme' selain Uzumaki Naruto–sama ini, huh?"

Kali ini dapat dipastikan jika sosok pemilik suara manis yang selalu mengucapkan kata–kata menyebalkan itu adalah Naruto yang dikenalnya, hingga akhirnya seorang Uchiha Sasuke bisa tersenyum, lega, walaupun tidak dapat terlihat jelas oleh pemuda pirang yang ada di dekatnya itu dikarenakan cahaya yang temaram.

.

"Hn. Lalu untuk apa kau ke sini, Dobe?" suara pemuda bersurai raven itu terdengar tajam, menyelidik, tangannya masih menggenggam erat pundak pemuda di depannya itu, sebelum menuntunnya keluar dari tangga darurat, "Kau tidak bermaksud untuk ikut ke London diam–diam, bukan?" celetuk Sasuke lagi, yang ternyata mendapat respon yang cukup mengejutkan. Uzumaki Naruto langsung membatu ditempat!

"Ehem— err… te–tentu tidak! Memangnya untuk apa aku mengikutimu pergi ke London, huh? Seperti kurang kerjaan saja! Ahahaha—"

'Seperti aku tidak tau pemikiranmu saja—' batin Sasuke, ber-sweatdropped ria seketika, "Usuratonkachi."

Hanya itu kata–kata yang bisa diucapkan Sasuke, sedikit tidaknya kali ini dia masih bisa menjangkau pemuda bersurai pirang di sebelahnya kini. –—dan sekarang adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya pada pemuda ini!

.

[Narita International Airport :: Heliport – VIP class]

Udara dingin mulai terasa menyergap, menghampiri kedua pemuda yang baru saja sampai di lantai teratas dari tangga tadi, dimana Sasuke terlihat berjalan terlebih dahulu, diikuti Naruto di belakangnya.

"Naruto—–" suara sang raven lagi–lagi membuat pemuda bersurai pirang di sebelahnya tersentak, sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebelum tersenyum khas ke arah pemuda berkulit pucat yang menatapnya melalui onyx kelam miliknya itu, "Ada apa, Sasuke?" balasnya, kikuk.

"Aku tetap akan pergi." Semilir angin terkesan membawa suara sang raven pergi, melewati pemuda blonde di belakangnya yang tampak sedikit mengosok punggung tangannya, gelisah.

"HuHuuh? Lalu apa hubungannya dengan ku? Kalau kau mau pergi, pergilah—"

.

"GREP!"

"BRUK!"

Hanya dengan sekali serang, Sasuke dengan mudahnya menarik Naruto dan menjatuhkannya, membuat pemuda bersurai pirang yang sempat tercengang, kaget, itu agak meringis begitu punggungnya berbenturan cukup keras dengan Heliport di bawahnya. Belum sempat melawan, lagilagi Naruto dikejutkan dengan tingkah ambigu pemuda raven itu, yang tampak tersenyum evil dan mulai bergerak ke atasnya.

"Sa–Sasuke—?" setengah panik, Naruto berpikir jika dia benar–benar akan dipulangkan oleh Uchiha Bungsu itu karena ketahuan ingin mengikuti hingga ke London, walaupun itu hanya niat isengnya untuk 'mengisi waktu' dengan menjadi stalker sang raven.

'Tapi sepertinya ini akan jadi masalah serius—' batinnya kemudian, miris.

.

"TeTeme—Sasuke, kau tidak akan memukul ku, bukan?" suara sok manis, ditambah "puppy eyes no jutsu" miliknya… Tidak mungkin bisa 'meluluhkan' seorang Uchiha Sasuke yang sedang murka!

Lihat saja tangannya itu! Mulai mendekat ke wajah Naruto dan—

.

.

"puft—"

Satu tepukan hangat mengenai puncak kepala milik pemuda bersurai pirang itu, sedikit mengelus lembut, sebelum berpindah ke belakang dan menariknya mendekat, hingga dahi mereka saling bersentuhan, nyaman.

.

"Naruto, aku tahu dimasa lalu kau sudah sendiri seperti aku, Uchiha terakhir yang kau panggil kau bertindak seperti orang bodoh agar orang-orang memperhatikanmu karena kau ingin mereka menaruh perhatian padamu.

Diawal aku pikir kau sama sekali tak penting untuk diperhatikan seperti orang lemah yang bermain-main.. tapi saat melihatmu melakukan hal bodoh dan dimarahi, entah mengapa aku jadi memperhatikanmu, waktu itu aku sadar kalau kelemahanmu sudah masuk kepadaku, aku tak bisa berhenti memperhatikanmu dan saat aku melihatmu melakukan segalanya untuk menciptakan ikatan dengan yang lain, itu mengingatkanku dengan keluargaku…"

.

"Sasuke itu…"

Dengan cepat, Sasuke meletakkan satu jari telunjuknya pada bibir lembut pemuda dihadapannya itu, menghentikan ucapan sang blonde, sebelum akhirnya onyx kelam itu tampak semakin menatap dalam sapphire terang di hadapannya, mengingat mereka masih dalam keadaan saling berdekatkan, bahkan semakin mendekat.

.

"Hn. Itu membuatku nyaman, juga membuatku merasa lemah, merasa lemah..." sedikit bergumam, Sasuke kembali melanjutkan perkataannya…

"Agar aku mampu kabur dari kelemahan itu, aku mulai berlatih, dengan begitu aku bisa membalas dendam pada kakakku, aku ingin lebih kuat darinya… Aa, bagian ini tidak perlu."

"Hn. Disisi lain, aku jadi satu tim denganmu dan sekali lagi aku mulai menghadapi gambaran keluarga, aku mulai merasa kesakitan dan saat aku mulai mengerti rasa sakitmu, untuk pertama kalinya aku mengakuimu sebagai teman."

"Tapi, diwaktu yang sama, aku mulai tak bisa membiarkanmu menjadi lebih kuat dan saat aku mulai melihatmu menjadi lebih kuat.. Aku..Ini kebalikannya, akulah yang sangat iri denganmu, kau punya kekuatan yang tak ku punya. Kau selalu berjalan didepanku seperti yang dilakukan kakakku dan hari ini juga.. Aku mengakuinya, AKU KALAH"

'Aku benar–benar kalah dari rasa 'suka' ku pada mu.',

'Sasuke itu… Itu dialog terakhir siang tadi, bukan?'

batin Sasuke dan Naruto bersamaan, sendu.

.

"Otanjoubi omedetō, Dobe"

Terimakasih, karena kau telah lahir ke dunia sebagai seorang Uzumaki Naruto.

Seorang pemuda manis bersurai pirang dengan mata beririskan sapphire murni yang jernih bagai birunya langit musim panas.

Seorang pemuda yang tak pernah patah semangat.

Seorang yang paling ingin ku lindungi.

Seorang yang paling tidak ingin ku lihat terjatuh dalam kesedihan, kegelapan, karena kau adalah seseorang yang penting dalam hidupku selama ini.

Arigato to Sayonara to Aishiteru yo, Dobe."

.

.

.

Sebaris dialog yang pernah diucapkan pemuda raven di hadapannya saat syuting terakhir itu terus menggema dalam pikiran Naruto, membuatnya tidak menyadari semburat merah tampak menodai pipi lembut bergaris caramel miliknya, bahkan ucapan "selamat ulang tahun" yang terkesan sangat terlambat itu pun terasa mengena dalam hatinya.

Tepat sebelum tangan dingin milik Sasuke menyentuh pipi lembut milik pemuda yang sedang tercenung di hadapannya itu, yang kemudian digenggam erat oleh sang blonde, hingga tanpa sadar keduanya saling berdekatan— berciuman, berlatarkan langit senja dan diiringi dengan hembusan hangat angin di musim gugur terakhir, untuk kebersamaan terakhir mereka.

.

.

.


[Narita International Airport ::International Flight]

"Kau yakin hanya begini saja, Sasukekun?"

Sakura tampak tercenung di pojokan, memunggungi sang raven yang tampak tidak terlalu memperdulikannya yang sejak tadi memang sudah 'menguntit' dirinya dan Naruto —bahkan hingga pemuda bersurai secerah matahari itu ditinggalkan oleh Sasuke di Heliport tadi… Semuanya, sudah Sakura rekam dalam kamera smartphone miliknya karena dia seorang fujo sejati!

"Hn. Tidak ada yang perlu ku katakan lagi padanya." Acuh, seperti biasanya sang raven menjawab seadanya.

"…"

"Apa?"

"Tidak. Aku hanya berpikir kau terlihat lebih tenang sekarang."

"Hn. Memangnya apa yang perlu ku khawatirkan di dunia yang penuh dengan 'skenario' ini? Kita. Perasaan ini. Bahkan semuanya hingga saat ini bukan sepenuhnya kehendak kita, tapi ini hanyalah 'ilusi', scenario yang diciptakan dan disusun dengan baik oleh 'pencipta' kita ataupun oleh para author lain seperti 'author gallon' di pojok sana!"

Sasuke bergumam, dingin, sedikit melirik tajam ke arah Itcha yang seenaknya memisahkan dirinya dengan Naruto hanya karena dia harus pergi ke London secepatnya demi menjenguk kakek Madara yang masih encok karena syuting terakhir kemarin… /Oh, Lupakan bagian ini!/

.

.

"…"

"…"

"Baiklah, Sasuke–kun. Sampai jumpa di "The Last", 'panggung terakhir' untuk kita semua, dua tahun lagi!"

"Hn."

.

Sakura tampak melambaikan tangannya, mengiringi kepergian Sasuke, disertai dengan satu senyuman memaksa yang sedikitnya berhasil menutupi kegalauan yang sebenarnya menerpa hatinya, risau, karena dia tidak akan pernah bisa lagi melihat adegan hints–hints yang sering diberikan Sasuke dan Naruto selama syuting bersamanya!

'Oh! Kenapa kau begitu jahat padaku, Kami–sama? KENAPA 'SURGA' BAGI JIWA FUJO KU INI TERASA MENGHILANG BEGITU CEPAT?' —batin Sakura dan Itcha, meratapi nasib secara bersamaan, pundung di pojokan.

.

.

.


END, maybe?.


.

.

.

OMAKE

Dua tahun kemudian…

Di musim dingin yang sama seperti dua tahun lalu. Dimana sang Uchiha pergi meninggalkan Jepang, pada hari itu juga di dua tahun berikutnya, hari ini, pemuda bersurai raven yang telah mengubah style rambutnya dari emo menjadi agak lebih panjang, tampak menapaki langkah pertamanya di Jepang setelah sekian lama.

Di tangan sang pemuda terselipkan beberapa kertas fax, surat kabar dan lainnya. Sementara di hadapannya berdiri seorang gadis bersurai merah muda yang tampak mencuat dari balik tudung putihnya, sedang menangis di depan sang raven yang hanya menatap stoic entah kemana.

"Jadi, ini naskah untuk film terakhir kali ini?"ucapan Sasuke tak kalah dinginnya dari tumpukan salju yang mulai berjibun di luar bandara, seketika menghentikan tangis Sakura yang sedang meratapi nasibnya begitu menyerahkan naskah yang menjadi dialog mereka di film terakhir.

"Hiks… IIya… Hiyyy~"balas gadis bermata emerald itu, miris.

'Kenapa aku harus jadi orang ketiga juga di film ini, Kamisama~? Apa MKsensei tidak pernah memikirkan perasaanku yang sudah cukup tersiksa karena masuk dalam kategori chara cewek yang paling dibenci di Jepang ini, huh?! SHANAROO!' —batin Sakura, semakin miris, ternyata gadis itupun juga merasa menjadi 'korban' di cerita ini!

"LaluApa maksud dari chapter ketujuhratusini, huh? Akutidak ingat pernah setuju kalau scene ini benar–benar dimasukkan dalam cerita, bukan?" kali ini pemuda bermata onyx itu menatap tajam ke arah gadis di hadapannya, meminta penjelasan, serius.

"Banyak hal yang terjadi selama dua tahun ini, Sasuke–kun… Naruto bahkan digosipkan mulai 'didekatkan' dengan Hinata sejak kau pergi ke London dua tahun lalu! Sampai sekarang, aku tidak tau apa itu benar atau hanya bualan saja, terlebih—"terakhir kali ini suara Sakura terdengar setengah berbisik, sedikit menundukkan wajahnya yang terlalu takut menatap Sasuke yang seolah mendelik padanya, meminta penjelasan yang lebih detail lagi.

"—Terlebih apa?"tanya sang raven, tak sabaran, kedua alisnya tampak bertaut tajam sembari tangan berbalut glove hitam miliknya mengepal kuat, meremas kertas fax serta surat kabar yang tadi diterimanya, bertuliskan: "Offical: The Last Movie – Romantic Stories? Open–Ending NEW GENERATION!"

"—terlebih… Kau dan Aku digosipkan juga punya 'hubungan khusus' untuk cerita terakhir setelah dua tahun ini."

.

'GOD!'

Ini adalah berita paling mengerikan yang pernah didengar oleh seorang Uchiha Sasuke selama dirinya hidup di dunia ini!

.

"Sakura. Kau ingin selalu bersama ku, bukan?"pertanyaan bernada stoic khas dari sang Uchiha Bungsu membuat Sakura langsung tersentak, kaget, "Huh? Tentu saja!" jawabnya, cepat,'Kalau bersama Sasuke–kun aku jadi bisa melihat hints–hints yaoi lebih banyak~'batinnya, ngaco.

"Kalau begitu, ikut aku! Kita perlu menggunakan 'mangekyou sharingan' ke seluruh penduduk di muka bumi ini!"

"EHH?!"

"Apa? Kau tidak setuju dengan 'revolusi' ku kali ini?"kali ini Sasuke tampak menatap tajam ke arah gadis bermata emerald itu, seolah tak menutupi betapa murkanya dirinya saat ini.

"Bu–bukannya begitu…" elak Sakura seketika, takut ditusuk tiba–tiba oleh pemuda di hadapannya seperti scene saat mereka syuting dua tahun lalu, "Bukankah sekarang ada cara yang lebih mudah dan bisa memberikan efek cepat pada sasaran dibandingkan cara 'membuang–buang tenaga percuma' seperti itu?" jelasnya, cepat.

"Memangnya bagaimana 'cara yang lebih mudah dan bisa memberikan efek cepat pada sasaran' itu, huh?" tanya Sasuke, sengit, merasa kesal ketika ide 'Revolusi' sesuai keinginannya selalu saja ditentang oleh orang–orang dekatnya.

"Begini, kita gunakan saja jutsu terlarang yang banyak digunakan para fans zaman sekarang!" ucap Sakura kemudian, semangat, seolah tak peduli dengan ekspresi cengo dari pemuda di depannya itu.

"Hah?"

"Yup! Internet. PROJECT: FANFICTION NO JUTSU, START!"

.

.

.

Beneran END!

–—rencana sequel: "FANFICTION NO JUTSU!"—


A/N: "Gomenasai, karena kabur seperti anak kecil untuk beberapa waktu lalu, minna…" *deep bow* "dan 'Gomenasai juga kalau moment SasuNaru'a ndak ngena~" #hikutsu… TT^TT /Itcha masih meratapi nasib dan makin pundung di pojokan/

Yak! "Arigatō Gozaimasu!" for reading –and still, "Mind to review?", minna–san? ^o^