KYAAA!(? akhir-akhir ini suka screaming kayak fansgirl ="=) ada yang review! xD

.

ruizuna: Terima kasih telah menjadi reviewer pertama ^_^. Keep it, eh? Tapi tetep review ya? Hehe

.

Shicchi Kurokocchi: 'Hemaprodit' teh naon, neng? *sundanya keluar*. Okay, okay. Akan saya apdet as soon as possible~

.

BloodyBleedingWings: Akhirnya muncul juga -_- ane sih rencana mau bikin mas Murasakibara itu semacam temen curhatnya Akashi. Karena menurut ane timing kemunculan dia gak pas, makanya sengaja tidak dimunculkan di chapter 1. Okesip, kowe wajib review per chapter #maksa.

.

shikitsu: Ah, gomen. Saya lupa mencantumkannya di warning ="= soal AoAka…berhubung pikiran saya abstrak sangad, jadi bisa dibilang saya menyukai crack pair. Terima kasih sudah review!

.

.

.

Aomine menatap pemuda berambut merah itu lekat-lekat. Sedangkan Akashi menatap balik pemuda berkulit gelap itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Mereka berdua duduk di sofa yang bersebrangan, dengan meja kecil diantara mereka.

Aomine berganti melihat kearah alat test kehamilan yang mendarat di wajahnya dengan elegan beberapa menit yang lalu.

"Ini...apa?"

"You don't say." Akashi menumpang kaki sambil menyilangkan kedua tangannya. Kedua mata heterochrome pemuda itu menatap tajam kearah Aomine.

Aomine menggeram, "I-iya, aku tau ini alat test kehamilan. Tapi..." Aomine menghela napasnya, "...aku tak menyangka orang sepertimu akan menghamili anak orang-"

"Aku yang hamil, Daiki..."

...

...

Hening.

...

...

"Itu nggak lucu, Akashi."

"Tidak pernah mendengar istilah m-preg?"

Aomine menaikkan satu alisnya.

"Oh. Sela...mat?-"

"Kau yang menghamiliku. Kau yang tanggung jawab."

Kata-kata Akashi terngiang-ngiang di telinga Aomine. Butuh waktu bagi Aomine untuk memproses kata-kata Akashi.

"Maaf-?"

"Kau mendengarku, Daiki." Akashi berusaha sabar untuk menghadapi Aomine yang memang agak telat itu.

Aomine mengacak rambutnya.

"Maksudku..."-membuang napas berat, "Siapa yang tidak kaget tiba-tiba disambut dengan sebuah gunting yang hampir melukaiku, terlebih lagi si pelaku adalah laki-laki yang mengaku hamil dan memintaku untuk bertanggung jawab?"

Akashi sudah memprediksi bahwa Aomine akan berkata begitu. Ia menghela napasnya.

"Kau lupa? Kau yang memperkosaku kemarin malam."

"Akashi, ini sama sekali tidak lucu." Aomine menunjuk Akashi, "Kalaupun aku memperkosa seseorang, aku akan memperkosa gadis dengan dada besar."

Akashi memijat pelipisnya.

"Kau menghamiliku, dan sekarang kau sama seperti menyuruhku untuk menceritakan kronologisnya."-menghela napas.

.

.

Flashback

"Otsukaresama deshita!"

Momoi memberikan handuk kepada masing-masing member.

"Satsuki, minumanku yang mana?"

"Eh? Yang air putih, botol sedang."

Aomine mengambil 2 botol yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan oleh Momoi.

"Dua duanya air putih."

Momoi yang tengah sibuk mengurus member lain, tak sempat mengalihkan pandangannya kepada Aomine.

"Beda! Salah satunya adalah wine yang dipesan oleh Riko-chan. Ada obat perangsang didalamnya."

Aomine sweatdrop. Astaga, untuk apa siswi SMA memasukkan obat perangsang kedalam wine?

Tapi namanya juga Aomine, mana pernah dia peduli pada urusan orang lain?

Aomine menatap salah satu botol yang berisi air lebih banyak daripada botol satunya. Ia pun menaruh botol yang airnya sedikit di bangku, dan meminum yang airnya lebih banyak.

Ah, syukurlah. Rasanya hambar, rasa air.

Aomine menaruh botol itu di bangku, bersebelahan dengan botol yang berisi wine.

Setelah mengeringkan diri dengan handuknya, Aomine berpamitan dengan yang lain. Ia pun keluar dari gym dan menuju ruang locker.

.

.

Setelah berganti baju, Aomine keluar dari ruang locker. Namun terhenti didepan pintu gym yang kosong. Sepertinya hanya dengan melihat bola basket membuatnya ingin bermain barang sekali saja.

Aomine memutuskan untuk bermain sebentar. Ia melepaskan jaketnya, mengambil sebuah bola basket yang ada disana. Sebenarnya akan lebih menyenangkan jika bermain one-on-one, tapi berhubung sepertinya orang-orang sudah pulang semua, jadilah Aomine bermain sendiri.

2 jam terasa sebentar bagi Aomine, namun pemuda berkulit gelap itu sudah kelelahan. Tidak aneh, sebenarnya. Dia baru saja bermain basket beberapa jam yang lalu. Dan sekarang ia bermain basket lagi.

Aomine mengambil sebuah botol di bangku yang seingatnya, ia minum saat selesai latihan tadi siang.

Ah, syukurlah Satsuki belum membuangnya.

Aomine meminum minuman itu. Rasa anggur melewati tenggorokannya.

Begitu menyegarkan.

Tapi juga begitu panas,

Entah mengapa tubuhnya terasa sangat panas.

Benar juga, ini musim panas. Wajar jika ia kepanasan.

Setidaknya ia ingin berbaring, sebentar saja—

.

.

"Daiki."

.

.

-tanpa ada yang membangunkannya.

"Dai-chan! Ayo pulang!" kini suara seorang wanita.

Namun Aomine terlalu malas untuk bangun.

"Ah, gawat Akashi-kun." Momoi mendekati Aomine yang tergeletak di lantai gym.

"Satsuki, jangan bilang kau salah memberikannya air minum." Akashi mengendus botol kosong disebelah Aomine. Bau wine yang menyengat.

"Kyaa! Gawat! Gawat! Sepertinya Riko-chan salah mengambil botol!" Momoi menarik-narik lengan Akashi, "Bagaimana ini, Akashi-kun!? Tidak mungkin aku membiarkan Dai-chan menginap dirumahku dalam keadaan seperti ini! Ibu bisa marah!"

Akashi tau betul arah pembicaraan Momoi. Memang, sejak kecil sampai sekarang Aomine dititipkan dirumah Momoi dan ibunya. Orang tua Aomine sudah lama meninggal.

Akashi menghela napasnya.

"Antarkan dia ke apartemenku." Perintah Akashi.

.

.

This isn't LOVE!

I own nothing but this fic

.

.

"…Lalu?"

"'Lalu?'?" Akashi mendengus, "Kau ingin aku menceritakan semuanya? Termasuk bagaimana caramu memperkosaku kemarin malam?"

"Iya—maksudku TIDAK!" Aomine menggeram frustasi.

"Kalau begitu tanggung jawab." Akashi agak membentak.

"Tunggu, kau ingin…um…melahirkan anak itu?" Aomine agak berbisik.

"Apa lagi?" Akashi bersandar, "Atau kau menyuruhku untuk aborsi?"

Aomine dalam keadaan serba salah, menundukkan kepalanya. Melakukan aborsi sama dengan membunuh satu nyawa, tapi jika membesarkannya…Aomine bahkan tak pernah membayangkan dirinya sebagai seorang ayah. Terlebih lagi, pasangannya adalah seorang laki-laki. Mau ditaruh dimana mukanya nanti? Rekor 17 tahun menjomblo akan hancur jika anak itu lahir. Apalagi anak itu lahir dalam keadaan dia belum menikah.

Yang paling penting, anak itu lahir dari seorang laki-laki.

"Mo ii…"

Aomine mengangkat wajahnya.

Akashi berdiri dari tempatnya.

"Aku tidak butuh jawabanmu." –lalu menuju ke pintu keluar.

"Tunggu Akashi-"

"Sayonara."

-slam.

Aomine membatu ditempatnya.

.

.

This isn't LOVE!

I own nothing but this fic

.

.

Ucapan 'sayonara' dari Akashi kemarin bukanlah main-main.

Akashi benar-benar tidak datang ke sekolah.

Hal ini membuat Aomine sedikit gelisah.

Oke. Dia memang ingat—meski samar tentang kejadian 2 hari yang lalu itu.

Oke. Dia MEMANG pelakunya.

Dan OKE! Seharusnya dia yang bertanggung jawab.

Namun ternyata Akashi mulai kesal, sehingga bolos sekolah.

Akashi bukan tipe yang suka membolos. Tapi mengingat kondisi Akashi yang sekarang, sepertinya Aomine juga akan berbuat hal yang sama jika Aomine berada di posisi Akashi.

Setidaknya Akashi tidak bunuh diri.

"Aku tidak semangat berlatih kalau bukan Aka-chin yang menyuruh." Ucap Murasakibara sambil mengunyah kripik kentangnya.

"Tumben Akashi tidak datang ke sekolah." Momoi mulai cemas.

"Momoicchi, bagaimana kalau kita libur latihan saja-ssu?~" Kise merengek.

Midorima membetulkan kacamatanya, "Momoi, aturlah mereka-nanodayo."

Suasana gym makin tak beraturan. Hal ini membuat Aomine kesal.

"Argh!"—membanting bola basket yang ia pegang.

Seluruh mata tertuju pada Aomine.

"Aomine-kun?"

"Kuso..." Aomine merutuk, lalu keluar dari gym.

.

.

Aomine bersandar di pagar atap sekolah. Ah...angin yang begitu menyejukkan, namun tak bisa menenangkan pikirannya.

Pikirannya menerawang ke kejadian kemarin dan kemarin lusa. Minta maaf tidak akan mengubah keadaan, Aomine tau itu.

Dou shiyou?

"Mine-chin..."

Murasakibara muncul dari pintu.

Aomine hanya sekedar melihatnya saja, kemudian kembali terhanyut ke pikirannya.

"Mungkin cuma aku yang mengetahui apa yang terjadi diantara kalian..." Murasakibara duduk disamping Aomine.

"Heeh, good for you. Sekarang kau mau apa? Memaki-ku?"

Murasakibara menggeleng,

"Aka-chin memberikan ini padaku pagi ini. Aku yakin dia ingin hanya Mine-chin saja yang mengetahui ini." Murasakibara memberikan sebuah surat kepada Aomine.

Awalnya Aomine ragu, namun akhirnya ia menerima surat itu.

Ia pun membuka surat itu,

"Aku pergi. Jangan cari aku. Akan kembali 2 tahun lagi."

Singkat, padat dan sangat jelas.

Ah…rasanya Aomine ingin mati saja.

.

.

OWARI

.

.

Note:

9. Ahaha~ tamat loh, TAMAT! #dibuang

10. Oke, ini rencananya mau dibuat squelnya. Berminat? #gaaaa.

11. Mind to review?

12. Keep or delete?