THE TRIANGLE
.
McM
.
HAPPY READING
.
.
JAEMIN POV (GS)
.
.
"Why's it only you I'm thingking of?"
Berapa lama lagi waktu yang ku butuhkan untuk berhenti memikirkanmu?
.
Ini hari jumat dan jam makan siang. Aku memilih berdiam di dalam ruangan cukup luas dengan banyak sekatan ini. Semua rekan kerjaku sudah berhamburan untuk mengisi perut. Aku, di sini dengan sandwich dinginku.
Aku melihat kalender yang terletak di meja kerjaku. Ini tanggal 23, itu artinya sudah tiga kali tanggal 23 yang kulewati tanpa dia.
Tiga bulan yang lalu aku mengambil keputusan secara tiba-tiba. Kufikir, ini semua akan berjalan baik. Tapi sepertinya baik untuk dia, tidak untukku. Aku menghancurkan semuanya. Ini balasan yang kudapat dari hubungan terlarang diantara kami. Kau, tidak bisa mencintai sahabatmu sendiri.
Aku menggeleng kuat ketika merasakan sesuatu di dadaku. Aku mengeluarkan sandwich ku dan mulai mengigitnya. Gigitan pertama aku hanya memikirkan cara dengan cepat menghabiskan roti lapis daging ini. Gigitan kedua, kunyahanku melambat.
Gigitan ketiga, aku hanya mengumpulkan nya dalam mulutku.
Lee Jeno-ssi, apakah kau benar-benar tidak merindukanku ?
Namanya Jeno, seorang intern di rumah sakit universitas negeri. Dia teman setiaku selama 10 tahun terkahir. Dia orang terpentingku -selain keluarga- selama 6 tahun terakhir. Dia kekasih hatiku selama 4 tahun terakhir.
Dan mungkin, baginya aku hanya sebatas teman dimana tempat dia mengadu, meminta pilihan. Mungkin aku hanya itu.
Aku menelan gigitan ketiga ku tadi. Aku tidak berselera makan jika seperti ini. Aku membungkus sisa sandwich ku dan kembali memasukkan kedalam kantung. Mengambil gelas yang selalu tersedia di mejaku, dan meminum habis isinya.
TAP
TAP
TAP
Aku menunggu siapa orang yang akan muncul di balik pintu kaca itu.
"Nana ?"
Dia Jungwoo, salah satu seniorku.
"Kau tidak keluar makan siang ?" disampinganya Lucas, pria asal Hongkong masih dengan lidah kelu menyuarakan pertanyaan.
Aku mengangkat kantung sandwichku. "Aku membawanya.."
"Subway tidak nikmat dimakan dingin.." celetuk Lucas.
Jungwoo mendekati mejaku. "Kau baik-baik saja ? Kau terlihat berbeda.."
Aku tersenyum menatapnya yang lebih tinggi. Dia berdiri, dan aku duduk. "Aku baik-baik saja, seonbae-nim.."
"Kau bisa pulang sekarang jika kau mau. Aku melihat mobil Bujang-nim keluar tadi. Sepertinya tidak ada pekerjaan lagi.." Lucas berseru dari biliknya. Suaranya yang berat dan besar, memenuhi ruangan sunyi ini.
"KECILKAN SUARAMU, BODOH !" seru Jungwoo seonbae. Seharusnya dia berkaca. Aku kembali merapikan barang-barangku. Sebaiknya aku pulang lebih cepat.
"NE SEONBAE-NIM !"
Suara-suara lain mulai terdengar. Sepertinya semua sudah kembali. Aku sadar jika bilik di sebelahku sudah berpenghuni kembali. Aku memeriksa kembali pekerjaanku dan memindahkan data terakhir ke dalam flashdisk.
"Nana-a, kau ingin pulang ?"
Aku memundurkan kursiku dan menatap bilik sebalah. "Hm.. kau ada rencana ? Aku tidak mungkin langsung pulang.."
"Perawatan? Aku ada kupon untuk dua orang.."
Aku tersenyum melihat ekspresi bahagia Haechan. Dia salah satu seniorku juga, tapi kami seumuran. "Baiklah.."
"Kau baik ?"
"Apa ada yang salah denganku ?!" aku berseru tak terima. Apakah aku terlihat seperti orang akan mati besok ?
Aku beranjak dari tempat dudukku. "Jaehyun seonbae, apa aku terlihat seperti orang akan mati besok ?"
Pria tampan itu sedikit melompat dari tempatnya berdiri. "Ya. Aku yang akan membunuhmu karena membuatku terkejut !" bahkan saat menggerutu dia masih tampan. "Anak ini !" desisnya.
"Bodoh.." seru Haechan di biliknya sambil menahan tawa.
Aku menghempaskan diri ke kursi. "Apa ada sesuatu di dahiku yang mengatakan jika aku sedang patah hati ?"
Haechan bereaksi begitu cepat. Seperti tertarik dengan pertanyaanku. "Kau patah hati ? Bukankan kau yang membuat seorang pria china patah hati"
Aku mengacak rambutku kesal. Benar-benar perempuan ini. "Cepatlah bereskan barangmu.." Aku mencabut flashdik, mematikan komputer.
"Kau sedang tidak merindukan intern keparat itu, kan ?"
Aku tidak menyahut. Biarkan saja perempuan itu berpikir semau isi kepalanya.
"Kau benar-benar belum melupakan bajingan itu ?"
Aku yang mengalami sakit hati, tapi dia yang begitu lugas memaki Jeno.
"Kita tidak perlu ke salon. Aku akan membawamu ke paranormal. Mungkin saja Lee brengsek itu melakukan sesuatu padamu.."
Aku memangku tasku yang sudah rapi, siap untuk beranjak. Aku memundurkan kursiku dan menatapnya yang sedang membubuhkan liptint
"Maksudmu Lee brengsek Mark ?" Aku beranjak dan melangkah cepat.
"Lee ku tidak brengsek seperti Lee mu !" pekiknya.
"Lalu aku Lee yang mana, Lee Haechan ?"
Aku menahan tawa saat suara Taeyeong seonbae terdengar.
"Molla ! Aku pulang !"
Aku tidak mendengar lagi suara Haechan ketika sudah memasuki lorong elevator.
"NA JAEMIN TUNGGU AKU !"
Sebenarnya wajar jika mereka bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak. Karena biasanya, tingkahku akan seperti Haechan. Namun sekarang aku bertolak belakang dengan itu semua.
.
.
Ini hari libur. Setelah lima hari penuh aku melakukan revisi shop drawing. Hari ini aku hanya akan memeluk gulingku dan menonton seluruh drama yang kulewati. Sudah drama kedua dari pagi yang ku tonton.
Ponselku berdering, aku mengambilnya dan melihat ID si pemanggil.
"Renjun-ssi ?"
Ada apa dia menghubungiku ? Aku menjawab panggilannya.
"Hai.."
Aku menganguk. "Hai. Ada apa, Renjun-ssi.."
"Bagaimana kabarmu ?"
Aku terkekeh. Mengambil remote dan mengecilkan suara televisiku. "Kenapa ? Tidak biasanya kau seperti ini ?" aku mengambil bantal untuk dipeluk.
"Aku hanya basa-basi.." dia juga tertawa di sebrang sana.
"Aku baik. Kita baru bertemu dua minggu lalu.."
"Kau benar. Tapi aku sudah merindukanmu begitu cepat.."
Pria ini benar-benar bisa membuatku tersenyum. "Terima kasih.."
"Kau berterima kasih atas penyiksaan yang kau berikan ?"
"Renjun-ssi.." rajukku.
Dia tertawa. Dia pasti terlihat tampan saat ini. "Kau sibuk? Bisa kita berkencan. Red Sparrow ?"
Aku berpikir sejenak.
"Kau masih tak nyaman ?"
"Tidak. Baiklah, kau menjemputku ?"
"Tentu. Aku tiba 2 jam lagi. Kau pilih jadwalnya.."
"Ne Bujang-nim.."
Dia tertawa "Sampai bertemu nanti.."
"Ya.."
Dia mengakhir panggilannya.
.
.
Aku sesekali melempar senyum mendengar Renjun yang tak berhenti berbicara. Selesai dia menelan makanannya, dia akan kembali bersuara.
"Kau tidak banyak bicara.." dia menyadari keterdiamanku.
Aku menggeleng lemah. "Aku hanya sedang menikmati makananku.." aku melanjutkan makan. Saat aku mengangkat pandanganku, dia masih bertahan memperhatikanku. "Ada apa ?"
Dia hanya tersenyum tipis dan memutus tatapannya padaku. Memilih meneguk minumannya.
"Renjun-ssi.."
"Tidak. Lanjutkan lah makanmu. Kita akan membahas filmnya lagi setelah makan.."
Sejenak aku memperhatikannya yang membuka mulut hanya untuk makan.
Renjun orang yang ku kenal saat melakukan riset untuk kepentingan perusahaanku. Awalnya secara terang-terangan dia tertarik dengan Haechan. Dia mendekatiku hanya untuk Haechan dan bertukar pikiran masalah film.
Sebatas hubungan itu aku menganggap kami. Haechan dan Buddy movie. Lalu kami sering keluar berdua, tentu saja tanpa Haechan. Aku sudah membujuk gadis itu untuk ikut bersama, tapi dia memilih mengurung diri di kamar. Sampai akhirnya aku memberitau Renjun, jika Hacehan sudah memiliki kekasih. Dia hanya tersenyum biasa. Tidak terlihat seperti seseorang yang sedang patah hati.
Aku nyaman berada di dekatnya. Aku mulai membuka diri, dan bercerita tentang Jeno kepadanya. Renjun, pria kesekian yang menyuruhku untuk berhenti pada Jeno.
Sampai saat itu datang.
Kurang lebih satu bulan yang lalu, Renjun menyatakan perasaannya padaku. Aku menganggap jika itu hanya sebuah cara agar untuk melupakan Jeno. Pria ini dengan percaya diri menjawab "Ya".
Tidak ada gunanya melupakan cinta pertamamu, jika kau belum dapat menemukan penggantinya. Atau setidaknya pelampiasan dari ketidakadilan yang Jeno berikan selama ini padaku. Renjun mengatakan, dia siap menjadi pelampiasanku, dan berusaha untuk memiliki hatiku sepenuhnya.
Dan aku menolak.
Haechan mengatakan aku wanita terbodoh karena menolak Renjun. Haechan juga mengatakan tidak ada pria aneh yang mau menyatakan cinta kepada wanita aneh sepertiku.
Aku hanya tak ingin jika harus mengorbankan perasaan pria sebaik dia, hanya untuk menjadi pelampiasanku pada Jeno. Aku dapat memastikan, jika aku masih mencintai Jeno.
Tapi sampai berapa lama lagi aku menunggu Jeno? Jeno terlihat bahagia tanpa diriku. Seharusnya kini aku yang mengambil kebahagiaanku sendiri. Apa itu ada pada Renjun ?
Namun, sesuatu dalam diriku kembali bergerak ingin keluar. Sesuatu yang tiba-tiba mengambil alih semua keputusanku. Sesuatu seperti saat aku mengakhiri perasaanku dengan Jeno.
Apakah ini menjadi pilihanku ?
"Renjun-ssi.."
Dia menatapku. Makanan dipiringnya sudah habis. Aku menunduk dan menemukan masih ada setengah dari makananku.
"Kau tidak memakannya ? Diet ?" dia terkekeh.
Aku terpaku melihat wajahnya. Ekspresi itu bahagia, namun matanya tidak. "Ayo lakukan.."
Dahinya mengerut. "Apa ?"
"Aku ingin mencobanya.."
"Apa yang ingin kau coba, hm ?" dia begitu lembut.
Aku memang wanita bodoh menyianyiakan pria sebaik ini. "Aku ingin menjadi kekasihmu.."
Tubuhnya menegang. Bibir yang sebelumnya tersenyum, kini terbuka kecil. Pupil matanya sedikit membulat lebih lebar.
Aku tersenyum canggung. "Renjun-ssi ?"
Dia melemaskan semua otot tubuhnya. Dia tertawa kecil dan membasahi bibirnya. Aku terlalu memperhatikan tingkahnya saat ini.
"Kau bisa menolakku juga jika kau"
"Kau kekasihku sekarang.." dia menyelaku dan tersenyum, pertama kali matanya langsung menatap milikku.
Renjun yang pertama bagiku. Pria pertama yang berhasil mengikatku dalam suatu hubungan. Huang Renjun.
Aku harap aku tidak akan menjadikanmu sebagai pelampiasanku. Aku berharap kau berhasil membuat hatiku hanya milkmu.
.
.
"Malam sayang.."
Aku tersenyum mendengar suaranya yang seperti berbisik di telingaku. "Malam.."
"Pastikan kau memimpikanku.."
"Berdoalah, semoga aku memimpikanmu.."
Dia tertawa dengan suara seraknya.
"Matikan. Suaramu sudah mulai berubah.." ocehku.
"Selamat malam sayang. Aku mencintaimu.."
Dan kesekian kalinya "Aku juga.." hanya ini yang bisa kujawab.
Sambungan berakhir. Aku meletakkan ponselku di atas nakas. Menarik selimut mentupi tubuh dan mulai memejamkan mata.
Ponselku berdering. Dengan malas aku mengambilnya, tanpa melihat siapa pemaggilnya. Ini pasti Renjun, dia akan menagatakan sekali lagi jika dia menicntaiku. Pria itu terlalu pintar membuat setiap hariku berbunga.
"Apa lagi, oppa ? Kau menyuruhku tidur, kan ?"
"Kau memanggilku oppa setelah sekian lama ?"
Aku membuka mata. Menjauhkan ponselku dari telinga. Melihat nama si pemanggil dan kembali menempelkan ponsel ke telinga. "Jeno ?"
"Sepertinya kau mengira aku kekasihmu.."
Seketika aku merasakan tubuhku tersengat listrik. Apakah aku sudah tidur, dan ini hanya mimpi? Seharusnya aku memimpikan kekasihku, mengapa Jeno?
"Nana.."
"Kau menghubungiku ?" aku tidak tau mengapa kerja tubuhku seperti ini. Seolah semua emosi yang menghilang kembali dalam satu serangan.
"Ya. Akhirnya aku bisa menghubungimu.."
"Sepertinya kau sedang tak sibuk.." aku berusaha menormalkan semuanya.
"Banyak waktu untukku menghubungimu. Namun kau baru memberi kesempatan.."
Aku? "Ya, aku sedikit sibuk belakangan ini. Ada apa kau menghubungiku ?"
"Aku tidak bercanda. Aku merindukanmu.."
Teman, Nana. Ya, kau juga merindukan temanmu ini, kan. "Aku juga merindukanmu. Tapi dokter sepertimu pasti selalu sibuk.."
"Kurasa rindu kita berbeda.."
Aku tertawa untuk mengalihkan pembicaraan ini. Bukan Jeno seperti ini yang kuharapkan. "Tentu saja berbeda. Jadi bagaimana kabarmu ?"
"Aku baik. Bagaimana denganmu ? Sepertinya uri Nana sudah mulai berkencan ?"
Aku mendesis mendengar nadanya yang menggodaku. "Nana-mu ini sudah lama mulai berkencan. Hanya saja baru memilik kekasih.."
"Ceritakan padaku, seperti apa oppa mu itu.."
Aku menyamankan posisiku. Jeno kembali menjadi Jeno sebelum aku jatuh cinta kepadanya. Jeno yang selalu menjadi tempatku mengadu. "Kau akan cemburu jika aku menceritakannya.." aku bercanda.
"Aku menerima gurauan ini. Asalkan tidak mengajak menikah dan meminta anak.."
"Ya !" seruku kesal.
Dia tertawa. "Jadi, siapa namanya ?"
"Huang Renjun. Dia berdarah cina.."
"Kau harus besyukur karena THAAD sudah selesai.."
"Aku amat sangat bersyukur.." jawabku. Aku merindukan seperti ini. Setalah hampir lima bulan. Menceritakan keseharianku dengannya.
"Sudah berapa lama kau bersamanya ?"
"Tanggal 24 bulan ini dua bulan.."
"Bagaimana rasanya memiliki kekasih ?"
Aku berpikir sejenak. "Tidak terlalu buruk. Renjun bukan kekasih yang banyak improvisasi. Dia hanya mengatakan ya atau tidak. Mungkin itu daya tariknya.."
"Kau bahagia ?"
Aku tersenyum. Seketika semua yang Renjun lakukan padaku terputar.
"Nana ?"
"Ya.."
"Kau sedang tidak mengabaikanku dan melamunkan kekasihmu, kan ?"
Aku tertawa "Tidak sia-sia 10 tahun pertemanan kita.." Aku menjeda sesaat "Aku bahagia, Jeno-a.."
Dia terdiam sesaat "Ingat apa yang pernah ku katakan padamu sebelumnya ?"
Aku tidak tau perkataan yang mana. "Tentang ?"
"Carilah pria lalu kenalkan padaku. Dulu aku mengatakan, jika pria itu menyatakan cintanya, maka tolak. Karena tidak ada yang lebih baik dariku.."
Aku membeku. Kau benar, aku menolaknya karena masih berharap hanya kau yang terbaik untukku.
"Sekarang, jika pria itu bisa membuatmu bahagia, terima dia.." Jeno diam sesaat. Aku tak ingin menyela. "Kau hanya perlu mengenalkannya padaku.."
Mataku memsnas. Bibirku bergetar. Keadaan kamar yang temaram membuat emosiku berubah begitu cepat. "Ya, aku akan mengenalkan padamu jika kalian berdua tak sibuk.."
"Aku tidak pernah sibuk jika itu untukmu. Aku akan menunggunya.."
Aku mendengus. Moodku benar-benar kacau karena dua pria ini.
"Nana-a.."
Aku hanya bergumam.
"Kau tidak penasaran mengapa aku baru mengubungi sekarang?"
"Kenapa?" aku tidak tau bagaiamana menghadapinya. Suaranya mulai berubah menjadi serak.
"Kau tau aku menyayangimu ?"
Aku meneguk ludahku. "Sebagai sahabat. Tentu saja.."
"Aku menuruti semua kemauanmu. Aku menjadi mahasiswa kedokteran. Aku memilih kuliah daripada bisnis. Aku memutuskan kekasihku karenamu. Terkahir kau meminta waktu padaku hingga kau mendapatkan penggantiku. Aku memberikan semuanya karena aku menyayangi.." dia menjeda lagi.
Jangan katakan apapun lagi.
"Aku menyayangi sahabatku. Ketika aku tau kau sudah memiliki kekasih, dan mengamati seberapa bahagia kau dalam genggamannya. Aku bahagia dengan keputusanaku, Nana-a.."
Tubuhku bergetar. "Jeno-a.." bahkan suaraku bergetar dan pipiku basah.
"Jangan menangis. Aku tidak pernah menyukai kau menangis.."
"Kau juga jangan menangis, bodoh.." isakku.
Dia tertawa. "Aku menahan diri selama lima bulan untuk tidak menghubungimu. Bahkan berpikir sebaiknya aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Kau tau, seberapa kuat aku menahan semuanya. Dan sekarang kau mengataiku, bodoh. Sahabat tidak tau diri.."
Dia mengomel. Dia mengoceh. Dan itu semua hanya membuat semua emosiku tumpah. Aku meraung dalam tangisku. Memanggil namanya berulang kali.
Lima menit berlalu dan aku mulai tenang. Namun napasku masih tersenggal.
"Sudah puas ?" bisisknya.
"Kau menyebalkan. Apakah hanya ini yang kau bisa setelah lima bulan. Hanya membutku menangis.."
Dia terkekeh. Menyebalkan. "Uri Nana.."
Aku kembali bergumam.
"Terima kasih sudah bahagia. Katakan juga kepada Renjun ucapan terima kasih ku ini.."
"Katakan sendiri.."
"Atur saja. Aku akan datang.."
"Kau harus memberiku hadiah.."
"Karena kau berhasil memiliki kekasih diumur setua ini?"
"Menyebalkan.."
"Katakan apa yang kau inginkan. Aku ku berikan.."
"Aku akan memikirkannya.."
"Tidurlah. Cuci mukamu lebih dulu sebelum tidur.."
"Siap laksanakan, dokter.."
"Selamat malam Uri Nana.."
"Selamat malam Uri Jeno.."
Aku mengakhirnya. Aku mengubur wajahku pada bantal dan hanya kembali menangis.
Dan aku baru menyadarinya. Jeno selalu memberikan apapun yang kuinginan. Jeno menuruti semua kemauanku. Sedangkan aku, sama sekali tidak pernah bertanya apa keinginannya. Jika pun dia menyebutkan, aku hanya akan mengatkan itu mustahil.
Hanya satu keinginan yang tidak Jeno lakukan untukku.
Jeno menjadi milikku sepenuhnya.
.
.
Tebak siapa wanita paling bahagia seantero Korea Selatan hari ini ?
AKU..
NA JAEMIN..
Renjun selalu memberikan kejutan. Renjun tau bagaimana cara kerja moodku. Kurasa Haechan benar, hanya Renjun yang bisa menghadapi wanita aneh sepertiku.
Aku menerima bunga darinya. Dia bangkit dari acara berlutunya. Aku mencari sapu tangan di tasku, dan mengambilnya.
Aku menyeka keringatnya. "Kau seperti lelah sekali ?"
Matanya terpejam, napasnya masih memburu. "Katakan padaku, jika ini pertama kalinya bagimu melihat seorang Engineer Site Manager High Rise Building menari seperti idol group. NCT 127 Cherry Bomb. Kau membuatku pusing dengan Doyoung mu itu.."
Aku tertawa, menariknya untuk duduk. Aku membungkuk kepada kru yang membantunya. Dia berlebihan jika memberi kejutan kepadaku.
Dulu mungkin aku berpikir, ini berlebihan. Tapi saat ini, aku hanya tau aku bahagia memiliki Renjun. "Kau menyesal menarikan lagu itu untukku?"
Matanya yang menatapku begitu indah. "Tidak ada penyesalan beralasankan Na Jaemin.."
Aku mengigit bibir gemas, mendorong dahinya kesal. "Aku ingin sekali membuangmu ke sungai Han.."
"Maka kau tak akan pernah menikah.."
Aku tertawa. "Kau menyiapkan ini semua hanya untuk dua bulan hari jadian kita ?"
"Hanya?!" dia memekik. "Sayang, seharusnya kau berterima kasih padaku. Tidak ada wanita yang mendapatakn kejutan seperti ini disaat dua bulan umur hubuangan mereka.."
"Ya, mereka mendapatkan itu bahkan kurang dari satu bulan.."
Renjun merubah raut wajahnya menjadi datar. "Aku ingin menciummu, tapi ini tempat umum.."
Aku tersenyum, melirik sekitar yang terlalu sibuk kembali dengan kegiatan mereka.
Cepat, aku mengecup bibirnya. "Itu saja..."
Dia mengangguk dan tangan terkepal di hadapanku. "Ya. Itu saja. Kita lanjutkan nanti.."
Aku tersenyum melihat tingkahnya.
Renjun menggengam tanganku, dia mendekat dan mengecup dahiku.
"Terima kasih menjadi kekasihku selama dua bulan terkahir ini. Aku tidak tau apa aku sudah mendapatkamu atau belum. Namun jika sudah, aku hanya perlu menyusun rencana yang lebih serius lagi.."
Tunggu..
"Aku tidak akan melamarmu dalam waktu dekat. Tapi aku pasti akan menjadikanmu istriku.."
"Oppa.." lirihku.
"Aku itu terbaik dalam mengacaukan suasana, kan? Kau menjadi canggung seperti ini.."
Aku terdiam cukup lama. Menikmati tangannya yang memainkan jemariku. "Aku mencintaimu.."
Dia menatapku.
"Aku juga belum siap untuk menikah. Tapi aku pasti akan menjadikamu suamiku.."
Dia tersenyum lebar. Tangannya terlepas. "Boleh aku memelukmu ?"
Aku mengambur dalam pelukannya. Dia mendekapku begitu erat.
Terima kasih Tuhan. Kau tidak membuatku kembali menunggu seseorang yang tak akan pernah datang untuk menarikku kedalam pelukannya.
Pelukan kami terlepas setelah dia membubuhkan satu kecupan di pelipisku.
"Nana ?"
Aku menoleh. "Jeno !" Aku langsung melompat dari dudukku. Memukul lengannya. "Kita bertemu di sini?"
Dia tersenyum begitu indah. Kepalanya dimiringkan untuk melihat kebelakangku.
Aku menepuk tanganku dan kembali pada Renjun yang menatapku. "Aku kenalkan pada Jeno.."
Keduanya berhadapan.
Cinta pertamaku, Lee Jeno.
Kekasihku, Huang Renjun.
"Lee Jeno.."
"Huang Renjun.."
"Na Jaemin !"
Aku berseru dan memeluk lengan Renjun.
Jeno-a, kau lihat betapa bahagiannya aku?
Aku sudah bahagia Jeno-a, sama sepertimu.
.
.
THE END
.
.
a/n : makasih untuk yang udah baca , fav sama follow.. untuk nomin shipper, di FF ini mereka nggak bersatu ya.. FF ini bakalan ada tiga sudut pandang dari masing masing cast nya.. jadi, kalau misalnya kesel sama Jeno di sini, mungkin Jeno ada penjelasannya.. maaf kalau ada typo nya.. itu kebiasaan buruk dari kecil.. susah ngilangin typo...
chapter selanjutnya Jeno POV..
Salam, Mamanya Huang Renjun
