ChanBaek
T
.
.
.
"K-kalian saling mengenal? Sejak kapan?"
Lelaki dengan tinggi diats rata-rata yang masih duduk diatas ranjangnya hanya bisa tersenyum. Bukan, bukan pada eomma-nya malahan. Ia hanya menatap lelaki mungil yang baru saja memeriksa catatan medis ditangannya.
"Baiklah, kurasa kau memang tidak apa-apa Chanyeol-ssi. Dan kalau kau mau, kau bisa pulang hari ini."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Tidak mau?"
Dokter muda itu -sebut saja Baekhyun- menatap Eomma Park yang kini masih menatap Chanyeol dengan penuh tanda tanya, ia juga sedikit terkejut mendengar jawaban konyol dari mulut Chanyeol. Tak ada orang yang ingin berlama-lama dirumah sakit. Kecuali kalau dia adalah orang gila dan juga dalam keadaan kritis. Bahkan orang gila saja terkadang selalu meminta untuk pulang, lalu kenapa Chanyeol malah menolak? Tunggu, jangan-jangan…..
"Apa kau masih sakit?"
"Hmm, sebenarnya…. Tidak juga."
"Lalu?"
Senyuman yang lebih tepatnya mungkin cengiran langsung terlihat kala Chanyeol menatap Sehun dan eomma-nya bergantian. Alisnya naik turun dan dengan segera ia kembali mengalihkan perhatiannya kepada Baekhyun.
"Tunggu, tunggu! Sebenarnya ada apa disini?" eomma park menegur Chanyeol yang terus-terusan memperhatikan Baekhyun.
"Ya, hyung ada apa denganmu? Apa otakmu itu rusak karena cabai yang terselip disana?"
Sehun yang tadinya hanya terdiam menyaksikan bagaimana perbincangan kecil antara Chanyeol dan dokter yang ia akui sangat manis itu bertanya dengan penasaran pada Chanyeol yang masih saling pandang sambil senyum-senyum pada Baekhyun. Matanya menilik dengan teliti hyung-nya dengan dokter muda itu, memastikan tidak ada yang salah diantara keduanya.
"Kalian sudah kenal lama ya?"
"Eh?"
Pandangan bingung yang Baekhyun lontarkan pada Sehun berubah menjadi sangat manis ketika ia menyadari apa yang menjadi masalah lelaki dengan rambut coklat madu itu.
"Hmm, sebenarnya kami baru berkenalan beberapa jam yang lalu. Tepatnya saat Chanyeol-ssi baru saja dipindahkan dari UGD" Sehun hanya bisa mengangguk dan membulatkan mulutnya mengerti.
"Ah, begitu. Kalau begitu terimakasih dokter. Berkat dirimu Chanyeol sudah tidak merasa sakit lagi"
"Ne, sama-sama nyonya. Kurasa itu sudah menjadi kewajibanku untuk membantu menghilangkan rasa sakit pasien."
"Aduhh….p-perutku!"
"YAAK, CHANYEOL!"
"Apa yang sakit Chanyeol-ssi?"
"Hanya bercanda."
Kekehan kecil terlontar begitu saja dari mulut Chanyeol kala melihat eomma-nya dan juga Baekhyun yang kelihatan panik, lelaki disebelahnya -Sehun- bahkan hampir saja melempari lelaki tinggi itu dengan bantal kalau ia tak ingat seorang dokter manis masih berada diantara mereka.
"Baiklah dokter, terimakasih. Aku akan memaksa hyung-ku yang menyebalkan untuk pulang sekarang!"
"Ah, sama-sama. Hmm, sebenarnya kalau ia masih ingin berada disini tidak masalah."
"Benarkah?"
Baekhyun menangguk sedangkan eomma Park dan Sehun hanya bisa membelalakan matanya terkejut atas ucapan dokter muda itu. Ibu dan anak itu saling pandang seolah mengatakan 'apa maksudnya?' atau 'Kurasa dokter ini gila!' satu sama lain.
"T-tapi dokter bukannya se-"
"Yess, kau yang terbaik Baekhyunnie"
Chanyeol berteriak cepat dan melemparkan celemek hitamnya kearah Sehun, membuat namja albino itu memekik tertahan karena terkejut. Chanyeol kembali tersenyum lebar dan menarik kedua tangan Baekhyun untuk ia genggam.
"Kau benar-benar yang terbaik! Aku menyukaimu dokter."
"A-ah, terimakasih. Kalau begitu aku permisi. Tekan saja bel disamping ranjang-mu dan suster akan datang. Nyonya…" Ia terdiam sejenak dan menatap Sehun seolah menayakan nama bocah itu dengan tatapan matanya. Dan Sehun yang mengerti apa maksudnya itu pun segera tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Baekhyun.
"Oh Sehun."
"Margamu Oh? Kupikir kalian adik kakak"
"Ne, aku adik tirinya"
Ingin sekali rasanya Chanyeol mengamuk dan menjambak rambut Sehun karena berani menyentuh tangan BAEKHYUN-NYA. Baekhyun-NYA pemirsa. Lihatlah ia sekarang, bibir bawahnya dimajukan melihat Sehun yang bahkan tidak berniat melepaskan tangannya yang menjabat tangan Baekhyun-NYA.
"Jangan lama-lama! Aku akan mengadukannya pada Luhan kalau kau berani menggoda Baekhyunee-ku!"
Baekhyun yang mendengar itu sangat terkejut dan merona sendiri -walau tak begitu ketara-, ia menatap tangannya yang kini kembali digenggam secara posesif oleh Chanyeol, sedikit malu karena ia melakukan itu didepan eomma Park. Yaah, walaupun ia pasti akan tetap malu kalaupun eomma Park tidak ada.
"Kalau begitu Nyonya Park, Sehun-ssi aku permisi dulu, aku masih harus mengecek pasien lain. Sampai jumpa Chanyeollie"
Lelaki manis itu membungkuk dengan sopan dan melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol sebelum ia berjalan menjauh meninggalkan ranjang Chanyeol dan membuka pintu itu hingga tubuh mungilnya hilang dibalik pintu itu.
Chanyeol benar-benar tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum sekarang, ia menatap pintu itu dengan senyum lebar bagaikan orang bodoh. Bahkan eomma-nya dan Sehun benar-benar tidak ia pedulikan sekarang. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa bekas tangan seorang Byun Baekhyun sebelum ia mengecup telapak tangannya sendiri.
"Hyung-mu gila Sehun!"
"Ah, ingatkan aku kalau dia itu tetap anak kandungmu eomma!"
"Ck, aku ingat itu!"
Akhirnya karena menyerah dalam merayu Chanyeol untuk segera pulang dari rumah sakit, ketiganya memilih untuk diam didalam ruang rawat Chanyeol. Toh, kalau Chanyeol sudah bosan ia akan mengatakan dengan sendirinya kalau ia ingin pulang. Keheningan pun langsung menyeruak kala itu juga dengan Sehun yang sibuk dengan game-nya, Eomma Park yang sibuk dengan ponsel-nya dan jangan lupakan lelaki tinggi dengan senyum lebar yang masih memandangi telapak tangannya sendiri.
"Ah, dia benar-benar manis!"
Flashback :
"Dokter, Chanyeol sudah dipindahkan. Keadaannya membaik dan sakit perutnya sepertinya sudah hilang."
"Benarkah? Kalau begitu termakasih Jina-ssi, maaf aku datang terlambat."
"Tak apa Baek, aku tahu kau tidak bisa meninggalkan Yeri tadi. Kalau begitu aku permisi, kurasa kau bisa memeriksa keadaannya sekarang Baekhyun."
"Ne noona, sekali lagi terimakasih"
Dokter yang diketahui bernama Baekhyun itu tersenyum dan bergegas menghampiri ranjang pasien yang sudah ada dihadapannya. Ia mengambil pulpen yang ada disakunya dan segera mencatat apa yang sudah menjadi pekerjaannya.
"Chanyeol-ssi?"
"Ne dokter?"
"Sudah merasa baikkan?"
"Sedikit"
Ia mengangguk walau sebenarnya ia tahu Chanyeol tidak memperhatikannya. Lelaki tinggi dihadapannya itu masih terbaring lemah dengan mata yang terpejam, keringat kembali membasahi kening lelaki itu di dinginnya AC ruangan itu. Baekhyun yang melihatnya sedikit menyerngit, namun dengan segera ia mengambil sapu tangannya dan mengelap keringat di dahi Park Chanyeol.
"A-apa yang kau lakukan dokter?"
"Ah, maaf jika terkesan lancang. Aku hanya mengelap keringatmu."
Baekhyun langsung terdiam kala tangannya yang masih mengelap keringat Chanyeol digenggam dengan tiba-tiba oleh lelaki yang bahkan masih berbaring lemah, ia dapat melihat kalau Chanyeol mulai membuka matanya yang tadi hanya terpejam.
"Cantik!" Chanyeol bergumam pelan dihadapan wajah Baekhyun, membuat Baekhyun sendiri bingung kenapa lelaki tinggi dengan suaranya yang besar itu malah bergumam dan mengatakn 'cantik' dihadapannya?
"Maaf?"
Raut wajah Baekhyun benar-benar menggemaskan saat ini, tangannya masih setia mengelap keringat di dahi Chanyeol. Namun beda lagi dengan matanya, kedua mata itu menatap Lelaki dibawahnya dengan pandangan bingung yang benar-benar menggemaskan.
"Siapa namamu dokter?"
"Aku?"
"Ne manis!"
"Ah, aku Baekhyun"
"Hanya itu? Tidak ada marga atau lain-lain?"
Chanyeol benar-benar membuka matanya sekarang, memperjelas apa yang sedari tadi menjadi objek pandangnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa cm dari lelaki manis yang membuat jantungnya berdegup dipertemuan pertama mereka. Ia tersenyum dan menyingkirkan tangan Baekhyun dari keningnya.
"Jadi? Siapa namamu? Yang lengkap!"
"Penasaran sekali!"
"Apa? Berapa usiamu dokter?"
"Tadi kau menanyakan nama, sekarang usia. Kau tidak sopan"
Dokter manis itu mengangkat sudut bibirnya dan berbalik meninggalkan Chanyeol, berjalan kearah nakas dan mengambil beberapa jenis obat dan juga segelas air putih.
"Minum obatmu dulu!"
"Haruskah?"
"Ne, tadi suster tidak sempat memberikanmu obat karena kau tertidur sangat lelap"
"Begitukah?"
"Ne, sekarang minum obatmu!"
"Tidak sebelum kau memberitahukan siapa nama lengkap dan usiamu!"
Senyuman manis khas seorang Byun Baekhyun langsung terlontar begitu saja mendengar permintaan kurang masuk akal dari lelaki yang kini sedang berusaha untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
"Bagaimana ya? Bukannya aku tidak mau, hanya saja…..kenapa kau terlalu penasaran?"
"Karena kau manis!"
"Hanya karena itu? Bahkan banyak suster yang lebih manis dariku, dan apa kau menayakan nama mereka? Hmm, dan satu lagi Chanyeol-ssi, aku itu lelaki. Aku agak tersinggung kalau kau mengatakan aku manis. Jadi sekarang, minum saja obatmu! Kau sudah mengetahui namaku lagian"
Chanyeol menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangannya yang membekap mulutnya sendiri, ia menggeleng dengan mata memelas kearah Baekhyun.
"Kau menggemaskan seperti anak kecil Chanyeol-ssi. Padahal kukira kau memiliki sikap dewasa seperti saat kau berada di program memasak itu. Berbeda sekali seperti apa yang kulihat di Televisi."
"Benarkah aku menggemaskan?"
"Ne. Ayo minum obatnya!"
"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku!"
Baekhyun gemas mendengarnya, ingin sekali ia mengguyur Chanyeol dengan segelas air yang ada ditangannya. Pekerjaannya masih banyak dan lelaki tinggi itu malah terus-terusan menggoda dan merengek seperti bayi. Walau Baekhyun mengakui kalau Chanyeol itu menggemaskan, ia tetap saja kesal karena lelaki itu bisa saja membuatnya terlambat memeriksa pasien lain.
"Baiklah, aku hanya akan mengatakannya sekali Chanyeol! Namaku Byun Baekhyun, dan usiaku….. 23! Sekarang minum obatmu!"
"Sungguh? Wah, kukira kau lebih muda dariku. Kita sebaya dokter"
Baekhyun tersenyum dan memberikan beberapa butir obat yang langsung diterima oleh Chanyeol, setelahnya ia memberikan segelas air yang berada ditangannya kepada Chanyeol. Membiarkan lelaki yang sejujurnya sangat tampan itu meminum obatnya sendiri.
"Sekarang istirahatlah, aku harus pergi untuk memeriksa yang lain"
"Baekhyunnie?"
"ne?"
"Ah tidak, hanya mencoba saja. Kurasa panggilan itu cocok hehe"
"Baiklah Chanyeollie, aku permisi dulu. Aku akan membiarkanmu istirahat"
Flashback End.
.
.
.
22.15
Suasana hening menyelimuti ruang rawat Chanyeol, hanya cahaya dari ponsel lelaki tinggi yang masih berada diranjangnya yang menjadi penerang. Ia bersandar pada kepala ranjangnya sambil sesekali bergumam karena permainan diponselnya.
Beberapa waktu lalu Baekhyun baru saja mengunjunginya, hanya sekedar menanyakan keadaan dan mengatakan kalau pekerjaannya sudah selesai hari ini. Chanyeol memahaminya, ia hanya tersenyum dan mempersilahkan dokter Byun untuk beristirahat dirumah. Toh, besok mereka masih bisa bertemu lagi.
'Hubungi aku kalau kau merasa sakit lagi!'
"Bagaimana caranya aku bisa menghubungimu kalau nomer ponsel-mu saja aku tidak punya Baekkie."
Chanyeol memberengut dan memainkan game diponselnya dengan gemas, ia bahkan sampai memiring-miringkan tubuhnya hanya karena permainan itu. Konyol sekali Chanyeol.
Drrt Drrt
"Pengganggu!" Chanyeol menyudahi permainannya sejenak dan membuka pesan masuk yang mengganggu permainannya. Tertera nama Luna disana, karyawan cantiknya yang selalu membuatnya pusing karena tingkah kurang ajarnya.
Sajangnim, Peralatan yang kau gunakan untuk bereksperimen tadi harus kubuang atau bagaimana? Kau benar-benar merepotkan! Aku akan menuntut gaji lebih untuk ini semua! Kalau tidak aku akan membakar restoranmu dan mem-BOM lokasi syuting untuk program memasakmu!
-Luna
"Restoran? Peralatan? Syuting? Bom? Luna? YA TUHAN, AKU BAHKAN MELUPAKAN ITU SEMUA! AKU HARUS PULANG. EOMMA, SALJU, CEPAT BANGUN! AKU MAU PULANG!"
Eomma Park yang baru saja hendak mengarungi lautan didalam mimpinya langsung terlonjak kaget dan bangun dari tidurnya. Ia menatap Chanyeol khawatir dan langsung menghampiri bocah tinggi itu, mengabaikan Sehun yang memekik tertahan karena wanita cantik itu menginjak kakinya dengan heels yang ia kenakan.
"Ada apa sayang? Kenapa teriak-teriak?"
"Aku harus pulang eomma, restoranku dalam bahaya!"
"APA?"
"Bertanya dan terkejutnya nanti saja, sekarang lebih baik sekarang eomma dan Sehun pulang! Aku akan ke restoran sekarang juga. Bye eomma, aku menyayangimu. Salju, jaga Eomma!"
"T-tapi Chanyeol, kita bisa kesana bersama. Lagipula kau kan masih sakit"
"Tidak eomma aku sudah sehat berkat obatnya, Lagipula aku masih harus mengunjungi beberapa tempat."
Sebenarnya Chanyeol ingin mengatakan kalau Baekhyun-lah yang membuatnya cepat sembuh tadi, namun karena ia tak ingin eomma-nya bertanya macam-macam jadilah ia mengatakan itu semua.
"JANGAN PANGGIL AKU SALJU FUCK CHANYEOL SIALAN!"
Chanyeol mengabaikan adiknya dan segera turun dari ranjang meninggalkan ruangan gelap itu setelah mengecup kening eomma-nya. Langkahnya terkesan buru-buru hingga dengan bodohnya ia malah menabrak beberapa orang yang tadi berpaspasan dengannya.
"Maafkan aku, aku dalam keadaan darurat"
"Maafkan aku,"
Sekiranya itulah yang bisa Chanyeol katakan ketika tubuh tegapnya bertabrakan langsung dengan tubuh orang-orang yang ia lewati. Sebenarnya ia bisa saja tidak pulang dari rumah sakit malam ini, namun mengingat restorannya yang mungkin masih berantakan, akhirnya ia pun memilih untuk pulang dan menyelesaikan masalahnya.
Memang ia bisa saja menyuruh karyawannya untuk membereskan semuanya, namun ia bukanlah bos jahat yang bisanya hanya marah dan memerintah sesuka hatinya.
Ia berlari menuju halte yang terletak didepan rumah sakit, menunggu bus atau taxi yang mungkin akan lewat didepannya nanti. Yah walau ia tak yakin masih ada yang akan lewat, setidaknya ia harus menunggu sejenak sebelum memutuskan naik kendaraan lain.
"Taxi!"
Seseorang disebelahnya berteriak, ingin sekali Chanyeol memukul orang itu karena berteriak dengan tak tahu diri ditelinganya. Ia hendak menengok saat lelaki yang ia rasa lebih pendek darinya itu sudah bangkit dan hendak membuka pintu taxi-nya.
"Chanyeol?"
Chanyeol menoleh kearahnya, menajamkan pandangannya sebelum ia menyadari kalau yang sekarang berdiri didepan pintu taxi itu adalah Baekhyun. Dokter manis yang mampu membuat jantungnya bergemuruh hanya karena senyumannya.
"Kenapa kau ada diluar? Bukankah kau sakit?"
"yeah begitulah. Tapi aku memutuskan untuk pulang"
"Dengan apa?"
"Bus atau taxi mungkin"
"Hmm, masuklah kalau begitu! Kita bisa naik bersama"
"Tidak Baekkie, aku akan menunggu taxi lainnya saja."
"Info saja, akan sangat jarang kendaraan lewat jika sudah malam begini. Sebaiknya kau naik dan biarkan taxi ini mengantar kita secara bergantian."
Chanyeol tampak menimang-nimang, ia menatap Baekhyun yang masih berdiri dipintu taxi yang ia sudah ia buka. Akhirnya setelah berpikir selama 25 detik Chanyeol mengangguk, bangkit dari duduknya dan menyusul Baekhyun yang sudah masuk kedalam taxi terlebih dahulu.
Keduanya duduk berdampingan dikursi penumpang, saling tatap dan tersenyum sebelum sang supir menginterupsi untuk menanyakan tujuan mereka.
"Kemana?"
"Perumahan Daeguk/ Park Resto"
"Hmm, kalian berbeda tujuan?"
"N-ne ahjussi"
Supir taxi itu berbalik dan menatap Chanyeol serta Baekhyun bergantian. Memberikan tatapan bertanya 'siapa duluan' pada kedua penumpangnya yang hanya menatapnya dengan bingung (juga).
"Antarkan ke restoran dulu saja!" Baekhyun berucap dan tersenyum pada si supir dan diangguki oleh lelaki itu.
"Ah tidak, tidak. Sebaiknya antar kerumahnya dulu. Ini sudah terlalu malam Baekkie, kau harus cepat pulang!"
"Tapi Yeol, apa salahnya?"
"Tidak bisa Baekhyun, ini sudah malam dan aku tidak mau kau pulang terlalu malam!"
"Sudahlah ahjussi, kita ke restoran dahulu!"
"Tidak Baek! Kita ke perumahan Daeguk! Ayo jalan ahjussi"
"Tidak ahjussi, aku memintamu untuk mengantar kami ke restoran!"
"Tidak, perumahan Daeguk terlebih dahulu!"
"Restoran!"
"Rumahmu!"
"Rest-"
"DIAM!"
Kedua penumpang yang masih saling berdebat itu menghentikan aksi kekanakan yang mereka lakukan, Baekhyun dan Chanyeol yang tadinya saling bertatapan menoleh secara bersamaan kearah supir yang kembali menghadap mereka.
"Dengarkan aku, aku akan mengantarkan ke restoran terlebih dahulu karena itu yang lebih dekat dari sini. Jangan memotong ucapanku anak muda! Lalu kemudian aku akan mengantarkan agasshi ini kerumahnya dengan selamat. Ini sudah malam dan sebaiknya kalian jangan bertengkar, tidak baik sepasang kekasih bertengkar hanya karena masalah sepele macam ini"
Chanyeol ingin protes, mulutnya sudah hampir berucap untuk menjelaskan pada supir itu sebelum ia menyadari kalau Baekhyun hanya diam saja disebelahnya. Lelaki itu hanya terdiam dan memalingkan wajahnya kearah jendela.
"Aku ini laki-laki! Dasar ahjussi jelek!"
Chanyeol tersenyum mendengarnya, Baekhyun mengucapkannya dengan sangat pelan sambil membenarkan syal merah besar yang melilit lehernya. Dipantulan kaca sebelah Baekhyun, Chanyeol dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan lelaki manis itu. Mempout dan menggerutu.
.
.
.
"Dokter, aku akan segera turun! Terimakasih karena sudah membiarkanku naik taxi ini bersamamu."
"Eum?"
Baekhyun yang sedari tadi hanya menatap kearah luar jendela -berpura-pura merajuk sebenarnya- menoleh dan menatap Chanyeol yang kini malah tersenyum padanya. Ia sempat menyerngit bingung sebelum ia mengangguk dan balas tersenyum pada lelaki tinggi disebelahnya.
"Hati-hati ya, Park Chanyeol"
Senyuman Chanyeol kembali terlontar dengan Cuma-Cuma kala itu, ia menatap lurus kedepan dan meminta supir taxi itu untuk menepi dihalaman restorannya. Ia mengambil beberapa lembar uang dan hendak memberikannya pada si supir sebelum tangan Baekhyun mencegahnya.
"Aku saja" Ucap Baekhyun ketika Chanyeol baru saja hendak menyentuh bahu si supir.
"Tidak Baek, merepotkanmu!"
"Tidak Chanyeol, biarkan aku yang membayarnya. Aku yang turun terakhir disini. Lebih baik sekarang kau turun dan pergilah ke restoranmu!"
"Tidak bis-"
"APA? Istriku akan melahirkan saat ini juga? Baiklah-baiklah, aku akan segera kesana. Terimakasih beritanya!"
Keduanya saling tatap dan segera mengalihkan pandangannya pada si supir taxi yang kini tersenyum sangat lebar kearah keduannya. Baekhyun menatapnya bingung tak berbeda jauh dengan Chanyeol yang sepertinya masih tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Hmm, agasshi…aku minta maaf sekali pada anda. Aku tidak bisa mengantarmu kerumah. Istriku akan melahirkan dan aku ingin segera pergi ke rumah sakit saat ini."
'Agasshi lagi? Apa dia tidak menyadari kalau aku ini laki-laki?' -Baekhyun
"Oh, baiklah tak apa. aku akan menca-"
"Tak apa ahjussi, aku yang akan mengantar agasshi cantik ini! Ini bayarannya"
Chanyeol tersenyum dan memberikan lembaran uang yang sedari tadi ia pegang untuk si supir taxi itu.
"Tidak perlu bay-"
"Tidak bisa begitu ahjussi, kau sudah mengantarku sampai sini!"
"Tapi tidak dengan kekasihmu anak muda!"
"A-aku bukan ke-"
"Tak apa, aku yang akan mengantarnya."
Chanyeol kembali tersenyum kecil sebelum ia membuka pintu dan turun dari taxi itu, tentu saja dengan Baekhyun yang ikut dibelakangnya. Lelaki manis itu tengah mempoutkan bibirnya secara tidak sadar dan mengabaikan tangannya yang ditarik paksa oleh Chanyeol.
"Masuklah ke restoran dulu! Aku akan mengantarmu pulang setelah aku menyelesaikan sebuah urusan kecil"
"Hmm, tidak perlu. A-aku akan menunggu taxi lain saja!"
"Sepertinya tadi ada seorang dokter manis yang mengatakan padaku kalau tidak akan ada kendaraan umum yang lewat jika sudah malam seperti ini."
"Mungkin aku bisa berjalan ke halte depan dan menunggu taxi lain lewat!"
Tangan Chanyeol terlepas dari pergelangan tangan Baekhyun kala lelaki manis itu menariknya dan tersenyum saat mendengar sindiran dari Chanyeol. Ia megeratkan mantelnya dan hendak saja berjalan sebelum tangan Chanyeol kembali menarik pergelangan tangannya.
" . .Sendirian! Aku akan mengantarmu pulang!"
"Tidak perlu."
"Aku tidak menerima penolakan! Kau baru saja merelakan taxi yang kau cegat untuk mengantarku sampai sini!"
"Tap-"
"Ikut atau aku akan mencium-mu?"
Baekhyun memilih diam setelahya, daripada ia jantungan karena ancaman Chanyeol yang benar-benar kekanakan itu. Ia berjalan mengikuti langkah Chanyeol, membiarkan lelaki tinggi itu menarik pergelangan tangannya hingga mereka masuk kedalam restoran Chanyeol yang kini terlihat…..berantakan(?).
"Apa baru saja ada perang dunia di restoranmu?"
"Ah, sebenarnya….ini ulahku tadi sore!"
"Kau mengamuk?"
"Tidak, hanya membuat banyak orang khawatir hingga…..yeah kau lihat sendiri keadaannya!"
Lelaki manis itu mengangguk ia mengerti apa yang dimaksud oleh Chanyeol, berantakan yang dimaksud adalah….. meja dan kursi yang tak beraturan -bahkan ada kursi yang kelihatannya sudah patah disamping kanan Baekhyun, beberapa pecahan kaca -gelas sepertinya- tergeletak dengan naas diatas lantai.
'Hanya karena ia sakit perut semua barang disini menjadi rusak? Memangnya siapa saja yang mengkhawatirkannya? Apa itu sekumpulan gajah? Melihat dari hancurnya barang-barang disini sepertinya benar kalau yang mengerubunginya saat ia sakit perut adalah sekumpulan gajah.'
-Baekhyun
"SAJANGNIM! Akhirnya kau pulang, kupikir kau akan mati dan meninggalkan kekasih manismu ini sendirian!"
Baekhyun terkejut walau ia tidak membelalakkan matanya, ia cukup sadar untuk tidak bersikap berlebihan disini. Dan sedetik kemudian Ia langsung menunduk menatap pergelangan tangannya yang dilepaskan Chanyeol begitu saja, dan ia sangat sadar kala Chanyeol berjalan menjauh meninggalkannya dan menghampiri gadis yang hanya mengenakan rok hitam khas pelayan dengan atasan putihnya yang…..sangat ketat(?).
"Kekasihnya?"
TBC
Uwaah~ ga nyangka ternyata yang tertarik sama ini FF banyak juga^^ makasih, makasih hehe…..
Makasih buat kunjungan kalian di FF ini, maaf kalo misalkan kurang memuaskan dan juga banyak kekurangan.
Mind to review?
