A/N: Ahh... padahal rencananya ini chapter mau diselesaikan hari senin kemarin, tapi mendadak kerjaan numpuk, jadi terpaksa ngalor... Orz. Anyway, sankyuu bangeet untuk yang kemarin ini menyempatkan diri mereview~ Semoga kalian merasa enjoy juga membaca chapter ini ^^

Thanks to: Akashi Aoi-desu, ffureiya, kiriohisagi, AoKagaKuroLover, Kazugami Saichi Hakuraichi, Choi Chinatsu, dan widi orihara, yang udah login dulu untuk memberikan review. Dan tentu aja, untuk para Guests tanpa nama yang udah rela banget ninggalin review walau mungkin di antara kalian ada yang ga punya akun di sini. Makasih banget~ Kalian-kalian ini yang bikin saya semangat untuk ngelanjutin ini fic :"D

Masukan-masukan yang kalian kasih pun sangat membantu ^^ Yosh! Semoga saya bisa ngasih plot twist yang memuaskan ya 'v')9


Chapter 2: The Reunion


"Hupla!"

Menurunkan barang-barang bawannya dari mesin yang mengantarkan sekumpulan koper besar dan tas yang selama penerbangan disimpan di bagasi pesawat, Taiga menghela nafasnya, mulai merasa mengepak barang sebanyak tiga koper berukuran besar untuk keperluan selama sebulan nampaknya terhitung terlalu banyak. Tapi, ia ingin sekali mengajak Adrian berjalan keliling Jepang mengingat suaminya itu belum pernah sekali pun mengunjungi negara matahari terbit ini.

Yep. Ia katakan "ini", karena saat ini kedua kakinya sudah menginjak bandara Narita di tanah Jepang.

Kalau boleh jujur dikatakan, Jepang adalah negara yang pernah ia sangka tidak akan ia sambangi lagi. Bukan berarti ia membenci negara ini, tapi karena memang ia sudah sangat betah tinggal di Amerika sana bersama sang suami, dan memang, biasanya Tatsuya-lah yang mengunjunginya.

Eh... Tapi, yang namanya manusia memang hanya bisa berencana saja, ya...

"Oii, Adri, can't you help me with this?" sedikit dumelan, Taiga kemudian menarik kerah baju Adrian yang semenjak turun dari pesawat terus-menerus berjongkok sembari memijat-mijat kepalanya, "Oh come on... Why are you always chickening out whenever there's a plane?"

Bukannya ia tidak tahu kalau suaminya itu benci—nah, lebih tepatnya sih takut—pada apa yang namanya pesawat. Hanya saja, ia pikir rasa takutnya itu sudah membaik. Entah apa yang ada di pikiran pria yang 5 tahun lebih tua darinya itu setiap kali melihat sang burung besi.

Mungkin ia melihat monster pemakan manusia kali ya?

Aneh banget.

Walaupun terlihat masih agak pucat, Adrian berdiri dari posisinya dan mengambil 2 dari 3 koper yang ada, lalu tergopoh-gopoh ke arah pintu keluar. Kelihatannya ingin sekali segera enyah dari tempat di mana ia bisa mendengar suara pesawat terus-menerus.

Taiga hanya bisa tertawa kecil, memandang ke arah punggung sang pria dengan wajah penuh kasih sayang, sebelum kemudian menyusulnya.


"Oh, ya ampun...!"

Seorang wanita bersurai hitam panjang berombak nampak begitu siap mencabuti rambut-rambutnya sendiri ketika kedua iris abu-abu terangnya menatap nanar ke arah sebuah ruangan yang diyakininya sebagai dapur. 'Diyakini', adalah kata kuncinya. Dengan langkah lebar-lebar, ia setengah berjalan dan juga setengah berlari ke arah ruangan yang berada di sudut terdalam rumah. Kedua kakinya yang panjang dan terbalutkan rok sepanjang betis nampak menampar-nampar lantai kayu yang ditapakinya.

Suaranya gaduh. Namun, nampaknya kegaduhan yang ada tidak cukup untuk membangunkan target dari kemarahannya, yang ketika ia bukan pintu ruangan yang dituju, ternyata masih begitu terlelap dari tidurnya di atas kasur queen size yang berada di tengah ruangan. Seluruh tubuh sosok tersebut, kecuali rambut birunya, terbungkus oleh selimut yang nampak begitu hangat.

"MISTER AOMINE DAIKI!"

Pekikan, selimut ditarik, dan sebuah erangan yang berasal dari sosok yang terbaring di atas kasur, namun tidak lagi karena sang wanita yang nampak tengah marah besar itu sudah menarik telinganya hingga mau tidak mau tubuh lelaki besar itu mengikuti ke mana arah tarikan, atau rasa sakitnya akan lebih luar biasa lagi.

"Adudududuh—Apa-apaan sih, HEI—" protes yang ada terputus di tengah jalan, ketika sepasang iris biru milik seorang Aomine Daiki bertatap-tatapan langsung dengan iris abu-abu yang menyala akibat rasa murka dari sang wanita yang ternyata istrinya tersebut. Menelan ludah, sang mantan Ace dari Touou Gakuen itu menyadari kalau kini dirinya tengah berpijak di atas lapisan es tipis.

Yang salah langkah sedikit saja, akan mengantarkannya ke kematian.

Ups.

Yang barusan itu pengandaian.

"Uh... Iya, sayang, ada apa ya?" dengan senyum sejuta watt yang dipaksakan, dan keringat dingin yang bercucuran, Aomine berusaha berbicara manis dengan wajah—yang ia harap—tak berdosa demi meringankan kemarahan sang istri.

Namun, kelihatannya ia salah langkah.

Karena es yang ia pijaki sekarang malah retak, seperti urat kekesalan yang semakin terlihat di kening sang istri.

Dan jangan lupakan jeweran di telinganya yang semakin mengganas, oke?

"Dapur." bagaikan seekor induk serigala, istrinya yang hanya lebih muda setahun darinya itu menggeram rendah. Dan geramannya itu sempat naik beberapa oktaf tatkala Aomine menampilkan wajah bingung, namun dengan sedikit tarikan di telinga, pria berkulit gelap itu akhirnya mengerti apa yang dimaksudkan.

Pagi tadi, sebelum pergi berbelanja, istrinya itu memintanya untuk membersihkan dapur yang diacak-acak kucing liar yang seenaknya masuk. Namun, seperti biasa, ia lupa, dan malah pergi tidur karena pekerjaannya baru selesai dini hari tadi, dan ia ngantuk berat.

Capek banget.

Tapi, kelihatannya kalau pun ia mengatakan alasan kenapa ia tidak juga membersihkan dapur, ia hanya akan membuat sang istri semakin marah, dan kemarahan perempuan itu mengerikan. Aomine merasa lebih tenang jika dirinya dilempar ke kandang beruang lapar daripada dilempar ke dalam kandang perempuan yang marah. Dan datang bulan. Ya, istrinya itu sedang dalam masa haid, jadi lebih mudah daripada biasanya untuk merasa kesal.

Jadi, ia hanya mengangguk, dan segera berlari ke dapur.

Helaan nafas keluar dari bibir berlapiskan lipstik merah sang wanita sebelum ia nampak mengingat sesuatu, dan berjalan dengan langkah yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya, mendekati sang suami yang nampak tengah memunguti kulit roti yang berserakan di lantai dapur.

"Aku bertemu Satsuki di swalayan tadi," mulainya sembari mengeluarkan belanjaannya untuk kemudian dimasukkan ke dalam kulkas, "Ia bilang untuk mengingatkanmu mengenai acara reuni nanti malam."

Aomine mengerang, menamparkan telapak tangannya ke kening.

"Lupa ya..." sinis sang istri.


Memilih pakaian yang akan dikenakan sehari-hari adalah hal yang sangat mudah. Cukup mengambil kaos yang berada paling bawah di susunan baju di dalam lemari. Sedangkan untuk celananya, cukup memakai apa yang digunakan kemarin harinya, selama celana tersebut masih bersih dan tidak berbau aneh. Sebenarnya, Taiga sendiri bukanlah tipe orang yang memilih-milih pakaian. Sori, dia bukan cowok metroseksual seperti Kise. Haha. Tapi, ada saat-saat tertentu di mana ia jadi begitu pemilih, sama seperti saat ini.

Berkacak pinggang tepat di bagian tepian kasur hotel tempat dirinya dan Adrian akan menginap selama satu minggu, pria bersurai merah dengan aksen coklat kehitaman di bawahnya itu nampak begitu konsentrasi menelusuri setiap set pakaian yang terbentang di atas kasur.

Ia sama sekali tidak tahu apakah acara reuni malam ini merupakan acara formal atau casual.

Ia lupa bertanya kepada Kuroko.

Suara pintu terbuka dan air keran yang mengucur terdengar ke dalam ruangan, "Huh? You still unprepared yet?" pelukan dari belakang diberikan Adrian kepada Taiga yang menghela nafas sebelum kemudian menyandarkan tubuhnya pada tubuh yang lebih besar di belakangnya itu.

"Ah... To be honest, I don't know what to wear. The formal one? Or the casual one?" memutarkan tubuhnya ke belakang, Taiga mengalungkan kedua lengan panjangnya ke leher Adrian, sementara kedua iris merahnya menyidik sang suami dari atas hingga bawah. Tanpa ia sadari, tatapan menyidiknya berubah menjadi tatapan yang seolah menelanjangi pria di hadapannya itu. Kalau saja acara malam itu bukanlah acara yang penting, saat ini kedua tangannya bukan bermain-main dengan tengkuk Adrian, melainkan mencopoti satu-persatu kancing kemeja hitam yang dikenakan sang pria. Menjilati bibirnya yang mendadak terasa kering, Taiga menahan keinginan untuk mencumbu Adrian, takut kalau-kalau mereka malah akan kebablasan dan berakhir menghabiskan malam di atas ranjang, dan bukannya mendatangi acara reuni yang menjadi tujuan utama kedatangn mereka di Jepang. "Well... You wear the formal one, I guess... I'll go with one too," menjauhkan tubuhnya dari Adrian, Taiga berbalik ke arah kasur untuk mengambil pakaiannya, namun Adrian nampak bergerak lebih cepat, dan memilihkan satu untuknya.

"You know I go with formal most of the time. You just wear this one, yeah?"

Menatap ke arah Adrian sebelum mengalihkan pandangannya kepada set pakaian di tangan sang pria, Taiga mengangkat satu alisnya. Turtle neck abu-abu dengan mantel pendek berkancing enam... Bukan pilihan buruk. Nampak formal, namun juga masih terkesan casual karena yang dikenakannya bukanlah kemeja dengan rompi plus jas seperti Adrian. Mengecup bibir Adrian dan tersenyum lebar, "Thanks, babe. I like your choice." Taiga mengambil set pakaian tersebut, dan menggantungkannya di pengait gantungan baju yang berada di salah satu sudut kamar. Ia memilih untuk membereskan pakaian lain yang ia keluarkan sebelumnya, baru kemudian bersiap-siap.

"Oh yeah, how about the car we intend to borrow from the hotel? Is it ready?" tanya Taiga sembari memasukkan pakaian-pakaian tadi ke dalam lemari.

Adrian nampak membutuhkan waktu untuk menjawab karena ia nampak tengah berbicara di telepon, kelihatannya mengenai mobil yang Taiga maksudkan tadi. Mengangkat bahu, Taiga pun mulai berganti pakaian, dan baru ketika ia selesai menggantinya dan tengah berdiri di atas cermin sembari membenahi rambutnya yang agak acak-acakan, Adrian menjawab, "Yeap. The manager said it's ready and we can get it whenever we want to go." Pria 32 tahun itu pun melangkah mendekati Taiga dan membantunya membenahi rambutnya, "Here, you would want to give it a gel in this area..."

Membiarkan Adrian membereskan rambutnya, Taiga menatap pantulan bayangannya sendiri di cermin, sebelum kemudian menghela nafas.

"Nervous?" tanya Adrian.

Terkekeh, "Will be stupid if I'm not."

"It will be okay,"

"Yeah..."

Tersenyum lembut ke arah Taiga, Adrian membelai pipi pria berurai merah itu dan mengecupnya, "I'll be here with you." Semburat pink nampak menjalar di kedua pipi Taiga, membuat wajahnya nampak begitu ranum. Kelegaan cukup ia rasakan dibalik rasa tegangnya karena ia akan mengakui kalau dirinya adalah tipe orang yang tertarik dengan sejenisnya di hadapan teman-temannya nanti. Apalagi, saat ini ia sudah bersuami.

"... Thanks, Adri,"

Satu kecupan ia berikan lagi sebelum pada akhirnya mereka berdua bergegas pergi menuju gedung olahraga SMA Seirin di mana reuni diadakan.

Walau pun sebenarnya reuni adalah untuk kelompok Kiseki no Sedai, namun rekan-rekan satu tim masing-masing pun diharapkan bisa datang. Dan karena kebanyakan dari mereka sekarang ini sudah menetap di Tokyo, maka SMA Seirin-lah yang ditunjuk menjadi lokasinya. Sebagai bahan nostalgia juga pastinya.

Kuroko sempat memberi-tahukan pada Taiga kalau Akashi, Midorima, Murasakibara, Kise, dan tidak lupa... Aomine, semuanya sudah dipastikan akan datang. Mereka masing-masingnya sudah meluangkan waktu untuk acara tersebut.

Menambah daftar kegugupan yang dirasakan olehnya.

Haha...

Menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, Taiga berbisik, "Here we go..." Ia menerima tangan Adrian yang dijulurkan kepadanya—layaknya seorang gentleman membantu teman kencan wanitanya untuk keluar dari mobil. Sebelum-sebelumnya, Taiga merasa risih diperlakukan seperti itu, namun sekarang ia sudah terbiasa, makanya ia hanya tersenyum ke arah sang pria, lalu memandang ke arah gedung olahraga SMA Seirin di mana keramaian sudah cukup terlihat dari tempat Adrian memarkirkan mobil.

Ia menelan ludah ketika kedua kakinya membawanya semakin dekat dengan pintu masuk gedung olahraga. Tangannya mendadak berkeringat dingin, namun genggaman hangat dan senyum lembut yang diberikan kepadanya oleh Adrian, mampu membuatnya menjadi lebih rileks.

Dan ketika sepasang irisnya melihat sosok pria bersurai biru terang dengan wanita bersurai pink yang berjalan di depannya, Taiga tersenyum lebar, dan melambaikan tangan kanannya, "Oi, Kuroko!"

Sementara tangan kirinya masih terus menggenggam tangan Adrian.

Tbc.