Disclaimer: One Piece owned by Odacchi
Author: Crow
Terima kasih buat reader yang sudah mereview. Syukurlah tanggapannya positif semua, dan saya terima sepenuh hati. Disease mungkin akan di-apdet. Aku lagi semangat nih nulis fic OP lagi. Buat Ararancha, akan kucoba membuat diksi yang sedikit lebih ringan kalo kamu ga keberatan ^^
Warning khusus chapter ini: Necromantic! Jangan baca sambil makan, please.
Keep reading semuanya :D
2: Law dan Beppo
"Seberapapun kuatnya aku mencoba membangkitkan orang mati, hasilnya selalu nihil. Haah, apa manusia memang semenyedihkan diriku ini? Apa… Selama ini aku salah, Beppo?"
Law pernah membaca satu artikel pada Koran News Kuu edisi sore beberapa bulan yang lalu. Disana dia membaca kisah tragis tentang tempat-tempat misterius yang dipercayai seluruh penghuninya tewas dalam pembunuhan massal. Pertama dia menatap satu poto sebuah pulau diatas lautan yang nampak begitu kabur oleh kabut yang tebal. Dan gambar yang kedua adalah sesosok 'kapal hantu' yang mengarungi lautan Florian Triangle berbarengan dengan pulau yang sebelumnya. Law tidak terkejut sedikitpun. Tidak sama sekali. Kenapa? Karena nasib kedua tempat itu tidak beda jauh dengan nasibnya sendiri.
Kematian adalah pemandangan biasa pada Law kecil. Sedari dulu, setiap hari ia harus melihat teman-teman, tetangga, dan keluarganya mati satu persatu.
Ia tak bisa melakukan apa-apa. Pulau tempat kelahiran Law memang adalah pulau 'terkutuk' yang setiap penduduknya mati satu persatu tiap hari. Bekas kerajaan besar di North Blue, Shinikowaina adalah pulau yang terjangkit virus mematikan bernama Black Death. Virus yang menular dengan cepat ini merenggut banyak kenalan dan orang yang berharga bagi Law. Virus yang sampai sekarang ini masih berkembang biak melalui hewan pengerat jorok adalah salah satu masalah terburuk di North Blue dan bahkan bagi pemerintah dunia sekalipun.
Ironis memang dengan nama yang dimiliki bocah kecil itu. Sedari dulu dia berniat menjadi dokter dan menerapkan 'peraturan' dan solusi baru yang akan memajukan masa depan kerajaan ini, khususnya menyembuhkan wabah ini. Tapi impian tinggal impian. Law tidak bisa mewujudkan hal tersebut, malah kini dia digelari dengan julukan satu-satunya manusia terkutuk yang tersisa. Mewarisi bakat bedah dan kedokteran dari sang ayah, Law kecil harus mau tak mau tertekan oleh perasaan keterpurukan akan gunungan mayat yang setiap hari menemani pemandangan matahari terbit sampai terbenam.
Tanpa merasa terganggu, dan tenggelam dalam penelitian 'makhluk hidupnya,' Law yang telah tertekan secara mental terus mengutuk dirinya yang tidak juga kunjung mati. Mungkin mati lebih baik dari ini. Bersimbah darah dan air mata, Law kecil terus membedah mayat-mayat seluruh anggota keluarga dan sahabatnya. Mengharapkan ada satu tombol pemicu yang dapat menyembuhkan wabah tersebut dan kembali menghidupkan mereka.
Tersengal-sengal oleh napas memburu dan rasa kesal dan sedih yang terus menumpuk, Law semakin terobsesi dengan pekerjaannya sehari-hari selama lebih dari 10 tahun. Senyumannya semakin melebar akan kegagalannya yang datang terus menerus. Dia setiap hari selalu gagal, tapi dia mendapat kesenangan tersendiri dari sana. Tak ada hal lain yang semenyenangkan ini.
Darah, isi perut, jantung, hati, limpa, tulang… Ah, ini semakin menyenangkan dari hari kehari…
Tak ada satupun regu penyelamat yang datang ke pulau itu. Alasan mereka adalah resiko yang terlalu besar bagi para pengevakuasi warga. Pemerintah dunia tidak berani mengambil resiko. Lantas selama bertahun-tahun, neraka seperti inilah yang Law jalani. Neraka busuk, neraka organ tubuh manusia, neraka darah, dan neraka penjara batin yang tak pernah berhenti.
Saat seperti itulah—ketika Law sedikit memperoleh kewarasannya, dan memikirkan kembali situasinya, ia berteriak. Ia berteriak dengan lantang dan penuh akan rasa perih seperti hatinya sedang digigit oleh semut merah.
Apa yang namanya keadilan… Apa yang namanya kewarasan dan rasa kemanusiaan… Mana yang orang sebut kebahagiaan…?
Law tidak (pernah) mendapatkan semuanya itu. Memang dia terlahir dari sepasang orang tua yang sangat perhatian. Tapi, ini, semuanya salah. Law hanya berharap dia tengah bermimpi buruk dan segera terbangun dengan senyuman kedua orang tua sudah menunggu paginya yang terang.
Tapi itu juga, sekali lagi, adalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
Kalau tidak karena beruang itu, Law hanya bisa membayangkan dirinya seperti dokter Hogback yang belakangan ini reputasi gelapnya telah tersebar luas keseluruh lautan. Atau… Lebih parah malahan.
Ya. Jika bukan karena Beppo, Law yakin dirinya tidak akan bisa menghirup udara segar lautan seperti yang ia lakukan saat ini.
Hari itu tetaplah hari biasa yang ia lalui. Bersama mayat-mayat; sahabat terbaik yang dapat ia miliki. Betapa kejamnya Law mencoba mengutak-atik tubuh-tubuh tak bernyawa itu; mereka diam, mereka hanya diam tanpa menunjukkan perlawanan. Tapi hanya entah mengapa perut Law merasa luar biasa lapar, dan persediaan makanan basi dan busuk keluarga dan tetangganya sudah habis tanpa sisa. Tidak mungkin ia memakan mayat, bukan? Hanya karena… Hanya karena mereka adalah bahan penelitian Law yang amat berahrga. Jangan. Jangan dulu.
Law menggerakkan tubuhnya yang sudah sulit berjalan kearah hutan bersalju yang letaknya tepat disebelah paling utara dari pulau. Law tahu itu adalah sarang para beruang kutub yang sangat ganas. Tapi tidak ada pilihan lain selain mempertaruhkan nyawanya untuk bisa terus mempreteli mayat-mayat ini.
Tak ubah bedanya dengan para manusia, hewan-hewan pun menjadi korban Black Death tanpa ampun. Semua hewan berubah menjadi tumpukan bangkai busuk dengan aroma yang sangat menyengat.
Aku akan mati disini rupanya. Ah, ya sudahlah. Hidup pun tidak membuatku lebih baik…
Law sudah merasa pasrah kalau saja suara rengekan yang samar-samar terdengar di telinganya tidak menipu dirinya. Di dekat tebing pantai, seekor beruang putih menutup kedua mata dan menangis tersedu-sedu disana. Suara beruang yang hanya dapat dimengerti sesamanya membuat Law menghampirinya.
Niat membunuh Law menghilang. Pisau tajam yang biasa ia gunakan untuk membedah para 'pasien' terjatuh ke tanah ketika akhirnya ia menyadari takdir yang ia miliki tak ubah bedanya dengan si beruang.
Hanya ketika dia berpikir bahwa dirinya adalah makhluk termalang di dunia, disini akhirnya dia tahu bahwa ia harus berbagi gelar tersebut dengan seseorang.
Menggandeng makhluk itu, Law berjalan bersamanya ke dermaga terdekat. "Aku kesepian… Aku ingin teman… Aku ingin keluarga…" Fakta bahwa Law menyadari hewan tersebut mampu berbicara bahasa manusia tidak lagi mampu membuat ia terkejut atau terkesima. Kehidupan gelapnya membuat Law seperti berada di titik tergelap dimana dia sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk menilik cahaya terang.
"… Aku juga…"
"Kita… mau kemana?" Tanya si beruang kutub ketika sudah berada diatas kapal bersama Law.
"… Kita akan merampok. Membongkar. Memporak porandakan apapun yang kita lihat. Seperti bajak laut."
"Bajak laut melakukan itu?"
"… Tidak juga. Aku hanya berkhayal." Law muda merundukkan kepalanya. "Hei Beppo, seberapapun kuatnya aku mencoba membangkitkan orang mati, hasilnya selalu nihil. Haah, apa manusia memang semenyedihkan diriku ini? Apa… Selama ini aku salah, Beppo?"
"… Aku tidak pintar. Aku juga bukan manusia. Tapi… Aku akan mencari jawabnnya bersamamu, kapten." Ujar si beruang, berusaha riang. "… Siapa Beppo?"
"Itu namamu beruang bodoh. Namaku Law, Trafalgar Law." Dia tersenyum tipis, sangat tipis. Sama halanya dengan beruang muda itu, nampaknya pertemuan ini walau sedikit telah menyibak kegelapan hati Law. "Aku adalah kapten. Kau harus menurut atau aku akan menjadikanmu makanan ikan."
"Baik…" Jawab Beppo, pundung dan lesu. "Oh, aku ingin memakai baju! Aku mau coba pakai baju!"
"… Dasar binatang merepotkan."
"Maaf…"
Kalau Law mengingat hari yang ditakdirkan itu, dia berpikir sekali lagi, apa yang Tuhan coba perlihatkan padanya. Apa Ia sengaja menumpas habis penduduk satu pulau hanya untuk mempertemukannya dengan Beppo? Jujur saja, Law berpikir, mungkin: ya. Tapi ia tahu—ia hanya tahu bahwa masih ada sesuatu yang besar akan nampak nantinya di masa depan. Semua kesengsaraan itu, semua kesedihan itu; dengan tubuh bau mayatnya; tapi kini ia sudah bisa tersenyum. Badai pasti berlalu. Cepat atau lambat, tergantung manusia masing-masing.
Law ingin melakukan yang terbaik, berusaha sekuat mungkin membuat orang yang ia sayangi mati lebih lama dari dirinya.
Next: X Drake
AN: Cukup sulit memang mencari idenya. Tapi aku mau coba seoriginal mungkin. Yosh, Read, Review, Critic, dan Comment adalah Cinta desu! xD
