DREAM CASTLE

Pairing : Gilbert Beilschmidt/Ludwig Weillschmidt

Rating : T

Genre : Drama/Angst

Summary : "...istana impian ini adalah milikmu, Ludwig. Maka jagalah baik-baik..."

Disclaimer : All characters belong to Himaruya Hidekazu-sensei

Warning : Apa pun yang terjadi di sini adalah rekayasa walau sedikit mengena ke sejarah masing-masing negara. Timeline yang ada di sini saya sesuaikan dengan yang ada di Hetalia, di mana mereka sepertinya berumur panjang (terutama Jerman). Kalau ada yang kurang berkenan, saya sarankan untuk tidak membaca dengan segala hormat. First Ger/Pru, trial and error... :/

~Chapter 2~

Main Castle, Hohenzollern – 18th Century

Gilbert's POV

"Prussia bukanlah negara dengan bala tentara, melainkan bala tentara dengan sebuah negara…"

Pergantian kepemimpinan seringkali membuat 'kaget' sistem pemerintahan yang sudah berjalan sejak lama. Prussia kini sedang membentuk batalyon pertahanan yang sangat kuat di bawah kekaisaran yang baru. Menurutnya, Prussia tidak boleh besar dari segi wilayah saja. Negara besar, harus disertakan dengan pertahanan yang kuat.

"Silesia tidak boleh jatuh ke tangan Austria!"

Aku tengah mempersiapkan diriku mengikuti peperangan di Mollwitz. Bulan April seharusnya menjadi bulan yang hangat, karena udara dingin musim semi akan segera berganti dengan udara hangat di musim panas. Tetapi aku tidak percaya akan melewatinya dengan melayangkan serangan ke negeri pesaing abadi Prussia, yaitu Austria. Apalagi aku sudah terlanjur berjanji dengan Ludwig untuk berkebun bersama-sama, di musim semi ini.

"Bagaimana kabar adikmu, Gilbert?"

"Hm? Oh, soal Ludwig. Yah, dia baik-baik saja. Sekarang sudah bisa main pedang denganku."

"Wah, dia akan meneruskan cita-citamu kalau begitu!"

"Kau harus bangga punya rekan sehebat aku, Antonio. Hahaha…"

"Tapi apa kau yakin bisa merawatnya sampai besar? Sementara kau sering meninggalkannya untuk urusan negara."

"Dia itu anak yang mandiri, Antonio. Setiap aku pulang, aku selalu mendapat kabar gembira mengenai perkembangannya."

"Yah, aku sangat berharap peperangan akan segera berakhir. Maka aku akan banyak menghabiskan waktu dengan Lovino."

"Kau pun membesarkan seorang anak kecil di rumahmu, Antonio Fernandez."

"Hahaha…anak itu…mungkin suatu hari kita perlu mengenalkan Lovino dan Ludwig. Bagaimana menurutmu, Kaiser Beilschmidt?"

"Ide bagus…"

The Mansion, Noon

Detik-detik menjelang keberangkatanku ke Mollwitz, aku memohon izin kepada komandan perangku untuk pulang lebih awal dan tidak ikut pertemuan sebelum perang. Tiba di rumah, aku seperti mendengar suara Ludwig sedang bermain di taman. Madam Bertha sedang menyiapkan makan malam di dapur. Dia bilang, Ludwig sedang mengasah kepandaiannya bermain pedang. Ah ya, aku pernah membuatkan pedang kayu untuknya. Sejak kecil, aku mengenalkan dia pada senjata perang satu itu sebagai modal pertamanya mengenal 'perang'.

"Hey, Ludwig!"

"Ah, kau sudah pulang, Kak! Ayo kita bertarung!"

"OK, aku akan ambil pedangku. Kita lihat sudah sejauh mana perkembanganmu."

Yang aku lihat, Ludwig sudah mulai terbiasa dengan berat pedang kayunya. Waktu pertama latihan, dia seringkali mengeluh dengan beratnya. Tetapi lihatlah, serangannya sudah mulai terlihat jelas. Dia tidak lagi kaku dan begitu yakin dengan jurus-jurus yang aku ajarkan padanya.

"Akulah…ksatria!"

"Bagus, Ludwig!"

Kami melepas lelah, menghampar tubuh penuh keringat dan rasa lelah di halaman berumput ini. Nafasku tersengal, tak kusangka tenaga Ludwig begitu besar. Antonio benar, dia akan menjadi ksatria hebat dan meneruskan cita-citaku. Haah…aku merasa menjadi orang tua kalau mengingat kata-kata itu.

"Kau menunjukkan perkembangan yang luar biasa, Ludwig. Aku bangga padamu."

"Terima kasih, Kak."

"Ah ya, sebagai penyemangat, aku punya hadiah istimewa untukmu. Kau mau hadiah, Ludwig?"

"Horeee! Hadiah apa kali ini, Kak?"

Entahlah, tidak ada yang istimewa sebenarnya…

Aku mengajaknya masuk ke rumah, lalu naik ke lantai dua menuju ruang kerjaku. Aku sudah menyiapkan satu papan maket di atas meja kerjaku. Ludwig yang takut-takut untuk masuk, tak bisa melepaskan tangannya dariku.

"Itu apa, Kak?"

"Ini hadiah untukmu, Ludwig."

"Papan kosong begini? Apa asyiknya?"

"Hahaha…masa' sih kau tidak tahu maksud dari papan ini, Ludwig? Coba lihat, di pinggirannya terdapat pohon semak yang mengelilingi persegi ini. Bukankah itu terlihat seperti tanah kosong?"

"Hah?"

"Kau ini…nah, coba buka bingkisan ini, Ludwig."

Aku mengeluarkan bungkusan dari kain yang kuambil dari laci meja kerjaku. Ketika dibuka, bungkusan itu berupa jembatan kecil. Hanya sebuah jembatan, dan tidak ada yang lainnya.

"Aku…masih tidak mengerti…"

"Letakkan jembatan itu di papan maket, lalu kau coba lihat gambar yang aku buat ini."

"Whoa, istana!"

Aku sendiri sudah lupa kapan menggambar istana itu di secarik kertas usang. Hanya istana sederhana dengan tiga menara tinggi. Nampaknya Ludwig mengerti dengan maksudku menunjukkan gambar itu padanya. Dia lalu memperhatikan kembali papan maket yang sekarang sudah terdapat jembatan kayu di atasnya.

"Kita akan membuat istana di atas papan ini!"

"Hahaha…anak pintar! Menarik bukan? Nanti kalau sudah jadi, istana itu akan menjadi milikmu."

"Benarkah? Asyik! Aku punya istana!"

"Itu berarti, kau akan punya tempat tinggal sendiri di sebuah lahan yang luas dan indah, Ludwig. Kau bisa melakukan apa saja di istana itu, termasuk menghias halamannya dengan bunga mawar berwarna-warni."

"Whoa, menyenangkan sekali. Apa aku bisa membuat kolam pemandian di sana?"

"Tentu saja."

"Hebat! Bagaimana dengan memelihara berbagai macam burung? Supaya setiap pagi kita bangun, kita akan mendengar suara kicauan burung."

"Menyenangkan, Ludwig…"

"Kemudian, kita punya beberapa kuda dan kita bisa mengelilingi istana ini dengan kuda. Bagaimana menurutmu, Kak?"

"Wah, itu ide bagus!"

"Ini benar-benar hebat, aku suka sekali!"

"Jika sudah jadi nanti, maka kau harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai ada orang lain yang merusaknya, termasuk dirimu sendiri juga tidak boleh semena-mena dengan istana itu. Mengerti?"

"Ja!"

Berpisah dengannya seperti meninggalkan sebongkah berlian tanpa pengamanan ekstra di rumah ini. Aku menitipkannya kepada Madam Bertha, aku berpesan banyak agar anak itu selalu merasa nyaman di rumah. Aku berharap setelah aku kembali dari peperangan nanti, aku bisa melihat pemandangan baru di rumah ini. Misalnya, melihat Ludwig menjadi remaja dan sudah siap untuk dilatih perang.

Tok…tok…

Hari berganti malam, aku dan Ludwig tertidur di ruang tengah setelah asyik merencanakan banyak hal di papan maket istana yang kuhadiahkan untuknya. Seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku memastikan Ludwig sudah tidur nyenyak, sehingga dia tidak akan bergerak atau terbangun mendengar aku berbicara dengan orang yang baru datang ke rumahku.

"Guten Nacht, Kaiser Beilschimdt."

"Hmph, siapa yang mengajarimu bahasa Jerman, Antonio?"

"Aku sudah terbiasa berkumpul dengan orang-orangmu, Gilbert. Maka itu aku banyak belajar dari mereka."

"Apa semuanya sudah siap?"

"Tinggal menunggu kau, Tuan Besar."

"Beri aku waktu. Aku harus membawa anak ini ke kamarku."

Aku memberi isyarat kepada Antonio untuk menungguku sebentar. Aku harus memindahkan Ludwig ke kamar agar dia bisa tidur lebih nyenyak. Aku menyelimuti dia supaya tidak kedinginan. Sebelum aku pergi, aku mencium keningnya dan mengucap selamat tinggal di telinganya.

"Kakak…"

Nampaknya, ciumanku tadi sedikit membangunkannya. Dan yang terburuk adalah dia melihatku akan pergi dengan seragam perangku. Sontak dia bangun dan aku langsung menghampirinya.

"Tidurlah, Ludwig."

"Kau…kau akan pergi berperang lagi, Kak?"

"Untuk mengejutkanmu, aku memang akan pergi berpereang lagi."

"Katamu kita akan menyelesaikan istana itu bersama-sama. Kalau kau tidak ada, aku tidak mungkin menyelesaikannya sendirian. Aku tidak mau kau tinggal sendiri!"

"Ludwig, kita pasti akan selesaikan istana itu sama-sama. Tapi perlu kau ingat, bahwa aku sudah memberikan istana itu padamu. Jadi, kau yang berhak menentukan kapan istana itu harus selesai."

"Aku ingin menyelesaikannya denganmu…"

Oh, dia menangis. Ini sudah yang kesekian kali aku melihat dia meneteskan air matanya. Dia sudah besar, tapi kadang masih suka cengeng begini. Aku mendekapnya erat, dan kudorong pelan untuk berbaring. Aku memakaikan selimutnya lagi dan mencoba menenangkannya.

"Adikku sayang, seorang ksatria itu tidak boleh menangis. Dia harus menjadi laki-laki pemberani dan kuat."

"…"

"Kau bukan anak kecil yang bisa kugendong, atau harus disuapi saat makan. Apalagi kau punya tugas penting yaitu menyelesaikan istana impian kita."

"Mengapa kau sering sekali pergi berperang? Apakah kau tidak lelah?"

"Hahaha…aku ini ksatria hebat! Aku tidak boleh merasa lelah untuk melindungi sesuatu yang berharga."

"Apakah Prussia itu berharga untukmu, Kak?"

"Aku lahir dan dibesarkan di tanah suci ini. Dan suatu hari, kau akan mengerti betapa tanah suci ini telah menjanjikan banyak hal untuk masa depanmu. Kau akan ikut mengayun pedang bersama para ksatria hebat untuk melindungi sesuatu yang berharga."

"Apakah istana itu akan kita bangun di tanah suci ini?"

"Tentu saja! Kau sudah menjadi bagian dari Prussia, maka istana itu harus berdiri di sini. Kau bisa mewujudkan semua impian bersama istana itu."

"Segala impian…"

"Jika nanti perang sudah selesai, aku ingin melihat istana itu sudah jadi. Paling tidak, kita bisa mengibarkan bendera di setiap menaranya."

Senyum kecil itu terukir di wajahnya. Aku bahagia melihat dia tersenyum, walau dada ini sedikit merasa sesak melihatnya. Aku tidak tahu kapan perang itu selesai. Perhelatan negara ini dengan Austria sepertinya akan berkepanjangan. Bisa jadi, aku akan tertahan di medan perang dan tidak bisa melihat perkembangan Ludwig.

"Ludwig, pegang ini…"

Aku melepas satu kalung salib hitamku dan kuberikan padanya. Salib hitam ini adalah lambang suci dari Teutonic Knights, leluhur bangsa Jerman yang berjaya atas Prussia. Aku punya satu, dan dia harus punya satu sebagai tanda bahwa dia adalah adikku, bagian dari bangsa ini juga.

"Kau punya satu, dan aku punya satu. Semua ksatria di Prussia memakai lambang ini."

"Ksatria…"

"Kau adalah ksatria di masa depan. Dan lambang ini akan terus mengingatkanmu padaku. Kita ini saudara, kau ingat?"

"Ja…"

"Kau akan menjadi ksatria hebat, Ludwig. Seperti kakakmu ini…"

Kalimat terakhirku tadi seperti sihir yang akhirnya bisa membuat Ludwig tertidur tenang. Aku masih menggenggam erat tangannya. Demi Tuhan, aku jadi sedikit berat meninggalkannya.

"Kaiser Beilschmidt, kita harus berangkat sekarang."

Suara Antonio menyadarkanku. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Beranjak meninggalkan rumah, meninggalkan Ludwig dan istananya, aku tak henti-hentinya memanjat doa. Berharap penuh cemas, apakah aku masih bisa melihatnya tumbuh menjadi dewasa? Menjadi ksatria hebat bangsa Jerman?

Perang tiada akhir itu sudah menungguku…

~to be continue~

Chapter 3 coming up next!