Pairing : Erwin Smith x Levi Ackerman and Eren Yeager x Jean Kristin

Disclaimer : Hajime Isayama

Warning : Yaoi. Typo bertebaran, cerita gaje, penilis amatiran

DON'T LIKE DON'T READ!

ENJOY ! _

Sina High School,pukul 06.50.

Suara ribut bagai dengung lebah itu berasal dari Kelas 11-D yang letaknya berada di ujung koridor sekolah. Terletak di lantai 2 yang tempatnya sangat strategis bagi anak anak yang suka bolos ataupun ke kantin. Kelas 11-D yang terkenal dengan anak anak bandel dan berisik itu selalu membuat guru pengajar menghela nafas berat sambil mengelus dada. Lantaran sikap yang terlampaui jahil ataupun nakal.

Seperti sekarang ini. Eren dan Jean yang saling beradu mulut karena hal yang sangat sepele. Yaitu pulpen. Eren menuduh Jean mencuri pulpennya saat ia sedang berada di toilet untuk buang air kecil. Dan saat ia Kembali ke kelas, pulpen yang tergeletak di atas meja seketika hilang. Jean yang saat itu memungut pulpen jatuh untuk dikembalikan itu langsung terlihat oleh Eren. Jean berniat baik. Tetapi Eren yang sudah terlanjur benci kepada Jean langsung menuduh nya mencuri pulpen nya itu.

"Mengaku saja! Kau ingin mencuri pulpen ku kan! Eren menunjuk muka Jean dengan jari telunjuknya.

Jean yang tidak terima dituduh sebagai pencuri itu balas berteriak,"Enak saja kau asal menuduh! untuk apa juga aku mencuri pulpen butut mu itu!."

"Lalu jika tidak berniat mencuri, kenapa pulpen ku bisa berada di tanganmu hah!."

Jean langsung meremas pulpen yang berada di tangannya dan melemparkannya ke Eren,"Aku hanya memungutnya untuk di taruh lagi ke mejamu."

Eren bersidekap dada," Sama saja bodoh! intinya kau mengambil pulpen ku. Dasar pencuri!."

Jean mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Kalian berdua tenanglah." Armin, teman baik Eren itu mencoba melerai Jean dan sahabat baiknya itu.

"Dasar pencuri! Sudah mencuri tidak mau mengaku lagi. Lebih baik muka kudamu itu tenggelam kan saja ke laut! kata Eren sadis.

Sudah cukup!

Emosi yang Jean tahan dari tadi sudah membuncah. Tangan yang dari terkepal melayang indah tepat muka Eren.

BUG!

Jean meninju muka Eren dengan kekuatan penuh hingga membuat pemuda bermata hijau itu terjungkal ke belakang dan terkapar pingsan dengan darah yang keluar dari hidungnya.

"Sialan! Apa yang kau lakukan kepada Eren." Mikasa berteriak keras sambil memangku Eren yang tak sadarkan diri,"Eren, Eren, bangunlah."ia menepuk pelan pipi Eren mencoba membangun pemuda itu.

Jean mendengus,"Dia pantas mendapatkan nya."

"Apa kau bilang hah! kau membuat Eren pingsan dan sekarang kau mengatakan Eren pantas mendapatkan nya." Mikasa menggulung lengan bajunya. Bersiang mengambil ancang ancang untuk menghabisi Jean.

Jean meneguk ludahnya. Bukan jadi rahasia umum jika satu sekolah mengenal Mikasa. Mikasa yang terkenal sebagai perempuan itu berhasil mengalahkan satu geng preman yang memalak adik kelas mereka dengan tangan kosong. Ditambah Mikasa sekarang memegang sabuk hitam Teakwondo.

"Wah sepertinya ini akan sangat seru sekali." kata Shasa sambil memakan kentangnya.

Connie langsung menggeplak belakang kepala Shasa hingga gadis itu tersedak kentang yang ia makan,"Kau bodoh atau apa? teman kita akan bertengkar tapi kau malah santai santai makan. Dan dari mana kau dapat kentang itu!" Connie berseru frustasi.

Annie hanya menguap bosan melihat pertengkaran itu.

"Nee Mikasa, tidak bisa kita kah bicarakan baik baik." Armin menahan lengan Mikasa. Tetapi Mikasa menatap tajam ke arah Armin seolah ia baru saja berbuat kesalahan.

"Tidak." Mikasa menjawab pendek. Dan Armin sudah tahu jika Mikasa menjawab pendek dengan alis bertaut. Itu tandanya perempaun itu sedang marah.

Bukannya membantu temannya yang sedang bertengkar. Teman teman sekelasnya malah bersorak heboh menyerukan nama 'Mikasa'.

"Mikasa jangan!."

Jean sudah menutup matanya dengan erat.

SREK!

"APA YANG SEDANG TERJADI DI SINI!.

Tapi beberapa detik berselang tidak ada rasa sakir yang tersengat di pipi atau hidungnya. Ia membuka setengah matanya hanya untuk melihat Mikasa berdiri terpaku dengan kepalan tinju terhenti di udara.

Hening.

Suara sorak yang tadinya begitu heboh langsung berganti menjadi keheningan ketika Erwin sensei masuk ke kelas tanpa mereka sadari.

"Apa yang terjadi disini?." Erwin mencoba mengulangi pertanyaannya dengan intonasi rendah. Matanya menatap murid murid nya dengan pandangan sinar laser. Memang inilah resiko yang ia harus terima menjadi wali kelas 11 -D.

Masih ada yang tidak menjawab.

Erwin menghela nafas berat,"Aku hanya telat 10 menit dan ini yang kalian perbuat selama aku tidak ada?." matanya tak sengaja melihat salah satu muridnya tak sadarkan diri di pangkuan Armin dengan kondisi hidung berdarah,"Astaga! kenapa dengan Eren? "

"A-Anu, tadi Eren dan Jean bertengkar. Lalu Jean memukul Eren hingga pingsan." kata Historia dengan suara pelan yang masih di dengar Erwin.

"Jean Kristin?." Erwin menyipit kan matanya. Jean meneguk ludah dengan kasar," Bawa Eren ke ruang kesehatan lalu temui aku sehabis pulang sekolah bersama Eren."

"T-Tapi aku tidak-"

"Aku tidak menerima alasan apapun." Kata Erwin final,"Buka buku kalian. Kita akan melanjutkan Bab yang kamarin."

Para murid mengerang malas sambil Kembali ke tempat duduk masing masing . Walaupun malas, mereka tetap mengikuti perintah Erwib sensei untik menbuka buku. Kecuali Jean yang harus menggendong Eren ke ruang kesehatan. Jean mengucapakan permisi sebelum menggeser pintu. Ia bisa melihat tatapan tajam Mikasa disertai dengan aura hitam yang menyebar membuat Jean cepat cepat berlalu.

Selama perjalanan menuju ruang kesehatan. Ia tak berhenti memaki Eren yang melibatkan dirinya hingga dirinya yang menjadi tersangka.

"Permisi." Jean membuka pintu geser ruang kesehatan dengan kaki kanannya. Kedua tangannya masih menggendong Eren yang terbilang berat,"Kemana perginya Hanji sensei?."guman nya pelan

Sepertinya Hanji sensei sedang pergi untuk bereksperimen lagi. Terbukti dengan note yang menempel pasa buku absen siswa sakit yang berada di meja tempat Hanji biasa duduk.

Guru itu sangat aneh. Selalu menggunakan jas putih dengan kacamata yang selalu tersampir di mana mana. Mungkin murid murid akan menyebut nya guru gila. Karena suka tertawa terbahak bahak padahal tidak ada yang lucu, dan selalu suka berteriak. Satu lagi, ia fanatik terhadap raksasa. Entah apa yang membuat nya begitu mencintai raksasa.

Terpaksa Jean harus melakukan semuanya sendiri. Ia merebahkan Eren di ranjang lalu berjalan menuju lemari obat untuk mengambil kapas dan minyak kayu putih. Menarik kursi yang ada di sebelah ranjang dan duduk. Pemuda berambut coklat itu mengelap darah yang keluar dari hidung Eren yang untungnya sudah berhenti. Membalur kan minyak kayu putih di leher dan di telinga.

Jean ingin segera meninggalkan Eren dan pergi ke kelas. Tapi jika ia di kelas ia bakal mati bosan karena pelajaran Matematika yang sama sekali tidak ia mengerti. Tapi lagi, jika ia memilih menunggu pemuda itu siuman, pasti ia akan bertengkar lagi. Tapi biarlah. Sesekali membolos jam pelajaran Matematika tidak akan salahnya bukan? walaupun ia harus terjebak berdua bersama titisan iblis ini. Lagi pula ini salahnya. Jadi ia harus tanggung jawab.

"NghhhEren melenguh ketika merasakan rasa pusing yang melanda kepalanya. Ia mengerjab ngerjabkan matanya untuk menfokuskan pengelihatannya.

"Oh kau sudab sadar. Apa kau haus?." Eren menengok ke sumber suara. Saat ia bangun kepala nya justru semakin sakit. Ia mengernyit ketika mencium aroma manis yang melewati hidungnya.

Mengendus. Eren mendekatkan kepalanya yang masih terasa pusing itu ke aroma manis yang membuatnya mabuk.

Pemuda bermata hijau itu mengadahkan kepalanya. Masih dengan mata setengah terpejam.

"Oy! kau ngapain?." tanya Jean bingung melihat kepala Eren yang mendekati dadanya.

"Kenapa baunya manis sekali?."

"Huh? kau bilang apa?."

Tepat setelah mengucapkan itu. Mata Jean langsung terbalak lebar ketika Eren dengan seenaknya jidatnya langsung menbuka kemeja sekolahnya. Hingga memperlihatkan dadanya yang putih mulus dan kedua nipple nya.

"O-oy!." seru Jean kelabakan. Pemuda bermata hijau itu mengabaikan dan justru menyentuh puting Jean dengan dengan jari telunjuknya.

"Sshhh..."Jean mengerang pelan ketika ujung nipple kanannya disentuh dengan jari telunjuk Eren.

Melihat reaksi Jean,Eren memijat nipple pemuda berambut coklat itu dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Dan...

Sebuah cairan keluar dari puting kanan Jean!

Glup..

Eren menelan ludahnya ketika melihat cairan berwarna putih itu keluar dari puting Jean. Dia yang sudah haus dari tadi tanpa berpikir panjang menghisap puting Jean.

"Ngghh..E-Eren!." Jean mendesah sedikit nyaring. Puting kanannya yang dihisap oleh Eren terasa nyeri dan panas. Rasa panas itu menjalar hingga ke pipinya yang bersemu merah.

"Berhenti...ahhh.." desahan Jean semakin bertambah tak kala sebelah tangan Eren yang menganggur itu kini mempelintir puting kirinya.

Tubuh Jean bergetar pelan. Rasa malu bercampur sakit karena puting nya yang dihisap oleh Eren. Dan bukannya berhenti justru pemuda itu malah justru menambah hisapan nya.

Tidak!

Jika dibiarkan seperti ini maka Eren bisa berbuat lebih. Dan jika Eren berbuat lebih dan mengetahui rahasianya. Maka tamatlah riwayatnya. Jangan sampai terjadi!

"Aku bilang berhenti bodoh!."

BUG!

Secara reflek Jean memukul belakang kepala Eren sehingga pemuda itu kembali pingsan dan langsung jatuh di atas kasur.

Nafas Jean terengah engah. Tangannya kanan nya masih terlayang di udara. Sedangkan tangan kirinya mencoba menutupi kemejanya yang sudah terbuka.

"Gila! Aku baru saja membuat nya pingsan untuk kedua kalinya. Jika Mikasa tahu, dia pasti akan membunuhku!."

Karena tidak ingin berlama lama berdekatan dengan Eren. Dia langsung merapikan kemejanya dan beranjak pergi keluar sebelum seseorang tahu bahwa tadi mereka baru saja melakukan hal yang gila!

TBC...

Jangan lupa untuk reviews nya. Saran, kritik, dan masukan gue terima dengan sepenuh hati~

Sampai bertemu di chapter selanjutnya •