Sasuke meneguk tehnya dalam diam, iris obsidian sekelam malam miliknya menatap lurus kearah seorang pemuda blonde yang tengah tertunduk dalam dengan raut penyesalan yang begitu kentara.
"Jadi kau memukulnya karena mereka duluan yang mulai, begitu?", tanya Sasuke mengkoreksi.
Pemuda blonde itu mengangguk pelan. "Ya, mereka memukuli siswa disekolahku duluan, jadi... Aku membalasnya..", jawabnya lesu.
Sasuke menghela nafas panjang, kedua alisnya berkerut tak setuju. "Kau memang benar-benar dobe", cetusnya
Naruto, pemuda blonde itu menatap dengan mengiba, ia merasa sangat bersalah dan kalut. Naruto tak ingin pemuda raven itu marah atau pun kecewa padanya. Namun ia juga tak punya pilihan selain harus berkata jujur dan sekarang setelah ia menceritakan semuanya pemuda cantik yang sangat disukainya itu terlihat begitu tak suka.
"Gomenasai uchiha-san.., ", lirihnya pelan.
Uchiha Sasuke, pemuda berkulit pucat tersebut melipat kedua lengan kurusnya didepan dada. Kepalanya terasa sedikit pening setelah mendengar kebenaran dari bocah blonde dihadapannya itu.
Sasuke tak pernah menyangka sebelumnya jika bocah kuning bertampang bodoh itu adalah seorang berandalan disekolahnya. Penampilan Naruto memang tidak bisa dibilang siswa teladan juga, dengan rambut blonde spikey terang dan seragam yang berantakan tentu saja ia terlihat sebagai bocah nakal. Tetapi Sasuke sama sekali tak menyangka jika Naruto adalah ketua.
"Si Rubah Iblis dari SMA Konoha"
Huh, mendengar julukan si blonde itu saja sudah membuat Sasuke ingin tertawa.
"Baiklah..", Sasuke berucap lirih. "Sekarang apa ada lagi yang ingin kau ceritakan padaku?", tanyanya acuh.
Naruto memutar kelereng birunya malas, ia mengangguk pelan membenarkan ucapan dari pemuda raven tersebut.
"Ya masih ada uchiha-san...", Naruto mengambil tas ranselnya, mengeluarkan sebuah kantung kain kecil dari dalam sana lalu mengeluarkan isinya keatas meja.
"Aku merokok dan aku memakai pearcing di telinga dan juga lidah. Itu saja...Maaf aku tak bermaksud membohongimu Uchiha-san", ujarnya pelan.
Sasuke mengusap wajahnya lelah, ia menatap sekotak rokok dan beberapa piercing yang tergeletak begitu saja diatas mejanya tanpa dosa. OK, sekarang ia sudah yakin jika bocah bodoh ini memang berandalan.
"Apa kau memakai obat-obatan terlarang dan melakukan sex bebas, dobe?",
"Tentu saja tidak!", Naruto menggeleng keras. "Aku bersih untuk obat. Kalo sex sih... Aku — aku memang pernah melakukannya beberapa kali", menggaruk kepalanya yang tak gatal, Naruto menjawab dengan sedikit ragu diakhir.
"Melakukannya beberapa kali katamu?", beo Sasuke pelan, 4siku dipelipisnya mulai berkedut riang.
Naruto menelan ludah berat, merasakan hawa membunuh disekitarnya mulai menguar.
"Ya.., aku melakukannya bersama beberapa orang mantan pacar ku, teman pacarku dan adik temanku — dulu...", ucapnya terbata.
KRAK.
Naruto berjengit takut saat mendadak mendengar suara imaginer dari gelas yang tengah dipegang pemuda Uchiha didepannya.
"Gomenne Uchiha-san..., itu sudah lama berlalu. Sekarang aku tidak sedang berkencan dengan siapapun kok. Sungguh! percayalah padaku!", ucap Naruto meyakinkan.
Sasuke menghela nafas panjang, merasakan seluruh otot dan persendiannya menengang sesaat. Entahlah mendengar penuturan dari si kuning barusan membuat telinganya panas dan hatinya berdenyut nyeri seketika.
Tentu saja, itu sudah sewajarnya. Naruto pemuda yang tampan, tentu semua siswi menyukainya. Apalagi ia adalah seorang ketua, Sasuke yakin Naruto selalu dikelilingi banyak kohai ataupun senpainya yang cantik dan manis. Malah akan terasa janggal bila, pemuda bodoh tersebut mengaku masih perjaka dengan pesona sekuat itu bukan.
Ya, pastilah Naruto sudah pernah dipeluk oleh berbagai wanita yang menyukainya.
Itu sudah pasti.
"I got it. Sekarang aku tahu kau bukan hanya bocah kelebihan hormon tapi juga bocah pembohong , dobe. Pulanglah sekarang juga dan jangan pernah kembali lagi",
Setelah berucap seperti itu, Sasuke segera beranjak dari duduknya untuk pergi tak mau berlama-lama lagi berada disana. Namun, Naruto menghentikan langkahnya. Jemari tan tersebut menggenggam erat lengan putih Sasuke.
"Jangan pergi Uchiha-san. kumohon percayalah padaku. Aku memang berandalan tapi aku bukan pemakai dan bukan juga virgin killer! Maaf aku berbohong tetapi aku tak bermaksud menyakitimu, sungguh! Aku menyukaimu Uchiha-san! Sangat suka — ",
Iris obsidian itu berkilat tajam, sesungging senyum miring tercetak di bibir tipis Sasuke.
"Kebohongan apa lagi yang kau katakan dobe?", Sasuke melepas genggaman tangan Naruto dari lengannya. "Sudah cukup aku mendengar bualan mu bocah, keluar dari toko ku sekarang juga! Jangan lagi berucap menyukai mencintai dan hal-hal menjijikan lainnya dihadapanku lagi! Cepatlah sadar bocah!",
Naruto terdiam. Tak menyangka pemuda manis itu akan benar-benar marah kepadanya. Ia tahu ia bersalah, tetapi perasaannya ini... Tidaklah bohong.
"Aku mencintaimu Uchiha-san. Itu bukanlah sebuah kebohongan. Aku sungguh-sungguh", Naruto menunduk dalam sambil menggenggam erat telapak tangannya diatas paha.
"Aku mencintaimu.. Kau boleh tak mempercayaiku lagi uchiha-san. Tetapi.. Aku tak mau kau meragukan perasaan ku ini. Aku mencintaimu Uchiha Sasuke",
BADUMP.
Baiklah, jika sekarang kau merasakan debaran jantung yang bak genderang perang itu jelas berasal dari pemuda raven yang tengah bersemu merah itu.
Kata-kata dari Naruto barusan berhasil menghancurkan pertahanan dirinya untuk tidak berblushing ria. Dadanya bergemuruh dan wajahnya tentulah sudah semerah tomat, buah favoritnya.
"Mudah bagimu bicara bocah, sudahlah mendadak aku ingat ada keperluan. Cepatlah pergi ,tokoku akan segera ku tutup", ujar Sasuke berusaha mengalihkan perasaannya. Ia memilih menatap keluar jendela, menghindari 2kelereng biru yang sedari tadi menatapnya dalam. Membuat hatinya semakin bergemuruh dan ingin meledak saja.
Naruto menjawab pelan. "Aku mengerti Uchiha-san, aku akan segera pergi", iris birunya meredup tak lagi berbinar seperti tadi. "Aku minta maaf...",
Setelah menunduk memberi salam, Naruto pun melenggang keluar dengan wajah lesu. Sementara pemuda raven itu hanya bisa terdiam mengamati pemuda kuning tersebut pergi hingga menghilang dari balik pintu toko
Sasuke menyandarkan kepalanya kemeja didepannya. Menenggelamkan wajahnya pada tumpuan lengan lalu menghela nafas berat.
Situasi ini begitu rumit untuk hatinya saat ini. Sasuke merasa begitu sesak dan blooming dalam waktu yang bersamaan. Hatinya bergemuruh hebat dan ia tahu Naruto tak berbohong mengenai perasaannya. Mungkin bocah bodoh itu memang berbohong dalam beberapa macam hal. Sayang sekali. Tapi kesungguhan dimata birunya tentang perasaannya terhadap Sasuke jujur saja berhasil menyentuh hati pria raven itu.
Sasuke tak bisa berbohong, ia pun juga memendam rasa yang sama sejujurnya saja. Tetapi..
Tidak!
Sasuke tak bisa membiarkan perasaannya itu menguasainya. Ia tak bisa memberikan Naruto harapan lebih dari ini. Sasuke tak bisa membuat bocah blonde itu memasuki hidupnya lebih jauh lagi. Tidak. Ia tidak bisa!.
Lagipula Naruto masihlah pemuda belasan tahun yang tak mungkin berkomitmen,,
"Uchiha-san...",
Sasuke berjingkat kaget saat suara yang begitu diingatnya tersebut terdengar kembali didekatnya. Ia menengok keatas dan mendapati sosok Naruto telah berada disana lagi.
"Naru —. Nggg...",
Belum sempat Sasuke membuka suara, pemuda tan tersebut lebih dulu merengkuh tubuhnya lalu menciumnya .
Bibir naruto terasa panas dan basah menyentuh bibirnya. Sasuke terbelalak tak percaya dengan apa yang tengah terjadi padanya saat ini. Rasanya seluruh tenaga yang ia miliki seakan menghilang entah kemana. Tubuhnya terasa lemas dan ringan, pikirannya kosong. Sasuke tak dapat melawan tindakan sepihak dari Naruto.
Yang ia tahu saat ini hanyalah rasa basah atas lumatan bibir Naruto padanya. Menyesap kecil-kecil bibirnya, melumatnya lembut dan basah.
"Nggh — emmph... Dobeeh — ",
Suara decakan saliva yang saling beradu mulai terdengar seiring dengan semakin intensnya ciuman diantara mereka. Sasuke mendesah pelan ditengah cumbuan Naruto atas bibirnya. Lidah sang blonde sudah tak segan lagi mengajak lidahnya saling bertaut didalam sana.
Kepala Sasuke benar-benar kosong. Ia tak mampu melawan kenikmatan yang diterimanya dari sang blonde. Matanya terpejam menyembunyikan manik hitamnya dibalik kelopak matanya yang pucat. Menikmati setiap kecupan dan cumbuan Naruto di bibirnya.
Ciuman itu akhirnya terlepas saat kebutuhan oksigen keduanya mulai menipis. Meninggalkan jejak saliva diantara bibir mereka.
Naruto mengusap sisa liquid bening disudut bibir Sasuke dengan ibu jari tangannya kemudian menatap wajah pucat pemuda yang dicintainya itu yang kini memerah dan hangat.
"Uchiha-san", Naruto berbisik lirih. Ia merengkuh sekali lagi tubuh Sasuke kedalam pelukannya. "Maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu, Uchiha-san. AKu mohon jangan membenciku. Kau boleh menyuruhku melakukan apapun. Aku berjanji akan mendengarkan semua ucapan mu. Tetapi jangan menyuruhku menjauh darimu. Aku tidak bisa. Ku mohon. Ku mohon",
Jauh dilubuk hatinya, Sasuke tahu ia tak setega itu melihat pemuda tan yang biasanya selalu nampak berbinar cerah tersebut kini meredup bak bunga layu. Ia tak menyukai blue ocean itu kehilangan warnanya. Tetapi ia tetaplah teguh pada pendiriannya. Sasuke tak bisa membiarkan bocah seperti Naruto masuk lebih dalam lagi dalam hidupnya. Tetapi.. Haruskah ia terus berbohong. Bahkan ketika Naruto mampu memberanikan diri untuk kembali sekali lagi. masihkah Sasuke sekeras kepala itu...?
"Dobe...", panggil nya. "Apa kau mengerti jalan yang kau ambil ini tidak semudah yang kau pikirkan? Aku ini masihlah seorang pria. Kau mengerti maksud ku bukan", tukasnya dingin
Naruto mengerti dengan jelas kemana arah pembicaraan ini berlangsung. Ia menatap lurus tepat kearah mata sekelam malam tersebut lalu menarik jemari kurus Sasuke dan menggenggamnya erat.
"Aku bukanlah seorang gay Uchiha-san, kau pun tahu itu. Tetapi aku mencintaimu lebih dari aku mencintai mantan kekasih ku. Aku menginginkan mu tak sebatas ragamu saja. Aku menginginkan dirimu, hatimu dan seluruh yang ada padamu, Uchiha-san. Aku sungguh menginginkanmu",
Sasuke terhenyak, ia begitu tak menyangka jika jawaban seperti itu bisa keluar dari mulut bocah belasan tahun seperti Naruto. Demi Tuhan, pantaskah seorang pria berumur sepertinya menerima cinta dari seorang bocah sepertinya. Apakah ia boleh melakukan hal tersebut ?
Bibir Sasuke yang semula terkatup rapat kini mulai menyunggingkan sebuah senyum tipis yang bahkan tak disadari oleh dirinya sendiri.
Kata-kata anikinya soal bersenang-senang kembali terngiang diotaknya. Sasuke memang tak bisa menuntut komitmen pada pemuda yang bahkan belum genap berusia 17tahun, ia juga tak mungkin mengharapkan hubungan yang serius kepada pemuda tan itu. Tetapi apa salahnya jika hanya bersenang-senang?
"Aku tetap tak akan merubah keputusanku, dobe",
Naruto terhenyak kaget, "kenapa? Ayolah! Aku mohon", ia setengah berteriak saking frustasinya.
Sasuke melepaskan pelukan Naruto dari tubuhnya, menatap tepat kearah dua kelereng biru itu seakan tengah memastikan sesuatu.
"Aku tak akan memberi mu harapan kosong, Naruto. Kau boleh melakukan apapun yang kau suka. Kau boleh datang ke toko ku sesuka mu. Tetapi kau tak boleh berbohong lagi, datanglah kemari sebagai dirimu yang asli. Dan satu lagi berhentilah menjadi berandalan itu akan merugikan mu kelak. Jangan berurusan dengan dunia seperti itu. Aku tak mau melihat mu berkelahi lagi. Apa kau mengerti?",
Naruto segera mengangguk cepat. Aura kebahagiaan langsung terpancar dari wajah Naruto dan senyum terkembang begitu lebar dari bibirnya. Ia sontak memeluk tubuh Sasuke begitu erat, menyalurkan seluruh euforianya dan semua kebahagiannya saat itu. Meski pahit memang karena Sasuke tak menyambut balik perasaannya namun dengan Sasuke mengizinkan dirinya untuk selalu berada didekatnya itu saja sudah cukup. Dan sekarang Naruto benar-benar merasa bahagia.
"Arigatou, Uchiha-san . Aku sangat mencintaimu ne!",
OoOoOoO
Sasuke menatap layar komputer di counter kasir dengan tampang kosong. Hari ini entah mengapa rasanya begitu berbeda dari hari-hari biasanya. Dari semalam ia tak bisa tidur nyenyak, paginya pun ia sama sekali tak merasa mengantuk hingga sekarang. Yang dilakukannya sejak tadi hanyalah menghela nafas panjang sambil sesekali menatap layar smartphonenya.
Sasuke tahu itu tindakan bodoh dan sia-sia. Bahkan anikinya sudah menertawakannya sejak semalam saat ia curhat melalui telephone. Itachi menggodanya dengan menyebutnya mendapat seorang brondong. Entah istilah absurd apalagi yang baka anikinya itu gunakan saat ini, yang pasti Sasuke tak peduli akan hal itu.
Ia menghela nafas panjang lagi, entah sudah keberapa kalinya untuk hari ini. Saat tiba-tiba bel pintu berbunyi nyaring menandakan seseorang datang kemari.
Naruto muncul dari balik pintu, membuat bola mata Sasuke membulat sempurna dan mendelik keluar saking terkejutnya. Hari ini, Naruto datang dengan dandanan yang berbeda dari biasanya. Rambut blondenya itu lebih berantakan dan malah terkesan sexy, 2 kancing kemeja teratasnya dibuka sehingga menampilkan sedikit pemandangan dada bidang berkulit tan, beberapa piercing yang bertengger manis di telinganya dan jangan lupakan beberapa aksesoris yang begitu menunjang kemaskulinannya. Naruto benar-benar terlihat begitu — err — bad boy.
"Dobe...", Sasuke mendesis lirih, hampir saja air liurnya menetes jika saja ia tak segera tersadar dari lamunannya. Ia menatap takjub sekali lagi kepada pemuda blonde dihadapannya itu tak percaya.
Merasa diperhatikan, Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedikit malu karena ini kali pertamanya ia datang dengan dandanan seperti biasanya ia disekolah. Hell yeah! Tentu saja demi Sasuke, Naruto rela mampir ke toilet stasiun dulu untuk membenahi penampilannya sebelum datang ke toko. Itu semua demi mendapat reputasi baik dari sang pujaan hati.
Tetapi kini, saat Sasuke nya lah yang meminta agar berpenampilan apa adanya yang ia bisa lakukan hanya lah memasang cengiran bodoh karena Sasuke terus-terusan memperhatikannya tanpa berkedip.
Alis Naruto bertaut bingung. "Apa aku terlihat aneh? Terlalu mencolok ya.. Aku akan rapikan di toilet sekarang juga ne", tukasnya ragu.
Sasuke menggeleng cepat. "Tak perlu, itu kau yang asli bukan? Sudahlah",
Naruto tersenyum tipis, ia tahu Sasuke hanyalah terpesona akan penampilannya saat ini. Itu jelas terlihat dari semburat merah jambu yang tercetak di wajahnya yang pucat. Seringai jahil terukir dibibirnya sesaat.
"Hei, Uchiha-san~ apa menurutmu aku ini tampan?", tanya Naruto dengan nada menggoda.
Sasuke menatapnya nyalang. "Baka! Mati saja jika kau berpikir seperti itu, dobe!", hardiknya kesal.
Naruto terkekeh pelan, ia berjalan mendekat kearah Sasuke. "Benarkah?", suaranya terdengar dalam dan berat. "Tidakkah kau menyukainya, teme? Ayolah akui saja", bisiknya seduktif.
Wajah Sasuke memerah padam terutama ditelinga dimana ia bisa merasakan hembusan nafas Naruto dengan sangat jelas. Sasuke menjauh teratur, alarm tanda bahayanya berbunyi nyaring dalam benaknya.
"Jangan bodoh dan jangan menggoda ku dobe! Atau kau akan mati!", ancamnya sengit.
Tetapi belum sempat Sasuke menjauh, lebih dulu Naruto menarik tubuh Sasuke. Menghimpitnya diantara tembok dan lengannya.
"Aku yakin kau bisa melakukan hal itu, baby",
Naruto semakin mendekat, mengenduskan hidung bangirnya diceruk leher Sasuke lalu menghirup dalam-dalam aroma mint yang menguar dari tubuh Sasuke dan membuat sang empunya memekik tak suka.
"Baka dobe! Cepat lepaskan aku! Jangan main-main bocah!", erang Sasuke kesal sambil melayangkan death glare mematikan andalannya.
Naruto yang memang terbiasa melihat tatapan mengerikan itu hanya terkekeh pelan dan menganggapnya justru begitu menggemaskan. Entahlah love is always blind.
"Aku akan lepaskan jika kau menciumku, Uchiha-san . Bagaimana?", ucap Naruto menawarkan perjanjian.
Sasuke menatap bengis, ia merasa dipermainkan dan meremehkan seorang Uchiha Sasuke adalah suatu kesalahan besar, ia harus memberikan pemuda bodoh itu peringatan agar tak lagi main-main dengannya.
"Baiklah", menghela nafas panjang, seringai tipis tercetak diwajah pucatnya sejenak. "Aku tidak tanggung akibatnya dobe, bersiaplah",
Tanpa babibu lagi, Sasuke mendaratkan bibir tipisnya pada bibir Naruto dengan kecupan kecupan kecil disudutnya. Ia menarik Naruto lebih dekat, ciumannya semakin dalam saat lidah Sasuke menyapa untuk masuk.
Naruto sedikit terkejut saat merasakan lidah Sasuke menelusuri lidahnya begitu lihai, bermain pada piercingnya dan mendorong kedalam mulutnya dalam desakan sensual.
"Nggg — mmphhmm... Mnnnnnh — ",
Suara decakan saliva mengiringi cumbuan panas tersebut. Jemari Sasuke mencengkram bahu Naruto, menelusuri setiap garis tubuh tannya yang kekar dan begitu maskulin.
Sementara Naruto setengah hati menahan gejolak nafsunya yang mulai bangkit akibat ulah mengejutkan sang raven. Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan ciuman se intens itu dari bibir yang selalu berucap masam tersebut.
Ciuman itu pun usai, Sasuke menarik jauh tubuhnya dari Naruto. Mengusap jejak saliva di dagunya yang basah dengan punggung tangan sambil mengamati hasil kerjanya.
"Kau suka rasa ciuman ku, dobe?", ia bertanya menantang. Bibirnya menyeringai puas melihat tonjolan menggembung yang berhasil ia bentuk di antara paha Naruto
"Yeah, kau berhasil membuatku frustasi, teme. Kau begitu menakjubkan", puji Naruto sambil terengah. Ia membelai lembut pipi gembil Sasuke, menelusuri lekuk rupawan itu begitu hikmat.
Sasuke tersenyum tipis, sedikit merasa tersanjung dipuji seperti itu. Ia memainkan jemarinya nakal di sekitar celah seragam Naruto yang terbuka. Menjamah dada bidang itu begitu sensual sehingga membuat sang empunya mendesah pelan. Dan seringai kejam pun tercetak di wajahnya.
"Baiklah, time is over! Waktunya kembali bekerja dobe", ujar Sasuke mantap.
Naruto berjengit kaget, "apa?", ia membeo bodoh berusaha meyakinkan pendengarannya.
Sasuke tersenyum manis kemudian menggebrak meja dengan suara bruak keras setelahnya.
"Kem-ba-li be-ker-ja do-be! Waktunya kembali bekerja!",
dan setelah berkata demikian dengan senyuman iblis diwajahnya Sasuke pergi begitu saja meninggalkan Naruto dengan sejuta fantasinya.
"Kau jahat teme! Heii — tunggu!",
OoOoOoO
Naruto bersiul riang sambil sesekali tersenyum lebar disepanjang lorong sekolah. Bel pulang baru saja berbunyi dan dia punya sebuah janji sepulang sekolah yang begitu dinantinya sejak beberapa hari yang lalu. Naruto mengganti uwabakinya dengan sepasang sport shoes orange favoritenya. Ia telah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari. Pokoknya hari ini everything must gonna be perfect!
"Wooaa! Sepertinya ketua kita sedang ada janji kencan nihh? Benarkan dugaanku", goda seorang pemuda beriris unik di samping Naruto.
Naruto terkekeh pelan. "Yupz kau benar Neji! Aku mau pergi kencan ne", ujar Naruto dengan penekanan di kata kencan serta mimik bahagia yang dibuat-buat.
Neji, pemuda beriris unik tersebut tersenyum simpul memandang wajah sahabatnya yang begitu sumringah akhir-akhir ini. Naruto itu orang yang simple, ia akan terlihat begitu bersinar ketika gembira dan begitu pula sebaliknya. Jadi siapapun akan dengan mudah membaca moodnya.
"Kali ini murid sekolah mana yang kau kencani huh?", tanya Neji ingin tahu. "Apa kah dia cantik? Kenalkan temannya padaku ok?",
Naruto mengangguk kemudian tersenyum lebar, ia mengeluarkan HPnya lalu menunjukkan wallpaper dilayar smartphonenya yang bergambar Sasuke tengah tersenyum dimeja counter. "Kau tak akan mau Neji, karena Uchiha-san ku itu adalah seorang pria", dan setelah berucap seperti itu, Naruto segera berlari meninggalkan sahabatnya itu yang tengah akward dan meneriakinya dengan berbagai nama penghuni dikebun binatang.
.
.
.
.
Setelah turun dari bus, Naruto segera berlari kesebuah taman yang dijanjikan sebelumnya. Dadanya berdegup kencang dan ia tak henti-hentinya mengamati penampilannya kembali setiap menjumpai kaca dimanapun itu.
Hari ini harus sempurna. Itu sudah pasti.
Karena hari ini Naruto akan pergi kencan dengan Sasuke...! GYAA senangnya! #perhatian yang berteriak ini tentulah bukan Naruto ne.
Sebenarnya sih, jika boleh jujur ini bukanlah sebuah kencan.
Bermula dari 3hari yang lalu, Sasuke meminta Naruto untuk menemaninya membeli beberapa kebutuhan kantor untuk tokonya hari ini. Tentu saja Naruto bersedia. Mungkin secara resmi ini bukan kencan karena pada kenyataannya mereka tak memiliki hubungan apapun, namun tetap saja bagi Naruto ini tetaplah sebuah kencan. Yipiie yeay!
.
.
Dari kejauhan Naruto dapat melihat sosok pemuda bersurai raven itu tengah duduk dikursi taman dengan mengenakan coat hitam yang menutupi seluruh lehernya. Wajahnya yang putih pucat terlihat begitu kontras dengan warna pakaiannya. Tetapi sungguh Naruto begitu mengagumi sosok sang raven yang terlihat begitu menawan dimatanya itu.
"Uchiha-san , hei!", Naruto melambai penuh semangat.
Sasuke yang menyadari kehadiran sang blonde hanya mengangguk pelan kemudian beranjak berdiri dari duduknya.
"Kau lambat sekali sih dobe, cepatlah!",
Naruto tersenyum lebar kemudian mengimbangi langkah pemuda raven tersebut, berjalan disebelahnya menuju ke sebuah toko buku seperti yang telah direncanakan sebelumnya.
Demi Tuhan, jika Naruto bisa mendedikasikan hari ini sebagai Hari ter-indah sedunia mungkin ia akan melakukannya. Karena sungguh hatinya saat ini benar-benar tengah berbunga-bunga. Bisa bersama pemuda raven itu selain saat di toko adalah suatu anugerah. Ia tak akan melewatkan kesempatan 'kencan' yang begitu langka ini. Naruto pastikan hari ini akan menjadi the best day he ever have.
Sementara Naruto tengah berbahagia, Sasuke yang sedari tadi menatap sebal pada pemuda blonde disampingnya itu akhirnya buka suara.
"Hei, dobe! Berhentilah tersenyum sendiri seperti itu! Kau mengerikan tau", serunya kesal.
Naruto tersenyum lebar menanggapinya. "Gomenasai, Sasuke. Ayo kita bayar belajaannya",
Ia mengambil tas belanjaan yang ada ditangan Sasuke untuk dibawanya lalu menggandeng pemuda pucat itu yang kini bersemu merah.
Dan tanpa disadari oleh mereka berdua, seseorang tengah memperhatikan mereka dari jauh sejak beberapa waktu yang lalu.
.
.
.
.
Sasuke melirik arloji perak yang bertengger di pergelangan tangan kirinya itu dengan wajah malas. Ini sudah lebih kurang 15menit, ia menunggu baka dobe itu di bangku taman. Sehabis berbelanja tadi, Naruto pergi untuk membeli makanan di kedai sebrang, ia meminta Sasuke untuk menunggunya disini. Dan pemuda bodoh itu belum juga kembali sampai saat ini. Apa membeli hotdog itu perlu waktu selama ini, batinnya dalam hati.
Hembusan angin menerpa pelan helaian surai raven miliknya. Sasuke mendongak menatap kumpulan awan yang berarak dilangit. Cuaca hari ini begitu cerah, langit berwarna biru. Dan biru selalu mengingatkan Sasuke pada bocah bodoh bernama Namikaze Naruto.
Jujur saja Sasuke tak membencinya. Justru ia sangat menyukai iris sebiru langit yang selalu menatapnya hangat tersebut. Sejujurnya, blue ocean itu selalu dapat membuat hatinya tenang saat menatapnya.
Sasuke menghela nafas panjang, rasanya ia begitu teramat bersalah. Sasuke pernah berkata tidak akan memberikan bocah nakal itu harapan, tak akan memberinya kesempatan untuk mendekatinya lebih dalam lagi, ia masihlah mengingat kata-katanya itu dengan baik. Dan selalu ia tekankan dalam-dalam.
Tetapi...
Pada kenyataannya ia selalu gagal.
Ia gagal membuat Naruto menjauh.
Dan yang lebih mengecewakan lagi adalah kenyataan dimana ia lah yang telah gagal menata hatinya.
Sasuke selalu tak bisa berbohong jika berhadapan dengan manik sebiru langit tersebut. Ia tak bisa berkutik bahkan hatinya seperti memiliki jalan pikirannya sendiri. Meski pikirannya tak mengizinkan ia berada didekat Naruto. Namun Hatinya.. Hatinya menginginkan pemuda tan itu berada didekatnya selalu. Tanpa ia sadari, dirinya lah yang membuka pintu hatinya untuk Naruto masuki.
Dan Hari ini, Sasuke telah melakukan sesuatu yang begitu bertentangan dengan pemikirannya.
Membeli peralatan kantor hanyalah alasan bodoh Sasuke agar bisa pergi keluar bersama pemuda tan tersebut.
Menunggu dengan hati berdebar di tempat janjian layaknya gadis yang tengah berkencan.
Ini sangat memalukan sejujurnya. Terlebih entah mengapa hari ini Naruto terlihat begitu tampan berkali lipat dibanding biasanya, membuat setiap gadis yang melihatnya bersemu merah bahkan menjerit histeris.
Jujur saja, Sasuke terpesona karenanya. Pemuda blonde itu tentu sudah mempersiapkan penampilannya jauh-jauh hari. Curang sekali bukan sudah Membuat hatinya berdebar dan bersemu seperti ini. Apalagi Naruto terang-terangan menggandeng tangannya waktu di toko buku tadi. Naruto sukses menjadikan mereka sebagai bahan tontonan disana.
Tetapi... Sungguh mesaki itu memalukan...
tapi entah mengapa setelah ia sedikit berdamai dengan hatinya...
Sasuke merasa semua itu begitu manis.
.
.
tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Sasuke refleks menoleh, itu pasti Naruto dan Sasuke sudah bersiap mengomel pada bocah tan itu karena sudah membuatnya lama menunggu. Hanya saja yang berada disana bukanlah seperti dugaannya...
"Apa kau teman sipirang?",
Pemuda bersurai putih dibelakangnya itu menyeringai kejam. Sasuke menatap waspada kearahnya.
"Siapa kau..?", tanyanya dingin.
Pemuda begigi runcing itu tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan dengan gerakan yang cepat ia sudah membekap Sasuke dengan kuat, membuat pemuda raven itu meronta sesaat kemudian terkulai lemas karena kehilangan kesadarannya. Pemuda tadi terkekeh pelan, ia membopong tubuh lemas Sasuke kemudian membawanya pergi detik itu juga.
"Maaf cantik, tapi kau harus ikut denganku saat ini juga",
.
.
.
.
.TBC
Cuap2 Author :
Huee.. Arigato ne buat minna-san yang sudah mau ripiuu ff saya yang abal ini.. Dan terima kasih sudah mengkoreksi typo yang saya buat. Sungguh ini sangat memalukan ne O/O but Jangan pernah sungkan memberitahu letak salah ku, karena itu akan sangat berguna bagi saya :) :*
Baiklah ini koreksi dari saya ne:
Sasuke berumur 24 tahun
karena Sasuke 7tahun lebih tua dari Naruto jadi saat ini Naruto berumur 17 tahun ne...
:D
Yah begitulah, saya memang sengaja membuat Saskey jadi lebih tuwir tidak seperti biasanya. Aku harap kalian maklum ya kali ini.. Jangan bully! Ini kan cuma fiksi belaka :D
Oh ya cerita ku ini juga aku publish fb ku *promo-desu* misaki yukina
Akhir kata...
Wasallam.
.
.
.
.
.
Terima kasih, kecup basah dan peluk manja dari ku, author newbie yang abal ini.
.
.
Mo-Myo-Za
*bacanya seperti itu ne -_-
oh iya satu lagi! cerita ini hanya ada 3 chap saja, jadi mungkin sebentar lagi akan saya publish hingga tamat.
Happy reading minna!
Jadilah reader yang smart dan jangan saling membully antar pair, itu sudah sangat kuno
#kabuuurrrrrrr ~
