Chapter 2 : Awal Kisah

24 April 2017

Tahun ajaran baru dimulai. Pagi yang sangat cerah itu, Izuku mempersiapkan semua peralatan sekolahnya, mengemasi tasnya dan setelah itu bersiap pergi berangkat ke sekolah barunya, SMA Yuuei. Yuuei merupakan salah satu SMA terfavorit di Jepang yang mana menghasilkan murid-murid elit, cerdas berpengalaman. Biaya masuk sekolah ini pun bisa dibilang mahal dan pastinya standar yang ditetapkan hampir untuk orang-orang kalangan menengah ke atas, tentunya hal itu bukan masalah besar bagi anak seorang pengusaha terbesar di Jepang, Izuku.

Namun, hal itu sangatlah berpengaruh pada seorang Ochako Uraraka yang notabenenya merupakan orang yang hidup pas-pasan dengan keadaan yang seadanya. Perjuangan yang sangat keras harus ia lakukan hanya untuk bisa masuk ke sekolah favoritnya. Ochako memiliki impian untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Ia ingin menjadi 'pahlawan' bagi kedua orang tuanya, membantu orang tuanya dengan mencari uang untuk meringankan beban mereka. Itulah impian sederhana Ochako.

Selama ini, ia hanya menabung uang-uang yang seharusnya ia jajakan. Uang yang bisa digunakan untuk pergi jalan-jalan atau sekedar membeli sesuatu yang ia inginkan. Iya, Ochako adalah gadis yang sangat prihatin terhadap kondisi orang tuanya, namun meski begitu, ia tetap menghadapi semua itu dengan senyum semangat dan keceriaan di wajahnya seakan ia tidak pernah punya beban apapun dalam hidupnya. Iya, itulah seorang Ochako Uraraka.

"Izuku, ini bekal makanannya."

Suara wanita paruh baya dari arah ruang keluarga membuat Izuku yang sudah berada di pintu depan, hendak mau berangkat terdiam sejenak kemudian mengambil bekal makanan tersebut dari tangan ibunya.

"Terima kasih Ibu. Aku berangkat dulu."

Ucapnya dengan senyuman hangatnya seketika membuat hati ibunya merasa tersentuh haru. Melihat Izuku seperti ini, dengan senyuman yang masih bisa mengambang di wajah polosnya itu seakan adalah hal yang paling membahagiakan dalam diri ibunya.

"Izuku..."

"Apa Ibu? Aku sudah hampir terlamb-"

"Kau terlihat keren."

Sontak ucapan ibunya itu membuat senyum Izuku semakin melebar, bahwa dirinya bisa sampai seperti ini karena ibunya. Sosok yang luar biasa. Dan, hari pertama sekolah pun dimulai.

"Ittekimasu."

Di Sekolah, SMA Yuuei

"Woaaaahh! Besar sekali sekolah ini. Apakah ini benar-benar sebuah sekolah."

Ucap Ochako ketika ia sampai di depan pintu gerbang sekolah elit itu. Sungguh benar-benar di luar dugaan seseorang sepertinya bisa masuk sekolah mewah sehebat Yuuei. Tapi apa saja mungkin bila dirinya mau berusaha dengan sangat keras untuk menggapainya, begitulah prinsip Ochako. Karena juga, Ochako mendapatkan beasiswa karena nilai akademiknya yang lumayan tinggi. Dan saat tes masuk pekan lalu, nilai Ochako juga memungkinkannya bisa masuk ke sekolah elit ini. Jadi, apa yang perlu ia khawatirkan?

Matanya melirik ke kanan dan ke kiri melihat betapa ramainya halaman depan sekolah tersebut, diisi oleh murid-murid yang berdatangan dari penjuru area, mereka semua menuju satu, Yuuei. Seminggu pasca pengumuman ujian, ia sangat senang begitu mengetahui namanya berada dalam daftar.

'Wah banyak sekali ya murid-muridnya. Tentu saja, apakah aku ini bodoh? Ini kan Yuuei sekolah paling favorit. Hanya saja aku terlalu gugup, apakah orang sepertiku pantas masuk sekolah semegah dan seelit ini?'

Ochaco menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Membuang semua keraguan dan kegugupannya dan mulai melangkah maju. Rasa tenangnya hilang ketika tiba-tiba saja, matanya melirik ke salah seorang murid yang menarik perhatiannya. Rambut keriting hijau, wajah polish dengan 4 bintik di masing-masing pipinya yang saat ini sedang berada di depannya dengan langkah yang pelan mengingatkannya akan seseorang.. Ya, tentu saja. Dari sekian banyaknya orang yang berlalu-lalang disana, mana mungkin ia tak bisa menangkap sosok yang sangat ia ingat itu.

"Umm, anoo."

Ochako menghampiri orang tersebut dan memberanikan diri bertanya. Mendengar ada suara yang menghampirinya seketika membuat reflek orang itu langsung memalingkan kepalanya ke samping kiri, menuju ke sumber suara. Alangkah kagetnya ia melihat sosok yang tak asing juga bagi dirinya. Izuku, dan dia.

'Dia? Dia kan..'

"Permisi, apakah kamu orang yang kemarin membeli sayur di kedaiku?"

"Uhmm iya. Anda yang kemarin berjualan sayur di pasar itu kan?"

"Ehem benar sekali, tak kusangka ya kita bisa bertemu lagi, bahkan aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sekolah ini."

"I-iya, saya juga merasa demikian."

"Hihihi, sudah tak perlu formal begitu. Biasa saja oke?"

Izuku terlihat sangat grogi ketika mengobrol dengan Ochako. Bahkan kosakatanya terlihat berantakan dan masih kaku. Berbeda dengan Ochako, gadis di sebelahnya itu seakan sangat tenang dan ceria menghadapi siapapun. Bahkan senyuman di wajahnya pun tidak pernah hilang.

"Lagipula kita kan belum berkenalan, iya kan?"

Belum sempat Izuku menjawab, Ochako sudah duluan memulai menyebutkan namanya.

"Namaku Ochako Uraraka. Salam kenal."

Dengan senyum manis di wajahnya, Ochako mulai mengulurkan tangannya. Pelan-pelan tapi pasti, Izuku mulai menjabat tangan Ochako yang sudah terulur di depannya, rasanya halus. Seketika rona merah tipis menyertai pipi Izuku. Baru pertama kali ini ia merasakan menjabat tangan lawan jenis. Selain ibunya pastinya.

"N-namaku Izuku Midoriya. Salam kenal juga, U-Uraraka-san."

"Namamu Midoriya Izuku? Berarti kau adalah anak pemilik perusahaan "One For All" yang sangat terkenal itu ya? Tak kusangka, emm Midoriya-kun."

"I-iya."

Lagi-lagi senyuman manis mengambang di wajah Ochako, ia benar-benar tak menyangka akan bertemu anak dari pemilik perusahaan terkenal di Jepang itu. Dan bahkan tak hanya bertemu, ia juga sudah mulai mengenalnya secara langsung. Sekarang ia paham alasan mengapa Izuku bertanya kepadanya lampau hari yang lalu. Ia dari perusahaan sosial kan? Melihat senyuman yang merekah di wajah Ochako membuat Izuku terdiam, di satu sisi senyuman itu manis di sisi lain senyuman itu menyimpan sesuatu, sebuah kegigihan dan perjuangan yang sangat berat yang akhirnya membuatnya sampai di titik ini. Seperti itulah arti senyuman Ochako menurut Izuku.

KRIIIING... KRIIING... KRIIING

Bel tanda masuk sekolah sudah terdengar, saatnya mereka bergegas masuk ke dalam sekolah dan mencari ruang kelas mereka masing-masing.

"Eh, itu bel sekolah kan? Berarti sudah waktunya masuk, Midoriya-kun. Ayo kita bergegas. Aku tidak mau ketinggalan pembagian kelas dan memilih tempat duduk."

"B-baik, ayo Uraraka-san."

'Ah, aku masih belum terbiasa berbicara dengan seorang perempuan. Aku masih sangat gugup. Tapi harus aku akui, Uraraka-san adalah perempuan yang sangat berbeda dari kebanyakan perempuan pada umumnya. Ia berbeda.'

Mereka berdua berlari menuju tempat pembagian kelas, dan tak mereka sangka bahwa mereka berdua di tempatkan dalam satu kelas, 1-A.

"Wah, kita satu kelas Midoriya-kun. Senangnya."

"Benar, kita dalam satu kelas, Uraraka-san"

'Tetapi ..'

Izuku masih mencari-cari nama di papan, bukan namanya lah yang ia cari melainkan nama dari seseorang. Dan seketika matanya membeku, ketika melihat nama seseorang yang sangat tak asing baginya. Teman masa kecilnya, seseorang yang ia takuti untuk bertemu kembali. Katsuki Bakugou, iya itu nama teman masa kecil Izuku.

"Jadi, sekarang kau telah mempunyai teman ya? Deku?"

'Suara berat itu, suasana intimidasi dan atmosfir ini. Benar, tidak salah lagi ini pasti..'

"Kacchan!"

Dua pasang mata itu akhirnya kembali bertemu. Tatapan persaingan, tatapan predator yang ingin menghabisi mangsanya bertemu mangsa yang ingin melawan balik. Izuku yang membalikkan badan secara langsung bertatap muka dengan Katsuki (Kacchan sebutan Izuku untuk Katsuki). Apakah ini memang sudah direncanakan?

"Nah Deku, kau sekarang sudah kembali, ha?"

"I-iy-iya, Kacchan."

Izuku mendadak gemetar, raut wajahnya yang semula senang sekarang berubah menjadi agak masam seketika setelah melihat teman lamanya itu. Iya itulah Katsuki Bakugou atau Kacchan, teman masa kecil Izuku yang juga sekaligus, rival. Sifat Katsuki yang bisa dibilang galak namun juga pemberani memang terkadang membuat Izuku takut tapi disaat itu juga, ia kagum dengan dirinya.

"Midoriya-kun, siapa dia?"

Tanya Ochako yang kebingungan melihat situasi di depannya saat ini. Izuku hanya terdiam, ia masih syok dengan apa yang ia lihat. Keadaan memang sudah tidak seramai seperti saat pertama kali mereka datang, sebagian sudah menuju kelas masing-masing sehingga tidak terlalu terasa perselisihan kecil antara Izuku dan Katsuki.

"Tidak apa-apa, Uraraka-san. Dia adalah temanku masa kecil, juga rivalku di sekolah."

"Rival?"

Ochako memiringkan kepalanya tanda tak paham, ini benar-benar membingungkan, begitu pikirnya.

"Jadi, sebenarnya Kacc-"

KRIIING... KRIIING... KRIIING

Belum sempat Izuku menyelesaikan perkataannya, bel kedua tanda para murid harus segera memasuki ruang kelas pun telah lebih dahulu berbunyi. Izuku, Katsuki dan Ochako pun segera memasuki kelas masing-masing. Izuku sedikit lega mengetahui bahwa Katsuki tidak sekelas dengannya. Namun, sepertinya ada sesuatu yang ingin Katsuki katakan kepada Izuku, apakah itu?

'Kacchan pun pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Tidak seperti dulu, bahkan sikapnya sekarang pun sudah sepenuhnya berubah.'

Sambil memandangi punggung Katsuki yang lama-kelamaan menghilang dari pandangan, Izuku Ochako pun bergegas menuju ke kelas mereka berdua. Izuku masih terbayang akan kejadian tadi.

"Midoriya-kun?"

Sejenak, halusinasi Izuku menghilang, mendengar suara lembut dari teman perempuan di sampingnya yang telah mengembalikannya ke dunia nyata. Sambil berjalan menyusuri lorong sekolah, Izuku menjelaskan semuanya.

"Um, anu Uraraka-san, maaf ya atas ketidaknyamanannya tadi. Kamu jadi ikut terlibat ke dalam masalah barusan. Sekali lagi maaf ya."

Sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan menunduk berulang-ulang, Izuku meminta maaf kepada Ochako. Dan sebaliknya, Ochako justru malah tersenyum menanggapinya.

"Hihihi, tidak apa-apa Midoriya-kun. Lagipula kan aku juga ada disana tadi, kan? Dan lagi, cara bicaramu masih belum biasa Midoriya-kun, pakai saja kata 'aku', 'kau' atau ya pokoknya pakai bahasa biasa saja ya, oke?"

Sambil menjulurkan jempolnya dan tersenyum, Ochako terlihat seperti malaikat yang sangat cerah bagi Izuku.

'Uraraka-san, sekali lagi aku kagum padamu dan sifatmu itu. Kau selalu tersenyum, aku, ya aku juga ingin selalu tersenyum seperti dirimu, Uraraka-san. Rasanya semua orang bisa cepat akrab denganmu ya?'

"Baik, Uraraka-san. Aku akan melakukannya."

Senyum mulai mengambang di wajah Izuku, hari ini perasaannya benar-benar sangat campur aduk. Semangat ibunya di pagi hari, pertemuan kembali dengan perempuan yang ia nantikan sebelumnya sekaligus sekelas bersama dengannya, siapa sangka? Lalu bertemu dengan Katsuki Bakugou dan pada akhirnya memulai perbincangan ringan yang sangat menyenangkan bersama seorang perempuan yang tidak akan pernah ia duga akan mampu mengisi hari-harinya saat ini. Apalagi yang bisa Izuku lakukan sekarang kecuali tersenyum? Iya benar, sejak saat itu Izuku memutuskan untuk selalu tersenyum apapun keadaan dan masalahnya.

"Tapi ngomong-ngomong Midoriya-kun, kenapa tadi pria bernama Katsuki Bakugou yang kau ceritakan itu memanggilmu dengan sebutan 'Deku'?"

Ochako dari tadi memang sudah penasaran mengapa Izuku bisa dipanggil dengan sebutan ' Deku'. Dengan memasang muka penasarannya, Ochako sangat ingin mengetahui alasannya.

"Emm etto, sebenarnya itu panggilan Kacchan terhadapku, dia dari kecil memang memanggilku dengan sebutan 'Deku', sebagai artian tidak bisa melakukan apa-apa."

"Tapi, menurutku nama 'Deku' itu memiliki arti 'berjuanglah Deku' ya seperti itu. Aku menyukai nama 'Deku' itu."

Sontak penjelasan dari Ochako membuat Izuku tidak percaya. Ada orang yang benar-benar menghargai nama 'Deku'. Arti nama 'Deku' yang sebelumnya 'tidak punya/bisa apa-apa' sekarang menjadi 'berjuanglah'. Seperti kata penyemangat yang tak pernah Izuku sadari selama ini dan itu sebab sudut pandang seorang Ochako terhadap nama 'Deku' itu. Ia sangat berterima kasih pada Ochako yang telah memberikan arti lain terhadap 'Deku'.

"Ini mungkin agak mendadak, tapi jika Uraraka-san memang menyukai nama 'Deku'. A-aku tidak apa-apa kok."

Ketika mengatakan itu, tak hanya wajahnya yang agak memerah, namun Izuku benar-benar sangat senang bahwa nama ejekannya menjadi nama yang suatu saat akan berguna ke depan dan itu adalah saat ini. Senyum merekah di antara wajah mereka berdua.

"Yosh, baiklah ayo kita berjuang, Deku-kun."

"Iya mari kita berjuang, Uraraka-san."

Awal dari kisah mereka pun di mulai. Entah apa yang akan mereka hadapi nantinya namun saat ini semangat mereka lah yang akan menjadi pembuka cerita kisah mereka.

Next Chapter : Rahasia Seorang Izuku

NB : Rnr plase? Karena kritik dan saran kalian sangat membantu hehe :D