Disclaimer: Bleach?

Hanya milik Tite Kubo!


"Hey."

.

Lepas pengawasan.

Lepas pula kendali diri.

Semua orang. Termasuk diriku. Dan kurasa…dirinya juga.

Aku tidak menyadarinya hingga sapaan singkat itu membawaku setengah gila pada dia yang kuanggap asing selama ini.

Hanya berdua.

.

Sial!


We are rowing the boat of fate. The wave keeps on coming and we can't escape. But if we ever get lost on our way; the wave would guide you through another day.


TAKING CONTROL

Chapter Two


Manusia sinting!

Ini maksudnya menikahiku?! Dasar junkie tengik!

"Heh!" pekikku di pagi sunyi itu, membuyarkan entah apa lamunan si Oranye jelek yang tanpa merasa hina bersandar nyaman di tembok buluk tempat tinggal ini.

Ini bahkan bukan rumah!

Demi Tuhan, ini bukan rumah!

Ini …ini semacam gudang. Bekas gudang.

.

Ugh, ingin kupatahkan lehernya.

Bagaimana tidak? Caranya menoleh itu, yang perlahan ala aktor drama korea di-slow-motion itu, membuatku gila.

"Ya?" gumamnya pelan.

"Kau! Sudah kubilang, siapkan semua yang mau kau lahap di meja dapur kemudian bawalah semua pemuas kerakusanmu itu ke depan tivi. Jangan seperti ini! Semuanya tercecer di mana-mana. Lihat! Kau bahkan tidak membereskannya lagi! Menyebalkan!"

Tidak ada respon.

Sial.

"Ak-"

"Ini rumahku" ujarnya sebelum kuteriaki lagi.

Benar-benar cari perkara.

"Aku tahu!" sergahku segera, "dan ketahui juga aku istrimu!" bukan pelayanmu! Jengkel.

"Aku tahu, aku suamimu."

Mengoooong~! Bukan itu maksudkuuuu!

.

Aku menikahinya. Menikah dengan bedebah sialan yang tidak tahu kebersihan.

Aku menikahinya dan tinggal di rumahnya, ah bukan rumah, entah apa ini, dan berdua saja.

Aku bersih-bersih, dia bersantai.

Aku kuliah, dia tidur.

Aku kerja, dia gentayangan.

Oh, apa-apaan aku ini?

Seumur hidupku, aku tidak pernah sekalipun bermimpi terjebak pernikahan usia 20 tahun-an. Apapun alasannya, aku tidak akan menyia-nyiakan tiap detik kesendirian di usia saat hidup baru saja dimulai.

Tapi apa yang kuperbuat ini, Tuhan?!

Hari itu pasti aku dikutuk sesuatu, aku bertemu lagi dengan laki-laki aneh ini, diusir dari flat-ku karena problematika financial, dan menyetujui kesepakatan terlaknat dalam hidup.

Sekarang aku jadi pembantu rumah tangga tanpa ongkos keringat.

Brengsek!

"Kurosaki…," huhh, aku tidak ingin meneriakinya lagi pagi ini. Mungkin malam nanti.

Aku benci tatapan itu.

Tanpa ekspresi berarti yang bisa kumaknai.

Hanya kerutan alisnya yang tak jua memberiku sinyal – sinyal penerangan.

Sungguh.

Aku tidak mengenalnya.

Masih tidak mengenalnya.

Dia…sama. Seperti malam itu, aku tidak tahu siapa dia, dan kukira dia juga tidak ingin mencari tahu siapa aku.

Bahkan setelah keadaan kami seperti ini, tidak ada hal berarti yang memberiku petunjuk siapa Kurosaki Ichigo sebenarnya.

Aaagh!

Pengetahuanku standar! Standar pegawai administrasi fakultas.

Namanya Kurosaki Ichigo.

Nomor induk mahasiswanya Z-197115XXX –aku pernah lihat di sampul makalah yang dia buat beberapa hari yang lalu-.

Mahasiswa tingkat empat jurusan teknik arsitektur –tak heran drawing tube itu selalu bertengger lelah di punggungnya-.

Aku tak yakin berapa usianya, mungkin sekitar 23 tahun-an? Kurang? Lebih?

Ah, tapi aku tahu pasti hobinya malas-malasan tiap tidak ada jadwal kuliah.

Tamat.

Suatu saat nanti aku harus mendaftarkan diri sebagai salah satu narasumber Who the (bleep) did I marry? Nanti.

Aku tidak tahu hal lain darinya secara mendetail.

Dia tipe yang …sulit didekati. Kurasa.

"Aku pergi sebentar," ujarnya tiba-tiba, beranjak dari peraduan pantatnya yang tampaknya berat.

Aku hanya melongo, "o? Hoo," terdengar sahutan blo'on dariku.

Rasa penasaran istri-istri pencemburu menggerogoti otakku ketika dia keluar dan menutup pintu menyampaikan salam perpisahan sementara dengan punggung berjaket kumalnya.

Aku ingin tahu ke mana dia pergi, tapi….akh! tapi bukan urusanku.

Ketika kupikir dia telah jauh dan akan kembali petang nanti, pintu koyak itu menjeblak terbuka, dan saat itu juga kusadari si Oranye mengong ini suka sekali membuat kejutan.

Masih belum reda dengan lonjakan jantungku karena ulah super-hero-membuka-pintunya, ada lagi yang mencengangkan di pagi itu.

"Kau punya 5000 Yen tidak? Boleh kupinjam?" tanyanya.

Seketika lirikan sebal datar nan curiga kulayangkan padanya.

.

.

Ah, aku punya suami tengik dan menjadi gelandangan secara teknis.

Tapi pekerjaanku adalah yang terbaik dalam hidup. Setidaknya demikian. Menurutku.

Entah Matsumoto-san itu memang baik atau apa, tapi aku karyawan baru dalam bisnisnya yang tak sewajarnya diberi titah mengikutinya kemana-mana di tiap urusan penting.

Bukan angkuh atau besar kepala tapi kurasa kini aku layak menginginkan undangan kedua dari acara mentereng Ashido Kano.

Yah, kalau – kalau saja.

Ah, hidup tak selamanya menghimpit dan sesak.

Kecuali…..tersedak.

"Sedang apa kau di sini?! Ha?!"

Si kepala Oranye itu muncul.

Mendadak.

Tanpa sinyal.

"Menemuimu", enteng sekali jawabanmu, Bedebah!

Langkahnya membuka pintu kaca tebal butik Ran&Style' yang tanpa sengaja sedang ditugaskan padaku sore itu karena insiden diare heboh manajer penjualan yang asli.

"Di rumah!", ujarku menyalak galak. Mendorongnya kembali ke belakang pintu.

Rasanya percuma bersikap bengis padanya.

"Di sini saja," katanya tenang. Memandangku lekat dari balik kaca setebal 3 cm, seperti biasa.

Tidak tahu ya? Tatapanmu itu membuatku senewen.

"Di sini saja mau apa?" tanyaku lagi, tak sabar. Masih menahannya agar tetap di situ. Di luar. Melengket dengan pintu.

"Menemuimu."

Kau sungguh terlalu, Kepala Oranye!

"Nanti saja! Aku sedang sibuk!"

"Oh ya?" pandangannya menyapu isi butik itu. Namun tekanannya dibalik kaca tak dikurangi. Brengsek.

Oh, sedikit saja dia menambah tenaga maka aku juga akan diare mendadak tepat di mana aku berdiri. Susah payah agar dia tak masuk, mengerahkan seluruh kekuatan otot menghasilkan tenaga dorong dua arah.

Uh!

"Ku-Kurosakiii!"

Kehabisan tenaga. Aku.

Oranye itu menjauh dari sandarannya. Beberapa langkah. Berdiri di sana, mencari sandaran lain punggungnya.

"Kutunggu kalau begitu," ucapan tenangnya yang terdengar samar dari balik pintu ini.

Berbalik, dan kembali menyandarkan lengan-bahunya di tiang lampu tepat di depan butik. Membuatku terenyuh dengan drawing tube usang yang setia bertengger di punggungnya.

Sesaat yang kuperhatikan hanya dirinya meski terkadang lalu lalang shopaholic tak bosan membatasi pandangan.

Entahlah.

Dia terkesan lelah di mataku.

Lelah akan sesuatu yang tak ingin dibaginya dengan siapa pun.

Tapi…kesan mendayu – dayu itu segera luntur.

Lihat saja! Belum lima menit sisi malaikatku bergemuruh, Oranye tengil itu sudah merogoh kantong dan menegak sekaleng minuman laknat – yang kemasannya bertebaran tak beradat di depan televisi-.

Ah!

.

.

"Mana kendaraanmu?" aneh saja dia pakai helm sambil melenggang santai di sebelahku.

"Hm?"

"Motormu. Mana?" makanya helm dibuka!

Memang sudah malam, tidak akan ada juga yang memperhatikan, tapi aku risih kalau Kurosaki pakai helm untuk jalan kaki.

Di sampingku lagi.

"Bengkel," jawabnya.

"Kau teler dan menabrak?" malah aku yang resah.

"Ditabrak," koreksinya.

"Minta ganti rugi!" kemampuan hidup ekonomisku masih tajam, apalagi urusan tuntut menuntut masalah biaya – biaya.

"Tidak bisa."

"Hah? Kenapa? Bisa!" aku ngotot.

"Karena kami sama – sama sedang high."

Mati saja kau!

Menyesal! Kenapa harus ngotot jadi penasihat ganti rugi kecelakaan lalu lintasnya, kalau ternyata memang tidak layak dibela.

Harusnya aku tidak perlu berbela sungkawa atas remuknya harta benda berharga itu.

"Lalu sekarang bagaimana?" peduli sih tidak, hanya ingin tahu saja bagaimna cara si tengik ini mondar – mandir ke tujuannya yang tidak jelas selama ini.

"Jalan kaki, 'kan?" ringan sekali kepalamu itu.

"Kau…benar – benar serius menikahiku atau hanya mencari lawan adu mulut?" tanyaku sinis, yang hanya dibalas senyum kecil.

Aku bahkan curiga itu palsu.

.

Helm tetap dipakai, saudara – saudara!

Terus dipakai.

Sampai masuk family restaurant Karakura.

"Buka dulu kenapa sih?!" memang. Selalu tahu bagaimana membuatku kehilangan harga diri di tempat – tempat penuh sesak.

"Kau lapar?" tanyanya, melepas helm, meninggalkan jejak acak – acakan di kepalanya.

"Apa?" apa?

Pertanyaan ajaib macam apa itu?

Sudah jelas masuk restoran, masih tanya aku lapar?

Aku kelaparan!

"Kurasa memang lapar."

Langkahnya menyuruhku untuk mengikutinya.

Huh!

.

Tanpa banyak omelan lagi kami berdua duduk di satu –satunya meja tersisa di tempat itu.

Terpojok.

Terpapar pemandangan pusat kota Karakura tengah malam. Dibatasi kaca setebal 3 cm. Namun kini kami di sisi yang sama.

Duduk berhadapan dengannya membuatku lebih lapar.

Mengomel dalam hati, kenapa para pelayan itu mengulur – ulur waktu orang kelaparan sepertiku.

"Urusan apa menemuiku tadi?" iseng bertanya saja. Karena aku yakin Kurosaki ini tak punya alasan yang bermutu untuk itu.

Sesungguhnya aku juga tidak peduli. Sekedar membuka percakapan layak daripada harus berdiam diri terkesan malu hati seperti kencan pertama ala remaja. Padahal suami-istri.

"Kau sekarang pegawai tetap di tempat itu?"

Apa pedulimu?

"Ya. Kenapa?"

"Sepertinya kau cukup berkualitas dan dipercaya."

Mengangkat muka, memandangnya, heran.

"Kau…memujiku?" meski tidak tergambar diwajahnya kalau dia sedang berusaha mengangkat martabatku setelah sekian banyak kejadian menggempur harga diri wanita sepertiku, tapi aku berharap.

"Kau mimpi."

Dan…kemudian harapan itu memudar.

"Brengsek," gumamku rendah.

Obrolan saling tindas itu berakhir.

.

Sajian peredam amukan nafsu kelaparan itu datang dalam diam.

Melahapnya tanpa ampun.

Berdua.

Mengingatkanku pada sesuatu.

Sesuatu yang menyeretku terpaut erat dengan Kurosaki.

Lupakan.

Ingin melihat apa saja di jalan raya sana. Apa saja yang bukan wajahnya, yang bukan dirinya.

Aku hanya belum bisa menerima kenyataan.

Itu saja.

.

Aku masih ingat saat dia bilang akan bertanggung jawab.

Bertanggung jawab kepalanya!

Makan malam ini saja pakai uangku.

Menarik lembaran yen dari dompet pribadi saat Oranye itu menungguku di luar sana.

Memaki.

"Keparat kau, Kurosaki!"

.


END of Chap TWO


.

Sedikit kemajuan cerita, kurang perkembangan.

Maaf ya. Maaf kalo ada typo dan jenis2 kesalahan teknis lainnya.

Sengaja sedikit digeser dari alur chap 1, karena beberapa alasan.

Setelah ini akan major hiatus. Kemungkinan discontinue. Atau ada yang ingin melanjutkan ini untukku? Let me know.

Terima kasih banyak atas apresiasi semua teman - teman FBI atas fic ini. Maaf jika ada review yang tidak sempat dibalas.

Mohon diri ya~

Buh Bye Minna-saaaann~

-hope we can keep in touch-