_
_
Disclaimer : Kishimoto Masashi
Pair : U. Sasuke & U. Naruto
Rated : T+ (?)
Warning(s) : Yaoi, OOC, AU, un-beta'd.
_
_
Boy X Boy
Ch. II
by greenandred
_
_
_
Kalau ada yang bilang Uzumaki Naruto itu orangnya penyabar mereka itu pasti adalah pembohong besar. Kenapa? Yah, bayangkan saja, dia sudah akan mencak-mencak sendiri kalau disuruh menunggu mi ramen instan-nya matang dalam waktu tiga menit. Apa lagi kalau disiruh menunggu orang di bandara besar yang berisik selama dua jam.
Dua jam.
Sudah dua jam pemuda berambut pirang mata biru kesayangan kita ini menunggu kedatangan cowok yang katanya bakal jadi suaminya dalam beberapa bulan ke depan. Untuk entah keberapa kalinya siang itu Naruto menghela nafas. Dia sudah cukup kesal disuruh oleh orang tuanya untuk menjemput Sasuke dan disuruh memakai kimono tipis konyol ini pada udara bulan Maret yang belum terlalu ramah, dan sekarang, cowok cantik Pantat Ayam itu berani-beraninya terlambat datang.
'Dasar kulit mayat sialan!' rutuk Naruto dalam hati.
Ya, walaupun dengan amat sangat berat hati, akhirnya Naruto menyetujui perjodohan ini. Kedua orang tuanya sangat senang mendengar keputusan akhirnya. Kemudian selama seminggu berikutnya mereka semua disibukkan dengan tugas beres-beres rumah untuk menyambut kedatangan calon menantu mereka yang sudah disepakati oleh kedua belah keluarga akan menghabiskan sisa masa SMU mereka di rumah kediaman Namikaze.
Dibilang beres-beres pun tidak ada yang dibereskan sebetulnya. Mereka hanya mendiskusikan di mana Sasuke akan tidur. Akhirnya diputuskan Sasuke akan tidur di kamar Naruto sementara Naruto tidur di ruang baca keluarga sampai bulan agustus nanti saat pernikahan digelar. Hal ini jugalah membuat Naruto kesal. Coba saja, siapa yang rela mengalah memberikan kamar mereka pada seorang cowok emo berkulit sepucat mayat yang sama sekali belum dikenalnya dengan suka rela? Tidak akan ada!
Namun akhirnya sekali lagi Naruto menyerah kalah di hadapan tatapan memohon ibunya dan mulai mempersiapkan ruang baca itu agar lebih layak huni baginya. Ruangan itu juga sebenarnya adalah kamar tamu, namun karena mereka tidak punya ruangan lain lagi untuk menyimpan buku-buku milik mereka akhirnya dipakailah kamar tamu itu.
Naruto menggeram jengkel sekali lagi, mengumpati cowok yang seharusnya sudah muncul di hadapannya dua jam lalu itu. Hari ini Sasuke dijadwalkan datang dari Inggris pukul sepuluh tepat. Namun sekarang sudah pukul dua belas lebih dia belum muncul-muncul juga! Cari mati apa? Menyebalkan sekali! Naruto akhirnya memutuskan kalau Sasuke itu tidak muncul dalam lima belas menit dia akan pulang saja. Terserah dia mau datang atau tidak, Naruto tidak peduli.
Naruto kembali mengedarkan pandangannya pada ruangan luas dan ramai tempat ia menunggu itu. Kemudian dia mulai mengamati gerbang kedatangan yang tak jauh dari tempatnya menunggu selama dua jam. Siapa tahu si Uchiha sialan itu terselip di antara orang-orang yang berlalu lalang ini.
PANG!!
Rasa shock langsung menyerangnya saat dia membaca serangkaian huruf kanji yang dengan jelas terpasang di atas gerbang besi itu.
"KEDATANGAN DALAM NEGERI"
Naruto membeku di tempat.
........
.......
.......
"SIAL!!" umpat Naruto, cukup keras sehingga orang-orang di sekitarnya melempar pandang tidak senang padanya.
Buru-buru dia bangun dari kursi tunggu berwarna biru tua itu dan berlari secepat mungkin ke sisi lain ruang tunggu bandara. Ternyata selama ini dia salah tempat. Dia seharusnya menunggu Sasuke di bagian Kedatangan Luar Negeri. Jelas saja dia tidak melihat Sasuke di manapun di bagian Kedatangan Dalam Negeri.
'Bodoh kau, Naruto! Otakmu ke mana saja selama ini?' Naruto memaki dirinya sendiri. Naruto memang paling tidak suka dibuat menunggu, tetapi dia jauh lebih tidak suka lagi kalau dirinya yang membuat orang lain jadi menunggu. Apa lagi selama dua jam lebih.
Aaaarrrrrrgggggggghhhhh........!!!!!!!!!!!
Sesampainya di bagian Kedatangan Luar Negeri Naruto mengedarkan pandangannya sejauh mungkin untuk menemukan sosok Sasuke.
"Oi! Naruto!" terdengar seseorang memanggilnya. Naruto langsung menole ke arah datangnya suara itu dan terkejut saat mengetahui bahwa Kyuubi-lah yang memanggilnya.
"Kyuu-nii? Ngapain di sini?" tanya Naruto penasaran sambil berjalan mendekati Kyuubi.
"Kau ini kemana saja sih? Aku sudah satu jam menunggumu di sini dengan Sasuke," Kyuubi balik bertanya.
"Maaf, aku salah tempat menunggu," ucap Naruto dengan lesu.
"Hah? Apa maksudmu?" Kyuubi tambah bingung. Dengan menundukkan kepala Naruto pun akhirnya menceritakan kebodohannya itu pada kakaknya.
"Pfftt, phua, ha,ha,ha,ha!!!" Kyuubi langsung meledak tertawa begitu cerita Naruto selesai. Orang-orang sampai memandanginya dengan tatapan aneh.
"Kyuu-nii, nggak perlu ketawa sekeras itu, tahu!" Naruto protes dengan suara lemah.
"Aha, ha, ha, ha, ha, ha!! Maaf, maaf, Naruto! Tapi, pfft! Ceritamu itu, hmpf. Hua, ha, ha, ha, ha!!" Kyuubi terus saja tertawa tanpa ampun sampai-sampai air matanya keluar.
"Cukup, Nii-san! Sekarang di mana cowok cantik itu? Aku sudah lelah dan hampir membeku disuruh menunggunya selama dua jam," ucap Naruto. Kesal pada kakaknya yang tertawa tanpa henti.
"Siapa yang kau panggil 'cowok cantik' itu, Pirang bego?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang Naruto. Naruto sedikit melonjang mendengar suara bariton itu dankarena nada dingin yang dipakai oleh pemiliknya. Dia membalik badannya dengan cepat dan menemukan sosok tinggi Uchiha Sasuke di hadapannya.
"Ah! Akhirnya kau muncul juga, Pantat ayam!" ucap Naruto, sedikit berteriak sambil menunjuk Sasuke dengan tangan kanannya.
"Tidak sopan menunjuk-nunjuk, Naruto," ucap Kyuubi sebelum Sasuke membalas Naruto sambil menurunkan tangan kanan Naruto.
"Hmph," gumam Naruto.
"Ha, ha. Oke, karena semuanya sudah ketemu, kita pulang!" ujar Kyuubi dengan ceria.
_
_
_
"Tadaima~" ucap Kyuubi sambil membuka pintu rumah mereka dan menyeret salah satu koper Sasuke.
"Okaeri. Kenapa kalian terlambat sekali pulangnya?" tanya Kushina sambil menyembulkan kepalanya dari pintu dapur.
"Ha, ha, ha. Kaa-san tanya saja sama Naruto ini," Kyuubi tertanya.
"Eh? Memangnya ada apa Naruto?" Kushina bertanya penasaran dan keluar dari area dapur menuju tiga pemuda yang tengah berkutat dengan tiga buah koper.
"Wah, bawaannya banyak sekali ya?" komentar Kushiha.
"Gomen, Kushina-san. Kaa-san memaksaku membawa oleh-oleh untuk kalian semua," ucap Sasuke datar.
"Wah, seharusnya tidak perlu repot-repot begitu," Kushina berkata.
"Ah, tidak apa-apa,"
"Kaa-san, aku mandi dulu," ucap Naruto setelah dengan susah payah berhasil memasukkan sebuah koper dan menyandarkannya di dinding terdekat. Dia masih kesal pada Sasuke yang telah membuatnya menunggu sampai hampir membeku selama dua jam. Walaupun dia tahu sebenarnya hal itu sebagian besar adalah salahnya sendiri. Tapi menyalahkan orang lain itu lebih mudah dari pada mengakui kesalahan sendiri bukan?
Naruto menutup pintu kamar mandi rumahnya, namun tidak menguncinya. Setelah itu dia melepaskan kimononya satu per satu, kemudian menyalakan shower, mengaturnya sampai suhunya pas di kulitnya. Air hangat yang menyiram tubuhnya itu membantu merilekskan otot-otot tubuh Naruto yang tegang sekaligus menghangatkan tubuhnya yang hampir membeku tadi. Naruto menghela nafas lega, kemudian menyambar sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuhnya. Aroma citrus yang menyegarkan menguar dari busa-busa putih yang dihasilkan membuat tubuh menjadi lebih rileks dan pikiran jernih.
Sepuluh menit kemudian Naruto keluar dari kamar mandi. Sebuah handuk putih melingkar di pinggangnya yang ramping dan sebuah lagi digerakkan oleh tangannya untuk mengeringkan rambut pirangnya. Dengan santai dia berjalan ke kamarnya untuk ganti baju. Sesampainya di kamarnya yang bernuansa oranye itu Naruto langsung mencari-cari baju di dalam lemari pakaiannya yang berukuran sedang. Dia kemudian memilih sebuah celana pendek berwarna krem dan kaos berwarna oranye yang kebesaran untuknya. Handuk putihnya tergeletak terlupakan di lantai kayu dekat kakinya.
"Hn. Kita baru beberapa menit bertemu dan kau sudah ingin menggodaku, Dobe?"
Naruto membeku di tengah gerakannya memakai celana boxernya. Kemudian, dengan perlahan, kesadarannya mulai terproses di otaknya.
"Aaaarrrggghhh!!!" teriak Naruto, agak telat. Dengan cepat dia menarik boxernya ke atas dan buru-buru menyembunyikan tubuhnya di antara gumpalan kain yang tadi terlupakan di lantai.
"Gah!! Teme mseum! Ngapain kau ada di kamarku hah?!" teriak Naruto yang terduduk di lantai sambil berusaha menyembunyikan tubuhnya sebaik mungkin di balik handuk dan pakaiannya yang tercecer.
"Oh, jadi ini kamarmu, ya?" Sasuke balik bertanya dengan santai dari atas tempat tidur Naruto.
"Kushina-san menyuruhku istirahat dan tidur di sini," ucap Sasuke datar. Dia memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan tangannya dan menatap Naruto yang tengah terduduk di lantai.
Naruto memandang sebal Sasuke dengan posisinya yang terkesan 'mengundang' itu.
"Tchah," Naruto mengalihkan pandangannya dari Sasuke dan buru-buru memakai pakaiannya dengan Sasuke yang masih terus mengawasi setiap gerakannya.
"Mau kemana kau?" ucap Sasuke saat dilihatnya Naruto mulai beranjak ke pintu.
"Ruang baca," jawab Naruto singkat.
"Ah, kau tidur di sana," ucap Sasuke datar.
"Memangnya kau pikir ini gara-gara siapa?" ujar Naruto ketus sambil membuka pintu kamarnya.
BLAM!
Pintu berwarna oranye itu tertutup, meninggalkan Sasuke sendirian di dalam kamar yang menurutnya terlalu terang dan berantakan.
_
_
Naruto menggumam kecil dalam tidurnya. Kemudian setelah beberapa saat, kelopak mata berwarna kecoklatan itu mulai membuka perlahan, memperlihatkan iris secerah langit musim panas yang masih digayuti oleh kantuk. Naruto mengedipkan kelopak matanya beberapa kali, kemudian bangun dengan perlahan sambil megucek-ucek matanya, berusaha menghilangkan kantuk yang membayang. Dia melirik jam digital yang ada di sisi kepala futon-nya.
17.57
Tepat waktu makan malam.
Naruto menguap lebar dan meregangkan ototnya sebelum bangun dan keluar dari kamar tidur sementaranya. Dia menguap lebar sambil berjalan turun tangga menuju dapur. Di sana dia bisa menemukan ayahnya yang sedang membaca koran sore dengan tekun dan ibunya serta Kyuubi yang sedang mempersiapkan meja makan. Sangar-sangar begitu, Kyuubi itu sebenarnya suka sekali memasak.
"Naruto?" Kushina memanggil. "Bagus kau sudah bangun. Cuci mukamu dan bangunkan Sasuke sana,"
"Hhaiiihh!" Naruto menjawab sambil menguap lagi.
Setelah mencuci muka, Naruto naik lagi ke lantai dua untuk membangunkan Sasuke.
"Teme bangun!" ucap Naruto setelah membuka pintu kamarnya dengan tidak lembut. Dia mendapati Sasuke tengah tertidur pulas di balik bed cover-nya yang bernuansa oranye, sama sekali tidak terpengaruh oleh panggilan Naruto yang luayan keras tadi.
Naruto menghela nafas kesal, kemudian berjalan menandak-nandak ke arah tempat tidurnya.
"Bangun, Teme!" ucap Naruto keras sambil menarik bed cover-nya dari tubuh Sasuke dengan kasar.
"Hngh," Sasuke bergumam kecil. Walaupun begitu dia sama sekali tidak membuaka matanya.
"Dasar pemalas! Bang – Aaaarrrrghhh!!"
BRUK!
GREB!
"Ugh..." keluh Naruto saat berat tubuh Saske menimpanya. Dia sudah cukup kaget tadi saat tiba-tiba tangan Sasuke menyambar tangannya dan menariknya dengan keras sehingga dia jatuh telentang di atas kasur kecil itu.
Naruto menghela nafas panjang dan perlahan untuk menenangkan jantungnya yang berdetak lebih cepat karena kaget.
"Hei, Teme! Bangun kau!" Naruto berucap. Kali ini sambil memukul punggung Sasuke yang dengan seenak pantat ayam-nya sendiri telah menyamankan diri tidur di atas Naruto.
"Mhh," gumam Sasuke kecil yang alih-alih bangun, semakin menyamankan dirinya di atas tubuh Naruto dan memeluk tubuh tan itu semakin erat.
"G, gah! Teme! Bangun–hhmp!"
Mata Naruto terbelalak kaget saat mulutnya dibungkam oleh bibir Sasuke. Yup, benar! Mouth to mouth. Mulut ke mulut. Bukan hanya itu saja, setelah beberapa detik hanya menempelkan bibirnya pada bibir Naruto, Sasuke mulai menggunakan lidahnya. Menjilati bibir bawah Naruto seakan-akan tengah menjilat es krim atau permen loli.
Nafas Naruto tercekat, mulutnya sedikit terbuka. Hal yang tidak menguntungkan bagi Naruto karena Sasuke langsung memanfaatkannya untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Naruto dan mulai menjelajahi rongga mulutnya. Menikmati setiap milimeter permukaan rongga mulut pemuda pirang itu.
Sementara bibirnya bekerja, tangan Sasuke pun tidak mau kalah. Sasuke menyusupkan tangannya ke balik kaos Naruto yang longgar. Dia kemudian mulai menjelajahi tubuh Naruto dari balik kain tipis itu, dimulai dengan mengelus sisi tubuh Naruto dengan sentuhan seringan bulu. Kemudian tangan Sasuke pindah keperut Naruto dan pindah lagi ke bagian atas tubuh Naruto. Jemarinya mulai memainkan puting susu pemuda pirang itu sementara lidahnya membuat basah melewati garis rahang, leher, dan berakhir di tulang selangka Naruto yang menonjol.
Mendapat perlakuan seperti itu seharusnya Naruto berusaha melawan sekuat mungkin. Namun saat Sasuke sudah mulai menciuminya di berbagai tempat, tenaga dan akal sehatnya entah terbang kemana. Sentuhan-sentuhan Sasuke pada tubuhnya membuatnya terlena, pandangannya mulai berkabut dan tubuhnya seperti bereaksi sendiri terhadap rangsangan-rangsangan itu.
Sasuke terus bekerja menggunakan mulut dan tangannya sementara Naruto hanya bisa memeluknya dengan kuat dan membenamkan wajahnya pada pundak Sasuke untuk meredam suaranya. Namun saat Sasuke mulai bekerja pada 'daerah terlarangnya', akal sehatnya mulai bekerja kembali. Buru-buru Naruto menyingkirkan Sasuke dari tubuhnya.
"Gah, Teme!! Bangun kau!!" teriak Naruto sambil mendorong Sasuke sekuat tenaganya hingga pemuda berkulit pucat itu jatuh dari ranjang. Untung saja kamar Naruto ini kedap suara, jadi teriakannya itu tadi tidak akan terdengar sampai ke bawah.
Sasuke yang jatuh ke lantai dengan lumayan keras mulai sadar dari alam bawah sadarnya. Pandangannya terfokus pada Naruto yang tengan duduk di atas tempat tidur berwarna oranye dan berantakan itu dengan nafas memburu, pakaian berantakan, muka merah, dan satu atau dua kiss mark di daerah sekitar lehernya. Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali, menganalisa keadaan. Kemudian dia paham apa yang baru saja terjadi.
"Ergh! Maaf, Naruto. Aku memang sering ngelindur tidak jelas begitu," ujar Sasuke depresi sambil menunduk dan sedikit menjambak rambutnya. Dia memang sudah lama mempunyai kebiasaan tidur yang aneh. Pernah suatu kali tidur di kamarnya, namun saat bangun keesokan harinya, dia mendapati dirinya sudah berada di taman kota. Aneh memang.
"Bagus kau sudah sadar!" ucap Naruto jengkel sambil meluncur turun dari ranjangnya. Kemudian dengan cepat dia merapikan pakaiannya lagi.
"Sekarang turun! Makan malam sudah siap dari tadi, tahu!"
Berkata begitu Naruto berjalan keluar dari kamarnya, sekali meninggalkan Sasuke sendirian di dalam ruangan oranye itu. Sasuke memandang punggung Naruto sampai menghilang di tangga. Perlahan, sebuah seringai yang cukup mengerikan muncul di wajahnya.
"Menarik."
_
_
_
'Huh, dasar Uchiha sialan! Apaan yang tadi itu? Kebiasaan kok aneh begitu! Kalau begitu sih bakal merepotkan orang lain!' Naruto bersungut-sungut dalam hati saat menuruni tangga.
'Seenaknya saja menyentuh-nyentuh tubuhku! Hah?! Tubuhku?! Tadi dia juga mencium bibirku 'kan?' Naruto berhenti di kaki tangga.
............
............
............
'Gyaaahhh!!! Uchiha sialan!!! Yang tadi itu ciuman pertamaku, bodoh!!!' dengan kasar dia menggosok-gosokkan punggung tangannya pada mulutnya, mencoba mengahapus bekas ciuman Sasuke yang masih tertinggal di sana.
"Naruto? Ada apa? Kenapa lama sekali? Mana Sasuke?" Kushina bertanya bertubi-tubi pada anak bungsunya itu.
"Sebentar lagi juga si Teme itu turun kok," ujar Naruto kesal seraya duduk di sebelah Kyuubi.
"Siapa yang kau panggil 'teme' itu, eh, Dobe?" suara Sasuke terdengar. Kemudian diikuti sang pemilik yang berjalan santai memasuki dapur.
"Sasuke-kun, kenapa lama sekali?" tanya Kushina yang tengah mengambilkan nasi untuk Naruto.
"Cuci muka dulu," jawab Sasuke singkat. Dia mengambil tempat di sebelah Kushina, tepat dihadapan Naruto yang sengaja menalihkan pandangannya dari calon suaminya itu.
"Saa, karena semuanya sudah kumpul, mari kita mulai makannya. Itadakimasu~" ujar Minato riang yang diikuti oleh angota keluarganya yang lain.
"Hei, hei, Naruto, tidak perlu makan secepat itu!" tegur Kyuubi pada adiknya yang sudah makan lebih dari setengah porsinya dalam waktu beberapa detik.
"Aku sedang buru-buru! Besok ada tugas yang harus dikumpulkan," jawab Naruto dengan mulut penuh.
"Oh," respon Kyuubi singkat. Ayah dan ibunya sama sekali tidak berkomentar apapun. Mereka sudah terlalu terbiasa dengan kebiasaan Naruto yang baru akan mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh saat waktunya sudah mepet.
"Selesai! Aku ke atas dulu!" ujar Naruto beberapa saat kemudian. Buru-buru Naruto melangkah ke lantai dua.
"Dia kenapa?" tanya Sasuke, entah ditujukan pada siapa.
"Biasa lah. Dia kalau sudah mengerjakan sesuatu yang dia sukai jadi kelewat antusias begitu," jawab Kyuubi santai.
"Hm," ujar Sasuke singkat. Sekilas dia melihat ekspresi wajah Kyuubi yang melembut.
"Memangnya ada tugas apa sih?" Sasuke bertanya lagi. Mengherankan juga, karena dia tidak pernah penasaran pada hal apa pun di dunia ini selama delapan belas tahun hidupnya.
"Proyek lukisnya. Dia mengambil jurusan seni di sekolah," kali ini Minato yang menjawab.
"Oh iya, Sasuke-kun. Di sekolah nanti Sasuke-kun mau mengambil jurusan apa?" tanya Kushina. Sistem pengajaran di Konoha Gakuen memang agak berbeda. Di sekolah ini sudah dibuat sistem penjurusan seperti di universitas. Hanya saja pilihan jurusannya tidak sebanyak di universitas. Semuanya ada delapan jurusan, seni rupa, seni musik, sains dan teknologi, fotografi dan film, hukum dan politik, ekonomi, kebumian dan astronomi, juga bahasa. Selain pelajaran di bidangnya masing-masing mereka juga tetap mendapat pelajaran dasar dari masing-masing jurusan. Setelah empat tahun mendapat pendidikan dan lulus dari Konoha Gakuen para siswanya bisa melanjutkan lagi ke universitas atau bisa langsung bekerja.
"Mm, fotografi dan film," jawab Sasuke singkat.
"Begitu ya? Kalau begitu semangat ya!" Kushina tersenyum pada calon menantunya, yang hanya dibalas dengan sebuah anggukan.
Setelah selesai makan, semua orang berpencar sendiri-sendiri; Minato langsung menuju ke ruang tengah untuk menonton berita sore, Kushina mencuci piring dan gelas di dapur, Kyuubi sudah mengurung diri lagi di dalam kamarnya sementara Sasuke memutuskan untuk mengunjungi Naruto di kamar sementaranya.
"Hn, gambarmu lumayan juga ternyata," ujar Sasuke saat masuk ke dalam ruang baca dan menemukan Naruto yang sedang serius dengan lukisannya.
"Gyah!!" hampir saja Naruto menumpahkan cat airnya ke kain kanvas yang kini tengah bertengger di hadapannya. Di dalamnya sudah ada gambar sebuah desain desa yang sudah hampir jadi.
"Teme! Kau ini hobi sekali bikin orang jantungan, ya?!" tanya Naruto kesal, berusaha menenangkan detak jangtungnya seperti semula. Sasuke tidak mengindahkan protes Naruto itu dan melangkah semakin memasuki ruangan penuh rak buku itu.
"Ini gambar apa sih?" tanya Sasuke sambil mengamati gambar desa itu.
"Desa tempat tinggal tokoh utama karakter komik-ku," jawab Naruto ketus.
"Namanya?"
Naruto mengernyit bingung mendengar pertanyaan Sasuke itu.
"Desanya atau tokoh utamanya?" Naruto balik bertanya.
"Desanya, Baka!"
"Konohagakure,"
"Sengaja mengambil nama sekolah, ya?"
Naruto tidak menanggapi pertanyaan Sasuke yang terakhir itu dan melanjutkan pekerjaannya.
"Hmm, kau benar-benar suka gambar, ya?" tanya Sasuke lagi.
"Tentu saja! Bagiku menggambar adalah hal paling indah, paling keren, dan paling menyenangkan di seluruh dunia!" ujar Naruto bersemangat sambil terus melukis.
"Memangnya bakal selesai dalam semalam?"
"Tentu saja!" jawab Naruto percaya diri.
"Hn. Di sini lumayan banyak buku juga, ya." Ujar Sasuke, mengalihkan perhatiannya pada rak-rak buku yang penuh dengan berbagai macam buku dengan berbagai warna, ketebalan, dan ukuran.
"Itu semua punya Tou-san dan Kyuu-nii,"
"Novel dan komik-komik ini juga?"
"Kalau itu punyaku,"
"Hn. Tidak kusangka kau suka novel macam Sherlock Holmes. Padahal kemampuan otakmu nggak seberapa," ujar Sasuke sambil membaca sampul belakang salah satu novel seri Sherlock Holmes milik Naruto.
"Jangan remehkan aku, ya!" ujar Naruto sewot.
"Hn," ujar Sasuke singkat. Dia telah menyamankan diri di atas futon Naruto dan sudah mulai mebaca novel setebal tiga ratus halaman itu.
Untuk beberapa saat ruangan itu diliputi ketenangan. Yang tedengar hanya suara kuas Naruto yang bergesekan dengan permukaan kanvas yang kasar dan suara halaman buku yang dibalik. Namun setelah beberapa jam suara gemerisik kertas itu tidak lagi terdengar. Namun sepertinya Naruto terlalu berkonsentrasi pada lukisannya sehingga dia sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Yup! Selesai!" ujar Naruto riang saat lukisan desanya sudah jadi. Tepat tengah malam.
"Tinggal tunggu sampai kering dan dibungkus besok pagi," ujar Naruto sambil membereskan peralatan lukisnya. Kemudian dilihatnya Sasuke yang sudah tertidur di atas futonnya.
Naruto mengernyit memandang Sasuke.
'Hmm, bangunkan tidak ya?' pikir Naruto. Namun bayangan akan kejadian sebelum makan malam tadi terbayang lagi di dalam kepalanya. Kerutan di dahinya semakin dalam.
"Hei, Teme! Bangun!" ujar Naruto sambil menusuk-nusuk perut Sasuke dengan ujung jarinya.
"Mhm, biarkan aku tidur..." gumam Sasuke dalam tidurnya sambil memunggungi Naruto sementara pemdua bermata biru langit hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia tidak berani mengambil tindakan yang lebih jauh lagi. Takut kalau-kalau kejadian sebelum makan mlam itu terjadi lagi.
'Hm, kalau begitu biar aku saja yang pakai kamarku. Ah, tapi tidak sopan 'kan kalau tuan rumah membiarkan tamunya tidur di lantai begini? Yah walaupun ada futon tapi tetap saja...' Naruto berpikir selama beberapa saat.
Kemudian, dengan mengedikkan kepalanya dia akhirnya merebahkan diri di samping Sasuke.
'Lagi pula futonnya cukup besar,' pikir Naruto sebelum menyamankan diri dan langsung tertidur.
'Oyasumi, Teme,'
_
TBC
_
Yup, chap dua selesai!!! Bagaimana, sudah ada peningkatan kah? Lalu apa rate-nya harus saya naikkan karena ada sedikit adegan 'itu' di sini atau tetap di T?
REVIEW, PLEASE...!!!
Regards,
G+R
