Notes: maaf jika alur ceritanya kecepetan. kalau kalian bosan membaca ceritaku karena terlalu banyak dialog, maafkan aku. karena aku memang masih pemula di ff ini.
Chapter 2.
"Hahahahhaha. Waeyo?" tanya Seung Chin pada Chise yang sedang duduk dilantai dengan pandangan yang tertuju lekat pada seorang gadis dengan rambut yang digerai.
"Hei! Waeyo chingunim?" tanya Seung Chin sambil mengikuti arah pandangan Chise lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Karena dia?" tanya Seung Chin lagi. Chise hanya menjawab dengan anggukan lemah.
"Kudengar dari Kim Eunhye, mereka akhir-akhir ini sangat dekat, layaknya orang pacaran, mereka sangat mesra, Dan tampaknya dia juga sudah melupakanmu," terdengar suara Park Soo Jung dari arah tangga.
"SOO JUNG-SSI!" teriak Chise marah."Aahhh, kau ini!Jangan membuat Chise-kun galau!" ujar Seung Chin pada Soo Jung.
"Hehehehe, mianhae Chise-kun!" ujar Soo Jung sambil tersenyum singkat.
"Gwaenchana!" balas Chise-kun sambil tersenyum tak ikhlas yang masih duduk di lantai.
"Sudahlah, aku mau membaca komik lagi!Jangan ganggu aku!"ujar Chise sambil berdiri lalu berjalan menaiki tangga menuju kelasnya.
.
.
Sesampai di kelas banyak yeoja-yeoja yang memandanginya. "Apa lihat-lihat? Keluar sana! Temui para pujaan hati kalian dibawah!Kajja!" teriak Chise diluar kendali.
"Chise, kenapa kau marah-marah?" tanya Soo Jung yang ternyata mengikuti Chise.
"Tak suka?Itu karena omonganmu!" jawab Chise ketus. Di dalam kelas masih ada beberapa yeoja yang nekat mendekam dikelas, Chise pun menggebrak meja di depannya yang langsung berhasil membuat semua orang dikelas keluar dari kelas dengan wajah heran.
Chise pun bersandar di dinding di samping mejanya, lalu kembali merosot ke bawah dengan gerakan yang sangat perlahan sambil mengacak-acak rambutnya, rasa menyesal itu terus menghantuinya dan itu membuatnya frustasi, terlebih setelah mengingat bahwa ia meninggalkan Molin karena gadis lain yang akhirnya juga mencampakkannya.
****Molin POV****
"Hei, tunggu aku!" panggilku.
"Ne!" jawab Yuura dan Eunhye bersamaan.
"Eh, ada oppayo tuh!" ujar Yuura sambil menunjuk Yesung oppa.
Berarti ada Kyuhyun oppa juga dong?
"Hei, kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Neo michiesseo." tanya Yuura judes.
"Aku tau kenapa!" jawab Eunhye dengan wajah sumringah.
"Ah iya, masa Molin belom cerita sama kamu sih?" tanya Eunhye masih dengan muka sumringah.
"Cerita apaan?" tanya Yuura bingung.
"Kemarin kan akusama Cheonsa melihat dia lagi tiduran di lapangan, eh pas dia lagi tiduran, ada yang ketawa-ketawa, eh pas aku sama Cheonsa deketin dia, dia lagi nyamperin tuh orang dua yang lagi ganggu tidurnya, ternyata dua orang itu Kyuhyun sama oppanim. Kyuhyun sama oppanim lari, si Kyuhyun nggak sengaja jatuhin tasnya. Abis itu malemnya dia ketemu Kyuhyun di restoran punya Appanya. Ngobrol dah tuh mereka, sampe-sampe oppanim nelpon aku, nanyain Kyuhyun oppa dimana, karena oppanim kira Kyuhyun lagi sama Molin, dan ternyata dugaan oppanim bener. Besok paginya dia dateng nganterin tuh tas, eh pas gitu dia ketemu member-member SUJU yang lain, terus kuncirannya dia jatuh di dorm SUJU, makanya rambut dia nggak dikuncir!" cerita Eunhye panjang lebar. Yuura hanya bisa melongo mendengarnya.
"Oh iya, Donghae oppa, berkata padaku bahwa Donghae oppa ingin bertemu denganmu!" kataku sambil terkejut.
"Hai Molin, kenapa rambutmu tidak dikuncir seperti yang lain?" tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Molin.
"Ha? Kau siapa?" tanyaku bingung.
"Kyuhyun imnida!" jawab seseorang itu setengah berbisik yang ternyata adalah Kyuhyun sambil menurunkan kacamata dan topinya.
"Tunggu sebentar!" kata Kyuhyun seraya merogoh kantong celananya.
"Ne!" jawab Molin singkat.
"Ini, pakailah ini dulu," ujar Kyuhyun sambil memberikan seutas tali warna biru yang menarik.
"Bagaimana cara memakainya?" tanya Molin sambil memegang seutas tali warna biru dengan raut wajah yang bingung.
"Sini, kupakaikan!" ujar Kyuhyun sambil mengambil seutas tali warna tampak cekatan saat mengikat rambut Molin menggunakan seutas tali.
"Nah, begini lebih baik!" ujar Kyuhyun begitu selesai mengikat rambut Molin.
"Oppa, tolong panggilkan Donghae oppa, dan oppanim!" pinta Eunhye.
"Baiklah, tunggu jangan ke situ ya!" ujar Kyuhyun sambil menunjuk kerumunan orang di samping kiri mereka.
Lalu Kyuhyun kembali memakai kacamata dan topinya."Ihhhh...Kok dia bisa ngiket rambut kamu pake tali sih?" tanya Yuura heran.
"Eh, liat warnanya safir!" ujar Eunhye.
"Hei, Chagi!" sapa seseorang yaitu Donghae ssi sambil memeluk Yuura.
"Ada apa manggil, kakak?" tanya Yesung sambil mengelus puncak kepala Eunhye.
"Oppa, kuncirin aku kayak gitu!" pinta Eunhye sambil menunjuk rambut Molin.
"Aduh, nih cuma ada talinya doang, kakak nggak bisa!" ujar Yesung dengan muka pasrah.
"Chagi juga mau?" tanya Donghae.
"Ne!" jawab Yuura sambil menganggukan kepalanya.
Donghae pun mengikat rambut Yuura dengan seutas tali yang sama."Nah selesai!" ujar Donghae, begitu melihat hasil kerjanya.
"Ihhh... Kok oppa nggak bisa sih?Payah!" ujar Eunhye kesal.
"Mianhae Eunhye!" mohon Yesung dengan muka pasrah.
"Hari ini bolos aja yuk!" ajak Yuura sambil tersenyum.
"Bolos?Aniyo!" jawab Eunhye dan Molin bersamaan.
"Wae?" tanya Yuura dengan muka tak bersalah.
"Kalau mau, kau pura-pura sakit saja!" usul Kyuhyun yang membuat Eunhye terlonjak.
"Your idea is very good!" jawab Molin sambil tersenyum.
"Kalian juga ikut?" tanya Eunhye.
"Of course!" jawab Kyuhyun singkat.
Hanya Eunhye,Yuura,Donghae,Yesung dan Kyuhyun yang berjalan mengendap-endap menuju gerbang sekolah karena Molin sedang lapor ke guru piket bahwa Eunhye,Yuura dan ia sendiri mendadak maagnya kambuh, dan guru piket yang pabo itu memperbolehkan Eunhye,Molin,dan Yuura pulang lebih awal. Setelah itu Molin berlari menuju kelas untuk mengambil tas Eunhye, Yuura dan juga miliknya.
"Kita mau kemana?" tanya Molin begitu sampai di mobil.
"Jadi siapa yang menyetir?" tanya Eunhye.
"Jangan aku!Aku takut Molin kenapa-kenapa!" jawab Kyuhyun.
"Bagaimana kalau aku saja?" tanya Molin menawarkan diri.
"Jinjja?" tanya Kyuhyun khawatir terlihat dari wajahnya yang tampan.
"Ne!" jawab Molin singkat.
Dan mereka pun segera larut dalam suasana yang duduk dibangku disamping Molin, dia terus memandangi Molin dan itu membuat pipi Molin yang putih, memerah seperti tomat.
"Kita mau kemana?" tanya Molin.
"Sebaiknya tempat yang ramai!" jawab Kyuhyun singkat karena yang lainnya sedang asyik sendiri.
"Oppa? Ke Lotte-World saja ya!" usul Molin yang menghasilkan anggukan dari Eunhye,Yesung,Yuura, Donghae dan Kyuhyun.
Kyuhyun pun langsung memesan Lotte-World melalui telepon hanya untuk mereka berenam, dantiba-tiba terlintas ide di benaknya yang dari dulu sudah cerdas untukmenyuruh petugas taman hiburan untuk mengambil mawar biru safir di dorm SJ yang sengaja dibuatnya untuk Molin. Kyuhyun juga menyuruh petugas itu mengosongkan Lotte-World dan menghujani mereka dengan mawar warna putih, dan biru safir saat mereka masuk ke gerbang Lotte-World.
***Kyuhyun POV***
Molin pun menyetir mobil menuju Lotte-World. Sebelum menuju taman hiburan, aku bersama dengan yang lain, mampir ke Myeongdong. Eunhye, Molin dan Yuura harus membeli pakaian santai, karena mereka masih memakai pakaian sekolah. Walau harus kuakui kalau Molin terlihat manis jika memakai pakaian sekolah, apalagi jika ia sedang mengemut permen lollipop seperti anak kecil, pikirku dalam hati sambil memandangi Molin lalu tertawa sendiri. Kami di Myeondong hanya membeli pakaian santai lalu selesai membeli pakaian, Molin kembali menyetir sambil mengulum permen di mulutnya.
"Molin ssi, aku lapar!" ujarku sambil memukul-mukul perutku.
"Ha? Lapar?Nih makan permen saja!" jawab Molin sambil menyodorkan beberapa permen padaku.
"Hanya ini?" tanyaku heran sambil memandangi permen rasa greentea yang terbungkus rapi di telapak tangan Molin.
"Ya, memang kau mau makan apa?" tanya Molin heran.
"Aku mau makan yang lain!" jawabku santai sambil mengeluarkan jurus andalanku yang selalu berhasil yaitu dengan puppy eyes.
"Baiklah, aku tak tega bekalku di dalam tasku!" jawab Molin sambil menunjuk tasnya yang berada di bagasi mobil.
"Gomawo areumdaun yeoja!" kataku tenang.
"Eunhye, ambilkan tas Molin!" pintaku tanpa kata tolong.
"Ini!" jawab Eunhye sambil cemberut, memberikan tas Molin padaku.
Aku pun iseng membuka-buka tasnya, di antara buku-buku pelajaran ada sebuah binder. Lalu tanpa Molin sadari aku memasukkan binder itu di dalam tas yang kubawa secara aku mengambil kotak bekal Molin yang berisi cheese cake yang kelihatannya pun memakannya dengan pun hanya tersenyum sambil terus memakan cheese cakenya saat Molin memandangiku.
"Aah, pake acara macet segala lagi!" ujar Molin sambil menginjak rem secara tiba-tiba yang membuatku tersedak, aku pun langsung mengambil botol minum Molin yang berisi air mineral.
"Mianhae Kyuhyun oppa! Aku tak sengaja! Habiskanlah minumku!" ujar Molin dengan raut wajah bersalah campur panik.
"Ne Molin, kau tak usah panik." jawabkususah payah
Jalanan sudah lancar kembali.
Saat aku sedang minum, pandanganku tak lepas dari wajah Molin, Molin tiba-tiba kembali menginjak rem tiba-tiba karena ada motor yang melaju kencang dari samping. Aku pun terkejut dan tanpa disengaja aku menyemburkan air mineral yang ada dimulutku ke arah Molin.
"OMO!Bajuku basah Kyu!" teriak Molin marah sambil mengibas-ngibaskan bajunya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap menyetir.
"Sini kubersihkan!" ujarku merasa bersalah.
"Ya, kau memang harus bertanggung jawab!" ujar Molin marah.
"Hei, jangan keluarkan jutekmu pada Kyuhyun!Cukup pada laki-laki selain dia saja!" ujar Eunhye sambil tersenyum.
"Ternyata benar dugaanku, bahwa Molin ssi gadis manis yang jutek!" ujarku sambil tertawa yang menghasilkan satu cubitan dari Molin ditangan kananku yang sukses membuat tanganku biru.
"Eunhye... Kau..membocorkan rahasiaku!" teriak Molin.
"Mianhae Molin." ujar Eunhye sambil tersenyum.
"Gwaenchana!Hei, lihat lah mereka!" ujar Molin sambil tersenyum "evil".
"Hei, kau sudah bisa tersenyum sepertiku!" ujarku senang sambil mengelus-elus tangan yang tadi dicubit Molin.
"Hahahaha... Mereka berdua tertidur dengan pose yang sangat romantiss!Aku jadi ingin memfotonya, apakah ada yang membawa kamera?" ujarku iseng sambil menghentikan mobil.
"Ini, pakai kameraku saja!" ujar Yesung hyung sambil memberikan kameranya pada Molin.
"Gomawo oppa!" ujar Molin begitu kamera tersebut berpindah pun mengarahkan kamera ke Donghae hyung dan Yuura, lalu dalam satu klik-kan pose romantis mereka sudah terabadikan.
Kulihat gadis yang duduk disampingku tampak iri, aku pun itu membuat wajahnya kembali memerah seperti lama kemudian Molin sudah asyik menyetir perjalanan aku dan Molin tidak berbicara sedikitpun.
"Nah sudah sampai!" ujar Molin sambil memakirkan mobil dan tersenyum padaku.
"Asyikkk... Heh! kau bertiga pake alat penyamaran kalian!" suruh Eunhye sambil memberikan topi,kacamata hitam.
"Nah... Hahahhahaha... Kalian kayak anak kembar!" ujar Eunhye dan Molin bersamaan yang menghasilkan jitakan dariku di kepala Eunhye dan Molin.
"Hari ini kalian semua kami traktir sepuasnya!" ujar Yesung sambil tersenyum.
"Gomawo oppa!" jawab Eunhye senang.
Lalu kami berenam berjalan bersama menuju pintu masuk.
Sesampai di pintu masuk sepi, tak ada orang yang nampak, wahana-wahana permainan pun juga tampak sepi, hanya ada kami berenam."Oppa, kok sepi?Tutup ya? Pulang saja yuk!" ajak Molin yang tanpa kusadari telah menggandeng tanganku.
"Pulang?Wae? Pertunjukkan baru saja akan dimulai!" ujarku sambil menjentikkan jarinya bersamaan dengan berputarnya bianglala dan semua wahana secara bersamaan, dan turunnya hujan bunga yang sangat Molin suka. Bunga mawar putih, dan biru safir.
"Sejak kapan ada mawar warna biru safir?" tanya Molin heran dan itu membuatnya semakin manis.
"Aku yang membuatnya, aku yang mewarnainya!Dan itu hanya untukmu seorang!" jawabku bangga sambil memeluk Molin yang sedang kebingungan.
"Sangatlah indah Kyuhyun!" ujar Molin sambil tersenyum.
"Kau harus belajar untuk lebih sopan, aku lebih tua darimu! Kalau kau tidak memanggilku dengan sebutan oppa! Kau akan tau akibatnya!"
ujarku sambil tersenyum 'evil' lalu mendekatkan wajahku dengan wajahnya yang sukses membuatnya mematung.
Mereka pun berpencar.
"Kau mau naik apa?" tanyaku pada Molin, karena yang lainnya sudah memencar bersama pasangannya masing-masing.
"Hm.. Terserah kau oppa!" ujar gadis manis yang berdiri di sampingku sambil memakan es krim yang baru saja ia beli.
"Baiklah, kita naik bianglala!" ajakku bersemangat.
"Emmmm, Bukankah bianglala hanya untuk pasangan, ngggg..kekasih?" tanya gadis manis itu ragu dan itu semakin membuat wajah gadis itu semakin manis.
"Sepertinya kau salah Molin!" jawabku sambil tersenyum 'evil' padanya tapi gadis itu sekarang sudah berdiri di loket.
"Ckckck...Aku meragukannya kalau dia adalah gadis, dia lebih cocok menjadi anak kecil!" ujarku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku sampai rambutku berantakan.
"Huuuhhh... Ini tiketnya oppa!" ujar Molin yang sedang memakan permen lollipop warna warni, yang semakin membuatnya seperti anak kecil sambil menyerahkan selembar tiket padaku.
"Gomawo."Balasku singkat.
"Sebentar ya Molin." ujarku begitu aku mengingat bahwa aku tadi membelikan Molin sekotak Cheese Cake kesukaannya. Aku pun kembali berlari ke parkiran untuk mengambil tas ransel yang berisi Cheese Cake. Setelah mencangklongkan tas ransel berisi Cheese Cake aku pun kembali berlari menghampiri Molin. Dari kejauhan aku melihat Molin sedang asyik berbicara di telepon. Saat aku datang Molin masih tetap asyik bicara tanpa menyadari kedatanganku sampai akhirnya setelah lama berdiri akhirnya ia memasukkan ponselnya ke kantung celananya.
"Lama sekali? Kau tak tau aku sudah berdiri disini daritadi?Siapa sih yang menelponmu sampai kau melupakanku?" ujarku marah dan itu membuat Molin kembali mematung.
"Mianhae oppa!" ujar Molin sambil menunduk ke bawah dan memainkan jari-jarinya yang panjang.
"Gwaenchana, ayo Molin!" ajakku sambil menggandeng tangannya lembut. Tak lama kami duduk, bianglala pun mulai yang duduk disampingku tampak sedih , terlihat dari matanya yg berwarna hitam kecoklatan. Aku pun memeluknya agar ia tidak sedih.
"Gomawo oppa!" jawab gadis itu sambil merapikan rambutku yang berantakan dengan jari-jarinya.
"Waeyo?" tanyaku saat melihat gadis itu mulai menjatuhkan air matanya di kemeja putihku.
"Molin!waeyo?" tanyaku saat merasakan air matanya mengalir di kemeja putihku.
"Molin... waeyo?" tanyaku lagi begitu dia sesenggukkan. Gadis itu mulai membalas pelukanku dan aku mengelus-elus rambutnya agar ia lebih tenang, begitulah yang biasa dilakukan seorang namja kepada yeoja yang sedang menangis yang kubaca di novel-novel.
"Areumdaun?Kau kenapa? Kenapa Molin? Cerita sama aku! Aku nggak bisa ngeliat kamu begitu! Aku khawatir sama kamu!" tanyaku mulai panik sambil melepaskan pelukanku lalu menidurkannya di pangkuanku.
"Tadi… Chise-kun menelponku… dan ia bilang… ia ingin kembali… pada…ku." jawab Molin sepatah demi sepatah kata dan sepatah kata itu membuat hatiku mencelos.
"Lalu kenapa kau menangis? Bukankah kau menginginkan dia kembali?" tanyaku heran sambil menghapus air mata Molin dengan tanganku.
"Aku tak bisa menerimanya kembali, dia sudah membuatku sakit hati, dan aku tidak mau sakit hati karena dia lagi." jawab Molin yang kembali membuat hatiku mencelos.
"Sudah, jangan nangis lagi, nanti aku ikut sedih!" ujarku sambil mengelus-elus rambut Molin yang halus.
Tanpa terasa bianglala sudah hampir berada di atas, tangis Molin sudah mereda. Tapi tampaknya ia sangat nyaman tidur dipangkuanku, hingga tertidur di pangkuanku. Aku tidak tega membangunkannya, lalu aku pun juga ikut memejamkan mataku sampai akhirnya aku mendengar teriakan Yesung.
"Selamat bersenang-senang Cho Kyuhyun.. Hahahaha..." terdengar tawa Yesung di bawah. Aku pun kembali membuka mataku dan aku baru sadar kalau kami sekarang berada di bianglala yang kami tumpangi sengaja dihentikan oleh Yesung.
"Lihat pembalasanku hyung!" janjiku pada diri lama kemudian bianglala kembali bergerak. Dan gadis manis yang tadi tertidur di pangkuanku sudah terbangun. Sekarang dia sedang menikmati lollipop warna-warni yang tadi ia beli saat sedang mengantri tiket."Molin, aku mau tidur! Jangan ganggu aku, kalau kau kesepian pakai ini!" ujarku sambil memberikan PC Tabletku yang sejak tadi berada di tas ranselku pada Molin.
"Ne oppa!" ujar pun tertidur dan terbangun saat bianglala sudah berputar dua kali dan hampir berada di atas, dan saat aku terbangun aku melihat Molin sedang asyik bermain game di PC Tabletku.
Saat hampir berada diatas aku memandangi Molin dari dekat, aku suka warna bola menghentikan bianglala lagi dan selama beberapa saat aku memperhatikan Molin dan saat aku sedang memperhatikan Molin lebih dekat bianglala kembali berputar dan itu membuat bibirku dengan Molin bertemu, aku dan Molin itu berlangsung lumayan lama.
Setelah ciuman yang tidak disengaja itu dan Molin menjadi canggung.
"Hei, kau mau ini?" tanyaku sambil mengeluarkan sekotak cheese cake dari tas ranselku yang berhasil mengtasi rasa cangung kami karena Molin langsung terperangah.
"Aku mau oppa." jawab Molin sambil mengangguk-anggukan kepalanya keras sampai-sampai tali warna biru yang digunakan untuk menguncir rambutnya terlepas.
"Ada syaratnya." ujarku yang membuat Molin cemberut.
"Apa syaratnya?" tanya Molin.
"Hmmm, cium aku!" ujarku sambil menunjuk pipiku yang berhasil membuat Molin tak lama kemudian dia mencium pipiku lembut.
"Hmmmm, bagus! Anak pintar! Ini untukmu!" ujarku sambil mengacak-acak rambut Molin.
"Aku bukan anak kecil oppa!" ujar Molin sambil merebut sekotak Cheese Cake lalu mencari-cari sendok.
"H mau sendok ini?" tanyaku sambil menunjukkan sendok plastik.
"Oppa!berikan padaku!" ujar Molin sambil merebut sendok ditanganku.
"Ini, anak manis! Tapi ada syaratnya, kau harus menyuapiku Cheese Cake!" ujarku sambil memberikan sendok dan Molin saling suap-suapan, hingga pada saat potongan terakhir yang harusnya untukku, malah dia masukkan potongan Cheese Cake terakhir itu ke mulutnya. Setelah Cheese Cake dimulutnya habis, ia tersenyum senang. "Mianhae Molin, tadi aku tidak sengaja! Sungguh," ujarku sambil menatapnya.
"Ne oppa!aku tau! Tapi itu kan firstkiss ku! Aku tidak mau firstkiss ku terjadi karena tidak sengaja!" ujar Molin sambil menunduk kebawah sambil memainkan jarinya, kurasa dia malu.
"Kau mau lagi?" tanyaku sambil menunjuk bibirnya yang berwarna merah alami dan tak lama ciuman yang disengaja pun terjadi dalam waktu yang cukup lama, hingga tiba-tiba Molin menarik diri, aku pun terkejut.
"Huuuhh, aku kehabisan napas oppa!" ujar Molin.
"Mianhae Molin! bukankah setau ku kau suka menyanyi? Bukankah napasmu panjang?" tanyaku heran.
"Memang, tapi ini kan berbeda oppa!" jawab Molin sambil menghembuskan napas panjang.
Bianglala pun sudah sampai di bawah, aku dan Molin pun turun sambil tersenyum lebar. "Hei, kenapa kalian senyum-senyum sendiri?" tanya Yesung hyung sambil merangkul Eunhye.
"Apa maksudmu memberhentikan bianglala hyung?" tanyaku marah.
"Sssst, jangan marah dongsaengnim!" ujar Yesung hyung sambil mengunci mulutku dengan jari telunjuknya yang mungil.
"Itu ide ku dan Yeppa!" ujar Eunhye sambil tersenyum.
"Kakak dan adik sama saja!" ujarku kesal.
"Mana Donghae ssi dan Yuura?" tanyaku dan Molin bersamaan.
"Kompak amat sih!" ujar Yesung sambil berjalan menuju wahana permainan yang lain. Aku pun menggandeng Molin kejauhan tampak Donghae dan Yuura yang sedang minum kopi di kafe.
"Molin, bagaimana kalau malam sabtu besok kita pergi kesini lagi? Hanya berdua?" tanyaku sambil memikirkan kejutan apa yang akan kuberikan.
"ne," jawab Molin singkat.
"Ayo, pulang!Biarkan saja mereka, mereka masih ingin bersenang-senang!" ajakku sambil tersenyum dan menggandeng tangan Molin menuju parkiran mobil.
"Lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Molin heran.
"Mereka bisa menyuruh seseorang mengantarkan kau tak perlu khawatir," jawabku panjang lebar.
"Ohh baiklah, ayo pulang!aku sudah mulai bosan!" ujar gadis itu sambil tersenyum.
Aku dan Molin pun berjalan ke parkiran, dan tak lama kemudian aku dan Molin sudah berada dalam ini aku yang menyetir, aku menyetir sangat gadis disampingku tertidur pun langsung mengantarnya pulang kerumahnya. Sesampai dirumahnya ia masih tertidur, karena aku tidak tega membangunkannya aku menggendongnya sampai masuk -tiba Seorang Ahjumma menyambutku.
"Kim Jung Hana imnida!" ujar Ahjumma itu begitu melihatku.
"Dia kenapa?" tanya Ahjumma Jungpanik sambil berlari menghampiriku.
"Sepertinya dia kecapekan, jadi dia tertidur!" jawabku tenang.
"Huuuh, syukurlah." Ujar Ahjumma Jung
Ahjumma pun membawaku menuju kamar Molin yang rapi, aku pun menurunkan Molin tepat keluar dari kamar Molin, aku sempat melihat-melihat kamar Molin yang dindingnya penuh dengan poster SUJU dengan berbagai bagian dinding yang ada di samping lemari, ada lukisan SUJU yang besar yang tampak sangat diriku di lukisan itu sangat tampan dan itu membuatku tersenyum.
"Ayo, Kyuhyun-ah. Kita keruang tamu!" ajak AhjummaJung yang membuatku kaget.
"Wae? Kau heran ya? Kalau aku tau siapa kau?" tanya Ahjumma Jung.
"Ne ahjumma bisa tau?" tanyaku heran.
"Aku kan umma-nya Molin jadi aku tau siapa kau. Banyak postermu di kamar bersama member SUJU yang lain, dia sampai memintaku mencari pelukis yang bisa melukis kalian untuk melukis kalian dikamarnya. Kalau ada benda apapun tentang SUJU akan dibelinya, apalagi tentangmu! OMO! Kamarnya sampai penuh dengan benda-benda tentang SUJU, untung saja kamarnya kemarin saat Appa Molin cerita padaku bahwa kau datang kesini, aku sampai tidak percaya!" cerita Ahjumma Jung panjang itu membuatku berdecak kagum.
"Hahhahahaha, ahjumma aku memang pernah datang ke restoran mu!" ujarku sambil tertawa.
"Oh ya sudah ya,Kyuhyun, aku mau melanjutkan pekerjaanku tadi, sekali lagi terimakasih telah mengantarkan Molin kesini," ujar Ahjumma Jung.
"Ahjumma, saya pergi dulu ya."Pamitku pada Ahjumma Jung.
"Hati-hati dijalan ya Kyuhyun!" ujar Ahjumma Jung sambil mengantarkanku ke mobilku yang terparkir di depan.
Aku pun menyetir mobil sambil berdecak kagum, karena masih teringat pada kamar Molin. Kalau Leeteuk hyung tau dia pasti akan terperangah.
****TBC****
A/N : hahahaha. Kalo aneh, atau gk nyambung, maaf bgt. Soalnya pas lgi buat chapter 2, mood aku kacau… Buat temanku sesama authoress yang udh ngebantu aku menghilangkan miss typo disana sini, makasih bgt. Nggak tau deh gimana jadinya ff gw tanpa bantuanmu teman.
Ayo, jangan lupa review! kalo yang review lebih dari 5, baru aku lanjutin chapter 3nya.
