Girl in Black

by Neo Ravena

Disclaimer : Fatal Frame Tecmo, Final Fantasy Square Enix

Genre : Romance/Drama/Hurt/Comfort

Rated : T

Warning : OOC, AU, Crack Pair, Miss Typo(s)

Pairing : Main : Sephiroth x Tifa x Kei

And another pairing from Fatal Frame and Final Fantasy Series

#BAD NEWS#

.

.

.

.

Bel di pintu masuk berdentang riang ketika Tifa baru saja menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring di siang hari itu. Segera ia berdiri di counter pemesanan untuk menyambut sang tamu.

"Selamat datang di Seventh Heaven," Tifa menyapa sang tamu dengan seutas senyuman penyambutan di bibirnya.

"Tifa!" Tifa merasa setengah tubuh bagian atasnya tertarik ke atas counter dan juga sepasang tangan mungil yang melingkari tubuhnya.

"Hei, hei, Yuffie!" Tifa berusaha melepas pelukan maut Yuffie dengan mencolek-colek punggung gadis muda itu. Yuffie yang merasa kegelian segara melepas pelukannya dan menatap Tifa berbinar-binar.

"Long time no see, ne? Kau bagaimana? Sehat? Kau tahu aku rindu sekali denganmu sejak aku pertama kali tiba di Wutai, hahaha, konyol tapi gak bohong, loh!" Yuffie memamerkan senyuman 5 jarinya.

"Haha… bisa aja kamu," ujar Tifa seraya mencolek pelan hidung mancung Yuffie, "…aku sehat kok, kamu? Kok lama sekali liburannya? Jangan-jangan kamu kecantol sama teman kecilmu, siapa itu namanya, aku lupa." Yuffie pura-pura cemberut pada orang yang dianggapnya kakak itu, sebelah tangannya meninju pelan lengan atas Tifa.

"Kalau aku kecantol, Reno mau dikemanain, Tifa…" Yuffie makin merengut meski tidak serius saat Tifa menertawakannya.

"Hahaha… iya, iya, enggak lagi deh main-main sama adiknya inspektur polisi Midgar, bisa-bisa restoranku digusur lagi, hehehe…" Tifa mencubit kedua pipi merona Yuffie gemas. Membuat gadis berusia 18 tahun yang tadinya tertegun mendengar kata-kata Tifa barusan menjadi tertawa riang lagi.

"Eh, Tifa. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Yuffie mendadak serius, membuat Tifa kembali menatap putri keluarga Valentine itu.

"Kau mau berbicara tentang apa?" Tifa hampir menggodanya kalau saja ia tak menemukan air muka Yuffie yang mengeras, tampak sangat serius. Jarang-jarang ia mendapatinya mengeluarkan mimik seperti ini.

"Ehm, bisa kita bicara sambil duduk, Tifa? Kau ini bagaimana sih sama tamu sepertiku ini, hehehe." Kembali raut wajah Yuffie mencair, tapi hanya berlangsung sebentar karena begitu mereka duduk bersandar di kursi sudut ruangan, raut wajah Yuffie kembali pada kata serius.

"Tifa… mmm… harus kumulai dari mana nih? Arrgghhh…" Kesal sendiri ia menjambak rambut pendeknya. Tifa yang melihatnya hanya bisa iba. Ada apa dengan anak ini?

"Tifa… kau tahu? kau tahu… S-ShinRa?" Ia sedikit takut dengan kata-kata permulaannya itu. Tifa mengangguk pelan.

"Iya, ShinRa Company 'kan? Kenapa dengan perusahaan sebesar itu?" Yuffie makin gelisah, sekali-kali dilemparkannya pandangan matanya kea rah luar jendela.

"Yang kudengar dari kakak, ShinRa Company b-ber-ber-berniat…" Yuffie makin gelisah, sekarang ia benar-benar takut. Tifa memiringkan matanya berusaha menangkap maksud dari perkataan Yuffie tadi.

"Berniat membeli… Sector 7 Midgar…" Yuffie kembali menatap mata coklat Tifa dan menemukan setitik api kemarahan disana.

"Apaa! Tidak, tidak mungkin. Kamu pasti bercanda kan Yuffie? Haha, kamu tuh tambah lucu yah percandaanya sesudah pulang dari Wutai. ShinRa tak mungkin melirik daerah kumuh Midgar, apalagi sampai membeli sector 7 yang luar biasa padat ini. Mau dibangun dimana perusahaan mereka, Yuffie?"

Kemarahan sekarang terlihat jelas di kedua mata Tifa. Yuffie mau tak mau sedikit bergidik melihatnya. Asal tahu saja, Tifa itu salah satu juara Martial Arts Nasional saat ia bersekolah di SMA. Bisa saja kan dia tiba-tiba mengamuk dan menghancurkan cafenya sendiri? Yah, walaupun kemungkinan itu sangat kecil.

"T-tapi itu semua benar, Tifa. Tadi pagi aku melihat Lord ShinRa Company datang berkunjung ke rumah kakak. Dan aku tak sengaja menguping pembicaraan mereka..." Yuffie merasa bersalah begitu raut wajah Tifa berganti seperti ingin menangis.

"Kenapa? Kenapa jadi seperti ini? Kau tahu kan Yuffie? Restoran ini adalah hadiah istimewa dari teman-temanku, darimu juga dan dari Vincent juga. Sudah susah payah kubangun tempat ini selama bertahun-tahun. KENAPA HARUS ADA HAL SEPERTI INI?" Yuffie segera menopang tubuh Tifa sebelum ia ambruk mencium lantai. Ia memeluk erat wanita berambut hitam panjang itu. Membelai rambut lembut dan punggungnya, menenangkannya dari kabar buruk yang ia dengar.

"Kalau tempat ini digusur oleh ShinRa, bagaimana dengan anak-anakku?" Tifa mulai menangis sesenggukan di bahu Yuffie. Yuffie ingat Tifa tidak sendiri, ia memiliki 2 anak yang harus ia urus. Walaupun bukan darah daging Tifa, tapi Yuffie tahu Tifa begitu mencintai keduanya hingga harus mengorbankan dirinya sendiri.

"Yuffie!" Tifa mendongakkan wajahnya dan menatapa mata Yuffie dalam. Air matanya masih mengalir walau isakannya sudah berhenti.

"Yuffie, kakakkmu… boleh aku meminta bantuannya? Pertemukan aku dengan Vincent." Yuffie menundukkan kepalanya, ia sebenarnya tak tega mengatakannya. Tapi ini adalah kesempatan yang sangat baik, sebelum akhirnya Tifa terlalu berharap lebih jauh.

"Tifa… maafkan aku… tapi kakak… kakak tidak bisa melakukannya… kakak hanya bagian dari kepolisian, bukan pemerintahan kota Midgar. Kakakku tak mungkin membantu, karena ia tak mungkin menolak kewajibannya. Meski aku tahu kakak tak akan pernah ikhlas melakukannya…"

"Kalau begitu… kalau begitu…" Yuffie terdorong kebelakang saat kedua tangan Tifa mendorongnya. Dilihatnya gadis itu sudah kembali berdiri tegak.

"Kalau begitu biar aku yang mengurusnya!" Tifa mengepalkan kedua tangannya membentuk dua tinju beradu di depan dadanya. Tangisan tadi telah berubah menjadi tekad. Yuffie tersentak ia kembali menerka-nerka maksud perkataan Tifa sebelum akhirnya matanya yang membulat menyadari terkaannya sendiri.

"Jangan bilang kau…" Yuffie menggelengkan kepalanya saat Tifa kembali menatapnya penuh arti.

"Ya, akan kulawan orang-orang kaya sombong itu dengan tanganku sendiri." Kepalan di depan dadanya semakin mengerat, pertanda ia bersumpah. Segera ia beranjak dari restorannya dan meninggalkan Yuffie yang terpaku mendengar kata-katanya tadi.

"Tifa… aku kagum padamu. Sebisanya aku dan kakak akan menolongmu. Aku tak akan membiarkan tempat ini musnah. Tempat ini adalah kenangan kita semua, kenanganmu juga. Satu-satunya tempat yang kau cintai karena disinilah tertanam kenangan indahmu dengan Cloud. Aku berjanji Tifa…" Yuffie mengepalkan kedua tangannya di depan dada, meniru sumpah yang tadi dipegang Tifa.

.

.

.

.

"Lord, semua sudah saya urus. Adakah yang harus saya lakukan lagi." Sesosok wanita cantik berambut pirang pendek tampak membungkuk pada sosok di hadapannya. Diletakannya berkas-berkas penting di meja bosnya itu. Wajahnya yang serius namun nampak anggun kembali didongakannya saat tak ada sahutan dari sosok di seberangnya itu. Takut-takut ia mendekati meja penghalang jarak di antara mereka.

" My Lord?"

"Hehehe… Hahahaha… " Wanita itu terkejut mendengar tawa bosnya. Tapi sedetik kemudian ia bisa melihat wajah tawa bosnya tatkala kursi kantor mewah itu berputar ke hadapannya. Dan hal ini tentu saja membuat pipinya merona merah.

"Akhirnya sebentar lagi aku bisa memiliki Midgar. Kota impian semua perusahaan di dunia. Elena, sekarang kau bisa beristirahat, urusan selanjutnya akan diselesaikan Tseng. Sekarang pergilah." Elena tersadar dari pesona sesaatnya itu dan segera pamit mengundurkan dirinya.

Lelaki itu kemudian mengambil berkas yang diberikan dan mulai membacanya. Sekali-kali senyuman penuh kepuasan bertengger di bibir tipisnya.

CKLEKK!

Lelaki itu mengalihkan pandangan ke pintu ruangan dan mendapati sosok familiar berdiri disana. Wajahnya melunak dan tanpa sadar ia beranjak bangun dan berjalan mendekati sosok itu.

"Ibu…" Wanita yang dipanggil ibu tersenyum hangat. Direntangkan kedua tangannya, menangkap tubuh lelaki itu yang tentu saja jauh lebih besar darinya. Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi mulus wanita itu.

"Oh, Seph… ibu rindu sekali padamu…" Pria yang dipanggil Seph itu hanya bisa memajukan bibirnya tanda kesal saat mendengar nama panggilannya itu.

"Aku bukan anak kecil lagi, bu… Namaku Sephiroth. Hm, aku juga rindu pada ibu. Sudah hampir seminggu aku tidak memeluk ibu seperti ini." Senyuman hangat yang bisa meruntuhkan image-nya sebagai pengusaha dingin terpatri di wajah pucatnya. kembali ia menghujani wajah ayu ibunya itu dengan ciuman-ciuman kasih sayang.

"Seph, kau sudah besar. Tidak malu masih bermanja-manja pada ibu?" Dilepaskannya pelukan anak kesayangannya itu seraya menatapnya dengan senyuman hangat, sehangat mentari pagi . Bukannya berhenti, Sephiroth malah kembali melesakkan wajahnya ke lekukan leher ibunya, menghirup aroma khas itu dalam-dalam.

"Aku sayang ibu…" Wanita itu tersenyum mendengar kata-kata putranya. Sentuhan lembut di rambut panjang anaknya telah menghantarkan rasa kasih sayang yang sesungguhnya.

"Ibu… sebentar lagi impian terbesarku akan terwujud," Wanita itu tersenyum mendengar suara putranya yang bahagia. Dikecupnya puncak silver itu ketika wajah sang anak terbaring di bahunya.

"Impian apalagi, nak? Kau sudah punya semua kan?"

"Belum bu. Impianku yang sekarang adalah…."

"Adalah apa Seph? Jangan memotong-motong perkataan! Kau ini mau membuat surprise atau apa sih?" Sephiroth tertawa. Kembali dieratkanya pelukan dibalik punggung ibunya.

"Midgar bu… Midgar sebentar lagi akan menjadi…"

Wanita itu sontak melepaskan pelukannya , matanya memandang tak percaya pada anak semata wayangnya itu. sementara Sephiroth hanya memperlihatkan ekspresi terkejut yang tipis disertai dengan sebelah alisnya yang terangkat, tanda bingung.

"Maksudmu… kau membeli tanah Midgar?"

"Iya, bu. aku berhasil mengalahkan pebisnis-pebisnis lainnya. Bu, ibu?"

Sephiroth memegang kedua pundak ibunya yang bergetar. Tak lama yang dipandangnya bukan mata ibunya yang menggelap lagi, melainkan punggung ibunya yang menunduk.

"Ibu kenapa?"

"Ibu… pergi dulu, Seph…" Wanita itu segera melenggang pergi tanpa membalikkan badannya lagi ke arah anaknya. Sephiroth hanya memandang bingung pada kelakuan ibunya. Hanya beberapa menit yang lalu ia bisa bermanja-manja dan bercanda dengan ibunya. Sekarang belum sampai satu jam, orang yang paling dicintainya itu pergi tanpa meninggalkan sepatah kata perpisahan.

.

.

.

.

TBC

Cute Seph with his mommy hahaha. Okay! Just Read and Review. See you in the next chapter!