Disclaimer : Detektif Conan dimiliki oleh Aoyama Gosho.


Cinta Dalam Hati

Untuk Melupakan

By Enji86

"Apa yang terjadi?" tanya orang yang berlutut di depan Shinichi. Ada nada khawatir dalam suaranya.

Shinichi mengangkat kepalanya dan mengenali orang tersebut.

"Jodie-sensei?" ucap Shinichi.

"Cool Guy? Apa yang terjadi? Kenapa Shiho pingsan?" tanya Jodie.

"Aku tidak tahu. Yang penting sekarang kita harus menolongnya" jawab Shinichi.

"Kau benar. Tolong masukkan dia ke mobilku" ucap Jodie.

Shinichi menggendong Shiho masuk ke jok belakang mobil Jodie kemudian dia juga masuk. Dia melingkarkan lengannya di bahu Shiho dan menyandarkan kepala Shiho ke bahunya.

"Err, Cool Guy. Aku berterima kasih atas bantuanmu tapi sepertinya lebih baik kau tidak ikut" ucap Jodie.

"Aku mau ikut. Setelah sekian lama akhirnya aku berhasil menemukannya. Banyak yang ingin kutanyakan padanya. Aku ingin tahu apa yang terjadi padanya selama ini" ucap Shinichi.

Melihat mata Shinichi yang bicara penuh kesungguhan, Jodie tidak mengatakan apa-apa lagi. Mobil Jodie keluar dari tempat parkir pusat perbelanjaan menuju rumah Jodie.

XXX

Setelah selesai memeriksa Shiho, Jodie mengantarkan dokter ke pintu. Dokter itu menyampaikan beberapa hal pada Jodie di depan pintu kemudian pergi. Lalu Jodie kembali ke kamar Shiho.

"Bagaimana keadaannya? Apa kata dokter?" tanya Shinichi.

"Lebih baik kita bicara di luar. Shiho butuh istirahat" ucap Jodie lalu melangkah keluar kamar diikuti oleh Shinichi.

Jodie membawa Shinichi ke ruang tamu dan mereka berdua duduk di sofa yang ada di situ.

"Jadi apa kata dokter?" tanya Shinichi memulai pembicaraan.

"Shiho hanya kelelahan, mengingat dia baru sadar dari koma 2 minggu yang lalu" ucap Jodie.

"Koma?" ucap Shinichi.

"Ya. Aku rasa kau sudah bisa menduga apa yang terjadi padanya di gedung itu" ucap Jodie.

"Lalu kenapa kalian tidak memberitahuku?" seru Shinichi.

"Untuk apa kami memberitahumu?" sebuah suara bernada dingin tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk.

Jodie dan Shinichi menoleh ke arah suara itu.

"Shuu?" ucap Jodie.

"Kau sudah meninggalkannya di tangan Gin di gedung itu" ucap Shuichi.

"Aku tidak tahu kalau..." ucap Shinichi.

"Masih mau membela diri, huh? Seharusnya kau tahu kalau Gin sangat terobsesi ingin membunuhnya. Hanya itu yang ada di kepalanya. Tapi kita harus berterima kasih pada obsesinya itu sehingga aku masih sempat membunuh Gin sebelum dia meledakkan kepala Shiho. Gin menembakkan 4 peluru ke badan Shiho untuk menyiksanya, membuatnya kesakitan sebelum membunuhnya. Hasilnya, dia koma sampai 2 minggu lalu. Apa kau tahu bagaimana rasa sakit yang dirasakannya gara-gara kesalahanmu? Kau tidak berhak membela diri dan kau tidak berhak ada di sini, kau dengar. Pergi dari sini" ucap Shuichi.

Shinichi hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya.

"Shuu, jangan begitu padanya" ucap Jodie.

"Apa lagi yang kau tunggu. Keluar dari sini sekarang juga" ucap Shuichi tidak mempedulikan ucapan Jodie.

"Aku tidak akan pergi" gumam Shinichi.

"Apa katamu?" ucap Shuichi mengangkat alisnya.

Shinichi mengangkat kepalanya dan menatap mata Shuichi.

"Aku tidak mau pergi" ucap Shinichi.

"Beraninya kau" ucap Shuichi.

"Semuanya memang kesalahanku. Aku gagal. Tapi dia adalah tanggung jawabku. Aku sudah berjanji untuk melindunginya. Aku tidak akan gagal lagi" ucap Shinichi.

"Sayangnya Shiho bukan tanggung jawabmu lagi, sekarang dia berada dalam perlindungan FBI" ucap Shuichi sinis.

"Aku akan mengambilnya kembali dari FBI" ucap Shinichi.

"Kau tidak akan bisa" ucap Shuichi.

"Sudahlah kalian berdua! Hentikan semua ini! Shiho yang memutuskan apa yang akan dilakukannya, bukan kalian. Kalian berdua sangat menyedihkan" ucap Jodie.

Shinichi dan Shuichi terdiam walaupun atmosfer di sekitar mereka masih tegang.

"Lebih baik kau pulang, Cool Guy. Kalau kau ingin bicara dengan Shiho, kau bisa datang lagi besok. Sekarang Shiho butuh istirahat" ucap Jodie.

"Tapi..." ucapan Shinichi terpotong melihat pandangan mata Jodie. "Baiklah"

Shinichi melangkah ke pintu dan pergi meninggalkan rumah Jodie.

XXX

"Shin-chan, kemana saja kau? Kami cemas sekali menunggumu pulang" ucap Yukiko ketika Shinichi masuk ke ruang tamu.

"Ya, itu benar Shinichi" ucap Ran.

"Aku capek sekali. Aku mau naik ke kamarku dan tidur" ucap Shinichi tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia melangkah menuju kamarnya meninggalkan ibunya dan Ran yang memandangnya dengan alis terangkat.

"Apa kau sudah makan malam?" tanya Ran.

Shinichi hanya melambaikan tangannya.

"Ada apa ya? Apa ada yang terjadi ketika dia pergi?" ucap Ran.

"Entahlah" sahut Yukiko.

Shinichi langsung berbaring di kasurnya dan menutup matanya. Detik berikutnya dia sudah terlelap. Sepertinya penyakit insomnia-nya sudah sembuh.

XXX

"Ran-chan, bagaimana kalau hari ini kita pergi nonton opera?" tanya Yukiko saat mereka sarapan.

"Tentu" jawab Ran kemudian mengalihkan pandangannya ke Shinichi. Bagaimana menurutmu, Shinichi?"

"Yah, ide bagus tapi aku tidak ikut" ucap Shinichi.

"Eeh? Kenapa?" tanya Ran.

"Aku sudah punya acara sendiri" jawab Shinichi.

"Apa kau terlibat kasus lagi?" tanya Ran.

"Kurang lebih" jawab Shinichi.

"Kau pasti tidak mengijinkan aku ikut denganmu" ucap Ran sedikit kesal.

"Tepat sekali. Aku sudah selesai. Aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang di teater" ucap Shinichi sambil tersenyum kemudian melangkah ke pintu depan.

"Err, apa ini hanya aku atau kalian juga merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Shin-chan?" ucap Yukiko.

"Sepertinya cuaca mendung di hatinya berangsur-angsur menjadi cerah" ucap Yusaku.

"Berarti ideku mengajak Shin-chan dan Ran-chan ke Amerika untuk menghibur Shin-chan sukses besar. Aku memang ibu yang hebat" ucap Yukiko ceria.

Ran tersenyum mendengarnya walaupun setitik kegelisahan tertinggal di hatinya karena dia tidak tahu apa yang membuat Shinichi berubah.

XXX

Shiho memandang perang urat syaraf antara Shuichi dan Shinichi di kamarnya dengan pandangan bosan sedangkan Jodie hanya bisa meletakkan tangannya di dahi.

"Sampai kapan mereka akan saling pandang seperti itu. Aku khawatir nanti mereka akan saling jatuh cinta. Dari mata turun ke hati" bisik Shiho pada Jodie.

Jodie berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Shiho. Shuichi dan Shinichi yang mendengar Jodie tertawa, langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan tajam sehingga Jodie langsung sweatdrop.

Detik berikutnya, mereka sudah mengalihkan pandangan mereka dari Jodie, melanjutkan perang urat syaraf mereka yang terganggu.

"Bisakah kau melempar mereka keluar dari sini. Ini sungguh melelahkan" ucap Shiho.

"Oke, serahkan saja padaku" ucap Jodie.

Jodie menendang Shuichi dan Shinichi keluar kamar dan menutup pintunya.

"Kalian dilarang masuk ke sini sampai kalian berhenti bertingkah konyol" teriak Jodie dari dalam kamar.

"Ini salahmu" ucap Shuichi menuding Shinichi.

"Enak saja. Ini salahmu" ucap Shinichi tidak terima.

Dan perang urat syaraf pun berlanjut.

XXX

"Ada apa sih dengan mereka berdua?" tanya Shiho.

"Mereka begitu karena kau" jawab Jodie sambil tersenyum.

"Aku? Bagaimana bisa?" tanya Shiho.

"Mereka sedang memperebutkan hak untuk melindungimu" jawab Jodie.

"Apa? Mereka benar-benar bodoh" ucap Shiho.

"Apa boleh buat. Shuu ingin melindungimu karena dia merasa berhutang banyak pada kakakmu dan Cool Guy ingin melindungimu karena dia bilang dia sudah berjanji padamu" ucap Jodie.

"Mereka tidak perlu meributkan hal seperti itu" ucap Shiho.

"Oleh karena itu, kau harus mengambil keputusan" ucap Jodie.

"Keputusan apa?" tanya Shiho.

"Siapa yang akan kaupilih" jawab Jodie.

"Aku tidak mengerti maksudmu" ucap Shiho.

"Kalau kau memilih Shuu, kau akan tetap tinggal di sini sampai training agen FBI dimulai tapi kalau kau memilih Cool Guy, kau akan ikut dengannya ke Jepang sampai training agen FBI dimulai" ucap Jodie.

"Aku rasa aku akan tinggal di sini sampai training agen FBI dimulai" ucap Shiho setelah terdiam beberapa saat.

"Kau tahu, menurutku kau harus memberi Cool Guy kesempatan. Aku rasa dia mengalami depresi setelah kejadian yang menimpamu di gedung itu. Dia menyalahkan dirinya atas apa yang kaualami. Karena itu dia bersikeras membawamu pulang ke Jepang untuk membuktikan bahwa dia tidak akan gagal lagi melindungimu" ucap Jodie.

"Aku bisa mengatakan padanya bahwa itu bukan salahnya jadi aku tidak perlu ikut dengannya" ucap Shiho.

"Bukan itu saja alasannya. Kau juga harus memberi kesempatan pada dirimu sendiri" ucap Jodie.

"Apa maksudmu?" tanya Shiho.

"Kau punya perasaan khusus untuk Cool Guy kan? Saat kau koma, aku beberapa kali mendengar kau mengigau namanya" ucap Jodie.

"Aku... Hatinya sudah menjadi milik orang lain jadi aku..." ucap Shiho.

"Karena itu kau harus ikut ke Jepang bersamanya dan menyatakan perasaanmu padanya dengan begitu kau akan bisa melupakannya" ucap Jodie.

"Aku tidak tahu..." ucap Shiho.

"Kau harus melakukannya Shiho. Kalau kau menyimpan perasaanmu, kau akan sulit melupakannya tapi jika kau menyatakan perasaanmu, kau akan merasa lega dan dengan begitu kau bisa melupakannya dan jatuh cinta pada orang lain" ucap Jodie.

Shiho diam sejenak. Dia sedang berpikir keras.

"Aku rasa kau benar" ucap Shiho akhirnya.

Jodie tersenyum mendengarnya.

"Aku benar-benar ingin melupakannya. Benar-benar ingin" gumam Shiho.

"Apa kau siap menyampaikannya pada mereka sekarang?" tanya Jodie.

"Aku rasa begitu" ucap Shiho sambil tersenyum. "Terima kasih, Jodie-senpai"

"Tidak masalah. Kau dan aku sudah mengalami banyak hal mengerikan dalam hidup. Akan sangat menyenangkan kalau kita bisa saling memahami dan mendukung. Aku panggil mereka dulu ya" ucap Jodie.

XXX

"Aku tidak setuju" ucap Shuichi.

"Dan aku tidak butuh pendapatmu" ucap Shiho dingin.

Shuichi mendelik pada Shiho tapi Shiho tidak menghiraukannya dan mengalihkan perhatiannya pada Shinichi yang tersenyum penuh kemenangan.

"Aku ingin bicara berdua denganmu, Kudo-kun" ucap Shiho.

Jodie segera menarik Shuichi keluar dari kamar Shiho dan menutup pintunya.

"Kudo-kun, tentang kejadian di gedung itu..." ucap Shiho.

"Maafkan aku Haibara. Semua salahku. Seandainya aku mengikuti kata-katamu dan tidak meninggalkanmu di sana, kau tidak akan mengalami... kejadian itu" ucap Shinichi.

"Aku tidak menyalahkanmu. Semuanya sudah takdir" ucap Shiho.

"Tidak. Aku terlalu bodoh makanya semua ini terjadi. Mulai sekarang aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu bergabung dengan FBI karena pekerjaan itu sangat berbahaya" ucap Shinichi.

"Kita lihat saja nanti. Apakah kau bisa membujukku atau tidak" ucap Shiho.

"Aku pasti bisa" ucap Shinichi.

"Jangan lupa memanggilku dengan namaku yang asli. Aku tidak mau rahasia tentang APTX 4869 terbongkar. Sekarang pergilah. Aku mau tidur" ucap Shiho.

"Hei, Hai... Miyano, besok aku pulang ke Jepang. Aku harap kau ikut bersamaku besok" ucap Shinichi.

"Masalah itu bisa kau bicarakan dengan Jodie-senpai. Dia yang akan mengurus semuanya. Sekarang keluar dari kamarku" ucap Shiho.

"Oke, oke. Selamat tidur Hai... Miyano" ucap Shinichi kemudian bergegas keluar kamar.

XXX

"Kenapa sih kau membiarkan mereka bicara berdua. Aku harus masuk ke sana. Aku tidak setuju dengan keputusan Shiho" ucap Shuichi.

"Kenapa kau begitu ngotot ingin Shiho tinggal di sini? Kau punya perasaan khusus padanya ya?" tanya Jodie.

"Apa yang kau bicarakan. Dia itu adiknya Akemi. Lagipula aku dan kau..." ucap Shuichi.

"Jadi kau sudah menganggap Shiho seperti adikmu sendiri. Kau sangat manis saat berperan jadi kakak laki-lakinya Shiho, Shuu" ucap Jodie.

"Aku tidak bisa membiarkan Shiho pergi dengan anak tidak berguna itu" ucap Shuichi.

"Kau harus membiarkannya, demi masa depan Shiho" ucap Jodie.

"Apa maksudmu?" tanya Shuichi.

"Kau pasti bisa melihat bahwa Shiho punya perasaan khusus pada Cool Guy" jawab Jodie.

"Aku tahu. Tapi setahuku anak itu sudah punya kekasih. Kalau Shiho ikut dengannya, dia akan terluka. Aku tidak bisa melihat hubungan antara hal ini dengan masa depannya" ucap Shuichi.

"Justru karena itu, untuk melupakan cintanya pada Cool Guy, Shiho harus ikut dengannya ke Jepang dan menyatakan perasaannya. Dengan begitu dia akan merasa lega dan dengan cepat bisa melupakan Cool Guy" ucap Jodie.

"Apa benar begitu?" tanya Shuichi ragu.

"Perasaan yang tersampaikan lebih mudah dibuang daripada perasaan yang terpendam. Percayalah" ucap Jodie.

"Begitu ya" ucap Shuichi.

Pintu kamar Shiho terbuka dan Shinichi keluar dari pintu itu.

"Jodie-sensei, besok aku pulang ke Jepang. Apakah Hai... Miyano bisa ikut denganku besok?" tanya Shinichi.

"Hal ini harus aku bicarakan dulu dengan dokternya Shiho. Kalau tidak bisa, kau pulang duluan saja ke Jepang, nanti aku sendiri yang akan mengantar Shiho, oke?" jawab Jodie.

"Baiklah kalau begitu" ucap Shinichi kemudian mengalihkan pandangannya ke Shuichi. "Aku janji aku akan menjaganya dengan baik"

"Tch. Kalau terjadi apa-apa padanya, aku akan membunuhmu" ucap Shuichi.

Kemudian Shinichi pamit dan keluar dari rumah Jodie.


Catatan Penulis :

Untuk 4869, Serena Akako Yuu, edogawafirli, reno, amelia, dan Lillya Hoz, you're the best!

Semoga chapter ini bisa menjawab semua pertanyaan kalian.