Akhirnya, selesai juga chapter 2! ^^

capeeee~

ya dah deh, silahkan baca yah..


Nii-chan, kemarin hari paling terburuk dalam hidupku. Kemarin aku dipaksa sama Usagi-san untuk melakukan --beep-- dan --beep--(terlalu kasar, makanya author sensor! :P). Sekarang semua PR-PR ku baru saja selesai. Semuanya gara-gara "Baka to Idiot Usagi-san"! Dari tadi pagi jam 4 aku sudah sibuk mengerjakan perkerjaan rumah dan PR kuliah ku. Sedangkan "Baka Usagi-san" sedang ngorok alias tidur, batin Misaki seperti biasanya.

Sekarang udah jam 7 pagi dan Usagi-san belum bangun, batin Misaki lagi.

Buru-buru Misaki mengambil panci dan memukul keras panci itu agar Usagi-san terbangun.

Setelah 4x Misaki memukul panci itu, Usagi-san keluar dari kamarnya dengan wajah setengah sadar.

"Ohayou.", kata Misaki.

"Ohayou.", jawab Usagi-san pelan dan ngantuk.

"Ini.", kata Misaki sembari menyodorkan telur di atas meja makan.

Usagi-san duduk di meja makan dan Misaki juga duduk di atas meja makan.

"Itadakimasu.", kata mereka berdua secara berbarengan.

18 menit berlalu...

Misaki mencuci piring, sedangkan Usagi-san mulai sibuk menulis naskah baru.

Kemudian Misaki mulai melakukan kegiatan seperti ibu rumah tangga: mencuci, menjemur, menyapu, mengepel.

Semuanya sudah biasa Misaki lakukan karena orang tuanya telah tiada sejak ia kecil.

"Usagi-san, aku berangkat kuliah ya!", teriak Misaki.

"Iya.", jawab Usagi-san yang masih berada di dalam kamarnya karena sibuk.

Hhmm, besok nii-chan datang. Sebaiknya aku membuat kue apa ya? Kue tart? Jangan, terlalu besar. Kue kering? Jangan, nanti keponakan nee-chan batuk-batuk. Kalau begitu, aku buatkan puding saja, batin Misaki sembari jalan menuju kampusnya.

"Misaki.", panggil Sumi di dalam kelas saat lagi pelajaran.

"Oh, Sumi-senpai. Ada apa?", tanya Misaki.

"Kenapa matamu di bawahnya berwarna hitam seperti panda?", tanya Sumi.

"Oh, ini semua gara-gara Usagi-san.", jawab Misaki sedikit ngomel.

"Hahahaha. Memangnya ada apa?", tanya Sumi lagi.

"Bukan hal besa..." Belum sempat Misaki menyelesaikan kalimatnya, kepalanya sudah dilempari buku oleh Kamijou Hiroki.

"Hei, Takahashi! Jangan pernah bicara di tengah pelajaranku!", omel Hiroki.

"Ma, maaf, Kamijou-sensei!", jawab Misaki sambil memegang kepalanya yang sakit.

Sumi hanya menahan tawa melihat temannya dilempari buku oleh Hiroki.

Pelajaran telah usai. Misaki dan Sumi keluar ruangan bersama-sama.

"Misaki, kau tadi mau bicara apa?", tanya Sumi.

"Oh, yang tadi. Aku bilang bukan hal besar, kok.", jawab Misaki singkat.

"Pasti kau diapa-apakan sama Usami-san.", curiga Sumi.

"Tidak kok, benaran, bukan apa-apa.", jawab Misaki sembari tertawa kecil.

Saat Misaki dan Sumi berjalan menuju gerbang, di depan gerbang ada Usagi-san sedang menunggu Misaki.

"Usagi-san, sedang apa kau di sini? Kan sudah ku bilang tidak usah menjemputku.", kata Misaki.

"Selamat siang, Usami-san.", kata Sumi sopan.

"Yak, selamat siang.", jawab Usagi-san acuh.

"Ayo kita pulang.", kata Usagi-san sambil menarik tangan Misaki.

"Hoi, hoi, banyak orang melihat!", kata Misaki setengah panik.

"Biarkan saja.", jawab Usagi-san cuek.

"Bye, Sumi-senpai.", kata Misaki ke Sumi.

"Yak, bye.", jawab Sumi dengan senyum.

Mobil Usagi-san berjalan ke arah apartemen Usagi-san.

"Usagi-san, besok nii-chan kan mau datang. Aku ingin membuatkan mereka puding. Tolong berhenti di depan supermarket dulu.", kata Misaki.

"Mmm.", jawab Usagi-san.

Mereka berdua turun di depan supermarket setelah Usagi-san memarkirkan mobilnya. Mereka belanja cukup banyak barang sampai Misaki keberatan membawa barang-barangnya dan tentu saja Usagi-san yang melihat Misaki keberatan membawa barang-barang itu membantunya. Mereka berdua naik ke mobil lagi dan pulang.

"Usagi-san, makan malamnya kau panaskan sendiri saja ya di oven, soalnya aku harus membuat puding yang banyak.", kata Misaki sambil menaruh belanjaannya di dapur.

"Engga mau.", jawab Usagi-san singkat.

Orang ini.., batin Misaki sebal.

"Jadi mau gimana?", tanya Misaki.

"Aku ingin membantumu membuat puding."

"Hah!? Bagaimana dengan naskah-naskah mu?"

"Nanti malam aku akan menyelesaikannya dengan cepat."

"Tapi kalau Aikawa-san marah bagaimana?", jawab Misaki tidak sabar.

"Tidak boleh ya?", tanya Usagi-san berbisik pelan dengan suaranya yang dalam di telinga Misaki.

Misaki mukanya menjadi merah. "Terserah kau.", kata Misaki singkat. Usagi-san tersenyum melihat lucunya muka Misaki menjadi merah.

Misaki mulai sibuk mengaduk puding di panci, sedangkan Usagi-san membuka bungkusan beberapa puding lainnya. Tak sengaja, Usagi-san menumpahkan sekaligus 2 bungkus bubuk puding di lantai.

"Yah, Usagi-san, jadi tambah kerjaan lagi kan.", kata Misaki.

Misaki menunduk dan membersihkan bubuk-bubuk tersebut. Usagi-san ikut menunduk dan membersihkannya. Usagi-san mencoba menjilat bubuk yang ada di tangannya.

"Manis.", kata Usagi-san singkat.

"Usagi-san, kau seperti anak kecil saja.", jawab Misaki datar.

Misaki berbalik arah dan melajutkan pekerjaannya.

"Misaki.", panggil Usagi-san. Misaki menoleh. Usagi-san memegang dagunya dan menciumnya. Misaki terjatuh di lantai karena kaget. Usagi-san duduk di lantai dan terus mencium Misaki.

"Nnh, U.. Usagi-san!"

Usagi-san berhenti mencium Misaki.

"Bagaimana? Manis kan?", tanya Usagi-san.

Misaki mukanya memerah. Memang, rasanya manis. Apa karena bubuk puding itu? pikir Misaki.

"A, apa yang kau lakukan sih? Kita sedang memasak tau!", jawab Misaki gugup.

"Hem." Usagi-san hanya tersenyum melihat uke-nya tersipu malu.

"Misaki.", panggil Usagi-san.

"Apalagi sih?", tanya Misaki yang mukanya masih memerah.

"Ayo sekarang kita mandi bareng.", kata Usagi dengan santainya.

"Bukannya tadi kau baru saja mandi!? Lagipula kenapa harus ngajak-ngajak aku kalau kau hanya mau mandi!?", teriak Misaki.

"Karena badanku keringatan dan sekarang, aku ingin mendekapmu dalam pelukanku.", jawab Usagi-san ringan.

Muka Misaki lagi-lagi memerah.

"Terus apa hubungannya sama mandi?", tanya Misaki.

"Kalau sambil mandi, kan jadi mudah untuk memasukkannya karena terkena air, jadi waktu aku masukin itu ku ke itu mu, maka..." belum selesai Usagi-san berbicara, Misaki memotong, "Hwaaa!! Jangan pakai bahasa yang aneh-aneh!"

Acara masak mereka pun dipenuhi oleh omelan Misaki dan senyuman Usagi-san.


Nemui(ngantuk).. =.=

Gua buat ini jam 1.45 pagi..

(Pantesan ngantuk, Author rada-rada juga nih)

Ok, makasih yah yang udah mau baca chapter 2 Kodomo!! ^^

Hiro-san: "Aozora, masa aku cuman di kasih peran ngomel-ngomel gitu sih?!"

Aozora: "Mo gimana lagi? Judulnya kan Junjou Romantica, bukan Egoist. Nanti ada saatnya kau dan Nowaki tampil" (Kalo author kaga males! tehe.. XD)

Nowaki: "Hah!? Beneran nih Aozora-chan?! 1000 terima kasih! Nanti tolong sisipin adegan waktu aku sama Hiro-san lagi --beep-- dan --beep-- trus --beep-- yah!"

Bletak! Dengan suksesnya, buku yang dilempar Hiro-san jatuh tepat ke atas kepala Nowaki.


Nowaki: "Aduh! Hiro-san, sakit."

Misaki: " Kamijou-sensei jangan suka lempar buku ke kepala orang. Sakit tau! Masa pacarnya aja di lemparin juga."

Bletak! Lagi-lagi ada korban hasil karya Hiro-san.

Aozora: "Ya udah, jangan berantem dong semuanya!" (sok membela di tengah)

Aozora: "Makasih buat readers yah! Jangan lupa baca chapter 3(kalo udah di upload)! Jangan lupa reviewnya yah! ^^"

Aozora, Misaki, Usagi, Hiroki, Nowaki, Shinobu, Miyagi: "Arigatou Gozaimasu, minna-san!"