Ia mendesah dalam diam dan merapatkan jaket yang menjaga kehangatan dalam tubuhnya. Kedua kaki jenjangnya lantas melangkah pelan tanpa suara, masuk ke dalam S.E.A., ruang yang terkutuk katanya. Jelas bukan tanpa alasan, karena ini sudah tugasnya untuk mengecek setiap sel di The Fridge saat fajar akan menyingsing. Memang nyawa taruhannya, tapi mau bagaimana lagi. Demi uang untuk kelangsungan hidup keluarganya, ia rela mati saat itu juga. Alasan yang umum dewasa ini memang.

Biasan kebiruan pengganti bohlam lampu yang selalu terlihat di masing-masing sel S.E.A. kini berganti hitamnya gelap. Kecuali satu.

Dia pun menghampiri sel itu, sel nomor 10. Terkejut dalam diam menyadari bahwa penghuninya yang notabene berdarah Perancis itu sudah duduk manis di ranjangnya dengan kesadaran penuh. Berbanding terbalik dengan teman-temannya masih terbuai oleh alam ciptaan dewa mimpi, "Chen? Kau sudah bangun, eh?" tanyanya dengan akrab.

"Iya, pak," jawabnya dengan dua sudut bibirnya tertarik.

Pria paruh baya itu balas tersenyum―memaksa, "Lagu apa yang akan kau nyanyikan hari ini?"

"Gloomy Sunday,"

"Baiklah, silahkan bernyanyi,"

Petugas itu lalu menekan tombol peredam suara di dekat pintu sel Chen dan bergegas keluar dari dalamnya, dengan keringat yang bercucuran.

Beberapa detik kemudian, tak terdengar suara nyanyian. Hanya hening yang merayapi tempat itu. Bukan, bukan karena peredam suara. Tapi Chen tak menyanyi seperti yang ia katakan pada salah satu sipir The Fridge itu. Ia telah berdusta.

Chen melirik dingin ke arah pria paruh baya itu pergi. Senyuman ramah di wajahnya lantas pudar dalam sekejap, "Dasar manusia bodoh. Sifat munafikmu itu benar-benar menjijikan. Awas saja. Kau akan jadi orang pertama yang mendapatkan gloomy sunday dariku," desisnya pelan.

Ia memandang kedua telapak tangannya yang kemudian mengepal kuat. Percikan listrik pun muncul.

Sedikit, tapi menakutkan.


Inspired by Marvel Comic Universe

Also inspired by fanfiction God Cheater by ika zordick

Ajeng Hyakuya proudly present

x

x

Justice Breaker

x

x

Disclaimer : All characters belong to their God, parents, and fans

Genre : Crime, Supernatural, Fantasy, Suspense, Angst, Hurt/Comfort, Humor, Romance, Sci-fi, Friendship

Cast : EXO and all K-Pop stars

Rate : T+ (for story and language) and M (for some bloody scene)

Warning : Mind-blowing, too many!Chara, little!Shou-ai, Typos, OOC, AU, Gore, dll.

x

x

If you don't like, just don't read

If you like, just read

I'm not force you to give a review

But i will very happy to get a review sincerely from your deep heart

x

x

x

x

"There still too many evil people at outside than those who already inside prison."

x

x

x


Li Keqiang.

Sosok yang kita kenal sebagai perdana menteri China. Dan tentu saja, salah satu orang yang memegang peranan penting di negara dengan julukan Negara Tirai Bambu itu.

Nah, kini dia tengah berjalan menyusuri lorong salah satu lantai di Gedung Parlemen China guna menyambangi toilet. Tidak banyak orang yang ia temui sepanjang perjalanannya itu. Mungkin hanya satu atau dua staf biasa yang bekerja di situ. Kadang juga petugas kebersihan.

Pria tua itu membuka pintu toilet dan masuk. Sepi, tak ada seorangpun kecuali dirinya.

Mencuci tangan dan merapikan setelan jasnya.

Begitu menatap cermin, sesosok lelaki misterius sudah berdiri memunggungi pintu masuk toilet. Memandang ke arahnya dengan satu senyuman yang menyimpan satu makna pula; jahat.

"Selamat siang, tuan Li,"

Dirinya berbalik cepat, terkejut juga takut, "Kau―bagaimana bisa, Yong Junhyung? "

"Seharusnya anda memiliki bodyguard seperti Arnold Schwarzenegger atau Jackie Chan, bukannya Will Smith dan Tommy Lee Jones," Lelaki berpenampilan serba hitam itu melangkah cepat bak menari mengikuti alunan musik, mengitari pria penuh uban itu. Berpura-pura tak mendengar satu pertanyaan yang dilontarkan Li Keqiang padanya. Lalu ia mendadak berhenti di arah jam 2, "Ah, sudahlah. Kenapa malah jadi membicarakan soal bodyguard, sih? Lagipula anda, kan, tidak punya bodyguard," Ia pun kembali melangkah mengitari Li Keqiang, "Padahal orang terkenal sepertimu bisa kapan saja berada dalam situasi seperti ini,"

Berbanding terbalik dengan sikap santai Junhyung, lawan bicaranya justru nampak sangat tegang. Ibarat berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa yang kapan saja bisa mengayunkan scythe untuk mencabut nyawanya dengan cepat bagaikan kilat atau lambat dengan diiringi sejuta rasa sakit.

Menyadari raut wajah pria berusia 60 tahun itu, Junhyung pun berujar dengan satu senyum simpul, "Tenang, listrik Kota Beijing baru saja padam. Mungkin untuk satu jam ke depan. Jadi anda tak perlu khawatir CCTV merekam pembicaraan rahasia kita ini," Naasnya perkataannya itu malah membuat Li Keqiang makin tegang dan ketakutan.

"Baiklah. Langsung saja ke intinya, oke?"

Junhyung yang berada tepat di belakang perdana menteri itu pun menaruh kedua telapak tangannya yang sedingin es di pundak sosok itu. Li Keqiang membulatkan mata. Kaget dan ngeri, "Kami ingin imbalan atas apa yang dulu kau minta untuk menjadi perdana menteri," bisiknya tepat di telinga kiri pria itu.

"Ka-kalau aku tak memberikannya?"

Seringai di wajah Junhyung mengembang lebar bagaikan senyuman Joker, "Kau akan tahu sendiri akibatnya,"

Bisikan kedua dari pria dengan pakaian ala era Victoria itu disusul oleh suara bedemum pertanda ambruknya tubuh renta sang perdana menteri ke lantai. Lalu listrik kembali menyala. Dan CCTV hanya mendapati Li Keqiang yang terkapar seorang diri di toilet itu.

Tidak ada Yong Junhyung.

...

Lee Hi masih diam sejuta bahasa dengan mulutnya yang setengah menganga. Tangan kanannya yang menggenggam gagang telepon mulai gemetar dengan sendirinya.

Park Leetuk?

Peringkat kedelapan orang paling berpengaruh di dunia abad ini?

Salah satu partner penting SHIELD?

Sekarang sedang menelponnya tapi ia membuatnya menunggu lama hanya karena ia tak tahu siapa namanya?

Aish, lalu kenapa ia tidak tahu dari tadi?!

Bodoh bodoh bodoh!

"Halo? Halo?"

Gadis imut itu pun segera tersadar dari lamunannya. Selain menghindar dari membuat lawan bicaranya bad mood, juga mencegah agar tak mengalami hal yang terjadi pada orang yang kebanyakan melamun, "A-akan segera saya sambungkan. Mo-mohon tunggu sebentar,"

Tapi ia baru sadar bahwa bosnya sudah kembali ke Triskelion.

'Duh, ribet kalau begini caranya!' pekik Lee Hi dalam hati.

...

Masuk ke The Fridge murni bukan keinginan seorang Zhang Yixing. Dengan kata lain, ia menjadi tahanan di penjara itu secara paksa.

Awal mulanya, lelaki dengan nama samaran Lay itu hanya seorang warga Amerika Serikat biasa. Ia memiliki keluarga yang sederhana namun lengkap. Ayah, ibu, dan satu adik laki-laki. Tinggal secara berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan dengan pemilik yang pelitnya minta ampun, hingga ke sebuah rumah bekas yang berhantu layaknya di film-film horror. Jadi, bisa dibilang mereka itu m-i-s-k-i-n. Sebagai tambahan, berhubung keluarganya tak memiliki cukup uang, mereka selalu memakai baju yang sama setiap bulan.

Namun, bisa dibilang, dia adalah orang yang sangat beruntung bisa bersekolah di Universitas Colombia. Jelas hadiah spesial karena ia sudah berjuang dengan seluruh tetes keringat dan keterbatasan ekonominya demi bisa masuk ke perguruan tinggi yang bergengsi itu.

Jika ditanya mengenai keinginannya, maka Lay akan menjawab mantap bahwa ia hanya ingin lulus dan menjadi seorang dokter yang menolong orang-orang sakit. Lalu keluarganya bisa hidup bahagia di sebuah apartemen berkelas yang lebar dan tak sempit.

Sampai kejadian mengerikan itu terjadi.

Hari itu untuk pertama kali dalam hidupnya, ia benar-benar merasa sangat kesal. Ketika ia akan berangkat ke universitas, para penagih hutang melukai ibu dan adiknya karena hutang sang ayah tak kunjung lunas. Padahal ayahnya yang mengidap kanker hati stadium 3 itu masih berbaring tak berdaya di ruang kasir rumah sakit terdekat sejak semalam karena tak memenuhi biaya administrasi. Belum selesai sampai situ, usai kelas berakhir, dosennya memberitahu bahwa meski semua nilai ujiannya bagus, ia tak akan bisa lulus karena belum membayar seluruh biaya operasional kuliah.

Lengkap sudah derita yang menyiksa jiwanya itu.

Lay berjalan gontai dari ruang kelas menuju halaman luas perguruan tinggi itu. Padahal ia tak memiliki asma, tapi dadanya terasa sempit sampai ia sulit bernapas. Berangsur-angsur kemudian, pusing mulai melanda kepalanya.

Ia tak habis pikir. Kenapa di dunia ini tak ada satu hal saja tanpa uang?! Yang ada malah semuanya pasti tentang uang, uang, uang, dan uang!

Sakit di kepala dan dadanya makin menjadi-jadi. Mau tak mau membuat Lay jatuh terduduk dan meneriakkan raungan kesakitan. Kedua matanya menutup kencang. Saat ia kembali membuka kelopak matanya, orang-orang di sekitarnya ambruk, pingsan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang sampai kejang-kejang.

Menyaksikan pemandangan menakutkan itu, pria itu mulai menangis. Tak tahu dan tak mengerti apa yang sudah terjadi.

Lalu sebuah jarum bius mengenai lehernya.

...

"Hm?"

Hanggeng yang baru ditarik kesadarannya dari dunia mimpi itu pun mengambil handphone-nya yang terus menyanyikan nada dering tanpa kenal lelah. Sepertinya ia terlalu mengantuk sampai tertidur di meja kerjanya. Dan sebagai tambahan, ia berada di ruang kerja. Bukan di Hellicarrier. Seperti yang kita ketahui dari saudara Lee Hi tadi.

"Halo?" sapa pria berwajah oriental itu

"Halo juga, Hanggeng,"

Sepasang matanya yang semula setengah membuka kini terbuka lebar. Istilah lainnya, nyawanya sudah kembali 100%, "Oh, Leetuk? Tumben sekali kau menelponku," balasnya dengan antusiasme yang tinggi. Siapa yang tidak senang dan semangat jika teman baiknya menghubungi lewat telpon setelah sekian lama tak bercakap-cakap?

"Sekali-kali menghubungi teman lama,"

"Terakhir kali kau meneleponku, aku sedang melihat Spongebob menyanyi Goofy Goober ala Metallica,"

Tiga detik kemudian, tawa pelan namun penuh dengan suka cita terdengar dari dua pihak yang saling berkomunikasi itu. Tapi itu memang benar, lho. Saat itu, sang direktur SHIELD sedang menonton Spongebob Squarepants The Movie di channel tv langganannya dan tepat saat adegan yang dimaksud Hanggeng, ada panggilan masuk dari sahabatnya itu.

"Institutku menemukan berbagai aktivitas rahasia yang mencurigakan di beberapa belahan dunia,"

Tawa Hanggeng mereda. Ia pun mulai serius. Seperti biasa, Leetuk selalu langsung ke topik utama pembicaraan tanpa membuang waktu untuk basa-basi.

"Ulah mutan?"

"Sepertinya manusia juga terlibat. Tapi itu masih dugaanku sementara ini,"

"Lagipula yang berbuat kejahatan itu, kan, bukan cuma mutan," koreksi Hanggeng, tak ingin selalu mengkambing-hitamkan ras manusia yang istimewa itu.

"Ya, begitulah. Oh, iya. Kau ingat saat penangkapan Wu Yifan? Nah, tepat 13 jam kemudian, Perdana Menteri China, Li Keqiang, diserang dan berakhir koma hingga saat ini,"

Reflek, Hanggeng menelan ludahnya mentah-mentah. Begitu ia akan membalas dengan sepenggal pertanyaan, Leetuk mengkandaskan kesempatan bertanya Hanggeng dengan menyambung perkataannya, "Untungnya hal ini dianggap oleh para dokter dan pemerintah China sebagai serangan stroke yang umum dialami orang yang sudah menginjak usia 60 tahun,"

"Bagaimana kau bisa tahu kalau itu bukan komplikasi penyakit?"

Ada jeda waktu sejenak sebelum Leetuk menjawabnya dengan mantap, "Karena kami bukan pihak yang suka menyimpulkan sesuatu dengan cepat dan tanpa rasa curiga,"

Aneh memang. SHIELD yang ia pimpin saat ini punya ribuan mata-mata yang tersebar di berbagai pelosok dunia. Tapi kenapa tak ada satupun yang menyadari atau melaporkan hal seperti ini? Mengapa justru Leetuk yang hanya memiliki segelintir pengajar di Institut Jungsoo bisa mengetahui hal itu? "Apa setiap ada kejadian seperti itu jaraknya selalu 13 jam?" tanya Hanggeng penasaran.

"Sisanya jika bukan 13 jam maka 4, 6, 9, 24, 44, 46, 66, dan 99 jam. Biasanya hari untuk di atas 100. Semua jangka waktunya adalah angka sial menurut berbagai kepercayaan,"

Direktur SHIELD itu begidik ngeri mendengarnya, terutama ketika angka-angka yang konon membawa kesialan itu disebutkan.

"Anehnya seolah semuanya seperti sudah direncanakan dengan matang. Padahal mustahil untuk mengkoordinasi pergerakan di lebih dari satu tempat saja. Belum pengaturan waktunya yang saling berkesinambungan,"

Hanggeng menyipitkan matanya sejenak dan menghela napas panjang, "Sepertinya yang kita hadapi kali ini benar-benar musuh yang luar biasa,"

Dan ia tahu itu bukanlah berita bagus.

...

Sebenarnya berada di The Fridge murni keinginan Baekhyun. Cukup mengejutkan bagi semua pihak yang mengenal persis pria yang identik dengan mata ber-eye liner itu. Padahal masa depan yang cerah tinggal satu langkah lagi untuk ia gapai.

Menjadi pewaris Byun International Company, menikah dengan kekasihnya, Kim Taeyeon, lulus dari Empire State University dengan gelar cumlaude, dan masih banyak lagi.

Tapi Baekhyun rela membuang semua impian indah itu hanya demi menjadi tahanan penjara khusus penjahat super milik SHIELD itu. Demi dapat membuka mata hati ayahnya yang mungkin memang terbuka untuk dirinya, tapi tidak untuk para mutan.

Oke. Jujur saja, ia sudah lelah dan tak terima lagi mengenai sikap paranoid ayahnya terhadap mutan. Yang notabene berakar kuat dari satu tragedi di mana ibunya dibunuh oleh seorang mutan jahat saat Baekhyun masih belajar berbicara. Tragedi itu pula yang mendorong Mr. Byun menangkap beberapa mutan, memasukkannya dalam kandang, menyiksanya, dan menjadikannya kelinci percobaan.

Baekhyun yang mengetahui hal itu saat menginjak usia 17 tahun jelas sedih juga marah. Sayangnya ia tak tahu bagaimana caranya membebaskan orang-orang tak bersalah itu tanpa tertangkap basah oleh ayahnya.

Lalu beberapa waktu kemudian, kekuatan mutannya pun muncul. Saat itu ia baru bangun tidur. Sinar mentari menyeruak dari sela-sela tirai jendela kamarnya. Begitu Baekhyun hendak menyibak tirai, cahaya dari sela tirai itu membelok dan mengikuti gerakan tangannya. Kemudian bagaimana reaksinya? Jelas saja kaget dan tertegun.

Baekhyun pun merahasiakan kekuatannya itu dari sang ayah. Memastikan bahwa suatu saat nanti ketika ayahnya mengetahui yang sebenarnya, ia sudah siap. Dan ketika saat itu tiba, seperti ekspetasinya, ayahnya penuh dengan kepanikan, kekagetan, dan kesedihan.

Ia tak pernah berharap untuk dibebaskan lewat pembayaran denda seperti halnya tahanan biasa. Ia hanya ingin menjalani kehidupannya sebagai mutan, bukan sebagai manusia biasa. Merasakan bagaimana orang-orang sepertinya hidup.

...

Triskelion, markas besar SHIELD. Terletak di Pulau Theodore Roosevelt, Washington DC. Jika kau pernah menonton Captain America : Winter Soldier, kau pasti akan mengerti sekaligus takjub karena tempat itu memang eksis di dunia nyata.

"Permisi,"

Sebuah suara baritone membuat Moon Hyunah spontan mengangkat kepalanya, menghentikan sejenak acara chatting-nya dengan beberapa lelaki yang berstatus sebagai calon dan resmi pacarnya. Dimana di hadapannya berdiri enam lelaki dengan seragam SMA. Ia lantas tersenyum lebar, berusaha menyembunyikan tawa yang nyaris keluar jika saja tidak ia tahan, "Maaf, adik-adik. Ada perlu apa, ya, kalian datang ke markas SHIELD?"

"Kami BTS, tim superhero yang diundang―"

"―hah? Superhero? Pfft! Bwahahahaha!"

Tak tahan, pada akhirnya wanita berusia 28 tahun itu tertawa terpingkal-pingkal dengan volume suara yang terbilang cukup keras. Membuat orang-orang yang berlalu lalang memandanginya keheranan.

"Kita beneran tim superhero tahu!" sungut Suga, yang paling sangar dan serius di antara para berondong itu, lengkap dengan sebilah pedang besar yang disampirkan di pinggang kirinya. Jelas saja ia merasa tak terima dengan reaksi yang terkesan merendahkan dari wanita berseragam khas SHIELD itu.

J-Hope mengelus punggung Suga, berusaha menenangkan pria itu, "Sabar, Ga. Sabar,"

"Dasar, pengguna pedang. Bisanya emosi mulu,"

Kata sindiran dari Jungkook kontan saja membuat amarah Suga makin membumbung tinggi, "Apa?!" teriaknya lantang.

Jimin buru-buru menengahi senior dan juniornya itu, "Stop, guys! Kita di sini bukan untuk adu mulut," lerainya.

"Aduh. Kalian berdua ini, bertengkar terus," keluh Jin, yang paling tua. Lagipula, mereka datang ke sini, kan, dengan damai. Kenapa sekarang malah berakhir jadi ricuh, sih?

"Kalau begitu, sertifikasi keresmian sebagai superhero?"

Mendengar pertanyaan dari Hyunah, keenam pemuda itu saling memandang satu sama lain. Selang kemudian menghela napas bersamaan, sweatdrop.

"Kami adalah tim superhero sungguhan. Kami melawan alien yang akan membuat Seoul rata dengan tanah jika saja tak ada kami," jelas Rap Monster sedikit emosi. Ayolah, ini seperti berdebat di sebuah acara diskusi saja.

"Tapi saya butuh pembuktian," balas gadis itu sengit meski dengan nada yang sopan.

Pria berkacamata itu terdiam.

"Dia cantik tapi kepalanya keras banget," bisik J-Hope pada Jungkook. Pria berambut magenta itu mengangguk setuju.

Rap Monster akhirnya bersuara, "Baiklah, anda ingin bukti?"

Ia mengerling ke Jimin yang kemudian mengangguk singkat.

2 menit kemudian

Mulut Moon Hyunah setengah menganga, terperangah menyaksikan sesuatu yang mungkin hanya dapat ia lihat di film maupun animasi saja.

"Nah, percaya?"

Hyunah mengangguk-angguk singkat, sebelum menyadari kesalahan yang sudah ia perbuat, "Duh, maaf, ya, soal yang tadi. Karena setahuku tim superhero itu anggotanya sudah lulus sekolah semua,"

"Kalau Jungkook, sih, iya masih sekolah," gumam J-Hope menyindir sembari menyikut Jungkook. Sementara yang disikut hanya bergumam 'apa, sih?'.

"Kami memang sudah tidak sekolah lagi," tutur Jin, "Seragam ini untuk penyamaran di khalayak umum, terutama jika ada kasus di area sekolah. Seragam kami sebenarnya bukan hanya ini saja. Tapi berhubung seragam lainnya masih di laundry, jadi kami terpaksa memakai yang ini," Oke, salahkan laundry langganan mereka yang sedang kebanjiran pesanan.

"Oh, begitu,"

"Kelihatannya kalian asyik sendiri,"

Mereka semua sontak menoleh ke sumber suara. Di mana berdiri seorang pria dengan tinggi di atas rata-rata. Lengkap dengan setelan jas merah dan tagname bertuliskan Zhou Mi di bagian dada sebelah kanan.

"Ah, selamat siang, tuan sekretaris Zhou," sapa Moon Hyunah sembari membungkuk hormat. Ia mengangguk dengan senyuman tipis, "Kalian tamu yang diundang direktur, kan? Ayo, aku antar kalian ke ruangannya,"

Mereka menoleh ke Hyunah, minta penjelasan. Namun gadis itu hanya memberi gestur agar mereka segera mengikuti pria jangkung itu.

Tim BTS pun akhirnya berlari mengejar Zhou Mi yang sudah melangkah begitu jauh dari hadapan mereka. Tidak sebelum Moon Hyunah memotret para berondong itu dan meng-upload-nya ke akun sosial medianya.

...

Seperti hari-hari sebelumnya, sekarang adalah waktu untuk makan siang. Tapi tetap saja. Saat ini akan jadi saat yang paling menyenangkan bagi para tahanan SEA. Namun dalam tanda kutip, hanya Sehun, Kai, dan Chen saja. Hanya dan hanya mereka bertiga.

"Yeay! Waktunya makan!" teriak Sehun dengan gembira sebelum menyantap ramen di hadapannya.

"Hmm~ dwelishioswo~" ("Hmm~ delicioso~")

"Kai, jangan bicara saat kau sedang mengunyah makanan," tegur Dio yang (sekali lagi) ilfeel begitu melihat mulut pria asal Spanyol itu penuh dengan potongan pizza keju.

"Kau dapat apa?"

Chanyeol menoleh ke sel Baekhyun, "Taco,"

"Tukeran, dong! Aku malah dapet lasagna, nih," pintanya dengan mata memelas. Bukan maksud ia tak suka makanan khas Italia itu. Kalau saja pelayannya dulu tidak melulu menyajikan lasagna, mungkin ia takkan merasa 'eneg' saat memakan hidangan kerabat pasta itu.

"Terus kalau kita mau tukeran makanan gimana?"

"Oh, iya, ya," gumam Baekhyun seraya menggaruk lehernya yang tak gatal.

"Sudah. Yang penting kamu masih bisa makan, kan?" tanya Xiumin datar.

"Ingat! Kapan lagi kita bisa dapet makanan mewah kayak gini?" tambah Kai dengan semangat yang menggebu-gebu. Chen menyambung, "Kalau nggak di sini," Keduanya pun ber-high five secara tak langsung.

"Ya udah. Kalian nggak usah keluar dari sini. Biar membusuk aja sekalian!"

"Aish, Kyungie gitu, deh~"

"Iya, Dio terlalu tsundere, deh,"

"Huh!"

Suho yang sedang mengunyah dim sum-nya hanya tersenyum. Pandangannya lalu bertemu dengan iris kecoklatan Lay. Lelaki ramah itu pun tersenyum padanya. Sayangnya diacuhkan oleh Lay yang melanjutkan untuk menghabiskan jatah makannya hari ini, tom yum goong.

"Ayo makan, Shao Mei. Aaaa~"

"Tao .. " desah Luhan antara kasihan dan sweatdrop menyaksikan adegan yang seharusnya diperagakan oleh seorang gadis berusia 5 tahun yang sedang bermain boneka-bonekaan. Mungkin masa kecil Tao terlalu bahagia sampai sudah dewasa pun ia masih mempraktekkan hal feminim itu.

"Kau sangat polos, ya, Zitao,"

Suasana yang semula gaduh mendadak senyap usai Kris yang entah sengaja atau tidak sengaja mengomentari pria di seberang selnya.

"Wow, Kris sepertinya tertarik pada Tao~ Ehem, ehem!" koar Kai memanas-manasi.

Tao yang berubah ke 'mode dingin mengintimidasi'-nya, setelah sekian lama tak memakai mode itu, pun men-death glare Kai sebentar, lalu menatap tajam pria keturunan Kanada di depannya yang justru tersenyum lebar. Senyum yang biasa ditunjukkan oleh seseorang yang sedang terobsesi pada sesuatu.

"Aduh, galak amat," gumam pria bernama lengkap Kim Jongin itu merinding sebagai efek dari tatapan kematian dari Tao tadi.

Semuanya pun kembali ke aktivitas mereka masing-masing, seolah kejadian tadi hanyalah angin lewat. Kecuali Kris dan Tao yang masih saling bertukar pandang. Entah sampai kapan.


x

x

x

To Be Continue

x

x

x


"Sekiranya itu saja yang dapat saya sampaikan,"

L kembali meletakkan diri di kursi kepemilikannya di antara seluruh kursi yang mengitari meja bundar yang besar itu. Ruangan itu hanya berisikan pekatnya hitam jika saja tak ada bohlam redup yang menyala tepat di atas L. Mungkin hanya ia yang terlihat saat ini, sedangkan rekan-rekannya hanya berwujud siluet belaka.

"Terima kasih atas informasinya, tuan L,"

Pria rupawan itu mengangguk bangga.

Suara yang berasal dari sosok di ujung meja itu kembali menggema, "Seperti yang kita tahu. Tujuan Kris berada di dalam penjara buatan SHIELD adalah mencari orang yang berpotensi untuk menjadi anggota baru organisasi kita. Sekarang sudah hari ke-5 dan itu berarti tinggal 8 hari lagi. Sayangnya ada kendala besar yang kemungkinan menghalangi kesuksesan misi ini. Apakah kalian tahu apa itu?"

Tidak ada yang menjawab.

"SHIELD dan aliansi superhero bodohnya,"


Maaf jika saya tak bisa memenuhi harapan kalian untuk update cepat. #deepbow

Dan terima kasih bagi yang sudah sepenuh hati menunggu chapter ini. ^_^

Terima kasih untuk yang sudah me-review dan mem-follow Justice Breaker. Jika ada kesempatan, saya akan membalas review kalian. :D

Sekiranya ini yang bisa saya sampaikan.

Bagi yang ingin berkomentar atau bertanya, silahkan review atau pm.

Sampai jumpa di next chapter.

Annyeong~ \(^O^)