Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings
Warning: AU, OOC, Slash, Mpreg, typo
Rating: T
Genre: Adventure, Romance, Drama
Pairing: HPDM
KEY OF TWILIGHT
By
Sky
1000 tahun kemudian
"Draco, cerita apa yang akan kau bacakan untuk kami nanti malam?" tanya seorang gadis kecil yang berusia kurang lebih empat tahun kepada seorang remaja laki-laki itu yang berdiri di sampingnya itu.
"Malam ini kau menginginkan cerita tentang apa, Anne?" tanya remaja berwajah manis dengan nama Draco itu.
Gadis kecil itu berpikir sejenak, tangan kanannya masih belum melepaskan genggamannya pada celana Draco. Sementara itu Draco sendiri yang merasa tidak keberatan akan tindakan Anne meneruskan memasak untuk mereka semua, namun sekali-kali ia tersenyum ketika melihat ekspresi imut dari gadis kecil tersebut. ekspresi yang diberikan oleh anak seumuran Anne benar-benar imut, dan Draco tidak bisa membantu untuk tidak memberikan senyum kepada semua itu. Dari sudut matanya ia bisa melihat Anne masih bepikir keras dan mencoba untuk memutuskan akan cerita apa yang harus Draco bacakan untuknya malam ini, sudah bukan berita baru lagi kalau Draco adalah pencerita dongeng yang baik, cerita yang ia bacakan pasti terdengar begitu hidup, dan ditambah dengan suara yang merdu itu pasti cukup mampu untuk membuat imajinasi Anne dan saudara-saudaranya berkembang dengan hebatnya.
"Apa kau sudah memutuskannya?" tanya Draco dengan lembut, ia membelai rambut pendek Anne dengan penuh kasih sayang di sana.
"Tentu, aku ingin tahu bagaimana kisah selanjutnya dari sang pangeran dengan tuan putri lagi. Apakah mereka akan bertemu lagi?" tanya Anne dengan bersemangat.
Draco tersenyum kecil, ia gembira ketika melihat tawa dari beberapa anak kecil yang duduk di meja makan dan mendengar apa yang dikatakan oleh Anne. Remaja berwajah manis itu mengangguk pelan, ia membuka oven yang ada di sampingnya dan mengeluarkan sebuah kue yang masih panas dari dalamnya. Beberapa anak yang mencium aroma enak dari kue buatan Draco itu merasakan perut mereka berbunyi dengan kerasnya, apapun yang dibuat oleh remaja berambut pirang platinum itu pasti sangat enak, mereka tidak pernah bosan memakan masakan dari kakak tertua mereka.
"Draco, baunya harum sekali. Aku ingin mencicipinya!" ujar Peter, seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang tengah duduk di meja makan sambil memperhatikan Draco memasak.
Draco memberikan senyum pada nada antusias yang Peter keluarkan, ia menyiapkan sarapan mereka semua di atas meja makan dan membantu Anne untuk duduk di atas kursinya.
"Tentu, Peter." Jawab Draco. "Tapi kue ini harus dibagi secara adil."
"Baik, Draco. kami akan berbagi dengan yang lainnya." Ujar Elric yang duduk di sebelah Peter, ia tersenyum begitu lebar dan terlihat begitu lugu. Terry yang merupakan anak keempat di sana hanya mengangguk penuh antusias.
Remaja itu menatap kempat anak kecil yang ada di sana dengan tatapan lembut, mereka adalah keluarganya dan Draco sangat menyayangi mereka semua meskipun di antara mereka tidak ada ikatan darah sedikitpun. Draco hidup di sebuah panti asuhan selama 17 tahun, ia tidak mengetahui siapa ayah dan ibunya ataupun mengetahui apakah ia memiliki keluarga atau tidak. Pernah Draco berpikir akan mengapa ia bisa berada di panti asuhan, apakah kedua orangtuanya memang tidak membutuhkan dirinya lagi dan memutuskan untuk membuangnya? Namun Draco menepis semua pikiran itu, ia tidak boleh sedih dan harus kuat sebab ia masih memiliki anak-anak ini, mereka yang ada di Panti Asuhan St. Marie ini adalah keluarganya. Apapun yang dilakukan oleh kedua orang tua kandungnya, Draco yakin kalau mereka memiliki alasan yang kuat dan Draco tidak menyalahkan mereka. Hanya satu yang Draco syukuri akan semua ini, ia bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa ia anggap sebagai saudara seperti keempat anak kecil yang ada di hadapannya tersebut.
Remaja berwajah manis itu meletakkan kue buatannya di atas meja makan, di samping sarapan nikmat yang telah ia sajikan. Dengan perlahan Draco menggendong Anne dan meletakkan gadis kecil itu di atas kursinya.
"Draco, kau sudah bangun rupanya." Ujar suara dari seorang wanita tua kepada Draco. "Aku tidak mendengarmu tadi."
Draco berbalik dan mendapati pimpinan dari panti asuhan St. Marie memberikan senyuman hangat untuknya. Wanita tua yang bernama Arabella Figg itu adalah pimpinan di tempat ini, dia adalah orang yang menemukan Draco ketika ia masih bayi, dan dia jugalah yang merawat Draco sampai ia besar seperti ini. Draco telah menganggap Arabella seperti ibunya sendiri, sebab kasih sayang yang Arabella tunjukkan padanya adalah kasih sayang yang begitu tulus dan Draco bisa merasakan semua itu, membuat hatinya begitu hangat dan bahagia.
"Selamat pagi, Arabella. Mengapa tidak kau bergabung bersama kami? Hari ini aku memasak makanan kesukaanmu." Ujar Draco, ia menyiapkan sarapan untuk Arabella yang baru saja mengambil tempat duduk di samping Peter.
"Lezat seperti biasanya, Draco." Puji Arabella setelah ia memakan sarapannya sedikit.
Draco merasakan pipinya memanas karena pujian itu, terlebih lagi anak-anak memberikan anggukan penuh antusias dan setuju dengan pernyataan Arabella. Remaja berwajah manis itu tidak mengatakan apa-apa, ia melepaskan celemek yang ia kenakan di atas seragam miliknya. Draco meletakkan benda itu dengan rapi di sebuah lemari yang tidak jauh dari sana, dan dengan mencium pipi anak-anak yang ada di sana serta Arabella, ia siap untuk berangkat ke sekolah.
"Kau tidak sarapan dulu?" tanya Arabella sedikit heran.
Draco menggeleng pelan, ia memberikan senyuman kecil, "Aku masih kenyang, kalian lanjutkan saja sarapannya. Aku harus segera berangkat ke sekolah sebelum telat."
Sebelum Arabella sempat untuk menegur Draco, remaja itu sudah pergi dari sana.
"Cepat kembali, Draco?" teriak Peter dan anak-anak lainnya.
Draco tersenyum kecil saat ia mendengar anak-anak memberinya 'cepat kembali' seperti biasanya sebelum ia pergi ke sekolah, ia berlari untuk keluar dari panti asuhan dan terus berlari sampai ke jalan. Hari ini suasana hatinya begitu gembira, ia merasa seperti orang yang telah terlahir kembali ke dunia, tanpa ada beban maupun mimpi buruk yang terus menghantuinya. Berbicara mengenai mimpi, akhir-akhir ini Draco sering sekali bermimpi aneh dan semuanya itu selalu tentang hal yang sama, namun ketika ia membuka kedua matanya Draco pasti lupa dengan mimpi tersebut. Remaja itu menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin menghancurkan mood baiknya hanya untuk memikirkan hal yang berhubungan dengan mimpinya itu, meskipun mimpi itu pertanda yang baik ataupun yang buruk, Draco tidak peduli dengan semuanya.
Saking semangatnya remaja itu berlari, ia tidak tahu kalau ada seseorang yang ada di hadapannya, dan tahu-tahu tubuh kecilnya menabrak orang itu. Satu hal yang ia ketahui setelahnya adalah Draco berada di dalam pelukan seseorang, lebih tepatnya adalah orang yang ia tabrak tadi.
"Woah... kau bersemangat sekali hari ini." Ujar sebuah suara baritone dari orang itu, ia terdengar begitu terhibur dengan tingkah Draco.
Mendengar suara itu membuat pipi Draco bersemu merah, ia segera melepaskan tubuhnya dari pelukan orang yang ia tabrak tersebut. Saat kedua mata silver kebiruan miliknya bertemu dengan sepasang mata berwarna ruby indah milik orang itu, rona merah di wajah Draco semakin bertambah merah saja. Ia menundukkan wajahnya untuk sesaat sebelum memberanikan dirinya untuk menatap pemuda tadi, ia tidak ingin mendapat marah pada pagi-pagi seperti ini.
"T...Tom, maaf aku menabrakmu." Ujar Draco sedikit gugup. "Aku tadi tidak melihat kalau kau ada di sini."
Pemuda yang bernama Tom Riddle itu menatap Draco dengan penuh kesabaran di sana, bahkan wajah tampan miliknya itu mengisyaratkan kalau ia sama sekali tidak terganggu kalau Draco menabrak tubuhnya, mungkin malah sesuatu yang sebaliknya.
"Tidak apa-apa, Draco. Aku senang karena di pagi hari ini aku bisa melihat semangat antusias di wajah manismu itu." Kata Tom
"Apa maksudmu?" tanya Draco tidak mengerti dengan perkataan dari pemuda yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri itu.
Tom memberikan senyum, "Ini adalah pertama kalinya aku melihatmu begitu ceria. Biasanya kau selalu menampakkan wajah sedih dan seperti orang yang tengah memikirkan sebuah masalah yang pelik. Aku senang karena kau bisa seceria ini."
Draco menatap figur kakaknya itu, "Oh, aku tidak menyadari sebelumnya. Mungkin itu diakibatkan dari mimpi yang sering aku alami."
"Mimpi?" tanya Tom, ia menatap wajah Draco lekat-lekat.
Draco mengangguk pelan, keduanya berjalan menuju arah sekolah Draco berada.
"Iya, hampir setiap malam aku pasti memimpikan sesuatu, dan kurasa mimpiku ini tidak begitu normal. Seperti aku pernah mengalami hal itu sebelumnya, namun aku tidak ingat kapan dan di mana. Tapi, setiap kali aku membuka mata, aku sudah tidak mengingatnya." Kata Draco dengan jujur. "Namun kepalaku akan terasa sakit kalau aku mencoba untuk mengingatnya."
Tom tidak memberikan komentar akan apa yang dikatakan Draco, ia diam dan menatap ke arah jalan, namun sesekali ia menyipitkan matanya sebelum ekpresinya berubah netral dan tersenyum seperti tadi. Dua menit kemudian ia pun menghentikan langkahnya, Tom mengambil sebuah bungkusan kecil dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Draco.
"Draco, ambil ini." Ujar Tom.
"Eh, apa ini?" tanya Draco saat ia menerima bungkusan itu.
Tom tersenyum kecil, "Ini adalah buku karangan Alfred Weltsfer, 'The Moon Princess' yang kau inginkan itu. Aku berhasil mendapatkannya dua hari yang lalu, mungkin dengan ini kau bisa menceritakan dongeng tentang putri bulan kepada anak-anak."
"Tom, terima kasih banyak. Aku berjanji akan membacakannya untuk anak-anak di setiap malamnya." Kata Draco, ia sedikit terharu dengan pemberian dari Tom ini. Ia tahu kalau buku ini termasuk buku yang langka dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bagaimana Tom bisa mendapatkannya itu masih menjadi misteri bagi Draco.
Draco menggenggam buku itu di dadanya, dengan ekspresi begitu terbuka remaja manis itu menatap lurus ke depan, tepat ke arah Tom yang memberinya senyum kecil di wajah tampannya. Sebuah angin semilir mengalir menuju ke arah mereka berdua, membuat bulu kuduk Draco berdiri secara perlahan, ia memejamkan kedua matanya saat reaksi yang begitu asing namun terasa begitu nyaman pada saat yang sama menusuk kulitnya, serasa ada sesuatu yang terus memperhatikannya namun Draco tidak tahu apa itu. Jantung Draco berdetak begitu keras saat ia merasakan hal sama yang pernah ia rasakan ketika berada di alam mimpi, remaja itu membuka matanya dan menoleh ke belakang, tetapi apapun yang membuat perasaan tersebut muncul sama sekali tidak ia temukan, hanya hamparan kosong yang tidak terbatas.
"Draco, apa kau baik-baik saja?" tanya Tom, ia terlihat begitu khawatir saat melihat wajah Draco yang sedikit pucat itu.
Remaja berwajah manis tersebut menggelengkan kepalanya secara pelan, perasaan aneh itu hilang secara tiba-tiba ketika Tom bertanya padanya, apapun itu Draco tidak ingin mengetahuinya dan tidak berharap untuk ambil bagian di sana.
"Iya, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir seperti itu." Jawab Draco lembut.
"Baiklah kalau kau mengatakan begitu." Ujar Tom, ia melihat jam tangannya dan dengan senyum kecil ia berkata lagi, "Aku harus segera pergi, nanti kita bertemu lagi, Draco."
"Baiklah, sampai jumpa, Tom."
Tom mengangguk pelan sebelum ia bergegas dari sana, meninggalkan Draco sendirian di tempat itu. Remaja tersebut memperhatikan punggung Tom saat pemuda tersebut berjalan meninggalkannya, dan ia terus memperhatikan sosok yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu menghilang dari sana. Setelah sadar Tom sudah pergi, Draco menatap bingkisan kecil yang berisi buku dari Tom, ia mengambil nafas perlahan sebelum memasukkannya ke dalam tasnya dan bergegas pergi menuju ke arah sekolahnya.
Selama perjalanan menuju sekolahnya, lagi-lagi Draco merasakan aura yang sama. Namun kali ini terasa begitu sangat kuat, cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih keras lagi. Draco menggenggam kemeja di dada kirinya tepat di mana jantungnya berada, aura itu kali ini terasa lebih familier, sebuah perasaan yang Draco sendiri tidak yakin apa itu namun sepertinya ia pernah merasakannya dan menemukan dirinya sangat nyaman dengan itu semua.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" gumamnya pada dirinya sendiri, lambaian angin yang berhembus ke arahnya itu membelai wajah dan rambutnya dengan lembut, membuat perasaan Draco begitu tentram.
Blaise memperhatikan remaja manis yang bernama Draco Malfoy itu dengan senyuman kecil di wajah tampannya, ia tidak mengerti mengapa Draco masih belum mengingat semuanya padahal ia tahu kalau segel yang mengikat semua ingatan di masa lalunya akan terbuka di malam ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun, tapi sampai saat ini Draco masih belum mengingat apapun. Untuk kesekian kalinya Blaise menghela nafas panjang, ia menyandarkan dirinya pada sandaran bangku taman yang tengah ia duduki di sana.
"Kyaa... Draco semakin manis saja. Setiap kali aku memperhatikan dia, my sweet darling Dray-co semakin manis saja." Ujar seorang remaja perempuan dengan begitu antusias, membuat Blaise ingin menguburnya secara hidup-hidup. "Kau setuju denganku 'kan, Blaise?"
"Terserah apapun katamu, Pans." Jawab Blaise pasrah.
Gadis yang bernama Pansy itu semakin antusias saja setelah mendengar jawaban dari Blaise, ia tidak sabar untuk bertemu dengan Draco lagi setelah sekian lamanya. Mungkin Pansy harus mengajak Draco berbelanja ke beberapa toko dan mendandani Draco dengan baik, Pansy tidak suka melihat penampilan Draco yang terlalu sederhana seperti yang ia tampilkan sekarang ini. Demi Merlin, Draco itu adalah seorang pangeran dan sebagai seorang pangeran ia harus berpenampilan bagus. Meskipun demikian, Pansy tidak bisa membantah kalau Draco terlihat begitu manis dalam baju apapun yang ia kenakan, bahkan dengan baju kalangan masyarakat bawah saja Draco masih terlihat begitu bangsawan seperti sekarang.
Pansy sudah memutuskan, dan apapun yang Pansy putuskan pasti akan ia lakukan. Misinya kali ini selain untuk melindungi sang pangeran adalah mengajak Draco berbelanja dan mendandaninya dengan baik serta layak.
Blaise sendiri yang melihat api semangat di kedua mata Pansy hanya bisa pasrah, ia tidak mau memprotes temannya itu sebab ia masih sayang dengan nyawanya, ia hanya berdoa kepada apapun agar Draco tetap hidup setelah Pansy mempermaknya secara permanen atau kalau tidak maka Harry yang akan membunuh mereka berdua. Memikirkan kemarahan Harry saja sudah mampu membuat Blaise merinding ketakutan.
"Berbicara mengenai Draco, bagaimana mungkin segel yang melekat pada ingatan Draco masih belum terlepas setelah ulang tahunnya yang ketujuh belas?" tanya Blaise, ia menggunakan tangan kanannya sebagai tumpuan dagunya.
Pansy yang telah tersadar dari 'fangirl' momennya langsung menatap ke arah Blaise dengan tatapan yang sama penasarannya, ia membelai rambut hitam panjangnya dengan perlahan sebelum fokus pada foto Draco yang ada di tangan kanannya.
"Segel yang Dumbledore ciptakan itu secara otomatis akan segera hilang saat Draco menginjak usia dewasa, aku sendiri juga tidak mengerti mengapa semuanya begitu melenceng dari rencana yang Dumbledore buat." Jawab Pansy. "Padahal waktunya begitu menipis."
"Apa ini ada kaitannya dengan sihir milik Harry?" tanya Blaise lagi.
"Mengapa kau berkata demikian?" tanya Pansy balik, ia menatap Blaise yang duduk di sampingnya itu.
Blaise menggeleng pelan, "Aku sendiri juga tidak tahu, perasaanku berkata demikian." Jawab Blaise, "Hatiku mengatakan kalau Harry telah melakukan sesuatu tentang semua ini."
Pansy memejamkan kedua matanya, ia menyenderkan kepalanya pada bahu Blaise, "Mungkin yang kau katakan memang benar, kalau Harry melakukan ini semua maka Dumbledore sendiri tidak bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya."
Mereka berdua diam untuk sesaat, baik Pansy dan Blaise larut dalam pikiran mereka masing-masing namun keduanya masih merasa khawatir pada seorang remaja berwajah manis layakanya seorang malaikat yang bernama Draco Malfoy itu. Mereka berdua bukanlah manusia biasa seperti layaknya, mereka berdua adalah dua dari beberapa orang yang memiliki ikatan takdir kuat yang tidak pernah putus meski terkoyak dalam kekangan sihir sekuat apapun, takdir yang mereka berdua miliki telah tertulis ketika mereka dilahirkan di dunia ini, entah itu adalah sebuah hadiah maupun sebuah kutukan mereka berdua tidak mengerti. Yang ada di pikiran mereka adalah satu, mereka harus melindungi Draco dari semua orang atau makhluk yang mengincar nyawanya, seperti yang telah mereka berdua lakukan di kehidupan sebelum ini.
"Blaise." Panggil Pansy dengan perlahan, ia masih menyenderkan tubuhnya pada Blaise.
"Hmm, apa?" tanya Blaise.
"Berbicara mengenai Harry, di mana dia sekarang ini?"
Blaise yang sedikit terkejut dengan pertanyaan dari Pansy hanya bisa menggeleng pelan, "Jujur, aku sendiri juga tidak tahu. Orang itu menghilang sejak sepuluh tahun yang lalu dan tidak terlihat atau terdengar lagi akan di mana keberadaannya, namun aku bisa merasakan sihirnya menyelimuti Draco dengan sangat kuatnya." jawab Blaise.
"Begitukah? Dia selalu datang dan pergi seenaknya." Komentar Pansy, ia memberikan senyuman sedih di wajah cantiknya, "Dari kita semua, Harry-lah yang paling menderita atas semua ini. Kepergian Draco adalah pukulan telak bagi kita semua, namun begitu kuat untuk Harry. hal ini membuatnya semakin dingin dari biasanya, kelihatannya aku tidak akan pernah mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu."
"Begitu juga denganku, Pans. Harry adalah misteri yang tidak pernah dipecahkan oleh siapapun."
Tiba-tiba senyuman Pansy berubah sedikit cerita, "Kecuali oleh Draco tentunya."
"Kali ini kau benar lagi, aku tidak meragukannya." Hanya itu jawaban dari Blaise sebelum remaja dari Italia tersebut diam untuk sesaat, mendengarkan kicauan burung yang terbang di atas mereka berdua.
Di manapun sang ksatria itu berada, mereka yakin kalau ia akan terus melindungi sang pangeran, meskipun itu artinya adalah mengorbankan nyawanya di tengah perjalanan. Takdir yang menyelimuti mereka adalah sebuah ironis yang tidak bisa mereka hindari, sekuat apapun mereka pasti sang Lady Fate akan terus menemukan mereka. Dan itulah takdir dari ksatria Walpurgis.
AN: Terima kasih sudah membaca
Author: Sky
