Yooo, semuanyaaaa..!! XD Ehem, pertama-tama kami mau mengumumkan kalau kemungkinan besar di fic ini tidak ada lemon, paling cuma slight aja. Sebab walaupun ratenya M, kami lebih menekankan Horrornya saja (^^)a
Mohon maaf kalau ada yang kecewa, soalnya yang suka lemon di antara kami cuma Kira aja. Jadi kami mengubah genrenya jadi Horror/Supranatural. Kami akan berusaha sebaik mungkin, agar fic ini tidak mengecewakan X3
Baiklah. Selamat membacaaa..!!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
: STOIC NECROMANCER :
a story about a corpse controller
by kuroi kira, cumanakecil, syllie charm
--
CHAPTER 2
Sakura POV
Aku sampai di rumah yang mewah itu. Bagaimana tidak mewah? Rumah ini dimiliki oleh klan Uchiha klan yang notabene paling kaya raya sekaligus paling tragis kisah hidup keluarganya di Konoha ini. Ya, aku akan tinggal di sini dan meninggalkan kosku yang bobrok itu. Memang sih, harusnya aku senang bisa tinggal di rumah mewah seperti ini. Tapi untuk kasus kali ini aku akan lebih memilih tinggal di kos bobrok itu daripada harus tinggal bersama seorang necromancer yang bisa saja memanggil mayat hidup sewaktu-waktu. Hii, baru membayangkannya saja aku sudah merinding.
Yah, kuakui kalau aku ini memang penakut. Apalagi untuk yang namanya hantu, tempat gelap dan yang sebagainya. Dan karena sifat penakut ini kadang lariku bisa lebih cepat dari dugaanku. Nah, pada hantu yang berwujud roh dan seharusnya tak dapat menyentuh tubuhku saja aku sudah takut, apalagi mayat hidup? Dengan tubuh asli seperti manusia biasa yang sudah membusuk, dan tentunya bisa.. Hiii, jangan dibahas, aku tak dapat membayangkan apa-apa lagi.
"Sakura-chan?"
Oops. Sepertinya orang yang berjalan di sebelahku ini menyadari kalau aku sedang melamun. Aku langsung mendongak dan menatap mata onyxnya yang lembut, berbeda dari adiknya. Dialah Itachi Uchiha, orang yang menyelamatkanku tadi. Ah, kalau saja tadi tidak ada dia, aku pasti—oke oke, kalian pasti tahu maksudku.
"I.. Iya Itachi-san?" tanyaku gugup. Itachi tersenyum.
"Kau takut ya? Tapi wajar saja sih, kamu kan manusia biasa, berbeda dengan kami." jelas pemuda itu. Kedua mata onyxnya memandang menerawang ke depan sementara aku menatapnya bingung.
"Maksudnya.. Itachi-san dan Sasuke bukan manusia?" tanyaku polos. Mata emeraldku membulat, memandang ingin tahu kepada Itachi yang hanya tertawa kecil.
"Hmm, susah menjelaskannya. Tapi yang jelas kami adalah necromancer, selebihnya kami tidak tahu. Tapi ada yang bilang juga, klan Uchiha itu seperti setengah manusia setengah setan—tapi aku tak suka dibilang setan." jelas Itachi panjang lebar. Aku terdiam.
Pemuda Uchiha di sebelahku melirik sejenak. Sepertinya ia tahu kalau aku jelas masih tidak mengerti. Lagipula.. Apa tadi? Necro—ah, semacam itu. Aku tidak pernah dengar. Maka Itachi hanya menghembuskan napas dan tersenyum kecil.
"Kalau kau mau tahu lebih banyak, tanya saja pada Okaasan, beliau ada di sebelahmu."
Menelah ludah, aku menoleh dengan pelan— takut dan gemetar tentunya. Seperti menyadari dia dibutuhkan, ibu dari Itachi yang harusnya sudah meninggal 3 tahun lalu itu pun menoleh padaku dengan tatapan tajam dari bola matanya yang sudah memutih.
"A.. pa?" tanyanya dengan suara yang mengerikan. Aku gugup dan lagi-lagi menelan ludah. Tubuhku semakin gemetar. Oh Kami-sama, baru beberapa menit aku bersama keluarga mengerikan ini dan sekarang aku sudah harus berinteraksi dengan mayat hidup? Keringat dingin mulai meluncur turun dari pelipisku ketika aku melangkahkan kaki ke belakang, mundur dan langsung mencengkram erat pergelangan tangan Itachi.
"A—anoo, euh.." aku melirik pada Itachi, menyeringai gugup. Dengan bodohnya bahkan aku tidak sempat menanyakan nama ibunya. Bagaimana aku bisa memanggil dengan sopan kalau seperti ini? Kurasa wanita di sebelahku ini tidak akan suka jika dipanggil dengan 'zombie-san'.
Dan untungnya pemuda disebelahku ini mengerti. Ia nyengir sesaat dan berbisik. "Mikoto Uchiha." ah, untunglah ada Itachi, ia pengertian sekali. Aku harus berterima kasih nanti.
"Anoo—Mikoto-san, aku.. Ingin tahu lebih banyak tentang necromancer. Bo—boleh?" tanyaku terbata-bata. Lama kutunggu tidak ada jawaban sampai akhirnya dia membuka mulutnya.
"Dahulu.. Bertahun-tahun yang lalu, saat klan ini terbentuk.. Awalnya kami semua.. Sama seperti klan lain, kami manusia biasa.. Tapi itu tidak bertahan lama.. Sejak sempat terjadinya kejatuhan Uchiha.. Yang waktu itu, klan ini dipimpin oleh.. Madara Uchiha." jelas Mikoto, dengan suara serak dan dingin khas zombie yang sering kulihat di televisi—bahkan aku tidak pernah membayangkan akan mendengar suara yang persis secara langsung. Tetapi.. Aku tidak boleh menunjukkan kalau aku takut. Maka aku hanya tersenyum sebisa mungkin dan serius mendengarkan.
Kami semua menghentikan langkah ketika Mikoto melanjutkan. "Setelah itu.. Madara yang putus asa, meminta bantuan kepada setan.. Yang entah bagaimana caranya.. Dia dan setan.. Membuat perjanjian, yaitu.. Kebangkitan Uchiha.. Ditukarkan dengan setengah raga seluruh anggota klan Uchiha tanpa terkecuali untuk selamanya.."
"Tapi.. itu berarti kalau dikuasai setan, kalian tidak akan bisa melakukan apa-apa kan? Tapi kenapa malah bisa membangkitkan mayat hidup? Berarti seharusnya kalian yang menguasai setan itu kan?" aku mulai tidak mengerti. Ceritanya mulai tidak masuk akal. Dan entah darimana aku bisa mendapatkan keberanian untuk bertanya pada makhluk di hadapanku i—
.
Namun sepertinya pilihanku untuk bertanya adalah pilihan yang salah.
.
Mikoto tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan memasang tatapan dingin padaku. Matanya yang kosong itu seakan menusuk tubuhku, dan air mukanya terlihat geram. Aku bisa merasakan aura setan mulai merasuk di antara kami. Akupun spontan menutup mulut dengan tangan dan makin mencengkram erat pergelangan tangan Itachi.
"Sudahlah Okaasan, gadis ini hanya ingin tahu. Tak apa-apa, kan?" kulihat Itachi tersenyum lembut, menenangkan wanita di depanku ini. Otakku sudah tak bisa lagi berpikir tentang hal yang membuat zombie itu marah. Adakah kata yang salah? Namun kulihat pandangan Mikoto mulai kembali seperti semula. Aku menghembuskan napas tertahan. Ah, dua hutang budi untuk sang sulung Uchiha.
"Memang.. Setan yang rakus sudah terlebih dahulu menguasai tubuh seluruh anggota klan Uchiha padahal Madara sendiri belum menyetujui perjanjiannya.. Awalnya seluruh klan Uchiha panik, tapi Madara yang licik mendapat ide.. Dia bilang pada setan, dia tidak jadi mengikuti perjanjian.. Alhasil, para setan kecewa dan mulai meninggalkan satu persatu tubuh klan kami.. Dan pada saat itulah Madara menyadari jikalau saat itulah titik kelemahan mereka.. Pemuda itu langsung menyerang para setan tersebut dan membuat mereka tunduk pada klan Uchiha.." ungkap Mikoto. Aku terbengong, membayangkan hal yang secara akal sehat manusia tidak mungkin tersebut. Manusia mengalahkan setan?
Tanpa membiarkanku bertanya, wanita itu melanjutkan pernyataannya kembali. "Klan Uchiha.. Mendapatkan kembali kejayaannya dan kehormatannya. Juga yang terpenting.. Kekuatan baru, membangkitkan orang mati.." aku masih terdiam dan memutar otak. Benar-benar tidak masuk akal. Tetapi.. Ini nyata. Oh, dan bahkan sekarang aku harus mulai memercayai hal-hal yang tidak mungkin. Satu hari ini pasti akan merubah hidupku selamanya.
Deg.
Namun tiba-tiba Mikoto menoleh dengan cepat padaku. Kedua mata putihnya berkilat menyeramkan. Ah, kalau saja aku bisa bergerak, aku pasti akan melompat saat ini juga. Pandangannya benar-benar menusuk. Namun kedua kakiku hanya gemetar dalam diam. Kedua mata emeraldku bertemu dengan mata kosongnya saat ia mulai membuka suara.
"Saya.. harus pergi.. Sasuke.. memanggilku."
Dan zombie itu segera berjalan meninggalkan Itachi dan aku yang masih terpaku. Berjalan dalam diam dan akhirnya menghilang dalam gelapnya malam. Aku spontan menyentuh tempat dimana jantungku berdetak dengan cepat. Oh ayolah, hanya begini saja aku sudah takut setengah mati, bagaimana bila tinggal bersama zombie itu nanti? Aku menggelengkan kepala pelan, mengusir pikiran menyeramkan yang sedari tadi melintas di benakku. Mau tak mau aku harus berani.
"Karena itu, Sakura aku memilihmu sebagai istri Sasuke."
Suara Itachi yang tiba-tiba membuatku lagi-lagi terlonjak. Great. Apakah sekarang aku harus terkaget-kaget setiap saat? Namun aku hanya menoleh pada pemuda di sebelahku ini sambil mengangkat sebelah alis, tak mengerti.
"Maksudnya?"
Itachi mengalihkan pandangan, memandangi bebatuan kerikil di bawah kami. "Klan Uchiha saat ini tinggal aku dan Sasuke. Kami berdua dirahasiakan sebagai necromancer karena pendahulu kami sudah mati semua karena dikejar berbagai organisasi sampai kakekku mengatakan kami sudah bukan necromancer dan memberikan bukti yang cukup meyakinkan. Setelah itu, kami mulai membangkitkan orang mati secara diam-diam."
"Dan tak disangka ibu kami meninggal bersama ayah karena kecelakaan. Mau tak mau, kami harus mencari pasangan manusia biasa walaupun kemungkinannya kecil akan mendapat kembali penerus necromancer." jelasnya lagi.
"I.. Iya sih, tapi aku—"
"Sakura-chan, kita pulang dulu. Sasuke pasti bosan menunggu." potong Itachi, seolah tidak mau memberiku kesempatan untuk beralasan menolak hal ini. Lagipula.. Siapa yang tidak protes ketika tiba-tiba dijodohkan dengan orang yang tidak dikenal? Menyeramkan pula, menyebalkan—ah, aku kesal dengan wajah sok dinginnya si Sasuke itu. Tetapi untuk saat ini aku hanya bisa diam dan mengikuti Itachi. Yah, setidaknya untuk saat ini.
.
.
: Di rumah keluarga Uchiha :
"Lama sekali kau pulang, Itachi!?" dengus Sasuke dengan kesal saat aku dan Itachi baru saja membuka pintu depan. Dan begitu Sasuke melihatku, dia langsung memutar mata onyxnya dengan menyebalkan. Pemuda itu berlaku seolah membuang ludah dan membalikkan badan. Mau tak mau aku kesal juga. Siapa yang tidak suka diperlakukan seperti itu?
"Sasuke, apa itu hal yang pantas kau tunjukkan pada gadis yang akan jadi calon istrimu?" tegur Itachi. Dan sang bungsu Uchiha itu membalikkan badan dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Mata onyxnya menatap sinis pada kami.
"Kau—menentukan seenaknya, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah bisa memilih sendiri calon istriku, aku muak hidup dengan diatur terus olehmu!" bentak Sasuke. Aku spontan tertunduk, tak kusangka penolakan Sasuke begitu menusuk hatiku. Sebegitu menyebalkan kah aku di matanya?
Namun Itachi hanya membalas bentakan adiknya dengan suara pelan. "Lalu? Kau sudah menemukan calon istrimu?" Sasuke membuang muka, sepertinya tidak bisa menjawab. Dan hal itu membuat sang sulung Uchiha menyeringai.
"Tuh kan, orang kaku sepertimu pasti susah. Sudahlah, lagipula Sakura-chan cantik kok. Aku bisa membaca pikirannya, dan aku yakin dia orang baik." bela Itachi sambil tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya segera. Oke, tiga hutang budi dimenangkan olehnya.
"Jangan sombong, mentang-mentang terlahir sebagai necromancer yang sempurna, aku semakin muak padamu." jawab Sasuke dengan penekanan di setiap katanya. Membuat aku bergidik ngeri. Kemudian dia berjalan lurus, seakan tak mempedulikan kami. Aku semakin bingung, apa yang dimaksud Sasuke dengan 'necromancer sempurna'?
"Pada dasarnya, necromancer hanya bisa membangkitkan dan mengendalikan orang mati sesuka hati. Tapi tidak bagiku, yang bisa membaca pikiran orang dan menyegel kekuatan necromancer lain, dari dulu Sasuke iri padaku yang selalu disebut-sebut necromancer jenius, atau necromancer sempurna, dan semacamnya. Itu kan yang kau ingin tahu Sakura-chan?"
Aku tersentak. Memangnya aku menggumamkan pikiranku tadi—ah, sepertinya kekuatan Itachi yang bisa membaca pikiran orang lain itu memang benar.
"Nah, kau percaya kan kekuatanku? Ah, sudah malam. Aku antar ke kamarmu, ya?" ajak Itachi. Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya. Kami menaiki anak tangga menuju lantai dua, di sana hanya ada satu kamar. Dan ketika Itachi membukanya, lagi-lagi kedua mata emeraldku membulat. Sedang apa Sasuke di dalam? Aku melihat pemuda itu sedang membaringkan tubuhnya di kasur. Dan sama sepertiku, ketika mata kami bertemu, ia spontan terbangun dari tidurnya. Sepertinya tidak menyangka kami akan masuk ke kamar ini. Air mukanya terlihat geram.
"Kau lagi! Sedang kalian ke sini? Keluar! Ini kamarku, tahu? Seenaknya saja kalian melanggar wilayah privasi!" bentaknya. Sasuke mendengus kesal sementara Itachi tampak memutar kedua bola matanya sebal.
"Bolehlah Sasuke, masa' kau mau membiarkan seorang gadis tidur di luar sementara kau di sini enak-enakan? Dasar, kau ini laki-laki atau bukan sih?"
Sasuke menggertakkan giginya dan memasang tampang tak suka. Namun mau tak mau pemuda itu akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat ke arah pintu. Melewati kami yang masih berada di depan pintu dan..
BRAK!
Pintu pun dengan sukses terbanting dengan keras. Nyaliku langsung turun. Zombie saja sudah membuatku enggan tinggal di tempat ini. Dan kini ditambah dengan orang menyebalkan? Hah, semoga aku sabar tinggal di tempat ini.
Namun Itachi hanya tersenyum lembut dan menuntunku untuk masuk ke dalam kamar. "Wow, gomen ne Sakura-chan—aku tahu ia menyebalkan tapi kau harus sabar, ya? Sudah masuk tengah malam, kau harus tidur. Besok baru kita ambil barang-barangmu di kos." pemuda itu membiarkanku untuk duduk di atas tempat tidur. Ah, aku sampai bingung mau berkata apa lagi, maka aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu dia membalas tersenyum padaku dan keluar sambil menutup pintu.
Aku mengamati kamar tidur ini. Cukup luas untuk kamar satu orang. Aku menjelajahinya tiap sudut, tertarik dengan beberapa furniture yang ada di sini. Merasa tertarik dengan beberapa barang yang ada di sini.
.
Namun atmosfer tiba-tiba berubah.
.
Aku terdiam, tidak berani untuk bergerak. Aku bisa merasakan kembali bulu kudukku yang merinding. Aku mengusap tengkukku dan menelan ludah. Entah kenapa hawanya terasa mencekam. Tapi aku berusaha untuk wajar saja, sebab ini kan kamar seorang necromancer. Aku menoleh kesana kemari, tidak ada yang aneh. Dan saat mulai merasa mengantuk dan melangkah perlahan mendekati tempat tidur, tiba-tiba..
WUUUUUUSSSH
Aku tersentak. Angin dingin bertiup sangat kencang sampai-sampai gorden yang menutupi jendela besar di samping kanan kamar ini terbuka lebar. Menyibakkan rambutku. Membelai tengkukku. Aku bisa melihat beranda yang sepi itu dari sini, dan entah kenapa bulu kudukku kembali merinding. Dengan segera, aku menutup jendela besar itu lalu membaringkan tubuhku di atas kasur. Menutup mata dan telinga, mencoba untuk tidak berpikiran yanga aneh dan berusaha untuk tertidur. Namun lagi-lagi..
TAP
TAP
TAP
Degup jantungku berdebar sangat cepat. Tubuhku serasa kaku. Aku yakin baru saja mendengar suara langkah kaki kecil. Samar. Aku berusaha mengumpulkan keberanian lalu bangkit dan dengan cepat menyibak gorden lebar itu.
Srak.
.
Kosong.
Aku tertegun, tidak ada siapapun di sana. Aku menoleh ke samping kanan dan kiri, namun tetap tidak ada siapa-siapa. Aku menggigit bibir bawahku dengan cemas lalu kembali kututup gorden itu. Dan baru saja berbalik..
"Kak, ayo main..."
DEG! Su.. Suara siapa itu? Siapa? Seperti anak kecil? Siapa? Kakiku serasa terpaku pada lantai, tidak bisa bergerak maju ataupun mundur. Berkali-kali aku menelan ludah, berusaha berpikir itu hanya ilusi. Aku menarik nafas berkali-kali, dan suara itu tidak muncul lagi. Aku bernafas lega, walaupun begitu aku masih saja tetap penasaran sampai akhirnya aku kembali membuka gorden.
Srak.
"Kita main yuk, kak?"
DEG.
Sepasang mata. Menatap. Kosong. Putih. Merasuk ke dalam iris emeraldku yang membulat sempurna. Tepat berada di depan hidungku.
Mulutku terkunci. Seorang anak laki-laki berambut pirang sebahu berada di sana. Berpakaian seperti seorang bangsawan Inggris tahun 50an, tengah menempelkan kedua telapak tangannya di jendela sambil tersenyum padaku. Kulitnya berwarna putih pucat, nyaris tak berwarna dengan banyak goresan merah di sana-sini. Bercak-bercak darah terlihat mewarnai baju indahnya. Ia seolah memintaku untuk membukakan jendela besar itu. Aku gemetar. Melangkahkan kakiku ke belakang dan spontan berteriak.
"KYAAAAAAA..!!"
Aku langsung berlari ke atas kasur dan segera menutupi dengan selimut, sampai kepala. Tubuhku gemetar bukan main, tidak bisa tenang. Terbayang kembali wajah polos sang bocah yang berada di jendela tadi. Pandangannya yang menusuk, senyumnya yang polos.. Memang sepintas anak itu tampak seperti anak biasa saja, tetapi perasaanku mengatakan lain.
Kami-sama.. Kuharap dia bukan.. Bukan..
BRAAK
DEG!
A—apa itu tadi? Apa yang terjadi? Aku spontan menutup kedua mataku, berusaha menulikan telinga agar tidak mendengar apa-apa. Aku menggigit bibir bawahku cemas. Lagi-lagi jantungku berdegup kuat sampai terasa sakit. Aku terlalu tegang. Tak salah lagi, itu adalah suara jendela besar yang terbuka.
Dan senyum sang bocah terbayang kembali di benakku. Menghantui pikiranku.
TAP
Telingaku tidak bisa diajak kerjasama. Aku mendengar suara langkah. Lagi.
TAP
Ia semakin dekat. Kami-sama.. Selamatkanlah aku!
TAP
Langkah kaki kecil yang begitu itu terdengar semakin mendekat ke arahku. Aku menutup mataku takut. Berharap semua ini hanya mimpi. Dan sesaat suasana hening, aku berharap bocah—atau makhluk apapun itu pergi. Tapi, aku terpaksa harus membuang pikiran itu jauh-jauh saat merasakan sesuatu menyentuh selimut yang menutupi tubuhku. Mencengkramnya dan menggoyangnya pelan.
"Kak kak, ayo main.."
"TIDAK!! TIDAK!!" jeritku, menggelengkan kepala sambil menggigil hebat. Apa yang akan ia lakukan padaku? Kurasakan kedua mataku mulai memanas. Aku takut. Sangat.
"Kenapa kakak nggak mau main sama aku?"
"TIDAAAAAAK!! POKOKNYA TIDAK MAU!!" raungku, berusaha menahan tangis. Tubuhku gemetar hebat. Dan beberapa saat kemudian, sentuhan di selimutku itu berhenti. Aku membuka mata dan melirik takut, tak berani untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sana. Oh, kuharap ia pergi.. Kuhara—
"Kakak, benci sama aku?"
Namun ia masih disana. Menunggu.
"Kalo nggak jawab, berarti kakak nggak benci kan?"
Aku tak bisa menjawab. Kotak suaraku tak mau mengeluarkan suara seperti biasanya. Menyangkut di tenggorokan. Maka aku hanya menggelengkan kepala sembari menutup telinga. Sungguh, suara anak itu kini terngiang-ngiang di telingaku. Ingin rasanya melupakannya, tetapi tak bisa. Aku menutup mata. Menanti apa yang akan terjadi berikutnya.
"Ya sudah, kalo gitu biar aku yang main.." jawabnya. Aku menghembuskan napas lega, kupikir dia menyerah dan pergi meninggalkanku. Tapi..
"AAAAARGH!!"
Aku berteriak kesakitan. Air mata yang sedari tadi kutahan kini mulai menitik, saat kurasakan beberapa rambutku yang masih di luar selimut dijambak paksa olehnya. Aku spontan memegang rambutku. Tarikannya sangat kuat, sampai-sampai kepalaku serasa mau putus. Aku bertahan sebisanya, dan kurasakan selimut yang menutupi tubuhku ditarik turun.
.
Perlahan.
.
Dan mataku membulat untuk yang ke sekian kalinya. Yang kulihat bukan lagi bocah yang polos dan tersenyum. Melainkan monster. Dengan mata merah darah. Senyumnya yang tadi lucu, sekarang terlihat menyeramkan dengan mulut yang lebar dan kelihatan bertaring. Bau amis menguar dari sekujur tubuh monster itu. Amis—bau darah manusia. Wajahnya kini menjadi sangat tirus, menampakkan lekuk-lekuk tengkorak yang hanya dilapisi oleh kulit yang kelewat pucat. Jari-jarinya mengeluarkan kuku sepanjang rambutku.
Dan ia menyeringai.
"AAAAKH!"
Monster itu mengarahkan tangan berkuku panjangnya ke arah leherku dan mencekiknya dengan keras. Aku berusaha bertahan. Cengkramannya kuat sekali, tidak wajar untuk anak yang berusia sekitar 8 tahunan itu. Air mataku kini telah mengalir lagi. Aku menangis sejadinya.
"TIDAAAKK!! Akh, to.. TOLOOONG, AHK!!" teriaku sembari meronta ketakutan. Napasku sudah tersendat-sendat. Cekikannya semakin kuat. Mataku mengerjap. Perlahan kurasakan tenagaku melemah. Mulutku sudah tidak bisa mengambil nafas lagi, seolah aku sudah siap menemui ajal.
Aku menutup mataku. Pasrah. Disinikah harus kuakhiri hidupku?
Sampai akhirnya, samar-samar aku mendengar suara yang tegas dari arah pintu kamar.
"HENTIKAN ERIC!! JAUHI GADIS ITU!!" teriakan itu bergaung di kamar. Aku berusaha membuka mata, tapi percuma, penglihatanku semakin memudar. Akhirnya aku hanya mengandalkan pendengaranku yang perlahan juga mulai berkurang, sepertinya aku akan pingsan. Atau bahkan..
Mati?
Kurasakan cekikan tangan anak itu melemah, dan akhirnya bisa sedikit mengambil nafas. Fuh, untunglah, sepertinya aku tidak ditakdirkan untuk mati sekarang.
"Ahk, ohok, ohok."
Walaupun sudah bisa menarik napas, saluran pernapasanku masih kacau. Aku terbatuk sembari memegang dadaku yang sesak. Namun kemudian aku merasakan tangan yang besar dan hangat menyapu rambutku dan memegang keningku. Kepalaku benar-benar sakit, pening. Sebentar lagi pasti aku akan kehilangan kesadaran. Mataku menyipit. Pandanganku mengabur. Lalu kudengar suara terakhir itu..
"Jangan pernah mengganggu gadis ini, Eric! Aku tidak mau sampai di marahi Itachi gara-gara ini! Mungkin memang lebih baik jika kau dilenyapkan dulu.."
"AAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK..!!" teriakan melengking menggema di sekitar kamar. Memantul ke setiap sudut. Kupingku sakit. Kepalaku—argh..
Dan teriakan itu menjadi pengiring kesadaranku yang akhirnya menghilang sepenuhnya.
.
.
.
Pagi datang. Perlahan kesadaranku kembali. Aku membuka mataku pelan-pelan, dan sinar matahari yang menerobos masuk langsung menyilaukan mataku. Setelah terbiasa, akhirnya aku bisa melihat jelas seseorang di depan jendela—jendela yang kemarin menjadi media bocah itu untuk masuk ke kamar ini. Sosok itu menatapku dingin.
"Sasuke ya?" tanyaku ragu, berusaha menegakkan diri. Aku memijit pelipis kananku yang masih berdenyut. Pusing. Lalu tiba-tiba keseimbanganku hilang. Aku merasakan tubuhku terhuyung ke pinggir tempat tidur. Dan tepat sebelum aku terjatuh..
Bruk.
Kurasakan sesuatu menahan tubuhku.
"Kau masih belum pulih benar. Istirahat saja lagi," tukas Sasuke. Wajah stoicnya berhadapan langsung dengan wajahku. Kurasakan kedua tangannya menopang tubuhku. Sasuke pun membantuku duduk kembali dan kemudian menghempaskan dirinya di sebelahku, menerawang ke luar jendela.
"Apa.. tadi malam itu mimpi?" tanyaku kemudian. Kuharap semua itu mimpi. Bocah itu.. Monster.. Darah.. Benar-benar mimpi yang sangat buruk. Kalau saja aku bisa bangun dari 'mimpi' tersebut. Namun ternyata Sasuke tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan terus memandang ke luar jendela.
Aku menghembuskan napas. Sepertinya lebih baik kalau aku menjelaskan lebih lanjut padanya. "Aku.. Semalam bertemu anak kecil. Umurnya sekitar 8 tahunan, lalu.."
DEG!
Aku kembali tersentak mengingat bagaimana rupa anak itu. Aku ingat benar, terakhir sebelum aku menutup mata untuk menahan rasa sakit, aku sempat melihat beberapa belatung keluar dari mulutnya. Menggeliat dan bergerak cepat turun dari mulut anak itu, seolah tak sabar untuk menyentuh tubuhku. Belatung itu..
Rasa mual seketika menjalari perutku yang bergejolak tak karuan mengingat makhluk tersebut. Spontan kututup mulutku dengan tangan dan merasakan cairan hangat mulai membasahi tanganku.
"Ukh, hoeeek..!"
Dan aku langsung merasakan tubuhku terangkat. Sasuke. Ia menggendongku dan dengan cepat menuruni setiap anak tangga yang mengarah ke bawah. Kemudian pemuda itu membawaku ke toilet dan akhirnya menurunkanku di depan westafel.
"Muntahkan di sana," perintah Sasuke sambil berbalik, dan berdiri di balik pintu. Aku pun langsung memuntahkan seluruhnya, apa yang berada di perutku berkali-kali sampai setidaknya bayangan belatung itu keluar dari kepalaku. Aku bernafas lega, setelah mencuci mulutku dengan air, aku kembali mendekati Sasuke.
"Umm, arigatou, Sasuke." ucapku ragu. Menatap langsung kedua mata onyxnya. Aku tidak menyangka ia akan berbuat sampai sejauh ini. Menggendongku yang notabene murid SMA menuruni tangga. Hanya karena aku mual? Apa ia tidak merasa berat? Kupikir ia akan membiarkanku muntah di kamar.
.
Mungkin sebenarnya Sasuke itu orang baik..
.
Aku tersenyum kecil. Ya, mungkin.
Dan Sasuke hanya mengangguk pelan dan berbalik, berjalan keluar dari toilet. Aku melangkah mengikuti.
"Sasuke, tentang anak yang kuceritakan tadi—"
"Tenang saja, nama anak itu Eric. Dia sudah kuhancurkan dan kukembalikan di tempat dia yang seharusnya." potong Sasuke tanpa berbalik. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air putih, meneguknya beberapa kali sementara aku masih menatapnya dengan pandangan ingin tahu.
"Di.. Dihancurkan? Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Kau tidak perlu tahu itu. Yang penting dia tak akan mengganggumu lagi kan?" ketus Sasuke dingin. Aku kehabisan kata-kata, memang sih, buat apa aku tahu? Toh bocah—monster menyeramkan itu tak akan kembali lagi. Aku pun mengangguk pelan.
Sasuke berjalan melewatiku dan masuk ke kamar mandi. Aku terdiam dan memandang ke sekeliling sesaat. Sepertinya ada yang kurang.. Tapi a—
Oh ya, Itachi Nii-san! Mana ya dia? Aku pun mulai mengedarkan pandangan ke segala arah dan berjalan mengelilingi rumah megah ini. Namun di saat aku sampai di gudang belakang yang reot—aku tak tahu rumah megah bisa mempunyai gudang seperti ini—, kurasakan sesuatu menyentuh pundakku. Dingin. Mencengkram dengan erat.
Aku terdiam sesaat.
"Eh? AAAAAA..!?"
Jantungku seakan melompat. Bagaimana tidak? Saat aku menoleh, tiba-tiba yang kulihat adalah seorang wanita berambut biru tua panjang. Tentunya itu Mikoto, ibu Sasuke. Tetapi tangannya yang sudah mau jadi tengkorak itu memegangku erat, seakan tak mau melepaskannya. Aku menelan ludah dan berusaha agar tangan itu menjauh dariku, tapi itu percuma. Seberapapun aku berusaha, tangan itu tetap berada di tempatnya. Yah, pasrah sejalah..
"Sedang apa.. Kau?" suaranya yang rendah dan dingin membuat bulu kudukku berdiri. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisku. Kini aku sendiri, bersama zombie. Mending ada Sasuke, ini? Sendirian, di belakang rumah—apa yang harus kukatakan sekarang? Kedua bola mataku melirik-lirik cemas, berusaha mencari kata yang tepat untuk menghadapi wanita ini.
"Nggg, a—aku mencari Itachi-niisan.." jawabku seadanya.
"Dia tidak ada.. Sedang ada urusan.. Kau kembalilah bersama Sasuke," jawab wanita itu. Aku mengangguk canggung. Lalu Mikoto melepaskan cengkeramannya kemudian berbalik dan berjalan menjauh. Aku gemetar dan sedikit merinding melihat langkahnya yang goyah itu. Apalagi dengan rambutnya yang sudah semakin panjang sejak terakhir kali aku bertemu. Rasanya seperti melihat sadako. Aku bergidik ngeri dan bergegas keluar dari gudang tersebut.
Sudah berapa kejadian yang kualami di rumah ini? Bahkan ada yang sampai hampir mengambil nyawaku segala. Aku mengacak rambut pink ku dengan kesal. AARGH! Bisa gila aku lama-lama tinggal di rumah menyeramkan seperti ini. Ah, aku harus segera mencari tempat baru untuk tinggal! Tak peduli tentang Sasuke yang dijodohkan dengank—
DUAK.
"A—aduduh!" aku jatuh terduduk sambil mengusap kepalaku yang terbentur. Haaah, satu lagi kejadian menyebalkan di rumah ini. Lagipula, siapa sih yang jalan tidak lihat-lihat? Tidak tahu bukan ada orang sedang emosi? Maka aku segera mendongak, melihat siapa pelaku penabrakan tersebut.
Dan ternyata. Orang ini lagi. Aku memutar mataku kesal. Mungkin kami memang benar-benar berjodoh. Setiap aku berjalan pasti bertemu dengan pemuda menyebalkan ini. Huh, tidak terima!
"Apa-apaan kau ini hah? Lari-lari seperti anak kecil saja!" pemuda di depanku itu menyilangkan tangannya di depan dada. Yah, siapa lagi? Tentu saja Uchiha Sasuke. Si makhluk menyebalkan yang satu itu kini memandang sinis padaku.
Ingin sekali rasanya balas membentak, tetapi sayangnya aku sedang tidak minat untuk bertengkar. Maka aku hanya memalingkan muka dan menggumam. "Maaf,". Dan anehnya, entah kenapa aku tidak mau memandang kedua mata onyxnya. Serasa ada yang menusuk dari belakang. Entah apa itu.
"Mandi sana! Itachi bilang, kita harus mengambil barang di tempat kosmu kan?" perintah Sasuke.
Ah ya. Bodohnya aku, mengapa bisa lupa? Hari ini kan aku harus memindahkan barang. Aku menepuk dahi dengan pelan dan kemudian bangkit untuk berdiri.
"Baiklah, aku akan bersiap. Duluan ya, Sasuke." aku tersenyum sebisa mungkin dan melangkahkan kaki menjauhi pemuda itu. Tanpa memedulikan perasaan aneh yang sedari tadi hinggap di hatiku. Aku menoleh ke belakang di tengah langkahku menuju ke toilet.
.
Dan kedua mata emeraldku bertemu dengan mata onyxnya.
.
Tatapan itu.. Aneh.
To Be Continued
xXx
Ukh selesai juga (-,-)a oke, ini komentar dari masing-masing kami...
Kuroi Kira : Huwoooo, akhirnya selesai juga membuat chapter ini hahahay XD yah kalau ada pertanyaan yang belum terjawab, tunggu selalu chapternya yaaa, soalnya pasti terjawab X3 terus kalo masalah typo jangan salahin saya yaa, soalnya yang bertugas ngoreksi typo adalah Mae-chan atau cumanakecil, jadi salahin dia aja yaaa hohohoho *dihajar Mae-chan dengan kekuatan Yasin (?)* terus, maaf juga kalau kesan horrornya kurang. Habis Kira gak jago (TT_TT) tapi Kira akan terus berusaha, do'ain yaaa X) oke, dadaa aah semuanyaaa..!! Selalu baca fic Kira yaaa XD *kabur sebelum dihajar gara-gara numpang eksis -PLAK*
Cumanakecil : heeeh, nyalahin orang sembarangan lagi (nendang author di atas) ehehe, akhirnyaa selesai juga benerin fic ini O.o saya benerinnya malem malem lho, merinding sendiri jadinya. Maafkan saya kalau deskripsi dan lainnya ada yang kurang, tinggal bilang nanti diperbaiki :D saya tidak mau ngomong banyak-banyak, nanti ngabisin tempat /plak/ review yaaa teman teman :3
Syllie Charm : ne? ada bagian yang di potong ya? padahal itu harusnya ada di chapter ini loh.... *nangis darah* tapi nanti chapter depan harus ada paragraf yang gw tulisin ya! :3 hehehehe~
terus Syllie juga mungkin bikin fanart Stoic Necromancer ini. ada Eric juga, jadi pada bisa lihat dia yang asli~~ Eric (c) Syllie loh. *ngaku-ngaku*
saya juga mau numpang promosi: *ehem* silakan visit account Syllie : www sylvia65charm deviantart com (yang spasi ganti sama . )buat gambar-gambar bikinan Syllie, paling banyak gambar-gambar Pokemon sama Original Character punya Syllie. (*v*)
Yooosh..!! Sekian dari kami, sampai jumpa di next chapter..!! Revieeew please?? X3
