Matahari sudah mulai meninggi berada di atas sana. Seorang pemuda berambut merah tampak tergolek lemah di ubin lantai yang dingin. Kondisinya cukup mengenaskan bila dilihat dengan baik. Bibirnya sudah mulai membiru, dan tubuhnya terus saja bergemetaran. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya, membuat udara dingin yang merambat melalui lantai langsung menembus kulitnya. Apa lagi banyak bekas pukulan dan bercak merah yang menghiasi sekujur tubuhnya. Hanya gerakan pelan dari dadanya yang terus turun naik pelanlah pertanda kalau dirinya masih hidup.
Brak.
Sebuah dobrakan kencang menghancurkan pintu masuk kamar mandi. Baru saja seorang pemuda pirang menghantamnya langsung dengan tendangan miliknya—karena dari tadi pintu itu tak mau dibuka; dikunci dari dalam—tak diperdulikannya berapa biaya yang harus dikeluarkannya karena sudah menghancurkan pintu kamar mandinya sendiri. Pemuda beriris safire itu menahan amarah yang menguar dihatinya saat ternyata menemukan seseorang di dalam sana yang tengah tergolek pingsan. Seorang pemuda bertato 'ai' kekasihnya
"Gaara. Gaara. Bangun Gaara." Naruto terus saja mengguncang tubuh lemah yang kini ada dipangkuannya. Naruto mengernyit heran bagaimana bisa Gaara berada di kamar mandinya. Pemuda yang memilik rambut berwarna pirang itu menahan marah saat mendapati Gaara yang terbaring pingsan di lantainya, apa lagi melihat kondisi Gaara yang tanpa pertahanan apa pun. Segera diangkatnya dan di pindahkannya tubuh Gaara ke ranjang. Dibungkusnya tubuh pemuda berambut merah yang mulai terasa dingin itu dan memeluknya erat, sedikitnya bisa menyalurkan kehangatan ke tubuh dingin Gaara. Mata berwarna biru langit itu menatap miris pada remaja yang tengah berada pelukannya saat ini. "Aku pasti akan menghajar siapa pun yang melakukan ini padamu, Gaara."
xxx
A Confusion
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pair: NaruGaa
Rated: M
Genre:
Romance/hurt comfort
Warning: AU, PWP(?), hard lemon,boyxboy gaje, OOC, author newbie, typo dkk, dan segudang warning lainnya.
Don't like don't read
hehehe daripada nanti Mizu dikirimi Flame
Keterangan:
"Speak" berbicara
'Mind' berfikir dalam hati
Summary:
Gaara tak pernah menyangka kedatangannya kala pertama kali ke apartemen Naruto akan berakhir mengenaskan begini. Diperkosa pacar sendiri. Bukan hanya tubuh yang hancur tapi seluruh perasaanya sudah tak berbentuk lagi.
xxx
Gelap. Dimana ini? Sesak ... aku tak bisa bernapas tolong aku ... tolong aku Naruto.
"Naruto!" teriak Gaara kencang, napasnya terengah-engah, peluh mengalir deras diwajahnya, sembari mengatur nafasnya Gaara Gaara mengamati ruangan disekitarnya.' Ini, kamar Naruto, sejak kapan aku berada disini bukankah aku tadi berada dikamar mandi, akh!' tiba-tiba saja kepala Gaara terasa nyeri, serasa hantaman keras langsung kekepalanya.
"Kau sudah bangun, Gaara?" tanya Naruto yang baru saja memasuki kamar dengan senampan bubur yang masih mengepul panas dan segelas susu segar. Kemudian meletakkannya di meja yang berada disisi kanan tempat tidur. Melihat Gaara yang sepertinya kesulitan bangun, membuat Naruto segera menghampiri Gaara. "Jangan bangun tiba-tiba begitu Gaara," ujar Naruto berniat membantu Gaara, namun tangannya segera ditepis cepat oleh tangan Gaara.
"Jangan sentuh, aku!"
Naruto terkesiap mendengar penuturan Gaara, sebenarnya ada apa ini? Naruto merasakan perasaan sesak dan sakit saat melihat wajah Gaara yang menyiratkan ketakutan dan kebencian terhadap dirinya. Mengapa Gaara bersikap begitu pada dirinya. Lirih Naruto bertanya "Kenapa Gaara? Kenapa kau menepis tanganku?"
"Kau bertanya mengapa, Naru? Mengapa?" teriak Gaara semakin mengeratkan tubuhnya pada sehelai selimut yang digunakannya. "Apa kau tak mengingat apa pun Naru?" ujar Gaara pelan, tubuhnya bergetar hebat, ketakutan kembali mendera tubuhnya, takut apa yang akan dilakukan Naruto waktu itu akan terulang kembali. Takut. Takut. Gaara takut melihat langit biru jernih milik Naruto akan menggelap dan menyiksanya lagi. Menghancurkan tubuh dan hatinya lagi.
"Kumohon, Gaara … katakan ada apa ini? A—aku benar-benar tak mengerti," lirih Naruto menundukkan kepalanya. Dirinya bingung sebenarnya apa yang terjadi saat ini. Ingin rasanya Naruto memeluk erat tubuh kekasihnya yang masih terus ketakutan—gemetaran—tanpa dirinya tahu alasannya mengapa.
"Aku takut, Naruto …" isak Gaara pelan pada akhirnya.
"Takut? Aku yang merasakan takut saat dua hari yang lalu menemukanmu terbaring pingsan di kamar mandi, Gaara. Aku takut kau yang kenapa-kenapa," ucap Naruto kalut.
"Kau tak mengerti Naru … kau—kau …" Gaara tak bisa melanjutkan ucapannya. Kata-kata itu serasa tersangkut ditenggorokannya.
Naruto kemudian merengkuh tubuh ringkih yang masih terus bergetar itu kedalam pelukannya. Tak diperdulikannya kalau penolakan Gaara masih terus ada. "Kumohon Gaara, jangan menolakku lagi. Hatiku sakit, kau tahu aku akan menjagamu dan tak akan menyakitimu … jadi tenanglah."
Gaara terhenyak mendengar apa yang baru saja didengarnya. Tak butuh waktu lama hingga ehangatan ini menjalar keseluruh tubuhnya, ketakutan yang semula menguasai tubuhnya mulai berangsur menghilang. Ini Naruto bukan, kekasih yang dikenalnya. Gaara kemudian melepaskan pelukan Naruto, tangannya bergerak menyetuh wajah Naruto, didekatkannya wajah itu, 'Ini Naruto bukan?' Tangannya bergerak menelusuri setiap inci wajah Naruto, dari mata, hidung, bibir, hingga pipi Naruto.
Naruto yang diperlakukan begitu, menatap lembut kekasihnya matanya menatap lekat ke dalam jade milik Gaara kemudian tak lama sebuah jarak mulai menghilang saat Naruto mengecup pelan bibir Gaara dan melumatnya sebentar, tanpa dominasi sedikitpun. Berharap kekasihnya bisa sedikit percaya padanya dan menghilangkan rasa cemas yang melanda Gaara.
Naruto segera melepaskan pagutannya saat merasakan sebuah getaran kecil mulai dirasakannya—berasal dari tubuh Gaara. "Maaf Gaara. Aku kelepasan," ujar Naruto segera saat melepaskan kulumannya dari bibir Gaara. Sejejak saliva terlihat saat keduanya menjauh.
Gaara hanya menggeleng lemah. Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu … Apa mungkin hanya mimpi, tidak itu semua nyata bahkan Gaara masih bisa merasakan semuanya. Namun akhirnya Gaara menepis semua praduga yang tak berarti itu. Matanya menatap teduh ke arah Naruto. Mungkin ia akan menemukan jawabannya nanti sedikit kasihan melihat wajah sendu Naruto. Namun Gaara sedikit merasakan tatapan aneh saat Naruto memalingkan wajahnya, ada apa pikir Gaara, matanya kemudian menelusuri arah pandangan Naruto sebelumnya, yang tertuju pada … tubuhnya?
"Kyaaaaa!" teriak Gaara histeris melihat tubuhnya yang ternyata polos tanpa balutan apapun ssepertinya selimut Gaara tadi jatuh saat Naruto memeluknya. Dengan sedikit tenaga dikakinya, Gaara menendang Naruto yang tanpa persiapan jatuh kelantai, dan segera menyambar ujung selimut yang berada ditepi tempat tidur. Matanya menatap tak percaya pada Naruto. 'Dasar rubah mesum brengsek.'
"Ouch! Kenapa tiba-tiba kau menendangku Gaara?" Naruto hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah kekasihnya itu barusan, yang kini bergulung didalam selimut rubah miliknya—menyembunyikan tubuhnya. Hah … sekali lagi Naruto hanya menghela napas, apa Gaara malu karena Naruto sudah melihat tubuhnya? Bukankah Naruto yang memindahkan Gaara kemari, tentu saja dia sudah melihat tubuh polos kekasihnya itu. Naruto kembali mengulang memori mengerikan itu, melihat tubuh kekasihmu yang memucat tergelatak tak berdaya berlumuran darah dilantai. Jantung Naruto hampir saja berhenti. Tapi kenapa yang diingatnya saat ini hanya tubuh polos Gaara?
"Jangan memandangku dengan mesum begitu, Naruto" Gaara mendelik Naruto kesal melihat wajah kekasihnya saat ini, dasar pasti sedang mengkhayal yang iya-iya di otaknya itu. Gaara lalu mencoba memundurkan tubuhnya ke arah dinding, namun dia merasakan ada yang aneh, sesuatu yang penuh dan mengganjal dibagian bawahnya.
"Na-ru-to, apa yang kau lakukan padaku?" tatapnya horror. Naruto yang ditanya begitu hanya memiringkan kepalanya bingung dan menatap heran pada Gaara.
"Lubangku, apa yang kau masukkan, brengsek?" tanya Gaara pelan, namun penuh nada intimidasi
"Oh itu? karena aku tak tahu bagaimana mengobati lubangmu yang masih berdarah, aku hanya menyumpalnya dengan kasa perban yang sama di pergelangan tanganmu dengan sedikit salep kok hanya itu" jawab Naruto polos dan kemudian duduk disamping Gaara.
Gaara benar-benar tidak habis pikir dengan kemampuan otak Naruto yang tak sampai seperempat kemampuan orang biasa itu bisa melakukan hal irasional begini.
"Kenapa kau memandangku begitu Gaara? Kali ini aku melakukannya dengan benar, buktinya tak ada lagikan darah yang mengalir, aku hebatkan?" ucap Naruto bangga dengan tersenyum senang.
"Dasar baka."
"Hei … hei Gaara seharusnya kau berterima kasih padaku, bukannya lagi-lagi menyindirku begitu"
"Hah … sekarang kau lebih baik keluar Naruto, aku mau mengeluarkan kebodohanmu itu dari tubuhku," ucap Gaara seraya mendeathglare Naruto. Rupanya Gaara tidak menyadari sesuatu, bukankah Naruto sudah melihat tubuhnya sejak awal? Jadi untuk apa menyuruh sipirang itu keluar.
Naruto yang diminta begitu lalu beranjak keluar. Tidak, sebenarnya dia hanya masih berdiri diluar pintu kamar, bersender di sana. Sebenarnya dia penasaran ingin bertanya pada Gaara bagaimana bisa Gaara mendapatkan semua luka ditubuhnya itu bahkan di daerah pribadinya. Sekali lihat orang juga tahu apa yang terjadi pada Gaara. Siapa orang brengsek yang berani melakukan hal itu pada kekasihnya. Tapi Naruto sepertinya tak ingin dulu mendesak Gaara lebih jauh saat ini, kesembuhan kekasihnya lebih penting saat ini. Naruto kemudian menyenderkan kepalanya dengan kedua tangan, di pintu kamarnya.
"Ah ... Akh … ahhh." Tiba-tiba saja suara desahan terdengar di telinga Naruto. Apa yang terjadi? Dengan rasa penasaran Naruto mengintip kedalam kamarnya. Matanya terbelalak melihat pemandangan yang berada dihadapanya. Gaara yang sedang bermain solo sendiri. Plak. Naruto memukul pipinya sendiri. Tentu saja bukan.
Di sana terlihat kekasihnya sedang berusaha mengeluarkan kasa yang berada di tubuhnya, dengan kaki yang terbuka lebar, menarik pelan kasa tersebut, namun berhubung sudah beberapa hari, kasa itu pun lengket akibat darah yang mengering. Dan menyulitkannya menarik keluar helaian kasa tersebut sedikit susah dan diiringi sedikit rintihan kesakitan. Namun yang terdengar ditelinga Naruto bukanlah rintihan kesakitan namun desahan seksi yang membuatnya menelan ludah.
Naruto lalu masuk perlahan dan mendekati Gaara dan berlutut dengan posisi tubuhnya separuh dibawah. Tangannya lalu menahan tangan Gaara yang masih bekerja.
"A—apa yang kau lakukan Naruto?" ujar Gaara terkejut saat tiba-tiba saja tangan Naruto menghentikan 'aktifitas'nya.
'Membantumu Gaara, hanya itu." Naruto lalu menekuk kedua kaki Gaara dan melebarkannya. Sekarang lubang Gaara benar-benar terlihat olehnya. Kasa putih yang sudah sebagian keluar itu sudah ternoda darah kering yang cukup banyak hingga berubah warna menjadi merah. Naruto menariknya pelan, didongakannya kepalanya dan dilihatnya Gaara tengah menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya menahan suara yang bakal keluar; akibat rintihannya. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Naruto menarik kepala Gaara dan mendekatkan ke wajahnya. Lalu mencium bibir Gaara. Lidahnya menjilat pelan sudut bibir Gaara, saat Gaara membuka mulutnya, lidah Naruto langsung melesak masuk, mengajak tuan rumahnya bertarung. Gaara yang masih kaku dalam hal ini hanya membiarkan Naruto membimbingnya, dan akhirnya membiarkan Naruto mengeksplorasi isi mulutnya. Melihat Gaara yang tak berniat melawan, Naruto kemudian meneruskan kegiatannya di mulut Gaara. Mengabsen gigi Gaara dan sesekali menyentuh langit-langit Gaara, yang tak pelak menimbulkan suara desahan dari Gaara. Naruto masih saja mencium Gaara dengan penuh dominasi terhadap kekasihnya itu hingga pukulan kecil berulang-ulang didadanya menghentikan segala kegiatan kecilnyanya.
Dengan wajah terengah-engah Gaara mencoba mengambil pasokan udaranya yang menipis. "Baka! Apa kau mau membunuhku? Hah?" dengan muka yang memerah Gaara memukul kepala Naruto yang berada di bawahnya.
"Hehe … maaf Gaara sepertinya aku kelepasan, aku kan hanya ingin membantumu menghilangkan rasa sakitmu saja" jawab Naruto pelan tanpa rasa bersalah.
"…"
"Lagipula lebih cepat selesai kan?" kata Naruto melirik sesuatu disamping nya. Mengikuti apa yang dilihat Naruto, Gaara menjulurkan kepalanya kebawah, matanya melihat kumpulan kasa merah yang cukup panjang.
"Baka! Berapa banyak kau memasukkannya ketubuh ku, hah?" sekali lagi Naruto mendapatkan deathglare gratis dari Gaara. Dibentak begitu lagi-lagi Naruto hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum dengan beralasan. "Aku kan panik Gaara."
Mata Naruto lalu beralih menatap lubang Gaara yang masih kelihatan akibat Gaara yang belum merubah posisinya. 'masih ada darah' pikirnya. Reflek, Naruto menjulurkan lidahnya ke lubang Gaara. Melingkari bentuk lubang itu. Rasa asin darah terkecap di indranya, tentu saja beberapa bercak darah memang terlihat disana akibat tarikan paksa tadi.
"Waaaa! Apa yang kau lakukan Naruto?" Gaara hanya bisa melihat ulah kekasihnya itu tanpa bisa melakukan apapun, kedua tangannya ditahan untuk tidak mendekat oleh tangan Naruto dan ditahan di atas perutnya. Melarang Gaara mengganggu apa pun yang sedang dikerjakannya saat ini di bawah sana.
'Ah!" tiba-tiba saja desahan meluncur bebas dari mulut Gaara. Terkejut, Gaara kemudian memalingkan wajahnya. Senang melihat reaksi Gaara yang baru pertama kali dilihatnya ini, Naruto mengulangi apa yang baru saja dilakukannya, memasukkan lebih jauh lidahnya kedalam lubang Gaara, membersihkan lubang Gaara dari semua sisa darah yang melekat.
"Ah! … henti—kan Naruto … ah! jangan." Kembali desahan Gaara terdengar. Matanya terpejam tak berani melihat apa yang dilakukan Naruto dibawah sana. Naruto terus saja menghujani lubang Gaara dengan lidahnya. Hingga dirasanya cukup Naruto untuk menghentikannya.
"Yups, selesai." Naruto tersenyum puas melihat hasil pekerjaanya. Tak ada lagi bekas darah di sekitar lubang Gaara.
Gaara tak mampu mengatakan apapun. Dirinya benar-benar malu saat ini. Gaara tak menyangka Naruto akan melakukannya sejauh ini, apa lagi Naruto melakukannya dengan penuh kelembutan tidak seperti sebelumnya. Membuat darahnya berdesir dan berkumpul diwajahnya.
"Gaa-ra kau ..." Naruto tak melanjutkan perkataannya, jari telunjuknya menunjuk ke kejantanan Gaara yang ternyata 'bangun' akibat ulahnya tadi. Kejantanan Gaara yang sekarang berdiri tegak.
Gaara hanya mendeath glare Naruto. "Ini salahmu Baka!" yang hanya dijawab cengiran dari Naruto.
"Tenang saja Gaara, aku akan 'menidurkan'nya kembali." Naruto lalu memasukan kejantanan Gaara kedalam mulutnya dan melakukan mouthjob. Dimaju mundurkannya keluar masuk dengan sesekali dihisap dan digigitnya pelan.
"Ah! Naruto jangan! ahhh!" Sepertinya Gaara benar-benar terlarut dalam permainan Naruto yang berbeda dari sebelumnya, kali ini dengan lembut tanpa adanya siksaan fisik di tubuhnya. Gaara berpikir keras … apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya ini … apa yang kemarin orang lain? Tidak! Bagaimana pun Gaara mengenal baik Naruto, dan Naruto tak memiliki saudara kembar.
"Sudah cukup, ah! Naruto, Akhhh!" Akhirnya Gaara melepaskan cairannya ke dalam mulut Naruto. Tanpa menyisakan sedikit pun Naruto menelan semuanya, bahkan menjilati sisanya yang bercecer di tubuh Gaara.
"Kau manis, Gaara" ucap Naruto menyeringai mesum, di kepalanya terlintas sesuatu untuk meembuat semua ini menjadi lebih mengasyikkan.
Naruto lalu menggendong Gaara ke kamar mandi ala bridal style bak pengantin yang bari menikah. Sepertinya kekasihnya itu butuh mandi saat ini, yah setidaknya sambil melakukan sesuatu yang menyenangkan juga. Pikir Naruto.
"Turunkan aku Naruto! Mau dibawa kemana aku, Naruto?"
"Tidak mau! Sepertinya ada yang butuh bantuanmu Gaara," ujar Naruto melirik bagian bawah celananya yang agak menggembung.
Mengerti apa yang dimaksud Naruto, Gaara hanya bisa berteriak kencang "Dasar rubah mesum!"
Tak lama kemudian ronde kedua pun dimulai, hanya suara desahan dan rintihan kenikmatan yang terdengar dari kamar mandi tersebut hingga satu jam kedepan. Tanpa kekerasan. Garis bawahi hal itu.
xxx
Brak. Naruto yang sedang bersantai di ruang tengah apartemennya tiba-tiba terkejut saat. Mendengar pintu depan apatemennya dibanting kencang.
"Di mana, Gaara? Kembalikan dia Naruto!" teriak Temari, kakak perempuan Gaara yang baru saja datang dan juga pelaku pembantingan pintu barusan.
"Ow ... ow … sabar, Temari kau bisa membangunkannya nanti." Jawab Naruto berusaha tenang. Walau sudah beberapa kali bertemu, sepertinya Temari masih tetap menakutkan baginya.
"Hehehe ... maaf Naruto sepertinya pintu depanmu hancur—lagi." Kankuro kakak laki-laki Gaara itu ternyata juga datang. Yang dibalas senyuman maklum Naruto, begitulah keadaanya tiap kali Temari 'berkunjung' kemari.
"Apa maksudmu tidak mengembalikan, Gaara beberapa hari ini hah?" tanya Temari lagi menarik baju Naruto, yang segera ditahan oleh Kankuro. Sepertinya kakak sulungnya ini benar-benar marah. Tiba-tiba saja saat mereka sedang mengadakan perjalanan bisnis keluar kota. Naruto mengabari bahwa Gaara ditemukan terluka di apartemennya, dan mengatakan akan mengobati Gaara di apartemennya saja.
"Hei … hei … bukannya aku sudah mengabari kalian kalau aku menemukan Gaara tergeletak pingsan di kamarku. Dan aku tak mungkin membawanya ke rumah sakit dengan keadaan begitu." Sanggah Naruto tak mau begitu saja disalahkan oleh calon kakak iparnya yang juga sangat brother compleks ini.
"Mana mungkin Gaara bisa tiba-tiba berada di sini kalau bukan kau yang membanwanya Naruto, lagi pula Gaara terlihat terakhir kali bersamamu. Sekarang di mana dia" kata Temari menahan marah dan hanya bisa menampilkan wajah kesal pada calon adik iparnya ini. Entah kenapa sejak awal dia tak menyukai Gaara berhubungan dengan Naruto. Insting mungkin.
"Di kamar." Naruto akhirnya hanya mengalah dari pada adu mulut tak penting ini berlanjut.
"Tenang saja Naruto. Aku akan ada dipihakmu. Aku yakin kau tak akan menyakiti Gaara." ujar Kankuro seraya menepuk pundak Naruto pelan lalu mengikuti Temari yang telah berlalu sejak tadi.
Tak lama Temari pun keluar diikuti Kankuro yang tengah memanggul sesuatu di pundaknya. Naruto mengenali selimut yang tengah menggulungi objek di dalamnya seperti kue dadar. Matanya terbelalak saat Kankuro melewatinya dan terlihat rambut merah miliki kekasihnya. Sepertinya Gaara masih terlelap dan tak sadar tengah 'diculik' dari kamar kekasihnya.
"Kami pulang," ucap Temari datar saat seraya keluar dari apartemen Naruto.
Naruto hanya memijit keningnya pelan melihat sikap Temari kepadanya. 'Sepertinya dia masih belum rela adiknya ku ambil, ujar Naruto pelan.
xxx
Angin pagi yang tengah berhembus itu benar-benar sangat menyejukkan, panas pagi yang belum terasa menyengat serta ketenangan yang begitu damai. Awan putih yang kini menghiasi birunya langit. Sebuah pemandangan yang begitu indah. Seandainya Naruto tahu lebih awal, udara pagi itu benar-benar bisa membuat seseoarang lebih rileks seharusnya sejak dulu dia melakukannya. Beban pikiran yang tadi dirasakannya sedikit berkurang.
Diletakkannya kedua tangannya diatas pagar pembatas. Dihirupnya udara yang mengalir disekitarnya.
"Huwaaaa … rasanya benar-benar enak!" ucap Naruto riang sepertinya dia menyamakannya dengan ramen yang biasa disantapnya.
"Apa yang kau lakukan di sini Naruto?"
Naruto lalu memalingkan wajahnya kebelakang saat mendengar seseorang menyebut namanya. Di sana kekasihnya tengah berdiri di pintu menuju atap.
"Haha ... tidak ada Gaara, aku hanya menikmati udara pagi," jawab Naruto seraya tertawa.
"Sejak kapan seorang Uzumaki yang tak pernah bangun pagi, bisa berada di atap sekolah pada pukul 6.30 pagi? Keajaiban alam baru saja terjadi." ucap Gaara sarkastik.
"Sudahlah Gaara, jangan menyindirku lagi. Bagaimana lukamu sudah baikkan?" tanya Naruto sembari menyenderkan punggungnya.
"Sudah mendingan. Kenapa saat terbangun aku ada di rumah?" tanya Gaara balik
"Haha ... Temari menjemputmu pulang Gaara. Untung saja dia tak membunuhku saat melihat keadaanmu." Naruto hanya tertawa hambar mengingat seberapa 'benci' Temari padanya.
"Jangan berlebihan. Neechan tak akan pernah menyakiti orang yang kusayangi." Gaara tak menyadari efek kata-katanya yang menyebabkan meronanya pipi Naruto pagi ini. Hey. Jarang-jarang Gaara bisa berkata sejujur itu.
"Aku bersyukur kalau begitu, Gaara."
"…." Gaara tak menanggapi perkataan Naruto, matanya hanya terpejam menikmati angin pagi ini.
'Hey, Gaara aku ingin menanyakan sesuatu, dari mana kau dapatkan luka begitu?" tanya Naruto menatap Gaara yang kini tengah ikut bersender di sampingnya. "Padahal gara-gara ujian ulang sialan … aku tak bisa menemuimu, namun malah menemukanmu dengan keadaan begitu membuatku hampir mati jantungan, kau tahu?"
Gaara membuka matanya dan terdiam sesaat. Batinnya sedikit bergolak marah. Apa Naruto benar tidak mengingat waktu itu? Tapi kenapa? Sikapnya pun tak lagi sama seperti saat itu, seolah kejadian kemarin hanya mimpi. Apa Naruto kerasukkan? Tidak. Tidak makhluk gaib mana yang mau memasuki bocah pirang berisik ini yang kadang terlalu polos ini. Yang ada malah diajak kenalan. Gaara masih sibuk berada di dunia imajinasinnya dan menggelengkan kepalanya terhadap pikiran terakhirnya.
"Hey, Gaara kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir. Akhir-akhir ini Gaara seringkali menatapnya aneh.
"Tidak ada apa-apa" jawab Gaara singkat.
"Sudahlah kalau kau tak mau mengatakannya." Ucap Naruto menengadahkan kepalanya menatap langit dan awan di atas sana.
Haruskah Gaara mengatakannya? Apa Naruto akan menerima begitu saja perkataanya.
"Aku hanya khawatir padamu, Gaara" ujar Naruto lagi tanpa mengalihkan matanya dari langit di atas sana.
"Naruto…" Gaara menggantung kalimatnya. Hatinya masih bergejolak. Sembari meyakinkan diri, akhirnya diputuskannya untuk memberi tahu Naruto. "Apa kau akan mempercayaiku, Naru? Seperti aku yang tetap mempercayaimu? Apa kau akan tetap mencintaiku, seperti aku tetap mencintaimu Naru" tatap Gaara langsung. 'setelah apa yang kau lakukan padaku' sambung Gaara dalam hati. Naruto terkesiap terhadap nada serius yang dikeluarkan Gaara. Mata emerald itu menatap penuh harap padanya. Ada apa ini?
"Apapun untukmu, Gaara" Akhirnya Naruto menjawab kata-kata Gaara dengan mantap setelah berpikir heran.
"Menurutmu bagaimana aku bisa berada di apartemenmu, padahal hanya kau yang memiliki kuncinya? Menurutmu siapa orang paling dekat denganku saat ini? diantara semuanya siapa yang sanggup memaksaku untuk melakukan hal 'itu'?" Lagi. Gaara menatap jauh ke dalam biru langit miliki kekasihnya itu yang kini berbinar tak percaya.
Walau hanya pertanyaan implisit bukankah jawabannya pasti.
"Dan bila kau tanyakan padaku kenapa? Aku juga tak tahu kenapa Naru, " sambung Gaara seraya berjalan menjauhi Naruto. "Kuharap kau bisa menjelaskannya padaku, Na-ru-to".
Braak.
Pintu atap itu pun tertutup meninggalkan seseorang yang kini terperosot hingga terduduk dilantai. Matanya menatap nanar ke lantai. Benarkah, apa yang dikatakan Gaara baru saja. Tentu saja jawaban semua pertanyaan itu hanya satu nama, nama miliknya sendiri. Apa mungkin dirinya tega melakukan semua itu pada orang yang dikasihinya? Pada orang yang benar-benar dicintainya? Tapi kenapa di dalam mimpinya akhir-akhir ini selalu ada Gaara. Gaara yang sedang berteriak kesakitan. Gaara yang sedang menangis. Gaara yang sedang meneriakan namanya dengan pilu. Dan dirinya yang tidak mengacuhkan Gaara sedikit pun. Itulah yang membuatnya selalu terbangun dan tak bisa terlelap tidur. Apa yang sebenarnya terjadi? Nyatakah semua itu? Melihat luka yang di dapat Gaara Naruto hanya bisa mengutuk dirinya yang tidak bisa mengingat apapun. Padahal awalnya dia akan membalas siapapun yang berani menyentuh kekasihnya.
"Chikuso!"
Naruto hanya bisa menggeleng frustasi, menarik helaian pirangnya kuat. Tertunduk lesu. Hanya satu pikirannya, pulang. Sepertinya itu lebih baik dari pada harus mengikuti pelajaran dengan pikiran yang terlalu bercabang begini.
xxx
A/N: Hai minna … masih ingat ama fict satu ini? Mizu kaget masih ada yang RnR, huwooo seneng banget, arigatou yang udah repiu chap sebelumnya. Kirain ni fict udah gak layak lagi buat dikonsumsi(?) gegara udah hampir didiscontinued karena Mizu kehilangan feel buat ngetik#pundung. Walau draftnya udah diperbaiki dengan alur berbeda dan sedikit perubahan di awal tapi feelnya masih belum dapat makanya lama publish ulang. Semoga ja kali ini fict ini bakal bertahan dan complete tanpa halangan. Gak berhenti ditengah jalan gegara author gaje satu ini malah menggila, hiks#malah curcol.
Okehlah biar Mizu tambah semangat Boleh Mizu minta pendapatnya dengan review dikotak biru di bawah Minna? Konkrit, kritik, dan saran dinantikan.
-Mizu-
