Dislaimer : Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J. K. Rowlings
Warning : Au, Dark theme, Slash, kekerasan, abuse, Mpreg, Ooc, Twin! Draco, Light! bashing
Pairing : DMHP, DMLL, LMNM, TM/?, BZNL, RLBL, SSRL, other
AN : Terima kasih atas riview yang kalian berikan, kuputuskan untuk melanjutkan fic ini meskipun aku nggak tahu kapan kelarnya tapi aku akan mengusahakannya. mungkin di cerita kali ini kurang sesuai dengan kehendak kalian, aku mohon maaf yang sebanyak-banyaknya. Silakan membaca!
CHASING LIBERTY
by
Sky
Draco sama sekali tidak tahu apa yang akan dimainkan oleh ayahnya kali ini, menyuruh Draco untuk selangkah lebih dekat dengan musuh adalah hal yang sangat drastis untuk dilakukan bahkan bila orang itu adalah seorang Dark Lord sendiri. Pemuda itu tidak mengerti harus mengatakan apa, ia tidak mungkin untuk menolak misi yang diberikan namun ia juga tidak ingin dekat apalagi harus berada di Hogwarts. Meskipun ia tidak pernah menginjakkan kaki ke sana, tetapi Draco selalu mempunyai mimpi yang buruk mengenai bangunan tua itu.
Terkadang keputusan yang ada itu lebih sulit dari apa yang dipikirkannya, banyak pilihan yang sama-sama memiliki dampak positif maupun negatif. Hal itu tentunya akan membuat siapa saja akan sulit untuk memustukan pilihan mereka.
Sebagai keputusan terakhirnya saat itu Draco memilih untuk kembali ke kamarnya saja. Belum saja ia beranjak dari tempatnya berdiri, Draco harus memaksakan dirinya memasang ekspresinya sekeras mungkin ketika ia sadar bahwa Lucius Malfoy menatapnya dari tadi. Laki-laki itu berdiri di luar ruangan pertemuan, masih mengenakan jubah pelahap mautnya namun tanpa topeng, kelihatannya dia tengah menunggu Draco untuk keluar dari hadapan Tom. Lucius menatap Draco dengan sangat dingin, seperti tidak mengenalinya dan tidak ingin berbicara dengannya namun ada sesuatu yang mengharuskan Lucius untuk bertemu Draco.
Draco yang tidak ingin berbicara sepatah kata pada Lucius memilih untuk memberikan anggukan singkat dan bersiap-siap meninggalkan tempat itu.
"Draco." tahan Lucius, membuat Draco berhenti di tempatnya berdiri. Pemuda itu menengok dan memandang 'ayah kandung'nya dengan dingin, "Kau tumbuh begitu cepat dalam tahun-tahun belakangan ini. Aku senang saat Dark Lord mengumumkan sang pangeran telah kembali."
Pemuda itu membeku di tempat, membiarkan rasa marah menyelimuti hatinya sebelum dengan paksaan ia tekan sekecil-kecilnya. Tangan kanan Draco yang memegang jubah gaib langka milik mata-mata order tadi mengepal, ia tidak suka dengan nada bicara Lucius. Sudah 15 tahun lamanya Lucius menganggap Draco seolah-olah ia tidak pernah dilahirkan dan kini ia ingin membuat pembicaraan kecil dengan Draco? Apalagi inti dari perkataannya tadi seperti...
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Draco dengan nada bosan secara tiba-tiba.
Lucius menghela nafas pelan, ia menatap putera termudanya dengan sedih sebelum emosi itu kembali terselubung. Tidak pernah sekalipun ia memikirkan apa akibatnya memberikan Draco kepada Dark Lord, mungkin ini adalah karma yang harus ia terima. Anak balita yang dulu pernah keluar dari rahim Narcissa kini tumbuh menjadi seorang pemuda yang begitu berbahaya dan mempunyai kekuasaan yang sangat luas, bahkan dari berita yang ia dengar mengenai Draco, anak itu berhasil menakhlukkan kawasan penyihir yang ada di Eropa Timur dengan bantuan beberapa temannya setelah Voldemort kembali dua tahun yang lalu.
Draco memang mirip seperti Alex, namun ia juga sangat berbeda dari saudara kembarnya. Lucius tidak bisa membayangkan reaksi keduanya bila mereka bertemu untuk pertama kalinya.
"Aku mendengar tugas yang diberikan Dark Lord padamu." ujar Lucius, naanya begitu dingin dan seperti ia bicara dengan bawahannya, begitu pikir Draco. "Ini sangat bagus, aku yakin kau akan berhasil melaksanakannya. Buatlah bangga nama keluarga Malfoy!"
Draco menggigit bibir bawahnya karena itu namun ia menolak untuk berkomentar, pemuda itu memberikan anggukan singkat kepada Lucius untuk meneruskan apa perkataannya.
"Aku tidak tahu apakah ini tepat kukatakan padamu, Draco, tapi aku senang kau kembali lagi ke Inggris setelah 15 tahun berada di Italia. Semuanya sangat merindukanmu." kata Lucius, "Terutama ibumu, dia sangat merindukanmu."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Draco ogah-ogahan dengan kata-katanya itu.
"Narcissa dan aku mengundangmu untuk mengunjungi manor, kau tidak pernah melangkahkan kaki di sana setelah usiamu satu tahun." jawab Lucius, "Aku tahu kalau kau sangat sibuk dengan misi-misimu yang diberikan oleh Dark Lord serta statusmu saat ini, tapi aku harap besok sore kau dapat mengusahakan untuk mengunjungi kami."
Draco mengangguk, sedikit ragu-ragu dengan apa yang akan ia katakan. Ia menatap sosok ayahnya dengan dingin, tidak pernah sekalipun Lucius mengunjunginya di Italia atau mengambilnya kembali ketika Tom menghilang selama 13 tahun. Draco kecil yang memikirkan hal itu merasa begitu sedih, ia seperti seorang yatim piatu yang terbuang karena tidak ada orang yang peduli padanya kecuali Tristan yang mengasuhnya sejak kecil, bahkan keluarga kandungnya tidak pernah mencari tahu di mana keberadaan dirinya. Draco masih teringat, ia sering sekali menitikkan air mata ketika masih kecil, selalu mengingat betapa sendiri hidupnya atau betapa hampa hatinya karena tidak mempunyai orangtua dan keluarga, hatinya bertambah hancur ketika ia melihat foto keluarga Malfoy di gambar depan koran Daily Prophet yang selalu menunjukkan betapa bahagianya mereka. Sejak saat itulah Draco selalu berpikir kalau hal itu adalah lebih baik, menghilang dan tidak akan ada yang merindukannya. Selalu berada di bawah bayangan dan hanya keluar bila pihak kegelapan membutuhkannya, ia tumbuh dalam lingkungan yang keras, membuatnya menjadi Draco Malfoy yang sekarang ini.
Oleh karena itu ketika bertemu dengan Lucius dalam beberapa kali pertemuan, Draco selalu menghindar dari ayahnya, ia tidak ingin Lucius mengenali siapa dirinya dan menimbulkan masalah lagi, ia tidak ingin mengingat hal-hal menyedihkan yang pernah ia rasakan ketika masih kecil. Beberapa kali memang berhasil, namun semuanya itu menjadi tidak akan ada gunanya lagi ketika pertemuan hari ini Tom menyebut nama aslinya. Keberadaannya menjadi nyata lagi dan menjadi simbol utama. Ia adalah putra angkat Tom, dia adalah pangeran kegelapan mereka dan juga pewaris dari apa yang didirikan oleh ayah angkatnya.
Tidak tahu harus menanggapi apa akhirnya Draco mengangguk pelan meskipun dalam hati ia ingin menolak undangan itu, "Baiklah, aku akan memberitahukan Cissa masalah ini. Dia pasti sangat senang dapat bertemu denganmu lagi." ujar Lucius, dengan itu dia pergi dari hadapan Draco tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
"Mungkin." gumam Draco lirih, "Mungkin iya, tapi juga mungkin tidak."
"Aku butuh sebotol Whiskey setelah ini." gumamnya lagi, ia menatap langit malam yang ada di luar, menghiraukan semuanya dan berkonsentrasi pada sihirnya.
Draco menghela nafas pelan dan menatap jubah yang ada di tangannya, jubah gaib itu tetap terlihat begitu lugu meskipun telah tersentuh oleh darahnya. Benda itu adalah benda langka, hanya ada beberapa di dunia ini. Kalau tidak salah keluarga Potter memiliki jubah yang seperti ini, mungkin benda itu telah berada di tangan Dumbledore atau mungkin juga berada di tangan Harry Potter sebagai generasi terakhir. Pemuda itu keluar dari dalam manor, ia berdiri tepat di bawah pohon dengan meremas jubah tadi.
Draco melemparkan jubah itu ke angkasa dan dengan cepat ia menggumamkan "Incendio." membuat api membakar habis jubah gaib tersebut.
Harry merasa tubuhnya begitu sakit, ia tidak mengerti apa yang terjadi dan bagaimana hal ini bisa terjadi. Beberapa menit yang lalu Harry yakin tubuhnya normal dan tidak mengalami apa-apa, kecuali pukulan dari Paman Vernon dan Dudley tadi siang tentunya. Namun apa yang diberikan oleh kerabatnya itu sama sekali tidak ada artinya dengan rasa sakit yang ia alami saat ini, tubuhnya dibasahi oleh keringat dan darah yang keluar dari kulitnya. Harry ingin sekali berteriak kesakitan, tetapi ia tidak ingin membangunkan mereka yang tinggal di Privet Drive karena tentunya mereka akan menghukumnya lagi bila mereka menemukan keanehan dalam diri Harry, yang menurut mereka sudah aneh.
Remaja itu membenamkan wajahnya di atas bantal buntut yang ia miliki untuk meredam rintihannya, di sana Harry menjerit pelan ketika rasa panas dan sakit yang tidak tertahankan mulai ia rasakan. Selama beberapa menit rasa sakit itu terus bertambah parah sebelum akhirnya Harry pingsan, pada saat itulah jam weker di kamarnya menunjukkan pukul 12.30 malam, 30 menit setelah ulang tahun Harry pada tanggal 31 Juli.
Pada saat yang sama di Riddle Manor yang terletak di Hanglington kecil, Draco Malfoy merasakan rasa sakit di dada kirinya dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
Keesokan harinya hal pertama yang Harry rasakan ketika membuka matanya adalah sensasi aneh yang menjalar tubuhnya, ia merasa hangat dan nyaman, sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan sebelum-sebelum ini. Remaja itu mencoba untuk beranjak dari posisi tengkurapnya, namun ada hal aneh yang Harry rasakan di belakang punggungnya. Ia sedikit panik, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya namun Harry mencoba untuk mengendalikan rasa takutnya. Dengan perlahan Harry menengok ke belakang, betapa terkejutnya Harry saat ia mendapati sesuatu yang sebetulnya tidak pernah ada sampai kemarin malam. Ia menemukan sepasang sayap, SEPASANG SAYAP DEMI MERLIN... dan tidak hanya itu saja, tapi sayap itu menempel di punggungnya,
"Bagus, aku betul-betul menjadi orang aneh kali ini! Tidak hanya aku adalah orang yang 'akan mengalahkan' si tua Voldy, namun aku juga orang yang mempunyai sayap. Hidupku benar-benar indah dan baik!" kata Harry sarkatis, ia beranjak dari tempat tidurnya.
Harry menemukan bahwa sayapnya itu berwarna hijau emerald- gelap, dengan bulu seperti sayap malaikat dan sangat lebar. Tidak hanya itu yang membuatnya Shock, penampilannya juga membuatnya hampir terkena serangan jantung secara mendadak.
Hilang dari penampilan remaja kurus dengan tinggi yang sangat pendek dan tidak menarik, Harry berubah menjadi makhluk yang sangat rupawan. Kulitnya yang berwarna kecoklatan kelihatan begitu lembut dan bercahaya, rambut hitam berantakannya menjadi sedikit panjang dan saat Harry menyentuhnya ia bisa merasakan kalau rambutnya terasa selembut sutera. Bibirnya mungil berwarna merah muda merekah, membuat siapapun ingin menciumnya, dan tubuhnya yang langsing kini mempunyai kurva yang mampu membuat wanita manapun menjadi iri. Tinggi tubuh Harry kini menjadi 5'6 kaki, cukup bagus meskipun begitu pendek dari anak laki-laki seusia lainnya. Serta mata emeraldnya kini kelihatan begitu berkilat dan ia mampu melihat tanpa bantuan kacamata, namun yang membuat Harry jengkel adalah ia kelihatan seperti wanita meskipun ia laki-laki (begitu feminine).
"Tambahkan lagi kepada kamus penderitaanku, aku mirip seorang wanita." kata Harry sedikit jengkel, ia menelan ludah saat memikirkan jangan-jangan ia bukan lagi seorang laki-laki, jadi dengan perlahan Harry melihat ke dalam celananya dan mampu bernafas lega saat ia menemukan apa yang ia cari, ia masih laki-laki.
"Sekarang apa yang harus kulakukan, aku tidak bisa menyembunyikan penampilan atau sayap aneh ini dari mereka, aku juga tidak diperbolehkan menggunakan sihir kalau tidak mau dilempar ke Azkaban. Kalau saja Sirius masih hidup dia pasti tahu apa yang terjadi denganku saat ini." ujar Harry kepada dirinya, tenggorokannya terasa tercekat saat ia memikirkan ayah baptisnya itu.
Ia benar-benar merindukan Sirius, hanya Sirius yang peduli dengan dirinya ketika tidak ada yang peduli dengan Harry. Ketika Harry kehilangan Sirius pada departemen misterim Harry merasa begitu terpukul kalau tidak merasa begitu bersalah. Kalau saja ia tidak pergi ke sana pasti Sirius masih berada di sini dan Harry tidak perlu tinggal dengan keluarga Dursley lagi. Sampai saat ini Harry masih belum bisa memaafkan dirinya, ia terus menyalahkan dirinya karena itu. Harry kira dirinya bisa tabah menghadapi semuanya, namun ketika ia mengetahui pengkhianatan yang teman-temannya lakukan Harry merasa dunianya terasa terbalik.
Tetesan air mata jernih mengalir dari mata Harry, emosinya begitu melankolis dan batinnya merasa begitu tersiksa. Kesepian, sedih, marah, dendam, dan terpukul bercampur aduk berada di hati Harry saat ini, bahkan ia sama sekali tidak sadar kalau sayapnya telah menghilang secara tiba-tiba dari balik punggungnya atau air matanya mengalir dengan deras. Harry merasa kakinya seperti jelly, dan membiarkan tubuhnya terjatuh ke atas lantai. Remaja itu masih bisa mendengar pembicaraan yang Ron dan Ginny lakukan ketika berada di rumah sakit seperti kemarin saja.
Flash back
Harry merasa tubuhnya begitu rileks dan tenang, ia merasa lega karena Madame Pomfrey telah mengatakan kalau Harry boleh keluar dari rumah sakit, luka-lukanya akibat pertarungan di departemen misteri sudah sembuh.
"Aku tidak mau kau kembali lagi ke sini, Harry! Hampir tiap kali kau melakukan sesuatu pasti membuatmu harus tinggal di sini, tidak heran kalau aku harus menyiapkan tempat khusus bagimu." ujar Madame Pomfrey, mengerutkan keningnya karena kondisi Harry itu.
Harry memberikan senyum lebar kepada matron rumah sakit tersebut, "Akan kuusahakan tidak kembali lagi, tapi aku tidak bisa janji. Masalah selalu datang mencariku!" kata Harry sambil mengangkat bahunya, tanda ia tidak peduli.
"Harry, kau selalu yang mencari masalah. Sekarang segeralah kembali ke kelasmu yang berikutnya, jaga kesehatan baik-baik!"
"Terima kasih, Madame Pomfrey." seru Harry yang berada di ambang pintu.
"Tentu, Harry!"
Dengan hati riang Harry meninggalkan rumah sakit yang ada di Hogwarts, ia harap Ron, Hermione, Ginny, Neville dan Luna baik-baik saja. Semoga saja lukan mereka berlima tidak parah seperti lukanya, karena itu Harry harus tinggal di neraka (aka rumah sakit) selama tiga hari penuh. Harry merasa bersalah telah mengajak mereka dalam masalah dan mengakibatkan mereka terluka parah seperti ini, mood-nya bertambah buruk saat ia ingat nasib Sirius yang saat in telah tidak ada karena terjatuh ke dalam veil yang ada di departemen misteri. Kalau saja Harry tidak begitu keras kepala mengikuti apa yang Voldemort berikan lewat ilusi, pasti Sirius masih hidup sampai saat ini. Harry merasa dirinya benar-benar bodoh, lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Dengan awan mendung yang menggantung di atas kepalanya, Harry berjalan menuju menara Gryffindor untuk istirahat.
"Harry!" panggil sebuah suara perempuan, Harry mendongak dan melihat pemilik suara itu. Awan mendung di atas kepalanya hilang saat ia melihat sosok Hermione berlari mendekat ke arahnya.
"Hai... ooph..." Harry tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia dipeluk oleh Hermione dengan sangat erat, gadis itu tidak mau melepaskan temannya itu dan orang yang juga temannya itu hampir kehabisan nafas karena pelukan yang erat itu.
"'Mione.. ugh... ti.. tidak bisa... ber..nafas!" kata Harry tersendat-sendat.
"Oh, Merlin! Maaf, Harry." seru Hermione saat melihat keadaan temannya, wajahnya sedikit biru karena kehabisan nafas, Hermione buru-buru melepaskan Harry dari pelukannya. Harry mengambil nafas panjang sebelum tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, 'Mione!" kata Harry dengan ceria,
"Apa kau yakin? Aku tidak ingin menjadi alasan untuk membuatmu tinggal di rumah sakit lagi." kata Hermione sedikit khawatir.
Harry menepuk bahu temannya dan tertawa kecil, "Aku baik-baik saja, 'Mione. Jangan terlalu khawatir seperti itu."
"Bagaimana aku tidak khawatir padamu, Harry James Potter!" di sini Harry berjengit saat Hermione menggunakan nama lengkapnya, tanda ia berada dalam masalah besar. "Kau ini magnetnya masalah, dan harus ada orang yang melihatmu! Merasalah beruntung kau masih diberi kesempatan untuk hidup, Harry! Kau tidak tahu... betapa khawatirnya aku, jangan buat aku takut seperti itu lagi!" isak Hermione, tanpa sadar ia mulai menangis dan baru berhenti beberapa menit kemudian, "Jadi jangan katakan kalau aku tidak boleh khawatir padamu, Harry!"
"Maaf, 'Mione!"
"Tidak apa-apa, Harry. Kau mau ke mana sekarang?"
"Lebih baik kalau aku kembali ke menara Gryffindor, Ron pasti begitu khawatir padaku." ujar Harry.
Mereka berdua berjalan bersama menuju menara Gryffindor, di sepanjang perjalanan Hermione banyak menjawab pertanyaan dari Harry mengenai keadaan teman-teman mereka yang lain. Mereka semua tidak separah Harry, namun Luna bisa dikatakan dalam kondisi kritis karena dia banyak kehilangan darah. Harry merasa khawatir pada teman Ravenclaw-nya itu, meskipun mereka tidak begitu akrab namun Luna dalah orang yang hebat, memang banyak orang yang mengatakan gadis itu tidak waras tapi Harry selalu mengagumi Luna karena ia begitu percaya diri dengan dirinya. Harry merasa lega saat Hermione mengatakan kalau Luna baik-baik saja dan baru kemarin Madame Pomfrey mengijinkannya keluar dari rumah sakit, tentu saja kalau Harry bertemu Luna ia akan mengucapkan terima kasih padanya.
Hermione mengucapkan password kepada nyonya gemuk yang menjaga pintu masuk ruang rekreasi Gryffindor, memberikan mereka jalan masuk menuju ke dalamnya. Hal pertama yang Harry lihat adalah warna merah maroon, begitu mencolok mata namun Harry tidak berani untuk berkomentar.
"Aku akan menuju ke asrama anak laki-laki, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ron." ujar Harry sebelum menaiki tangga bagian kanan.
Harry membuka pintu dengan hati-hati, ia akan masuk ke dalamnya ketika ia mendengar suara samar-samar dari sana. Itu adalah Ginny dan Ron. Kelihatannya mereka berdua tengah membicarakan sesuatu, Harry ingin memberikan privasi kepada mereka namun niat itu ia urungkan ketika mereka berdua menyebut-nyebut namanya.
"Aku tidak suka dengan ini, Ron! Lihat saja apa yang ia perbuat dengan kita, Harry menuntun kita ke depan bahaya karena penglihatan yang bodoh itu! Dan lihatlah akibatnya, aku hampir mati terkena mantra Cruciatus dari Malfoy!" keluh Ginny kepada Ron.
"Kau harus sabar, Gin. Dumbledore telah mengatakan kalau kita harus berperan sebagai sahabat terbaik Potter untuk mewujudkan cita-cita itu." ujar Ron.
"Aku tahu, Ron. Tapi kalau terus-terusan seperti ini aku juga tidak tahan, apalagi ia tidak pernah memberikan perhatiannya padaku! Dumbledore memang menjanjikan Potter untuk menjadi suamiku kalau perang ini sudah selesai, aku akan menjadi nyonya Potter dan kaya. Tapi Potter sama sekali tidak merespon padaku!"
"Mungkin saat ini yang ada di otak bodohnya hanya Kau-Tahu-Siapa dan bagaimana mengalahkannya, kau pikir aku juga tidak tersiksa berpura-pura menjadi teman Potter? Aku lebih menderita, Gin. Hampir tiap tahun kami selalu menghadapi bahaya, kau ingat pada tahun-tahun kemarin? Nyawaku hampir melayang karena itu." ujar Ron, "Dia terlalu sombong, dia pikir dirinya hebat hanya karena dia adalah pahlawan dari dunia sihir? Bisa kubayangkan, pasti orangtuanya merasa senang saat mereka bisa meninggalkan Potter sendirian di dunia ini." di sini Ron mengatakannya dengan nada cemburu yang begitu jelas, dari dulu ia selalu cemburu dengan apa yang Harry miliki.
Harry merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Ron... teman pertamanya ternyata...
"Kalau saja Dumbledore tidak membayar keluarga kita atau menjanjikan kemewahan padaku, aku bersumpah kalau seumur hidup aku tidak mau berteman dengan Potter. Siapa butuh anak yang begitu mengenaskan seperti itu!"
"Kau benar sekali, Ron. Tapi yang aku suka, dia itu terkenal dan kaya. Aku senang Dumbledore dapat mengambil uang dari lemari besi keluarga Potter yang ada di Gringgots. Kalau aku jadi nyonya Potter, sudah pasti aku akan kaya dan terkenal."
"Dan sebagai sahabat dari Harry Potter aku akan ikut terkenal juga, kita harus bersabar untuk mendapatkan hasil yang bagus."
Harry menutup pintu yang ia buka sedikit tadi, ia tidak tahan mendengar pembicaraan mereka berdua. Ia telah menganggap mereka berdua seperti keluarga sendiri dan ternyata mereka mau berdekatan dengan mereka karena Dumbledore membayar mereka? Tidak hanya itu saja, tapi uang yang digunakan adalah uang milik Harry yang Dumbledore curi dari brankasnya yang ada di Grunggots? Ini benar-benar keterlaluan.
Flashback-end
Sampai saat ini saja Harry masih merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar beberapa minggu yang lalu, namun mau tidak mau Harry menerima kenyataan pahit apalagi ditambah mereka tidak mengirimkan surat apapun kepadanya. Hanya Hermione, Luna, dan Neville saja yang mau mengiriminya surat untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan menanyakan bagaimana kabarnya. Harry merasa senyumnya berkembang di wajahnya ketika mengingat mereka, awalnya ia menganggap mereka adalah mata-mata Dumbledore yang ia suruh untuk berteman dengan Harry, namun Harry lega karena mereka bukanlah mata-mata yang pertama ia duga. Mereka benar-benar tulus berteman dengan Harry, hal itu membuat Harry merasa sedikit lega, mampu mengobati rasa sakit yang Harry pendam selama ini.
Mungkin ia harus menanyakan mengenai perubahan fisiknya kepada Hermione, gadis itu adalah murid yang sangat pintar dan Harry harap Hermione tahu dengan apa yang terjadi padanya. Harry menghapus linangan air matanya, entah apa yang terjadi tapi akhir-akhir ini Harry sering berada dalam masalah yang begitu emosional, sering membuatnya menangis padahal dulu Harry sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Harry melihat ke arah tempat tidur kecilnya berada, di sana masih ada ceceran darah kering berada di sprei, ia menarik nafas panjang.
"Aku harus membersihkannya sebelum mereka tahu aku mengotori rumah mereka." ujar Harry pada dirinya sendiri, ia berdiri dan melepas sprei kasurnya.
Untuk pagi yang buta-buta seperti itu, Harry memulai pekerjaan rumahanya seperti seorang pembantu, bahkan di jam-jam seperti ini orang-orang masih belum bangun, namun bagi orang seperti Harry yang mana tidak diperbolehkan bangun telat oleh keluarga Dursley dan dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, membersihkan rumah, menata kebun, dll... jam seperti ini adalah jam normal bagi Harry untuk melakukan aktivitasnya.
Kondisi tubuh Harry masih belum membaik sejak transformasinya semalam, jadi ia tidak akan heran bila ia terjatuh dari tangga ketika Dudley mendorongnya dari belakang. Harry memberinya glare, lengannya sakit sekali dan berdarah.
"Apa yang kau inginkan, Dudley?" tanya Harry
"Oh, Potter.. aku tidak tahu kalau kau berada di sini, kau terlalu pendek!" hina Dudley, membuat Harry semakin marah. Dalam hati ia ingin membunuh sepupunya ini. Dudley selalu membuat hidupnya menderita ketika musim panas tiba. "Jangan lupa kau masakkan makanan kesukaanku, harus cepat atau kau akan menyesal nantinya Potter!" ancam Dudley sebelum kembali ke kamarnya, meninggalkan Harry yang masih mengelus lengannya yang luka.
"Ini akan menjadi musim panas yang begitu... panjang." keluh Harry, ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum paman Vernon menghukumnya lagi. Ia tidak ingin mendapat pukulan dengan ikat pinggang lagi seperti yang ia alami kemarin.
Hal pertama yang Draco rasakan ketika membuka matanya pada pagi itu adalah rasa sakit di dadanya tadi malam sama sekali tidak ia rasakan kali ini, ia bersyukur akan hal itu. Ia tidak tahu mengapa ia merasakan sakit yang sangat parah, ia sama sekali tidak terluka atau mengidap penyakit yang sangat berbahaya, Draco tahu kalau ini ditimbulkan oleh sihir namun yang masih menjadi pertanyaan dalam benaknya adalah sihir apa dan bagaimana ia bisa terkena kutukan atau apapun itu namanya?
Draco melambaikan tangan kanannya dengan malas.
Jendela dan tirai yang tertutup kini terbuka lebar, membiarkan udara pagi masuk ke dalam ruangan besar dan terkesan elegan yang kini menjadi kamar Draco di Riddle manor. Draco menatap kamarnya, sangat besar dan elegan serta mencerminkan kekuatan. Dindingnya berwarna silver dengan sentuhan biru dan hijau, di sana terdapat rak buku yang berisi ratusan buku-buku milik Draco. Tempat tidur yang tengah ia jadikan tembat berbaring itu berukuran sangat besar, King size dengan empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu ebony dan kelambu. Dari sudut pandang siapapun, mereka akan mengatakan kalau ruangan itu memang seperti milik seorang pangeran kerajaan terkesan begitu mewah. Namun sayangnya Draco tidak akan peduli dengan hal itu.
Draco memejamkan matanya sekali lagi saat cahaya matahari jatuh ke wajahnya, ia bangkit dari tempat tidur dan beranjak menuju kamar mandi. Draco tidak menghabiskan waktu lama di sana, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Hal pertama yang ia temui di ruang utama adalah Tristan, Lord vampire kelihatan begitu damai seperti biasanya. Ia tidak menengok ke arah Draco ketika ia datang, juga tidak mengucapkan apa-apa. Draco sendiri juga menghiraukan ayah baptisnya, ia memilih untuk melewati ruangan utama untuk pergi menuju tempat berlatih.
"Draco." Panggil Tristan lirih, namun itu mampu untuk membuat Draco berhenti dan menatap ke arahnya. "Aku tahu mengenai pembicaraanmu dengan Lucius kemarin malam."
"Kau tahu?"
Tristan mengangguk, ia masih tidak menengok pada Draco, "Sudah 15 tahun lamanya kalian tidak bertemu. Pertanyaannya saat ini adalah, apa kau siap untuk menemui mereka?"
Bersambung
Kamus sihir :
Incendio : Sihir untuk memanggil api, sihir ini bisa digunakan oleh siapa saja. Sedikit berbda dengan mantra Ignis yang dapat mmembakar sekaligus melelahkan apapun yag disentuhnya, api yang dikeluarkan oleh sihir ini berwarna normal seperti aopi pada umumnya. Tidak seperti Ignis yang menghasilkan api berwarna biru atau Ignis Shadow yang menghasilkan api berwarna hitam.
AN : Terima kasih sudah membaca, kalau kalian tidak suka aku akan cerita ini, aku bisa memakluminya karena aku tahu fic-ku masih banyak kekurangannya.
Author : Sky
