Dokidoki!? Kunoichi Survival

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Dokidoki!? Kunoichi Survival © Akacchi KurossuZeria

Inspiration from :

BanG Dream! Garupa's Event Story : PasuPare Expedition Team ~Idol Who Conquers The Desert Island~

Genre(s) :

Friendship/Adventure

Rate :

K+

Warning :

Typo(s), OOC, error language, abal, etc.

Summary :

Dua tahun berlalu sejak Perang Dunia Shinobi IV, nama kelima kunoichi ini pun telah menjadi sorotan publik. Dan kini, mereka mendapat tawaran dari Konoha TV untuk tampil dalam sebuah variety show khusus.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

~ Chap 2 : Chotto Ii Deshou ka? ~

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Waaah! Indah sekali pantainya!" seru Ino dengan mata berbinar saat penglihatannya menangkap hamparan biru muda laut yang terlihat begitu tenang. Tak lupa hangatnya pasir tepi pantai yang menyapu kakinya, membuatnya merasa rileks. "Tidak ada orang di sini. Rasanya pantai ini seperti milik pribadi kita! Ehehe, tak menyesal aku mengikuti acara ini!"

Temari menjejakkan kakinya tepat di samping Ino, melipat tangannya. "Sepertinya staff-san hanya menyiapkan air mineral untuk kita. Untuk keperluan lain, harus kita sendiri yang mencarinya."

'Staff yang ada di sini juga tidak banyak. Dan sama sekali tidak ada orang luar. Mereka benar-benar menyiapkan ini untuk kami saja,' batin Temari sambil memagut dagunya. Dipandanginya sekeliling pantai, yang hanya dipenuhi oleh para staff dan Temari dkk.

"Ternyata, pulau yang terletak di selatan Sunagakure memang sangat panas, ya..." gumam Sakura, menyeka peluh yang berjatuhan dari pelipisnya. Kemudian ia melempar atensinya pada Hinata yang berdiri di sampingnya, "...tte, Hinata? Daritadi kau terlihat gelisah? Ada apa?"

"A, ahaha..." Hinata meringis pelan, menggaruk pipinya dengan satu jari. "Itu, tadi, kan, ada staff yang mengambil earphone kita. Rasanya aneh kalau tidak memegang benda itu di saat seperti ini."

"Hinata, kita bukan sedang menjalankan misi..." ucap Sakura sambil menepuk jidatnya, kemudian terkekeh pelan.

"Staff-san bilang, kita hanya boleh membawa satu barang pribadi saja, kan, selama syuting?" tanya Temari. Yang lain pun mengangguk serempak.

"Temari, kau membawa apa?" tanya Tenten balik pada Temari.

"Aku membawa mini Kamaitachi. Selain bisa kugunakan sebagai senjata karena ukurannya bisa membesar, ini akan sangat diperlukan jika aku kepanasan," jawab Temari sambil menunjukkan versi mini dari kipas yang biasa ia pakai sebagai senjatanya itu.

"Kalau aku membawa lukisan dari Sai-kun! Kalau ada ini, rasanya seperti memiliki omamori~" ujar Ino sambil menunjukkan gambar berukuran kecil dari Sai yang Ino simpan dalam sebuah name-tag.

"Kau ini benar-benar terobsesi dengan Sai, ya, pig?" tanya—ledek Sakura sambil menyembunyikan senyum nakalnya. Ino hanya mendengus dan melepaskan genggamannya dari name-tag yang dikalungkan di lehernya itu.

"Sore de... kita sekarang sudah sampai di pulau terpencil ini. Tapi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Hinata sambil memandang para staff yang sedang sibuk berkemas di kejauhan.

"Kalau tidak salah, kita harus menyelesaikan misi yang diberikan oleh staff-san, kan?" tanya Sakura, memastikan bahwa ingatannya tentang apa yang diberitahu Hokage-sama tiga hari lalu tidak salah.

"Menyelesaikan misi..." Tenten bergumam, memagut dagunya. "Seperti bertarung satu sama lain, begitu?"

"E!? Bu-bukannya itu terlalu berbahaya untuk ukuran sebuah bangumi? Ka-kalau kita gagal..." Hinata menggedikkan bahunya. Tidak terbayangkan olehnya kalau mereka gagal di misi yang diberikan. Mereka akan dibuat malu habis-habisan di depan kamera yang akan ditonton oleh seluruh orang. Bisa-bisa harga dirinya sebagai kunoichi elit sirna begitu saja.

"Kurasa misinya tidak akan sesulit itu. Tapi, setidaknya kita tetap harus mempersiapkan diri kita sematang mungkin," ucap Temari tenang dan bijaksana. Memberikan Hinata seulas senyum kecil.

"Be-benar juga! Tidak mungkin mereka menyuruh kita untuk saling bertarung," ujar Hinata pada akhirnya sambil melengkungkan senyuman. "A-apapun yang terjadi, kita harus pulang hidup-hidup!"

"Lalu, acara dan lagu kita juga harus benar-benar dirilis!" seru Hinata dengan tegas. "Aku, aku akan berusaha!"

"..." keempat gadis lain meringis kecil. Ada yang membuang mukanya ke arah lain, disertai dengan sebuah senyum memaksa.

"A-are? A-ada apa?" tanya Hinata yang menyadari gelagat aneh teman-temannya.

"...tidak. Hinata, kau tidak perlu terlalu berusaha," ujar Temari sambil sesekali menatap Hinata tidak enak. "Itu...kau tidak perlu memaksakan diri."

"Te-temari-san? Maksudmu apa?" tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya. Bingung.

"Aaa... Kau itu, ya, Hinata... Itu, lho..." Ino tak dapat melanjutkan perkataannya. Ia mainkan ujung rambutnya sembari memikirkan kata-kata yang tepat untuk diungkapkan ke Hinata.

"Itu, apa?" tanya Hinata lagi. Makin bingung.

"Hinata, kalau ada apa-apa, langsung bicarakan denganku, ya!" Sakura menatap Hinata lalu menepuk dadanya sendiri dengan satu tangan. "Di saat ada kejadian yang terduga sekalipun, aku akan tetap membantumu!"

"Aku juga! Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku akan melindungimu dengan kunaiku ini!" seru Tenten sambil menunjukkan dengan lantang kunai edisi spesial (?) yang ia bawa sebagai alat penunjang selama syuting.

"Astaga, Tenten! Bahkan di saat seperti ini pun, yang kau bawa HARUS kunai itu, ya?" komen Ino sambil memegang dahinya dan menggelengkan kepala.

"Tidak apa, dong! Mungkin saja ini akan dibutuhkan nanti!" balasnya sambil menyimpan kembali kunai itu di dalam pouch-nya.

"Kunai tte... Maa, karena ini Tenten, aku jadi maklum, sih..." gumam Temari. "Pokoknya, kita harus menjaga calon istri Naru—erm, maksudku Hinata. Dan jangan memaksakan diri, oke?" lanjut gadis berkuncir empat ini sambil melipat tangannya.

"O-ooou!" seru Tenten, Sakura, dan Ino bersamaan sambil mengangkat kepalan tangannya. Hinata tertegun mendengar ucapan Temari. Apalagi saat melihat keempat temannya itu tersenyum ke arahnya.

"Te-teman-teman... aku senang kalian memperhatikanku... Tapi, rasanya tidak perlu sampai seperti itu," ujar Hinata dengan memasang wajah tidak enak.

"Hmm? Sepertinya para staff sedang berkumpul di sana? Syutingnya akan dimulai sebentar lagi, sebaiknya kita juga ke sana dan mendengarkan rincian syutingnya," ajak Temari pada Hinata dkk. Merekapun berjalan ke tempat di mana para staff sedang melakukan technical meeting.

"Saya tidak akan menjelaskan tentang tempat yang akan jadi lokasi syuting kali ini sekarang!" ucap salah satu staff ketus, lengkap dengan toa yang ia pegang. Terdengar seperti bentakan bagi Hinata dkk, membuat mereka sedikit kaget.

'A-apaan staff itu? Apa mereka sudah merencanakan syuting ini dengan baik?' batin Temari sambil terus menatap si staff yang daritadi mengoceh.

"Baiklah, kita langsung mulai sekarang!" kembali, si staff yang diperkirakan adalah sutradaranya itu berkicau. Ia duduk tenang di kursinya dan mengatur staff lainnya untuk bekerja hanya dengan tangannya.

"Hai! Camera rolling! Action!" salah satu kameramen mulai merekam. Staff lainnya mulai menunjukkan papan campaign, memberi isyarat pada kelima kunoichi ini bahwa akan ada staff yang membacakan misi mereka.

"Kunoichi no minna-san, konnichiwa!" staff yang dimaksud pun mulai berbicara.

"Konnichiwa!" balas Temari dkk. Tak lupa senyum terukir di wajah masing-masing dara itu. Meskipun ada yang tersenyum malu-malu seperti Hinata.

"Baiklah, aku akan langsung memberitahu misi pertama kalian, ya—"

"Boleh aku minta waktu sebentar?" Sakura langsung maju ke depan dan memotong ucapan staff tadi. "Sebelum memulai misinya, akan lebih menyenangkan kalau kita mengelilingi pulau ini dulu. Aku ingin tahu seberapa besar pulau ini," lanjutnya sambil tersenyum ke arah kamera dan para staff yang hanya bisa terbengong-bengong melihatnya.

"Itu berarti, kita harus masuk ke dalam hutan juga? Apa...semuanya akan baik-baik saja? Kalau ada sesuatu yang muncul..." Hinata memainkan jari-jarinya, menatap nervous ke arah kamera.

"Memang benar, mungkin hutan di sini mungkin lebih berbahaya dari hutan di Konoha. Tapi, kupikir akan lebih baik kalau kita mengetahui lokasi mana saja yang berbahaya," ujar Sakura lugas. Matanya sesekali melirik ke arah kamera dan Hinata bergantian. "Bisa saja kalau pantai ini adalah lokasi yang paling berbahaya di pulau ini."

"Ah, aku paham. Kita bisa dapat keuntungan secara geografis dari menjelajahinya, kan?" Temari tampak menyetujui usul Sakura.

"Aku setuju! Berjalan-jalan mengelilingi pulau seindah ini sepertinya tidak buruk~" Ino pun berpikiran sama dengan Temari dan Sakura.

"Sore jya, seperti kata Sakura, kita mengelilingi pulau ini dulu. Ayo!" ajak Temari. Matanya berbinar saat menatap kamera. Yang lainpun menyetujui dan bersiap untuk berjalan.

'Are? Kayaknya para staff mulai bertingkah aneh?' batin Temari sebelum ia melangkahkan kakinya. Dilihatnya para staff sedang menampakkan ekspresi yang sulit untuk Temari tebak. Sesekali terlihat staff yang membacakan misi atau host acara itu berbicara dengan sang sutradara.

"Hei, gadis-gadis. Apa kalian baik-baik saja? Di skenario memang tertulis, 'Ayo jelajahi pulau ini!' sebagai salah satu dari misi kalian, tapi..." pembaca misi itu menggaruk pipinya sambil tersenyum kaku. "...aku belum selesai membacakan misinya. Hahaha..."

"Maa, itu bisa diedit nanti. Meskipun begitu, gadis yang namanya Haruno Sakura itu hebat, ya!" celetuk sang kameramen, membalas ucapan si pembaca misi tadi. "Dalam situasi seperti ini, ia dapat memutuskan dengan baik."

'Sepertinya para staff sedang mendiskusikan misi yang malah dibocorkan tanpa sadar oleh Sakura lebih dulu, ya,' pikir Temari seraya menatap Sakura yang sudah kembali dalam mode seriusnya.

"Jya~ untuk menghindari sinar matahari langsung, kita berjalan di dalam hutan saja. Karena kalau berjalan di saat panas yang menyengat begini, tenaga kita akan cepat terkuras," ujar Sakura yang sudah fokus duluan ke syuting mereka. Para staff pun setuju, dan bersama, mereka menjelajahi pulau tak berpenghuni ini dengan masuk ke dalam hutan.

.

.

.

"Yosh! Kita sudah berhasil mengelilingi hutan ini sekali dengan selamat!" seru Sakura dengan semangat membara di depan kamera yang terus berputar. "Tenyata, kita tidak menemukan sesuatu yang berbahaya di sini! Selanjutnya, ayo kita telusuri seluk beluk pulau ini!"

"Un, aku setuju!" balas Hinata cepat. Sepertinya ia sudah agak rileks saat berada di depan kamera.

"...are? Semuanya, coba lihat itu! Sepertinya di ujung sana ada sesuatu!" Hinata mengaktifkan byakugannya, dan menemukan sesuatu di dalam hutan yang rimbun. Mereka pun sepakat untuk memasuki daerah terdalam di pulau itu—mungkin pusat dari pulau itu. Dengan arahan dari Hinata, akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud.

"Itu... pondok, ya?" gumam Sakura dengan tangan kanan menempel di dahinya. "Sepertinya di dalam sana aman. Ayo, kita istirahat di sana!"

"Yoosh! Aku yang pertama masuk, ya~! Sore~!" dengan sekali hempasan tangannya, Ino langsung masuk ke dalam pondok kecil yang seluruh bagiannya terbentuk dari kayu itu. Derit kayu-kayu yang bergesekan dengan kakinya begitu terdengar jelas sampai ke luar sana.

"I-ino-chan! Jangan pergi duluan! Tunggu!" Hinata pun tak mau kalah dan langsung menapakkan kakinya mengikuti jejak Ino yang sudah masuk duluan ke dalam pondok. Ketiga gadis lain beserta beberapa staff pun menyusul mereka masuk ke dalam pondok itu.

Temari memperhatikan sekeliling pondok, meneliti setiap sudut di dalam pondok kecil itu. Setelah dirasanya cukup, ia pun menyenderkan bahunya yang mulai terasa penat di salah satu dinding.

"Dalamnya memang agak berdebu, tapi sepertinya tidak ada hal yang berbahaya di sini. Kursi dan mejanya masih tertata rapi. Mungkin belum lama ini, ada yang menetap di sini?" tanya Temari pada yang lain. Dilihatnya keempat temannya mulai mendudukkan diri masing-masing di kursi atau di lantai. Sepertinya mereka juga sudah lelah berjalan.

"Seperti kata Sakura, tempat ini bisa kita gunakan untuk beristirahat!" sahut Tenten yang sudah terduduk di salah satu kursi.

"Ya, kau benar. Selanjutnya, kita istirahat dulu sebentar sambil memikirkan apa yang harus kita laku—"

"Haaai! Sokomade!" sang pembaca misi, lagi-lagi menghentikan kegiatan mereka—Sakura yang terkesan mendadak dan sepertinya tidak mengikuti naskah itu. Kelima kunoichi yang menjadi pusat acara itu pun menoleh serempak ke arah si host. "Eh!?"

'Kalau begini terus, misinya bisa bocor duluan...' batin si pembaca misi sambil terkekeh kaku.

Ding dong!

"Ini dia! Yang sudah ditunggu-tunggu oleh semuanya! Aku akan membacakan misi pertama kalian!"

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

~ To Be Continued ~

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

RnR dong gaes jangan lupa fuhehehe~ ;) /duk

Makasih buat yang uda baca. See you next chap~